BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teoritis
2.1.8 Faktor Keuangan
Faktor Keuangan yang diukur dengan menggunakan rasio-rasio keuangan merupakan ekspektasi hubungan antara angka-angka laporan keuangan sehingga
dapat menghasilkan informasi yang lebih bermakna. Analisis rasio keuangan ini merupakan salah satu perwujudan ketentuan Statement of Finansial Accounting Concept (SFAC) no. 1, yang pada intinya menyebutkan bahwa laporan keuangan harus menyajikan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan yang rasional.
Menurut Fahmi (2011:108) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan risiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan.
Dengan menganalisis sebuah laporan keuangan akan didapat sebuah gambaran mengenai keadaan suatu perusahaan. Adapun manfaat dengan menggunakan rasio keuangan menurut Fahmi (2011:109) yaitu:
1. Bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.
2. Bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.
3. Dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan.
4. Bermanfaat bagi para kreditur digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.
5. Dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.
1. Leverage
Rasio leverage merupakan rasio yang menunjukkan seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh pihak luar atau kreditur. Husnan dan Enny (2012:72) menyimpulkan beberapa analis menggunakan istilah rasio leverage yang berarti melakukan pengukuran terhadap kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam katagori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat hutang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan beberapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang (Fahmi, 2011:127) leverage akan memiliki tiga implikasi penting:
a. Dengan memperoleh dana melalui utang para pemegang saham dapat mempertahankan kendali mereka atas perusahaan tersebut dengan sekaligus membatasi investasi yang mereka berikan.
b. Kreditor akan melihat pada ekuitas atau dana yang diperoleh sendiri, sebagai suatu batas kesamaan, sehingga semakin tinggi proporsi yang harus dihadapi kreditor.
c. Jika perusahaan mendapatkan hasil dari investasi yang didanai dengan dana hasil pinjaman lebih besar dari bunga yang dibayarkan, maka pengembalian dari modal pemilik akan diperbesar atau βdiungkitβ
(leveraged) (Brigham dan Hauston, 2009:103).
Mengenai rasio leverage sebagaimana yang diutarakan, menurut Brigham dan Weston (2005:57) ada beberapa rasio leverage yang dapat digunakan, yaitu:
1. Debt Ratio, perbandingan antara total kewajiban dengan total aset.
2. Debt to equity ratio, perbandingan total utang dengan total ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.
3. Time interest earned ratio, merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak atau laba operasi (EBIT) dengan beban bunga.
4. Fixed Charge Coverage ratio, mengukur berapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden.
2. Likuiditas
Suatu perusahaan yang ingin mempertahankan kelangsungan kegiatan perusahaannya harus memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban finansial yang harus segera dilunasi. Likuiditas tidak hanya bekenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mengubah aktiva lancar menjadi uang kas.
Menurut Brigham dan Houston (2010:121), rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan aset lancar perusahaan lainnya dengan kewajiban lancarnya. Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio). Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancarnya.
Mengenai rasio-rasio likuiditas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 332), dapat dilihat sebagai berikut :
a. Rasio Lancar (Current Ratio), rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban lancar.
b. Rasio Cepat (Quick Ratio), rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dikurangi persediaan dengan kewajiban lancar.
Menurut Munawir (2002:93) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat likuiditas, diantaranya:
1. Kekurangan modal kerja, dapat menimbulkan perusahaan illikuid. Terlalu besar kewajiban jangka pendek/ kewajiban lancar bila dibandingkan dengan modal kerja, juga akan menyebabkan perusahaan dalam keadaan illikuid.
2. Kebijakan kredit yang dijalankan perusahaan, dapat juga menyebabkan illikuid. Syarat kredit penjual yang terlalu lunak, sehingga perputaran piutag lambat akan menyebabkan illikuid.
3. Modal kerja yang terlalu besar sehingga adanya sebagian dana yang menganggur, akibatnya perusahaan akan berada dalam keadaan over likuid.
4. Kurang adanya manajemen keuangan yang baik dalam pengaturan keuangan, hal ini dapat menimbulkan illikuid atau over likuid.
3. Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil-hasil operasi
(Brigham dan Hauston, 2009:107). Husnan dan Enny (2012:75) menyatakan rasio profitabilitas atau efisiensi rasio-rasio ini dimaksudkan untuk mengukur efesiensi penggunaan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan (atau mungkin sekelompok aktiva perusahaan). Mungkin juga efesiensi ingin dikaitkan penjualan yang berhasil diciptakan. Sebagai misal ada jenis perusahaan yang mengambil keuntungan yang relatif cukup tinggi dari setiap penjualan (misal penjualan meubel, perhiasan, dan sebagainya), tetapi ada pula keuntungan relatif cukup rendah (seperti barang keperluan sehari-hari). Semakin baik rasio profitabilitasnya maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan (Fahmi, 2011:135).
Mengenai rasio-rasio profitabilitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat dilihat sebagai berikut:
a. Margin Keuntungan (Profit Margin), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.
b. Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan total aset.
c. Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas.
Van Horne dan Wachowicz (2005:222-225) analisis profitabilitas terdiri atas dua jenis, yaitu:
1. Profitabilitas dalam hubungannya dengan investasi. Salah satu pengukurannya adalah dengan tingkat pengembalian atas aktiva (return on
assets/ ROA) atau βtigkat pengembalian atas investasiβ (return on invesment/ ROI).
2. Profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan. Pengukurannya dengan menggunakan margin laba kotor atau margin laba bersih.
2.1.9 Faktor Non Keuangan
Faktor non keuangan yang turut dipertimbangkan menurut Widowati, et. al (2013). adalah umur obligasi (maturity) dan jaminan (secure) Keterangan tersebut adalah dijamin atau tidaknya suatu obligasi yang jangka waktu jatuh tempo instrumen obligasi (maturity).
1. Secure
Berdasarkan jaminan, obligasi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu, obligasi yang memiliki jaminan (secure) dan obligasi tanpa jaminan (debenture).
Obligasi dengan jaminan merupakan obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Tingkat risiko yang terkandung dalam obligasi dipengaruhi oleh jaminan. Maka dari itu, obligasi yang tidak dijaminkan akan memiliki risiko yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan obligasi yang memiliki jaminan. Semakin tinggi nilai aset yang dijaminkan maka peringkat obligasi akan semakin tinggi (Almilia dan Devi, 2007:7).
2. Maturity
Umur obligasi (maturity) merupakan faktor non keuangan yang menunjukkan rentang waktu dimana obligasi yang bersangkutan diterbitkan hingga periode jatuh tempo atau tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun.
Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk diprediksi, sehingga memilki risiko yang lebih kecil apabila dilakukan perbandingan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun.
Andry (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat rating obligasi tinggi mempunyai umur obligasi yang pendek. Terdapat hubungan non monotonik antara struktur umur obligasi dan kualitas kredit untuk perusahaan yang tercantum dalam peringkat obligasi. Investor cenderung tidak menyukai obligasi dengan umur yang lebih panjang karena risiko yang akan didapat juga akan semakin besar. Oleh karena itu umur obligasi yang pendek menunjukkan peringkat obligasi yang investment grade.
2.2 Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencari pengaruh variabel bebas yaitu Leverage, profitabilitas, likuiditas, jaminan (secure), dan umur obligasi terhadap variabel terikat peringkat obligasi dapat di tunjukkan sebagai berikut.
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Peneliti/
Tahun
Judul
Penelitian Variabel Teknik
Analisis Hasil Penelitian
Lanjutan Tabel 2.2
2.3 Kerangka Konseptual
Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu, maka peneliti mengindikasikan variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini faktor keuangan dengan rasio leverage yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. Leverage menunjukkan berapa besarnya beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktiva, dalam hal ini diukur dengan Debt to Equity Ratio. Dengan menggunakan lebih banyak utang berarti perusahaan memperbesar risiko yang ditanggung perusahaan, tetapi juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Sebaliknya, apabila rasio leverage lebih rendah tentu mempunyai risiko kerugian lebih kecil dan dapat mengakibatkan rendahnya tingkat pengembalian yang diharapkan (Brigham dan Weston, 2005:5). Hal tersebut akan mengakibatkan rendahnya peringkat obligasi yang diterima perusahaan tersebut.
Informasi pemberian peringkat obligasi yang dipublikasikan menjadi sinyal kondisi keuangan perusahaan dan menggambarkan kemungkinan yang akan terjadi terkait utang yang dimiliki (Raharja dan Sari, 2008). Semakin tinggi leverage maka sebagian besar modal yang dimiliki perusahaan didanai oleh utang, sehingga akan mengakibatkan semakin sulitnya perusahaan untuk memperoleh pijaman dikarenakan perusahaan berada dalam default risk, karena besar kemungkinan perusahaan tidak dapat mengembalikan pokok pinjaman dan bunga secara berkala di karenakan besarnya utang yang dimilki oleh perusahaan tersebut.
Jadi semakin tinggi leverage maka kemungkinan peringkat obligasi perusahaan tersebut akan semakin rendah.
Rasio likuiditas adalah faktor keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan (Van Horne, 2005:205). Dalam hal ini likuiditas diukur dengan menggunakan Current Ratio. Rasio lancar merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio lancar yang tinggi akan berpengaruh negatif terhadap kemampuan memperoleh laba, karena sebagian modal kerja yang tidak berputar atau megalami pengangguran (Martono dan Harjito, 2001: 135). Purwaningsih (2008) menemukan hubungan antara likuiditas dengan credit rating. Peringkat obligasi dapat menjadi sinyal kondisi keuangan perusahaan dan menggambarkan kemungkinan yang akan terjadi terkait utang yang dimiliki (Raharja dan Sari, 2008). Semakin tinggi likuiditas perusahaan maka kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin baik. Peminjam (lender) menggunakan aset paling likuid sebagai sumber pembayaran utama dan bunga sekuritas dalam asset financed (Joseph, 2002). Jadi semakin perusahaan banyak memiliki aset yang likuid maka secara tidak langsung akan mempengaruhi pelunasan kewajiban jangka panjangnya (pelunasan obligasi) yang diharapkan dapat mengurangi default risk, sehingga kemungkinan peringkat obligasi perusahaan tersebut semakin baik.
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return on Assets (ROA) yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan (Abdullah, 2005:57). Menurut Raharja dan Sari (2008), semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin rendah risiko
ketidakmampuan membayar kewajiban atau default. Profitabilitas memberikan gambaran sejauh manakah keefektifan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi perusahaan. Semakin tinggi rasio profitabilitas maka perusahaan dinilai semakin efektif dalam menghasilkan laba, sehingga kemampuan perusahaan dalam melunasi pokok pinjaman dan membayar bunga semakin baik dan peringkat obligasinya akan tinggi. Semakin tinggi peringkat obligasi memberikan sinyal bahwa probabilitas risiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajibananya semakin rendah.
Secure (jaminan) adalah salah satu aspek penting pada obligasi karena adanya jaminan pada obligasi, berarti perusahaan dapat menekan risiko default kepada para pemegang obligasi. Andry (2005) menyatakan jika aset perusahaan dijaminkan untuk obligasi, maka rating obligasi pun akan membaik sehingga obligasi tersebut dapat dikategorikan aman. Peringkat obligasi yang tinggi memberikan sinyal tentang rendahnya probabilitas kegagalan pembayaran utang sebuah perusahaan. Jika obligasi dijamin dengan aset yang bernilai tinggi, akan memberikan rasa aman kepada para investor karena perusahaan dapat menyakinkan investor bahwa perusahaan dapat memenuhi pembayaran bunga dan pokok pinjaman dengan baik melalui aset yang dijaminkan tersebut, sehingga risiko gagal bayar yang akan dihadapi oleh investor akan berkurang. Sehingga obligasi yang diberi jaminan akan memberikan peringkat yang tinggi bagi perusahaan.
Maturity (umur obligasi) yang dimaksud adalah selisih antara tanggal obligasi tersebut pertama kali diterbitkan (listing date) sampai dengan tanggal
jatuh tempo obligasi tersebut atau sering disebut term to maturity, dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok pinjaman atau nilai nominal obligasi dan bunga periodik yang dimilikinya. Investor cenderung tidak menyukai obligasi dengan umur yang lebih panjang karena risiko yang akan didapat juga akan semakin besar (Andry, 2005). Semakin pendek umur obligasi maka kekhawatiran investor akan adanya risiko gagal bayar diperusahaan semakin rendah. Sehingga dapat dikatakan umur obligasi yang semakin pendek akan memberikan peringkat obligasi yang tinggi bagi perusahaan. Kondisi ini dapat menjadi sinyal yang dapat mempengaruhi keputusan investor nantinya untuk berinvestasi pada obligasi perusahaan tersebut.
Berikut ini gambaran model kerangka konseptual yang akan mengkaji faktor keuangan dan non keuangan yang mempengaruhi peringkat obligasi:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Leverage
Peringkat Obligasi Likuiditas
Profitabilitas
Secure
Maturity
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka konseptual, maka hipotesis penelitian ini adalah leverage, profitabilitas, likuiditas, secure dan maturity berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap peringkat obligasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yang terdiri dari leverage, likuiditas, profitabilitas, jaminan dan umur obligasi dengan variabel terikat, yaitu peringkat obligasi.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan situs www.idx.co.id, ibpa.co.id, ojk.go.id, www.pefindo.com, dan www.sahamok.com. Waktu penelitian adalah akan di mulai Juni 2016 sampai dengan selesai.
3.3 Batasan Operasional
Batasan operasional dalam penelitian ini adalah:
a. Objek dalam penelitian ini adalah obligasi perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011-2014.
b. Variabel independen dalam penelitian ini adalah leverage, profitabilitas, likuiditas, jaminan, dan umur obligasi.
c. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah peringkat obligasi.
3.4 Defenisi Operasional Variabel
1. . Variabel Terikat (Y)
Varibel dependen dalam penelitian ini adalah peringkat obligasi (bond rating) yang merupakan peringkat yang menunjukkan mutu atau kualitas dari suatu obligasi dengan kemungkinan gagal bayar atau disebut sebagai risiko kredit. Suatu peringkat obligasi naik jika peringkat obligasi pada periode saat ini lebih tinggi daripada peringkat obligasi pada periode sebelumnya. Peringkat obligasi dikatakan turun jika di periode saat ini peringkat obligasi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Peringkat 1 untuk obligasi high investment grade (AAA,AA, dan A) dan 0 untuk obligasi low investment grade (BBB).
2. Variabel Bebas (X) 1. Leverage (X1)
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana penggunaan utang untuk membiayai investasi perusahaan. Salah satu alat pengukur yang digunakan adalah debt to equity ratio (DER) yang dirumuskan dengan: (Gumanti, 2011: 113).
Debt to equity ratio
=
πππ‘ππ ππ‘πππ πππ‘ππ πΈππ’ππ‘ππ 2. Likuiditas (X2)Rasio likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendek perusahaan. Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan current ratio (Gumanti, 2011:112).
Current Ratio = π΄ππ‘ππ£π πΏπππππ ππ‘πππ πΏπππππ 3. Profitabilitas (X3)
Menunjukkan kemampuan dari perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan dengan menunjukkan laba yang dihasilkan dari aktivitas perusahaan dari penjualan dan pendapatan investasi. Rasio yang digunakan adalah return on asset (Gumanti, 2011:112):
Return on Asset = πΏπππ π΅πππ πβ πππ‘ππ π΄π ππ‘ 4. Secure (X4)
Perjanjian dimana dilakukan perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) terhadap obligasi dengan aset atau harta apabila perusahaan mengalami suatu yang menyebabkan tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai penerbit obligasi. Skala pengukurannya menggunakan skala nominal karena merupakan variabel dummy.
Pengukuran dilakukan dengan memberikan nilai 1 jika obligasi dijamin dengan asset khusus dan 0 jika obligasi hanya berupa surat hutang yang tidak dijamin dengan aset khusus.
5. Maturity (X5)
Obligasi dengan umur yang lebih pendek memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan obligasi dengan umur yang panjang. Skala
pengukurannya menggunakan skala nominal karena variabel maturity ini merupakan variabel dummy. Pengukurannya dilakukan dengan memberikan nilai 1 jika obligasi mempunyai umur antara satu sampai lima tahun dan 0 jika obligasi mempunyai umur lebih dari lima tahun.
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
Variabel Defenisi Parameter Skala
Ukur
Peringat Obligasi (Y)
Peringkat obligasi (bond rating) menunjukkan mutu atau kualitas dari suatu obligasi dengan kemungkinan gagal bayar atau disebut sebagai risiko kredit.
Kategori yang berjenis numerik Nominal
Leverage perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan. perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) terhadap suatu obligasi dengan aset atau harta kekayaan apabila perusahaan mengalami suatu kejadian yang dapat menyebabkan perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya yang telah disetujui sebagai pihak yang telah melakukan penerbitan obligasi.
Kategori yang berjenis numerik Nominal
Umur
Kategori yang berjenis numerik Nominal
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang digunakan adalah obligasi perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercatat di Indonesia Bond Market Directory (IBMD) pada periode 2011-2014. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012:122). Kriteria penarikan sampel yang digunakan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan-perusahaan manufaktur yang menerbitkan obligasi di Bursa Efek Indonesia yang tercatat di Indonesia Bond Market Directory (IBMD) pada tahun 2011-2014.
2. Mempunyai laporan keuangan lengkap akhir tahun selama periode 2011-2014.
3. Obligasi diperingkat oleh Pemeringkat Efek Indonesia (PT PEFINDO).
Tabel 3.2
Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Penarikan Sampel
No Karakteristik Sampel Jumlah
1. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan obligasi di Bursa Efek Indonesia
yang tercatat di Indonesia Bond Market Directory (IBMD) tahun 2011-2014 30 2. Perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan lengkap 2011-2014 di Bursa
Efek Indonesia (3)
3. Obligasi Perusahaan yang tidak diperingkat oleh Pemeringkat Efek Indonesia
(PEFINDO) pada tahun 2011-2014 (15)
Jumlah Sampel 12
Sumber: (data diolah, 2016)
Berdasarkan karakteristik penarikan sampel, maka diperoleh sampel penelitian sebanyak 12 perusahaan.
3.6 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan merupakan data yang diperoleh berdasarkan hasil publikasi oleh Bursa Efek Indonesia yaitu berupa laporan keuangan, penelitian sebelumnya, jurnal-jurnal, dan sumber dari media internet yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan studi dokumentasi. Dengan mengumpulkan data pendukung dari literatur, meneliti dokumen-dokumen dan sumber-sumber lain yang berhubungan dengan masalah penelitian baik dari sumber media internet maupun media massa lainnya.
3.8 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis regresi logistik, karena variabel terikat (dependent) yang digunakan adalah variabel dummy. Dalam teknik analisis penelitian ini tidak memerlukan uji normalitas data karena regresi logistik tidak memerlukan asumsi normalitas pada variabel bebasnya (Ghozali, 2006:225).
Artinya, variabel penjelasannya tidak harus memiliki distribusi normal linear maupun memiliki varian yang sama dalam setiap grup.
3.9 Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum dan generalisasi (Sugiyono, 2012:206). Penyajian data pada statistik deskriptif dapat berbentuk tabel, diagram, ukuran, dan gambar.
3.10 Uji Regresi Logistik
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan regresi logistik karena variabel dependen bersifat dikotomi (high investment grade dan low investment grade). Ghozali (2006:225) menyatakan bahwa regresi logistik digunakan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat dapat diprediksi dengan variabel bebasnya. Teknik analisis regresi logistik tidak memerlukan asumsi normalitas data pada variabel bebasnya (Ghozali, 2006:225) dan mengabaikan heteroskedastisitas (Gujarati, 2003:597).
3.10.1 Uji Multikolinearitas
Regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya gejala korelasi yang kuat antara variabel bebasnya. Multikolinearitas merupakan situasi adanya korelasi antar variabel-variabel independen yang satu dengan yang lainnya. Dalam penelitian ini, gejala multikolinearitas dapat dilihat dari nilai korelasi antar variabel yang terdapat dalam matriks korelasi.
3.10.2 Menguji Model Fit (Overall Model Fit Test)
Uji ini digunakan untuk melihat model yang telah dihipotesiskan telah fit atau tidak dengan data. Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 log likelihood (Restr. deviance) terhadap nilai --2 log likelihood pada akhir (Deviance).
3.10.3 Uji Kelayakan Model Regresi
Pengujian kelayakan model regresi logistik dilakukan dengan menggunakan goodness of fit test yang diukur berdasarkan nilai Chi-Square pada Hosmer and Lemeshow Test. Hosmer and Lemeshowβs Goodness of Fit Test menguji hipotesis nol bahwa data empiris sesuai dengan model (tidak ada perbedaan antara model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit).
3.10.4 Koefisien Determinasi (McFadden R-Square)
Dalam regresi logistik, dapat digunakan statistik McFadden R-Square untuk mengukur kemampuan model regresi logistik dalam mencocokkan atau menyesuaikan data. Dengan kata lain, nilai statistik dari McFadden R-Square dapat diinterpretasikan sebagai suatu nilai yang mengukur kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan atau menerangkan variabel-variabel dependen.
3.11 Uji Hipotesis
3.11.1 Uji Signifikansi Model Simultan
Tabel Omnibus Tests of Model Coefficients (L-R Statistic) berfungsi untuk melihat hasil pengujian secara simultan pada regresi logistik, yakni melihat pengaruh variabel bebas (independen) secara bersama-sama (simultaneously) terhadap variabel dependen.
Tabel Omnibus Tests of Model Coefficients (L-R Statistic) berfungsi untuk melihat hasil pengujian secara simultan pada regresi logistik, yakni melihat pengaruh variabel bebas (independen) secara bersama-sama (simultaneously) terhadap variabel dependen.