PENDAPATAN PENDUDUK DAN PERUBAHANNYA
1. Musim Ombak Lemah
4.2. Faktor Berpengaruh terhadap Pendapatan
4.2.3. Faktor Lainnya yang Berpengaruh
Beberapa faktor lainnya juga ikut berpengaruh terhadap kondisi pendapatan rumah tangga di Desa Katurai, yang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu berupa faktor internal dan faktor eksternal.
• Faktor internal:
(1). Sumber pendapatan
Sumber pendapatan penduduk di Desa Katurai sebagian besar berasal dari sektor pertanian/perkebunan. Hanya sebagian kecil yang bekerja sebagai nelayan tangkap, itupun hanya merupakan lapangan pekerjaan tambahan. Adapun perkebunan yang utama adalah kebun kelapa. Bisa dikatakan bahwa hampir setiap rumah tangga di desa ini memiliki pohon kelapa. Akan tetapi, buah kelapa yang cukup banyak itu kurang bisa memberi nilai tambah bagi pendapatan masyarakat, karena harganya sangat rendah, yaitu hanya sekitar Rp 1000,- per butir. Selain itu pemasaran buah kelapa juga sulit, karena setiap rumah sudah memiliki pohon kelapa, dan untuk dibawa ke pasar tingkat kecamatan harga tidak sebanding dengan biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Akibatnya buah kelapa yang sudah tua banyak yang dibiarkan jatuh dan tidak dimanfaatkan.
Pemanfaatan buah kelapa yang dilakukan masyarakat selama ini adalah digunakan untuk memasak, dijual atau dibuat minyak kelapa. Akan tetapi, dari tiga pemanfaatan tersebut, yang bisa dikatakan membeli nilai tambah yang cukup baik hanya yang ketiga, yaitu dibuat minyak kelapa. Akan tetapi, hal itu umumnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, atau hanya dijual kepada masyarakat di sekitarnya saja. Akibatnya jumlah produksi juga kecil. Untuk menjual ke pasar di Siberut, mereka kalah bersaing dengan minyak goreng buatan pabrik, karena masyarakat umumnya lebih menyukai minyak goreng produksi pabrik daripada yang dibuat oleh masyarakat lokal. Selain itu, karena masyarakat di sekitar lokasi pasar banyak yang berasal dari Padang yang umumnya beragama Islam, sedangkan mayoritas masyarakat dari Katurai merupakan pemeluk agama Kristen, maka produk minyak goreng yang mereka hasilkan juga dipertanyakan kehalalannya. Dengan kondisi seperti itu, maka sulit diharapkan terjadi peningkatan pendapatan masyarakat dari hasil kelapa, walaupun produksinya cukup besar.
Melihat potensi buah kelapa yang cukup besar di daerah ini, mestinya masyarakat bisa diberikan ketrampilan lain, sehingga dapat mengolah buah kelapa menjadi produk lain seperti yang bisa dijual ke pasar yang lebih besar. Akan tetapi, selain ketrampilan tidak dimiliki oleh masyarakat, pemasaran produk itu juga dikhawatirkan akan terhambat oleh terbatasnya akses masyarakat terhadap pasar. Untuk itu, jika pengolahan hasil kelapa itu akan dikembangkan, maka perlu ada investor yang bersedia menampung produk hasil olahan kelapa yang dihasilkan oleh masyarakat. Untuk mendatangkan investor itulah maka diperlukan berbagai insentif yang diperlukan, termasuk kesiapan prasarana yang dibutuhkan, sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di kawasan ini.
(2). Teknologi alat tangkap/produksi & wilayah tangkap
Potensi sumber daya laut di daerah kajian cukup besar, namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut disebabkan keterbatasan alat tangkap yang digunakan dan armada yang digunakan. Masyarakat bukan tidak memiliki kemauan untuk meningkatkan peralatan tangkapnya. Akan tetapi, untuk keperluan itu mereka dihadapkan pada kendala permodalan, sehingga mereka pasrah dengan kondisi alat tangkap yang dimiliki.
Dengan peralatan tangkap yang seperti itu, maka wilayah tangkapnya juga sangat terbatas, yaitu hanya di sekitar teluk yang ada di dekat desa. Akibatnya mereka tidak dapat leluasa melakukan penangkapan di lokasi yang lebih jauh, terutama pada saat musim ombak.
(3). Biaya produksi
Sebetulnya kondisi masyarakat pada asalnya sudah sulit, mengingat pemanfaatan sumber daya tidak optimal. Kesulitan yang dialami masyarakat itu semakin besar, dengan adanya kenaikan BBM yang diberlakukan pemerintah sejak tahun 2006 yang lalu. Akibat kenaikan BBM tersebut memiliki efek ganda terhadap masyarakat. Di
satu sisi harga bahan bakar menjadi mahal, sehingga biaya operasional untuk kegiatan penangkapan menjadi sangat besar. Selain itu, daya beli masyarakat semakin menurun.
(4). Kualitas SDM
Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah menyulitkan masyarakat untuk melakukan diversifikasi usaha, sehingga untuk meningkatkan pendapatan juga mengalami kesulitan. Selain itu, terkait dengan kualitas SDM ini, satu permasalahan yang cukup besar adalah etos kerja yang dimiliki oleh masyarakat, yang terkesan rendah. Hal itu dapat dilihat antara lain pada kegiatan penangkapan ikan yang mereka lakukan, yang cenderung dilakukan secara secara subsisten. Mereka tidak ada kemauan untuk menangkap ikan lebih banyak, sehingga jika sudah dapat menangkap ikan sedikit, mereka sudah cukup puas. Hal itu mengakibatkan pendapatan mereka tidak optimal.
• Faktor eksternal
(1). Pemasaran : harga dan pemasaran
Harga komoditas hasil laut di kawasan ini sebetulnya cukup bagus. Akan tetapi, hal itu tidak memotivasi nelayan untuk lebih giat melakukan penangkapan ikan karena pasar untuk penjualan hasil tangkapan sangat terbatas. Umumnya mereka hanya menjual ikan di desanya sendiri. Memang di ibukota Kecamatan Siberut terdapat pasar untuk penjualan hasil-hasil pertanian maupun hasil laut, namun pasar di kecamatan itu hanya buka satu kali dalam seminggu. Itu berarti bahwa masyarakat hanya dapat menjual hasil bumi atau hasil lautnya satu kali dalam seminggu, itupun dengan biaya transportasi yang relatif mahal, yaitu Rp 20.000,- untuk pulang pergi. Dengan kondisi seperti, maka mereka mengalami kesulitan untuk menjual hasil laut, jika mereka meningkatkan produksinya. Lebih-lebih di sekitar desa mereka tidak ada pabrik es untuk pengawetan ikan.
Dengan demikian akses terhadap pasar merupakan faktor eksternal yang ikut mempengaruhi rendahnya pendapatan masyarakat, tetapi sekaligus juga memberikan pengaruh yang buruk terhadap etos kerja masyarakat.
(2). Musim/ Iklim
Wilayah tangkap nelayan umumnya berada di kawasan Teluk Katurai, yang tidak jauh dari desa mereka. Karena itu faktor musim kurang berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat. Pada musim ombak mereka tetap saja bisa menangkap ikan, terutama di kawasan teluk. Memang pada saat tidak musim ombak mereka bisa melakukan penangkapan ikan agak di luar teluk. Akan tetapi, hal itu jarang dilakukan karena mereka mencari ikan bersifat subsisten, terutama hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan.
(4). Degradasi Sumber Daya Pesisir dan Laut
Dalam kaitannya dengan permasalahan yang ada hubungannya dengan laut, dapat diketahui bahwa potensi perikanan di perairan sekitar Desa Katurai masih cukup besar. Hal itu dapat dilihat pada mudahnya masyarakat menangkap ikan. Meskipun demikian, potensi yang besar itu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Katurai, karena keterbatasan alat tangkap yang digunakan. Pemanfaatan batu karang untuk kepentingan bangunan juga masih cukup rendah dan belum dapat dikatakan mengancam potensi dan kelestarian karang yang ada. Namun penggunaan alat-alat tangkap yang kurang ramah lingkungan dan cenderung merusak terubu karang dan menguras populasi sumber daya laut yang dilakukan nelayan dari luar perlu diwaspadai.
Hutan bakau di pesisir pantai Desa Katurai juga masih nampak cukup lebat. Nampaknya penggunaan kayu bakau untuk kayu bakar dan keperluan rumah tangga lainnya masih kecil, sebab di desa ini masih tersedia potensi kayu dari hutan atau ladang di luar pesisir. Oleh karena itu, kelestarian hutan bakau dalam waktu dekat belum
terancam. Dari kondisi yang ada di Desa Katurai tersebut mengindikasikan bahwa degradasi sumber daya laut di sekitar Desa Katurai belum begitu mengkawatirkan, namun tetap harus diwaspadai dan diantisipasi, yaitu dengan mengikutsertakan peran masyarakat.