• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Faktor Internal

Salah satu faktor yang dominan dalam pola sebaran spasial macan tutul jawa adalah sifat biologis dan perilaku satwa (animal behaviour) dari individu macan tutul jawa. Sifat biologis yang di dalamnya termasuk postur dan komposisi fisik dan kimia tubuh, proses metabolisme, ekspresi, kepekaan, reproduksi, dan adaptasi akan menentukan tingkat kemampuan macan tutul jawa dalam persaingan dan usaha mempertahan kelestarian jenisnya. Perilaku macan tutul jawa dipengaruhi oleh rangsangan dari dalam dan rangsang dari luar Sedangkan respon yang akan diberikan tergantung pada derajat rangsangan minimum yang dimiliki oleh individu macan tutul jawa. Hal ini akan tercermin dari aktivitas yang dilakukannya.

Kegiatan penelitian macan tutul jawa dilakukan di lima tipe ekosistem berbeda, yaitu: mangrove, hutan pantai, padang penggembalaan, hutan tanaman, dan hutan dataran rendah. Selama kegiatan pengamatan dijumpai delapan aktivitas macan tutul jawa, yaitu: berjalan, berburu, makan, membuang kotoran, mencakar di tanah, mencakar di pohon, mengasuh anak, dan bersuara.

Tabel 17. Jenis aktivitas macan tutul jawa di lima tipe ekosistem

No Tipe Vegetasi Jenis Aktivitas Yang Ditemui Jumlah A B C D E F G H A. Mangrove 1 1 Cungur 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Bedul 1 0 0 0 0 0 0 0 3 Buyukan 0 0 0 0 0 0 0 0 B. Hutan Pantai 14 1 Brobos 3 0 0 0 0 1 0 0 2 Batulawang-Tapakdoyong 3 0 0 0 0 0 0 0 3 Parangireng 1-Pancur 1 1 0 0 1 0 0 0 0 4 Trianggulasi-Sungklonombo 3 1 0 0 0 0 1 0 C. Savana 0 1 Padang Penggembalaan Sadengan 0 0 0 0 0 0 0 0

D. Hutan Tanaman 12 1 Rowobendo 1 1 0 0 1 0 0 0 0 2 Rowobendo 2 0 0 0 2 2 0 0 0 3 Ngagelan 1 1 1 0 2 1 0 0 0 4 Ngagelan 2 0 0 0 0 1 0 0 0

E. Hutan Dataran Rendah

14

1 Motolele 0 0 0 0 0 0 0 1

2 Istana-Mayangkara 0 0 0 0 0 0 0 1 3 Jalur Pengamatan Burung 0 0 0 1 1 0 0 1 4 Sendangbiru-Parangireng2-Pancur2 2 0 1 6 0 0 0 0 5 Plengkung 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 15 2 1 13 5 1 1 3 41 *)Keterangan: A. Berjalan B. Berburu C. Makan D. Membuang kotoran E. Mencakar di tanah F. Mencakar di pohon G. Mengasuh H. Bersuara

28

Zona jejak dan kontak langsung dengan macan tutul jawa tertera pada gambar 3.

Gambar 3. Zona kontak dengan macan tutul jawa

A.1. Berjalan

Aktivitas berjalan dari macan tutul jawa diketahui dari pengamatan langsung maupun pengamatan tidak langsung. Pengamatan langsung adalah perjumpaan secara langsung dengan individu macan tutul jawa, sedangkan pengamatan tidak langsung yang menunjukkan aktivitas berjalan adalah jalur jejak kaki. Jejak kaki yang ditinggalkan dapat menunjukkan kegiatan berjalan, berlari, maupun berdiri diam. Jejak kaki yang ditemukan pada beberapa tempat menunjukkan track normal. Track ini terdiri dari komposisi jejak kaki yang tersusun berderet dengan jarak langkah biasa. Track dengan model seperti ini menunjukkan bukti adanya salah satu aktivitas berpindah tempat yaitu berjalan.

Gambar 4. Track macan tutul jawa: a. Track di pasir, b. Sketsa track

133cm 29cm 20cm 25cm 12cm 21cm 14cm 12cm KIRI KANAN a b Bedul Ngagelan Rowobendo, Sadengan, Triangulasi Pancur Plengkung Brobos Cungur 1 jejak kaki 1 berjalan, 1 berburu, 2 feces, 2 scrape 3 jejak kaki, 1 bangkai rusa, 5 feces, 3 scrape, 1 mengasuh, 1 bersuara 5 jejak kaki, 1 berjalan, 1 tulang mangsa, 7 feces, 2 bersuara

29

Knight (1968) menyatakan bahwa seluruh jejak memiliki cerita dan informasi. Bentuk dan formasinya akan memberikan gambaran tentang aktivitas yang dilakukan oleh satwaliar serta proses yang terjadi bersamaan dengan hal itu. Analisis menggunakan jejak kaki juga digunakan oleh Strien (1983). Menurutnya, footprint (satu cetakan kaki satwa yang terekam oleh substrat) dan tracks (sejumlah tatanan jejak kaki satwa) merupakan hal yang sangat penting. Menjadi demikian karena untuk beberapa spesies termasuk macan tutul jawa, jejaknya lebih mudah dijumpai dibandingkan dengan individunya sendiri. Dalam penelitian ini, bentuk dan ukuran jejak kaki digunakan untuk membedakan antara spesies macan tutul jawa dan spesies lain, serta individu macan tutul jawa yang satu dengan individu macan tutul jawa yang lain.

Gambar 5. Identifikasi jejak kaki macan tutul jawa

Salah satu kendala untuk mendapatkan data mengenai jejak kaki adalah kondisi tanah yang seringkali terutup rapat oleh serasah, ekstrimnya kandungan air, dan media pasir yang labil. Beberapa penampilan kondisi lingkungan dan penutupan lantai hutan di TNAP dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Kondisi substrat sebagai media perekam jejak kaki macan tutul jawa a. Substrat berbatu b. Substrat berserasah, c. Substrat pasir kering, d. Substrat lumpur, e. Substrat tanah keras, f. Substrat pasir basah.

jari metakarpal b a d c f e

30

Penumpukan serasah yang menutupi tanah, terutama di hutan tanaman, hutan pantai, dan hutan dataran rendah seringkali menjadi kendala dalam proses pencarian jejak kaki macan tutul jawa. Keberadaan serasah baik yang basah maupun yang kering akan menghalangi pencetakan telapak kaki macan tutul jawa di tanah sehingga tidak ada sama sekali jejak kaki yang terekam di tanah. Kalaupun ada maka jejak kaki tersebut tidak akan sempurna sehingga akan menyulitkan dalam hal pengambilan data.

Ekstrimnya kandungan air dapat berupa keadaan tanah yang telalu kering ataupun terlalu basah. Penelitian dilaksanakan bertepatan dengan pergantian musim di TNAP. Meskipun demikian sudah ditemui beberapa tempat dengan tanah yang keras, kering, dan berdebu. Tanah seperti ini tidak akan bisa merekam jejak kaki macan tutul jawa. Kalaupun ada, maka angin dan debu yang ada akan merubah kondisi jejak kaki macan tutul jawa. Demikian pula dengan lumpur atau tanah yang ekstrim basah di daerah mangrove yang akan mengalami kesulitan dalam proses perekaman jejak kaki karena kandungan air yang terlalu tinggi sehingga jejak kaki akan segera tertutup oleh tanah atau lumpur yang cenderung untuk kembali ke posisi semula.

Media pasir di dekat garis pantai sangat bagus dalam merekam jejak kaki macan tutul jawa. Kondisinya yang lembut serta minim dari kotoran akan membuat cetakan jejak kaki terlihat jelas. Demikian pula dengan cetakan gips yang dibuat akan lebih mudah diangkat, rapi, dan bersih. Kegiatan pengukuran jejak juga akan lebih tepat. Sedangkan kendala yang ada pada substrat jenis ini bersumber dari gejala pasang surut air laut. Kondisi pasir seperti diatas hanya dapat dijumpai di bibir pantai. Dengan demikian peluang penemuan jejak kaki macan tutul jawa di daerah seperti ini sangat erat hubungannya dengan waktu dan ketinggian pasang surut air laut. Ketepatan waktu untuk menemukan jejak kaki macan tutul jawa akan sangat penting karena apabila terlambat sedikit, maka jejak kaki macan tutul jawa akan terhapus oleh ombak.

Media pasir yang agak jauh dari garis pantai akan memiliki karakter kering dan sangat labil. Meskipun jejak kaki dapat terekam, jejak kaki ini tidak akan bertahan lama karena pasir kering akan mudah runtuh dan sensitif sekali terhadap tiupan angin di pantai yang biasanya cukup kencang. Perubahan bentuk dan susunan pasir yang merekam jejak kaki macan tutul akan menyebabkan pengukuran menjadi tidak valid.

Secara umum, kesulitan yang timbul akibat kondisi substrat adalah sulitnya pengambilan keterangan dalam pembedaan bentuk metakarpal, struktur posisi jari, klarifikasi keberadaan kuku, pengukuran, pengambilan foto, serta pembuatan cetakan jejak menggunakan bubuk gips. Data-data ini dibutuhkan dalam analisis yang digunakan

31

untuk membedakan jejak macan tutul jawa dengan satwa lain seperti kucing hutan, dan ajag yang juga ada di TNAP.

Tabel 18. Pengaruh jenis media terhadap kondisi jejak kaki dan cetakan gips

No. Jenis Media Jejak Kaki Cetakan Gips Kondisi

1. Pasir basah Bagus

2. Pasir kering - Buruk

3. Tanah ekstrim

basah Buruk

4. Tanah ekstrim

kering Tidak tercetak Tidak tercetak -

5. Tanah sedang Sedang

A.2. Berburu

Aktivitas berburu diperoleh dari data perjumpaan tidak langsung, yaitu berupa bangkai utuh rusa betina yang masih ditemukan di Trianggulasi. Sedangkan data berupa perjumpaan langsung ditemukan di jalur Ngagelan Pal 27. Satwa yang menjadi mangsa macan tutul jawa diantaranya adalah kijang, rusa, lutung, dan monyet ekor panjang. Menurut Grzimek (1975), macan tutul jawa berburu pada senja hari setelah matahari terbenam dan keadaan sepi. Hal ini berbeda dengan keadaan yang ditemukan pada saat penelitian. Macan tutul jawa sempat terlihat sedang mengintai kijang pada pagi hari. Pada saat itu gerimis baru saja reda namun sudah ada sinar matahari. Keadaan ini sesuai dengan Hoogerwerf (1970) yang menyatakan dalam beberapa kasus di Jawa, macan tutul

32

jawa berburu pada siang hari. Pemilihan waktu aktif macan tutul ini diduga berhubungan dengan penggunaan waktu oleh satwa mangsanya.

Tabel 19. Penggunaan waktu oleh macan tutul jawa

No. Sumber Lokasi Waktu aktif tertinggi 1. Goudrian, 1948 dalam

Hoogerwerf, 1970 -

03.00 sampai 06.00 15.00 sampai 20.00 2. Sakaguchi dan Harahap,

2003 TN Gunung Halimun Salak

06.00 sampai 09.00 15.00 sampai 18.00 3. Ario, 2006 TN Gunung Gede

Pangrango

05.00 sampai 08.00 15.00 sampai 18.00

Macan tutul jawa terlihat mengintai tiga kijang yang sedang makan rumput di pinggir jalan antara Rowobendo-Ngagelan, dari balik pohon tumbang dari arah belakang. Perilaku berburu ini sesuai dengan pernyataan Anonim (1978), macan tutul jawa berburu dengan mengintai kemudian menyergap mangsanya dari belakang.

A.3. Makan

Aktivitas makan didapatkan dari pengamatan tidak langsung berupa tulang-tulang yang diduga sebagai sisa dari mangsa macan tutul jawa. Tulang-tulang ini ditemukan berserakan di bawah pohon yang terletak di dekat sungai daerah antara Gua Gajah dan Sendang Biru, Parangireng. Tulang-tulang yang ditemukan ini disinyalir sebagai tulang dari mangsa yang disimpan di pohon sesuai dengan yang dinyatakan oleh Chavan (1980) bahwa macan tutul akan menyimpan hasil buruannya di atas pohon untuk menyelamatkannya dari pemangsa lain. Adapun lokasi pohon yang berada di dekat sungai sangat menguntungkan karena biasanya macan tutul jawa akan mencari air minum setelah selesai makan. Untuk kasus di Indonesia, perilaku menyimpan makanan ini jarang dijumpai karena sedikitnya pesaing bagi macan tutul jawa. Namun demikian tidak menutup kemungkinan perilaku ini dilakukan karena naluri alamiah dari individu macan tutul jawa.

Gambar 7. Jejak aktivitas makan: a. tulang mangsa, b. pohon, c. sungai.

c

33

A.4. Membuang kotoran

Kotoran dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi bahwa di suatu tempat terdapat macan tutul jawa. Di dalam kotoran macan tutul jawa yang ditemukan sering dijumpai serpihan tulang, rambut, ataupun sayap dan potongan tungkai dari serangga. Hal ini sesuai dengan penelitian Hoogerwerf (1970) yang menemukan adanya rambut dari jenis kera, lutung, surili, kijang, dan kancil serta remukan tulang dalam feces macan tutul jawa. Selain itu Schaller (1976) juga menemukan bahwa macan tutul jawa mau memakan jenis-jenis serangga.

Gambar 8. Feces macan tutul jawa

Dari sejumlah kotoran yang dijumpai, beberapa diantaranya ditemukan di jalan beraspal antara Triangulasi dan Pancur. Penemuan kotoran macan tutul jawa di tempat terbuka ini menguatkan pernyataan Medwey (1975). Ia mengatakan bahwa tidak seperti kebiasaan anggota keluarga kucing pada umumnya yang menutupi kotorannya, macan tutul memiliki kecenderungan untuk membuang kotoran di tempat-tempat yang terbuka.

A.5. Mencakar di tanah

Selain menunjukkan keberadaan satwa macan tutul jawa di suatu tempat, scrape juga berfungsi sebagai penanda daerah teritori. Berkenaan dengan fungsi ini, kadang ditemukan dua scrape yang berdekatan Hal ini menandakan bahwa tempat tersebut merupakan daerah perbatasan atau persinggungan daerah teritori masing-masing individu macan tutul jawa. Scrape dilakukan dengan mencakar tanah menggunakan kaki belakang. Macan tutul jawa menggaruk tanah sebanyak dua kali, dengan bentuk scrape yang khas.

Gambar 9. Scrape macan tutul: a. Cakaran di tanah, b. Sketsa pola scrape

a b c d Cakaran kedua Cakaran pertama Cakaran sebanyak dua kali, dengan menggunakan kaki kanan belakang. a b

34

A.6. Mengasuh Anak

Aktivitas mengasuh anak dijumpai di hutan pantai Trianggulasi. Induk macan tutul jawa sempat terlihat sedang bersama seekor anakan yang rambutnya masih didominasi warna kehitaman. Sesuai perilaku macan tutul jawa, anakan diasuh oleh induk betina meskipun pada beberapa kasus pernah didapati adanya pejantan yang ikut merawat anaknya. Guggisberg (1975) mengatakan bahwa anakan akan mengikuti induknya selama satu hingga dua tahun apabila sang induk tidak dikawini atau bunting lagi.

A.7. Mencakar di pohon

Tinggi cakaran yang ditemukan adalah 130 cm dari permukaan tanah. Macan tutul jawa melakukan aktivitas mencakar di pohon untuk melakukan penandaan di daerah kekuasaannya. Aktivitas ini juga berguna untuk mengasah kuku-kukunya yang memiliki kemampuan untuk dikeluar masukkan sesuai fungsi yang dibutuhkan dan kondisi yang dihadapi. Kuku-kuku tua yang telah rusak akan terbuang dan terbaharui kembali.

Scratch yang ditemukan merupakan scratch yang sudah lama. Hal ini dapat diketahui dari kondisi luka pada kulit pohon yang sudah kering. Proses pencakaran juga dilakukan tidak hanya sekali, melainkan terjadi perulangan pada waktu yang berbeda. Informasi ini diperoleh dari adanya perbedaan tingkat pemulihan kondisi kulit pohon. Terdapat bekas luka cakaran yang masih terbuka lebar, namun ada juga bekas cakaran yang sudah hampir tertutup oleh aktivitas kambium.

Gambar 10. Scratch macan tutul jawa: a. Scratch macan tutul jawa di Brobos, b. Sketsa posisi tubuh ketika mencakar pohon, c. Sketsa penggunaan cakar depan ketika mencakar pohon.

A.8. Bersuara

Aktivitas bersuara yang dimaksud adalah perilaku menggeram dari macan tutul jawa. Geraman terdengar serak, rendah, namun kuat. Hal ini sesuai dengan pendapat Garman (1997) yang mengatakan bahwa macan tutul tidak termasuk dalam keluarga kucing yang mengaum. Suara macan tutul jawa terdengar seperti batukan yang kasar.

c

35

Dari data tentang aktivitas bersuara yang di dapat, semuanya berada di hutan dataran rendah-bambu. Sumber suara berada di balik rumpun bambu yang relatif tertutup dan terlindung. Macan tutul jawa bersuara apabila merasa terganggu ataupun gusar. Macan tutul jawa juga bersuara ketika kawin dan bertarung.

Gambar 11. Tempat terdengar suara macan tutul: a. Vegetasi bambu di Jalur Pengamatan Burung, b. Vegetasi bambu di Motolele, c. Vegetasi bambu di atas Gua Istana.

Dokumen terkait