BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Masyarakat Tabongo
Kecamatan Tabongo merupakan salah satu dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Gorontalo, kecamatan ini merupakan ibukota Kabupaten Gorontalo. Kecamatan terletak : 0,300 Lintang Utara, 1,00 Lintang selatan, 1210 Bujur Timur, 123,30 Bujur Barat. Kecamatan dengan luas wilayah 88660,64 km2 ini berbatasan dengan Danau Limboto di sebelah utara, Kota Gorontalo di sebelah timur, Tabongo Pantai di sebelah selatan serta Kecamatan Tabongo sebelah barat.
Kecamatan Tabongo ini juga terdiri dari 9 desa yaitu : (1).Limehe Barat, (2).Tabongo Barat, (3).Tabongo Timur, (4).Mootinelo, (5).Moahudu, (6).Ilomangga, (7).Limehe Timur, (8). Teratai, (9).Limehu, dengan ibukota kecamatan terletak di Ilomangga. Jumlah dusun yang ada di Tabongo adalah 38. Menurut bagian Pemerintahan kecamatan Tabongo, status Pemerintahan Desa-Desa di Tabongo adalah Desa-Desa. Jika di lihat dari status hukumnya maka semua desa di Tabongo sudah tergolong definitif1.
Lokasi penelitian ini merupakan salah satu desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tabongo yakni desa Teratai. Masyarakat yang mendiami daerah ini sebagian besar merupakan penduduk asli yakni suku bangsa gorontalo, secara khusus masyarakat yang ada di desa Teratai, masyarakat di desa tersebut
1
masyarakat yang terbilang majemuk kalau di lihat secara Vertikal Struktur masyarakat yang ada di daerah ini memiliki perbedaan dari berbagai segi.
Perbedaan tersebut dapat dilihat baik dari tinjauan ekonomi serta strata pendidikan dimana terdiri dari masyarakat lapisan atas dan masyarakat lapisan bawah. Masyarakat lapisan atas itu contohnya masyarakat yang terdiri dari masyarakat berpendidikan memadai serta tingkat ekonomi yang terbilang cukup, sedangkan masyarakat lapisan bawah merupakan masyarakat yang masih tertinggal dari segi pendidikan maupun ekonominya.
Perbedaan itu pula berpengaruh pada pola hidup dan pandangan hidup kepercayaan masyarakat, hal ini menimbulkan pengaruh budaya yang dimiliki masyarakat tersebut. Seperti halnya masyarakat-masyarakat lain sekitarnya, masyarakat Tabongo mempunyai adat istiadat dan kebudayaan yang masih diupayakan untuk dipertahankan dan diketahui maknanya, salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat gorontalo adalah Dutu pada tata cara adat perawinan.
Adat perkawinan Dutu ini merupakan salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat Gorontalo Khususya di Kecamatan Tabongo desa Teratai yang perlu dijaga kelestariannya. Sejalan dengan perubahan sosial,ekonomi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang seperti sekarang ini mungkinlah terjadi ketidak tahuaan makna benda-benda budaya Dutu dalam prosesi Dutu dan pergeseran nilai-nilai benda budaya Dutu yang tradisional menjadi moderen karena dipengaruhi oleh budaya berasal dari luar.
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi dikwatirkan membawa dampak yang mengubah pandangan masyarakat dari pada akhirnya akan
melupakan budaya leluhur khususnya generasi muda sebagai pewaris budaya tersebut.
4.1.2 Sejarah Singkat Desa Teratai
Desa Teratai adalah desa yang di mekarkan pada tanggal 28 Desember 2008 dari Desa Limehe Timur, yang pada awalnya terdiri dari 2 (Dua) Dusun yakni Dusun Podutuma dan Bubohu, setelah terjadi pemekaran yang di beri nama Desa Teratai, maka Dusun Podutuma di bagi menjadi dua yaitu Dusun Podutuma dan Dusun Walama sedangkan untuk Dusun Bubohu tetap, yang berarti Desa Teratai telah terbagi menjadi 3 dusun.
Mengenai pemberian nama desa ―TERATAI‖ dahulunya terdapat 2 nama yang akan di berikan untuk Desa Teratai yaitu :TERATAI DAN PEDUTUMA‖. Kata Pedutuma di ambil dari kebiasaan penduduk dahulu kala yang artinya menyulam atau menjahit sedangkan kata ―TERATAI‖ di ambil dari sebahagian wilayah desa yang banyak di tumbuhi oleh tumbuhan bunga teratai yang dahulunya di musim kemarau buahnya menjadi makanan penduduk pada waktu itu.
Dahulu Desa teratai ini dikenal dengan desa Limehe Timur tetapi sudah di pisahkan menjadi dua desa yaitu Limehe Timur Dan Teratai. Dalam rangka mendukung pelaksanaan pembangunan Desa, Desa Teratai ini juga memiliki berbagai potensi yang dapat di kelola dan di kembangkan sebagai salah satu modal pembangunan. Potensi tersebut dapat digelongkan dalam 2 jenis yaitu Potensi Sumber daya Alam dan Potensi Sumber Daya Manusia.
4.1.3 Letak Geografis
Desa Teratai merupakan salah satu Desa dari 9 Desa yang berada di kecamatan Tabongo yang berdasarkan letak geografis berada ujung timur Ibu Kota Kecamatan yang langsung berbatasan dengan Kecamatan Batudaa, dengan luas 257 Ha. Dengan Kondisi Tofografi alam Desa Teratai merupakan dataran Rendah, Kondisi Iklim di Desa Teratai, sebagaimana di Desa-desa lain mempunyai iklim kemarau dan penghujan.
Desa Teratai memiliki Batasan Wilayah Sebagai Berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Limboto Barat Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tabongo Timur
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Payunga Kecamatan Batudaa Sebelah Barat berbatasan dengan dengan Desa Limehe Timur
4.1.4 Keadaan Penduduk
Desa Teratai terletak di sebelah Timur dari Ibu kota Kecamatan terbagi dalam 3 Dusun yaitu Dusun Bubohu, Dusun Pedutuma, Dusun Walama. Pada aspek demografis, Desa Teratai memiliki penduduk sejumlah 1678 Jiwa. Dengan jumlah penduduk perdusun adalah Bubohu yakni 444 jiwa, kemudian Dusun Pedutuma sejumlah 690 jiwa, Dusun Walama sejumlah 544 Jiwa.
Tabel .1 Jumlah Rumah Tangga
NO. DUSUN PENDUDUDUK
(JIWA) RUMAH TANGGA (KK) 1. 2. 3. Bubohu Pedutuma Walama 444 690 554 116 186 150 JUMLAH 1678 452
Sumber Data : Kantor Desa
Tabel . 2 Jumlah Penduduk Dewasa dan Anak – anak
NO. DUSUN DEWASA
(ORANG) ANAK – ANAK (ORANG) 1. 2. 3. Bubohu Pedutuma Walama 269 454 291 145 392 127 JUMLAH 1014 664
Sumber Data : Kantor Desa
4.1.5 Keadaan Sosial
Kehidupan masyarakat masih tergolong pada masyarakat dibawah garis menengah kebawah khususnya masyarakat yang tergolong keluarga Miskin yang berdasarkan data statistic masih mencapai 55 kepala keluarga miskin, sebagai pengundang masalah ditinjau dari aspek kondisi social ekonomi yang ada sangat memprihatinkan. Adapun penyebab dari kemiskinan dikarenakan pendidikan dan keterampilan pada umumnya masih sangat rendah.
Tabel. 3 Tingkat Pendidikan Warga Di Desa Teratai No DUSUN BELUM SEKOL AH / TDK TAMAT SD SLT P SLT A D 1 D 2 D 3 S 1 S 2 JUML AH 1. 2. 3. BUBOHU PEDUTUM A WALAMA 157 213 138 124 229 176 117 166 146 39 74 65 5 4 6 2 2 5 - 2 8 - - - 444 690 544 TOTAL JUMLAH 508 529 429 178 1 5 9 1 0 1678
Sumber Data : Kantor Desa
4.1.7 Keadaan Ekonomi Desa
Perekonomian di Desa Teratai lebih didominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan. Dari data yang ada lahan pertanian yang ada di Desa ini adalah seluas 157,14 Ha diwilayah dusun Pedutuma dan Dusun Bubohu dan Lahan perkebunan seluas 96,02 Ha. Di wilayah Dusun Walama dan Pedutuma.
a. Sumber pendapatan Desa
Pungutan atas Surat-surat keterangan/Izin b. Tabel. 4 Sumber Pendapatan Masyarakat Desa
No PEKERJAAN JUMLAH
1 Tani 149 Orang
3 Nelayan 114 Orang
4 Tukang Kayu 17 Orang
5 Tukang Mesel 14 Orang
6 Pedagang 137 Orang
7 Sopir 36 Orang
8 TNI / Polri 4 Orang
9 PNS 8 Orang
10 Tukang Ojek/ Bentor 47 Orang
11 Jasa Lainnya 23 Orang
Jumlah 686
Sumber Data : Kantor Desa
4.2 Deskripsi Hasil Dan Pembahasan
4.2.1 Pelaksanaan Perkawinan Secara Adat Di Kecamatan Tabongo
Perkawinan dianggap suci dan agung, bahagia dan berkesan itu sebabnya makna perkawinan harus dirasakan oleh kedua mempelai, mereka tidak boleh menggangap bahwa penikahan itu mudah, gampang dan karena itu pula gampang untuk bercerai. Menurut adat perkawinaan secara ideal bercerai itu hanya meninggal saja. Adat berharap agar pasangan suami istri akan tetap kekal, hidup rukun seperti pada tampak dalam nasehat (Palebohu) yang ditunjukan pada pasangan suami isteri pada waktu mereka duduk dipelaminan.
Untuk itulah proses perkawinan itu tidak hanya sekali saja jadi ia melewati proses tahap-tahap yang disebut proses perkawinan (Lenggota Lo Nika)2 tahap proses perkawinan bukan dibuat untuk memperlama atau mempersulit perkawinan
2
Lenggota Lo Nika Yaitu Urutan atau tahap Dari Pelaksanaan Perkawinan Gorontalo Atau Prosesi Perkawinan Gorontalo
tetapi sema-mata bertujuan agar kedua calon suami istri dapat merasakan apa makna pernikahan yang ditandai oleh perjuangan dan kerja keras.
Untuk pelaksanaan adat perkawinan perlu diketahui tahapan-tahapanya (Lenggota) yang harus dilalui sebelum, saat, dan sesudah acara pokok (Aqad nikah) sebagai berikut : (1) Mongilalo (mengenal/ menilik calon menantu). (2) Molinelo/Mohabari (Memperlancar jalan/ mencari kepastian). (3) Moduluhupa (Musyawarah orang tua kedua belah pihak). (4) Baalanga (penyampaian hari pelaksanaan peminangan). (5) Tolobalango (Peninangan). (6) Dutu (Hantaran adat atau hantaran perkawinan). (7) Dialnggato (Menghantarkan komsumsi peta pernikahan). (8) Mopotilandahu (Malam pernikahan). (9) Akaji (Akad Nikah). (10) Mopopipidu (sanding pengantin). (11) Modelo (Membawa pengantin ke rumah orang tua mempelai pria). (12) Mopotuluhu (menidurkan mempelai wanita / mohuopo). (13) Mopo‘a/ mopelu (mengantarkan makanan dan minuman kepada kedua mempelai untuk tidur dirumah orang tua mempelai pria). (14) Mohama (Menjemput kedua mempelai untuk tidur di rumah mempelai pria).
Tahapan-tahapan tersebut akan diuraikan satu demi satu sebagai pelaksanaannya sebagai berikut :
1. Mongilalo (mengenai / menilik calon menantu)
Mongilalo adalah kunjungan pertama oleh kedua orang tua sang jejaka kerumah orang tua sang gadis sebagai perkenalan dari kedua belah pihak dan utamanya untuk mengenal kepada sang gadis yang bakal menjadi menantu. Setelah tamu memberi salam, dipersilahkan naik dan dibukakan tikar untuk
tempat duduk lalu disunguhi tempat sirih pinang dan tempat ludah (pomama dan hukede) kemudian disunguhi minum biasaanya kopi yang membawah tempat sirih-pinang dan minum, biasanya anak gadis, bahkan selesai meletakan wadah sirih-pinang dan minum diperkenalkan kapada tamu dan disinilah kesempatan kedua orang tua sang jejaka untuk melihat serta menilik kepada calon dari anaknya. Sesudah minum orang tuanya bertanya kepada tamunya, barangkali ada hajat yang mau dituturkan yang dijawab oleh tamu belum ada, kunjungan kami baru untuk silaturahmi, beberapa saat kemudian orang tua sang jejaka pamit. Untuk itu perlu sekali mongilalo (meninjau) tersebut. Tahap mongilalo bertujuan untuk mengetahui sikap dan perangai sang gadis seperti (1) sikapnya, (2) cara berpakaiannya, dan (3) kegiatanya ketika diadakan tahan peninjauan tersebut.
Dahulu peninjauan itu dihubungkan dengan keadaan alam sekitar. Jika dalam peninjauan itu sang gadis sedang duduk atau berdiri menghadap timur dan utara, hal itu dinandakan bahwa sang gadis tersebut bersikap baik. Lebih baik lagi kalau si gadis kebetulan menghadap para peninjau, seperti itu menandakan bahwa perkawinan akan bahagia. Sebaliknya kalau gadis tersebut menghadap kearah barat atau selatan, menandakan bahwa gadis tersebut sebaliknya jangan di kawin karena hal itu telah menandakan kesialan.
Hal yang perlu dilihat dari cara berpakaian misalnya cara menata rambut dan berpakaian. Kalau gadis itu ditemukan dalam keadaan rambut terurai menandakan bahwa gadis tersebut pemalas, mengurus diripun tak mampu, bila baju yang dipainya harus diperhatikan pula, apakah kombinasi warna sesuai atau tidak. Kombinasi baju sesuai dengan keadaan kulit gadis. Kalau tidak hal itu
menandakan bahwa gadis tersebut kurang teliti, tidak terampil, dan tidak cakak mengurus diri.
Selanjutnya hal yang berhubungan dengan kegiatan yakni apabila gadis itu bekerja atau tidak. Kalau gadis tersebut dijumpai sedang tidur sedangkan peninjauan dilaksanakan setelah azhar, itu menandakan bahwa gadis itu pemalas. Demikian pula kalau gadis itu didapati hanya mencari kutu sambil menghadap jalan. Sebab hal itu menandakan bahwa gadis itu bersifat suka menggunjing (momite), suka membuang-buang waktu. Yang paling tidak disukai yakni, kalau sang gadis didapati sedang bekerja dan memakai baju yang serasi serta menghadap kearah timur atau utara.
Apa yang diutarakan diatas sebagiannya telah ditinggalkan orang zaman sekarang, namun hal yang berhubungan dengan kegiatan dianggap sangat menentukan. Hal ini terbukti dengan nasehat seorang ibu terhadap anaknya seperti diutarakan diatas dan juga ada anjuran untuk mencari orang yang banyak kegiatannya, banyak karya pololohelo taa okaraja (carilah orang yang mempunyai karya atau pekerjaan).
Acara mongilalo (meninjau) kini telah ditinggalkan karena sigadis dan si jejaka sudah sering bertemu dan bahkan sudah selalu diizinkan keluar bersama-sama. Dengan demikian, baik si gadis maupun si jejaka sudah mengetahui lebih dahulu sifat dan perangai bakal suami atau istri.
Kalau si peninjau merasa yakni bahwa gadis tersebut baik untuk dikawini maka mereka melaporkan hasil peninjauan tersebut, kepada orangtua laki-laki. Laporan tersebut yang dijadikan dasar untuk melaksanakan peminangan atau
tidak. Kalau laporan peninjauan baik,maka dilaksanakan tahap berikut yakni tahap mohabari (mencari berita).
2. Tahap Molenilo/Mohabari
Molenilo adalah kunjungan kedua orang tua sang jejaka ke rumah orang tua sang gadis dengan maksud untuk mengetahui apakah sang gadis yang diinginkan anaknya belum punya ada pacar. Dalam kunjungan ini kedua orang tua sang jejaka membawa sebuah wadah (tempat sirih –pinang) yang berisi pinang gambir, sirih dan tembakau dan sebelum menyampaikan hajatnya wadah tersebut diletakan dihadapan kedua orang tua sang gadis.kemudian berkata:
Utiya mama lotinelo pongolilalowa lamiyatia oli yolanda li wanu bolo dipoolu taa hibotu-botua mayembalo hitile tileya. (ini adalah siri pinang kepastian kami untuk mohon kejelasaan apakah bapak dan ibu mempunyai putri yang bernama ... sudah ada yang sering datang atau memperhatikannya)3.
Tahap mohabari dilakukan oleh kedua orang tua laki-laki secara rahasia kepada orang tua perempuan karena kunjungan ini merupakan kunjungan tidak resmi, tetapi yang paling penting karena merupakan kunjungan awal untuk menentukan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan perkawinan. Pada tahap mohabari ini orang tua laki-laki hanya membawa sirih, pinang, gambir, tembakau dan kapur yang dibungkus dengan dua macam kain polos indah serta tapahula yang berisi 10 kati (sekarang Rp. 25.000,-).
3
Tim Perumus Kerja Sama Forum Pengkajian Islam Al-Kaustar Gorontalo, Forum Adat U Duluwo Limo Lo Pohala’a Gorontalo Dan Tim Akademisi Gorontalo. Pohutu Aadati Lo Hulondalo Tata
Upacara Adat Gorontalo Hasil Seminar Adat Gorontalo 2007. Gorontalo : Karya Rahma. 2008. Hal
Setelah mereka makan sirih maka orangtua laki-laki menyampaikan isi hati dengan kata-kata sebagai berikut:
a. wonu ito (kepada orangtua si gadis) tahu-tahu iintani, de amiaatia taa mameqiyangomai (kalau bapak/ibu memiliki intan, biarlah kami yang membentuknya menjadi cincin);
b. wonu ito opolohungo, de amiaatia taa lalaaita ma meqibuhuto (kalau bapak/ibu memelihara bunga hias, bairlah kami yang akan menyirainya, selalu);
c. wonu ito bia-biahe burungi; de amiaatia ta maa hemopoqaami (kalau bapak/ibu) memelihara burung, biarlah kami yang akan memeliharanya, memberinya makan).
Kata-kata intan, iintani, polohungo, bunga hias dan dan kata burung hanya merupakan simbol belaka. Kata iintani menandakan bahwa orangtua si gadis yang dihadapi adalah raja, kata polohungo menandakan orangtua gadis yang dihadapi adalah rakyat biasa. Pada waktu dahulu, pada masa pemerintah raja-raja, wuku Gorontalo mengenal 4 golongan penduduk yakni : A. Olanggiya (raja) dan keluarganya. B. Wali-wali (bangsawan). C. Tau Daata (Rakyat biasa) Wato (budak).
Mendengar kata-kata seperti yang diuraikan diatas, ayah (orangtua) si gadis berkata: ‗‘amiaatia mohile maqapu‘‘. Wonu maali amiaatia donggo moqoota-awapo wolo u ngaalaqa. Sababu bo donggo to delomo ombongo walao ta duulato, dobo toqu maa yilumualai ode dunia, tio ma loali walao ta daadaata. (kami minta maaf. Kalau dapat kami bermusyawarah lebih dahulu dengan
keluarga. Sebab dalam ketika masih berada di dalam kandungan, anak itu adalah anak kami berdua, tetapi setelah lahir maka anak itu sudah merupakan milik keluarga). Dari jawaban ini perkawinan bukan saja urusan si gadis dan si jejaka, bukan saja urusan orangtua kedua belah pihak, tetapi menjadi kurusan seluruh keluarga bahkan umum.
3. Lenggota Moduluhupa (Tahap Bermusyawarah)
Moduluhupa adalah musyawarah kedua belah pihak orang tua sang jejaka dan sang gadis membicarakan tentang besarnya biaya yang harus disiapkan oleh kedua orang tua sang jejaka dalam pelaksanaan perkawinan serta tata upacara adat dan saat pelaksanaan.
Dalam musyawarah seperti ini diadakanlah pihak orang tua sang gadis tidak mengungkapkan permintaannya hanya dipersilahkan dari pihak sang jejaka, yang mengungkapkan kesediannya / kemampuannya. Setelah mendengarkan ungkpan jumlah yang disampaikan oleh orang tua sang jejaka, orang tua sang gadis juga menggungkapkan jumlah yang diinginkan dengan istilah mootola wawu moodelo, yang dimaksudnya kemampuan orang tua sang jejaka masih akan dipertimbangkan dan permintaan orang tua sang jejaka sang gadis masih akan dipikirkan.
Pada musyawarah seperti ini orang tua sang jejaka menentukan kapan akan balik lagi dan kalau balik lagi maka permintan orang tua sang gadis sudah dapat diterima atau kesanggupan orang tua jejaka ditambah alakadar sedang permintaan
orang tua gadis dikurangi sedikit sehingga akan beroleh kesepakatan dan kalau orang tua sang jejaka tidak balik lagi maka berati pembicaraan tidak jadi (putus).
4. Baalanga
Baalanga (penyampaian hari peminangan) dilaksanakan oleh utusan orang tua sang jejaka tediri dari seorang bapak dan seorang ibu serta seorang laki-laki yang membawa wadah (tapahula) yang dibungkus dengan kain putih bersih berisi sirih – pinang lengkap kerumah orang tua sang gadis. Sehari sebelumnya diutus seseorang untuk manyampaikan besok nanti akan datang baalanga sehingga orang tua sang gadis mengundang beberapa orang keluarga akrab untuk menunggu. Acara ini biasaanya dilaksanaanakan seminggu sebelum pelaksanaan acara peminangan.
5. Acara Tolobalango
Tolobalango (peminangan) adalah tahapan kelima dari aspek adat perkawinaan secara adat gorontalo dan merupakan forum resmi yang dihadiri oleh sebagian besar keluarga dari kedua belah pihak serta disaksikan oleh pemerintah (Kepala Desa/ Lurah) karena pada acara ini seluruh ungkapan dalam pembicaraan adalah formil. Acara ini lazimnya diadakan sore hari dan kadang malam. Pada acara inbi orang tua sang jejaka mengutus beberapa orang pemangku adat (Utolia layio) dengan berpakaian adat sesuai dengan ketentuan masihng-masing.
Rombongn pihak laki-laki yang dipimpin oleh utolia (penghubung) mendatangi rumah pihak perempuan. Si utolia dari pihak laki-laki disebut Utolia
Luntu dulungo laiqo dan di pihak perempuan disebut ti utolia luntu dulungo walato. Mereka membawa sirih-pinang, tembakau, gambir, kapur, kain sutra inda yang diisi ditapaula dan tonggu, mereka diterima oleh pihak keluarga permpuan. Kedua belah pihak duduk beralaskan tikar atau permadani sambil duduk berhadap-hadapan.
Dengan istilah motolobalango dimaksud adalah tahap menghubungkan keluarga antara pihak laki-laki dengan pihak perempuan. Acara ini dihadiri oleh keluarga terdekat baik oleh rombongan keluarga laki-laki maupun perempuan. Rombongan pihak laki-laki yang dipimpin oleh utolia (utusan) mendatangi pihak permpuan. Utolia dari pihak laki-laki disebut utolia lundu dulungo lai‘o (huhutula) dan pihak perempuan disebut utolia lundu dulungo walito. Mereka membawah pinang , gambir, sirih dan tembakau, yang diisi ditapahula dan dibungkus dengan kain warna adat. Mereka terima oleh pihak perempuan, kedua belah pihak pun duduk dsambil berhadapan
6. Dutu
Dutu modutu mengantar harta pada pernikahan. Acara ini adalah tahapan ke enam dari aspek adat perkawinan secara adat gorontalo pelaksanaannya merupakan forum-formil yang disamping dihadiri oleh pemangku adat dan keluarga, juga turut dihadiri oleh unsur pemerintah yang ikut menyaksikan penyerahan hantaran adart harta perkawinan beserta biayayanya. Acara ini seharusnya dilaksanakan beberapa hari sebelum akad nikah, dan apabila dilaksanakan bersamaan beberapahari akad nikah maka acara ini diadakan pagi
dari (beberapa jam sebelum aqad nikah). Pelaksanaanya adalah para pemangku adat utusan saat peminanggan adalah para pemangku adat utusan saat peminangan ditambah personil pembawa wadah seberapa yang diperlukan sesuain jumlah wadah yang akan dibawa dan personil pembawa tinilo kola-kola, apabila pohu-pohutu atau pohu-pohuli.
Modutu sudah termasuk acara tolobalango. Pada tahapan modutu semua persoalan akan dibuka baik yang berhubungan dengan hari perkawinan maupun halhal yang bersifat teknis. Oleh karena itu semua akan di buka maka tahap ini akan di hadiri oleh pemerintah (Kepala kampung atau capat) dan pegawai syarah. Dahulu diwajibkan kehadiran mereka, karena kehadiran mereka yang paling penting untuk menyaksikan bahwa keluarga pihak laki-laki dan pihak perempuan yang akan terjalin. Pemerintah dan pegawai syarah akan menyaksikan bahwa tahap meminta (Motolobalango) dan tahap menghubungkan (molinelo) kini akan di kukuhkan baik keluarga maupun pemerintah dan pegawai syarah4.
Tahapan ini bisa disebut dengan tahapan momuo‘ngango. Tahapan momuo‘ngango yang di ungkapkan disini tidak sama dengan tahap modutu sekarang ini. Sebab tahapan modutu yang berlaku sekarang ini sudah merupakan gabungan dari beberapa tahap dalam proses perkawinan ini. Karena setiap 5 tahun sekali diadakan seminar adat5.
Adapun yang perlu diperhatikan dalam modutu, yakni: (1) busana anda; (2) Busana Rombongan; (3) Kenderaan Pengangkut; (4) benda-benda budaya
4
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
5
berupa sirih, pinang, tembakau, gambir dan buah-buahan utama, yakni bibit kelapa, tebu kera, nenas, nangka, dan jeruk (lemon bali). Buah-buahan lain sebagai pelengkap belaka: (5). Wahana, tempat meletakan bbenda budaya dan lengkapan adat; (6) Uang sedekah; (7) Payung kebesaran; (8) Biaya Pernikahan; (9) mahar dan kelengkapannya; (10) kelengkapan busana dan kosmetika pengantin perempuan, dan (11) dilanggota berpupa sapi, dan bahan komsumsi yang layak untuk pesta perkawinan6.
Rombongan biasannya berangkat setelah asha. Sebagai penghormatan kepada pihak perempuan dan menunjukan bahwa urutan dan pelaksanan adat diselenggarakan secara saksama, biasanya ada kenderaan yang dilengkapi dengan kolakola tempat alat kelengkapan dutu diletakan. Rombongan berhenti 25m dari pintu masuk rumah pengantin perempuan. Baalanga (penghubung) memberitahukan pada pihak keluarga perempuan bahwa perangkat dutu telah tiba dan siap untuk diserahkan. Ketika si utolia Lundu-Dulungo Lai‘o dari pihak perempuan bertujai‘ yang bunyinya berikut ini.
Adati lo hunggia ma ledunggamai ma popotumapalomai yio popobotula buai. Bangi, wai baangi hiangima‟o to dala mai mopodapato handalo.
Adati lo hunggia ma ledunggamai ma popotumapalomai yio popobotula buai. Ma‟apu, boli ma‟apu ma‟apu mongotiilo, mongotiamo, mongotiombu mongowatato, mongo/ilaato ta ma lohima lohulato diila bolo olingangato donggo lolua-lua bako de ma yilapato de uyito bolo lomonggato.
Amiyaatia botia lomutumai panggato to dalala modiputalo to duhi leetangoto de utiya leedapato to talu lo mongowutato.
Adat daerah Gorontalo telah tiba akan dimasukan mohon supaya diundang.
6
Harap dibuka jalan bukakan jalan untuk menghidangkan hantaran Hantaran yang telah siap dengan semua simbol adat
Maafkan kami maafkan ibu-ibu maafkan kakek dan nenek sudara dan keluarga yang menunggu dan menanti jangan marah masih mempersiapkannya setelah selesai barulah berangkat.
a. Permohonan si utiilia lundu-dulungo lai‘o di jawab oleh si utolia lundu walato sambil bertuja‘i berikut ini.
Adati lo hunggia ma tilumapalai wahu lenggotalomai wahu botulalomai wahu botulalomai wambato malo sadia.
Adat gorontalo telah tiba harapkan naikkan saja dan naikan tempat telah disediakan.
b. Si utolia Lundu Dulungo Lai‘o mengatur hantaran sesuai dengan urutan-urutannya: Tonggu, mahar dan kelengkapannya kosmetik; ayua, dilanggato. Anggata rombongan duduk bersaf. Utolia Lundu Dulungo Lai‘o duduk ditenga-tengah, biasanya menghadap ke kiblat; rombongan pengantin duduk bersaf, sedangkan si Utolia Lundu Dulungo walato duduk di tengah.
c. ketika si utolia Lundu Dulungo Walato mengatakan ‗ wambato malo sadia‘, si Utolia Lundu Dulungo Lai‘o bertuja‘i
Bismila mopodutu payu lo hulondalo-Limutu ma dutuo to wambato ma hitalua bubato wabu woluo u tala diila binggila bandala
Bismilah diletakan adat Gorontalo-Limboto akan diletakan diatas alas dihadapan undangan jika ada yang salah jangan disimpan dalam hati.
Hantaran pun diletakan seperti urutan yang diuraikan diatas d. Si Utolia Lundu Dulungo Lai‘o kemudian bertuja‘i
Ti utolia matoduwolo ma‟apu ma popohulo‟olo aadati ma popotolimolo wau ma tanggu-tanggulo
Utolia di undang maaf, diundang duduk adat akan diserahkan akan disebutkan semua
Jawaban si utolia Lundu Dulungo Walato Watiotia molodua ta pilopolowakili modudulai ode tili malo pilopowakili modudulai ode tili malo pololimaalo ma hidapita yilandalo ma lo‟otanggu dalalo taa‟ubu yinggilalo wau tanggu-tanggulo wudua ma wametalo
Saya mengundang yang diwakili mendekatlah ke sini akan menerima adat gorontalo –limboto tersedia dan teratur telah mengganggu jalan penutup, keluarkan saja, katakan saja berikan, akan diterima
e. Si Utolia Lundu Dulungo Lai‘o menyerahkan satu demi satu simbol-simbol adat itu sambil bertuja‘i
Botia tonggu tonggu lo wunggungo tooto u iloheluma lopotuawu lo dulungo boli depi-depi toyungo
Ini adat pembuka mulut adat pembuka dataran tanda persetujuan menyatukan tujuan dan dihantar dengan payung.
f. Si Utolia Lundu Dulungo Walato ketika menerima, dan berucap sambil bertuja‘i
Tonggu ma tiluango to pomama biluango watotia mololimo lo hilao moolingo Adat tonggu diterima ditempat terhormat saya terima dengan hati yang manis g. Si Utolia Lundu Dulungo Lai‘o bertuja‘i
Botia tapahula lo hua tunuhio bulua bakohati tilua aadati lo lahua tunuhio ayua asali dila poheehua
Ini adat kebesaran disusul dengan adat bingkisan yang diperlukan adat gorontalo disusul dengan simbol adat asal jangan berampasan
h. Si Utolia Lundu Dulungo Walato akan menerima, simbol adat itu dan bertuja‘i
Aadati lo lahua tunuhuio ayua tayade aaturua mulomulo ode ta‟ua dila lipata oli utolia tahua
Adat gorontalo diikuti simbol nasehat bagilah secara teratur pertama-tama kepada pemerintah jangan lupakan untuk utolia
i. Selanjutnya Si Utolia Lundu Dulungo Lai‘o menyerahkan seperangkat busana dan kelengkapannya sambil bertuja‘i;
Utia bo‟o ngopohua ode oli buleenditi bua puupuru, minya wangi tahua boli tunu-tunuhu yinggiilua
Ini seperangkat busana untuk pengantin perempuan bedak, parfum, supaya disimpan diikuti cermin
j. Ketika menerima perangkat busana dan kelengkapannya, si Utolia Lundu Dulungo wolato bertuja‘i
Utia bo‟o ngopobua ode oli buleenditi bua ma tahualo to bulua alihu dila bolo pobutua
Ini seperangkat busana untuk pengantin perempuan akan disimpan di peti agar tidak timbul sakwasangka
k. Tahap berikut, yakni si utolia lundu dunlungo lai‘a menyerahkan ―Dilanngato‖ bahan komsimsi berupa sapi, beras sekarang dan kelengkapan komsumsi lainnya. Sapi diikat di kebun, sedangkan beras langsung diletakan di dapur. Bahkan komsumsi ini tidak semua diserahkan, hanya perwakilan saja. Bahan komsumsi ini sudah siap untuk digunakan. Ketika menyerahkan bahan komsumsi, si utolia lundu dulungo lai‘o bertujai;
Utia dilanggato dipo ngo;aa‟ami to wambato tuoto ito ma loali mohutato debo odelo labia wau tola toomboowa
Ini bahan komsumsi belum semua diserahkan tanda kita bersaudara seperti sagu dan ikan bercampur baik
l. Si Utolia Lundu Dulungo Walato menerima bahan komsumsi sambil bertuja‘i;
U dilanggato ma tolimoolo tuoto itu botia mohutato diila moololo ode mongowala‟a ta io otoduo rahmati potala lai-laito talu-tyalu ode kiblati
Bahan komsumsi diterima‟ tanda kita bersama tidak rindu untuk anak-anak yang mendapat rahmat semoga selalu salat
m. Dengan tuja‘i Si Utolia Lundu Dulungo Walato ini menandakan bahwa prosesi ‗dutu‘ berakhir7
.
4.2.2 Persepsi Masyarakat Terhadap Perkawinan
Dari hasil penelitian dilapangan, bahwa masyarakat yang ada didesa Teratai Kecamatan Tabongo yakni komunitas yang masyarakat yang mendukung adat perkawinan dan adapula yang tidak mendukung adat pelaksanaan adat perkawinan tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Anton Zakaria Bahwa :
―Kelompok yang mendukung pelaksanaan adat perkawinan dapat dibagi bererapa bagian yaitu : (1). Tingkat pendidikan yang sudah tinggi (2). Tingkat pendidikan yang masih rendah (3). Tokoh-tokoh adat (4). Status sosial yang tinggi (5). Orang yang masih percaya atau memegang teguh adat istiadat Gorontalo. Sedangkan kelompok yang tidak men dukung pelaksanaan adat perkawinan dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu : (1). Tingkat pendidikan yang masih rendah (2). Tingkat pendidikan yang sudah tinggi (3). Status sosialnya yang masih sangat rendah (4). Masyarakat yang hanya beroriontasi pada masa depan‖8. Dari beberapa pendapat yang ada diatas inilah yang menjadi landasan presepsi yang berbeda dari masyarakat yang berada didesa teratai kecamatan tabongo kabupaten gorontalo. Perkawinan salah satu peristiwa yang sangat sakral dalam kehidupan masyarakat sebab perkawinan itu tidak hanya menyangkut pria dan wanita yang menjadi mempelainya saja, tetapi juga orang tua kedua belah pihak, saudara-saudara dan keluarga dari pihak laki-laki dan perempuan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kiu Dai sebagai berikut :
―Perkawinana itu macam satu hal yang sakral, depe baik deng tidak itu satu rumah tangga tagantong dari adat yang dorang bekeng di
7
Ibid
8
pelaksanaan perkawinan itu, depe sebab dalam tiaptiap tahap-tahap adat itu ta kandung nilai-nilai le luhur yang punya makna tasandiri yang mungkin orang-orang tidak tau, bisa jadi kalo tidak mo bekeng adat maka kehancuran akan datang pada kita” 9.
(Perkawinan itu merupakan satu hal yang sakral, sebab baik dan tidaknya suatu rumah tangga tergantung dari adat yang digunakan dalam proses perkawinan tersebut, hal ini disebabkan karena dalam setiap tahapan-tahapan adat perkawinan terdapat nilai-nilai yang luhur dan mempunyai makna tersendiri yang tidak bisa terlepas dari setiap individu, dan apabila adat ini dikesampingkan maka kehancuranlah yang akan di dapat).
Adat perkawinan juga bisa dikatakan adalah salah satu ciri yang membedakan orang yang beradap dan tidak beradap, sebab dalam adat perkawinan ada aturan-aturan yang meningkat dan tidak boleh dilanggar, logikannya ―sedangkan yang diadat belum tentu akan baik, keturunannya apalagi yang tidak diadat. Tujuannya dari pelaksanaan adat perkawinan tersebut adalah untuk memperbaiki keturunan agar kelak bisa menjadi yang bisa memanusiakan manusia dalam kata lain bisa berahklak baik. Hal yang sama juga disampaikan oleh Mohammad Uwaka sebagai berikut:
“Depe lebe dari mo bekeng adat perkawinan yaitu (1) Boleh Ba kase sah perkawinan. (2) Capat mo basilaturahmi dengan keluarga lo perempuan deng keluarga lo laki-laki. (3) capat lagi mo kase timbul budaya saling tolong menolong” 10
.
(Kelebihan dari adat perkawinan yaitu (1) bisa mengsakralkan acara perkawinan. (2) bisa mempercepat tali silaturahmi dari kedua belah pihak antara keluarga pengantin pria dan keluarga pengantin wanita. (3) lebih bisa menciptakan budaya gotong royong juga).
Jadi dalam perkawinan itu bukan saja menyangkut kedua mempelai melainkan menyangkut orang banyak, sebab adat perkawinan tidak singkat seperti sekarang ini. Kemungkinan semua yang terlibat di dalamnya bisa berinteraksi
9
Wawancara Tanggal 07 Maret 2013
10
dengan baik dan seksama. Secara sosiologis juga perkawinan generasi baru yang menuruskan golongan masyarakat yang ada. Seperti halnya yang di katakan oleh Umar Haji yaitu :
“Dorang skrang ini mo bekeng atau tidak adat lo nika ini, tidak jadi masalah karna yang bekeng barat mo bekeng pesta ini dorang orang tua lo laki-laki deng parampuan yang mo anggapu kaya, padahal dorang tidak tau ini so pe banyak skali boti kasus lo nika ulangi, lo hugel wolo cerai. Samua itu karna pomenge limongoli‟o doi udadata patao dia otawa limongolio o nilai-nilai uwito nika11”.
(Dilaksnankan atau tidak adat perkawinannya itu tidak jadi masalah yang jelas adat itu tidak memberatkan akan tetapi yang memberatkan dalam pelaksanaan perkawinan itu adalah ke egoisan dari kedua belah pihak entah itu dari pihak mempelai wanita dan pria yang ingin menonjolkan sesuatu yang mereka anggap pada mereka itu lebih, sekarang ini banyak kasus perceraian selingkuh (Hugel) dan lain-lain, itu semua disebabkan karena yang ditonjolkan atau yang dimunculkan ke permukaan hanyalah nilai-nilai yang berupa materi atau uang bukan nilai-nilai adat perkawinan itu sendiri).
Perbedaan persepsi atau pandangan mereka tentang pelaksanaan adat perkawinan itu satu kewajaran karena perlu di akui bahwa kebanyakan yang kontra terhadap pelaksanaan adat perkawinan adalah mereka yang mempunyai tingkat dan status sosial masih dibawah dengan kata lain masyarakat yang masih digolongkan kurang mampu dan masyarakat yang beraliran muhammadiah. Yang sering kali tidak menggunakan adat perkawinan tersebut, tetapi ada pula yang aliran muhammadiah menggunakan adat perkawinan tersebut. Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Husin Haji sebagai berikut:
“Ba bekeng adat lo kaeng itu boleh-boleh saja asalkan Cuma orang yang kaya atau orang yang punya jabatan tinggi supaya dorang boleh ba biyaya adat itu boleh. Kalo misalnnya yang tidak mampu kalo boleh tidak mo bekeng saja, jang sampe serta mo bekeng cuma bekeng susah
11
pa torang sandiri. Bo lihu-lihu lo biloli wawu pesta rame-rame. Apalagi dari pa depe antar harta so bekeng utang duluan” 12
.
―Pelaksanaan adat perkawinan boleh saja dilaksanakan akan tetapi orang yang mampu dengan kata lain mampu dari segala hal untuk membiayayi pelaksanaan adat perkawinan tersebut, tetapi apabila orang yang tidak mampu kalau boleh ditiadaakan saja, jangan sampai justru membebankan individu itu sendiri atau yang melaksakan adat tersebut, Cuma bisa menciptakan hutang terus pestannya meria‖.
Hal yang sama juga disampaikan oleh bapak Niko Poiyo sebagai berikut: “Apabila pelaksanaan adat perkawinan di terapkan di masa sekarang yang serba moderen saya rasa tidak pas lagi sebab masyarakat sekarang paling banyak yang menyukai yang praktis-praktis saja, agar supaya tidak memakan waktu yang banyak karena semakin lama dana juga semakin banyak apalagi kalau masa sekarang banyak serba maha”l13. Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas maka saya berpendapat bahwa masyarakat desa teratai terdapat persepsi yang berbeda-beda tentang pelaksanaan adat perkawinan yang ada pro dan adapula yang kontra. Akan tetapi dari hasil penelitian secara keseluruhan banyak masyarakat yang kontra dengan pelaksanaan adat perkawinan alasannya antara lain: (1) Dana yang dipakai lebih banyak. (2) membutuhkan waktu yang lebih banyak. (3) masih banyak masyarakat yang tingkat atau status sosialnya masih dibawah (kurang mampu). (4) mengurangi kerepotan dari kedua belah pihak keluarga yang punya hajatan. (5) sudah banyak masyarakat yang pola pikirnya berorientasi pada masa depan. (6) Masyarakat yang beraliran muhammadiah yang sangat tidak menyukai adat-adat
dalam perkawinan.
4.3 Benda Makna Dutu Pada Pelaksanaan Perkawinan Secara Adat
12
Wawancara Tanggal 15 Maret 2013
13
Modutu pada hakekatnya, merupakan pengukuhan keluarga dan disaksikan oleh pemerinta setempat dan pegawai syara serta seluruh kerabat, tetangga dan handai taulan. Pelaksanaannya yaitu utoliya Luntu Dulungga Lai‘o atau utusan dari pihak laki-laki. Dan Utoliya Luntu Dulungo Walato, utusan dari pihak perempuan, serta rombongan dari pihak laki-laki dan penerima dari pihak perempuan.
Atribut adat/ Benda Budaya yang dipakai pada saat pelaksanaan dutu, Yang dimaksud dengan benda-benda budaya adalah hal-hal yang turut mewarnai proses perkawinan yang semuannya berhubungan dengan benda. Benda-benda budaya itu ada yang berhubungan dengan permintaan dan ada yang berhubungan dengan penghantaran. Disetiap benda itu terdapat makna yang tertentu sebagai berikut :
1. Kola-kola yaitu sebuah usungan terbuat dari bambu kuning (Talilo Hulawa), berbentuk persegi panjang, dan dihiasi janur (Lale).
Maknanya : kola-kola itu seperti perahu yang akan menyebrangkan membawa hantaran adat untuk pelaksanaan pesta perkawinan. Perahu yang memuat semua hantaran adat yang diberi hiasaan janur, serta payung-payung kebesaran. Jadi setiap acara modutu dibuatlah kola-kola, walaupun hanya seperit perahu, tetapi Kenderaannya memakai roda (Dapati), gerobak dan truk. Bapak Kiu Dai juga berpendapat yaitu :
“Kola-kola itu perkawinan orang besar, yang semua ada dari benda-benda yang kecil sampe yang besar lengkap. Dari pihak laki-laki dan perempuan itu sama”14.
14
2. Kenderaan, roda (padati), gerobak atau truk.
Maknanya : Perahu kebesaran. Yang bisa memuat dan hantran adat perkawinan. Masih dengan bapak kiu dai berpendapat bahwa:
“Roda padati itu dulu perahu layar yang boleh ba muat samua itu barang-barang dutu”15.
3. Genderang Hulondalo
Maknanya : Genderang hulondalo, yang dibunyikan oleh petugas yang bergelar TE TAMBURU, yaitu pemberitahuan kepada masyarakat luas, bahwa putri dan keluarga si Dia, sedang melangsungkan perkawinan dalam waktu yang dekat. Masih dengan bapak Kiu Dai berpendapat :
“Genderang Hulondalo atau buruda ini dibunyikan di saat dutu sampe kaweng supaya orang tau kalo putri anak li pak camat ada kaweng”16
. 4. Payung / Tonggu
Maknanya : Toyungo bilanga atau payung kebesaran yaitu Kemuliaan adat. Sedangkan Tonggu yaitu kebebasaan berbicara. Tonggu ini diberikan bersama dengan payung. Pada saat tonggu ini diberikan utoliya dari pihak laki-laki bisa membuka pembicaraan mengenai perkawinan atau dutu tersebut. Masih dengan Bapak Kiu Dai Berpendapat :
“Tonggu itu musti ada payung, makna supaya bisa leluasan bicara, di berikan tonggu dengan payung pihak perempuan atau laki-laki bebas berbicara”17.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Hi Syamsudin Mohamaad yaitu :
“Tonggu lo tonggu wunggumo lowali lo uhumo lopotuwawo dulungo walo-walodu toyungo 15 ibid 16 ibid 17 ibid
Artinya adat pembuka kata bagi yang diam hasil kesepakatan menyatuhkan tujuan dihantar dengan payung adat‖18.
5. Kati
Maknanya : Bahagian. Yaitu wopokati-kati yang diberikan kepada orang yang sudah ditentukan, entah dia dari pihak lakilaki dan perempuan. Dahulu kati ini disebut dengan Dingo yaitu kain sutra yang berwarna putih yang indah dan polos atau kembang. Dibagikan pada saat pelaksanaan dutu untuk dapat dipakai pada acara mopotilandahu malam sebelum acara berlangsung atau yang disebut dengan malam bakupas. Mereka menggunakan kain tersebut dengan menari saronde pada malam sebelum acara perkawinan. Bapak Kiu Dai Berpendapat :
“Kati Itu bagiani yang dibagi-bagi pada orang tertentu misalnya pak camat atau pegawai syarah”19.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
“Kati kati lo kati adati lo dinggo wawu sarati lowali pake paketi olandlo jamaati
Artinnya adat martabat martabat dalam kedudukan adat jadi takaran dan persyaratan menjadi pakaian serupa bagi kita semua‖20.
6. Maharu
Maknanya : maharu itu artinya Tenelo yaitu pembayaraan adat yang menjadi milik perempuan. Pembayaran itu yang diucapkan nanti sebagai mahar pada pelaksanaan akad nikah. Nilainya berbeda-beda menurut tingkat status orang tua dalam masyarakat. Tenelo ini tidak sama dengan ongkos perkawinan. Oleh karena itu tonelo merupakan bagian perempuan,
18 Wawancara Tanggal 29 April 2013 19
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
20
maka dia harus disimpan bersama pada tempatnya. Dan yang berhak menyimpan itu adalah ibunya perempuan kelak akan diserakan kembali pada mereka pada saat merekah telah dikawinkan dan siap untuk berdiri sendiri. Tonelo ini dapat digunakan mereka untuk modal nanti setelah berumah tangga. Tidak dapat dibelikan makanan tetapi hanya dapat dibelikan alat-alat rumah tangga dan dijadikan modal nanti. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Maharu itu dibeikan pada pengantin wanita, tidak boleh orang lain ambe khusus pengantin wanita dan untuk pengantin tidak boleh di gunakan untuk makan”21
.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
“Maharu maharu maapilopobahayu to tapahu molamahu tunuhiyo yilamahu hungoloayu pilotonulahu
Artinya mahar mahar sudah dipaparkan pada wadah yang indah lengkap dengan bedak tradisional buah-buahan pelengkapnnya‖22.
7. Buluwalo umonu/ Tapahula
Maknanya : Buluwalo umonu atau tapahula ini yaitu peti wangi-wangian. Yang teririsi pada tapuhula. Tapahula yaitu pelaksanaan adat. Peti wangi-wangian inilan ini yang dulu kita kenal dengan bedak-bedak tradisional. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Buluwalo Umonu itu tempat bedak-bedak yang terisi di Tapahula maknanya pelaksanaan adat. yaitu bedak yang terbuat dari bahan-bahan tradisiaonal dan alat-alat lainnya yang tradisonal juga seperti (Huluto) sebagai pembersih badan dan (Botupongila) alat yang digunakan untuk mandi”23.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
21 Wawancara Tanggal 09 Maret 2013 22
Wawancara Tanggal 29 April 2013
23
“Tapahula tapahula lo huwa bako lo hilawo utiluwa tunuhiyo hungo lo ayua tayadelo aturuwa mulo-mulo de tauwa
Artinya peti adat peti adat dari leluhur bako hati isinya dilengkapi buah— buahan bagi-bagikan dengan teratur dahulukan kepada pembesar neger‖24 8. Pinang
Maknanya : pinang yang disebut dengan (Luhuto) yaitu melambangkan daging yang berada pada tubuh kita sendiri yang maknanya Kesempurnaan / perlengkapan dari luar. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Pinang atau Luhuto bermakna dagini to batanga, artinya daging yang ada di badan atau tubuh kita manusia“25
.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
“Luhuto bohulo uyilaupo tuwoto umma letihuto wau maa le piduduto Artinya pinang yang pertama dijamah pertanda sudah terikat dan sudah dikukuhkan‖26.
9. Gambir
Maknanya : Gambir yang disebut (Gambele) melambangkan darah mengalir yang berada dalam tubuh kita. Maknanya semangat atau tekat. Maknanya bisa juga disebut empat unsur kejadian yang terjadi salah satunya adalah Tanah. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Gambir atau gambele duhu to batanga, artinya darah yang ada di tubuh kita”27
.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
“Gambele towoto umaa mayi motomele wawu malomali tuwango bele gambele upilolunuhu lumadiyo lo duhu
Gambir bertanda akan menjadi rumah dan telah menjadi isi rumah gambir disertakan bermakna darah adat‖28.
24
Wawancara Tanggal 29 April 2013
25
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
26 Wawancara Tanggal 29 April 2013 27
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
28
10. Sirih
Maknanya : Sirih yang disebut (Tembe) melambangkan urat yang berada pada diri kita atau tubuh. Maknanya ukuran hubungan silaturahmi. Maknanya bisa juga disebut empat unsur kejadian yang terjadi salah satunya adalah Air. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Siri atau tembe bermakna Lindidu to batangga lo tau, artinya urut dibadan kita manusia” 29
.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
“Tembe modaha umayi motilengge tembe maa pilipidu lumadiyo lo lindhidu
Artinya sirih menjaga jangan sampai angkuh sirih sudah dipaparkan bermakna urat adat‖30.
11. Tembakau
Maknanya : tembankau yang sering disebut dengan taba‘a melambangkan bulu roma pada diri atau tubuh kita sendiri. Maknanya perasaan keiklasan. Maknanya bisa juga disebut empat unsur kejadian yang terjadi salah satunya adalah Api dan Angin. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa: “Tembakau atau taba‟a bermakna bulu roma yang ada dibadan kita, sama olo depe makna dengan 4 unsur kejadian dibumi ini macam api,air,tanah dan angin”31
.
Bapak Hi Syamsudin Mohammad juga berpendapat bahwa:
“Tabaa modaha uma tombula‟a wolo ungongala‟a tabaa ma dilapato lumadiyo lo hapato
Artinya tembakau menjaga keretakan dengan seluruh keluarga tembakau sudah di persiapkan bermakna bulu roma‖32.
12. Jeruk bali
29
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
30 Wawancara Tanggal 29 April 2013 31
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
32
Maknannya : Jeruk bali yang sering disebut dengan Limu Bongo, bermakna Keramahan. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Jeruk bali atau Limu bongo bermakna Rama yang artinya agar supaya yang mempelai perempuan maupun laki-laki bisa ramah satu sama lain”33.
13. Nenas
Maknanya : Nenas yang biasa disebut dengan nanati, bermakna keterampilan. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Nenas atau Nanati yang bermakna Terampil yang artinya agar nanti kedua mempelai dapat terampil dalam semua hal”34.
14. Tebu
Maknanya : Tebu yang biasa disebut dengan patodu, bermakna dicintai orang dan disayangi keluarga. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Tebu atau Patodu bermakna Cinta, jadi bisa di cintai orang dan mencintai keluarga dorang35”
15. Nangka
Maknanya : Nangka yang biasa disebut dengan lange. bermakna selalu kuat. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
“Nangka atau Langge Bermakna walaupun banyak kendala yang dihadapi tetap tegar dalam masalah tersebut36.
16. Tunas Kelapa
Maknanya : Tunas kelapa ini sering disebut dengan tumula, bermakna sumber kehidupan. Bapak Kiu Dai Masih Berpendapat bahwa:
33 ibid 34 ibid 35 ibid 36 ibid
“Tunas Kelapa atau Tumula bermakna kehidupan walaupun tidak jadi kaya asal berkecukupan. Misalnya bisa memenuhi kehidupan sehari-hari37.
1.3.1 Makna Ekonomi
Makna ekonomi itu seperti Kata ekonomi sudah menjadi bahan perbincangan dari segala bidang. Adapun yang dimaksud dengan ekonomi adalah salah satu ilmu sosial yang mencakup kegiatan manusia berkaitan dengan aspek produksi , distribusi dan konsumsi pada suatu barang dan jasa. Istilah ―ekonomi‖ sendiri pun berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos berarti keluarga rumah tangga dan nomos berarti peraturan atau hukum. Sedangkan secara garis besar , ekonomi dimaknakan sebagai manajemen atau aturan rumah tangga. Sementara maksud dari ahli ekonomi atau sering dikenal dengan para ekonom adalah orang-orang yang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.
Pada hakikatnya manusia itu sebagai makhluk sosial ekonomi yang selalu menghadapi masalah-masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi tersebut adalah sebuah kenyataan atau kebenaran bahwa kebutuhan manusia itu jumlahnya tidak terbatas sedangkan alat pengguna atau pemuas kebutuhan manusia jumlahnya sangat terbatas. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi sehingga jumlah kebutuhan manusia berbeda dengan yang lainnya. Seperti yang dikatakan bapak Hi Shamsudin Mohammad yaitu dikatakan :
„Dahulu menghantarkan mahar itu dipergunakan kola-kola yang diusung di dapati yang ditarik oleh manusia (walato / Budak), kini sekalipun ada kola-kola tetapi hanya diletakan diatas truk. Demikian pula
37
perlengkapan lain berupa huali lo wadaka „kamar bersolek‟ dan huali lo humbia‟ kamar tidur pengantin‟ yang diberi wangi-wangian secara tradisional, misalnya langilo, boda‟a mato lo u moonu, yilonda dan totabu. Kini disediakan kamar yang sesuai dengan kehidupan moderen, ini disebabkan karena faktor ekonomi.”38
.
Jadi makna ekonomi ini sangat berpengaruh pada hantar harta yang di sekrang ini, dengan adanya juga perubahan yang dulunya tradisional skrang menjadi moderan.
1.3.2 Makna Kekerabatan
Makna kekerabatan itu bisa dilihat dari segi keluarga, karena perkawinan itu bukan semata-mata urusan pribadi atau dengan kata lain bukan saja merupakan urusan kedua calon mempelai atau calan pengantin, tetapi merupakan suatu urusan keluarga dan kerabat. Itulah sebabnya kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan selalu akan dimusyawarahkan dengan keluarga, karena pernikahan itu merupakan urusan keluarga dapat pula kita lihat dari pelaksanaan pesta kaweng dimana akan dihadiri oleh seluruh keluarga masing-masing mempelai. Seperti yang dikatakan oleh Nanang Engi yaitu bahwa :
“Cucu saya dapat dari kaweng anak saya itu bukan milik depe suami atau tornag, tetapi lebe dari itu karna cucu yang lahir itu nantinya kan mo jadi anak yang sah milik keluarga dari dorang kaweng”39
.
(Dari keturunan yang diperoleh dari pernikahan itu bukan saja keturunan itu milik keluarga pria dan bukan juga milik keluarga wanita, tetapi lebih dari itu bahwa anak yang lahir itu nantinya merupakan anak yang sah milik keluarga. Dan anak yang sah itu adalah anak yang lahir sebagai bukti dari pernikahan yang sah).
Jadi makna dari kekerabatan ini juga dapat dilihat dari keluarga yang memperbaiki diri sehingga tercipta keturunan yang dianggap milik keluarga
38
Wawancara Tanggal 07 Juli 2013
39
masing-masing. Kekerabatan ini juga dapat dilihat dari segi agama yaitu akad menghalalkan pergaulan, membatasi hak dan kewajiban, serta bertolong-tolongan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang antara bukan muhrim. Kan perkawinan itu perintah Allah dan Rasul dengan adanya perkawinan maka kedua orang yang saling mencintai akan terhindar dari dosa dan menciptakan kekerabatan dalam agama dan mempertahan agama islam dalam perjalanan hidup mereka di dunia.
1.3.3 Makna Hubungan Sosial
Masyarakat itu sebagai suatu lingkungan sosial yang terdiri dari sekian banyak lingkungan sosial yang lebih kecil itu bisa disebut rumah tangga. Sedangkan rumah tangga tercipta oleh hasil nikah atau perkawinan antara dua jenis yang berbeda. Oleh karena itu rumah tangga itu merupakan bagian dari masyarakat hubungan sosialnya sangat kuat, jadi kalau mau dipikir setiap rumah tangga itu harus diperkuat dengan berbagai norma, baik norma itu berkaitan dengan agama dan yang terpenting yakni segi ketentraman dan kesejateraan. Karena setiap rumah tangga itu terjadi karena pernikahan, maka pernikahan menjadi syarat adanya rumah tangga jadi harus di perkuat. Seperti kata bapak Niko Ismail yaitu bahwa :
“Terjadi pernikahan itu karena perkenalan antara satu dengan yang lainnya, seperti anak saya mereka berjauhan tetapi sampai menikah, yang tidak mengetahui sekarang jadi mengetahui itu disebabkan karena satu ikatan yang sangat luar biasa yaitu perkawinan40”.
Jadi untuk memperkuat pelaksanaan perkawinan itu, maka proses pernikahan itu tunduk pada norma antara lain yang berhubungan dengan adat
40
istiadat. Dalam adat gorontalo proses pernikahan itu harus pohutu moponikan. Kita ketahui bersama bahwa di indonesia, selain kebudayaan indonesia dikenal pula kebudayaan lokal yang disebut kebudayaan daerah salah satunya adalah kebudayaan Gorontalo. Perkawinan itu juga merupakan alat untuk menghindari fitnah. Karena pergaulan sebenrnya itu harus dikukuhkan dengan akad nikah, agar supaya anggota masyarakat setemapt tidak mempersoalkan lagi pergaulan anak mudah yang tampa status.
4.4 Benda Dalam Prosesi Dutu Yang Sudah Bergeser Dan Bertambah
Setiap masyarakat itu pasti mengalami perubahan-perubahan, baik perubahandalam arti luas maupun perubahan dalam arti sempit perubahan secara cepat atau lambat evulusi, menurtut Selo Soemardjan dan soeleiman soemardibahwa perubahan pada lembaga-lembaga masyarakat dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sisitem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, pola-pola peri kelakuan diantaranya kelompok-kelompok dalam masyarkat. Hal ini menunjukan bahwa betapa luas bidang-bidang yang mungkin mengalami perubahan. Oleh karena itu perubahan pada masyarakat berarti juga perubahan pada kebudayaan, maka tidak mudah untuk menentukan batasnya secara ringkas dan terperinei karena bidang kajiannya cukup luas41.
Benda-benda budaya atau adat yang digunakan dalam prosesi dutu yang sudah bertambah dan berkurang karena faktor iptek, pendidikan dan ekonomomi seperti yang saya teliti atau kata pemangku adat bapak ombo djafar yaitu:
“Dingo boito ma diloialio, dongo mulo-mulolo lio mai kaini mo putio ngopita patao potatayade lio mota ta tamotota lo tari, pohulio to malam bakupas atau to malam mo potilandahu”.
(Dingo tersebut sudah diuangkan. Dahulu dinggo itu selembar kain putih sutera yang dibagikan kepada masyarakat yang tahu menari, sehingganya di malam moponika atau di malam bakupuas yang istilahnya orang Gorontalo akan di gunakan untuk menari tarian saronde)42.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Bapak Kiu Dai Selaku pemangku adat desa Teratai :
“Tetapi dingo yang dulu itu sekarang sudah kati, yaitu mopokati, dibagibagikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Dinggo ini tetap di gunakan hanya pada orang-orang yang berekonomi tinggi,
41
Syaini, op. tic., Hal 86
42
atau perkawinan para pejabat dan sesuai yang akan menggunakan adat gorontalo yang lengkap, sedangkan yang berekonomi lemah hanya menggunakan kati”43.
Jadi sebagian orang berpendapat bahwa dingo ini sudah bergeser karena faktor IPTEK., tetapi masih adad juga yang menggunakan ini hanyalah orang yang bersatus sosial diatas atau orang yang sudah berpangkat. Kalau masyarakat biasa itu dingo sudah diuangkan atau sudah bermodelkan kati.
Bapak Omba Djafar juga masih berpendapat bahwa yang bergeser itu juga seperti:
“Kola – kola, dudelo pake-pake lale Talilo Hulawa hiaya-hiasi to dudulo tanggulio lio lale. Watia hemo adati mao ma kurangi tamo make boti lale hiaya-hiasi to dudelo oto. Woluwo ta hemo pake bo ta dudula atau opanggati. Wanu mo make uwito to tabua olo harus longkap-longkap mo posadia tolitihu, ngango lo huayo wawu batango lo lohuto, wawu to bele lo tabua olo pakea lio lale to dimuka”.
(Kola – Kola, Kola-kola yaitu sebuah usungan terbuat dari bambu kuning (Talilo Hulawa), berbentuk persegi panjang, dan dihiasi janur (Lale). Masyarakat di sekitar kadang menggunakan dan kadang tidak. Adat itu yang menggunakan kola-kola tersebut hanyalah yang berpangkat seperti pejabat atau orang yang mampu memenuhinya. Karena disaat memakai itu dari pihak calon pengantin laki-laki, pihak calon pengantin perempuan juga harus menggunakannya. Seperti (tolitihu) tangga yang terbuat dari talilo hulawa tersebut. Dan memakai ngago lohuwayo yaitu talilo hulawa yang berbentuk buaya buka mulut di sampingnya terdapat tanaman pinang serta di sekeliling rumah mempelain wanita memakai pagar yang terbuat dari talilo hulawa dan di hiasi dengan janur kuning (Lale))44.
Ada juga yang menggunakan talilo hulawa tetapi hanya di angkutan yang memuat barang-barang budaya dari pihak laki-laki dan di pihak perempuan biasa-biasa saja tidak menggunakan apapun karena faktor ekonomi. Masih dengan Bapak Ombo Djafar yang berpendapat bahwa yang bergeser itu juga seperti :
43
Wawancara Tanggal 09 Maret 2013
44
“Mulomulolo mai donggo hepo makea roda, bulotu damango mo wali modelo barangi-barangi lo dutu. Masatia ma hepo makea oto”.
(Begitu juga Kenderaan, roda (padati), gerobak atau truk. Perahu kebesaran. Yang bisa memuat dan hantran adat perkawinan. Dahulu kenderaan yang biasa memuat barang-barang budaya yaitu berbentuk perahu dan di muat di atas gerobak atau roda)45.
Jadi sekarang karena banyak mengalami perubahan dan zaman sudah moderen mereka sudah menggunakan mobil atau truk. Padahal dalam adat di haruskan menggunakan gerobak atau roda. Bapak Kiu Dai juga berpendapat bahwa yang bergeser itu juga seperti:
―Genderang Hulandalo kalo so mulai adat dia mo kase babanyi itu yang ba tugas itu diasa dorang pe nama te Tamburu. Supaya masyarakat sekitar tau kalo dorang ini ba bekeng pesta46.
(Genderang Hulondalo, yang dibunyikan oleh petugas yang bergelar TE TAMBURU, yaitu pemberitahuan kepada masyarakat luas, bahwa putri dan keluarga si Dia, sedang melangsungkan perkawinan dalam waktu yang dekat).
Sekarang sudah tidak ada lagi karena faktor ekonomi dan perubahan sosial. Ada yang menggunakan ini tetapi hanya orang yang berjabatan atau orang-orang yang mampu (mempunyai uang banyak yang menggunakan genderang tersebut. Agar bisa masyarakat luas menggetahui bahwa puteri atau pejabat ini sedang melangsungkan adat perkawinan yaitu dutu. Masih dengan Bapak Kiu Dai yang berpendapat bahwa yang bergeser itu juga seperti :
“Buluwa lo umonu atau yang torang sebut tiap hari itu tapahula, tapahula itu tampa wangi-wangian, dulu itu pupur mo pake di muka deng di badan masih yang tradisional seperti Huludo diludu, botu pongiila, badaa‟a lo pale. Masatia ma ma moderen ma hanbody, lulur, pupuru, reksona dll. Bagitu olo dari segi buahbuahan ada yang sudah ketabahan dari 5 buah-buahan yang sudah di tentukan. Ini so tatambah
45
Wawancara Tanggal 11 Maret 2013
46
deng apal, melon dll. Kain lo parampuan itu Cuma mukena deng al-Qur‟an skrang so ada lagi pakaian dalam yang ta isi di tapahula-tapahula. Alasannya permintaan dari pihak perempuan atau bisa jadi pemberian dari laki-laki supaya dorang lia ini adat lengkap”.
(Buluwalo Umonu/ Tapahula, ini yaitu peti wangi-wangian. Yang teririsi pada tapuhula. Tapahula yaitu pelaksanaan adat. Peti wangi-wangian inilan ini yang dulu kita kenal dengan bedak-bedak tradisional yaitu bedak yang terbuat dari bahan-bahan tradisiaonal dan alat-alat lainnya yang tradisonal juga seperti (Huluto) sebagai pembersih badan dan (Botupongila) alat yang digunakan untuk mandi sekarang sudah moderen. Sedangkan benda-benda yang ketambahan dalam proses pelaksanaan dutu yaitu bisa di katakan orang mampu atau pernikahan anak pejabat atau bisa juga dikatakan atas permintaan perempuan seperti buah-buahan yang hanya 5 macam bisa menjadi 7-10 macam, misalnya yang ketambahan lemon,apel,melon dan lain-lain. Alasannya bermacam-macam agar bisa melengkapi adat, atau bisa di lihat orang kaya yang menikah tersebut. Ada juga tapahula yang sebenarnya hanya berisikan seperangkat alat sholat dan bedak-bedak tradisional dan alatalat mandi ini sudah berisih semua pakaian wanita, dari yang dalaman sampai luaran. Alasanya agar bisa di lihat orang bahwa adat yang mereka bawah lebih lengkap dari yang lainnya)47.
Tetapi sekarang yang saya teliti alat-alat mandinya atau make-up sudah modern kata mereka dari pada menggunakan bahan-bahan atau alat-alat yang tradisional susah di dapat dan kenyataannya pengantin wanitanya ngak menggunakannya lagi jadi mubajir. padahal benda-benda adat itu banyak mengandung makna dari zaman dahulu kalah. Tetapi ada juga yang menggunakan bedak-bedak tradisional ini tetapi nanti yang berkecukupan atau anak pejabat yang menikah dan mamanuhi kelengkapan yang di pelukan. Tetapi yang harus dilaksanaakan adat itu sesuai ketentuan benda-benda yang sudah di tuliskan atau diseminarkan dalam adat budaya Gorontalo.
47
4.4.1 Faktor – Faktor Yang Menyebabkan Pergeseran
Hasil pemnelitian menunjukan bahwa pelaksanaan pelaksanaan perkawinan secara adat di Desa Teratai Kecamatan Tabongo sudah sangat jarang di gunakan dan sudah tidak lengkap. Hal tersebut di sebabkan karena pengaruh dari dalam masyarakat yang bersangkutan maupun dari luar pendukung kebudayaan tersebut.
Faktor terjadinya pergeseran yaitu perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, dengan adanya perkembangan teknologi seperti yang sudah ada sekarang ini tentu membawa banyak perubahan yang begitu baik dan kurang baik terhadap kehidupan manusia. Perkembangan itu baik adanya jika sesuai dengan apa yang diharapkan. Apabila kita perhatikan dengan seksama dampak dari kemajuan sekarang ini.
Perkembangan teknologi saat ini juga membawah pengaruh kurang baik atau negatif dalam kehidupan manusia. Kehadiran teknologi yang begitu canggih membuat masyarakat umum begitu banyak pilihan untuk memilih apa yang di kehendakinya, juga merupakan salah satu faktor penyebab yang terjadinya pergeseran terhadap pelaksanaan adat perkawinan gorontaloyang ada di Desa Teratai Kecamatan Tabongo.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran yang akan saya rincikan, terjadinya pergeseran nilai adat perkawinan masyarakat teratai kecamatan tabongo sebagai berikut:
1. Faktor Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (Iptek)
Bagi masyarakat yang sudah mapan dalam perubahan pasti lebih banyak memerlukan individu-individu yang berpengetahuan dan berketerampilan teknis, terutama di persiapkan untuk mengatasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah-masalah baru sebagai akibat dari persoalan perubahan secara terus menerus. Mengenai hal ini, Syani mengasumsikan bahwa kebudayaan juga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan masyarakat. Perubahan masyarakat tidak semata disebapkan oleh faktor kebudayaan yang ada dalam tubuh masyarakat itu sendiri, melainkan dapat pula disebapkan oleh pengaruh kebudayaan yang datang dari masyarakat sekitar (luar)48.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan unsur terpenting dalam membuka wawasan berpikir seseorang dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dilingkungan pendidikan dan bimbingan orang tua seseorang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus di tinggalkan dan mana yang harus di pertahankan secara berkelanjutan serta pada masyarakat.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini menuntut manusia untuk semakin meningkatkan kemampuan individualnya agar tidak kalah dalam persaingan. Zaman sekarang penguasa terhadap IPTEK di nilai sebagai hal yang mau tidak mau harus diprioritaskan oleh karena ketinggalan dari segi ini berarti ketinggalan juga dalam berbagai hal terutama informasi tentang
48
perkembangan dunia sebab kemajuan IPTEK melahirkan banyak hal baru yang sangat disayangkan jika di lewatkan.
Bertolak dari hal ini maka sebagian besar perhatian masyarakat dunia tertuju semakin majunya IPTEK yang melahirkan berbagai macam produk menggiurkan akibat dari hal tersebut, selanjutnya berdampak pada sikap ketergantungan terhadap produk-produk IPTEK sehingga kearifan budaya lokal yang selama ini dipertahankan lama kelamaaan akan mengalami pergeseran dari nilai-nilai yang sebenarnya serta terancam akan terkikis habis. Seperti dikatakan oleh seorang pemuda desa Aan Djafar mengemukakan pendapat :
“Dijaman skrang ini so tidak ada upacara adat soalnnya upacara adat so tidak zaman dengan yang skrang torang suka, pesta acara kaweng itu harus yang lebe gaul supaya depe suasanan indah deng rame kayak di gedung-gedung bagitu lebe moderen ksana itu”49.
(Dizaman yang sudah maju sekarang ini bukan zamannya lagi pakai upacara adat, karena upacara adat sudah tidak sesuai lagi dengan zaman dan sudah kuno di zaman moderen seperti sekarang ini. Yang kami inginkan pelaksanaan pesta pada acara perkawinan harus lebih keren dan lebih top lagi agar suasananya kelihatan ramai dan moderen).
Wawancara diataspun tidak disetujui oleh bapak anton zakaria dengan apa yang disampaiakan oleh Aan Djafar selaku pemuda desa sebagai berikut:
“Baru bagimana lagi torang ini bahadapi anak mudah skrang ini, sudah diatur, torang kan tidak hidup di zaman dulu (nenek moyang) tapi zaman skrang sudah berubah to? Biar so berubah torang harus tetap gunakan adat perkawinan itu mau tidak mau harus mau karena adar yang torang pelihara skrang ini dorang anggap lo pemuda skrang ini jaga ba prakter yang so tidak zaman lagi”50
.
(Terus mau bagaimana lagi menghadapi anak mudah model sekarang ini. Kita sekarang bukan hidup pada zaman dahulu kala (Nenek Moyang)
49
Wawancara Tanggal 21 Maret 2013
50