BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
B. Masyarakat
B.2. Faktor-faktor yang Mendorong Manusia untuk
II.B.4. Terjadinya Lapisan-lapisan dalam Masyarakat II.C. Pelayanan
II.C.3.Pelayanan Prima
II.C.4. Manajemen Kualitas Pelayanan II.D. Aparatur Pemerintahan
II.D.1. Sistem Kepemerintahan yang Baik (Good Governance) II.D.2. Pemerintahan Daerah dan Desa
II.D.3. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah II.D.4. Pendayagunaan Kelembagaan
III. Konsep Pemikiran
IV. Defenisi Konsep dan Defenisi Operasional IV.A. Defenisi Konsep
IV.B. Defenisi Operasional
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN III.A. Jenis Penelitian
III.B. Lokasi Penelitian III.C. Populasi dan Sampel III.C.1. Populasi
III.C.2. Sampel
III.D.1. Teknik Pengumpulan Data III.D.2. Teknik Analisa Data
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.A. Hasil Penelitian
IV.A.1. Proses Pelaksanaan Penelitian di Lapangan IV.A.2. Lokasi Penelitian
IV.A.5. Kependudukan IV.A.6. Visi dan Misi IV.A.7. Target
IV.A.8. Susunan Organisasi Kecamatan IV.A.9. Program Kegiatan Kecamatan IV.A.10. Potensi Kecamatan
IV.B. Penyajian Data
IV.B.1. Deskripsi Hasil Penelitian
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ABSTRAK Nama : Rosi Hendri Yanti
NIM : 040902017
Judul Skripsi : Persepsi Masyarakat terhadap Pelayanan Aparatur Pemerintahan di Kecamatan Medan Johor.
Dalam skripsi ini obyek yang diteliti khususnya persepsi (tanggapan) dan kinerja aparatur pemerintah di Kecamatan Medan Johor, dan fokus utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah “ Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Aparatur Pemerintah Di Kecamatan Medan Johor”. Tipe penelitian yang digunakan adalah jenis metode deskriptif, responden berjumlah 60 orang yang diambil menggunakan sampel aksidental yaitu peneliti mengambil sampel secara kebetulan apabila sampel tersebut dipandang layak untuk dijadikan sebagai sampel.
Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan penulis menggunakan teknik pengumpulan data baik studi kepustakaan dan studi lapangan yang dapat mendukung proses penulisan skripsi ini.
Selanjutnya dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai tanggapan masyarakat terhadap Kantor Camat Medan Johor, bagaimana pelayanan bagi masyarakat dalam memberikan layanan terhadap masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Serta bagaimana fungsi sebenarnya tugas pokok aparatur pemerintah, dimana tugas utamanya adalah membantu kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan terhadap masyarakat dalam wilayah kecamatan.
Dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kecamatan yang diatur sesuai dengan surat keputusan Walikota No. 63 Tahun 2001 tanggal 14 November 2001 tentang tugas-tugas pokok dan fungsi kecamatan di lingkungan pemerintah kota Medan, pada pasal 3 disebutkan tugas dalam penyelenggaraan pemerintah pembangunan dan pembinaan kehidupan kemasyarakatan dalam wilayah kecamatan.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam pasal 126 UU No. 32 tahun 2004 ditetapkan: kecamatan dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan peraturan daerah (perda) berpedoman pada peraturan pemerintah. Dalam keputusan menteri dalam negeri nomor 4 tahun 200 diatur pedoman pembentukan kecamatan. Kecamatan adalah wilayah kerja camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh perilmpahan sebahagian kewenangan Bupati/Walikota untuk menangani sebahagian urusan otonomi daerah.
Inti dari konsep pelaksanaan otonomi daerah adalah upaya memaksimalkan otonomi daerah. Dengan demikian tuntutan masyarakat dapat diwujudkan secara nyata dengan penerapan otonomi daerah luas dan kelangsungan pelayanan umum tidak diabaikan serta memelihara keseimbangan fiskal secara nasional.
Tuntutan peningkatan sumber daya aparatur yang berkualitas semakin dirasakan, mengingat kota Medan merupakan pintu gerbang perdagangan dan jasa yang berimplikasi kepada peningkatan pelayanan publik. Demikian pula pelayanan kepada masyarakat yang harus ditingkatkan adalah merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu bidang pelayanan masyarakat itu adalah bidang pelayanan pemerintahan yang merupakan tugas pemerintah kota Medan untuk menyelenggarakannya. Namun, saat ini kualitasnya masih banyak dikeluhkan oleh masyarakat.
Untuk melekukan perbaikan dan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pemerintahan yang sangat terkait dengan sebagian besar masyarakat kota Medan, maka diperkenalkan kepada masyarakat suatu bentuk program pelayanan publik di bidang pemerintahan, yakni pelayanan prima. Pelaksanaan pelayanan prima ini sebagian diserahkan wewenangnya kepada kecamatan dan kelurahan sebagian lagi kepada dinas-dinas di dalam unit kerja Pemko Medan. Di kecamatan program pelayanan yang sudah dikenal oleh masyarakat yaitu: program pelayanan kartu keluarga/kartu tanda pengenal gratis, pelayanan PBB, pelayanan pencatatan akte tanah, pelayanan ganti rugi tanah dan pelayanan kebersihan sampah. Pengutipan PBB saat ini merupakan pajak pusat namun pengutipannya kecamatan mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakannya.
Pelayanan pencatatan akte tanah sekarang ini dapat dilakukan aparat pemerintah selama ini menjadi tantangan yang sangat krusial untuk segera mungkin dilakukan perubahan.
Dalam pelaksananan pelayanan ini maka seluruh aparatur pemerintah kecamatan diberi dukungan spirit dan motivasi agar rencana sungguh-sungguh melaksanakan pelayanan sebaik dan semudah mungkin kepada masyarakat tanpa diskriminasi. Meskipun dalam pelaksanaannya masih dirasakan adanya kendala dalam upaya peningkatan pelayanan separti, adanya pelayanan KK/KTP yang menggunakan jasa pihak ketiga sehingga seringkali menimbulkan asumsi sebagai kegiatan pelayanan yang dikenekan pungutan biaya dan kurangnya kesadaran masyarakat yang lebih tinggi untuk melaporkan pendataan dan pencatatan penduduk terutama melaporkan KTP yang telah habis waktu. Disamping itu masih terbatasnya mutu SDM dalam memberikan pelayanan
Pada dasarnya pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar menghasilkan pelayanan yang lebih cepat, tepat, manusiawi, tidak diskriminatif, dan transparan selain itu pemerintah juga menyusun rancangan undang-undang tentang pelayanan publik yang isinya memuat standar pelayanan minimum. Namun upaya-upaya yang telah ditempuh nampak kurang optimal,salah satu indikator yang dapat dilihat dari fenomena ini adalah pada fungsi pelayanan publik yang banyak dikenal dengan sifat birokratis dan banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat karena masih belum memperhatikan masyarakat penggunanya, kemudian pengelila pelayanan publik cenderung lebih bersifat direktif yang hanya memperhatikan/mengutamakan kepentingan kepemimipinan/organisasi saja.
Fenomena yang terjadi di kecamatan Medan Johor ditandai banyaknya problem yang dihadapi masyarakat bila berurusan dengan birokrat dalam pengurusan segala bentuk syarat-syarat yang menyangkut dengan kependudukan seperti: kartu keluarga, KTP, surat pindah, surat miskin, kartu berobat gratis dan tidak adanya fasilitas kotak pengaduan atau kritikan di kantor-kantor kelurahan atau kecamatan serta rahasia umum dimata masyarakat terhadap rendahnya kualitas pelayanan publik dikarenakan pegawai yang sangat sedikit, kualitas kantor yang masih dibawah standar dan lain sebagainya.
Dari penjelasan di atas maka perlu untuk melakukan suatu kajian penelitian tentang “Persepsi Masyarakat terhadap Pelayanan Aparatur Pemerintahan di Kecamatan Medan Johor”.
B. Perumusan Masalah
Masalah merupakan bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian (Arikunto 1992: 47) rumusannya harus jelas dan tegas sehingga keseluruhan proses penelitian dapat
benar-benar terarah dan terfokus kealamat yang tepat (Senapian 1992: 99). Untuk memberikan arah yang lebih jelas pada pelaksanaan penelitian ini, dapatlah dirumuskan permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut:
“Bagaimana Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Aparatur Pemerintah Di Kecamatan Medan Johor”.
C. Tujuan Penelitian
Agar suatu penelitian dapat berhasil guna, atau untuk mencapai sasaran tentu harus dahulu dirumuskan tujuan yang harus dicapai. Berdasarkan ruang lingkup dan perumusan masalah maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pelayanan aparatur pemerintahan di kecamatan Medan Johor.
2. Untuk memperoleh gambaran tentang sistematika aparat pemerintahan di kecamatan Medan Johor.
3. Untuk mengetahui tentang masyarakat
4. Untuk mengetahui tentang sistem pemerintahan yang baik. 5. Untuk mengetahui hubungan pemerintah pusat, daerah dan desa.
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian penulis mengharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Sebagai bahan masukan dan sumber informasi bagi pemerintah untuk mengambil
kebijakan sistem kepemerintahan yang baik (good governance) dalam pelayanan terhadap masyarakat di kecamatan Medan Johor
2. Untuk meningkatkan pengetahuan dan menerapkan ilmu yang penulis peroleh selama mengikuti perkuliahan serta menuangkannya dalam bentuk karya ilmiah. 3. Sebagai bahan masukan bagi penulis dalam menambah perbendaharaan ilmu
tantang pemerintahan, khususnya masalah aparatur pemerintahan.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri atas: BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang masalah,perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisikan menguraiakan secara teoritis variabel-variabel yang diteliti, kerangka pemikiran, defnisi konsep dan defenisi operasional.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data.
BAB IV :ANALISA DATA
Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil penelitian dan pembahasannya.
BAB V : PENUTUP
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PERSEPSI
A.1. Pengertian Persepsi
Persepsi pada dasarnya merupakan suatu proses pemahaman terhadap apa yang terjadi di lingkungan orang yang sedang berpersepsi dan hubungan antara lingkungan dengan manusia dan tingkah lakunya adalah hubungan timbal balik saling terkait dan mempengaruhi seperti yang dikemukakan oleh Sarlito Wirawan “Bahwa persepsi merupakan hasil hubungan antara manusia dengan lingkungan dan kemudian diproses dalam kesadaran (kognisi) yang mempengaruhi memori ingatan tentang pengalaman yang diinderakan akan mempengaruhi” (Wirawan 1992:37).
Persepsi merupakan hal yang penting dan dialami oleh setiap orang, setiap orang akan menerima segala sesuatu informasi ataupun segala rangsangan yang datang dari luar kemudian informasi yang diterima tersebut diolah dan diproses.
Menurut Indra wijaya:
“Bagaimana tafsiran dan pemikiran seseorang terhadap semua rangsangan yang diproseskan itu akan tampak pengaruhnya dalam prilaku atau dalam sikap yang berkaitan dengan hal-hal yamg dipersepsikan.“ (Indra wijaya,1989:45)
Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan proses pengetahuan atau mengenali objek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera. (Chaplin,1989:358)
Dengan perkataan lain lingkungan sangat aktif berinteraksi dengan manusia yang melalui inderanya menangkap rangsangan sampai akhirnya timbul makna yang spontan yang akan ditampilkan dalam prilaku, dengan demikian prilaku individu tidak terlepas dari persepsinya. Persepsi seseorang terhadap suatu objek akan dipengaruhi sejauh mana pemahamannya terhadap objek persepsi yang belum jelas atau belum dikenal sama sekali tidak akan mungkin memberikan makna.agar lebih jelas di bawah ini terdapat beberapa pengertian mengenai persepsi yang dikemukakan beberapa ahli sarjana seperti:
1. Le bouef (1992:48) yang mengatakan bahwa persepsi adalah pemahaman kita terhadap apa yang kita alami, penafsiran kita terhadap apa yang kita lihar dan dengar yang dipengaruhi oleh kombinasi antara pengalaman masa lalu, keadaan, serta psikologi yang benar-benar sama bagi setiap orang, apa yang dipersepsikannya itulah kenyataan.
2. Kimbal Young, persepsi adalah sesuatu yang menunjukkan aktifitas marasakan, mengintisifikasikan dan memahami objek baik fisik maupun sosial (Walgito: 1986: 89) defenisi ini menekankan bahwa persepsi akan timbul setelah seseorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek yang dirasakan tersebut.
3. Sarlito Wirawan (1995:37) menyatakan bahwa proses persepsi merupakan hasil hubungan antara merasa dengan lingkungan dan kemudian diproses dalam alam kesadaran (kognisi) yang dipengaruhi memori tantang pengalaman masa lampau, minat, sikap dan intelegensi dimana hasil penalaran terhadap apa yang diinderakan akan mempengaruhi tingkah laku.
4. William James (Isbandi,1994:105) menyatakan bahwa persepsi terbentuk atas dasar data-data yang diperoleh di lingkungan yang diserap oleh panca indera serta sebagian lainnya diperoleh dari ingatan (memori) kita dan diolah kembali berdasarkan pengalaman yang kita peroleh.
Persepsi akan timbul setelah seseorang atau sekelompok manusia terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu objek dan setelah dirasakan akan menginterprestasikan objek yang dirasakan tersebut, seperti pendapat Kimball young (dalam Walgito.1996:89) “Persepsi merupakan suatu yang menunjukkan aktifitas merasakan, menginterprestasikan, memahami objek fisik maupun sosial.
Faktor yang terlibat dalam proses persepsi ada 3 macam yaitu: 1. Objek yang dipersepsikan.
2. Orang yang sedang dipersepsikan. 3. Kondisi saat berlangsung persepsi.
Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami setiap orang di dalam memahami tentang lingkungannya baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman sementara itu yang dimaksud proses kognitif adalah proses atau kegiatan mental yang disadari seperti berfikir, mengetahui, memahami dan kegiatan konsepsi mental berupa sikap, kepercayaan dan pengharapan yang kesemuanya merupakan faktor penentu atau yang mempengaruhi prilaku. Persepsi seseorang tidak timbul begitu saja, tentu ada faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor ini yang menyebabkan mengapa dua orang yang melihat sesuatu mungkin memberikan interprestasi yang berbeda tentang
yang dilihatnya itu secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat 3 faktor yang mempengaruhu persepsi seseorang.
Pertama : Diri orang yang bersangkutan sendiri, apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interprestasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh karakteristik individu yang turut mempengaruhi seperti sikap, motif, kepentingan, minat, pengalaman dan harapan.
Kedua : Sasaran persepsi tadi tersebut sasaran itu mungkin berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya. Dengan kata lain gerakan, suara, ukuran, tindak-tanduk dan ciri-ciri lain dari sasaran persepsi itu turut menentukan cara pandang orang melihatnya.
Ketiga : faktor situasi, persepsi harus dapat dilihat secara konsektual yang berarti dalam situasi mana persepsi itu timbul perlu pula mendapat perhatian. Situasi merupakan fakta yang turut berperan dalam pertumbuhan persepsi seseorang (Siagian, 1989: 101).
Sejalan dengan ini Kasali (1994:23) mengemukakan faktor-faktor yang juga menentukan persepsi yaitu:
a. Latar belakang budaya. b. Pengalaman masa lalu. c. Nilai-nilai yang dianut.
Menurut Rukminto, didalam membicarakan persepsi maka ada beberapa hal penting yaitu:
1. Impression Formation
Proses dimana informasi tentang orang lain diubah menjadi pengetahuan/pemikiran yang relatif menerap orang tersebut. Sedangkan impression formation ini terbentuk melalui:
a. Pengkatagorian (klasifikasi) berdasarkan teori kepribadian yang implisit (implicit personality theori)
b. Mempertimbangkan/kombinasi segi positif dan negatif c. praduga (Stereitp)
2. Attribution
Morgan, King, Weisz dan Schopler melihat bahwa attribution dan inferences terjadi karena manusia tidak mempunyai akses untuk mengetahui pikiran, motif ataupun perasaan seseorang. Dengan membuat atribusi berdasarkan prilaku tertentu apa yang dilakukan seseorang, kita dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menduga prilaku yang akan dilakukan oramg tertentu pada saat yang lain.
3. Sosial Relationship
Kehadiran orang lain mempengaruhi tingkah laku. Bentuk tingkah laku dapat terbentuk karena:
a. imitasi (peniruan)
c. kepatuhan (banyak diterapkan dalam militer dengan tingkat sanksinya berat)
4. Perhatian
Perhatian merupakan perumuasan atau konsentrasi dan seluruh aktivitas ditentukan kepada sesuatu atau sekelompok objek.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi:
Ada faktor dari luar dan dari dalam yang mempengaruhi persepsi diantaranya sebagai berikut (Wilson, 2000):
a.1. Faktor eksternal atau dari luar
concreteness, yaitu wujud atau gagasan yang abstrak yang sulit dipersepsikan dibandingkan dengan yang objektif.
Novelty atau hal yang baru, biasanya lebih menarik untuk dipersepsikan dibandingkan dengan hal-hal yang lama.
Velocity atau percepatan misalnya gerak yang cepat untuk menstimulasi munculnya persepsi lebih efektif dibandingkan dengan gerakan yang lambat.
Conalitioned stimuli, stimulus yang dikondisikan seperti bel pintu, deringan telepon dan lain-lain.
a.2. Faktor internal:
Motivation, misalnya merasa lelah menstimulasi untuk merespon terhadap istirahat.
Interest, hal-hal yang menarik lebih diperhatikan dari pada yang tidak menarik.
Need, kebutuhan akan hal tertentu akan menjadi pusat perhatian.
Assumption, juga mempengaruhi persepsi sesuai dengan pengalaman melihat,merasakan dan lain-lain.
A.2. Pembentukan Persepsi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Proses pembentukan persepsi dijelaskan oleh Fairi (dalam Yusuf, 1991: 108) sebagai pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan “interpretation”, begitu juga dengan “closure”. Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interprestasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh.
Menurut Asngari (1984: 12-13) pada fase interprestasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu memegang peranan penting. Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal (Rahmat 1998:55). Selanjutnya Rahmat menjelaskan yang menentukanm persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberi respon terhadap stimuli.
Persepsi meliputi juga (pengetahuan), yang mencakup penafsiran objek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan (Gibson, 1986:54). Selaras dengan pernyataan tersebut Krech, dkk (dalam Sri Tjahjorini Sugiharto 2001: 19) mengemukakan bahwa persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor utama, yakni pengalaman masa lalu dan faktor pribadi.
B. MASYARAKAT
B.1. Pengertian Masyarakat
Masyarakat adalah pergaulan hidup manusia, sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan antara aturan yang tertentu (WJS Poewodarminto), demikian pengertian masyarakat menurut arti kata.
Defenisi masyarakat yang lain dikemukakan oleh para sarjana seperti:
a. Linton (seorang ahli antropologi) mengemukakan, bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
b. M.J.Heskovits menulis, bahawa masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan yang mengikuti satu cara hidup tertentu.
c. J.L.Gilin j.p Gilin mengatakan, bahwa masyarakat itu adalah kelompok manusia yang terbesar mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi pengelompok-pengelompokan yang kecil.
d. S.R. Steinmetz memberikan batasan tentang masyarakat sebagai kelompok manusia yang terbesar yang meliputi pengelompok-pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai hubungan erat dan teratur.
e. Agak lebih terperinci adalah defenisi Mac Iver, yang berbunyi, bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari pada cara kerja dan prosedur, dari pada otoritas dan saling bantu-membantu yang meliputi kelompok-kelompok dan pembagian sosial lain, sistem dari pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan. Sistem yang kompleks yang selalu berubah atau jaringan-jaringan dari relasi sosial itulah yang dinamakan masyarakat.
f. Selo Soemardjan, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
g. Hassan Shadilly, masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia yang dengan atau karena dengan sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai kelompok-kelompok manusia yang lebih kecil yang mempunyai hubungan yang erat dan teratur.
h. Prof. M.M Djojodigoeno, SH: masyarakat mempunyai arti ialah arti sempit dan arti luas. Dalam arti luas masyarakat dimaksud keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama tidak dibatasi oleh lingkungan bangsa dan sebagainya atau dengan perkataan lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup masyarakat. Dalam arti sempit dibatasi oleh aspek-aspek tertentu misalnya territorial bangsa, golongan dan sebagainya, misalnya ada masyarakat jawa, masyarakat sunda, masyarakat minang, masyarakat batak, masyarakat melayu dan sebagainya. Dipakailah kata masyarakat dalam arti sempit.
Mengingat akan defenisi-defenisi masyarakat tersebut diatas berlainan satu sama lain akan tetap pada dasarnya isinya sama yaitu berobjek pada masyarakat yang mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
Harus ada kumpulan manusia minimal 2 orang manusia.
Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama dalam suatu daerah tertentu.
Adanya aturan-aturan yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dari tujuan bersama.
Kemudian Soejono Soekanto mengatakan bahwa masyarakat itu adalah mencakup beberapa unsur yaitu:
- Manusia yang hidup bersama. Di dalam ilmu sosial tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada, akan tetapi secara teoritis minimal ada dua orang yang hidup bersama.
- Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Manusia mempunyai keinginan-keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan dan perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu timbullah sistem komunikasi dan timbullah peraturan-peraturan yang mengatur antara manusia dalam kelompok tersebut.
- Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.
- Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama, oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat dengan yang lainnya.
Berdasarkan unsur-unsur yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto tentang masyarakat tersebut, kita dapat memberikan contoh misalnya: keluarga yaitu masyarakat yang terdiri suami istri, (dua orang) dimana mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama, ada sisitem integrasi yang mengatur hubungan mereka, ada pembagian tugas antara suami dan istri umpamanya suami mencari nafkah sedangkan istri mengurus rumah dan menyediakan makanan, biasanya disesuaikan dengan adapt istiadat setempat. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa masyarakat bukannya ada dengan hanya menjumlahkan adanya orang-orang saja, tetapi diantara mereka satu sama lain harus ada pertalian dan pertalian tersebut disadari dan diinsyafi oleh kedua pihak dan setiap individu mau tidak mau akan memperhatikan adanya orang lain dalam tiap tindakannya. Apabila cara memperhatikan itu telah menjadi tradisi/dapat/peraturan, maka setiap individu akan tetap memeliharanya walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya, tetapi ia selalu tidak berani melanggar aturan masyarakat ini berarti seolah-olah masyarakat itu senantiasa ada