IV. GAMBARAN UMUM
5.6 Perkembangan Pengembalian Angsuran
5.7.2 Faktor Internal Anggota
Penyebab terjadinya pembiayaan bermasalah dari sisi internal anggota diantaranya adalah kelemahan karakter dari anggota tersebut. Adanya moral
hazard dari anggota yang memang memiliki niat untuk tidak mengembalikan
angsuran pembiayaannya. Faktor lain adalah kelemahan kemampuan dari anggota terutama dari segi modal. Kelemahan ini dapat disebabkan oleh kondisi usaha yang tidak menentu, sepinya pelanggan, banyaknya saingan dan lain sebagainya yang berpengaruh terhadap modal dari nasabah. Kemerosotan usaha nasabah biasanya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah banyaknya pesaing. Nasabah dengan profesi seperti pedagang pulsa, warung makan, toko sembako, jasa fotokopi dan jasa angkutan umum sangat rawan terkena imbas dari pesaing-pesaing baru. Mayoritas nasabah dengan profesi seperti ini mengeluhkan banyaknya pesaing-pesaing baru yang memasuki pasar. Dalam menghadapi fenomena seperti ini, setiap nasabah memiliki cara yang berbeda-beda. Aspek
pemasaran juga dapat mempengaruhi kelangsungan usaha dari nasabah. Mayoritas nasabah dari KBMT Madani adalah nasabah yang mempunyai usaha dengan skala kecil. Bagi nasabah dengan usaha seperti katering kue/makanan dan penyewaan peralatan pernikahan, aspek pemasaran merupakan kendala tersendiri. Nasabah dengan jenis usaha seperti ini biasanya berproduksi berdasarkan order sehingga pendapatan yang mereka dapat tidak tentu setiap hari atau bulannya. Dengan pendapatan yang tidak menentu seperti ini maka nasabah akan sangat rawan terkena pembiayaan bermasalah. Adanya musibah seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran juga mempengaruhi. Akan tetapi untuk musibah seperti ini tidak terjadi pada nasabah KBMT Madani. Musibah yang dialami nasabah KBMT Madani adalah semacam kecelakaan, kematian, dan penggusuran.
Penyimpangan penggunaan dana juga dapat mengindikasikan pembiayaan yang bermasalah. Terkadang tidak semua nasabah menggunakan pembiayaannya untuk modal usaha. Ada yang digunakan untuk membangun rumahnya, biaya sekolah, dan lain sebagainya. Faktor yang lain adalah nasabah yang terlibat oleh banyak hutang sehingga memiliki kesulitan untuk membayar semua hutangnya. Sementara untuk faktor eksternal, yang menyebabkan terjadinya pembiayaan bermasalah diantaranya adalah situasi ekonomi nasional dan global seperti kenaikan harga, pajak, situasi politik dan situasi alam.
Pada dasarnya pembiayaan bermasalah ada bermacam-macam, diantaranya yaitu pembiayaan kurang lancar, pembiayaan diragukan, pembiayaan dalam perhatian khusus dan pembiayaan macet. Pengelompokan pembiayaan bermasalah di KBMT Madani dapat dilihat pada Tabel 5.11 berikut ini.
Tabel 5.11 Aktivitas Pembiayaan Nasabah KBMT Madani Sampai Tahun 2008
Periode tunggakan Jumlah pinjaman jatuh tempo
(orang) Persen Pinjaman lancar 73 26.73 Tertunggak 1-30 hari 14 5.12 Tertunggak 31-60 hari 6 2.19 Tertunggak 61-90 hari 0 0 Tertunggak 91-120 hari 3 1.1 Tertunggak > 120 hari 177 64.83 Total 273 Sumber : KBMT Madani
Pada tabel 5.11 di atas dapat dilihat dan dibandingkan antara pinjaman lancar dengan pinjaman tertunggak lebih dari 120 hari. Pinjaman lancar yang sampai saat ini masih berjalan tercatat sebanyak 73 pembiayaan. Sementara itu jumlah pembiayaan macet yang tercatat sampai saat ini sejumlah 177 pembiayaan. Jumlah pembiayaan macet setiap tahunnya semakin bertambah. Beberapa nasabah ada yang telah melunasinya namun beberapa yang lain masih belum melunasi sisa angsuran pembiayaannya. Nasabah yang terkena pembiayaan macet tetap didatangi oleh petugas KBMT untuk menarik angsurannya. Namun, beberapa nasabah dengan sengaja menghindari kedatangan pihak KBMT. Hal ini tentu saja sangat merugikan KBMT dari segi biaya, karena untuk mendatangi nasabah diperlukan biaya terutama biaya transportasi.
Sebagian besar nasabah yang terkena pembiayaan macet bergerak dalam bidang usaha warung makan, counter pulsa, catering, kue, jemputan sekolah, gorden, pembuatan kursi, kreditan, tanaman hias, dan koran. Jenis usaha warung makan sangat rawan pembiayaan macet dikarenakan banyak pesaing-pesaing baru yang bergerak dalam bidang usaha yang sama. Untuk counter pulsa juga disebabkan oleh hal yang sama. Sementara untuk jenis usaha catering, pembuatan
kue, pembuatan kursi, kreditan, tanaman hias dikarenakan jenis usaha tersebut sifatnya adalah musiman dan pendapatan setiap harinya tidak menentu.
Pembiayaan macet sangat mempengaruhi keuangan KBMT. Dengan adanya pembiayaan macet maka jumlah aset yang dimiliki KBMT akan berkurang. Hal ini tentu saja sangat merugikan KBMT. Untuk menutup biaya yang ditimbulkan oleh adanya pembiayaan macet ada beberapa cara yang dilakukan oleh KBMT diantaranya yaitu dengan mengambil tabungan dari nasabah yang terkena pembiayaan macet. Setiap mitra yang memperoleh pembiayaan dari KBMT Madani wajib menabung di KBMT Madani. Sehingga setiap mitra yang memperoleh pembiayaan pasti memiliki tabungan di KBMT Madani. Tabungan setiap mitra yang memperoleh pembiayaan biasanya menjadi jaminan. Saat angsuran nasabah tertunggak maka KBMT memiliki hak untuk menarik dana yang ada ditabungan nasabah tanpa diketahui oleh nasabah. Selain mengambil tabungan dari nasabah, KBMT juga mengambil barang yang dijaminkan oleh nasabah seperti motor atau barang lain yang bisa diuangkan.
Nasabah yang terkena pembiayaan macet tetap didatangi oleh petugas KBMT untuk menagih angsuran. Akan tetapi banyak nasabah yang menghindari bertemu dengan petugas. Hal ini tentulah sangat merugikan KBMT karena KBMT harus mengeluarkan biaya dalam menagih angsuran nasabah yang terkena macet, akan tetapi tidak mendapatkan pemasukan dari nasabah tersebut. Ada langkah lain yang dilakukan oleh KBMT Madani dalam menghadapi pembiayaan macet yaitu melewati jalur hukum. Akan tetapi cara ini belum dapat dilakukan oleh KBMT Madani. Proses hukum memerlukan biaya yang tidak sedikit, sementara keuangan
KBMT dengan adanya pembiayaan macet tidaklah banyak. Dampak adanya pembiayaan macet pada KBMT tentu saja negatif. Dampak negatif itu diantaranya adalah :
1. Terancamnya likuiditas dari KBMT. Adanya pembiayaan macet sangat berpengaruh terhadap arus kas dari KBMT baik arus kas masuk maupun arus kas keluar karena pembiayaan macet sangat berkorelasi dengan modal yang dimiliki oleh KBMT. Pembiayaan macet menyebabkan modal yang dimiliki oleh KBMT berkurang sehingga KBMT sering mendapatkan kesulitan ketika banyak nasabah yang ingin mengambil tabungannya misal saat hari raya atau saat kenaikan kelas.
2. Kurangnya solvabilitas (kemampuan). Pembiayaan macet menyebabkan kemampuan dari KBMT untuk menyalurkan pembiayaan menurun.
3. Rentabilitas menurun. Adanya kekurangan modal menyebabkan KBMT kesulitan untuk memberikan pembiayaan selanjutnya karena modal yang disalurkan untuk pembiayaan berkurang.
4. Berpengaruh terhadap citra dari KBMT itu sendiri 5. Tingkat kesehatan dari KBMT
6. Modal yang tidak berkembang
7. Munculnya biaya tambahan seperti biaya transportasi karena petugas senantiasa mendatangi nasabah yang terkena pembiayaan macet untuk menagih angsuran.
Sementara itu dampak adanya pembiayaan macet terhadap karyawan diantaranya adalah menurunnya mental dari karyawan atau petugas KBMT.
Petugas menjadi kurang percaya diri karena mendapat tekanan dari dua arah. Tekanan dari nasabah itu sendiri dan tekanan yang diberikan oleh KBMT. Adanya sikap saling menyalahkan juga sering terjadi karena petugas kantor menyalahkan petugas lapang yang tidak segera memberikan informasi terkait dengan indikasi nasabah yang akan terkena pembiayaan macet dan petugas lapang menyalahkan petugas kantor yang diduga salah menganalisis nasabah untuk diberikan pembiayaan. Hal seperti ini akan menimbulkan konflik internal KBMT dan akan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan dari KBMT.
Pembiayaan macet juga berpengaruh pada waktu dan tenaga. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk lebih produktif oleh KBMT, dengan adanya pembiayaan macet menjadi terbuang untuk mengurusi masalah pembiayaan macet. Begitupula dengan tenaga. Petugas KBMT harus rela capek untuk menagih angsuran nasabah yang terkena pembiayaan macet. Sementara itu dampak pembiayaan macet terhadap pemilik modal diantaranya adalah berkurangnya SHU (Sisa Hasil Usaha). Banyaknya pembiayaan macet yang terjadi di KBMT juga membuat kepercayaan pemilik modal terhadap KBMT berkurang karena pemilik modal meragukan kinerja dan kemampuan dari KBMT.
Gejala-gejala nasabah yang terindikasi akan terkena pembiayaan macet diantaranya adalah pembayaran angsuran yang tersendat-sendat. Nasabah sering meminta penundaan pembayaran dengan alasan hari libur, usaha yang sepi dan lain sebagainya. Selain itu terjadi penyimpangan penggunaan pembiayaan atau nasabah tidak memprioritaskan pendapatannya untuk membayar angsuran. Sebagai contoh nasabah justru membelanjakan pendapatannya yang seharusnya
digunakan untuk membayar angsuran untuk kredit sepeda motor. Nasabah yang mengajukan perpanjangan pembiayaan juga dapat diindikasikan nasabah tersebut akan terkena pembiayaan macet. Nasabah seperti ini harus disurvei lebih lanjut untuk mengetahui alasan nasabah tersebut mengajukan perpanjangan jangka waktu pembiayaannya.
Nasabah yang menghindari petugas KBMT yang menagih angsuran juga merupakan indikasi bahwa nasabah tersebut enggan membayar angsurannya. Selain itu nasabah yang mempunyai hutang dengan pihak lain selain KBMT memiliki peluang yang besar untuk terkena pembiayaan macet karena nasabah tersebut harus membayar hutangnya pada beberapa pihak termasuk KBMT. Nasabah yang usahanya adalah warung atau toko, petugas dapat mengetahuinya dari aset yang dimiliki oleh nasabah. Apakah barang-barang di warungnya setiap hari lengkap atau kosong. Jika barang-barang yang dijual di warungnya semakin hari semakin sedikit bahkan mendekati kosong maka petugas KBMT berhak curiga nasabah tersebut akan kesulitan dalam pengembalian pembiayaan kedepannya.
Gejala yang lain berkaitan dengan kondisi keluarga nasabah. Apakah keluarga dari nasabah tersebut sedang terlibat suatu masalah atau sengketa, ada anggota keluarga yang meninggal atau melahirkan dan lain sebagainya yang mengharuskan nasabah mengeluarkan banyak biaya untuk mengurusnya. Jaminan nasabah yang mengajukan pembiayaan di KBMT bermacam-macam. Bagi nasabah yang menjaminkan tabungannya, maka KBMT dapat menarik tabungan nasabah tersebut tanpa diketahui nasabah yang bersangkutan saat nasabah yang
bersangkutan mengalami pembiayaan macet. Namun, jika yang menjadi jaminan adalah barang semisal mobil atau motor, KBMT menghadapi kendala dalam menyitanya. Beberapa nasabah yang menjaminkan barang misal motor biasanya mengetahui bahwa jaminan itu akan disita oleh KBMT saat nasabah terkena pembiayaan macet. Beberapa nasabah ini akan mengganti suku cadang motornya dengan suku cadang yang palsu sehingga saat motor tersebut disita oleh KBMT nilai jualnya akan menurun dan tidak sesuai dengan jaminan awal.
Jaminan biasanya dikenakan 30 persen dari pembiayaan yang diambil kepada nasabah lama dan 20 persen kepada nasabah baru. Hal ini dengan pertimbangan bahwa nasabah baru biasanya keberatan jika dikenakan jaminan yang tinggi karena nasabah baru belum memiliki tabungan di KBMT. Baru-baru ini KBMT memberlakukan jaminan baru yaitu surat nikah. Bagi nasabah yang mengajukan pembiayaan ke KBMT, maka diharuskan menjaminkan surat nikahnya. Hal ini juga dilakukan untuk menanggulangi adanya pembiayaan macet. Surat nikah diberlakukan karena pernah ada kejadian nasabah yang terkena pembiayaan macet melunasi pembiayaannya untuk mendapatkan surat nikahnya disebabkan nasabah tersebut akan bercerai sehingga surat nikahnya sangat diperlukan. Hal yang sama juga terjadi pada nasabah dengan profesi pegawai negeri. Surat nikah sangat diperlukan untuk mendapat tunjangan bagi keluarganya.