• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

F. Berdasarkan Perhitungan Imbal Hasil:

8. Event Risk

2.1.8 Faktor Keuangan

Faktor Keuangan yang diukur dengan menggunakan rasio-rasio keuangan merupakan ekspektasi hubungan antara angka-angka laporan keuangan sehingga

dapat menghasilkan informasi yang lebih bermakna. Analisis rasio keuangan ini merupakan salah satu perwujudan ketentuan Statement of Finansial Accounting Concept (SFAC) no. 1, yang pada intinya menyebutkan bahwa laporan keuangan harus menyajikan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan yang rasional.

Menurut Fahmi (2011:108) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan risiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan.

Dengan menganalisis sebuah laporan keuangan akan didapat sebuah gambaran mengenai keadaan suatu perusahaan. Adapun manfaat dengan menggunakan rasio keuangan menurut Fahmi (2011:109) yaitu:

1. Bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.

2. Bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.

3. Dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan.

4. Bermanfaat bagi para kreditur digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.

5. Dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.

1. Leverage

Rasio leverage merupakan rasio yang menunjukkan seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh pihak luar atau kreditur. Husnan dan Enny (2012:72) menyimpulkan beberapa analis menggunakan istilah rasio leverage yang berarti melakukan pengukuran terhadap kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam katagori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat hutang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan beberapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang (Fahmi, 2011:127) leverage akan memiliki tiga implikasi penting:

a. Dengan memperoleh dana melalui utang para pemegang saham dapat mempertahankan kendali mereka atas perusahaan tersebut dengan sekaligus membatasi investasi yang mereka berikan.

b. Kreditor akan melihat pada ekuitas atau dana yang diperoleh sendiri, sebagai suatu batas kesamaan, sehingga semakin tinggi proporsi yang harus dihadapi kreditor.

c. Jika perusahaan mendapatkan hasil dari investasi yang didanai dengan dana hasil pinjaman lebih besar dari bunga yang dibayarkan, maka pengembalian dari modal pemilik akan diperbesar atau “diungkit” (leveraged) (Brigham dan Hauston, 2009:103).

Mengenai rasio leverage sebagaimana yang diutarakan, menurut Brigham dan Weston (2005:57) ada beberapa rasio leverage yang dapat digunakan, yaitu:

1. Debt Ratio, perbandingan antara total kewajiban dengan total aset.

2. Debt to equity ratio, perbandingan total utang dengan total ekuitas dalam

pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.

3. Time interest earned ratio, merupakan perbandingan antara laba sebelum

bunga dan pajak atau laba operasi (EBIT) dengan beban bunga.

4. Fixed Charge Coverage ratio, mengukur berapa besar kemampuan

perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden.

2. Likuiditas

Suatu perusahaan yang ingin mempertahankan kelangsungan kegiatan perusahaannya harus memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban finansial yang harus segera dilunasi. Likuiditas tidak hanya bekenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mengubah aktiva lancar menjadi uang kas.

Menurut Brigham dan Houston (2010:121), rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan aset lancar perusahaan lainnya dengan kewajiban lancarnya. Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio). Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancarnya.

Mengenai rasio-rasio likuiditas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 332), dapat dilihat sebagai berikut :

a. Rasio Lancar (Current Ratio), rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban lancar.

b. Rasio Cepat (Quick Ratio), rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dikurangi persediaan dengan kewajiban lancar.

Menurut Munawir (2002:93) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat likuiditas, diantaranya:

1. Kekurangan modal kerja, dapat menimbulkan perusahaan illikuid. Terlalu besar kewajiban jangka pendek/ kewajiban lancar bila dibandingkan dengan modal kerja, juga akan menyebabkan perusahaan dalam keadaan illikuid.

2. Kebijakan kredit yang dijalankan perusahaan, dapat juga menyebabkan illikuid. Syarat kredit penjual yang terlalu lunak, sehingga perputaran piutag lambat akan menyebabkan illikuid.

3. Modal kerja yang terlalu besar sehingga adanya sebagian dana yang menganggur, akibatnya perusahaan akan berada dalam keadaan over likuid.

4. Kurang adanya manajemen keuangan yang baik dalam pengaturan keuangan, hal ini dapat menimbulkan illikuid atau over likuid.

3. Profitabilitas

Rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil-hasil operasi

(Brigham dan Hauston, 2009:107). Husnan dan Enny (2012:75) menyatakan rasio profitabilitas atau efisiensi rasio-rasio ini dimaksudkan untuk mengukur efesiensi penggunaan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan (atau mungkin sekelompok aktiva perusahaan). Mungkin juga efesiensi ingin dikaitkan penjualan yang berhasil diciptakan. Sebagai misal ada jenis perusahaan yang mengambil keuntungan yang relatif cukup tinggi dari setiap penjualan (misal penjualan meubel, perhiasan, dan sebagainya), tetapi ada pula keuntungan relatif cukup rendah (seperti barang keperluan sehari-hari). Semakin baik rasio profitabilitasnya maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan (Fahmi, 2011:135).

Mengenai rasio-rasio profitabilitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat dilihat sebagai berikut:

a. Margin Keuntungan (Profit Margin), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.

b. Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan total aset.

c. Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas.

Van Horne dan Wachowicz (2005:222-225) analisis profitabilitas terdiri atas dua jenis, yaitu:

1. Profitabilitas dalam hubungannya dengan investasi. Salah satu pengukurannya adalah dengan tingkat pengembalian atas aktiva (return on

assets/ ROA) atau ‘tigkat pengembalian atas investasi’ (return on invesment/ ROI).

2. Profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan. Pengukurannya dengan menggunakan margin laba kotor atau margin laba bersih.

Dokumen terkait