• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Jumlah Penduduk

Dalam dokumen Hukum Otonomi Daerah Pemekaran Wilayah S (Halaman 99-115)

BAB II DIMENSI TEORITIK

3.4. Faktor Potensi Daerah

3.4.10. Faktor Jumlah Penduduk

Penduduk merupakan unsur penting karena merupakan syarat utama dalam membentuk pemerinta- han, karena penduduk merupakan pendukung terse- lenggaranya pemerintahan di daerah. Jumlah penduduk sangat mempengaruhi kebijakan pemerintah daerah dalam hal ketersediaan pangan, papan, kesehatan, pen- didikan, transportasi dan lain sebagainya. Kondisi demi- kian sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk,

baik kelahiran, kematian, maupun migrasi penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Selanjutnya mengenai keadaan penduduk Kabupaten Bulungan sebagai kabupaten induk tergambar dalam Tabel 17.

Tabel 17.

Indikator Jumlah Penduduk77

Indikator Sub Indikator

Calon Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Bulungan Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk 9.252 94.906 Rasio Jumlah Penduduk Urban Terhadap Penduduk 0,55 0,47 Jumlah Penduduk Perkotaan 5.116 45.076

Berdasarkan data kependudukan sebagaimana tertera dalam tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk calon Kabupaten Tana Tidung tergolong kecil dan belum memenuhi persyaratan yang diatur di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2000. Di samping itu dapat dikemukakan pula bahwa perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) di calon Kabupaten Tana Tidung lebih tinggi dibandingkan perpindahan penduduk yang sama di Kabupaten Bulungan. Memperhatikan informasi kepen- dudukan sebagaimana terurai dalam tabel tersebut dapat

dikatakan bahwa pemekaran Kabupaten Tana Tidung belum memenuhi syarat kependudukan sebagaimana telah dipersyaratkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik IndonesiaNomor 129 Tahun 2000 tersebut.

3.4.11. Faktor Luas Daerah

Faktor luas daerah merupakan unsur wilayah yang menjadi wewenang calon Kabupaten Tana Tidung dan wilayah yang menjadi kewenangan Kabupaten Bulungan. Faktor wilayah sekaligus sebagai unsur pendukung penyelenggaraan pemerintahan yang dengan faktor ini memungkinkan pemerintah melakukan pelayanan terhadap masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dapat diperoleh data bahwa luas keseluruhan wilayah calon Kabaupaten Tana Tidung mencapai 4.828,58 Km2, yang terdiri atas 3 (tiga)

kecamatan, yaitu Kecamatan Sesayap, Kecamatan Sesa- yap Hilir, dan Kecamatan Tana Lia. Sedangkan untuk Kabupaten Bulungan luas wilayah keseluruhan mencapai 18.010,50 Km2, yang terdiri atas 13 Kecamatan.

Selanjutnya mengenai data luas daerah tersebut tercan- tum dalam tabel berikut di bawah ini.

Tabel 18.

Indikator Luas Wilayah/Daerah78

Indikator Sub Indikator

Calon Kabupaten Tana Tidung

Kabupaten Bulungan

Luas Daerah Luas Wilayah Keseluruhan

4.828,52 Km2 18.010,50 Km2

Indikator Sub Indikator Calon Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Bulungan Luas Wilayah Efektif 1.448,56 Km2 7.024,20 Km2

Memperhatikan luas wilayah sebagaimana dapat dilihat dalam tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa luas wilayah Kabupaten Bulungan jauh lebih luas diban- dingkan dengan luas wilayah calon Kabupaten Tana Tidung. Hal ini berarti bahwa potensi sumber daya alam yang dimiliki oleh Kabupaten Bulungan sangat besar guna mendukung penyelenggaraan pemerintahan, teru- tama potensi sumber mineral dan batu baranya.

3.4.12. Faktor Pertimbangan Lain

Pertimbangan lain sebagai persyaratan pembentu- kan daerah otonom baru menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2000, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 huruf g adalah pertimbangan- pertimbangan bagi terselenggaranya otonomi daerah, seperti keamanan dan ketertiban, ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan, dan rentang kendali.

Indikator keamanan dan ketertiban merupakan pendudukung utama bagi terselenggaranya pemerinta- han, untuk itu keamanan dan ketertiban harus mempe- roleh perhatian secara sungguh-sungguh. Secara teoritis, rendahnya tingkat keamanan dan ketertiban masyarakat dapat diindikasikan dari banyaknya kriminalitas di da- erah itu, seperti pencurian, pembunuhan, perkosaan,

perampokan di laut, penculikan, peni-puan, dan tindak kriminal lainnya. Sebaliknya semakin rendah tindak pidana yang terjadi daerah tersebut, maka dapat dika- takan semakin baik tingkat keamanan dan ketertiban daerah tersebut. Selanjutnya mengenai informasi kea- manan dan ketertiban dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 19.

Indikator Keamanan Dan Ketertiban

Sub Indikator Calon Kabupaten Tana

Tidung Kabupaten Bulungan Rasio Angka Kriminalitas Per 10.000 Penduduk 3,24 18,23 Jumlah Penduduk 9252 94906 Jumlah Angka Kriminalitas 3 173

Memperhatikan data informasi angka kriminalitas dalam tabel di atas, dapat dinyatakan bahwa angka kriminalitas di Kabupaten Bulungan sangat tinggi, sedangkan dicalon Kabupaten Tana Tidung rendah, hal ini tentunya sebanding dengan tingkat jumlah penduduk di masing- masing daerah tersebut. Namun yang pasti bahwa tingkat kriminalitas di calon Kabupaten Tana Tidung sangat rendah, dengan demikian tingkat keamanan dan ketertibanya lebih terjamin. Mengenai ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan dimaksud-kan sebagai pendukung terselenggaranya pemerintahan di masing-masing kabupaten, diharapkan dengan sarana pemerintahan yang memadai, maka penyelenggaraan

pemerintahan dan pelayanan masyarakat dapat dilakukan dengan lebih baik. Rasio yang dihitung adalah ketersediaan gedung pemerintahan yang ada terhadap kebutuhan minimal gedung pemerintahan, dan juga rasio lahan yang ada terhadap kebutuhan lahan untuk sarana prasaran pelayanan masyarakat. Selanjutnya mengenai ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan terlihat dalam tabel di bawah berikut ini.

Tabel 20.

Indikator Sarana Dan Prasana Pemerintahan79

Sub Indikator Calon Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Bulungan

Rasio gedung yang ada terhadap kebutuhan minimal gedung

0,74 0,95

Jumlah Gedung Yang Ada 31 258 Kebutuhan Gedung 42 270 Rasio Lahan yang ada Terhadap

Kebutuhan Lahan

1,20 1,32

Jumlah Lahan Yang Ada (Ha) 20,4 281,16 Kebutuhan Lahan Untuk Sarana

Prasarana Pemerintahan

17 213

Berdasarkan data yang terdapat dalam tabel terkait dengan rasio kebutuhan gedung dan ketersediaan gedung, serta kebutuhan lahan dan ketersediaan lahan sebagai sarana prasarana penyelenggaraaan pemerin- tahan dapat disimpulkan lahan yang tersedia sangat mencukupi untuk pembangunan gedung guna meningkatkan sarana prasarana penyelenggaraan peme- rintahan.

Aspek lain terkait dengan faktor pertimbangan lain sebagai persyaratan pembentukan daerah otonom baru adalah “rentang kendali”, yang dimaksudkan adalah jarak tempuh dan waktu tempuh. Faktor ini merupakan salah satu faktor penting yang menjadi pertimbangan daerah otonom baru, semakin jauh jarak tempuh antara daerah kecamatan ke pusat pemerintahan kabupaten akan semakin menimbulkan kesenjangan terhadap pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat, di samping itu kontrol terhadap daerah yang bersangkutan juga dirasakan semakin sulit.

Sebaliknya semakin dekat jarak tempuh dan semakin pendek jarak tempuh dari kecamatan ke kabupaten akan menyebabkan perhatian atau kontrol pemerintah, dan pemerataan pembangunan serta pelayanan terhadap masyarakat semakin mudah. Faktor pertimbangan lain yang diperlukan bagi pembentukan daerah otonom baru tersebut terdiri atas indikator rentang kendali dan faktor keamanan dan ketertiban. Rentang kendali menyangkut kemampuan pemerintah dalam memberikan layanan masyarakat dan pengendalian pemerintahannya yang diprioritaskan pada faktor jarak tempuh dan waktu tempuh. Selanjutnya untuk memahami lebih jauh mengenai faktor lain dalam bentuk rentang kendali yang menjadi salah satu pertimbangan dalam pembentukan Kabupaten Tana Tidung dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 21.

Indikator Rentang Kendali80

Sub Indikator Calon Kabupaten

Tana Tidung

Kabupaten Bulungan

Rata-rata Jarak Dari Kecamatan ke Pusat Pemerintahan Kabupaten Induk (Km)

180 212,4

Rata-rata Waktu Tempuh Dari Kecamatan ke Pusat Pemerintahan

Kabupaten/Kota (Jam)

3 3,54

Berdasarkan data yang terdapat dalam tabel di atas, maka dapat dikemukakan bahwa rata-rata waktu tempuh dan jarak tempuh dari masing-masing kecamatan ke kota calon Kabupaten Tana Tidung adalah 180 Km dengan waktu tempuh rata-rata 3 Jam dengan asumsi kecepatan rata-rata 60 km/jam, sedangkan jarak tempuh dari masing-masing kecamatan ke kota Kabupaten Bulungan adalah 212,4 km dengan lamanya waktu tempuh rata-rata sekitar 3,54 jam.

Persyaratan skor yang ditentukan bagi pendirian daerah otonom baru atau syarat kelulusan pendirian daerah otonom baru menurut Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 adalah 2.995. Berdasarkan analisis tim peneliti dan penilai persyaratan administratif bagi pembentukan calon Kabupaten Tana Tidung disimpul- kan hanya mencapai skor 1.915, sedangkan total skor untuk Kabupaten Bulungan adalah 3.060. Dengan demi-

kian mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000, skor yang dicapai calon Kabupaten Tana Tidung belum mencapai syarat kelulusan untuk dibentuk sebagai daerah otonom baru.81

Untuk memahami gambaran lengkap mengenai hasil penilaian tim terkait persiapan pembentukan Kabupauten Tana Tidung yang diwujudkan dalam skor yang diperoleh dari semua penilaian indikator persyaratan pembentukan daerah otonom baru yang dicapai oleh calon Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan dapat dilihat pada Rekapitulasi Perhitungan Skor Calon Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Bulungan, sebagai berikut.

81 Kelengkapan Administrasi Pemekaran Kabupaten Tana Ti-

dung, Presidium Daerah Pembentukan Kabupaten Tana Tidung Pro- vinsi Kalimantan Timur.

Tabel 22.

Rekapitulasi Keseluruhan Perhitungan Skor Calon Kabupaten Tana Tidung Dan Kabupaten Bulungan82

No Sub Indikator Bobot

Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan

Kriteria Kemampuan Ekonomi PDRB 1 PDRB Per kapita 25 2 6 50 150 2 Pertumbuhan Ekonomi 25 1 6 25 150 3 Kontribusi PDRB Terhadap PDRB Total 25 1 6 25 150

Penerimaan Daerah Sendiri 4 Rasio Penerimaan

Daerah Sendiri Terhadap Pengekaran Rutin

25 1 6 25 150

5 Rasio Penerimaan Daerah Sendiri Terhadap PDRB

25 1 6 25 150

Sub Total Kemampuan Ekonomi 150 750 Potensi Daerah

Lembaga Keuangan

6 Rasio Bank per 10.000 20 1 4 20 80

No Sub Indikator Bobot Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan Penduduk

7 Rasio Bukan Bank per 10.000 Penduduk

20 3 4 60 80

Sarana dan Prasarana Ekonomi 8 Rasio Kelompok

Pertokoan Per 10.000 Penduduk

20 3 4 60 80

9 Rasio Pasar Per 10.000 Penduduk

20 4 3 80 60

Sarana Pendidikan

10 Rasio Sekolah Dasar Per Usia SD

20 4 3 80 60

11 Rasio SLTP Per Usia SLTP

20 4 3 80 60

12 Rasio SLTA Per Usia SLTA

20 4 3 80 60

13 Rasio Penduduk Usia PT Per Usia 19 Th ke atas

20 1 5 20 100

Sarana Kesehatan

14 Rasio Fasilitas Kesehatan per 10.000 Penduduk

No Sub Indikator Bobot Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan

15 Rasio Tenaga Medis per 10.000 Penduduk

20 3 4 60 80

Sarana Transportasi dan Komunikasi 16 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Kendaraan Bermotor Roda 2/3 20 4 3 80 60 17 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Kendaraan Bermotor Roda 4 atau lebih atau Perahu Motor

20 4 3 80 60

18 Persentase Pelanggan Telepon Terhadap Jumlah Rumah Tangga

20 1 4 20 60

19 Persentase Pelanggan Lisrik Terhadap Jumlah Rumah Tangga

20 4 3 80 60

20 Persentase Kantor Pos Terhadap per 10.000 Penduduk

No Sub Indikator Bobot Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan

21 Rasio Panjang Jalan terhadap Jumlah Kendaraan bermotor 20 2 6 40 120 Sarana Pariwisata 22 Jumlah Hotel/Akomodasi 20 1 5 20 100 23 Jumlah Restoran/Rumah Makan 20 1 6 20 120

24 Jumlah Objek Wisata 20 2 5 40 100 Ketenagakerjaan

25 Persentase Pekerja yang Minimal SLTA 20 3 4 60 80 26 Tingat Partisipasi Angkatan Kerja 20 3 4 60 80 27 Persentase Penduduk Yang Bekerja 20 4 80 60 28 Rasio PNS terhadap Jumlah Penduduk 20 3 4 60 80 Sub Total 1360 1740 Sosial Budaya Tempat Peribadatan

No Sub Indikator Bobot Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan 29 Rasio Sarana Peribadatan Per 10.000 Penduduk 10 4 3 40 30

Tempat Kegiatan Institusi Sosial 30 Rasio Tempat

Pertunjukan Seni per 10.000 Penduduk

10 4 1 40 10

31 Rasio Panti Sosial per 10.000 Penduduk

10 1 4 10 40

Sarana Olah Raga

32 Rasio Fasilitas Lapangan Olah Raga per 10.000 Penduduk

10 6 1 60 10

Sub Total Indikator Sosial Budaya 150 90 Sosial Politik

33 Rasio Penduduk Yang Ikut Pemilu terhadap Yang Memiliki Hak Pilih

10 3 4 30 40

Organisasi Kemsyarakatan 34 Jumlah Organisasi

Kemsyarakatan

No Sub Indikator Bobot Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan

Sub Total Indikator Sosial Politik 40 100 Jumlah Penduduk

35 Jumlah Penduduk 15 1 6 15 90 36 Rasio Jumlah Penduduk

Urban terhadap Jumkah Penduduk

15 4 3 60 45

Sub Total Indikator Jumlah Penduduk 75 135 Luas Daerah

37 Luas Wilayah Keseluruhan

15 1 6 15 90

38 Luas Wilayah Yang Dimanfaatkan

15 1 6 15 90

Luas Sub Total Indokator Luas Wilayah 30 180 Keamanan dan Ketertiban

39 Angka Kriminalitas Per 10.000 Penduduk

5 6 1 30 5

Pertimbangan Lain

Ketersediaan Sarana Prasarana Pemerintahan 40 Rasio Gedung Terhadap

Kebutuhan Minimal Gedung Pemerintah

No Sub Indikator Bobot Skor Jumah Calon KTT Kab. Bulungan Calon KTT Kab. Bulungan

41 Rasio Lahan terhadap Kebutuhan Minimal Lahan Sarpras

5 3 4 15 20

Rentang Kkendali

42 Rata-rata Jarak Tempuh Ke Pusat Pemerintahan 5 4 3 20 15 43 Rata-rata Waktu Perjalanan dari Kecamatan Ke Pusat Pemerintahan 5 6 1 30 5

Sub Total Pertimbangan Lain 110 65

Berdasarkan tabel rekapitulasi tersebut dapat diketahui bahwa skor total persyaratan administratif calon Kabupaten Tana Tidung adalah 1915 dan untuk Kabupaten Bulungan adalah 3.060. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabu- ngan Daerah, bahwa minimal skor yang harus dicapai adalah 2.995, namun calon Kabupaten Tana Tidung hanya mencapai skor 1.915, yang berarti skornya jauh dari mencukupi syarat dibentuknya daerah otonom baru.

3.5. Landasan Pembentukan Kabupaten Tana Tidung

Dalam dokumen Hukum Otonomi Daerah Pemekaran Wilayah S (Halaman 99-115)

Dokumen terkait