• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Pergeseran

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 40-48)

4.4 Benda Dalam Prosesi Dutu Yang Sudah Bergeser Dan Bertambah

4.4.1 Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Pergeseran

Hasil pemnelitian menunjukan bahwa pelaksanaan pelaksanaan perkawinan secara adat di Desa Teratai Kecamatan Tabongo sudah sangat jarang di gunakan dan sudah tidak lengkap. Hal tersebut di sebabkan karena pengaruh dari dalam masyarakat yang bersangkutan maupun dari luar pendukung kebudayaan tersebut.

Faktor terjadinya pergeseran yaitu perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, dengan adanya perkembangan teknologi seperti yang sudah ada sekarang ini tentu membawa banyak perubahan yang begitu baik dan kurang baik terhadap kehidupan manusia. Perkembangan itu baik adanya jika sesuai dengan apa yang diharapkan. Apabila kita perhatikan dengan seksama dampak dari kemajuan sekarang ini.

Perkembangan teknologi saat ini juga membawah pengaruh kurang baik atau negatif dalam kehidupan manusia. Kehadiran teknologi yang begitu canggih membuat masyarakat umum begitu banyak pilihan untuk memilih apa yang di kehendakinya, juga merupakan salah satu faktor penyebab yang terjadinya pergeseran terhadap pelaksanaan adat perkawinan gorontaloyang ada di Desa Teratai Kecamatan Tabongo.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran yang akan saya rincikan, terjadinya pergeseran nilai adat perkawinan masyarakat teratai kecamatan tabongo sebagai berikut:

1. Faktor Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (Iptek)

Bagi masyarakat yang sudah mapan dalam perubahan pasti lebih banyak memerlukan individu-individu yang berpengetahuan dan berketerampilan teknis, terutama di persiapkan untuk mengatasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah-masalah baru sebagai akibat dari persoalan perubahan secara terus menerus. Mengenai hal ini, Syani mengasumsikan bahwa kebudayaan juga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan masyarakat. Perubahan masyarakat tidak semata disebapkan oleh faktor kebudayaan yang ada dalam tubuh masyarakat itu sendiri, melainkan dapat pula disebapkan oleh pengaruh kebudayaan yang datang dari masyarakat sekitar (luar)48.

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan unsur terpenting dalam membuka wawasan berpikir seseorang dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dilingkungan pendidikan dan bimbingan orang tua seseorang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus di tinggalkan dan mana yang harus di pertahankan secara berkelanjutan serta pada masyarakat.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini menuntut manusia untuk semakin meningkatkan kemampuan individualnya agar tidak kalah dalam persaingan. Zaman sekarang penguasa terhadap IPTEK di nilai sebagai hal yang mau tidak mau harus diprioritaskan oleh karena ketinggalan dari segi ini berarti ketinggalan juga dalam berbagai hal terutama informasi tentang

48

perkembangan dunia sebab kemajuan IPTEK melahirkan banyak hal baru yang sangat disayangkan jika di lewatkan.

Bertolak dari hal ini maka sebagian besar perhatian masyarakat dunia tertuju semakin majunya IPTEK yang melahirkan berbagai macam produk menggiurkan akibat dari hal tersebut, selanjutnya berdampak pada sikap ketergantungan terhadap produk-produk IPTEK sehingga kearifan budaya lokal yang selama ini dipertahankan lama kelamaaan akan mengalami pergeseran dari nilai-nilai yang sebenarnya serta terancam akan terkikis habis. Seperti dikatakan oleh seorang pemuda desa Aan Djafar mengemukakan pendapat :

“Dijaman skrang ini so tidak ada upacara adat soalnnya upacara adat so tidak zaman dengan yang skrang torang suka, pesta acara kaweng itu harus yang lebe gaul supaya depe suasanan indah deng rame kayak di gedung-gedung bagitu lebe moderen ksana itu”49.

(Dizaman yang sudah maju sekarang ini bukan zamannya lagi pakai upacara adat, karena upacara adat sudah tidak sesuai lagi dengan zaman dan sudah kuno di zaman moderen seperti sekarang ini. Yang kami inginkan pelaksanaan pesta pada acara perkawinan harus lebih keren dan lebih top lagi agar suasananya kelihatan ramai dan moderen).

Wawancara diataspun tidak disetujui oleh bapak anton zakaria dengan apa yang disampaiakan oleh Aan Djafar selaku pemuda desa sebagai berikut:

“Baru bagimana lagi torang ini bahadapi anak mudah skrang ini, sudah diatur, torang kan tidak hidup di zaman dulu (nenek moyang) tapi zaman skrang sudah berubah to? Biar so berubah torang harus tetap gunakan adat perkawinan itu mau tidak mau harus mau karena adar yang torang pelihara skrang ini dorang anggap lo pemuda skrang ini jaga ba prakter yang so tidak zaman lagi”50

.

(Terus mau bagaimana lagi menghadapi anak mudah model sekarang ini. Kita sekarang bukan hidup pada zaman dahulu kala (Nenek Moyang)

49

Wawancara Tanggal 21 Maret 2013

50

dulu. Zaman sekarang sudah berubah jadi mau tidak mau adat yang kita pelihara selama ini sudah di anggap oleh pemuda ini, kita sebagai praktek yang ketinggalan zaman saja).

Wawancara diataspun di setujii oleh bapak Sumarno Puluhulwa Ama.Pd sebagai berikut:

“Dahulu untuk meramaikan pernikahan diadakan secara kesenian berupa sulunani dan buruda, kini orang lebih suka meramaikan dengan band atau alat mudik elektronik lainnya”51.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Hasan Mohammad yaitu:

Pengaruh IPTEK ini sangatlah berdampak apalagi yang dulunya mereka menggunakan alat-alat dan benda-benda tradisional yang dilaksanakan pada tahapan dutu sekarang sudah menjadi moderen. Misalnya saja berupa bedak-bedak, lulur dan lain-lain yang sangat tradisional sudah menjadi bedak padat yang moderen. Padahal di setiap benda tradisional intu sudah menjadi turunan dari nenek moyang kita dahulu kata52. Pesatnya peningkatan hasil produk yang bernuansa teknologi seperti media komunikasi dan informasi misalnya televisi, internet, radio, handphone (Hp), dan surat kabar juga menjadi alasan merosotnya nilai-nilai budaya daerah karena masyarakat cepat sekali terpengaruh dengan apa yang mereka dengar dan saksikan misalnya budaya asing yang mereka lihat dan dianggap rasional menurut mereka selanjutnya budaya tersebut mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari hal ini seperti hasil (wawancara ) kebanyakan masyarakat dengan anak mudah sekarang lebih suka nonton TV dari pada silaturahmi, lebih suka disewa ketimbang membatu, atau bergotongroyong, lebih baik pesta dansa dari pada menggunakan alat musik tradisional di saat upacara adanya berlangsung. Mereka lebih suka memakai baju yang sexi dari pada memakai jilbab dan pakaian yang

51

Wawancara Tanggal 20 april 2013

52

longgar, masih banyak lagi, perubahan-perubahannya yang tidak perna di kenal orang tua kita di masa lalu. Lama kelamaan budaya kita ini barangkali akan hilang sehingga anak cucu kita kelak tidak mengenal upacara adat yang sesungguhnya.

Dari beberapa hasil wawancara dan pembahasaan di atas dapat terlihat jelas bahwa kemajuan IPTEK turut memberikan pengaruh yang besar dalam mempengaruhi nilai-nilai adat yang selama ini telah di bina dan di pelihara.

2. Faktor Pendidikan

Tujuan perkembangan pendidikan mengarahkan pemikiran manusia ke arah yang lebih mandiri serta kreatif dalam menyikapi berbagai tantangan global dari jenjang pendidikan masyarakat akan mengalami peningkatan pengetahuan serta wawasan yang mendalam akan suatu hal. Dengan demikian pula masyarakat mulai memilih serta memilah item-item budaya mana yang masih atau sudah tidak relevam lagi dengan perkembangan zaman.

Wawasan sekarang yang semakin luas seiring dengan tingginya tingkat pendidikan yang di tempuh oleh generasi mudah disegala bidang ilmu seperti ilmu agama serta ilmu pengetahuan lainnya mendorong mereka untuk mengedepankan sikap yang lebih bersifat rasionalitas.

Menurut adat perkawinan Gorontalo adalah merupakan suatu budaya daerah warisan dari pendahulu kita memiliki nilai-nilai budaya yang tinggi, apalagi dalam segi benda-benda adat yang sangat tradisional yang harus dijaga

serta dilestarikan, tetapi sekrang sudah menjadi moderen53. Seperti yang disampaikan oleh bapak Umar Haji yaitu

“Wanu adati wawu budaya uwito dia mosamawa wolo koyakinan lio lo toko muhammadiah dila satuju wolo adati lo nika boti dia popakusai, wolo mo‟obuheto atau moosusah lo tau polaksanaan adati boti wawu ta misikini dia moo pakusai mo hutu adati uwito, mo nika uwito kan debo sah olo dia ma poramelo karena sah liyo lo nika boyito tergantung wolo kepercyaan lio masing-masing tingga woluwo peraturan lio lo undang-undangi”54

.

(Kalau adat dan budaya bertentangangan dengan keyakinan seperti orang muhammadiah yang tidak menginginkan adat tersebut, dan dapat memberatkan atau menyusahkan dalam hal kemampuan seseorang untuk melaksanakan adat tersebut, seharusnya tidak perlu dilaksanakan, karena perkawinan akan sah juga tampa melalui proses adat, karena sahnya perkawinan dilakukan menurut agama dan kepercayaan masing-masing dan di catat menurut peraturan yang berlaku).

Bagi masyarakat yang telah mengeyam, pendidikan, pelaksanaan upacara adat di padang hanya sebagian acara membuang-buang waktu saja, dan membuang-buang waktu itu sama saja dengan membuang-buang uang. Waktu yang dipakai untuk melakukan upacara adat dinilai lebih bermakna jika diisi dengan menuntut ilmu yang moderen. Tetapi masyarakat yang tidak memilki pendidikan seperti yang di sampaikan oleh bapak Hasan Mohammad yaitu

“Pendidikan juga berpengaruh pada adat perkawinan, yang berpendidikan di bawah misalnya yang hanya tamatan SD dan tidak perna sekolah, bisa saja tidak menggunakan adat karena mereka lebih perlu uang dibandingkan adat. Mereka berpikiran bahwa dutu itu memerlukan uang dari segi perlengkapannya atau benda-benda budaya tersebut. Semakin banyak adat yang di gunakan semakin tinggi pula pengeluaran yang mereka keluarkan”55.

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat dikatakan bahwa faktor pendidikan dapat mengubah wawasan berpikir masyarakat. Untuk masyarakat di

53 Op., Cit. Seminar Adat 2007

54

Wawancara Tanggal 22 Maret 2013

55

desa tertai sebagai lokasi penelitian ini, sebagian besar masyarakat khususnya muda-mudi sudah banyak menempuh pendidikan baik pendidikan dasar hingga tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini tentunya membawa dampak dalam mengubah wawasan serta pola pikir mereka tergantung nilai-nilai dan makna-makna benda budaya terutama tahapan perkawinan yang ke -6 yaitu Dutu atau antar Harta yang merupakan budaya asli Gorontalo.

3. Faktor Ekonomi

Persoalan ekonomi merupakan persoalan yang sangat penting sehubungan dengan kelangsungan hidup manusia. Dimana persoalan ini menyentuh langsung dengan kehidupan masyarakat itu sendiri. Di dalam penggunaan kebutuhan hidup terdapat perbedaan perbedaan yang sangat mendalam karena tidak semua masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik (layak) tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan status sosialnya seperti halnya desa teratai yang sebagian besar masyarakatnya merupakan masyarakat yang tingkat ekonominya tergolong lemah. Hal yang sama juga disampaikan oleh bapak Husin Haji yaitu

“Depe Kenyataan lio skrang ini kan ada orang lain termasuk saya olo belum sanggup mo bekeng adati lo nika disebabkan ekonomi amiatia bolo hipo-hipo wambala monga donggo helolohulo, apalagi ma mo make adati pohupotu to dutu. Seharusnya bo orang-orang yang kaya yang ba bekeng adati pohupohutu boyito, apalagi to dutu lio dongo momporsiapkan ramba-ramba lio lo adati, tambati lio, pokonyo donggo mo macam-macam. Apalagi lo tapahula tambati lo badaaa, donggo lolohulo boito lo mulolo odito” 56.

(Setelah realita yang ada masyarakat sebagian belum mampu untuk malaksanakan adat perkawinan tersebut karena faktor ekonomi kami yang lemah, untuk makan saja masih di cari—cari, apalagi mengunakan

56

adat lengkap. Adat perkawinan tersebut khususnya dutu sebaiknya dilakukan oleh orang-orang tau masyarakat yang mampu ekonominya sudah tinggi dan mampu untuk melaksanakan upacara adat apalagi pada adat antar harta, membutuhkan biaya yang sangat banyak dari segi tempat dan benda-benda budaya yang tradisional sudah susah untuk dicari kecuali di cari dengan uang).

Wawancara diataspun senada dengan apa yang disampaiakan oleh bapak Mohammad Uwaka sebagai berikut:

“Wanu mohutu adati boyito mo sadia doi dadata wawu musti woluwo dia polele dia odoi harusi moposiapu, wanu tadia mambo da dila mohutu, mo hutu bo dila lengkap” 57

.

(Upacara perkawinan pada adat itu memerlukan biaya yang sangat besar yang harus di persiapkan baik itu dalam bentuk bahan maupun dalam bentuk uang yang harus di penuhi, oleh karena itu masyarakat yang tidak mampu mungkin tak akan melaksanakannya tetapi adatnya tidak lengkap lagi).

Dengan faktor ekonomi masyarakat merasa kurang mampu untuk memenuhi adat perkawinan yang telah menjadi budaya Gorontalo khususnya di desa Teratai. Faktor ekonomi juga bisa membuat kita menjual harta benda atau meminjam uang untuk pelaksanaan adat tersebut. Berikut hasil wawancara dengan Sumarno Puluhulawa Ama.Pd selaku masyarakat Teratai.

“Dahulu biaya nikah dan mahar itu ditentukan dengan benda-benda tetap misalnnya tanah, pohon kelapa, sawah, dan ternak/hewan peliharaan tetapi sekarang ini kan realita yang ada banyak sudah di tentukan dengan uang”58

.

Karena faktor ekonomi juga keluarga Ibu Nunu menggunakan adat tetapi tidak menggunakan Prosesi perkawinan tahapan ke-6 yaitu Dutu berikut hasil Wawancara dari ibu Nunu yaitu:

57

Wawancara Tanggal 09 Maret 2013

58

“Kita pe anak ada kaweng tidak bekeng akan adat antar harta, Cuma langsung Tolobalango Lo molulo, langsung baku kase ongkos kaweng, mar kita pe anak pe pesta tetap rame skali, biar tidak bekeng kan depe antar harta. Ba bekeng dutu itu cuma buang-buang uang, tau-tau jo itu doi bekeng kasana pesta yang rame skali, sebelum torang putuskan mo bekeng dutu atau tidak torang so bicarakan dengan pihak laki-laki jadi torang somo baku stuju deng baku atur59”.

(Anak saya waktu pernikahannya tidak menggunakan adat perkawinan Dutu, acaranya langsung pada Tolobalango membungkus ongkos sekian yang diberikan dari pihak laki-laki ke pada perempuan, karena melakukan adat dutu itu hanya buangbuang uang saja lebih baik uang itu di gunakan untuk acara hari pernikahan nanti, semua keputusan mempelai wanita sudah di ketahui oleh mempelai laki-laki).

Jadi faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi keluarga untuk tidak mengunakan adat, alasannya karena boros lebih baik uangnya digunakan untuk hari pernikahan saja. Akan tetapi harus digunakan adat dutu tersebut karena disetiap benda-benda yang diberikan kepada mempelai wanita itu mengandung makna yang luar biasa sejak nenek moyang kita dahulu kala.

Dari sejumlah pandangan diatas maka faktor ekonomi dinilai sebagai salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada pembentukan pola berfikir masyarakat dalam menempakan keberadaan makna-makna dutu pada tata cara adat perkawinan. Faktor ekonomi juga berpotensi menggusur segala dalam pelestarian adat suatu kolompok masyarakat.

59

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 40-48)

Dokumen terkait