• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH JENNI TIFANI (Halaman 39-44)

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal, menurut Sartono (2010:248) faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal antara lain tingkat penjualan, struktur aset, tingkat pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan, variabel laba dan perlindungan pajak, skala perusahaan, kondisi interen perusahaan dan ekonomi makro. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal beberapa yang di gunakan dalam penelitian ini diantaranya ialah struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahan, current ratio dan profitabilitas (ROA).

2.4.1 Struktur Aset (Asset Structure)

Struktur aset didefinisikan sebagai komposisi aset perusahaan yang akan menunjukkan seberapa besar aset perusahaan dapat digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman (Fahmi, 2017). Struktur aset atau lebih dikenal sebagai tangible assets menunjukkan komposisi relatif aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan dan menggambarkan harta atau investasi yang dimiliki oleh

perusahaan. Aset perusahaan dibiayai dengan modal baik hutang maupun ekuitas (Oktaviane, 2012). Semakin tinggi struktur aset perusahaan menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan tersebut untuk dapat menjamin hutang jangka panjang yang dipinjamnya, begitupun sebaliknya (Putri, 2014). Pengukuran struktur aset dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Brigham dan Houston (2009), sebagai berikut:

2.4.2 Pertumbuhan Perusahaan

Salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah pertumbuhan perusahaan (Syahyunan, 2015:161). Brigham dan Houston (2009), mendefenisikan pertumbuhan sebagai pertumbuhan aset tahunan dari total aktiva. Pertumbuhan perusahaan ini mencakup pertumbuhan penjualan, laba, aktiva. Pertumbuhan perusahaan ini dilihat dengan semakin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan maka semakin baik juga perusahan tersebut. Pertumbuhan perusahaan yaitu kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan yang merupakan kesempatan perusahaan untuk meningkatkan ukurannya (Nurmadi, 2013). Perusahaan yang berpeluang untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi pasti akan mendorong perusahaan untuk terus melakukan ekspansi usaha dan dana yang dibutuhkan pasti tidaklah sedikit dan kemungkinan dana internal yang dimiliki jumlahnya terbatas sehingga akan mempengaruhi keputusan struktur modal atau pendanaan suatu perusahaan.

Pertumbuhan perusahaan menggambarkan pertumbuhan aset perusahaan yang akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan yang meyakini bahwa persentase perubahan total aset merupakan indikator yang lebih baik dalam mengukur growth perusahaan (Putrakrisnanda, 2009 dalam Dewi, et al 2014).

Pengukuran variabel growth atau pertumbuhan perusahaan ini mengacu kepada peneliti-peneliti sebelumnya yang telah menggunakan ukuran ini, adapun rumus yang digunakan merujuk pada Weston J.Fred dan Thomas (2008), sebagai berikut:

2.4.3 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan pada total aset, jumlah penjualan, rata-rata penjualan, dan rata-rata total aset (Prasetya dan Asandimitra, 2014). Menurut Abdul Halim (2015:93) dalam Putri (2014) semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka kecenderungan untuk menggunakan modal asing akan semakin besar. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin memperbanyak pula alternatif pendanaan yang dapat dipilih dalam menigkatkan labanya sehingga semakin kecil kemungkinan untuk bangkrut dan perusahaan besar lebih mudah memperoleh pinjaman karena dinilai mampu memenuhi kewajibannya.

As a firm becomes larger, it has more capability to bear interest expense that comes from debt. It can issue more debt before actually confronted by severe bankruptcy risk. Therefore, the size of a firm is expected to have a positive relationship with capital structure (Nur Sakinah dan Achamd, 2014).

Penelitian ukuran perusahaan dapat menggunakan tolak ukur aset. Karena total aset perusahaan bernilai besar maka hal ini dapat disederhanakan dengan mentranformasikan ke dalam logaritma natural sehingga dalam penelitian ini ukuran perusahaan diformulasikan sebagai berikut (Ghozali, 2009),:

Size = Ln Total Asset

2.4.4 Likuiditas (Current Ratio)

Rasio likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio yang biasa digunakan untuk mengukur likuiditas yaitu current ratio, quick ratio, cash ratio dan networking capital.

Didalam penelitian ini likuiditas di proksikan pada current ratio, dengan membandingkan aset lancar dengan hutang lancar (Syahyunan, 2015:104).

Rasio lancar (current ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi liabilitas jangka pendek (short run solvency) yang akan jatuh tempo dalam waktu setahun (Werner, 2015: 57). Atau dengan kata lain current ratio digunakan untuk menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang tersedia, hal ini akan mendapatkan nilai seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mengelola aset lancar nya sebagai pembiayaan untuk membayar hutang lancar. Perusahaan yang dapat segera mengembalikan hutang-hutangnya akan mendapat kepercayaan dari kreditur untuk menerbitkan hutang dalam jumlah yang besar (Kharizmatullah et al, 2017). Current ratio dihitung sebagai persentase aset lancar dengan hutang lancar dan di formulasikan sebagai berikut (Syahyunan, 2015):

2.4.5 Profitabilitas (Return On Asset)

Profitabilitas menurut Agus Sartono adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Putri, 2014). Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus berada dalam keadaan yang menguntungkan. Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Rasio Profitabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau seberapa efektif pengelolaan perusahaan oleh manajemen. Rasio profitabilitas yang sering digunakan, yaitu Gross profit margin, Operating Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Investment, Return on Asset dan Return on Equity (Syahyunan, 2015).

Untuk mengukur tingkat profitabilitas dalam penelitian ini digunakan rasio ROA (Return on Asset). Return on Asset adalah salah satu rasio profitabilitas yang dapat digunakan dalam analisis kinerja keuangan, yang mencerminkan seberapa besar return yang dihasilkan atas setiap rupiah uang yang ditanamkan dalam bentuk aset (Putri, 2014). Atau dengan kata lain rasio yang menggambarkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dengan menggunakan aset yang dimilikinya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin baik

keadaan suatu perusahaan. ROA dapat diproksikan dengan rumus sebagai berikut (Murhadi,2015: 64):

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH JENNI TIFANI (Halaman 39-44)

Dokumen terkait