• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Upah

Hal-hal terpenting dapat mempengaruhi tingkat upah adalah sebagai berikut:

20

a. Banyaknya Penawaran dan permintaan tenaga kerja

Dalam aturan tidak dapat ditentukan seutuhnya permasalahan pekerja dan tidak bisa dipungkiri hukum penawaran dan permintaan terhadap tenaga kerja akan mengangu setiap kerja yang memerlkukan skill tinggi.

b. Organisasi pekerja atau buruh

Lemah kuatnya organisasi pekerja akan mengangu terbuatnya tingkatan kompensasi. Persatuan pekerja yang utuh akan memmilki kedudukan bergaining pekerja pun akan kuat yang dapat menaikkan bsaran gaji begitu juga sebaliknya

c. Kemampuan untuk membayar

Persatuan pekerja didasarkan pada tingkat gaji yang besar, namun akhirnya pengasihan upah akan didasarkan pada kesangupan perusahaan untuk membayarnya. Perusahaan mengangap hal tersebut adalah bagian dari modal dalam berproduksi yang akhirnya dapat menyebabkan kurangnya keuntungan. Jika biaya produksi mengalami kenaikan sampai menimbulkan dampak kerugian bagi perusahaan, maka tentu saja perusahaan tidak akan sangup untuk memenuhi kebutuhan karyawannya.

d. Produktivitas

Secara produkrtivitas upah merupakan balasan atas prestasi yang diperoleh oleh pekerja. Dimana apabila kemampuan pekerja tinngi setidaknya semakin besarlah gaji diperoleh oleh para pekerja. Prestasi dapat dikatakn sebagai produktivitas. Namun yang menjadi masalah adalah belum adanya ketentuan dalam menghitung produktivitas.

e. Biaya hidup

Didaerah perkotaanbiasanya biaya hidup sangatlah besar dan gaji pekerja pun biasanya tinggi, bagaimana terlihat dengan kebutuhan dari para karyawan adalah batas pemberian upah dari perusahaan.

21 Helmi Karim, Fiqh Muamalah,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,1997),hal.29

22 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2011),hal 29

f. Pemerintah

Peraturan pemerintah juga sangat berpengaruh terhadap tingkat tinggi rendahnya upah, salah satunya dalam penetapan jumlah upah minimum . C. Pengertian Upah Pada Konsep Islam

1. Pengertian Ujrah

Secara bahasa ijarah dapat diartikani sebagai upah atau imbalan.

Oleh sebab itu ijarah benda serta merupakan upah karena telah melaksanakan suatu kegiatan atau aktivitas.21

Dalam fiqih muamalah upah diistilahkan juga dengan ijarah Al-ijarah berasal dari kata al-ajru sedangkan menurut bahasa adalah al iwadh yang artinya dari bahasa indonesia adalah penganti dan upah.22 Menurut pakar upah disebut sewa menyewa terhadap sesuatu seperti halnya menyewa seseorang untuk bekerja.

Sedangkan Prof Benham berpendapat bahwa upah dapat diartikan imbalan yang diberikan kepada karyawan terhadap sesuatu yang telah dikerjakannya berdasarkan kesepakatan. Di islam gaji merupakan gaji bagi pekerja yang melakukan pekerjan dan tugas bagi pemberi kerja untuk memberikan upahnya. Jadi dapat disimpulkan upah ialah bagian dari pekerja untuk nilai atas keterampilan dan waktu diberikannya untuk

23 Sri Dewi Yusuf, AL-Ulum: Konsep Penentuan Upah Dalam Ekonomi Islam, Volume 10 Nomor 2, Desember 2010, hal 313

24 Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), hal. 105

menghasilkan suatu barang atau jasa dan pemberi kerja wajib memberikan upahnya.

Allah SWT telah menghalakan imbalan terhadap sesuatu yang dikerjakan telah dilakukan pekerja, dan penguasaan kepada gaji merupaskan salah satu tindakan yang tidak baik. Dan Nabi pun berkata barang siapa yang akan memperkerjakan seseorang harus memberitahukan upahnya. Upah yang diterima kepada pekerja harus sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dan manfaat yang diberikan kepada keduanya terikat dengan suatu perjanjan. Jika perjanjian kerja sudah habis maka akan dibentuk kontrak kerja baru dengan kesepakatan yang baru sesuai dengan kondisi pada saat itu. Sesuai dengan ketentukan yang telah dibuat sehingga keadilan dalam penetapan tingkat upah dapat dilakukan dengan sangat jelas.23

2. Rukun dan Syarat Upah a. Rukun Ujrah

Adapun ukun dari ujrah sebagai berikut:24

1). Sigat Ujrah

25 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta Raja Grafindo Persada ,2014), hal. 117

26 Pendapat Ulama Yang Berlandaskan AL-Qur’an Surat AL-Baqarah : 233

Ijab dan kabul merupakan pernyataan dari dua orang yang berakat Adapun dua orang tersebut yang berakad yaitu pekerja atau pemberi pemberi kerja.

2). Benda akad Ujrah

3. Syarat Ijarah25

a) Baligh dan Berakal

b) Diketahui oleh setiap pihak yang berakad.

c) Ada manfaat dari barang atau benda yang disewakan

3. Dasar Hukum Upah

Ulama berpendapat bahwa ijarah atau ujrah dibolehkan dalam islam. Ulama memperbolehkan Ujrah berdasarkan legitimasi dari Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 233.26

÷bÎ)ur öN‘?‘ u‘r& br& (#þqãèÅÊ÷tIó¡n@ ö/ä.y‘ »s9÷rr&

‘ xsù yy$uZã_ ö/ä3ø‘ n=tæ #s‘ Î) NçFôJ¯=y‘ !$¨B Läê ø‘ s?#uä Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 3 (#qà)¨?$#ur ©!$# (#

Artinya: Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.

Bertakwalah kamu.

4. Berakhirnya Akad Upah

a. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa ujrah berakhir apabila salah seorang yg melakukan akad meningal dunia. Yang dapat diambil dari ujrah hanyalah hak manfaatnya saja , mala tidak bisa diwariskan sebabwarisan berlaku untuk benda yang dimiliki.

Menurut pendapat jumhur ulama ujrah tidak fasakh karena meninggalnya salah satu pihak yang berakad. Akad ujrah memiliki sifat akad lazim (mengikat kedua belah pihak).

b. Setiap diijarahkan tidak hidup seperti hewan, dan rumah yang hancur.

c. Apabila Faedah tersebut diambil bisa tersiapkan tanpa ada halangan.

d. Berakhir akad (menarik kembali)

5. Sistem Penetapan Upah Dalam Islam

Sistem penetapan upah merupakan cara perusahaan biasanya memberikan upah kepada pekerjanya. Sebagaimanaterdapat dalam peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan tentang hubungan kerja yang dapat dilakukan berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu.

27 Luman Hakim, Prinsif-Prinsif Ekonomi Islam, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2012), hal.202

Penentuan upah pekerja dapat didasarkan kepada jenis pekerjaan sebagaimana terdapat dalam asas pemberian upah dalam surat Al-Ahqaf ayat19.27

9e@à6Ï9ur ×M»y_u‘y‘ $­IÊeE (#qè=ÏHxå ( öNåkuÏjùuq㑠Ï9ur öNßg n=»uHùår& öNèdur ‘ w tbqçHs>ôà㑠ÇÊÒÈ

Artinya: Dan setiap orang yang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah di kerjakannya, dan supaya Allah mencukupkan imbalan perbuatan bagimereka, dan mereka tidak dirugikan.

Upah yang adil dalam masyarakat islam akan ditetapkan melalui pertimbangan antar pekerja, majikan dan negara. Pengambilan keputusan tentang upah merupakan kepentingan bagi pencari nafkah dan majikan yang akan dipertimbangkan secara adil. Supaya keputusan ini benar-benar adil dalam artian terdapat keseimbangan antara tingkat upah yang ditetapkan antar pekerja tidak terlalu rendah sehingga mencukupi biaya kebutuhan pokok dan juga tidak terlalu tinggi sehingga majikan tidak kehilangan bagian yang sesunguhnya dari hasil kerjasama itu maka negara perlu menetapakan suatu tingkat upah yang cukup terlebih dahulu tingkat upah minimumnya dengan mempertimbangkan perubahan kebutuhan pekerja golongan bawah dan dalam keadaan apapun tingkat upah ini tidak akan jatuh.

Apabila pekerja berada pada posisi yang sangat rendah kemungkinan besar kepentingan tidak terlindungi dan tidak terjaga dengan sebaik baiknya

maka perlu dibentuk suatu badan serikat pekerja yang bertugas mengatur kepentingan para pekerja. Islam memberikan perhatian yang besar untuk melindungi hak-haknya dari pelanggaran yang dilakukan oleh majikan. Dan menjadi kewajiban untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok para pekerja termasuk makanan, pakaian, dan tempat tinggal sehingga pekerja mendapatkan kehidupan yang layak.

Islam memiliki tanggung jawab dalam pemerataan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya agar tetap terjaga kelangsungan hidupnya.

Menetapakan upah minimum pada tingkat tertentu diharapkan dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan pekerja untuk memperoleh kehidupan yang layak. Jika kebutuahan pokok terpenuhi dengan upah normal maka akan sangat mempengaruhi efisiensi kerja sehingga dapat meningkatkan keuntungan yang akan didapatkannya. Sebaliknya ketidakpuasan akan menyebabkan mogoknya para pekerja yang menyebabkan terjadinya masalah antar kelompok yang dapat menimbulkan kehancuran dalam ekonomi dan masyarakat.

Penetapan tingkat upah secra keseluruahan dalam islam sebenarnya menjunjung nilai-nilai keadilan. Penetapan upah secara adil dapat ditentukan oleh faktor obyektif dan faktor subyektif. Pada kondisi pasar persaingan sempurna terjadi pada tingkat upah pasar yang sifatnya objektif, sedangkan nilai-nilai kemanusian sifatnya subyektif yang menjunjung tinggi nilai-nilai

28 Sadeq, Tingkat Upah Yang Islami, (2008, p. 278-280)

29 Sri Dewi Yusuf, AL-Ulum: Konsep Penentuan Upah Dalam Ekonomi Islam, Volume 10 Nomor 2, Desember 2010, hal 313

kemanusian berdasarkan prinsif kerjasama dan saling membantu atau tolong menolong. Faktor subyektif dalam penetapan upah islami berada pada kisaran (range) tentu tidak pada salah satu titik yaitu (market wage), luas dan sempitnya jarak itu tergantung pada pemikiran-pemikiran kemanusian. Dalam islam tingkat upah yang islami berada pada kisaran tingkat upah yang setara dengan nilai kontribusi tenaga kerja rata-rata (value of avarage contribution of labor/ VALC) dengan nilai kontribusi tenaga kerja tenaga kerja marjinal.28

Penetapan upah yang adil berada pada batas nilai kontribusi tenaga kerja dan pada kisaran antara tingkatupah yang setara dengan nilai kontribusitenaga kerja. Dimana tingkat upah pada pasar didasarkan pada kekuatan permintaan dan penawaran tenaga kerja dengan asumsi pada situasi mekanisme pasar yang bersaing sempurna dan tidak terdistorsi dalam perekonomian.29

Dalam Islam sistem penentuan upah adalah sebagai berikut:

1. Pekerja diberitahu tentang upahnya sebelum melakukan pekerjannya

Adapun contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW yang harus dijalankan kaum muslimimin sesudahnya, yaitu

30 Muhammamad Sharif Chaundry, Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2012), hal. 197

penetapan upah bagi pekerja sebelum pekerjaan tersebut dilakukan.

2. Memberikan upah pekerja sebelum kerin gatnya kering

Telah dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada setiap majikan untuk memberikan upah kepada pekerjanya setelah pekerja tersebut selesai melaksanakan pekerjaannya.

Ketetapan dibuat untuk menghilangkan keraguan para pekerja bahwa upahnya akan diberikan atau dapat mengalami keterlambatan dengan adanya adanya alasan benar. Tetapi Islam memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk menetapkan waktu pemberian upah (ujrah) sesuai dengan perjanjian antara pekerja dengan yang orang yang memberikan pekerjaan.

Permasalahan upah ini merupakan hal yang sangat penting sebab upah dapat mempengaruhi masyarakat secara menyeluruh. Bila pekerja tidak memperoleh upah yang memungkinkan hal ini tidak hanya akan mempengaruhi kebutuhannya saja melainkan juga daya belinya. Bila sebagian besar pekerja tidak memiliki daya beli yang cukup maka akan mempengaruhi seluruh industri yang memasok barang-barang konsumsi bagi golongan pekerja.30

6. Konsep Upah Yang Adil dalam Islam

Konsep upah (ujrah) yang adil adalah tingkat upah yang harus diberikan kepada para pekerja hingga pekerja dapat hidup yang memadai ditengah masyarakat. Ibnu Taimiyah mengemukakan pendapatnya yang merujuk pada tingkat harga yang berlaku dipasar tenaga kerja (tas’ir fil a’mal) dan mengunakan kata upah (ujrah) yang seimbang (ujrah al-mitsl).

Harga merupakan prinsif dasar yang menjadi objek penelitian dalam menentukan tingkat upah yang berkaitan dengan tentang pengertian kualitas dan kuantitas.

Menetapkan upah pekerja yang adil sesuai dengan prinsif Islam tidaklah hal yang mudah terutama bagi pekerja di perusahaan yang upahnya masih minim untuk memenuhi kebutuhannya. Permasalahan penentuan upah ini sudah pernah terjadi dalam menetapan upah Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Umar bin Khattab bersama sahabatnya menetapkan gaji Abu Bakar dengan ukuran yang mencukupi kebutuhan seorang muslim yang golongan menengah.

Penentuamn upah masih ragu-ragu hingga Abu Bakar meminta standar penghasilan pedagang sebesar 12 dirham dalam setiap harinya.

Ukuran upah Abu Bakar ini merupakan pekerja yang memungkinkan seseorang mendapatkan penghasilan. Secara umum penghasilan seseorang

dalam masyarakat bekerja dapat menjadi ukuran pengupahan secara wajar.

Standar upah yang adil baik dalam pandangan Islam maupun penentuan upah minimum dari pemerintah tentang standar upah pekerja.

Gaji adalah hak yang mendasar bagi pekerja , upah penting ditetapkan secara adil dan tidak dilakukan sewenang-wenangnya. Keadilan dalam Islam tidak membenarkan bila seseorang pekerja yang telah bekerja keras tidak mendapatkan upah dari jeri payahnya itu atau mengalami keterlambatan pemberiannya. Ukuran upah yang adil adalah yang sebanding dengan bidang kerja tergantung kualitas pekerja yang terdiri dari aspek fisikal, kemahiran latihan dan mentalnya dan kebebasan melebihi kadar kepentingan menampung perbelanjaan diri dan keluarganya.

Kewajiban bagi majikan adalah harus segera memberikan gaji kepada pekerjanya setelah pekerjannya selesai dilakukan akan tetapi Islam melarang anggapan keadilan dalam rangka pemberian upah adalah memperoleh imbalan yang sebanding antara yang satu dengan yang lainnya. Pekerja bukan hanya semata-mata untuk memperoleh imbalan yang bersifat materi saja. Tetapi juga untuk mengharapkan pahala yang dikatakan oleh Sayyid Qutub sebagai berikut: Keadilan yang secara menyeluruh pasti memerlukan perbedaan imbalan ada kelebihan sebagian yang lainnya, selain keadilan dari segi kemanusian berupa pemberian

kesempatan yang simbang dan meluas kepada masyarakat, Islam melanggar menjadikan benda sebagai imbalan bagi nilai-nilai itu (bekerja) dan tidak mau merubah kehidupan menjadi sekedar dinilai dengan kepuasan jasmani atau sejumlah uang.

Sebenarnya upah yang adil adalah upah yang merujuk pada jasa dari pekerja yang dipengaruhi oleh beberapa hal misalnya jumlah yang diterima dan daya beli uang. Hal ini sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari pekerja juga pada kenyataanya dalam p masyarakat Islam. Gaji tidak hanya merupakan imbalan tapi juga me rupakan hak asasi manusia yang dalam penentuannya terdapat asas keadilan, asas kelayakan dan asas kebijakan.

Ketika keduabelah pihak dalam melakukan perjanjian diberikan peringatan untuk jujur dan adil dalam segala urusan pekerjaan sehingga tidak terjadi tindakan yang merugikan kepentingan pengusaha dan pekerja . Pekerja meerasa teraniaya apabila upahnya tidak dibayar secara adil dan bagian yang sah dari hasil kerjasamanya yang merupakan dari hasil kerjanya.

Mempertahankan upah pada suatu standar yang wajar, Islam memberikaan wewenang seutuhnya dalam pergerakan tenaga kerja sesuai dengan kesepakatan (akad). Adapun cara kedua yang dibolehkan oleh

Islam dalam menetapkan standar upah diseluruh negeri dengan benar-benar memberi kebebasan dalam bekerja.

D. Upah Dalam Konsep Ekonomi Islam

Ekonomi islam merupakan ilmu yang mempelajari masalah ekonomi masyarakat dalam pandangan nilai-nilai Islami untuk membantu mewujudkan kesejahtraan manusia melalui distribusi sumber daya yang langka yang sejalan dengan ajaran Islam untuk mencapai kesejahteraan pekerja.

Di dalam Islam upah ditentukan berdasarkan jenis pekerjaan hal tersebut sesuai dengan pemikiran ibnu khaldun yang telah memberi isyarat bahwa pembagian pekerjaan menguatkan kembali tenggang rasa sosial.

Allah SWT telah menciptakan seluruh yang ada di muka bumi ini untuk manusia dan manusia mempuyai bagian dari segala sesuatu yang ada di dimuka bumi.

E. Pengertian Kesejahteraan Dalam Islam

Pengertian kesejahteraan universal yakni kedamain secara material maupun secara spritual. Kedamain dalam Ekonomi Islam merangkup nilai moral, spritual, dan kebersamaan. Kemakmuran didasarkan Islam memilik pengertian yang lebih mendalam.

31 Men urut, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Isalam: Indikator Kesejahteraan Islami, (Jakarta: 2008), hal. 4

Dalam buku P3EI (2008:4) kemakmuran menurut Islam memiliki definis sebagai berikut:31

1) Kesejahteraan holistik dan seimbang, yaitu kelengkapan benda yang didorong dengan terlengkapinya keperluan spritual dan merangkup pribadi juga sesama. Oleh karena itu kebahagian harus bersifat universal dan seimbang .

2) Kesejahteraan dunia dan akhirat (falah) karena manusia tidak mungkin hidup di alam dunia saja melainkan juga di alam setelah kematian (akhirat). Kecukupan materi didunia ditunjukkan dalam rangka untuk menmdapatkan kecukupan di akhirat. Apabila kondisi ideal ini tidak tercapai maka kesejahteraan di akhirat lebih dipentingkan sebab ini merupakan hal yang abadi dan lebih bernilai dibandingkan kehidupan dunia.

Menurut beberapa ahli pada buku P3EI (2008: 1-13). “indikator kesejahteraan Islami adalah terpenuhinya kebutuhan fisik dan risqi yang halal, hidup sehat secara jasmani dan rohani, keberkahan rezeqi yang diterima, keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, rasa cinta kasih sesama, ridha dan qana’ah dengan apa yang diberikan Allah kepadanya serta merasa bahagia”.

32 Ziauddin Sardar, Ekonomi Syariah Teori dann Terapan: Kesejahteraan Dalam Perspektif Islam Pada Karyawan Bank Syaraih, Volume 3 No 5 Mei 2016, hal 5-6

33 Ryandono, tentang An-nafs (kebutuhan memelihara jiwa) 2010:30

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan dalam islam tidak hanya diukur dari terlengkapinya kebutuhan material saja.

Namun terpenuhinya juga keperlua spritual.32

1) memelihara agama (Ad-dien)

Ryandono (2010:30) mengemukakan pendapanya bahwa memelihara agama dapat diukur dari penerapan rukun islam (syahadat, shalat, puasa, zakat,dan haji). Kemudian juga dapat dilihat dari terwujudnya rukun iman.

2) Memelihara jiwa ( An-nafs)

Ryandono (2010:30) mengemukakan pendapatnya mengenai perwujutan pemeliharaan jiwa yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, tempat tinggal, kesehatan serta yang lainnya.33

3) memelihara akal (Al-aql)

Menurut Al-syatibhi dalam Bakri (1997) memelihara akal dapatdibagi menjadi tiga peringkat. Dalam peringkat dharuriyah misalnya diharamkannya minum-minuman keras. Pada peringkat hajjiyah seperti dianjurkannya menuntut ilmu pengetahuan.Pada tingkat tahsiniyyah

34 Al-syatibhi, tentang Al-aql (kebutuhan memelihara akal), 1997

35 Ryandono, tentang menjaga harta(Al-maal), 2010

36 Irfan Syauqi, dkk, Ekonomi Pembangunan Syariah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2017), hal. 30

misalnya menghindarkan diri dalam mendengarkan sesuatu yang tidak berguna.34

4) memelihara keturunan (An-nasl)

setiap muslim tidak perlu ragu bila belum sanggup dalam hal ekonomi untuk menikah karena Allah SWT akan memberikan rezeki serta karunianya kepada hambanya.

5) memelihara harta (Al-maal)

Menurut Ryandono (2010:30) adapun solusi dalam memelihara harta adalah dengan cara mencari pendapatan yang layak dan adilserta memiliki kesempatan berusaha, untuk mendapatkan rejeki yang halal dan baik, serta dengan cara yang adil.35

Tujuan utama kesejahteraan adalah pembagunan diraih apabila aspek ekonomi dan tata perekonomian yang baik dapat diciptakan secara nyata.

Karena itu, membangun kedaulatan ekonomi dan tata kelola perekonomian yang baik, merupakan persyaratan utama bagi tercapainya kondisi kesejahteraan bersama.36

Kesejahteraan Islam untukbertujuan mewujudkan kesejahteraan manusia secara keseluruhan, seperti kesejahteraan material, spritual dan

37 Dominick Salvatone, Teori Mikro Ekonomi, (Jakarta: Erlangga,2009), hal. 56

38 Almizan, Distribusi Pendapatan:Kesejahteraan M enurut Konsep Ekonomi Islam, Volume 1 No 1, Januari- Juni 2016, hal 74

moral .Pengertian ekonomi kesejahteraan islam tidak saja berdasarkan manfestasi nilai ekonomi melainkan juga nilai moral dan spritual ,nilai sosial dan nilai politik islam.37

Kesejahteraan merupakan tujuan dari ajaran islam dalam bidang ekonomi. Kesejahteraan adalah bagian dari rahmatan lil alamin yang diajarkan oleh agama islami. Tetapi kesejahteraan yang dimaksud dalam al-qur’an tidaklah tanpa syarat untuk memperolehnya. Kesejahteraan akan ada pada setiap apabila melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT.38

Wakar Ahmad Husein, sebagai kesejahteraan Islam, sebagai kesejahteraan ekonomi dalam islam merupakan tujuan dan obyek-obyek ekonomi prinsip-prinsip, dan karaklter bagi kesejahteraan ekonomi pribadi maupun masarakat.

Konsep penting tentang mentalitas kultural Islam integral sebagaimana dikutip oleh Waqar Ahmad Husein mengatakan kesejahteraan ekonomi tidak merupakan ukuran melainkan merupakan alat terpenting yang digunakan dalam mencapai kesejahteraan total.

Fungi kesejahteraan ekonomi islam dari prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan dasar ekonomi, serta sebagai kriteria dari pengeluaran sosial. Prinsip-prinsip tentang fungsi kesejahteraan ekonomi Islam secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

a) Alam semesta dalah milik Allah SWT dan seluruh aktivitas ekonomi islam didasarkan pada prinsip persaudaraan dan persamaan serta perwakilan ekonomi.

b) Setiap Ekonomi Islam dilandasi pada kesadaran dan saling membantu.

c) Menciptakan perbedaan dalam tujuan, keberanian, perbedaan-perbedaan ini merupakan dasar kehidupan ekonomi sehingga manusia bergantung pada yang lainya untuk dapat memuaskan kebutuhan ekonominya.

d) Landasan Hukum Kesejahteraan Dalam Islam Al-qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11:

3 cÎ) ©!$# ‘ w çÉitó㑠$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçÉi tó㑠$tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 !#s‘ Î)ur y‘ #u‘r& ª!$# 5Qö qs)Î/ #[äþqߑ ‘ xsù ¨‘ ttB ¼çms9 4

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.(QS.Ar-Ra’ad:11)

Ayat diatas menjelaskanbahwa Allah tidak akan mengganti apapun yang ada pada setiap kaum baik nikmat dan kesehatan, kenyamanan, dan

39 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, (Jakarta: Gema Insani, 2013),hal.196

40 Ikhwan Abidin Basri, Islam dan Pengembangan Ekonomi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), hal. 24

keselamatan dengan mengalihkanya dari mereka kecuali dengan adanya perubahan yang mereka lakukan sendiri yaitu lantaran mereka melakukan kezaliman, kedurhakaan, kerusakan, dan tindak kejahatan dan dosa.39

Kesejahteraan adalah sebuah keadaan dimana seorang bisa memenuhi kebutuhan pokoknya baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memmiliki pekerjaan yang memungkinkan yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga memiliki status sosial yang mengantarkan pada status sosial yang sama terhadap sesama yang lainnya.40

Secara umum setiap tujuan pembangunan di Indonesia adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Selain program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan Islam juga membahas bagaimana kesejahteraan yang sesungguhnya.

Al-quran’an surah At-Thaha :118-119:

¨bÎ) y7s9 wr& tíqègrB $pkÏù ‘ wur 3‘ t÷ès? ÇÊÊÑÈ

y7¯Rr&ur ‘ w (#àsyJôàs? $pkÏù ‘ wur 4ÓysôÒs? Ç

ÊÊÒÈ

41 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Wasith, (Jakarta: Gema Insani, 2013), hal.556

Artinya: Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak pula akan tidak ditimpa panas matahari di dalamnya(QS.At-Thaha:118-119).

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa hakekat memberikan kemakmuran kepada umatnya dalam kehidupannya yang tidak terhingga berapa banyuak rahmat yang diberikan oleh Allah SWTnamun situasi lain kemakmuranu hanya mementingkan dunia saja tapi yang kekal adalah kemakmuran akhirat.41

38

42 Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan RAD), (Bandung, Alfabeta, 2014), hal, 14

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini ialah penelitian lapangan atau dengan mengunakan metode kualitatif. Pada metode ini didasarkan pada filsafat postpositisme yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti

Penelitian ini ialah penelitian lapangan atau dengan mengunakan metode kualitatif. Pada metode ini didasarkan pada filsafat postpositisme yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti

Dokumen terkait