• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL SKRIPSI OLEH ERIKSON SIAGIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL SKRIPSI OLEH ERIKSON SIAGIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR KEUANGAN DAN NON KEUANGAN YANG BERPENGARUH TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI

PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

OLEH

ERIKSON SIAGIAN 120502140

PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2016

(2)

ABSTRAK

ANALISIS FAKTOR KEUANGAN DAN NON KEUANGAN YANG BERPENGARUH TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI

PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel leverage, likuiditas, profitabilitas, secure, dan maturity terhadap peringkat obligasi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang menerbitkan obligasi dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011-2014. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12 perusahaan menufaktur dengan jumlah observasi sebanyak 48 dengan teknik pengambilan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode dokumentasi dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa likuiditas (current ratio) dan jaminan obligasi (secure) berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa likuiditas dan secure dapat mempengaruhi baik dan buruknya peringkat obligasi perusahaan manufaktur. Sedangkan leverage, profitabilitas, dan umur obligasi tidak berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

Kata kunci: leverage, likuiditas, profitabilitas, jaminan, umur, peringkat obligasi.

(3)

ABSTRACT

THE ANALYSIS OF THE FINANCIAL AND NON FINANCIAL FACTORS THAT AFFECT BOND RATINGS AT MANUFACTURING COMPANIES

IN INDONESIA STOCK EXCHANGE

This research aimed to determine the effect of leverage, liquidity, profitability, maturity, and secure bonds in the bond rating to manufacturing companies in Indonesia Stock Exchange and is registered in the ratings of bonds issued by PT PEFINDO period 2011 to 2014. In this study the sample were 12 manufacturing firms and 48 observations. The sampling technique is determined using targeted sampling (purposive sampling), whereas the method of analysis used logistic regression analysis.

The research result that liquidity and secure positive effect on bond ratings in Indonesia Stock Exchange. This shows that liquidity and secure can effect the good and bad rating companies manufacturing. While leverage, profitability, and bond maturity has no effect on bond ratings.

Keywords: leverage, liquidity, profitability, secure, bond maturity, rating

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya bagi Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena anugerah-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul “Analisis Faktor Keuangan Dan Non Keuangan Yang Berpengaruh Terhadap Peringkat Obligasi Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan tanpa adanya dukungan, bantuan, bimbingan, dan nasehat dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. Terutama kepada Ibu orangtua penulis Dortia Nurhaida Siregar yang telah memberikan dukungan berupa doa dan materil kepada penulis.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE,MSi, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, M.E., dan Ibu Dra. Marhayanie, M.Si selaku Ketua dan Sekertaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, S.E., M.Si., dan Ibu Dra. Friska Sipayung, M.Si selaku Ketua dan Sekertaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(5)

4. Ibu Beby Kendida SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia memberikan waktu, saran, serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Dr. Isfenti Sadalia SE, M.E, selaku dosen pembaca penilai yang telah memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara serta kepada seluruh staf dan pegawai yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

7. Abang-abang saya Jonny, Rivai, David, dan Tanto, serta adik-adik saya Bobby dan Deni yang memberikan semangat, dukungan dan menjadi motivasi penulis.

8. Teman-teman di Jurusan Manajemen Rio, Ronal, Samuel, Fredi, Valentino, Reza, Lia, Ningsih dan teman-teman lain yang memberikan banyak bantuan dan dukungan yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu.

9. Seluruh pegawai Departemen Manajemen yang telah melancarkan proses administrasi.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan penulis sebagai manusia, sehingga penulis menerima masukan dan saran dari semua pihak yang bermanfaat untuk perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Medan, Oktober 2016 Penulis,

Erikson Siagian

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Landasan Teoritis ... 11

2.1.1 Pengertian Obligasi ... 11

2.1.2 Jenis-jenis Obligasi 13 2.1.3 Karakteristik Obligasi ... 16

2.1.4 Risiko Obligasi ... 17

2.1.5 Penerbit Obligasi ... 19

2.1.6 Peringkat Obligasi ... 20

2.1.7 Teori Sinyal ... 24

2.1.8 Faktor Keuangan ... 25

2.1.1 Faktor Non Keuangan ... 31

2.2 Penelitian Terdahulu ... 32

2.3 Kerangka Konseptual ... 35

2.4 Hipotesis Penelitian ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

3.1 Jenis Penelitian ... 40

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 40

3.3 Batasan Operasional ... 40

3.4 Defenisi Operasional Variabel ... 41

3.5 Populasi dan Sampel Penelitan ... 44

3.6 Jenis Data ... 45

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 45

3.8 Teknik Analisis Data ... 45

3.9 Analisis Statistik Deskriptif ... 45

3.10 Uji Regresi Logistik ... 46

3.10.1 Uji Multikolinearitas ... 46

3.10.2 Uji Model Fit (Overall Model Fit Test) ... 46

(7)

3.10.3 Uji Kelayakan Model Regresi ... 47

3.10.4 Koefisien Determinasi (McFadden-R Square) ... 47

3.11 Uji Hipotesis ... 47

3.11.1 Uji Signifikansi Model Simultan ... 47

3.11.2 Uji Signifikan Model Parsial ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

4.1 Gambaran Umum ... 50

4.1.1 Profil Perusahaan Manufaktur yang Menerbitkan Obligasi di BEI ... 50

4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 56

4.3 Uji Regresi Logistik ... 58

4.3.1 Uji Multikolinearitas ... 59

4.3.2 Uji Model Fit (Overall Model Fit Test) ... 60

4.3.3 Uji Kelayakan Model Regresi ... 60

4.3.4 Koefisien Determinasi (McFadden R-Square) ... 61

4.4 Uji Hipotesis ... 62

4.4.1 Uji Signifikansi Model Simultan ... 62

4.4.2 Uji Signifikansi Model Parsial ... 63

4.5 Pembahasan ... 66

4.5.1 Pengaruh Leverage Terhadap Peringkat Obligasi 66 4.5.2 Pengaruh Likuiditas Terhadap Peringkat Obligasi 66 4.5.3 Pengaruh Profitabilitas Terhadap Peringkat Obligai 67 4.5.4 Pengaruh Secure Terhadap Peringkat Obligasi 68 4.5.5 Pengaruh Maturity Terhadap Peringkat Obligasi 69 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

5.1 Kesimpulan ... 70

5.2 Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72

LAMPIRAN ... 76

(8)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul

Halaman

1.1 Total Laba, Aset, Liabilitas, Ekuitas, Umur dan

Peringkat Obligasi PT Mayora Indah Tbk ... 6

1.2 Total Laba, Aset, Liabilitas, Ekuitas, Umur dan Peringkat Obligasi PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk ... 7 2.1 Peringkat Obligasi Berdasarkan PEFINDO ... 23

2.2 Penelitian Terdahulu ... 33

3.1 Defenisi Operasional ... 43

3.2 Jumlah Sampel Berdasarkan Karakteristik Penarikan Sampel ... 44

4.1 Statistik Deskriptif dari DER, CR, ROA, Secure, Maturity, dan Rating ... 57

4.2 Matriks Korelasi ... 59

4.3 Menguji Model Fit ... 60

4.4 Hosmer and Lemeshow Test ... 61

4.5 McFadden R-Square ... 62

4.6 Uji Signifikansi Model Simultan ... 63

4.7 Uji Signifikansi Model Parsial ... 64

(9)

DAFTAR GAMBAR

No.

Gambar

Judul Halaman

1.1

2.1

Grafik Perkembangan Obligasi di Indonesia 2010- 2014 ……..

Kerangka Konseptual ...

2

38

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Lampiran

Judul Halaman

1 Daftar Perusahaan Manufaktur Yang Menerbitkan

Obligasi Dan Pemilihan Sampel ... 76 2 Data Faktor Keuangan Perusahaan Manufaktur di

BEI ... 77 3 Data Faktor Non Keuangan Perusahaan

Manufaktur di BEI... 80 4 Data Peringkat Obligasi Perusahaan Manufaktur

di BEI ... 81 5 Output Hasil Penelitian ... 82

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pasar modal merupakan pasar untuk pendanaan ekuitas dan utang jangka panjang (Brealey et al., 2008:37). Dengan demikian, pasar modal juga dapat diartikan sebagai pasar untuk memperjual belikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi.

Melalui pasar modal perusahaan dapat menjual saham yang dimilikinya atau menerbitkan surat utang (obligasi) kepada publik untuk menghimpun dana dari para pemilik modal. Selain memberikan manfaat bagi perusahaan, pasar modal juga memberikan keuntungan bagi para pihak yang ingin melakukan investasi.

Pihak yang memiliki modal (investor) yang ingin melakukan investasi dapat menggunakan dana yang dimilikinya dengan melakukan investasi pada instrumen- instrumen yang ada di pasar modal. Sementara dalam melaksanakan fungsi keuangan pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh return bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih (Sunariyah, 2003:8).

Salah satu instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia adalah obligasi. Obligasi termasuk dalam kelompok efek bersifat utang (debt securities) yaitu efek dimana penerbitnya (issuer) mengeluarkan atau menjual surat utang, dengan kewajiban menebus kembali pada waktu yang telah ditentukan, berdasarkan kesepakatan diantara pihak-pihak yang bersangkutan.

(12)

Obligasi selain digunakan sebagai sarana melakukan ekspansi juga dapat digunakan sebagai sarana dalam memperkuat permodalan bagi perusahaan. Saat ini di Indonesia obligasi merupakan instrumen pembiayaan usaha yang banyak dilakukan perusahaan seperti perusahaan publik, perusahaan non publik, BUMN maupun BUMD. Pada praktiknya di Indonesia banyak perusahaan menggunakan utang untuk mendanai perusahaan mereka, dan ada beberapa dari perusahaan tersebut mengeluarkan atau menerbitkan obligasi, yang hanya merupakan salah satu jenis dari berbagai jenis utang. Hal ini membuat perkembangan obligasi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Grafik berikut ini menunjukkan statistik perkembangan dari obligasi yang ada di Indonesia pada tahun 2010 sampai 2014.

Sumber: www.ojk.go.id

Gambar 1.1

Grafik Perkembangan Obligasi di Indonesia Tahun 2010-2014

(13)

Dari Gambar 1.1 menunjukkan bahwa statistik perkembangan obligasi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya dari tahun 2010-2014, baik itu obligasi korporasi maupun pada obligasi dan sukuk pemerintah. Perkembangan dari obligasi dan sukuk pemerintah mengalami perkembangan yang lebih besar apabila dibandingkan dengan perkembangan pada transaksi perdagangan obligasi yang diterbitkan oleh korporasi. Pada obligasi korporasi peningkatan yang terbesar terjadi di tahun 2011-2012 sebesar 37,86 Triliun, sedangkan pada obligasi dan sukuk pemerintah yang terbesar di tahun 2013-2014 yaitu peningkatan sebesar 178,32 Triliun. Dari peningkatan ini menunjukkan bahwa Investasi obligasi di Indonesia merupakan investasi yang dapat memberikan peluang yang bagus bagi para investor untuk berinvestasi, karena perdagangan obligasi yang menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Selain perkembangan obligasi yang meningkat setiap tahunnya, investor juga lebih memilih untuk berinvestasi obligasi karena adanya pengetatan prosedur pinjaman di lembaga perbankan menyebabkan pihak perusahaan yang sedang membutuhkan dana untuk ekspansi bisnis atau melakukan pelunasan utang mulai melihat instrumen obligasi sebagai salah satu alternatif penggalangan dana.

Beberapa alasan di antaranya adalah penerbitan obligasi lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan melakukan prosedur pinjaman bank. Selain itu, tingkat suku bunga obligasi bisa dibuat lebih menguntungkan bagi perusahaan yang menerbitkan obligasi apabila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman dari bank yang cenderung meningkat.

(14)

Dalam melakukan pembelian obligasi, investor di pasar modal itu sendiri bisa mendapatkan keuntungan, yakni selain mendapatkan tingkat suku bunga (kupon), obligasi juga menghasilkan pendapatan atas kenaikan nilai nominal obligasi ke harga premium tersebut di pasar sekunder. Meskipun obligasi merupakan investasi yang aman, investor memerlukan informasi yang cukup tentang obligasi agar dapat menganalisis dan memperkirakan risiko yang ada dalam investasi pada obligasi. Salah satu informasi yang diperlukan investor adalah dengan memperhatikan peringkat obligasi (bond rating) dari perusahaan penerbit obligasi.

Berdasarkan peraturan dari Bapepam obligasi harus diperingkatkan oleh suatu lembaga atau agen pemeringkat obligasi (rating agency) sebelum ditawarkan. Agen pemeringkat obligasi adalah lembaga independen yang memberikan informasi pemeringkatan skala risiko, dimana salah satunya adalah sekuritas obligasi sebagai petunjuk sejauh mana keamanan suatu obligasi bagi investor. Keamanan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan suatu perusahaan dalam membayar bunga dan melunasi pokok pinjaman. Sehingga pemodal bisa menggunakan jasa agen pemeringkat obligasi tersebut untuk mendapatkan informasi mengenai peringkat obligasi. Proses pemeringkatan ini dilakukan untuk menilai kinerja perusahaan, sehingga rating agency dapat menyatakan layak atau tidaknya obligasi tersebut diinvestasikan. Kualitas suatu obligasi dapat dimonitor dari informasi peringkatnya. Sejak tahun 1995, surat utang khusus yang diterbitkan melalui penawaran umum wajib untuk diperingkat oleh lembaga

(15)

pemeringkat yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) yang sekarang menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 31 Desember 2012.

Di Indonesia terdapat beberapa lembaga yang melakukan pemeringkatan sekuritas utang yang diakui oleh Bank Indonesia (BI) , yaitu PT Pemeringkat Efek Indonesia (PT PEFINDO), Moody’s Investor Service, PT Fitch Rating Indonesia, Standard and Poor’s, dan PT Investment Credit Rating Agency (ICRA) Indonesia.

Namun dalam penelitian sekarang lebih mengacu pada PT PEFINDO. Terdapat beberapa kejadian yang menimbulkan suatu pertanyaan apakah peringkat obligasi yang dinilai oleh agen pemeringkat di Indonesia akurat. Salah satu fenomena yang pernah terjadi adalah pada peringkat obligasi Bank Global pada tahun 2004, dimana peringkat obligasi dinilai oleh agen pemeringkat Kasnic dengan A-, kemudian dengan pengumuman Bank Indonesia bahwa izin Bank Global dibekukan dengan peringkat obligasi tersebut diturunkan menjadi D (default).

Salah satu alasan mengapa peringkat obligasi yang dikeluarkan oleh agen pemeringkat tersebut mengalami kesalahan (bias) karena agen yang melakukan pemeringkatan tidak melakukan monitor terhadap kinerja yang dijalankan oleh perusahaan setiap hari. Agen pemeringkat hanya dapat menilai setelah terjadinya suatu peristiwa yang menyebabkan perubahan peringkat sehingga menyebabkan para pelaku pasar lebih memperhatikan informasi yang dimiliki perusahaan secara langsung sebagai dasar keputusan investasi obligasi.

Selain kejadian peringkat obligasi yang bias dikeluarkan oleh agen yang melakukan pemeringkatan terhadap obligasi perusahaan tersebut, berikut data

(16)

gambaran empiris untuk melihat faktor-faktor apakah yang berpengaruh terhadap peringkat suatu obligasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan.

Tabel 1.1

Total Laba, Aset, Liabilitas, Ekuitas, Umur dan Peringkat Obligasi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (dalam milyaran)

Tahun Total

Laba Total Aset Total Liabilitas

Total Ekuitas

Umur Obligasi

Peringkat Obligasi

2011 4.891,7 53.716 22.114,7 31.601,2 5 AA+

2012 4.779,4 59.389,4 25.249,2 34.140,2 5 AA+

2013 3.416,6 77.611,4 39.719,7 37.891,8 5 AA+

2014 5.146,3 85.938,9 44.710,5 41.228,4 5 AA+

Sumber: www.idx.co.id

Berdasarkan Tabel 1.1 tersebut dapat dilihat indikasi total laba untuk dua tahun yaitu 2012 dan 2013 mengalami penurunan, tapi di tahun 2014 total laba mengalami kenaikan. Total aset mengalami peningkatan setiap tahun, liabilitasnya meningkat, ekuitasnya yang mengalami kenaikan, dan umur obligasi yang sama yaitu 5 tahun masih dapat mempertahankan peringkat obligasi di posisi AA+

walaupun total laba di tahun 2012 dan 2013 mengalami penurunan. Dari Tabel 1.1 ditunjukkan bahwa peringkat obligasi dipengaruhi oleh faktor keuangan dan non keuangan.

Dari Tabel 1.1 apabila dilakukan perbandingan dengan laporan yang dikeluarkan oleh PT Eagle High Plantations Tbk. yang merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Perusahaan ini mulai beroperasi pada 20 November 2000 berdasarkan data yang diperoleh mengenai rasio keuangan dan non keuangannya seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.2 sebagai berikut.

(17)

Tabel 1.2

Total Laba, Aset, Liabilitas, Ekuitas, Umur dan Peringkat Obligasi PT Eagle High Plantations Tbk (dalam milyar)

Tahun Total

Laba Total Aset Total Liabilitas

Total Ekuitas

Umur Obligasi

Peringkat Obligasi

2011 482,9 3.589 2.163,1 1.425,9 5 BBB+

2012 417,3 4.913 3.246,8 2.378 5 BBB+

2013 156,3 7.021,4 4.789 2.232,4 5 A-

2014 354,4 16.379,8 9.433 6.946,7 5 A-

Sumber: www.idx.co.id

Dari Tabel 1.2 dapat diketahui total labanya pada tahun 2013 menunjukkan jumlah terendah bila dibandingkan dengan ketiga tahun lainnya. Total Laba di tahun 2014 tidak melebihi total laba di tahun 2011 dan 2012. Total asetnya mengalami peningkatan, total liabilitasnya mengalami peningkatan, total ekuitas yang mengalami fluktuasi, dimana tahun 2014 mengalami peningkatan beberapa kali lebih besar dibandingkan pada tahun 2011-2013. Peningkatan ini membuat peringkat obligasi meningkat di tahun 2013 dan 2014 dengan peringkat A-, walaupun total laba lebih kecil dibandingkan ketiga tahun sebelumnya dengan umur obligasi 5 tahun. Dari data yang disajikan menunjukkan bahwa selain umur obligasi, masing-masing variabelnya membawa pengaruh terhadap peringkat yang mengalami peningkatan di tahun 2013-2014.

Berdasarkan data yang telah dijelaskan, maka Penulis melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemeringkatan obligasi dengan menggunakan faktor keuangan yang didasarkan dengan rasio-rasio keuangan dari data laporan keuangan yang menggambarkan kondisi perusahaan, dan faktor non keuangan yang menggambarkan kondisi di luar perusahaan. Sejumlah penelitian yang meneliti peringkat obligasi di Indonesia masih relatif jarang dilakukan. Hal ini

(18)

disebabkan karena adanya keterbatasan data obligasi serta pengetahuan para investor terhadap obligasi.

Beberapa penelitian yang melakukan pengujian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi, baik faktor keuangan maupun faktor non keuangan antara lain adalah penelitian yang dilakukan oleh Mahfudhoh dan Cahyonowati (2014), yang mengatakan bahwa hanya ukuran dan laba ditahan yang berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi dari semua variabel lainnya, Yulianingsih (2013) menyimpulkan bahwa profitabilitas, maturity, dan produktivitas yang berpengaruh dalam memprediksi peringkat obligasi dan penelitian yang dilakukan oleh Widowati, et al., (2013) yang menemukan bahwa hanya profitabilitas, leverage, dan reputasi auditor yang berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

Faktor non keuangan yang digunakan adalah jaminan dan jangka waktu jatuh tempo instrumen obligasi (maturity). Dinyatakan bahwa apabila obligasi dijamin dengan aset yang bernilai tinggi, maka peringkat dari suatu obligasi akan membaik. Umur obligasi (maturity) adalah jangka waktu sejak diterbitkannya obligasi sampai dengan tanggal jatuh tempo obligasi. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Adrian (2011), menemukan bahwa hanya umur obligasi yang berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya memperlihatkan bahwa variabel yang mempengaruhi peringkat obligasi berbeda-beda. Dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian pada faktor keuangan dengan variabel leverage, profitabilitas, dan likuiditas serta faktor non keuangan dengan

(19)

menggunakan jaminan dan umur obligasi (maturity) sebagai variabel bebas dan peringkat obligasi sebagai variabel terikat. Sampel yang digunakan adalah pada obligasi yang telah diperingkat oleh PT PEFINDO pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia yang dimuat di Indonesia Bond Market Directory (IBMD) pada tahun 2011-2014.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka Penulis melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “Analisis Faktor Keuangan dan Non Keuangan yang Berpengaruh Terhadap Peringkat Obligasi Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Apakah leverage, profitabilitas, likuiditas, jaminan dan umur obligasi berpengaruh secara bersama-sama dan parsial terhadap peringkat obligasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2011-2014?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor keuangan (leverage, profitabilitas, dan likuiditas) dan faktor non keuangan (jaminan dan umur obligasi) secara bersama-sama dan parsial terhadap peringkat obligasi perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2011-2014.

(20)

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan pengetahuan di bidang Manajemen keuangan, khususnya dalam mengenai obligasi.

2. Bagi Investor

Sebagai informasi tambahan dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan jika ingin melakukan investasi di instrumen obligasi perusahaan manufaktur.

3. Bagi Perusahaan Manufaktur

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan pihak manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan dan memperbaiki kinerja keuangannya.

4. Peneliti Selanjutnya

Sebagai referensi yang dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya atau sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian di masa yang akan datang.

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis 2.1.1 Pengertian Obligasi

Menurut Brealey, et al., (2008:130) obligasi adalah sekuritas yang mewajibkan penerbitnya untuk melakukan pembayaran tertentu pada pemegang obligasi. Emiten obligasi akan memberikan kompensasi bagi investor pemegang obligasi, berupa kupon yang dibayarkan secara periodik terhadap investor. Kupon merupakan bunga yang besarnya tetap dan dibayarkan oleh penerbit obligasi sesuai waktu yang telah ditetapkan. Akan tetapi dalam perkembanganya ada pula bunga obligasi yang dibayarkan dalam jumlah yang tidak tetap besarnya sesuai dengan perkembangan tingkat suku bunga secara umum, atau yang disebut dengan bunga mengambang. Dengan demikian, obligasi dikatakan sebagai salah satu instrumen pasar modal yang memberikan pendapatan tetap (fixed-income securities) bagi pemegangnya. Perusahaan penerbit (emiten) dari obligasi berkewajiban untuk membayarkan bunga dalam jumlah tertentu secara periodik selama obligasi tersebut belum jatuh tempo, dan juga melakukan pembayaran kembali nilai principal obligasi tersebut pada saat jatuh tempo yang telah ditentukan.

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindah tangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang

(22)

pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut (www.idx.co.id).

Obligasi merupakan surat pengakuan hutang yang dikeluarkan oleh pemerintah atau perusahaan atau lembaga lain sebagai pihak yang berutang, yang mempunyai nilai nominal tertentu dan kesanggupan untuk membayar bunga secara periodik atas dasar persentase tertentu yang tetap (Rika, 2011:2). Secara umum obligasi adalah surat tanda utang jangka panjang. Menurut konvensi yang berlaku di Indonesia, surat utang dengan tenor di atas 5 (lima) tahun disebut obligasi, meskipun beberapa surat hutang bertenor 3 (tiga) tahun yang diterbitkan perusahaan pembiayaan dipasarkan dan dicatat sebagai obligasi. Kebanyakan obligasi yang di Indonesia bertenor 5 (lima) tahun dan paling panjang adalah 30 (tiga puluh) tahun.

Ditinjau dari sisi investor, investasi pada obligasi merupakan alternatif yang aman, karena obligasi memberikan penghasilan tetap berupa kupon bunga yang dibayar secara tetap dengan tingkat bunga yang kompetitif serta pokok utang yang dibayar secara tepat waktu pada saat jatuh tempo yang telah ditentukan (Susilowati dan Sumarto, 2010:1). Tinggi rendahnya tingkat keuntungan yang diisyaratkan oleh investor pada obligasi ini bergantung pada risiko kegagalan obligasi yang diperkirakan oleh investor. Jika bunga obligasi lebih tinggi dari tingkat bunga yang berlaku dipasar, harga (nilai) obligasi lebih tinggi dari nilai nominalnya. Sebaliknya jika bunga obligasi lebih rendah dari tingkat bunga yang berlaku di pasar saham, harga (nilai) obligasi lebih kecil dari nilai nominalnya.

(23)

2.1.2 Jenis-jenis Obligasi

Berdasarkan Bursa Efek Indonesia, obligasi dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu:

A. Dilihat Dari Sisi Penerbit:

1. Corporate Bonds, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.

2. Government Bonds, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.

3. Municipal Bond, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).

B. Berdasarkan Sistem Pembayaran Bunga

1. Zero Coupon Bonds, yaitu obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo.

2. Coupon Bond, yaitu obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.

3. Fixed Coupon Bonds, yaitu obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.

4. Floating Coupon Bonds, yaitu obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan

(24)

(benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.

C. Dilihat dari Hak Penukaran (Opsi):

1. Convertible Bonds, yaitu obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.

2. Exchangeable Bonds, adalah obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.

3. Callable Bonds, yaitu obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

4. Putable Bonds, yaitu obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

D. Berdasarkan Jaminan atau Kolateralnya:

1. Secured Bonds, yaitu obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:

a. Guaranteed Bonds: Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan penanggungan dari pihak ketiga.

b. Mortgage Bonds: obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau aset tetap.

(25)

c. Collateral Trust Bonds: obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.

2. Unsecured Bonds: obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.

E. Berdasarkan Nilai Nominal:

1. Konvensional Bonds: obligasi yang lazim diperjual belikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.

2. Retail Bonds: obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.

F. Berdasarkan Perhitungan Imbal Hasil:

1. Konvensional Bonds: obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem kupon bunga.

2. Syariah Bonds: obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi syariah, yaitu:

a. Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.

b. Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah)

(26)

bersifat tetap, dan bisa diketahui/ diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan.

2.1.3 Karakteristik Obligasi

Menurut Bursa Efek Indonesia karakteristik obligasi dibagi kedalam beberapa bagian, yaitu:

1. Nilai Nominal (face value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.

2. Kupon (the interest rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi dinyatakan dalam annual persentase.

3. Jatuh Tempo (maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon / bunganya.

4. Penerbit / Emiten (issuer) Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi obligasi ritel.

Mengukur risiko/ kemungkinan dari penerbit obligasi tidak dapat

(27)

melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia.

2.1.4 Risiko Obligasi

Obligasi berdasarkan sudut pandang investor, merupakan suatu aset (aset finansial), yaitu: suatu sekuritas yang dapat memberikan pendapatan tetap sehingga dianggap berbobot risiko. Bagi investor yang selalu mengelak risiko, maka investasi dalam obligasi adalah instrumen yang paling tepat. Berikut ini beberapa risiko yang dihadapi oleh para investor dalam investasi obligasi (Fabozzi, 2000), yaitu:

1. Default Risk

Risiko bahwa emiten akan tidak mampu memenuhi pembayaran bunga dan pokok utang sesuai dengan kontrak. Obligasi perusahaan mempunyai default risk yang lebih besar daripada obligasi pemerintah. Tidak bagi masyarakat umum untuk melihat besar kecilnya risiko ini. Cara terbaik untuk melihat risiko ini adalah dengan terus memonitor peringkat yang diberikan oleh perusahaan efek. Di Indonesia badan tersebut dikenal dengan Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO). Obligasi yang paling aman diberi peringkat AAA dan yang paling besar risikonya diberi peringkat D.

2. Risiko Tingkat Bunga

Pada umunya harga obligasi bergerak berlawanan arah terhadap perubahan suku bunga. Apabila suku bunga naik, harga obligasi akan turun, dan sebaliknya.

(28)

Bagi investor yang merencanakan untuk menyimpan obligasi sampai jatuh tempo, perubahan harga obligasi sebelum maturity tidak menarik perhatiannya akan tetapi bagi investor yang ingin menjual obligasi sebelum jatuh tempo, suatu kenaikan suku bunga setelah membeli obligasi berarti adalah capital loss yang direalisasikan. Risiko tersebut disebut interest rate risk atau disebut juga price risk. Kenaikan tingkat bunga pasar menyebabkan menurunnya harga obligasi karena sebesar apapun tingkat bunga pasar mengalami peningkatan, pemegang obligasi tetap hanya akan menerima tingkat bunga yang sudah ditetapkan.

3. Risiko Inflasi

Risiko inflasi disebut pula risiko terhadap daya beli. Risiko inflasi merupakan risiko bahwa return yang direalisasikan dalam investasi obligasi tidak akan cukup untuk menutupi kerugian menurunnya daya beli yang disebabkan inflasi. Bila inflasi meningkat dan tingkat bunga obligasi tetap, maka terjadi penurunan daya beli yang harus ditanggung investor.

4. Call Risk (Risiko waktu)

Risiko ini melekat pada callable bonds, yakni obligasi yang dapat ditarik sewaktu-waktu oleh emitennya dengan harga yang telah ditetapkan. Risiko waktu terjadi jika: (a) pola aliran kas emiten tidak pasti; (b) penarikan dilakukan pada saat suku bunga rendah dan (c) potensi kenaikan harga obligasi lebih tinggi dari harga call-nya.

5. Reinvestment Risk

Pendapatan obligasi berasal dari pembayaran suku bunga dari coupon, setiap capital gain atau capital loss bila obligasi itu dicairkan, dijual atau jatuh tempo,

(29)

bunga yang diperoleh dari reinvestasi interim cash flow. Agar seorang investor merealisasikan suatu yield sama dengan yield pada saat obligasi dibeli, interim cashflow tersebut harus diinvestasikan pada suku bunga sama dengan yield yang ditentukan pada saat obligasi dibeli. Risiko bahwa interim cash flow akan diinvestasikan dengan suku bunga yang lebih rendah dan investor akan menerima yield yang lebih rendah daripada yield pada saat obligasi dibeli disebut reinvestment risk.

6. Risiko Kurs Valuta Asing

Orang Indonesia yang membeli obligasi perusahaan di negara lain dapat mengalami kerugian perbedaan kurs valuta asing (foreign exchange risk).

7. Risiko Likuditas

Risiko yang mengacu pada seberapa mudah investor dapat menjual obligasinya, sedekat mungkin dengan nilai dari obligasi tersebut. Cara untuk mengukur likuiditas adalah dengan melihat besarnya selisih (spread) antara harga permintaan dan harga penawarannya yang dipasang oleh perantara pedagang efek.

Semakin besar spread tersebut, makin besar risiko likuiditas yang dihadapi.

8. Event Risk

Seringkali kemampuan emiten untuk membayar bunga dan pokok utang tanpa terduga berubah karena, bencana alam dan pengambil alihan.

2.1.5 Penerbit Obligasi

Penerbit obligasi ini sangat luas sekali, hampir setiap badan hukum dapat menerbitkan obligasi, namun peraturan yang mengatur mengenai tata cara

(30)

penerbitan obligasi ini sangat ketat sekali. Penggolongan penerbit obligasi biasanya terdiri atas:

1. Lembaga supranasional, seperti misalnya Bank investasi eropa (european investment bank) atau bank pembangunan asia (asian development bank), 2. Pemerintah suatu Negara menerbitkan obligasi pemerintah dalam mata

uang negaranya maupun obligasi pemerintah dalam denominasi valuta asing yang biasa disebut dengan obligasi internasional (sovereign bond), 3. Sub-sovereign, propinsi, Negara atau otoritas daerah. Di Amerika dikenal

sebagai obligasi daerah (municipal bond). Di Indonesia dikenal sebagai Surat Utang Negara (SUN),

4. Lembaga pemerintah. Obligasi ini biasa juga disebut agency bond, atau agencies.

5. Perusahaan yang menerbitkan obligasi swasta.

6. Special purpose vehicle adalah perusahaan yang didirikan dengan suatu tujuan khusus untuk menguasai aset tertentu yang ditujukan guna penerbitan suatu obligasi yang biasa disebut Efek Beragun Efek.

2.1.6 Peringkat Obligasi

Peringkat obligasi adalah simbol-simbol karakter yang diberikan oleh agen peringkat untuk menunjukkan risiko dari obligasi (Jogiyanto, 2015:230).

Peringkat obligasi merupakan salah satu contoh informasi yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan dengan menilai kelayakan dan besarnya risiko gagal bayar atas pengembaliannya. Selain itu, peringkat obligasi yang diumumkan ke

(31)

publik dapat mengurangi asimetri informasi antara perusahaan penerbit obligasi dan investor (Zuhrohtun dan Baridwan, 2005:1).

Dalam Raharja dan Sari (2008) mengemukakan ada beberapa fungsi peringkat obligasi, yaitu sebagai berikut:

1. Sumber informasi atas kemampuan perusahaan, pemerintah daerah atau pemerintah dalam menaati ketepatan waktu pembayaran kembali pokok utang dan tingkat bunga yang dipinjam.

2. Sumber informasi dengan biaya rendah bagi keluasan informasi kredit yang terkait dengan cross section antar perusahaan, pemerintah daerah, dan pemerintah.

3. Sumber legal insurance untuk pengawas investasi. Membatasi investasi pada sekuritas utang yang memiliki peringkat tinggi (misalnya peringkat BBB ke atas).

4. Sumber informasi tambahan terhadap keuangan dan representasi manajemen lainnya. Ketika peringkat utang perusahaan ditetapkan, hal itu merupakan reputasi perusahaan yang berupa risiko.

5. Sarana pengawasan terhadap aktivitas manajemen.

6. Sarana untuk memfasilitasi kebijakan umum yang melarang investasi spekulatif oleh institusi seperti bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun.

Dan menurut Brigham dan Houston (2009:373), peringkat obligasi didasarkan pada faktor-faktor kualitatif maupun kuntitatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi adalah sebagai berikut:

(32)

1. Berbagai macam rasio-rasio keuangan, termasuk debt ratio, current ratio, profitability dan fixed charge coveragae ratio. Semakin baik rasio-rasio keuangan tersebut, maka semakin tinggi rating tersebut.

2. Jaminan aset untuk obligasi yang diterbitkan (mortage provision). Apabila obligasi dijamin dengan aset yang bernilai tinggi, maka rating akan membaik.

3. Kedudukan obligasi dengan jenis utang lain. Apabila obligasi lebih rendah dari utang lainnya maka rating akan ditetapkan satu tingkat lebih rendah dari yang seharusnya.

4. Penjamin. Emiten obligasi yang lemah namun dijamin oleh perusahaan yang kuat.

5. Adanya singking fund (provisi bagi emiten untuk membayar pokok pinjaman sedikit demi sedikit tiap bulan).

6. Umur obligasi Cateris Paribus, obligasi dengan umur yang lebih pendek mempunyai risiko yang lebih kecil.

7. Stabilitas laba dari penjualan emiten.

8. Peraturan yang berkaitan dengan industri emiten.

9. Faktor-faktor lingkungan dan tanggung jawab produk.

10. Kebijakan akuntansi. Penerapan kebijakan akuntansi yang konservatif mengindikasikan laporan keuangan yang berkualitas.

(33)

Tabel 2.1

Peringkat Obligasi Berdasarkan PEFINDO

Peringkat Keteragan

idAAA

Efek utang yang peringkatnya paling tinggi dan berisiko paling rendah yang didukung oleh kemampuan obligor yang superior relatif dibanding entitas Indonesia lainnya .

idAA

Efek utang memiliki kualitas kredit sedikit dibawah peringkat tertinggi, didukung oleh kemampuan obligor yang sangat kuat untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian, relatif dibanding dengan entitas Indonesia lainnya.

idA

Efek utang yang beresiko investasi rendah dan memiliki kemampuan dukungan obligor yang kuat dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian namun cukup peka terhadap perubahan yang merugikan.

idBBB

Efek utang yang beresiko investasi cukup rendah didukung oleh kemampuan obligor yang memadai, relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian. Namun kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan.

idBB

Efek utang menunjukkan dukungan kemampuan obligor yang agak lemah relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian serta peka terhadap keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak menentu dan merugikan.

idB

Efek utang yang menunjukkan parameter perlindungan yang sangat lemah,walaupun obligor masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya. Namun adanya perubahan keadaan bisnis dan perekonomian yang merugikan akan memperburuk kemampuan tersebut untuk memenuhi kewajiban finansialnya.

idCCC Efek utang yang tidak mampu lagi memenuhi kewajiban finansialnya serta hanya bergantung kepada perbaikan keadaan eksternal.

idD Efek utang yang gagal bayar, atau gagal memenuhi kewajiban, terjadi secara otomatis kepada kewajiban non-payment yang pertama kali.

Sumber: PT PEFINDO

Dari peringkat idAA ke idB dapat dimodifikasi dengan penambahan tanda plus (+) atau minus (-) untuk menunjukkan kekuatan relatif dari kategori dalam peringkat (rating outlook). Tanda positif (+) menunjukkan bahwa peringkat tersebut dapat dinaikkan dan memiliki nilai yang lebih tinggi dari peringkat obligasi yang memiliki tanda (-) ataupun tanpa tanda. Pada peringkat dengan

(34)

tanda negatif (-) menunjukkan bahwa peringkat obligasi tersebut dapat diturunkan dan nilainya lebih rendah dari peringkat obligasi yang tidak memiliki tanda.

2.1.7 Teori Sinyal

Teori pensinyalan menjelaskan alasan perusahaan menyajikan informasi kepada publik (Wolk et al., 2001: 308). Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan, informasi kebijakan perusahaan maupun informasi lain yang dilakukan secara sukarela oleh manajemen perusahaan. Sinyal adalah sebuah tindakan yang diambil oleh high-type manager yang mana tidak akan rasional jika dilakukan oleh low-type manager (Scott dan Wiliam, 2012:474). Tindakan tersebut menjadi dasar untuk membedakan kualitas dari tiap-tiap perusahaan dan menjadi petunjuk bagi pihak eksternal tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sebagai contoh ketika perusahaan memutuskan untuk menerbitkan obligasi di pasar modal, mereka harus memberikan informasi kepada calon investor.

Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar (Lina, 2010) dimana pihak manajemen memiliki lebih banyak informasi dan prospek perusahaan dimasa mendatang. Asimetri informasi dapat terjadi di antara dua kondisi ekstrem yaitu perbedaan informasi yang kecil sehingga tidak mempengaruhi manajemen, atau perbedaan yang sangat signifikan sehingga dapat berpengaruh terhadap manajemen dan harga saham. Kodrat dan Herdinata (2009:16) menyatakan bahwa asimetri informasi adalah suatu kondisi

(35)

di mana suatu pihak memiliki informasi yang lebih banyak dari pihak lain.

Informasi-informasi yang tersebut dapat berupa pemberian peringkat obligasi yang dipublikasikan yang diharapkan dapat menjadi sinyal kondisi keuangan perusahaan dan menggambarkan kemungkinan terjadi terkait utang yang dimiliki (Raharja dan Sari, 2008). Informasi berupa pemberian peringkat obligasi yang dipublikasikan diharapkan dapat menjadi sinyal kondisi keuangan perusahaan dan menggambarkan kemungkinan yang terjadi terkait dengan utang yang dimiliki (Sari, 2007:2). Dengan adanya peringkat obligasi maka calon investor dapat membuat keputusan yang tepat untuk memutuskan apakah membeli atau tidak obligasi perusahaan tersebut.

Teori pensinyalan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa manajemen perusahaan sebagai pihak yang memberikan sinyal berupa laporan keuangan perusahaan dan informasi non keuangan kepada lembaga pemeringkat. Lembaga pemeringkat obligasi ini melakukan proses pemeringkatan sehingga dapat menerbitkan peringkat obligasi bagi perusahaan penerbit obligasi ini. Peringkat obligasi ini memberikan sinyal tentang probabilitas kegagalan pembayaran utang sebuah perusahaan. Sinyal-sinyal yang disampaikan oleh manajemen berupa laporan keuangan dapat digambarkan melalui rasio keuangan. Rasio keuangan tersebut dapat digunakan untuk memprediksi peringkat obligasi, sehingga investor dapat menghitung risiko yang terkandung dalam obligasi tersebut (Lina, 2010).

2.1.8 Faktor Keuangan

Faktor Keuangan yang diukur dengan menggunakan rasio-rasio keuangan merupakan ekspektasi hubungan antara angka-angka laporan keuangan sehingga

(36)

dapat menghasilkan informasi yang lebih bermakna. Analisis rasio keuangan ini merupakan salah satu perwujudan ketentuan Statement of Finansial Accounting Concept (SFAC) no. 1, yang pada intinya menyebutkan bahwa laporan keuangan harus menyajikan yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan yang rasional.

Menurut Fahmi (2011:108) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan risiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan.

Dengan menganalisis sebuah laporan keuangan akan didapat sebuah gambaran mengenai keadaan suatu perusahaan. Adapun manfaat dengan menggunakan rasio keuangan menurut Fahmi (2011:109) yaitu:

1. Bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan.

2. Bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan.

3. Dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan.

4. Bermanfaat bagi para kreditur digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman.

(37)

5. Dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.

1. Leverage

Rasio leverage merupakan rasio yang menunjukkan seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh pihak luar atau kreditur. Husnan dan Enny (2012:72) menyimpulkan beberapa analis menggunakan istilah rasio leverage yang berarti melakukan pengukuran terhadap kemampuan yang dimiliki oleh perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam katagori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat hutang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan beberapa utang yang layak diambil dan dari mana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang (Fahmi, 2011:127) leverage akan memiliki tiga implikasi penting:

a. Dengan memperoleh dana melalui utang para pemegang saham dapat mempertahankan kendali mereka atas perusahaan tersebut dengan sekaligus membatasi investasi yang mereka berikan.

b. Kreditor akan melihat pada ekuitas atau dana yang diperoleh sendiri, sebagai suatu batas kesamaan, sehingga semakin tinggi proporsi yang harus dihadapi kreditor.

c. Jika perusahaan mendapatkan hasil dari investasi yang didanai dengan dana hasil pinjaman lebih besar dari bunga yang dibayarkan, maka pengembalian dari modal pemilik akan diperbesar atau “diungkit”

(leveraged) (Brigham dan Hauston, 2009:103).

(38)

Mengenai rasio leverage sebagaimana yang diutarakan, menurut Brigham dan Weston (2005:57) ada beberapa rasio leverage yang dapat digunakan, yaitu:

1. Debt Ratio, perbandingan antara total kewajiban dengan total aset.

2. Debt to equity ratio, perbandingan total utang dengan total ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.

3. Time interest earned ratio, merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak atau laba operasi (EBIT) dengan beban bunga.

4. Fixed Charge Coverage ratio, mengukur berapa besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban tetapnya termasuk pembayaran deviden.

2. Likuiditas

Suatu perusahaan yang ingin mempertahankan kelangsungan kegiatan perusahaannya harus memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban-kewajiban finansial yang harus segera dilunasi. Likuiditas tidak hanya bekenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mengubah aktiva lancar menjadi uang kas.

Menurut Brigham dan Houston (2010:121), rasio likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara kas dan aset lancar perusahaan lainnya dengan kewajiban lancarnya. Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur likuiditas adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio). Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai aktiva lancar lebih besar daripada hutang lancarnya.

(39)

Mengenai rasio-rasio likuiditas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 332), dapat dilihat sebagai berikut :

a. Rasio Lancar (Current Ratio), rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban lancar.

b. Rasio Cepat (Quick Ratio), rasio ini merupakan perbandingan antara aset lancar dikurangi persediaan dengan kewajiban lancar.

Menurut Munawir (2002:93) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat likuiditas, diantaranya:

1. Kekurangan modal kerja, dapat menimbulkan perusahaan illikuid. Terlalu besar kewajiban jangka pendek/ kewajiban lancar bila dibandingkan dengan modal kerja, juga akan menyebabkan perusahaan dalam keadaan illikuid.

2. Kebijakan kredit yang dijalankan perusahaan, dapat juga menyebabkan illikuid. Syarat kredit penjual yang terlalu lunak, sehingga perputaran piutag lambat akan menyebabkan illikuid.

3. Modal kerja yang terlalu besar sehingga adanya sebagian dana yang menganggur, akibatnya perusahaan akan berada dalam keadaan over likuid.

4. Kurang adanya manajemen keuangan yang baik dalam pengaturan keuangan, hal ini dapat menimbulkan illikuid atau over likuid.

3. Profitabilitas

Rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil-hasil operasi

(40)

(Brigham dan Hauston, 2009:107). Husnan dan Enny (2012:75) menyatakan rasio profitabilitas atau efisiensi rasio-rasio ini dimaksudkan untuk mengukur efesiensi penggunaan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan (atau mungkin sekelompok aktiva perusahaan). Mungkin juga efesiensi ingin dikaitkan penjualan yang berhasil diciptakan. Sebagai misal ada jenis perusahaan yang mengambil keuntungan yang relatif cukup tinggi dari setiap penjualan (misal penjualan meubel, perhiasan, dan sebagainya), tetapi ada pula keuntungan relatif cukup rendah (seperti barang keperluan sehari-hari). Semakin baik rasio profitabilitasnya maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan (Fahmi, 2011:135).

Mengenai rasio-rasio profitabilitas sebagaimana yang diutarakan, menurut Riyanto (2010: 335), dapat dilihat sebagai berikut:

a. Margin Keuntungan (Profit Margin), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan.

b. Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan total aset.

c. Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity), rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas.

Van Horne dan Wachowicz (2005:222-225) analisis profitabilitas terdiri atas dua jenis, yaitu:

1. Profitabilitas dalam hubungannya dengan investasi. Salah satu pengukurannya adalah dengan tingkat pengembalian atas aktiva (return on

(41)

assets/ ROA) atau ‘tigkat pengembalian atas investasi’ (return on invesment/ ROI).

2. Profitabilitas dalam kaitannya dengan penjualan. Pengukurannya dengan menggunakan margin laba kotor atau margin laba bersih.

2.1.9 Faktor Non Keuangan

Faktor non keuangan yang turut dipertimbangkan menurut Widowati, et. al (2013). adalah umur obligasi (maturity) dan jaminan (secure) Keterangan tersebut adalah dijamin atau tidaknya suatu obligasi yang jangka waktu jatuh tempo instrumen obligasi (maturity).

1. Secure

Berdasarkan jaminan, obligasi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu, obligasi yang memiliki jaminan (secure) dan obligasi tanpa jaminan (debenture).

Obligasi dengan jaminan merupakan obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Tingkat risiko yang terkandung dalam obligasi dipengaruhi oleh jaminan. Maka dari itu, obligasi yang tidak dijaminkan akan memiliki risiko yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan obligasi yang memiliki jaminan. Semakin tinggi nilai aset yang dijaminkan maka peringkat obligasi akan semakin tinggi (Almilia dan Devi, 2007:7).

(42)

2. Maturity

Umur obligasi (maturity) merupakan faktor non keuangan yang menunjukkan rentang waktu dimana obligasi yang bersangkutan diterbitkan hingga periode jatuh tempo atau tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun.

Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk diprediksi, sehingga memilki risiko yang lebih kecil apabila dilakukan perbandingan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun.

Andry (2005) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat rating obligasi tinggi mempunyai umur obligasi yang pendek. Terdapat hubungan non monotonik antara struktur umur obligasi dan kualitas kredit untuk perusahaan yang tercantum dalam peringkat obligasi. Investor cenderung tidak menyukai obligasi dengan umur yang lebih panjang karena risiko yang akan didapat juga akan semakin besar. Oleh karena itu umur obligasi yang pendek menunjukkan peringkat obligasi yang investment grade.

2.2 Penelitian Terdahulu

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang mencari pengaruh variabel bebas yaitu Leverage, profitabilitas, likuiditas, jaminan (secure), dan umur obligasi terhadap variabel terikat peringkat obligasi dapat di tunjukkan sebagai berikut.

(43)

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Peneliti/

Tahun

Judul

Penelitian Variabel Teknik

Analisis Hasil Penelitian Mahfudhoh

dan

Cahyonowati (2014)

Analisis Faktor- faktor yang mempengaruhi Peringkat Obligasi

Dependen:

Peringkat Obligasi Independen:

Likuiditas, profitabilitas, leverage, produktivitas, pertumbuhan perusahaan, laba ditahan, jaminan, dan Maturity

Regresi Logistik

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pada likuiditas, profitabilitas, leverage, produktivitas, pertumbuhan

perusahaan, jaminan, dan umur obligasi tidak berpengaruh signifikan.

Sedangkan ukuran perusahaan dan laba ditahan berpengaruh signifikan.

Murcia, et.al (2014)

The

Determinants Credit Rating:

Brazilian Evidence

Dependen:

Rating Independen:

leverage, profitabilitas, size, cakupan keuangan, likuiditas, tata kelola

perusahaan, pengendalian, pasar

keuangan kinerja dan internasionalis asi, growth

Generalize Estimating Equations (GEE)

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada variabel bebas leverage,

internasionalisasi signifikan pada tingkat 1% dalam menjelaskan peringkat kredit.

Sedangkan pada kinerja di pasar keuangan signifikan pada tingkat 5%;

profitabilitas dan pertumbuhan juga signifikan secara statistik, pada signifikansi 10%.

Gema Yulianingsih (2013)

Analisis Faktor- faktor yang mempengaruhi Prediksi Peringkat Obligasi Pada

Independen : Peringkat Obligasi Dependen:

Likuiditas, profitabilitas, leverage, (size), maturity, produktivitas

Regresi Logistik

Profitabilitas, size, maturity, dan produktivitas berpengaruh dalam memprediksi peringkat obligasi.

(44)

Lanjutan Tabel 2.2 Widowati, et.

al. (2013)

Analisis Faktor Keuangan dan Non Keuangan Yang

Berpengaruh Pada Prediksi Peringkat Obligasi di Indonesia

Dependen:

Peringkat Obligasi Independen:

Profitabilitas, leverage, likuiditas, solvabilitas, nilai pasar, Produktivitas, umur obligasi (maturity), Secure, Reputasi Auditor,

Regresi Logistik

Hanya Profotabilitas, Leverage, likuiditas, dan reputasi auditor berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

Nicko Adrian (2009)

Analisis Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Peringkat Obligasi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

Dependen:

Peringkat Obligasi Independen:

Leverage, Profitabilitas, Likuiditas, dan Umur Obligasi (maturity)

Regresi Logistik

Dalam penelitian ini hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hanya pada variabel likuiditas dan umur obligasi (maturity) berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi.

Bissoondoyal- Bheenick (2002)

Determinants and Impact of Credit Ratings:

Australian Evidence

Independen:

Kredit Rating Dependen: size, growth,

profitability, leverage, interest, liquidity,

Ordered Response Model

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa hanya profitabilitas, ukuran, dan leverage rasio berpengaruh yang signifikan dalam

penentuan peringkat kredit.

(45)

2.3 Kerangka Konseptual

Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu, maka peneliti mengindikasikan variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini faktor keuangan dengan rasio leverage yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh utang. Leverage menunjukkan berapa besarnya beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktiva, dalam hal ini diukur dengan Debt to Equity Ratio. Dengan menggunakan lebih banyak utang berarti perusahaan memperbesar risiko yang ditanggung perusahaan, tetapi juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Sebaliknya, apabila rasio leverage lebih rendah tentu mempunyai risiko kerugian lebih kecil dan dapat mengakibatkan rendahnya tingkat pengembalian yang diharapkan (Brigham dan Weston, 2005:5). Hal tersebut akan mengakibatkan rendahnya peringkat obligasi yang diterima perusahaan tersebut.

Informasi pemberian peringkat obligasi yang dipublikasikan menjadi sinyal kondisi keuangan perusahaan dan menggambarkan kemungkinan yang akan terjadi terkait utang yang dimiliki (Raharja dan Sari, 2008). Semakin tinggi leverage maka sebagian besar modal yang dimiliki perusahaan didanai oleh utang, sehingga akan mengakibatkan semakin sulitnya perusahaan untuk memperoleh pijaman dikarenakan perusahaan berada dalam default risk, karena besar kemungkinan perusahaan tidak dapat mengembalikan pokok pinjaman dan bunga secara berkala di karenakan besarnya utang yang dimilki oleh perusahaan tersebut.

Jadi semakin tinggi leverage maka kemungkinan peringkat obligasi perusahaan tersebut akan semakin rendah.

Gambar

Grafik berikut ini menunjukkan statistik perkembangan dari obligasi yang ada  di Indonesia pada tahun 2010 sampai 2014
Tabel 2.2  Penelitian Terdahulu  Peneliti/
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual Leverage  Peringkat Obligasi Likuiditas Profitabilitas Secure Maturity
Tabel 3.1  Defenisi Operasional
+2

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan skor hasil belajar fisika peserta didik antara peserta didik yang diajar dengan strategi pembelajaran probex dengan

Hal ini sama dengan pendapat para ahli yaitu Banyak orang- orang yang merasa belum puas di masa tua mereka karena kehidupan mereka di masa lalu dan kehidupan masa

kesehatan, serta aman dari ancaman ketakutan. Hal tersebut merupakan perwujudan dari nilai ….. Perlindungan terhadap masyarakat dalam beraktivitas me nuju kemakmuran. Sarana dan

diperoleh dari bentuk miskonsepsi peserta didik pada pre-test dan post-test, kemudian direkapitulasi sehingga diperoleh penurunan persentase jumlah peserta didik pada

Dari kriteria-kriteria tersebut akan di proses dengan metode Simple Additive Weighting dimana alternatif terbaik yaitu dosen berprestasi adalah dosen yang

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) metode pembelajaran yang digunakan atau diterapkan di SLB-C (tuna grahita ringan) untuk pembelajaran matematika adalah metode

3.3.3 Menjelaskan prosedur gerakan menendang sesuai dengan konsep tubuh, ruang, usaha, dan keterhubungan dalam permainan sederhana dan atau tradisional4. 4.3

untuk Pengadaan Barangflasa Pekerjaan tersebut diatas dengan Sumber Dana APBD Kabupaten Melawi Tahun Anggaran 2012 pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Melawi, dengan ini