IV. GAMBARAN UMUM
5.1 Karekteristik Responden .1 Daerah Asal Responden
Responden dalam penelitian ini tersebar pada daerah Ciomas, Empang, dan Ciapus. Hal ini dikarenakan ketiga daerah tersebut berdekatan dengan lokasi KBMT yaitu di Jl. Sedane, Empang, Bogor. Tujuan diambilnya sampel responden pada ketiga daerah tersebut adalah untuk memudahkan peneliti dalam melakukan wawancara kepada responden. Pada awal sebelum KBMT Madani berdiri, nasabah di daerah Empang dan sekitarnya mengajukan pembiayaan pada KBMT di daerah Ciawi. Hal ini tentu menyulitkan nasabah dari segi waktu dan biaya karena perjalanan yang harus ditempuh memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Berdirinya KBMT Madani di daerah Empang tentu sangat memudahkan nasabah karena lebih dekat dari tempat tinggal atau tempat usaha nasabah.
5.1.2 Umur dan pendidikan responden
Umur dan pendidikan nasabah dari KBMT Madani beragam. Penyebaran umur dan pendidikan nasabah responden dapat dilihat pada Tabel 5.1 berikut ini. Tabel 5.1 Umur dan Pendidikan Nasabah Responden KBMT Madani
Umur (tahun)
NPR NPS NPT
SD SMP SMA PT SD SMP SMA PT SD SMP SMA PT
20-35 0 0 1 1 1 3 3 1 0 0 1 0
36-50 2 0 2 0 2 0 1 1 0 1 2 0
51-65 5 1 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0
Sumber : Data Primer, 2009 (diolah)
Keterangan :
NPR (Nasabah Pembiayaan Rendah) : ≤ Rp. 1.000.000
NPS (Nasabah Pembiayaan Sedang) : Rp. 1.000.000 < x ≤ Rp. 4.000.000 NPT (Nasabah Pembiayaan Tinggi) : > Rp. 4.000.000
Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa semakin tinggi usia nasabah kecenderungannya adalah mengambil pembiayaan kecil. Tidak banyak nasabah yang mengambil pembiayaan tinggi. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor terutama adalah resiko. Baik resiko usaha maupun resiko dalam pengembalian angsuran. Dari Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa semakin tinggi pendidikan nasabah maka semakin tinggi pembiayaan yang diambil. Namun hal ini tidak berlaku bagi nasabah yang mengambil pembiayaan tinggi. Nasabah responden yang mengambil pembiayaan tinggi hanya empat orang yang berpendidikan SMP dan SMA. Sementara itu nasabah dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi tersebar pada pembiayaan rendah dan sedang. Hal ini menunjukkan bahwa dalam mengelola sebuah usaha, bukan hanya tingkat pendidikan saja yang harus diperhatikan namun juga pengalaman usaha, skill, manajemen keuangan yang baik dan lain sebagainya.
5.1.3 Jenis pekerjaan responden
Jenis pekerjaan nasabah responden beragam. Bidang pekerjaan nasabah pun beragam mulai dari bidang jasa, warung makan, toko dan lain sebagainya. Jenis pekerjaan nasabah responden dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut ini.
Tabel 5.2 Jenis Pekerjaan Nasabah Responden KBMT Madani
Jenis Pekerjaan Nasabah NPR NPS NPT
Orang % Orang % Orang %
Sembako 0 0 2 6.67 0 0
Warung (toko) 2 6.67 10 33.3 0 0
Jasa 4 13.33 2 6.67 2 6.67
Warung makan 3 10 2 6.67 2 6.67
Produksi 0 0 1 3.33 0 0
Berdasarkan data pada table 5.2, mayoritas nasabah menjalankan usaha toko. Disusul kemudian dengan usaha jasa seperti jasa angkutan umum, fotokopi, penyewaan properti perkawinan dan kredit. Untuk jenis usaha produksi hanya tercatat satu orang yang menjalankan usaha produksi sabun. Nasabah dengan pembiayaan rendah menggeluti usaha warung makan, toko dan jasa. Hal ini dikarenakan jenis usaha tersebut tidak memerlukan modal yang besar (karena skala usaha nasabah yang bersangkutan masih tergolong kecil). Namun bagi nasabah yang memiliki skala usaha sedikit besar dengan jenis usaha tersebut tersebar pada pembiayaan sedang dan tinggi. Sementara itu jenis usaha seperti warung sembako serta produksi tersebar pada nasabah pada pembiayaan sedang karena memang jenis usaha ini memerlukan modal yang cukup besar.
5.1.4 Pengalaman Usaha
Pengalaman usaha merupakan salah satu aspek yang menjadi pertimbangan bagi KBMT untuk memberikan pembiayaan. Bagi nasabah dengan pengalaman usaha yang masih minim, KBMT belum akan memberikan pembiayaan dengan jumlah yang besar. Namun bagi nasabah dengan pengalaman usaha yang telah lama namun tergolong nasabah baru di KBMT maka KBMT belum akan memberikan pembiayaan dengan jumlah yang besar pula. Hal ini dikarenakan belum terbentuknya kepercayaan antara KBMT dengan nasabah tersebut. Pengalaman usaha nasabah responden dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut ini.
Tabel 5.3 Pengalaman Usaha Nasabah Responden KBMT Madani Pengalaman Usaha
(tahun)
NPR NPS NPT
Orang % Orang % Orang %
0-5 4 13.33 5 16.67 0 0
6-10 2 6.67 4 13.33 3 10
11-20 3 10 5 16.67 0 0
21-30 1 3.33 1 3.33 1 3.33
30-35 0 0 1 3.33 0 0
Sumber : Data Primer 2009 (diolah)
Sedikit nasabah dengan pengalaman usaha lebih dari 20 tahun yang mengajukan pembiayaan kepada KBMT. Nasabah yang mengambil pembiayaan tinggi tidak lebih dari 4 orang. Kebanyakan nasabah yang mengambil pembiayaan tinggi memiliki pengalaman usaha antara 6-10 tahun. Pengambilan pembiayaan yang tinggi ini dimaksudkan nasabah untuk memperbesar skala usaha, omset atau membuka cabang baru bagi usahanya. Sementara itu nasabah dengan pengalaman usaha di bawah 5 tahun tidak ada yang mengajukan pembiayaan tinggi.
5.1.5 Pengalaman Pembiayaan (mulai menjadi nasabah KBMT)
Awalnya nasabah KBMT mengetahui tentang adanya KBMT dari petugas KBMT yang datang mempromosikan KBMT. Kemudian informasi tersebut semakin melebar dari mulut ke mulut. Kemudian beberapa nasabah datang untuk mencoba mengajukan pembiayaan. Hal ini kemudian berlanjut hingga sampai saat ini nasabah KBMT Madani mencapai 560 nasabah. Perkembangan jumlah mitra dihitung mulai dari tahun 2006, tahun dimana KBMT Madani bertempat di Jln. Sedane, Empang, Bogor. Namun ada beberapa nasabah yang mulai menjadi nasabah KBMT sejak pertama kali KBMT Madani berdiri yaitu pada tahun 2003. Pengalaman pembiayaan nasabah dihitung dari pertama kali KBMT Madani berdiri dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini.
Tabel 5.4 Pengalaman Pembiayaan Nasabah (Mulai Menjadi Nasabah KBMT)
Lama menjadi nasabah (tahun) NPR NPS NPT
Orang % Orang % Orang %
0-2 7 23.33 8 26.67 1 3.33
3-5 0 0 7 23.33 2 6.67
6-7 2 6.67 2 6.67 1 3.33
Sumber : Data Primer 2009 (diolah)
Semakin lama nasabah menjadi mitra KBMT maka pembiayaan yang diambil cenderung tinggi. Namun dari Tabel 5.4 dapat dilihat bahwa justru nasabah terbanyak yang mengambil pembiayaan tinggi adalah nasabah dengan pengalaman pembiayaan antara 3-5 tahun. Hal ini mengartikan bahwa semakin banyaknya UMKM yang bermunculan dalam jangka waktu 3-5 tahun. Jika dicermati, ada 2 nasabah dengan pengalaman pembiayaan antara 6-7 tahun yang mengambil pembiayaan rendah. Hal ini dikarenakan kebutuhan modal dari nasabah tersebut tidak banyak dan skala usaha nasabah tersebut masih kecil. 5.1.6 Tingkat Pendapatan Usaha Nasabah
Tingkat pendapatan usaha nasabah berbeda-beda diantaranya adalah harian, mingguan dan bulanan. Ada pula nasabah yang pendapatannya didapat saat ada order pekerjaan. Misalnya nasabah dengan jenis usaha penyewaan properti perkawinan. Nasabah jenis ini akan mendapatkan pendapatan saat ada order penyewaan yang waktunya tidak tentu setiap bulannya. Tingkat pendapatan usaha nasabah dapat dilihat pada Tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5 Tingkat Pendapatan Usaha Nasabah Pendapatan usaha nasabah
(rupiah/hari) NPR NPS NPT
< 500.000 8 11 1
500.000 – 1.000.000 2 6 0
> 1.000.000 0 0 2
Dari Tabel 5.5 dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendapatan usaha nasabah maka kecenderungannya adalah mengambil pembiayaan besar. Akan tetapi ada satu nasabah dengan pendapatan usaha kurang dari Rp. 500.000 yang mengambil pembiayaan tinggi. KBMT dalam hal ini harus terus memantau nasabah tersebut dalam kemampuannya mengembalikan angsuran. Jika angsuran nasabah tersebut tersendat-sendat maka hal ini menjadi sebuah pelajaran bagi KBMT. KBMT diharapkan lebih memperketat survei kepada usaha nasabah sebelum menyetujui pemberian pembiayaan.