• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Faktor Fisik-Kimia Perairan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh rata-rata nilai faktor fisik-kimia pada setiap stasiun penelitian seperti pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Nilai Faktor Fisik-Kimia pada Setiap Stasiun Penelitian No. P a r a m e t e r

Fisik-Kimia Satuan 1 2 Stasiun3 4 5

1. Temperatur Air oC 23 23 25 27 27 2. Penetrasi Cahaya M 0,85 0,65 0,56 0,72 0,9 3. I n t e n s i t a s Cahaya Candela 482 138 903 281 123 4. pH - 7,3 7,5 7,4 7,6 7,9 5. Kecepatan Arus m/s 0,8 0,5 0,6 0,5 0,9 6. Oksigen Terlarut mg/L 7,8 7,1 7 7,2 7,3 7. BOD5 mg/L 1,8 1,7 1,6 1,6 1,9 8. K e j e n u h a n Oksigen % 93,08 84,72 86,31 91,6 92,87 9. Kadar Organik Substrat % 0,960 0,836 1,152 1,344 4,032

10. Substrat Dasar Bebatuan Bebatuan Berbatu

berpasir berpasir Keterangan:

Stasiun 1: Daerah Bebas Aktivitas Stasiun 2: Daerah Pariwisata Stasiun 3: Daerah Bendungan PLTA Stasiun 4: Daerah Pemukiman Penduduk Stasiun 5: Daerah Perkebunan Sawit 4.5.1 Temperatur Air

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa temperatur air pada semua stasiun penelitian berkisar antara 23ºC – 27ºC. Temperatur tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan stasiun 5 sebesar 27ºC dan temperatur terendah terdapat pada stasiun 1 dan 2 sebesar 23ºC. Hal ini dapat dimengerti karena perairan sungai Asahan merupakan perairan mengalir. Pada perairan mengalir terutama daerah tropik, temperatur air tidak akan mengalami perubahan yang nyata (Zaenab, 1985). Temperatur yang didapatkan dari semua lokasi penelitian termasuk dalam kisaran yang optimal terhadap pertumbuhan makrozoobentos. Brower et al., (1990), menyatakan kisaran temperatur yang optimal untuk pertumbuhan makrozoobentos antara 20ºC- 30ºC.

4.5.2 Penetrasi Cahaya

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa penetrasi cahaya pada semua stasiun penelitian berkisar antara 0,56 m - 0,9 m. Penetrasi cahaya tertinggi terdapat pada stasiun 5 sebesar 0,9 m dan terendah terdapat pada stasiun 3 sebesar 0,56 m. Hal ini disebabkan karena kondisi perairan masih jernih dan penetrasi cahaya sampai ke dasar perairan. Cahaya yang masuk dipengaruhi oleh kondisi kejernihan perairan. Semakin jernih suatu perairan maka semakin tinggi tingkat penetrasi cahaya pada perairan tersebut. Menurut Atmadja (1999), semakin jernih suatu perairan maka semakin banyak cahaya yang menembus perairan dan memperlancar proses fotosintesis di dalam perairan tersebut. Menurut Suin (2002), prinsip penentuan kecerahan air dengan menggunakan keeping sechii adalah berdasarkan batas pandangan kedalaman air untuk melihat warna putih yang berada dalam air. Semakin keruh suatu perairan, akan semakin dekat batas pandangan, sebaliknya kalau air jernih, akan jauh batas pandangan tersebut.

12

4.5.3 Intensitas Cahaya

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa intensitas cahaya pada semua stasiun penelitian berkisar antara 123-903 Candela. Intensitas cahaya tertinggi terdapat pada stasiun 3 sebesar 903 Candela dan terendah terdapat pada stasiun 5 sebesar 123 Candela. Tingginya rendahnya intesitas cahaya dipengaruhi oleh naungan vegetasi tumbuh-tumbuhan di sepanjang aliran sungai. Semakin banyak tumbuh-tumbuhan di aliran sungai maka semakin rendah intensitas cahaya yang masuk ke perairan. Hal ini terlihat pada stasiun 1 yang merupakan daerah bendungan yang memiliki vegetasi tumbuhan lebih sedikit dibandingkan dengan stasiun 3 yang merupakan daerah perkebunan kelapa sawit yang memiliki vegetasi tumbuhan lebih banyak. Menurut Barus (2004), bahwa vegetasi yang ada di sepanjang aliran sungai dapat mempengaruhi intensitas cahaya, karena tumbuh-tumbuhan tersebut mempunyai kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya matahari. Bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme tersebut dalam habitatnya.

4.5.4 pH (Derajat Keasaman)

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa derajat keasamaan atau kebasaan (pH) pada semua stasiun penelitian berkisar antara 7,3 – 7,9. pH tertinggi terdapat pada stasiun 5 sebesar 7,9, sedangkan pH yang terendah terdapat pada stasiun 1 sebesar 7,3. Namun demikian secara keseluruhan nilai pH pada lokasi penelitian masih dapat mendukung kehidupan makrozoobentos, pH sangat berperan penting di dalam metabolisme makrozoobentos.

Menurut Sinaga (2009), nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik pada umumnya dalah 7 – 8,5. Kondisi perairan yang sangat basa maupun asam akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Kristanto (2009), menyatakan bahwa pH air semakin lama akan menurun menuju kondisi asam. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya bahan-bahan organik yang membebaskan CO2 jika mengalami proses penguraian.

4.5.5 Kecepatan Arus

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa kecepatan pada semua stasiun penelitian berkisar antara 0,5 – 0,9 m/s. Kecepatan arus tertinggi terdapat pada stasiun 5 sebesar 0,9 m/s dan terendah terdapat pada stasiun 2 dengan 4 sebesar 0,5 m/s. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh kondisi fisik sungai dimana pada stasiun 5 tidak banyak lekukan dan lebih lebar sedangkan stasiun 2 dengan 4 terdapat banyak lekukan sungai.

Menurut Hawkes (1979) dalam Susilowati (2007), kekuatan arus dapat mengikis sedimen sungai bahkan menghanyutkan hewan-hewan dasar dan juga adaptasi yang mempengaruhi kemampuan bergerak komunitas biotanya. Organisme yang hidupnya menetap pada substrat sangat membutuhkan arus untuk membawa makanan, oksigen dan lain-lain. Kecepatan arus berpengaruh langsung terhadap pembentukan substrat dasar perairan dan berpengaruh tidak langsung terhadap pembentukan komposisi bentos. Selanjutnya Odum (1993), menjelaskan bahwa kecepatan arus air di sungai tergantung pada kemiringan, kekasaran substrat, kedalaman dan lebar sungai.

4.5.6 Oksigen Terlarut (DO = Dissolved Oxygen)

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai kandungan oksigen terlarut pada semua stasiun penelitian berkisar antara 7 – 7,8 mg/L. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 1 sebesar 7,8 mg/L dan terendah terdapat pada stasiun 3 sebesar 7 mg/L. Secara keseluruhan nilai kandungan oksigen terlarut masih dapat ditoleransi makrozoobentos. Sumber utama oksigen terlarut dalam air berasal dari adanya kontak antara permukaan air dengan udara dan juga dari proses fotosintesis. Air kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui aktivitas respirasi dari organisme akuatik. Kisaran toleransi makrozoobentos terhadap oksigen terlarut berbeda-beda (Barus, 2004). Kandungan oksigen terlarut dalam air mempunyai peranan dalam menentukan untuk kelangsungan hidup makrozoobentos. Selanjutnya Sastrawijaya (1991), menyatakan kehidupan makrozoobentos dapat bertahan jika oksigen terlarut sebanyak 5 mg/L dan tergantung juga terhadap daya tahan organisme.

14

4.5.7 BOD5 (Biochemical Oxygen Demand)

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai kandungan BOD5 pada semua stasiun penelitian berkisar antara 1,6 -1,9 mg/L Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 5 sebesar 1,9 mg/L. Tingginya nilai BOD5 pada stasiun 5 disebabkan banyaknya bahan-bahan organik yang terkandung di lokasi tersebut. Bahan-bahan organik tersebut berasal dari lahan perkebunan sawit yang banyak menyumbangkan limbah yang mengandung unsur organik (pupuk) ke badan perairan. Adanya perbedaan nilai BOD5 di setiap lokasi penelitian disebabkan oleh perbedaan jumlah bahan organik yang terkandung di perairan tersebut yang berhubungan dengan defisit oksigen.

Menurut Wardhana (2004), bahan buangan limbah organik biasanya berasal dari bahan buangan limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran manusia, kotoran hewan, dan lain sebagainya. Menurut Brower et al., (1990), nilai konsentrasi BOD rendah menunjukkan kualitas suatu perairan masih baik, dimana apabila konsumsi oksigen selama periode 5 hari berkisar sampai 5 mg/l, maka perairan tersebut tergolong baik. Sebaliknya apabila konsumsi oksigen berkisar antara 10 – 20 mg/l menunjukkan tingkat pencemaran oleh materi organik yang tinggi. Selanjutnya Wardhana (2004), menyatakan bahwa peristiwa penguraian bahan buangan organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup.

4.5.8 Kejenuhan Oksigen

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai kejenuhan oksigen pada semua stasiun penelitian berkisar antara 84,72 – 93,08 %. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 1 sebesar 93,08 % dan stasiun 2 memiliki kejenuhan terendah sebesar 84,72 %. Tingginya kejenuhan oksigen pada stasiun 1 berkaitan dengan tingginya nilai kandungan oksigen terlarut pada stasiun tersebut, dimana suhu pada stasiun itu sebesar 23ºC. Hal ini menunjukkan defisit oksigen pada stasiun tersebut sedikit, sehingga mampu mendukung pertumbuhan makrozoobentos. Sumber

pemasukan oksigen yang cukup besar yang berasal dari hasil fotosintesis plankton, kerapatan vegetasi sekitar yang rimbun dan juga oksigen yang berasal dari kontak langsung dengan udara.

Menurut Barus (2004), nilai oksigen terlarut di suatu perairan mengalami fluktuasi harian maupun musiman. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh temperatur dan juga aktifitas fotosintesis darri tumbuhan yang menghasilkan oksigen. Disamping pengukuran konsentrasi, biasanya dilakukan pengukuran terhadap kejenuhan oksigen dalam air. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengetahui apakah nilai tersebut merupakan nilai maksimun atau tidak.

4.5.9 Kandungan Organik Substrat

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa nilai kandungan organik substrat pada semua stasiun penelitian berkisar antara 0,836 – 4,032 %. Kandungan organik substrat tertinggi terdapat pada stasiun 5 sebesar 4,032 %. Tingginya nilai organik substrat pada stasiun 5 disebabkan adanya pengaruh aktivitas perkebunan seperti unsur organik (pupuk) yang menyebabkan kandungan organik yang masuk ke sungai menjadi tinggi dan substrat dasar pada lokasi tersebut adalah pasir berlumpur dimana pasir berlumpur mampu mengikat bahan-bahan organik lebih baik dibandingkan bebatuan.

Menurut Barnes and Mann (1994) menyatakan substrat dasar suatu perairan merupakan faktor yang penting bagi kehidupan hewan makrozoobentos yaitu sebagai habitat hewan tersebut. Masing-masing spesies mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap substrat dan kadar bahan organik substrat. Selanjutnya Welch (1952) dalam Siregar (2009), kehadiran spesies dalam suatu komunitas makrozoobentos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan tetapi belum tentu menjamin kelimpahan makrozoobentos tersebut, karena tipe substrat ikut menentukan.

Dokumen terkait