DAFTAR LAMPIRAN
3.4 Analisis Data
3.4.1 Teknik penangkaran jalak bal
3.4.1.5 Faktor keberhasilan
Untuk mengetahui faktor penentu keberhasilan penangkaran burung jalak bali di MBOF dapat dilakukan perhitungan presentase daya tetas telur yaitu:
a. Presentase daya tetas telur:
Keterangan:
∂ = ∑ telur yang menetas β = ∑ total telur ditetaskan
%P = G0-G1 x 100% G0
∂ x 100 % . β
∑ konsumsi suatu pakan
∑ konsumsi pakan keseluruhan x %PK
∑ konsumsi suatu pakan ∑ konsumsi pakan keseluruhan
b. Tingkat perkembangbiakan dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut:
t Tt Keterangan:
t = ∑ induk yang berkembangbiak Tt =∑ induk keseluruhan
c. Persentase angka kematian tiap kelas umur: M
Mt Keterangan:
M = ∑ anak yang hidup tiap kelas umur ke–i Mt = ∑ total anak yang hidup tiap kelas umur ke–i
Kriteria yang digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan penangkaran di MBOF yaitu:
0 – 30 % = rendah 30 – 60 % = sedang 60 – 100% = tinggi
3.4.2 Perhitungan Koefisisen Inbreeding
Rumus yang digunakan terdiri dari beberapa formula:
3.4.2.1Perhitungan koefisien kekerabatan adalah :
Keterangan :
R = koefisien kekerabatan
n = Jumlah anak panah dari setiap jalur.
Salah satu cara untuk menghitung koefisien inbreeding yaitu dengan menggunakan diagram panah. Pembuatan diagram panah setiap individu pada kedua silsilah tersebut dimasukan sekali pada diagram panah walaupun pada kenyataannya individu-individu tersebut muncul beberapa kali (Noor 1996). Contoh perhitungan koefisien inbreeding:
R = ∑( 1/2 )n x 100 %
Langkah- langkah untuk menghitung koefisien inbreeding suatu individu X (Fx) sebagai berikut (Nurana 1989):
Langkah 1 : Merunut dan menggambarkan asal usul nenek moyangnya sampai tidak diketahui atau sampai nenek moyangnya berasal dari alam. Jika dalam salsilah tidak ada kawin dengan keluarga berarti koefisisen
inbreeding X (Fx) = 0.
Langkah 2 : Menentukan koefisien nenek moyang yang sama (Fc). Koefisien
inbreeding nenek moyang harus dihitung sebelum menghitung koefisien inbreeding X (Fx). Cara perhitungan koefisien inbreeding
nenek moyang sama dengan perhitungan koefisien inbreeding
individu X (langkah 4 dan 5).
Langkah 3 : Memperhatikan aliran gen pada gambar silsilah
Langkah 4 : Menghitung koefisien inbreeding masing-masing. Aliran gen dengan rumus:
F = ½ ∑ (1/2)n
(1+Fc)
Langkah 5 : Koefisien individu X adalah jumlah koefisien masing-masing aliran gen.
Contoh perhitungan koefisien inbreeding X pada silsilah seperi pada gambar 10.
(a) (b)
Gambar 10 (a) Silsilah suatu individu X; (b) aliran gen individu X.
D E X A B A A C D E X
Langkah 1 : Gambar 10 B memperlihatkan bahwa X mempunyai nenek moyang yang sama yaitu A berati memilki koefisien inbreeding X (Fx) lebih dari nol.
Langkah 2 : Karena nenek moyang A tidak diketahui diasumsikan nenek moyang A tidak ada yang kawin dengan keluarga berarti koefisien inbreeding
A (Fc) = 0.
Langkah 3 : Berdasarkan silsilah ada satu jalur yang menghubungkan individu S dan D melalui A yang memilki dua anak panah (gambar 1 B) yaitu D-A-E dan n = 2. Nilai koefisien inbreeding individu X dapat dilihat pada tabel 5.
Langkah 4 : Perhitungan koefisien inbreeding pada individu X Tabel 5 Nilai perhitungan koefisien inbreeding pada individu X
Lintasan Fc N Koefisien inbreeding
X-D-A-E-X 0,00 2 1/2∑ (1/2)2 (1+0,00) = 0.125
Langkah 5 : karena hanya terdapat satu lintasan gen maka koefisien inbreeding X (fx) = 0,125.
3.4.2.2Perhitungan koefisisen inbreeding
Perhitungan koefisien silang dalam (Inbreeding) pada dasarnya adalah mengalikan koefisien kekerabatan dengan ½. Rumus untuk mengukur koefisien silang dalam adalah (Noor 2008):
Keterangan :
F = koefisien silang dalam (inbreeding)
3.4.2.3Koefisien inbreeding jika tetua bersama inbreed
Koefisien kekerabatan dan koefisien silang dalam yang dipengaruhi oleh silang dalam dapat juga terjadi pada tetua bersama. Rumus dasar untuk menghitung koefisien silang dalam dapat dimodifikasi jika tetua bersamanya juga
inbreed. Rumus yang telah dimodifikasi adalah (Noor 2008):
Keterangan:
Fc = koefisien silang dalam tetua bersama.
F= ½ ∑ (1/2)n
F = ½ ∑ (1/2)n
3.4.2.4Silang dalam pada satu atau dua individu yang berkerabat
Silang dalam pada satu atau kedua individu yang berkerabat cenderung mengurangi kekerabatan antara kedua individu tersebut. Silang dalam mengakibatkan individu-individu tersebut lebih homozigot yang berakibat menurunkan genotip. Jadi pada dasarnya hal ini akan mengurangi peluang kedua individu memilki gen-gen yang sama sebesar rataan kedua koefisien silang dalam. Rumus untuk menghitung koefisisen kekerabatan pada kasus ini (Noor 2008) adalah :
Keterangan :
Rxy = koefisien kekerabatan antara individu X dan Y
n = jumlah generasi dari individu X dan Y sampai pada moyang bersama Fx = koefisien silang dalam individu X
Fy = koefisien silang dalam individu Y 3.4.3 Karakterisrik Morfologi
Penelaahan karakteristik morfologi (genetik) dilakukan tehadap lima pasang jalak bali yang ada di penangkaran (generasi F1). Data karakteristik morfologi yang dianalisis berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif ditabulasikan ke dalam tabel dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif yang terkumpul ditabulasi dan dihitung nilai rataan dan simpangan bakunya selanjutnya dilakukan pengujian perbandingan nilai rataan dengan uji t- student menggunakan software SPSS untuk menentukan adanya perbedaan antar jenis kelamin (jantan dan betina). Selain itu, juga dilakukan perbandingan terhadap pengukuran morfologi kuantitatif yang telah dilakukan di MBOF dengan pengukuran morfologi yang terdahulu secara deskriptif untuk menentukan ada tidaknya inbreeding depression karena terjadinya penurunan dari sifat-sifat morfologinya.
Kriteria uji menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Pengujian terhadap hubungan antara parameter yang diukur dan diamati menggunakan hipotesis sebagai berikut:
Rxy = ∑ (1/2)n(1+Fa) √(1+Fx)(1+Fy)
H0 = tidak ada perbedaan morfologi kuantitatif yang nyata antara jenis kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF
H1 = ada perbedaan morfologi kuantitaif yang nyata antara jenis kelamin jantan dan betina jalak bali di MBOF
Pengambilan keputusan atas hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
Jika t hitung > dari t tabel, maka tolak H0 Jika t hitung < dari t tabel, maka terima H0
4.1 Sejarah Kawasan
Penangkaran Mega Bird Farm didirikan pada tahun 1996 berdasarkan hobi pengelola dalam memelihara burung khususnya burung-burung berkicau dan burung jalak bali (Leucopsar rothschildi). Pada tahun 2010, lokasi ini berganti nama menjadi Mega Bird and Orchid Farm (MBOF) yang kemudian disahkan dan diakui oleh pemerintah berdasarkan pada Surat Keputusan Direktorat Jenderal PHKA No. SK. 22/IV-SET/2010 tentang pemberian izin penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) yang dilindungi oleh undang-undang dan Surat Keputusan BBKSDA Jawa Barat No. SK. 164/BBKSDA-JABAR-1/2010 tentang pemberian izin penangkaran burung yang tidak dilindungi oleh undang-undang serta pada tahun 2011 pemerintah juga telah mengeluarkan surat keputusan melalui Direktorat Jenderal PHKA dengan No. SK. 22/IV-SET/2011 tentang izin usaha penangkaran burung (aves) yang dilindungi oleh undang-undang.
4.2 Tujuan dan Manfaat
Mega Bird and Orchid Farm memiliki tujuan untuk kegiatan konservasi (pelepas-liaran ke alam) dan untuk tujuan ekonomi. Selain itu, penangkaran ini juga memiliki manfaat antara lain:
a. Untuk kegiatan pendidikan dan penelitian
b. Menjaga jenis-jenis dilindungi dari ancaman kepunahan
c. Mengembangbiakkan jenis-jenis dilindungi di luar habitat aslinya dengan tetap menjaga kemurnian genetiknya.
4.3 Letak dan Luas Kawasan
Secara administratif, MBOF terletak di Desa Cijujung Tengah, RT. 05/ RW. 04, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi tersebut memiliki luas total sebesar 23.500 m2 yang terdiri dari luas bangunan sebesar 10.000 m2 dan luas pekarangan sebesar 13.500 m2. Berikut lokasi MBOF pada Gambar 11.
Gambar 11 Lokasi Mega bird and Orchid Farm.
4.4 Kondisi Biologi
Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di penangkaran MBOF antara lain pohon rambutan (Nephelium lappaceum), jambu air (Syzygium aqueum), mangga (Mangifera indica), jambu biji (Psidium guajava), pisang (Musa sp.), dan pepaya (Carica papaya). Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Beberapa jenis burung yang ditangkarkan di MBOF
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Daerah Asal
1 Jalak bali Leucopsar rothschildi Endemik Bali Barat
2 Cucak rawa Pycnonotus zeylanicus Jawa, Sumatera, Kalimantan 3 Gelatik jawa Padda oryzivora Jawa, Bali, P. Kangean 4 Beo nias Gracula religiosa Jawa, Bali, Sumatera 5 Cendrawasih merah Paradisaea rubra P. Bantana, Gemien, Saonek 6 Cendrawasih kuning kecil Paradisaea minor Papua bag. Utara dan bag. Barat 7 Rangkong badak Buceros rhinoceros Sumatera, Kalimantan, Jawa 8 Kuau raja Argusianus argus Sumatera, Kalimantan 9 Kakatua raja Probosciger atterimus P. Misool, Kep. Aru 10 Merak hijau Pavo muticus Jawa
11 Merak biru Pavo cristatus Bangladesh, India, Nepal 12 Mambruk victoria Goura victoria P. Yapen, P. Biak
4.5 Struktur Organisasi dan Kepegawaian
Mega Bird and Orchid Farm secara keseluruhan dipimpin oleh seorang direktur (Drs. Megananda Daryono, MBA) yang dibantu oleh seorang manajer (Supriyanto Akdiatmojo) dan seorang asisten manajer (Hari Dimas Prayogo), serta pegawai sebanyak 14 orang. Selain itu, untuk menjaga keamanan di lokasi tersebut, pengelola menggunakan tenaga keamanan sebanyak enam orang.
4.6 Aksesibilitas
Mega Bird and Orchid Farm terletak tidak jauh dari pusat kota Bogor. Lokasi ini dapat dicapai dari terminal Baranang Siang yang memiliki jarak + 12,5 km dengan waktu tempuh + 1,5 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 45 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, lokasi ini juga dapat dicapai dari arah Kampus IPB Darmaga yang memiliki jarak + 12 km dengan waktu tempuh + 1 jam jika menggunakan angkutan umum dan + 30 menit jika menggunakan kendaraan pribadi.
5.1 Teknik Penangkaran
Secara umum beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa sangat menentukan keberhasilan suatu jenis satwa. Aspek teknik penangkaran tersebut diantaranya adalah sejarah penangkaran jalak bali, jumlah populasi jalak bali dipenangkaran, jenis penyakit dan perawatan kesehatan, manajemen pakan, sistem perkandangan, teknik reproduksi, dan faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di MBOF. Penjelasan secara lengkap mengenai pengelolaan aspek teknik penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi) di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pihak pengelola disajikan berikut ini.
5.1.1 Sejarah penangkaran
Jalak bali di penangkaran MBOF dimulai pada tahun 1996. Pada awalnya jalak bali yang ada di penangkaran MBOF hanya berjumlah tiga pasang yang berasal dari sumbangan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Setelah itu, populasi jalak bali semakin bertambah dengan adanya sumbangan-sumbangan dari pencinta burung dan membeli dari penangkar burung berkicau serta membeli jalak bali dari penangkap burung di alam. Jalak bali hasil sumbangan dan perdagangan tersebut dijadikan sebagai indukan (F0). Perbanyakan jalak bali juga dilakukan dengan cara menjodohkan jalak bali yang ada sehingga dapat berkembang biak.
Pada awalnya pemilik penangkaran membuat penangkaran burung hanya untuk dijadikan hiburan dan hobi, namun karena kecintaannya pada burung- burung berkicau termaksuk jalak bali pemilik penangkaran menangkarkan burung-burung berkicau tersebut. Hingga saat ini penangkaran MBOF yang terletak di daerah Cijujung Bogor semakin berkembang dengan menambah banyak jenis-jenis yang baru.
Penangkaran MBOF memilki tujuan konservasi dan ekonomi. Pada tahun 2009, penangkaran Mega Bird and Orchid Farm telah menyumbangkan dua pasang jalak bali ke Nusa Penida (Bali) bekerjasama dengan APCB (Asosiasi Pelestari Curik Bali) dan Taman Safari I Cisarua, Bogor. Pelepasan ke alam
dilakukan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 2009. Selain itu, jalak bali yang ada di penangkaran hingga saat ini dilakukan transaksi perdagangan secara legal yang telah mendapatkan persetujuan dari Kementrian Kehutanan.
Asal usul bibit jalak bali di MBOF pada dasarnya merupakan hasil breeding
dari Taman Safari I Cisarua, Bogor dan para pecinta burung. Kelebihan bibit jalak bali yang berasal dari hasil penangkaran memiliki tubuh yang sehat karena pakan yang dikonsumsi memilki kandungan gizi yang sesuai dan adanya pengaturan dalam pemberian pakan, kebutuhan akan protein, lemak, karbohidarat, vitamin, dan mineral terpenuhi. Silsilah bibit jalak bali di MBOF tidak diketahui secara pasti karena tidak adanya buku silsilah (studbook) di penangkaran tersebut, sehingga untuk mengetahui silsilah jalak bali hanya melalui wawancara kepada pengelola.
5.1.2 Populasi jalak bali di penangkaran
Populasi jalak bali di MBOF sampai pada bulan Oktober tahun 2011 berjumlah 91 ekor yang meliputi jenis kelamin dan kelas umur sebagai berikut (Tabel 7).
Tabel 7 Populasi jalak bali tahun 2011 berdasarkan jenis kelamin dan kelas umur
Kelas umur Jenis kelamin Jumlah Keterangan
0 – 2 bulan - 15 ekor Anakan
2 – 5 bulan - 30 ekor Anakan
5 – 12 bulan - 10ekor Anakan
1 – 2 tahun - - -
2 – 3 tahun 6 jantan,6 betina 12 ekor - 3 – 4 tahun 7 jantan, 7 betina 14 ekor Indukan (F1) 4 – 5 tahun 5 jantan, 5 betina 10 ekor Indukan (F0)
Berdasarkan tabel 7 populasi jalak bali paling banyak berada pada usia anakan (0 – 12 bulan) hal ini dikarenakan setiap bulan jalak bali di penangkaran MBOF mampu berkembangbiak sebanyak 8 – 12 kali dalam satu tahun dengan jumlah telur yang dihasilkan 2 – 3 telur. Namun, yang dapat tumbuh dengan baik hanya sekitar 1 – 2 ekor. Jalak bali pada usia 1 – 2 tahun tidak terdapat di penangkaran karena pada kelas umur tersebut jalak bali sudah siap untuk dijual kepada para penghobi burung kecuali jalak bali yang dipersiapkan untuk menjadi indukan. Tujuan pembuatan penangkaran MBOF ini adalah dengan tujuan konservasi dan tujuan ekonomi sehingga sudah banyak jalak bali yang
diperjualbelikan dengan mendapatkan ijin dari Menteri Kehutanan. Berikut grafik populasi jalak bali dalam lima bulan terakhir di MBOF (Gambar 12).
Gambar 12 Pertumbuhan populasi jalak bali di MBOF selama lima bulan terakhir tahun 2011.
Pada tahun 2011, populasi dan tingkat keberhasilan jalak bali meningkat ditandai dengan adanya peningkatan terhadap jumlah populasi jalak bali setiap bulan. Berdasarkan grafik dapat diketahui bahwa dalam satu bulan populasi jalak bali bertambah 8 – 11 ekor. Pada tahun 2011 populasi jalak bali di MBOF lebih meningkat. Hal ini dikarenakan pada tahun ini adanya indukan-indukan baru yang merupakan generasi F1 atau hasil perkawinan indukan sebelumnya.
5.1.3 Sistem perkandangan
Salah satu aspek penting dari usaha penangkaran satwa adalah kandang yang berfungsi sebagai habitat buatan (artificial habitat) atau tempat hidup satwa. Kandang sebagai tempat hidup satwa harus memenuhi semua kebutuhan hidup satwa seperti luas yang cukup untuk pertumbuhan hidup satwa, suhu, kelembaban serta sirkulasi udara yang cukup dan tersedianya komponen penunjang lainnya seperti tempat berlindung, bertengger, dan berkembangbiak serta terjaga sanitasinya dari serangan penyakit.
Penyediaan habitat buatan sebagai tempat hidup di penangkaran jalak bali menjadi salah satu prasyarat penting yang harus dipersiapkan sebelum pengembangan penangkaran. Habitat tersebut yaitu berupa kandang dan komponen pendukung dalam kandang. Kandang merupakan faktor utama dalam
faktor penentu keberhasilan penangkaran jalak bali di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm.
5.1.3.1Jenis, ukuran, dan konstruksi kandang
Jenis kandang jalak bali yang ada di penangkaran MBOF terbagi kedalam empat bagian yaitu kandang peraga, kandang kawin (indukan), kandang pemeliharaan, dan kandang inkubator (anakan atau piyik jalak bali). Berikut konstruksi dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF (Tabel 8).
Tabel 8 Jenis, konstruksi, dan ukuran kandang jalak bali di penangkaran MBOF.
Jenis kandang Kontruksi kandang ukuran kandang unit Jumlah (ekor)
Kandang peraga
Batako, kawat ram, kayu, pohon rambutan untuk angkringan
1m x 1,5 x 2m 3 3 – 6 Kandang
pemeliharaan
Berbentuk sangkar (triplek dan kayu)
40cm x 60cm x
40cm 6 – 15 2 – 4 Kandang
reproduksi
Batako,kawat ram, kayu, dan pohon palem untuk angkringan)
3 m x 1,5m x 3m 12 2
Inkubator Papan dan kayu 110cm x 47cm x
45cm 1 4 – 6
Kandang indukan (kandang reproduksi) jalak bali di penangkaran MBOF dibagi kedalam dua blok yaitu blok A dan blok B. Jalak bali yang berada dikandang blok A merupakan anak jalak bali generasi F1 yang sudah siap untuk bereproduksi (dewasa) sehingga dijadikan indukan dan diletakan pada kandang reproduksi, sedangkan kandang blok B merupakan jalak bali generasi F0 yang berasal dari sumbangan atau membeli dari tukang burung. Kandang indukan terletak pada bagian dalam, sedangkan kandang peraga dan kandang pemeliharaan terletak di bagian luar. Kandang indukan jauh lebih tetutup bila dibandingkan dengan kandang lainnya karena bertujuan untuk kelangsungan perkawinan pasangan-pasangan jalak bali. Selain itu, agar tidak terganggu oleh aktivitas manusia.
Jumlah unit kandang peraga sebanyak tiga buah yang terdiri dari tiga sampai dengan enam ekor, sedangkan pada kandang pemeliharan terdapat 6 – 15 kandang tergantung kebutuhan dan kandang tersebut dapat menampung 2 – 4 ekor jalak bali serta untuk inkubator tedapat satu buah unit. Kandang peraga terletak pada bagian depan penangkaran. Jalak bali pada kandang peraga ini adalah jalak
bali yang sudah tidak bereproduksi. Usia jalak bali ini berkisar antara dua sampai dengan tiga tahun. Berikut gambar kandang peraga di MBOF (Gambar 13).
Gambar 13 Kandang peraga jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) angkringan, (B) papan interpretasi, (C) pintu kecil, dan (D) pintu besar.
Kandang peraga yang ada di MBOF memiliki pintu yang cukup besar di bagian bawah yang berfungsi untuk memudahkan pengelola untuk mengganti air minum dan air mandi. Selain itu, untuk memudahkan dalam membersihkan kandang. Selain pintu yang besar, juga terdapat pintu yang sangat kecil terletak pada bagian tengah untuk memudahkan dalam memberi pakan jalak bali. Berikut gambar kandang reproduksi di MBOF (Gambar 14).
Gambar 14 Kandang reproduksi jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) pintu kecil, (B) pintu besar.
Kandang reproduksi dibuat sangat tertutup dan memiliki dua buah pintu yang terdiri dari satu pintu besar pada bagian bawah dan satu pintu kecil pada
A
B
C
D
A
B
bagian tengah. Fungsi pintu yang besar adalah untuk memudahkan pengelola dalam membersihkan kandang dan mengganti air mandi dan air minum, sedangkan fungsi pintu kecil adalah untuk mengganti pakan setiap harinya.
Kandang pemeliharaan terletak di bagian luar dan berbentuk sangkar- sangkar kecil yang cukup banyak. Kandang pemeliharaan ini diletakkan dengan cara digantungkan pada tiang besi dan pada malam hari dimasukan kedalam kantor. Kandang pemeliharaan hanya memiliki satu buah pintu untuk memasukan jalak bali kedalam kandang. Berikut gambar kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF (Gambar 15).
Gambar 15 Kandang pemeliharaan jalak bali di MBOF.
Inkubator digunakan untuk piyik-piyik jalak bali mulai dari 0 bulan sampai berusia 2 – 3 bulan. Terbuat dari papan dan kayu yang cukup kuat. Berikut gambar kandang inkubator jalak bali di MBOF (Gambar 16).
Gambar 16 Inkubator piyik jalak bali di MBOF, bagian kandang: (A) tiga buah jendela inkubator.
A
A
A
5.1.4.2Fasilitas kandang
Fasilitas yang harus ada didalam kandang yaitu tempat makan, tempat minum, tempat mandi, tempat angkringan (bertengger), tempat tertelur, dan lain- lain. Berikut fasilitas kandang sesuai dengan jenis kandang di penangkaran MBOF (Tabel 9).
Tabel 9 Jenis dan fasilitas kandang jalak bali di penangkaran MBOF
Jenis kandang Fasilitas Keterangan
Kandang peraga Tempat makan, minum dan mandi.
Pohon rambutan untuk angkringan - Kandang pemeliharaan Tempat makan, minum, dan kayu
untuk bertengger,
Mandi di luar kandang pemeliharaan (tempat mandi khusus)
Kandang reproduksi
Tempat makan, minum dan mandi. Pohon palem untuk angkringan (bertengger), kotak sarang untuk piyik atau temapat bertelur jalak bali
-
Inkubator Sarang burung, lampu (untuk
menghangatkan) -
Tempat pakan dan air pada kandang peraga dan reproduksi tebuat dari wadah plastik agar tidak mudah pecah bila terjatuh. Tempat makan diletakan di bagian tengah dekat dengan pintu utama dan dikaitkan pada kawat ram (dinding kandang) agar memudahkan dalam pemberian makan. Selain itu, pakan jalak bali juga ada yang digantung di kawat ram seperti pisang sedangkan tempat minum dan tempat mandi diletakan di bawah dengan menggunakan wadah plastik dengan ukuran yang cukup besar. Berikut gambar tempat makan dan tempat minum jalak bali di MBOF (Gambar 17).
Gambar 17 Tempat makan dan tempat minum sekaligus mandi jalak bali di MBOF.
Tempat makan dan minum pada kandang pemeliharaan juga terbuat dari wadah plastik dan digantung atau dikaitkan pada sela-sela kayu di dalam kandang pemeliharaan. Namun, tempat mandi kandang pemeliharaan di tempatkan terpisah dengan kandang. Setiap pagi dan sore jalak bali dikeluarkan untuk dimandikan di tempat mandi khusus. Hal ini dilakukan karena jalak bali yang ada didalam kandang pemelihaan ini belum cukup dewasa berkisar antara 3 – 7 bulan. Tempat bertengger atau angkringan dalam kandang dibuat dengan meletakan pohon rambutan dan pohon palem. Tempat bertelur atau kotak sarang pada kandang reproduksi di letakan 1,5 meter dari lantai kandang, terbuat dari papan berbentuk kotak. Berikut gambar kotak sarang jalak bali di MBOF (Gambar 18).
Gambar 18 Kotak sarang jalak bali di MBOF.
Tempat makan dan minum pada inkubator terbuat dari bahan alumunium. Makanan yang diberikan pada piyik jalak bali adalah pur yang diencerkan dengan air panas. Tempat makan dan minum tidak diletakan dalam kandang karena pada piyik jalak bali diberi makan dengan cara disuapi. Inkubator terletak didalam ruangan atau kantor penangkaran MBOF. Lampu dinyalakan setiap waktu agar suhu ruangan tetap hangat. Pada kandang inkubator terdapat beberapa jendela agar sirkulasi udara berjalan dengan baik.
5.1.3.3Pemeliharaan kandang
Perawatan kandang dimaksudkan untuk memelihara dan meningkatkan kondisi kandang dan fasilitasnya sedemikian rupa sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangbiakan jalak bali secara optimal. Perawatan kandang dilakukan dengan cara pembersihan kandang secara rutin. Pembersihan
kandang dilakukan setiap hari di pagi hari dan pergantian pakan dan air dilakukan setiap hari.
Menurut Masy’ud (2010), perawatan kandang juga dilakukan pada pohon atau tanaman tempat berteduh jalak bali agar tidak terlalu tinggi dan disesuaikan dengan keadaan ruang kandang. Beberapa jenis tanaman yang dapat ditanam dalam kandang antara lain murbei, kembang sepatu, palm, wijaya kusuma, dan lain-lain. Perawatan dapat dilakukan dengan memangkas atau memotong seperlunya. Saat pemangkasan atau pemotongan perlu diperhatikan masa kawin atau masa pengeraman telur untuk menghindari burung menjadi stress karena dapat berakibat negatif seperti gagal perkawinan, telur gagal menetas, bahkan kadang telur dimakan oleh induknya.
5.1.3.4Suhu dan kelembaban kandang
Secara keseluruhan, bentuk kandang jalak bali di MBOF berbentuk persegi panjang. Bentuk kandang persegi panjang paling banyak digunakan oleh penangkar jalak bali. Hal ini disebabkan dalam pembuatan kandang lebih mudah dan efektif. Selain itu, kandang jalak bali di MBOF memiliki atap yang sebagian tetutup asbes dan sebagian hanya tertutup oleh kawat ram, sehingga cahaya matahari dapat masuk kedalam kandang. Dengan demikian kandang dapat terhindar dari kelembaban yang mengundang berkembangbiaknya virus dan bakteri penyakit. Suhu di sekitar kandang dapat dilihat pada Gambar 19.
Suhu udara disekitar kandang jalak bali di MBOF pada pagi hari berkisar