• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Dalam menentukan keseimbangan antara besarnya jumlah utang dan

jumlah modal sendiri yang tercermin dalam struktur modal perusahaan, perlu

memperhitungkan adanya factor-faktor yang mempengaruhi struktur modal.

Pendapat yang dominan dikembangkan oleh Miller dan Modigliani (1958).bahwa

struktur modal yang optimal terdiri dari keseimbangan antara resiko kebangkrutan

dan penghematan pajak yang disebabkan oleh utang. Struktur modal seharusnya

memberikan tingkat pengembalian yang besar kepada pemegang saham dari pada

yang mereka terima dari penerbitan ekuitas perusahaan.

Beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal menurut Weston dan

Brigham, (1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan

pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi

pinjaman dan perusahaan penilai kredibilitas, kondisi pasar, kondisi internal

perusahaan, dan fleksibilitas keuangan perusahaan.

Suad Husnan(2001), menyatakan bahwa yang paling mempengaruhi

struktur modal adalah lokasi distribusi keuntungan, stabilitas penjualan dan

keuntungan, kebijakan deviden, pengendalian dan risiko kebangkrutan.

Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi

struktur modal antara lain; tingkat bunga, stabilitas pendapatan, susunan aktiva,

kadar risiko aktiva, besarnya jumlah modal yang dibutuhkan, keadaan pasar

modal, sifat manajemen, besarnya suatu perusahaan.

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan antara lain growth of asset,

price earning ratio, return on asset,dan ukuran perusahaansebagai faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan.

2.1.2.1. Pertumbuhan aktiva (Growth of Asset)

Asset merupakan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional

perusahaan.Perusahaan yang memiliki aktiva dalam jumlah besar dapat

menggunakan hutang yang lebih besar karena memiliki aktiva sebagai

penjaminnya (Weston dan Copeland, 1997).Semakin besar asset diharapkan

semakin besar hasil operasi yang dihasilkan oleh perusahaan. Peningkatan asset

yang diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan

pihak luar terhadap perusahaan. Dengan meningkatnya kepercayaan pihak luar

terhadap perusahaan, maka proporsi hutang akan semakin besar dibandingkan

Perusahaan yang memiliki asset tetap dalam jumlah besar dapat

menggunakan hutang dalam jumlah besar hal ini karena dari skalanya perusahaan

besar akan lebih mudah akses ke sumber dana dibandingkan dengan perusahaan

kecil, besarnya asset tetap dapat digunakan sebagai jaminan perusahaan (Sartono,

2001).

Menurut Weston dan Brigham (1997), perusahaan yang aktivanya sesuai

untuk dijadikan jaminan kredit cenderung lebih banyak menggunakan banyak

utang. Sedangkan menurut balancing theory, perusahaan yang memiliki struktur

aktiva yang besar cenderung risiko kebangkrutan (pailit) yang relatif lebih rendah

dibandingkan perusahaan yang memiliki struktur aktiva yang lebih rendah. Asset

menunjukkan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan.

Semakin besar aset diharapkan semakin besar hasil operasional yang dihasilkan

perusahaan.

Laili Hidayat (2001), mengemukakan bahwa struktur aktiva berpengaruh

positif terhadap struktur modal. Penelitian dari Sekar Mayang Sari (2001), serta

Bhaduri (2002), mendukung penelitian Laili tersebut, di mana struktur aktiva

berpengaruh positif terhadap struktur modal. Sehingga dalam penelitian ini,

struktur aktiva mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal.

2.1.2.2. Price Earning Ratio (PER).

Rasio pengukuran yang paling komprehensif tentang prestasi perusahaan

adalah PER, karena rasio penilaiaan tersebut mencerminkan perpaduan antara

pengaruh rasio resiko, yaitu: rasio liquiditas dan rasio laverage serta rasio

merupakan perbandingan antara harga pasar suatu saham (Market Price) dengan

earning per share (EPS) dari saham bersangkutan.

Kegunaan dari PER ini adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai

kinerja suatu perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang dicerminkan EPS-nya.

Semakin besar PER suatu saham, maka saham tersebut semakin mahal terhadap

pendapatan bersih per sahamnya. Sedangkan saham dengan PER rendah akan

semakin bagus yang berarti saham tersebut semakin murah (Robert Ang, 1997).

Peningkatan PER dinilai investor menunjukan kinerja yang semakin baik, juga

berdampak semakin menarik perhatian kreditor terhadap perusahaan. Peningkatan

jumlah utang yang relatif lebih besar dari pada modal sendiri akan meningkatkan

debt ratio. Dengan demikian price earning ratio (PER) berpengaruh terhadap DER.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitrijanti & Jogiyanto (2002), pada

sektor non keuangan menunjukan bahwa PER terbukti berpengaruh signifikan

terhadap struktur modal (DER).

2.1.2.3. Return on Asset (ROA).

ROA adalah salah satu rasio rentabilitas yang terpenting yang digunakan

untuk memprediksi harga atau return saham perusahaan publik. Rentabilitas

merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk analisis fundamental.

Rasio-rasio keuangan yang digunakan untuk analisis fundamental dapat dikelompokkan

dalam 5 jenis yaitu : rasio likuiditas, aktivitas, rentabilitas, solvabilitas dan rasio

ROA digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan didalam

menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan total asset yang dimilikinya.

ROA adalah rasio antara laba sesudah pajak atau net income after tax terhadap

total asset. Semakin beras ROA menunjukan kinerja perusahaan semakin baik,

karena return semakin besar. ROA juga merupakan perkalian antara faktor net

income margin dengan perputaran aktiva. Net income margin menunjukan kemampuan memperoleh laba dari setiap penjualan yang diciptakan oleh

perusahaan, sedangkan perputaran aktiva menunjukan seberapa jauh perusahaan

mampu menciptakan penjualan dari aktiva yang dimilikinya.

Apabila salah satu dari faktor ini meningkat (atau keduanya), maka ROA

juga akan meningkat. Apabila ROA meningkat, berarti profitabilitas perusahaan

akan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas

yang dinikmati oleh pemegang saham (Husnan, 1998). Laba bank diperoleh dari

bunga kredit dan fee based income, bila kualitas kredit dan fee based income

rendah, maka pendapatan bank akan rendah dan kemungkinan bank menderita

rugi. Sebaliknya bila kualitas kredit dan fee based income tinggi, maka penapatan

bank akan tinggi dan laba bank akan meningkat. Ukuran yang ditentukan Bank

Indoneisa untuk ROA bank dinilai sehat apabila rasio minimal 1,215% pada tahun

yang bersangkutan.

Penelitian yang dilakukan Hsien dan Chi (2003), menunjukan ROA

2.1.2.4. Ukuran Perusahaan ( firm size)

Ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki

oleh perusahaan (Saidi, 2004).Dalam penelitian ini, pengukuran terhadap ukuran

perusahaan mengacu pada penelitian Saidi (2004), dimana ukuran perusahaan

di-proxy dengan nilai logaritma natural dari total asset (natural logarithm of asset). Perusahaan yang lebih besar cenderung memiliki sumber permodalan yang

lebih terdiversifikasi sehingga semakin kecil kemungkinan untuk bangkrut dan

lebih mampu memenuhi kewajibannya, sehingga perusahaan besar cenderung

mempunyai hutang yang lebih besar daripada perusahaan kecil (Rajan dan

Zingales, 1995 dalam R. Agus Sartono dan Ragil Sriharto, 1999). Logaritma dari

total assets dijadikan indikator dari ukuran perusahaan karena jika semakin besar

ukuran perusahaan maka asset tetap yang dibutuhkan juga akan semakin besar.

Menurut Riyanto (2001) perusahaan yang lebih besar dimana sahamnya

tersebar sangat luas akan lebih berani mengeluarkan saham baru dalam memenuhi

kebutuhannya untuk membiayai pertumbuhan penjualannya dibandingkan

perusahaan yang lebih kecil. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan,

kecenderungan untuk memakai dana eksternal juga semakin besar. Hal tersebut

dikarenakan perusahaan besar memiliki kebutuhan dana yang besar dan salah satu

alternatif pemenuhan dananya adalah dengan menggunakan dana eksternal yaitu

dengan menggunakan hutang. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan

cenderung untuk menggunakan hutang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan

Dokumen terkait