• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH JENNI TIFANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH JENNI TIFANI"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN SEKTOR TRANSPORTASI

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE

2012-2016

OLEH JENNI TIFANI

140502043

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL PADA PERUSAHAAN SEKTOR TRANSPORTASI

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE

2012-2016

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal pada sektor transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016. Ada lima rasio sebagai determinan Struktur Modal yang digunakan yaitu Struktur Aset, Pertumbuhan Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Current Ratio, dan Return on Asset. Penelitian ini ingin melihat hubungan kelima determinan tersebut terhadap struktur modal, dimana kelima determinan ini diambil dari gap penelitian terdahulu yang memberikan hasil yang berbeda. Kemudian hasil hubungan tersebut diperbandingkan dengan teori tentang struktur modal yang terdiri dari teori Modigliani dan Miller (MM), pecking order theory, trade-off theory, teori asimetri, teori signaling, teori keagenan dan equity market timing theory. Populasi dalam studi ini adalah 18 perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan sampling jenuh. Hasil penelitian secara serempak menunjukkan pengaruh yang signifikan antara Struktur Aset, Pertumbuhan Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Current Ratio dan Return on Asset terhadap Struktur Modal. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa Struktur Aset, Pertumbuhan Perusahaan dan Ukuran Perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat Struktur Modal periode 2012-2016. Sedangkan Current Ratio dan Return On Asset tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan sektor transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

Kata Kunci: Struktur Modal (DER), Struktur Aset, Pertumbuhan Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Likuiditas, Profitabilitas (ROA).

(7)

ANALYSIS DETERMINANTS OF CAPITAL STRUCTURE IN TRANSPORTATION COMPANIES IN INDONESIA

STOCK EXCHANGE PERIOD 2012-2016

The purpose of this research is to examine and analyze terminants of capital structure in transportation companies in indonesia stock exchange period 2012- 2016. There are five determinants used in this paper: Asset Structure, Growth, Firm Size, Current Ratio, and Return on Asset. This paper intended to exmine the effect of five determinants of capital structure, which these determinants taken from previous gap research. Then the effect compared by theory of capital structure, Modigliani dan Miller (MM) theory, pecking order theory, trade-off theory, asymmetric theory, signaling theory, agency theory and equity market timing theory. Population in this study are transportation companies listed in Indonesia Stock Exchange were taken as a sample using a sampling jenuh method. Simultaneous test in hypothesis results shows that Asset Structure, Growth, Firm Size, Current Ratio and Return on Asset have significant effect to Capital Structure. Partial test in hypothesis result shows that Asset Structure, Growth and Size have significant effect on the Capital Structure period 2012- 2016. While Current Ratio and Return on Asset have insignificant effect on Capital Structure of transportation companies which listed ini Indonesia Stock Exchange period 2012-2016.

Keywords: Capital Structure, Asset Structure, Growth, Firm Size, Liquidity, Profitabilitiy (ROA).

(8)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala yang atas berkat rahmat dan hidayah-Nya yang selalu menyertai peneliti untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Pada Perusahaan Sektor Transportasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016” untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Skripsi ini peneliti persembahkan untuk Ayahanda, Muhammad Rizal Harahap dan Ibunda tercinta, Linda Herawati. Terima kasih telah membesarkan, mendidik, mendoakan, dan memberikan dukungan moral maupun materil yang tidak ternilai mulai dari peneliti masih dalam buaian hingga dapat menyelesaikan pendidikan di Program Studi S1 Manajemen. Serta peneliti ucapkan Terima Kasih kepada Abang dan Adik-Adik saya, Raqi Hastofi Harbin Harahap, Muhammad Gilang Ramadhan Harahap dan Dedek Kumala Andesta Harahap yang selalu setia mendoakan dalam penyusunan skripsi ini. Kemudian pada kesempatan ini juga peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli M. Ja‟far Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing, terima kasih atas bimbingan, arahan dan waktu yang diluangkan kepada

(9)

peneliti selama penulisan skripsi ini selesai.

4. Ibu Dra. Nisrul Irawati MBA selaku Dosen penguji I dan Ibu Beby Kendida Hasibuan, SE, M.Si, selaku dosen penguji II yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

5. Kepada Bapak dan Ibu Dosen Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmunya kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan.

6. Sahabat-sahabat terbaik ku para SUREMPONG: Sri Yusnida Siregar, Dini Putri Audria, Kismayanti, Dwi Aisyatul Qodri, Riana Nova br. Silitonga dan Ayuni Mayangsari yang senantiasa memberikan semangat.

7. My Roommate ku ter-sayang: Dina Puspita, Sherly Anggraini dan Sahabat ku di masa dahulu ANDP2J (Amrina, Dwi, Puri, Putri, Tri dan Nurul).

8. Teman-teman seperjuangan di masa kuliah Afrilia, Novita, Dhea, Hasnah, Ari, Pemere, Najib, Syarifah, Dimas, Daswin yang selalu bersama-sama.

9. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Akhir kata peneliti berharap skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan dapat dipergunakan untuk menambah pengetahuan dan bahan masukan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, April 2018 Peneliti

Jenni Tifani 140502043

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 13

1.3 Tujuan Penelitian ... 14

1.4 Manfaat Penelitian ... 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 16

2.1 Manajemen Keuangan ... 16

2.2 Struktur Modal ... 17

2.3 Teori Struktur Moda ... 18

2.3.1 Teori Modigliani dan Miller ... 19

2.3.2 Pecking Order Theory ... 21

2.3.3 Trade off Theory ... 22

2.3.4 Asymmetric Information Theory dan Signaling Theory ... 22

2.3.5 Agency Theory ... 23

2.3.6 Equity Market Timing ... 24

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal .. 25

2.4.1 Struktur Aset ... 25

2.4.2 Pertumbuhan Perusahaan ... 26

2.4.3 Ukuran Perusahaan ... 27

2.4.4 Current Ratio ... 28

2.4.5 Profitabilitas (ROA) ... 29

2.5 Penelitian Terdahulu ... 30

2.6 Kerangka Konseptual ... 34

2.6.1 Struktur Aset Terhadap Struktur Modal ... 34

2.6.2 Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Struktur Modal ... 35

2.6.3 Ukuran Perusahaan Terhadap Struktur Modal 35 2.6.4 Current Ratio Terhadap Struktur Modal ... 37

2.6.5 Return On Asset Terhadap Struktur Modal ... 37

2.7 Hipotesis Penelitian ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

3.1 Jenis Penelitian ... 41

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 41

(11)

3.3 Batasan Operasional ... 41

3.4 Definisi Operasional ... 42

3.4.1 Variabel Terikat ... 42

3.4.2 Variabel Bebas ... 43

3.5 Populasi dan Sampel ... 45

3.5.1 Populasi ... 45

3.5.2 Sampel ... 46

3.6 Jenis dan Sumber Data ... 47

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 48

3.8 Teknik Analisis Data ... 48

3.8.1 Metode Analisis Deskriptif ... 49

3.8.2 Analisis Regresi Data Panel ... 49

3.8.3 Pemilihan Model Data Panel ... 50

3.9 Uji Asumsi Klasik ... 52

3.9.1 Uji Normalitas Residual ... 52

3.9.2 Uji Multikolineritas ... 53

3.9.3 Uji Autokorelasi ... 54

3.9.4 Uji Heteroskedastisitas ... 54

3.10 Pengujian Hipotesis ... 55

3.10.1 Uji Pengaruh Serempak ... 55

3.10.1 Uji Parsial ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 59

4.2 Analisis Deskriptif ... 71

4.3 Pemilihan Model Data Panel ... 75

4.3.1 Redundant Fixed Effects Test (Chow Test) ... 75

4.3.2 Uji Langrange Multiplier ... 76

4.4 Analisis Regresi Data Panel ... 77

4.5 Uji Asumsi Klasik ... 79

4.5.1 Uji Normalitas ... 89

4.5.2 Uji Multikolineritas ... 80

4.5.3 Uji Autokorelasi ... 81

4.5.4 Uji Heteroskedastisitas ... 82

4.6 Pengujian Hipotesis ... 83

4.6.1 Pengujian Secara Serempak (Uji f) ... 83

4.6.2 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t) ... 84

4.7 Pembahasan ... 86

4.7.1 Pengaruh Struktur Aset Terhadap Debt to Equity Ratio ... 86

4.7.2 Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan (Growth) Terhadap Debt to Equity Ratio ... 88

4.7.3 Pengaruh Ukuran Perusahaan (Size) Terhadap Debt to Equity Ratio ... 89

4.7.4 Pengaruh Currnet RatioTerhadap Debt to Equity Ratio ... 90 4.7.5 Pengaruh Return on Asset Terhadap Debt to

(12)

Equity Ratio ... 92

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 95

5.1 Kesimpulan ... 95

5.1 Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 98

LAMPIRAN ... 102

(13)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 31

3.1 Operasionalisasi Variabel Penelitian ... 45

3.2 Jumlah Populasi Penelitian ... 46

3.3 Daftar Perusahaan Transportasi yang Menjadi Populasi Penelitian ... 47

4.1 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Adi Sarana Armada Tbk ... 59

4.2 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Pelayaran Bina Buana Raya Tbk ... 60

4.3 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Berlian Laju Tanker... 61

4.4 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Cardig Aero Space Tbk ... 61

4.5 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Garuda Indonesia ... 62

4.6 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Humpuss Intermoda Transportasi Tbk ... 62

4.7 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Tanah Laut Tbk ... 63

4.8 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Mitra Bantera Segara ... 64

4.9 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk ... 64

4.10 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Rigs Tenders Tbk ... 65

4.11 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Steady Safe Tbk ... 66

4.12 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Sidonulyo Selaras Tbk ... 67

4.13 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Samudera Indonesia ... 67

4.14 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Express Transindo Utama Tbk ... 68

4.15 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Pelayaran Tempura Emas Tbk ... 69

4.16 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Weha Transportasi Indonesia ... 70

4.17 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Wintermar Offshore ... 70

4.18 Hasil Statistik Deskriptif Perusahaan Zebra Nusantara Tbk ... 71

4.19 Hasil Statistik Deskriptif ... 72

4.20 Hasil Uji Chow ... 76

4.21 Hasil dari Uji Langrange Multiplier ... 77

4.22 Pengujian Regresi Berganda Model Data Panel ... 78

4.23 Hasil Uji Multikolineritas 5 Variabel Independen ... 81

4.24 Uji Autokorelasi dengan Uji Durbin-Watson ... 82

4.25 Uji Heteroskedasitas dengan Uji White ... 83

4.26 Nilai Statistik dari Uji F dan Uji t ... 84

(14)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman 1.1 Tingkat Struktur Aset dan Struktur Modal Beberapa

Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016 ... 4 1.2 Tingkat Pertumbuhan Perusahaan dan Struktur Modal Beberapa

Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016 ... 6 1.3 Tingkat Ukuran Perusahaan dan Struktur Modal Beberapa

Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016 ... 8 1.4 Tingkat Likuiditas dan Struktur Modal Beberapa Perusahaan

Sektor Transportasi Periode 2012-2016 ... 10 1.5 Tingkat Profitabilitas (ROA) dan Struktur Modal Beberapa

Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016 ... 12 2.1 Kerangka Konseptual ... 39 4.1 Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera ... 80

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era globalisasi saat ini persaingan bisnis di berbagai sektor meningkat dengan tajam. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya iklim persaingan yang kompetitif dibidang usaha baik di sektor industri maupun jasa. Persaingan di sektor transportasi salah satunya yang mengalami peningkatan dan memberi dampak yang besar terhadap aksesibilitas transportasi dalam memacu pertumbuhan ekonomi bangsa.

Transportasi merupakan kebutuhan yang penting untuk mobilisasi dalam menjalankan kegiatan perekonomian. Transportasi akan membuka peluang untuk kegiatan perdagangan antar wilayah dan mengurangi perbedaan antar wilayah, sehingga mendorong terjadinya pembangunan antar wilayah. Di Indonesia, sektor transportasi merupakan salah satu sektor industri yang mampu menarik minat investor, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk berinvestasi. Berdasarkan data realisasi investasi triwulan II/2016 yang dirilis oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk sektor industri alat angkutan dan transportasi lainnya mencapai Rp 35,54 miliar. Sementara itu, untuk PMA sektor sejenis tercatat meraih investasi yang cukup tinggi yakni Rp 475,4 miliar (www.bps.go.id). Dan data dari Badan Pusat Statistik (2016) jumlah total penduduk indonesia mencapai sekitar 261 juta penduduk. Potensi ini sungguh menjadi hal sangat menggiurkan bagi para investor untuk menanamkan sejumlah modal di perusahaan transportasi

(16)

dengan jumlah penduduk yang banyak. Seiring dengan kondisi tersebut, perusahaan-perusahaan yang bergerak disektor transportasi terus berupaya berinovasi serta mengambil kebijakan terbaik dalam menjalankan usahanya sesuai dengan permintaan pasar dengan mencari peluang dan penerapan manajemen yang baik agar mampu bertahan dan memenangkan persaingan yang semakin kompetitif. Dan kebijakan pendanaan adalah salah satu hal yang perlu di perhatikan untuk memenangkan persaingan perusahaan (Niztiar dan Harjum, 2013). Manajer keuangan harus mempertimbangkan dengan baik masing-masing sumber dana yang dipilih karena memiliki konsekuensi finansial yang berbeda- beda. Sumber dana bagi perusahaan dapat diperoleh dari sumber internal dan sumber eksternal perusahaan, dua sumber pendanaan tersebut akan membentuk struktur modal perusahaan (Noor, 2011).

Struktur modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah utang baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan (Febriminanto, 2012). Banyak model yang digunakan untuk menjelaskan mengenai perilaku pendanaan perusahaan. Teori yang menjelaskan mengenai hal tersebut antara lain static trade-off theory (Modigliani dan Miller, 1963), pecking order theory (Myers, 1984), teori keagenan (Jensen dan Meckling, 1976), dan teori equity market timing (Baker dan Wurgler, 2002). Struktur modal menjadi fokus utama bagi perusahaan karena baik buruknya struktur modal dapat mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan (Riyanto, 2010:296). Apabila

(17)

sruktur modal yang digunakan berasal dari pendanaan eksternal yaitu hutang yang besar akan meningkatkan resiko gagal bayar dimasa mendatang. Terlalu banyak hutang akan dapat menghambat perkembangan perusahaan yang juga akan membuat pemegang saham berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya (Kasmir, 2010:122). Struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan, atau harga saham, adalah struktur modal yang terbaik.

Struktur modal banyak dipengaruhi oleh berbagi macam faktor, menurut Sartono (2010:248) faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal antara lain tingkat penjualan, struktur aset, tingkat pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan, variabel laba, perlindungan pajak, skala perusahaan, kondisi interen perusahaan dan ekonomi makro. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal beberapa yang di gunakan dalam penelitian ini diantaranya ialah struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahan, current ratio dan profitabilitas (ROA).

Struktur aset adalah salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal.

Struktur aset merupakan jumlah aset yang dapat dijadikan jaminan yang diukur dengan membandingkan aset tetap dengan total aset. Struktur aset menentukan seberapa besar alokasi dana untuk masing-masing komponen aset lancar dan aset tetap (Fahmi, 2017). Menurut Elsas dan Florysiak (2008), aktiva tetap dapat dijadikan jaminan/collateral dalam melakukan pinjaman utang, dan karenanya dapat mereduksi biaya dari kesulitan keuangan (cost of financial distress) dan ini akan semakin meningkatkan kapastitas tingkat utang yang dapat menguntungkan perusahaan. Model trade off yang dikemukakan oleh Myers (2001), dimana

(18)

perusahaan perlu menyeimbangkan antara manfaat dan biaya dari penggunaan utang. Artinya struktur aset perusahaan yang tinggi akan berpengaruh positif terhadap struktur modal. Pada Gambar 1.1 dibawah ini dapat dilihat data tingkat struktur aset dan struktur modal beberapa perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

Gambar 1.1

Tingkat Struktur Aset dan Struktur Modal Beberapa Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016

Dari gambar diatas terlihat bahwa perusahaan Adi Sarana Armada Tbk, Mitra Bantera Sejati Tbk, Cardig Aero Services Tbk, dan Pelayaran Tempuran Emas Tbk mengalami kenaikan dan penurunan struktur aset yang berfluktuatif namun tidak searah dengan struktur modal. Perusahaan Adi Sarana Armada Tbk.

contohnya pada 2012-2013 struktur aset mengalami kenaikan dari 0,78 menjadi 0,88 namun struktur modal mengalami penurunan dari 1,88 di tahun 2012 menjadi

(19)

1,63 di tahun 2013. Perusahaan Mitra Bantera Segara Sejati di tahun 2015-2016 struktur aset mengalami peningkatan dari 0,73 menjadi 0,74 namun struktur modal mengalami penurunan dari 0,36 menjadi 0,31. Begitu juga dengan perusahaan Cardig Aero Services Tbk dan Pelayaran Tempuran Emas tbk.

Dari uraian diatas terlihat bahwa keempat perusahaan transportasi terdapat ketidaksesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa struktur aset berpengaruh positif terhadap struktur modal dan penelitian yang dilakukan SithySafeena (2015) menyatakan bahwa struktur aset berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal. Namun sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alida dan Achmad (2014) menyatakan bahwa struktur aset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal.

Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan ukuran perusahaan melalui peningkatan aset (Gunarianto, 2016).

Dalam pecking order theory (Barclay, Smith dan Watts,1998) perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang tinggi akan melakukan investasi dalam berbagai proyek yang dibiayai dengan biaya internal maupun eksternal. Karena perusahaan memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan minat perusahaan untuk melakukan peminjaman hutang. Ketika dibutuhkan dana eksternal untuk memenuhi kebutuhan investasi maka menurut pecking order theory, perusahaan akan lebih memilih untuk menggunakan utang terlebih dahulu dibandingkan menerbitkan saham baru. Ini dikarenakan semakin tinggi peluang pertumbuhan akan menyebabkan semakin tinggi pula asimetri informasi yang terjadi (Indrajaya et al, 2011). Pada Gambar 1.2 dibawah ini dapat dilihat data tingkat pertumbuhan

(20)

pusahaan dan struktur modal beberapa perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

Gambar 1.2

Tingkat Pertumbuhan Perusahaan dan Struktur Modal Beberapa Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016

Dari gambar diatas terlihat bahwa perusahaan Adi Sarana Armada Tbk, Mitra Bantera Sejati Tbk, Cardig Aero Services Tbk, dan Pelayaran Tempuran Emas Tbk mengalami kenaikan dan penurunan pertumbuhan perusahaan yang berfluktuatif namun tidak searah dengan struktur modal. Perusahaan Adi Sarana Armada Tbk, di tahun 2015-2016 pertumbuhan perusahaan tetap 2,39 namun struktur modal mengalami penurunan yang drastis menjadi 0,03. Mitra Bantera Segara Sejati tbk. pada tahun 2012-2013 mengalami kenaikan pertumbuhan perusahaan dari 0,1 menjadi 0,29 ditahun 2013, namun struktur modal cenderung turun dari 0,63 di tahun 2012 menjadi 0,43 di tahun 2013. Begitu juga dengan

(21)

perusahaan Cardig Aero Services Tbk pada saat pertumbuhan perusahaan meningkat dari 0,09 di tahun 2012 menjadi 0,15 di tahun 2013, namun sebaliknya struktur modal mengalami penurunan dari 0,63 menjadi 0,43 di tahun 2013.

Dari uraian diatas terlihat bahwa keempat perusahaan transportasi terdapat ketidaksesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal dan penelitian yang dilakukan oleh Ismail et al, (2015) menyatakan bahwa variabel pertumbuhan perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal (DER). Namun situasi diatas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anita (2015) menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal).

Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata total aktiva (Anwar et al, 2014). Ukuran perusahaan adalah salah satu faktor penting untuk dijadikan pertimbangan dalam keputusan struktur modal, karena pada kenyataan nya bahwa semakin besar suatu perusahaan maka kecenderungan penggunaan dana eksternal juga semakin besar. Perusahaan besar dapat membiayai investasinya dengan mudah lewat pasar modal karena kecilnya informasi asimetri yang terjadi. Hal ini disebabkan perusahaan besar memiliki kebutuhan dana yang besar dan salah satu alternatif pemenuhan dana yang tersedia adalah pendanaan eksternal. Selain itu perusahaan besar memiliki default risk yang lebih rendah dan memiliki probabilitas kebangkrutan yang lebih rendah daripada perusahaan kecil, sehingga menurut trade-off theory semakin besar perusahaan maka perusahaan dapat memakai utang lebih banyak, ini terkait

(22)

rendahnya risiko perusahaan besar (Elsas dan Florysiak, 2008). Pada Gambar 1.3 dibawah ini dapat dilihat data tingkat ukuran perusahaan dan struktur modal beberapa perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

Gambar 1.3

Tingkat Ukuran Perusahaan dan Struktur Modal Beberapa Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016

Dari gambar diatas terlihat bahwa perusahaan Adi Sarana Armada Tbk, mengalami peningkatan ukuran perusahaan secara terus menerus, namun struktur modal perusahaan tersebut di tahun 2013 dan 2016 mengalami penurunan.

Perusahaan Mitra Bantera Segara Sejati Tbk di tahun 2013-2015 mengalami peningkatan ukuran perusahaan namun struktur modal pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 0,39. Begitu juga dengan perusahaan Cardig Aero

(23)

Services Tbk mengalami peningkatan ukuran perusahaan dari tahun 2012-2016 namun struktur modal semakin menurun pada titik 1,00 di tahun 2016.

Dari uraian diatas terlihat bahwa keempat perusahaan transportasi terdapat ketidaksesuaian dengan teori yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap struktur modal dan penelitian yang dilakukan oleh Kartika dan Made (2014) dan penelitian Hartoyo, et al (2014) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal.

Namun situasi diatas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Sakinah dan Achmad (2014) menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal.

Current ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi liabilitas jangka pendeknya. Semakin likuid suatu perusahaan, maka akan semakin mudah dalam memperoleh pendanaan hutangnya, dan rasio likuiditas membandingkan kewajiban jangka pendek dengan sumber daya jangka pendek hal ini sejalan dengan teori pecking order bahwa perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi maka akan cenderung tidak menggunakan sumber pendanaan internal terlebih dahulu untuk membiayai investasinya (Seftianne dan Ratih, 2011). Hal ini disebabkan perusahaan dengan tingkat likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih dahulu sebelum menggunakan utang. Pada Gambar 1.4 dibawah ini dapat dilihat data tingkat current ratio dan struktur modal beberapa perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

(24)

Gambar 1.4

Tingkat Current ratio dan Struktur Modal Beberapa Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016

Dari gambar diatas terlihat bahwa perusahaan Adi Sarana Armada Tbk, Mitra Bantera Sejati Tbk, Cardig Aero Services Tbk, dan Pelayaran Tempuran Emas Tbk mengalami kenaikan dan penurunan current ratio yang berfluktuatif namun tidak searah dengan struktur modal. Seperti ditunjukan oleh perusahaan Adi Sarana Armada Tbk di pada tahun 2012-2013 disaat current ratio turun dari 1,10 menjadi 0,49 namun struktur modal juga ikut turun. Perusahaan Mitra Bantera Sejati Tbk mengalami kenaikan dan penurunan current ratio yang fluktuatif diikuti dengan penurunan struktur modal. Perusahaan Cardig Aero Services Tbk, juga mengalami kenaikan nilai current ratio dari tahun 2012-2016 dari 1,74 menjadi 2,63 namun nilai struktur modal juga ikut meningkat di tahun 2015 sebesar 0,07. Begitu juga dengan perusahaan pelayaran Tempuran Emas tbk.

(25)

Dari uraian diatas terlihat bahwa keempat perusahaan transportasi terdapat ketidaksesuaian dengan teori pecking order dan penelitian yang dilakukan Ismail et al, (2015) menunjukkan bahwa current ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal. Namun situasi diatas sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kartika dan Made (2014) menyimpulkan bahwa likuiditas berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal.

Menurut Sartono (2010), profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan, seperti aktiva, modal, atau penjualan perusahaan. Perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi mampu untuk mendanai kegiatan usahanya secara internal. Sesuai dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan cenderung menggunakan pendanaan internal sebanyak mungkin sebelum memutuskan untuk menggunakan pendanaan eksternal (Dewi, 2014).

Pada Gambar 1.5 dibawah ini dapat dilihat data tingkat profitabilitas (ROA) dan struktur modal beberapa perusahaan transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.

(26)

Lanjutan Gambar 1.5

Gambar 1.5

Tingkat Return On Asset dan Struktur Modal Beberapa Perusahaan Sektor Transportasi Periode 2012-2016

Dari gambar diatas terlihat bahwa perusahaan Adi Sarana Armada Tbk, Mitra Bantera Sejati Tbk, Cardig Aero Services Tbk, dan Pelayaran Tempuran Emas Tbk mengalami kenaikan dan penurunan current ratio yang berfluktuatif namun tidak searah dengan struktur modal. Seperti yang terlihat pada perusahaan Adi Sarana Armada Tbk pada tahun 2015-2016 nilai profitabilitas meningkat dari 1,18 menjadi 1,33 dan struktur modal tetap di angka 2,39. Perusahaan Mitra Bantera Sejati Tbk di tahun 2013-2014 nilai profitabilitas menurun dari 11,18 menjadi 6,15 namun struktur modal juga ikut menurun dari 0,39 menjadi 0,36.

Kemudian perusahaan Cardig Aero Services Tbk pada tahun 2012-2013 profitabilitas meningkat dari 0,32 menjadi 0,37 namun struktur modal juga ikut menurun dari 1,26 menjadi 1,24. Dan terakhir perusahaan Pelayaran Tempuran Emas Tbk pada tahun 2012-2013 mengalami penurunan dari 7,28 menjadi 4,24 dan struktur modal sebaliknya mengalami kenaikan dari 3,40 menjadi 3,97.

Dari uraian diatas terlihat bahwa keempat perusahaan transportasi terdapat ketidaksesuaian dengan teori pecking order dan penelitian yang dilakukan oleh

(27)

Niztiar dan Harjun (2013) menunjukkan bahwa profitabilitas (ROA) berpengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal (DER). Namun situasi diatas sejalan dengan penelitian Hartoyo, et al (2014) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal perusahaan.

Dari Gambar 1-5 dapat dilihat bahwa terdapat inkosistensi data pada variabel independen terhadap variabel dependen yaitu struktur modal yang diproksikan dengan debt to equity ratio. Rata-rata faktor yang mempengaruhi struktur modal menunjukkan hasil yang masih fluktuatif, hal ini kemudian menjadi fenomena gap. Dan beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan hasil yang berbeda pada masing-masing variabel yang menyebabkan adanya research gap dalam penelitian terdahulu.

Objek penelitian ini menggunakan perusahaan sektor transportasi karena masih sangat sedikitnya penelitian yang meneliti tentang perusahaan sektor transportasi di Indonesia. Perkembangan setiap tahun sektor transportasi mengalami peningkatan, bahkan banyak sekali investor dalam negeri maupun investor luar negeri yang tertarik untuk berinvestasi di sektor transportasi.

Berdasarkan penjelasan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang diberi judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Pada Perusahaan Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

(28)

1. Bagaimana secara bersama-sama (simultan) pengaruh struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahan, current ratio dan return on asset terhadap struktur modal pada perusahaan sektor Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016?

2. Bagaimana secara individu (parsial) pengaruh struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahan, current ratio dan return on asset terhadap struktur modal pada perusahaan sektor Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2012-2016?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menganalisis secara bersama-sama (simultan) pengaruh struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan, current ratio dan return on asset terhadap struktur modal pada perusahaan sektor Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2012-2016.

2. Menganalisis secara individu (parsial) pengaruh struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan, current ratio dan return on asset terhadap struktur modal pada perusahaan sektor Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2012-2016.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi akademisi

(29)

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan teori mengenai struktur aset, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, likuditas, profitabilitas dan pengaruhnya terhadap struktur modal.

2. Bagi Investor

Sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi pada perusahaan yang akan ditanamkan dananya dengan melihat struktur modal perusahaaan tersebut.

3. Bagi perusahaan

Meskipun penelitian ini mungkin jauh dari kesempurnaan, namun diharapkan mampu memberikan informasi kepada perusahaan-perusahaan sektor transportasi sebagai masukan yang dapat dijadikan tolak ukur dalam penyusunan suatu struktur modal yang optimal, dan dapat memahami faktor- faktor yang mempengaruhi struktur modal. Dengan harapan dapat meningkatkan nilai perusahaan.

4. Bagi peneliti

Memberikan referensi bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan, khususnya transportasi.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manajemen Keuangan

Sartono (2011) mendefenisikan manajemen keuangan sebagai manajemen dana baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien. Pelaksana dari manajemen keuangan adalah manajer keuangan. Meskipun fungsi seorang manajer keuangan setiap organisasi belum tentu sama, namun pada prinsipnya fungsi utama seorang manajer keuangan adalah merencanakan, mencari, dan memanfaatkan dengan berbagai cara untuk memaksimumkan efisiensi (daya guna) dari operasi-operasi perusahaan untuk meningkatkan efektifitas.

Menurut Martono & Harjito (2007) manajemen keuangan terdiri dari tiga fungsi utama, yaitu:

1. Keputusan investasi (investment decision).

2. Keputusan pendanaan (financial decision).

3. Keputusan dividen (earning decision).

Mengambil keputusan investasi (investment decision) menyangkut masalah pemilihan investasi yang diinginkan dari sekelompok kesempatan yang ada, memilih satu atau lebih alternatif investasi yang dinilai paling menguntungkan.

Sedangkan keputusan pendanaan dan kebijakan dividen akan mempengaruhi struktur modal. Secara umum perbandingan dana yang tertanam dalam jangka waktu lama disebut sebagai struktur modal.

(31)

Tujuan manajemen keuangan telah terlihat dalam proses penilaian yang dilakukan oleh pasar uang. Tujuan utama manajemen keuangan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Tingkah laku pasar keuangan harus dipakai dalam menetapkan tujuan-tujuan perusahaan yang bersifat membela kepentingan pemegang saham. Yang dimaksud membela kepentingan pemegang saham atau memaksimukan kemakmuran pemegang saham yaitu yang pertama, memaksimumkan nilai sekarang (present value) semua keuntungan di masa mendatang yang akan diterima oleh pemilik perusahaan. Berarti lebih menekankan pada aliran hasil bukan sekedar laba bersih dalam pengertian akuntansi.

2.2 Struktur Modal

Struktur modal adalah topik utama yang terdapat dalam keuangan, baik dibahas sebagai sub-topik dalam keuangan perusahaan maupun dalam keputusan investasi. Dalam neraca perusahaan (balance sheet) yang terdiri dari sisi aktiva yang mencerminkan struktur kekayaan dan sisi pasiva sebagai struktur keuangan.

Struktur modal sendiri merupakan bagian dari struktur keuangan yang dapat diartikan sebagi pembelajaran permanen yang mencerminkan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Dewi, 2014).

Struktur modal adalah perimbangan atau perbandingan antara jumlah utang jangka panjang dengan modal sendiri (Riyanto, 2001 dalam penelitian Prayogo 2016). Struktur modal merupakan campuran atau proporsi antara utang jangka panjang dan ekuitas, dalam rangka mendanai investasinya (operating assets). Komposisi dari utang jangka panjang (long term debt), saham preferen (preffered stock), dan saham umum (common stock equity) merupakan struktur

(32)

modal perusahaan yang akan memengaruhi biaya modal secara keseluruhan (Raharjaputra 2009 dalam penelitian Prayogo 2016).

Kebijakan perusahaan untuk memilih utang sebagai alternatif pendanaanya didasarkan atas tiga dasar utama (Brigham dan Gapenski, 1997) dalam penelitian Oktaviane (2012), diantaranya:

1. Adanya bunga yang mengurangi pajak yang mengakibatkan biaya utang rendah.

2. Karena sifat imbal hasil yang diterima kreditur terbatas, pemegang saham tidak perlu berbagai keuntungan ketika kondisi bisnis sedang baik.

3. Kreditur tidak memiliki hak suara sehingga pemegang saham dapat mengendalikan perusahaan dengan penyertaan dana yang kecil.

Struktur modal dapat diukur dengan rasio perbandingan antara total hutang terhadap modal sendiri melalui (Debt to Equity Ratio) DER (Ismail et al, 2015).

Pemakaian DER dimaksudkan untuk mempermudah pengukuran karena struktur modal tidak dapat diukur secara langsung (Sartono dan Sriharto, 1999 dalam Prayogo 2016). Semakin besar DER maka semakin besar pula risiko yang harus dihadapi perusahaan, karena pemakaian hutang sebagai sumber pendanaan jauh lebih besar dari pada modal sendiri. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang dapat menentukan pendanaan yang murah dengan bunga rendah dan jangka waktu fleksibel, sehingga utang menjadi mengguntungkan bagi perusahaan.

2.3 Teori Struktur Modal

Struktur modal (capital structure) berkaitan dengan pembelanjaan jangka panjang suatu perusahaan yang diukur dengan perbandingan hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Teori struktur modal menjelaskan apakah kebijakan

(33)

pembelanjaan jangka panjang dapat mempengaruhi nilai perusahaan, biaya modal perusahaan, dan harga pasar saham perusahaan. Teori struktur modal telah banyak dikemukakan oleh para peneliti terdahulu, berikut ini akan diuraikan mengenai teori-teori tersebut (Syahyunan, 2015:260)

2.3.1 Teori Modigliani dan Miller (MM)

Teori struktur modal modern yang pertama kali dikemukakan oleh Modigliani dan Miller (teori MM) pada tahun 1958. Mereka mempublikasikan artikel keuangan yang berjudul “The Cost of capital, Corporation Finance, and The Theory of Invesment”. Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan atau tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Kemudian pada awal tahun 1960-an, kedua ekonom tersebut memasukan faktor pajak ke dalam analisis mereka. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan nilai perusahaan tanpa hutang. Kenaikan nilai tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak dari penggunaan hutang (Mamduh, 2005).

1. Proposisi MM tanpa pajak

MM mengajukan beberapa asumsi untuk membangun teori mereka, antara lain:

a. Proposisi 1 (tanpa pajak)

Dalam kondisi tanpa pajak, Modigliani dan Miller berpendapat bahwa struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Tingkat keuntungan dan risiko usaha (keputusan investasi) yang akan mempengaruhi nilai perusahaan (bukannya keputusan pendanaan).

b. Proposisi 2 (tanpa pajak)

(34)

Proposisi 2 mengatakan bahwa tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk perusahaan yang menggunakan hutang, naik proporsional terhadap peningkatan rasio hutang dengan saham.

2. Proposisi MM dengan pajak

Teori MM tanpa pajak dianggap tidak realistis dan kemudian MM memasukkan faktor pajak ke dalam teorinya. Pajak dibayarkan kepada pemerintah, yang berarti merupakan aliran kas keluar. Dalam teori MM dengan pajak ini terdapat preposisi, yaitu:

a. Preposisi 1

Nilai dari perusahaan yang berhutang sama dengan nilai dari perusahaan yang tidak berhutang ditambah dengan penghematan pajak karena bunga hutang. Implikasi dari preposisi 1 ini adalah pembiayaan dengan hutang sangat menguntungkan dan MM menyatakan bahwa struktur modal optimal perusahaan adalah seratus persen hutang.

b. Preposisi 2

Implikasi dari preposisi 2 ini adalah penggunaan hutang yang semakin banyak akan meningkatkan biaya modal saham. Menggunakan hutang yang lebih banyak, berarti menggunakan modal yang lebih murah (biaya modal hutang lebih kecil dibandingkan dengan biaya modal saham), sehingga akan menurunkan biaya modal rata-rata tertimbangnya (meski biaya modal saham meningkat). Teori MM sangat kontroversial, karena implikasi dari teori tersebut perusahaan sebaiknya menggunakan hutang sebanyak-banyaknya.

(35)

2.3.2 Pecking Order Theory

Menurut Myers (1984), Pecking Order Theory menyatakan bahwa

“perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi justru tingkat hutangnya rendah, dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana internal yang berlimpah”. Secara ringkas teori pecking order theory ialah (Brealey and Myers 1991 dalam Mahmduh, 2011):

1. Perusahaan memilih pendanaan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.

2. Perusahaan menghitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi. Perusahaan berusaha menghindari perubahan dividen yang tiba-tiba. Dengan kata lain, pembayaran dividen diusahakan konstan atau, kalau berubah terjadi secara gradual dan tidak berubah dengan signifikan.

3. Karena kebijakan dividen yang konstan (sticky), digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebi besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat-saat tertentu, dan akan lebih kecil pada saat yang lain.

Teori ini menjelaskan kenapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat utang yang lebih kecil. Tingkat hutang yang kecil tersebut tidak dikarenakan perusahaan mempunyai target tingkat hutang yang kecil, tetapi karena mereka tidak membutuhkan dana eksternal.

Tingkat keuntungan yang tinggi menjadikan dana internal mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan investasi (Syahyunan, 2015: 268).

(36)

2.3.3 Trade-off Theory

Teori trade off yang dikemukakan oleh Brealey dan Myers (1991) menjelaskan tentang adanya hubungan antara pajak, resiko kebangkrutan dan penggunaan hutang yang disebabkan keputusan struktur modal yang diambil perusahaan. Teori ini merupakan keseimbangan antara keuntungan dan kerugian atas penggunaan hutang (Ismail et al, 2015). Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan (agency costs) dan biaya kesulitan keuangan (financial distress) tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan symmetric information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan hutang. Tingkat hutang yang optimal tercapai ketika penghematan pajak (tax shields) mencapai jumlah yang maksimal terhadap biaya kesulitan keuangan (costs of financial distress). Trade-off theory mempunyai implikasi bahwa manajer akan berpikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya kesulitan keuangan dalam penentuan struktur modal. Perusahaan-perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi tentu akan berusaha mengurangi pajaknya dengan cara meningkatkan rasio hutangnya, sehingga tambahan hutang tersebut akan mengurangi pajak (Syahyunan, 2015: 269).

2.3.4 Asymmetric Information Theory dan Signaling Theory

Konsep signaling dan asymmetric information berkaitan erat. asymmetric information kondisi dimana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak dari pihak lain. Karena asymmetric information, manajemen tahu lebih banyak tentang perusahaan dibanding investor di pasar modal. Jika manajemen perusahaan ingin

(37)

memaksimumkan nilai untuk pemegang saham saat ini (current stockholder), bukan pemegang saham baru, maka ada kecenderungan bahwa (Dermawan, 2007: 237):

1. Jika perusahaan memiliki prospek yang cerah, manajemen tidak akan menerbitkan saham baru tetapi menggunakan laba ditahan (supaya prospek cerah tersebut dinikmati current stockholder), dan

2. Jika prospek kurang baik, manajemen menerbitkan saham baru untuk memperoleh dana (ini akan menguntungkan current stockholder karena tanggung jawab mereka akan berkurang.

Sedangkan teori Signaling, Ross (1997) mengembangkan model dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Jika manajer punya keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar saham meningkat, ia ingin mengkomunikasikan hal tersebut ke investor. Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan mengatakan secara langsung „perusahaan kami mempunyai prospek yang baik.

Tentu saja investor tidak akan percaya begitu saja. Di samping itu, manajer ingin memberikan signal yang lebih percaya (credible). Manajer bisa menggunakan hutang lebih banyak, sebagai signal yang lebih credible (Gunarianto, 2016).

2.3.5 Agency Theory

Teori ini dikemukakan oleh Jensen dan Meckling pada tahun 1976. Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai kontrak atau perjanjian antara satu atau lebih pihak (pemilik) dengan pihak lain (agen) untuk melakukan sebuah jasa atas kepentingan pemilik dimana dalam pelaksanaan jasa tersebut terdapat pelimpahan kekuasaan untuk mengambil keputusan dari pemilik

(38)

kepada agen. Tujuan utama dari teori keagenan (agency theory) adalah untuk menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang melakukan hubungan kontrak dapat mendesain kontrak yang tujuannya untuk meminimalisir cost sebagai adanya informasi yang tidak asimetris dan kondisi ketidakpastian.

Teori keagenan ditekankan untuk mengatasi dua permasalahan yang dapat terjadi dalam hubungan keagenan. Pertama, adalah masalah keagenan yang timbul pada saat keinginan-keinginan atau tujuan-tujuan prinsipal dan agen saling berlawanan dan merupakan hal yang sulit bagi prinsipal untuk melakukan verifikasi apakah agen telah melakukan sesuatu secara tepat. Kedua, adalah masalah pembagian dalam menanggung resiko yang timbul dimana prinsipal dan agen memiliki sikap berbeda terhadap resiko. Inti dari hubungan keagenan adalah bahwa di dalam hubungan keagenan tersebut terdapat adanya pemisahan antara kepemilikan (pihak prinsipal) yaitu para pemegang saham dengan pengendalian (pihak agen) yaitu manajer yang mengelola perusahaan (Widodo, 2013).

2.3.6 Equity Market Timing

Teori yang diungkapkan oleh Baker dan Wugler (2002) ini mengemukakan bahwa “perusahaan-perusahaan akan menerbitkan equity pada saat market value tinggi dan akan membeli kembali ekuitas pada saat market value rendah” (Syahyunan, 2015:270). Menurut Baker dan Wurgler (2002), struktur modal adalah hasil kumulatif dari usaha melakukan equity market timing di masa lalu. Baker dan Wurgler menggunakan market to book ratio, yang umumnya digunakan sebagai proksi untuk mengukur kesempatan investasi, namun dalam teorinya market to book ratio juga digunakan untuk melihat apakah

(39)

nilai suatu ekuitas itu over valued atau under valued. Baker dan Wurgler membangun suatu model variabel yaitu external finance weighted average market to book ratio. Variabel ini adalah rata-rata tertimbang market to book ratio dari suatu perusahaan di masa lampau. Variabel ini digunakan oleh Baker dan Wurgler untuk melihat usaha dari suatu perusahaan dalam melakukan equity market timing. Tujuan dari melakukan equity market timing adalah mengeksploitasi fluktuasi sementara yang terjadi pada cost of equity terhadap cost of other forms of capital.

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal, menurut Sartono (2010:248) faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal antara lain tingkat penjualan, struktur aset, tingkat pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, likuiditas, ukuran perusahaan, variabel laba dan perlindungan pajak, skala perusahaan, kondisi interen perusahaan dan ekonomi makro. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal beberapa yang di gunakan dalam penelitian ini diantaranya ialah struktur aset, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahan, current ratio dan profitabilitas (ROA).

2.4.1 Struktur Aset (Asset Structure)

Struktur aset didefinisikan sebagai komposisi aset perusahaan yang akan menunjukkan seberapa besar aset perusahaan dapat digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman (Fahmi, 2017). Struktur aset atau lebih dikenal sebagai tangible assets menunjukkan komposisi relatif aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan dan menggambarkan harta atau investasi yang dimiliki oleh

(40)

perusahaan. Aset perusahaan dibiayai dengan modal baik hutang maupun ekuitas (Oktaviane, 2012). Semakin tinggi struktur aset perusahaan menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan tersebut untuk dapat menjamin hutang jangka panjang yang dipinjamnya, begitupun sebaliknya (Putri, 2014). Pengukuran struktur aset dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Brigham dan Houston (2009), sebagai berikut:

2.4.2 Pertumbuhan Perusahaan

Salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah pertumbuhan perusahaan (Syahyunan, 2015:161). Brigham dan Houston (2009), mendefenisikan pertumbuhan sebagai pertumbuhan aset tahunan dari total aktiva. Pertumbuhan perusahaan ini mencakup pertumbuhan penjualan, laba, aktiva. Pertumbuhan perusahaan ini dilihat dengan semakin tinggi tingkat pertumbuhan suatu perusahaan maka semakin baik juga perusahan tersebut. Pertumbuhan perusahaan yaitu kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan yang merupakan kesempatan perusahaan untuk meningkatkan ukurannya (Nurmadi, 2013). Perusahaan yang berpeluang untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi pasti akan mendorong perusahaan untuk terus melakukan ekspansi usaha dan dana yang dibutuhkan pasti tidaklah sedikit dan kemungkinan dana internal yang dimiliki jumlahnya terbatas sehingga akan mempengaruhi keputusan struktur modal atau pendanaan suatu perusahaan.

(41)

Pertumbuhan perusahaan menggambarkan pertumbuhan aset perusahaan yang akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan yang meyakini bahwa persentase perubahan total aset merupakan indikator yang lebih baik dalam mengukur growth perusahaan (Putrakrisnanda, 2009 dalam Dewi, et al 2014).

Pengukuran variabel growth atau pertumbuhan perusahaan ini mengacu kepada peneliti-peneliti sebelumnya yang telah menggunakan ukuran ini, adapun rumus yang digunakan merujuk pada Weston J.Fred dan Thomas (2008), sebagai berikut:

2.4.3 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan pada total aset, jumlah penjualan, rata-rata penjualan, dan rata-rata total aset (Prasetya dan Asandimitra, 2014). Menurut Abdul Halim (2015:93) dalam Putri (2014) semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka kecenderungan untuk menggunakan modal asing akan semakin besar. Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin memperbanyak pula alternatif pendanaan yang dapat dipilih dalam menigkatkan labanya sehingga semakin kecil kemungkinan untuk bangkrut dan perusahaan besar lebih mudah memperoleh pinjaman karena dinilai mampu memenuhi kewajibannya.

As a firm becomes larger, it has more capability to bear interest expense that comes from debt. It can issue more debt before actually confronted by severe bankruptcy risk. Therefore, the size of a firm is expected to have a positive relationship with capital structure (Nur Sakinah dan Achamd, 2014).

(42)

Penelitian ukuran perusahaan dapat menggunakan tolak ukur aset. Karena total aset perusahaan bernilai besar maka hal ini dapat disederhanakan dengan mentranformasikan ke dalam logaritma natural sehingga dalam penelitian ini ukuran perusahaan diformulasikan sebagai berikut (Ghozali, 2009),:

Size = Ln Total Asset

2.4.4 Likuiditas (Current Ratio)

Rasio likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio yang biasa digunakan untuk mengukur likuiditas yaitu current ratio, quick ratio, cash ratio dan networking capital.

Didalam penelitian ini likuiditas di proksikan pada current ratio, dengan membandingkan aset lancar dengan hutang lancar (Syahyunan, 2015:104).

Rasio lancar (current ratio) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi liabilitas jangka pendek (short run solvency) yang akan jatuh tempo dalam waktu setahun (Werner, 2015: 57). Atau dengan kata lain current ratio digunakan untuk menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang tersedia, hal ini akan mendapatkan nilai seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mengelola aset lancar nya sebagai pembiayaan untuk membayar hutang lancar. Perusahaan yang dapat segera mengembalikan hutang-hutangnya akan mendapat kepercayaan dari kreditur untuk menerbitkan hutang dalam jumlah yang besar (Kharizmatullah et al, 2017). Current ratio dihitung sebagai persentase aset lancar dengan hutang lancar dan di formulasikan sebagai berikut (Syahyunan, 2015):

(43)

2.4.5 Profitabilitas (Return On Asset)

Profitabilitas menurut Agus Sartono adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Putri, 2014). Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus berada dalam keadaan yang menguntungkan. Tanpa adanya keuntungan (profit), maka akan sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Rasio Profitabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau seberapa efektif pengelolaan perusahaan oleh manajemen. Rasio profitabilitas yang sering digunakan, yaitu Gross profit margin, Operating Profit Margin, Net Profit Margin, Return on Investment, Return on Asset dan Return on Equity (Syahyunan, 2015).

Untuk mengukur tingkat profitabilitas dalam penelitian ini digunakan rasio ROA (Return on Asset). Return on Asset adalah salah satu rasio profitabilitas yang dapat digunakan dalam analisis kinerja keuangan, yang mencerminkan seberapa besar return yang dihasilkan atas setiap rupiah uang yang ditanamkan dalam bentuk aset (Putri, 2014). Atau dengan kata lain rasio yang menggambarkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dengan menggunakan aset yang dimilikinya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin baik

(44)

keadaan suatu perusahaan. ROA dapat diproksikan dengan rumus sebagai berikut (Murhadi,2015: 64):

2.5 Penelitian Terdahulu

Pada beberapa penelitian terdahulu meununjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal.

Penelitian yang dilakukan Kharizmatullah, et al (2017) menunjukkan bahwa current ratio, struktur aktiva dan ROA berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER) sedangkan pertumbuhan perusahaan dan PER tidak signifikan terhadap struktur modal. Pada penelitian Ismail, et al (2015). Struktur aset, pertumbuhan perusahaan dan return on asset berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap struktur modal (DER), namun ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan current ratio berpengaruh negatif terhadap struktur modal.

Penelitian Margawati (2015) menyatakan secara simultan profitabilitas, likuiditas, resiko bisnis, growth dan struktur aktiva berpengaruh terhadap struktur modal dan secara parsial profitabilitas, likuiditas dan growth berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal sedangkan resiko bisnis dan struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Kemudian penelitian Hassan (2015) menunjukkan profitabilitas dan likuiditas berpengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal sedangkan struktur aset (tangibility) berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal dan ukuran perusahaan

(45)

tidak berpengaruh terhadap struktur modal. Penelitian Hartoyo, et al (2014) menyatakan secara simultan profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap struktur modal.

Pada Tabel 2.1 berikut dapat dilihat ringkasan beberapa penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti (Tahun)

Judul

Penelitian Variabel

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian 1. Kharizmat

ullah, Yuliani dan Reza Ghasarma (2017)

Analisis Struktur Modal

Perusahaan Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia

Dependen:

Struktur Modal (DER) Independen:

1. Likuiditas 2. Struktur Aktiva 3. Pertumbuhan

Penjualan 4. PER 5. Profitabilitas

Regresi Linear Berganda

CR, struktur aktiva dan ROA berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER) sedangkan pertumbuhan perusahaan dan PER tidak signifikan terhadap struktur modal.

2. Anas Ismail, Triyono dan Fathan Achyani (2015)

Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahaan Property dan Real Estate

Dependen:

Struktur Modal (DER) Independen:

1. Struktur Aset 2.Pertumbuhan Perusahaan 3. Ukuran Perusahaan 4. Current Ratio 5.Profitabilitas

Regresi Linear Berganda

1. Struktur aset, pertumbuhan perusa- haan dan return on asset berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap struktur modal (DER) 2. Ukuran perusahaan

berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal, Current ratio berpengaruh negatif.

3. Anita Margawati (2015)

Analisis Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal (Studi Empiris pada Perusahaan Telekomunikasi yang Terdaftar di BEI tahun 2008- 2012)

Dependen:

Struktur Modal (DER) Independen:

1.Profitabilitas 2. Likuiditas 3. Resiko Bisnis 4. Growth 5. Struktur Aktiva

Regresi Linear Berganda

1. Secara simultan profitabilitas,likuiditas, resiko bisnis, growth dan struktur aktiva

berpengaruh

terhadapstruktur modal 2. Secara parsial

profitabilitas, likuiditas dan growth berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal sedangkan resiko bisnis dan struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.

(46)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti (Tahun)

Judul

Penelitian Variabel

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian 4. SithySafee

na M.G Hassan (2015)

Analysis Determining Capital Structure Analaysis of Listed Companies in the Colombo Stock Exchange in Sri Lanka

Dependen:

Capital Structure (DER)

Independen:

1. Profitabilitiy 2. Firm size 3. Tangibility 4. Liquidity

Regresi Data Panel

1. Profitabilitas dan likuiditas berpengaruh negatif signifikan terhadap struktur modal

2. Struktur Aset (tangibility) berpengaruh positif dan signifikan terhadap DER.

5. Sisilia dan Farida (2015)

Pengaruh Struktur Aktiva, Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal

Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010-2014

Dependen:

Struktur Modal (DER) Independen:

1. Struktur Aktiva 2. Ukuran Perusahaan 3. Profitabilitas

Regresi Data Panel

1. Secara simultan struktur aktiva, ukuran

perusahaan dan profitabilitas mempunyai pengaruh signifikan terhadap struktur modal.

2. Secara parsial ukuran perusahaan dan profitabilitas mempunyai pengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap struktur modal sedangkan struktur aktiva tidak berpengaruh terhadap sturktur modal.

6. Abiprayas a K. W Hartoyo, Muhamma d Khafid dan Linda Agustina (2014)

Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Tekstil dan Garmen di Bursa Efek Indonesia

Dependen:

Struktur Modal (DER) Independen:

1. Profitabilitas 2. Struktur Aktiva 3. Firm Size

Regresi Linear Berganda

1. Secara simultan profitabilitas, struktur aktiva dan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap struktur modal

2. Struktur aktiva secara parsial berpengaruh negatif terhadap struktur modal sedangkan profitabilitas dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh.

7. Alida Nur Sakinah dan Achmad Herlanto Anggono (2014)

Analysis of Determinants of Capital Structure of Plantation Companies in Indonesia

Dependen:

Capital Structure (DER)

Independen:

1. Asset Tangibility 3. Growth 4. Firm Size 5. Profitability

Regresi Data Panel

1. Struktur aset dan pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal

2. Ukuran perusahaan dan profitabilitas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal

Referensi

Dokumen terkait

Current ratio berpengaruh terhadap return on asset pada perusahaan PT. Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai signifikasi untuk current ratio dengan return on

Dapat disimpulkan dari hasil penelitian bahwa variabel Return On Asset, ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial serta pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur

Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dari struktur aktiva, return on asset , pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, price earning ratio , dan likuiditas baik

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah return on asset, debt to equity ratio, current ratio dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap ketepatan

Secara simultan variabel Return On Asset, Debt To Equity Ratio, Current Asset , dan Ukuran Perusahaan berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap harga

Return on Assets, Struktur Aktiva, Pertumbuhan Perusahaan, Ukuran Perusahaan dan Dividend Payout Ratio secara simultan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal

xv ABSTRAK PRIZSKA VALENSIA, Pengaruh Struktur Modal, Current Ratio, dan Debt to Equity Ratio Terhadap Return On Asset Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi Yang

Variabel current ratio, debt to equity ratio, return on asset dan total asset turnover secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan sub sektor