• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsumsi suplemen

METODOLOGI PENELITIAN

10. Asupan Protein

6.3. Faktor Internal

6.3.1. Hubungan antara Umur dengan Konsumsi Suplemen Asam Amino

Ketika memasuki umur dewasa atau usia produktif seseorang akan lebih memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsinya. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam mengkonsumsi suplemen makanan (Lyle et.al, 1998). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa anggota fitness yang berada pada rentang usia dini lebih banyak dari pada yang berada pada rentang umur dewasa madya. Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara umur dengan konsumsi suplemen asam amino. Hal tersebut dimungkinkan karena umur pada penelitian ini kurang bervariatif atau lebih banyak yang berada pada rentang dewasa dini.

Ketidakbermaknaan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraini (2009) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan konsumsi suplemen vitamin dan mineral pada atlet renang di klub renang di wilayah Jakarta Selatan. Namun, penelitian lain menyebutkan bahwa hal ini tidak sejalan dengan penilitian yang dilakukan oleh Goston dan Correia (2010) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara umur dengan konsumsi suplemen asam amino pada anggota fitness di fitness center Kota Belo Horzonte, Brazil tahun 2010, hal ini dikarenakan umur dalam penelitian yang dilakukan oleh Goston et.al lebih bervariatif dan responden dalam penelitiannya lebih banyak.

Selain itu peneliti berpendapat bahwa kebanyakan responden yang mengkonsumsi suplemen asam amino adalah yang berusia masih produktif atau dewasa dini (< 24 tahun) karena responden percaya bahwa mengkonsumsi suplemen pada usia muda, selain dengan fitness yang dilakukan secara rutin mengkonsumsi suplemen juga dapat membentuk performa sejak usia muda, meningkatkan massa otot dan mengganti energi yang dikeluarkan saat latihan. Seperti yang dijelaskan oleh Goston dan Correia (2010) menjelaskan bahwa konsumsi suplemen asam amino pada anggota fitness saat usia muda dapat meningkatkan stamina dan membantu meningkatkan massa otot.

6.3.2. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Konsumsi Suplemen Asam Amino

Jenis kelamin dianggap sebagai salah satu faktor yang penting untuk melihat hubungannya dengan konsumsi suplemen asam amino. Hal ini disebabkan karena biasanya laki-laki akan lebih memperhatikan tubuhnya untuk mendapatkan hasil yang dininginkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pereira et.al (2003) di Sao Paulo, Brazil, dengan sampel 309 di 7 tempat fitness centre di Sao Paulo terdapat 77% laki-laki dan 23% perempuan yang mengkonsumsi suplemen. Rata-rata jenis suplemen yang dikonsumsi oleh anggota fitness adalah suplemen asam amino atau jenis protein lainnya (38,9%).

Hasil penelitian ini diperoleh bahwa lebih banyak anggota fitness laki-laki dibandingkan anggota perempuan. Berdasarkan hasil

antara jenis kelamin dengan konsumsi suplemen asam amino. Proporsi konsumsi suplemen asam amino pada kedua kelompok jenis kelamin, laki-laki lebih banyak mengkonsumsi suplemen asam amino dari pada perempuan. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan penelitian Pereira (2003) yang menyebutkan bahwa pada anggota fitness center di Sao Paulo, Brazil tahun 2003 bahwa yang mengkonsumsi suplemen asam amino lebih banyak berjenis kelamin laki-laki (77%). Sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Goston dan Correia (2010) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan konsumsi suplemen asam amino pada anggota fitness centre di Kota Belo Horizonte, Brazil.

Menurut peneliti adanya hubungan antara jenis kelamin dengan konsumsi suplemen asam amino dalam penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki yang mengikuti fitness sangat menginginkan performa tubuh yang lebih prima dan menarik, karena itulah laki-laki lebih banyak dan tertarik untuk mengkonsumsi suplemen asam amino. Seperti yang dijelaskan oleh Pereira et.al (2003) bahwa laki-laki yang mengikuti fitness lebih gemar mengkonsumsi suplemen asam amino atau suplemen

fitness guna mendapatkan hasil yang maksimal. Berdasarkan hal tersebut

peneliti menyarankan bagi anggota ftiness yang mengkonsumsi suplemen asam amino baik laki-laki maupun perempuan agar selalu memperhatikan suplemen yang dikonsumsi, apakah benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

6.3.3. Hubungan antara Pendidikan dengan Konsumsi Suplemen Asam Amino

Pendidikan adalah faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Pendidikan merupakan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan, sebab kualitas kehidupan suatu bangsa sangat erat dengan tingkat pendidikan (Karsidi, 2005). Suatu studi menunjukkan bahwa pengguna dari suplemen makanan berasal dari golongan dengan pendidikan tinggi (Williams, 2002).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anggota fitness memiliki pendidikan tinggi. Berdasarkan hasil analisis uji

Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara

pendidikan dengan konsumsi suplemen asam amino. Artinya, baik yang memiliki pendidikan tinggi maupun pendidikan rendah dapat mengkonsumsi atau membeli suplemen asam amino.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2004) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan konsumsi suplemen vitamin dan mineral pada anggota Cilandak Sport Center Jakarta Selatan. Namun hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Zeisel (2000) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan dengan konsumsi suplemen makanan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak mengkonsumsi suplemen makanan. Hal tersebut dijelaskan juga oleh Krumel (1996) menyatakan bahwa

seharusnya kelompok yang lebih cenderung mengkonsumsi suplemen

ialah kelompok yang lebih berpendidikan (≥ SMA).

Menurut peneliti, tidak adanya hubungan antara pendidikan dengan konsumsi suplemen asam amino dalam penelitian ini dikarenakan pendidikan memang tidak mutlak dapat membentuk seseorang untuk mengambil sebuah tindakan atau mengambil keputusan untuk mengkonsumsi suplemen asam amino.

6.3.4. Hubungan antara Pendapatan dengan Konsumsi Suplemen Asam Amino

Pendapatan adalah penerimaan bersih seseorang, baik berupa uang kontan maupun natura. Menurut Krumel (1996) yang menyatakan bahwa seseorang yang cenderung mengkonsumsi suplemen adalah kelompok yang memiliki tingkat pendapatan yang tinggi. Sama seperti yang dijelasakan oleh Williams (2002) bahwa pengguna suplemen makanan lebih banyak berasal dari golongan dengan pendapatan yang tinggi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang memiliki pendapatan tinggi. Dari hasil analisis uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

kelompok yang berpendapatan rendah dengan kelompok yang berpendapatan tinggi. Artinya, responden yang memiliki pendapatan rendah maupun tinggi tetap dapat mengkonsumsi suplemen asam amino atau dengan kata lain pendapatan tidak menjadi jaminan seseorang untuk mengkonsumsi suplemen asam amino.

Ketidakbermaknaan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriana (2003) pada orang dewasa yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan dengan konsumsi suplemen makanan. Hal itu juga sejalan dengan penelitian dari Medeiros et.al (1991) yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara pengguna suplemen dengan bukan pengguna suplemen dalam hal tingkat pendapatan. Namun, hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Pereira et.al (2003) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pendapatan dengan konsumsi suplemen asam amino pada anggota fitness centre di Sao Paulo, Brazil tahun 2003, serta tidak sejalan juga dengan penelitian Lyle et.al (1998) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pendapatan dengan konsumsi suplemen makanan. Hal tersebut dapat disebabkan karena perbedaan karakteristik dan jumlah responden.

Rata-rata anggota fitness yang memiliki pendapatan tinggi mengkonsumsi suplemen asam amino lebih dari 1 jenis suplemen dalam sehari serta frekuensi mengkonsumsi suplemen 1 kali dalam sehari setiap jenisnya. Sedangkan pada anggota fitness yang memiliki pendapatan rendah rata-rata mengkonsumsi suplemen asam amino hanya 1 jenis saja dan frekuensinya pun hanya saat mereka melakukan latihan fitness.

Menurut peneliti, bagi anggota fitness centre Syahida Iin UIN Jakarta pendapatan tidak menjadi acuan untuk bisa membeli suplemen asam amino atau suplemen fitness ini, karena anggota yang memiliki pendapatan rendah pun bisa membeli suplemen asam amino. Rata-rata dari mereka merasa bahwa mereka memang harus mengkonsumsi

suplemen asam amino untuk membantu membentuk otot dan tubuhnya meskipun hanya membeli suplemen saat latihan saja, karena memang suplemen asam amino ini dijual langsung oleh pelatih yang bisa di beli saat ingin latihan atau setelah latihan untuk takaran suplemen sekali konsumsi. Hal tersebut supaya semua anggota yang ingin mengkonsumsi suplemen bisa membeli dengan mudah tanpa mengeluarkan biaya yang besar dalam sekali pembelian suplemen.

Dokumen terkait