Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang spesifik, karena merupakan peralihan antara ekosistem darat dan ekosistem laut, sehingga faktor- faktor lingkungan ekosistem mangrove cukup kompleks, dan berbeda dengan faktor lingkungan pada ekosistem darat maupun ekosistem laut. Chapman (1976) mengemukakan bahwa ada 7 faktor yang dibutuhkan mangrove untuk dapat tumbuh dengan baik, yaitu : (1) Temperatur, perkembangan mangrove yang baik umumnya terdapat pada daerah yang beriklim tropika dan sub-tropika; (2) Arus laut yang tidak terlalu deras; (3) Perlindungan, mangrove akan tumbuh dengan baik pada wilayah yang memiliki perlindungan terhadap hempasan ombak yang keras; (4) Pantai dangkal; (5) Perairan asin, meskipun tidak menjadi syarat mutllak bagi pertumbuhan mangrove, perairan asin dapat dapat membantu perkembangan spesies mangrove tertentu; (6) Pasang-surut, pasang surut dapat membantu pemintakatan spesies mangrove tertentu; (7) Substrat lumpur, meskipun mangrove dapat tumbuh pada substrat berpasir, batu karang, dan gambut, namun pada umumnya mangrove sangat sesuai tumbuh pada substrat lumpur atau tanah berlumpur. Kemudian menurut Soekardjo (1993), ekosistem mangrove dapat tumbuh dengan baik apabila memenuhi 4 persyaratan, yaitu : (1) Temperatur, mangrove tumbuh dengan baik pada iklim tropika dan sub-tropika; (2) Curah hujan, mangrove tumbuh dengan baik dengan curah hujan sekitar 1.000 mm/thn; (3) Tempat tumbuh, mangrove hanya cocok di mintakat pesisir dan muara; (4) Tanah, mangrove dapat hidup pada tanah salinitas tinggi. Mangrove tumbuh subur di areal yang secara teratur disapu oleh pasang-surut dan sapuan air
Berdasarkan beberapa uraian di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa kondisi lingkungan yang mempengaruhi perkembangan ekosistem mangrove secara sederhana dapat dibedakan atas :
1. Salinitas
Umumnya mangrove tumbuh pada daerah air asin atau payau. Steenis (1978) menyatakan bahwa spesies mangrove tidaklah mutlak tumbuh pada air asin atau payau. Sedangkan Lear & Turrner (1977) mengemukakan bahwa beberapa spesies mangrove dalam pertumbuhannya tidak memerlukan garam. Bruguiera sp dan Rhizophora sp dapat tumbuh dan berbunga di dalam plot, dengan menggunakan substrat pasir dan perlakukan air tawar.
Mangrove kebanyakan tergolong tumbuhan halophyte, yaitu tumbuhan yang dapat beradaptasi terhadap salinitas tinggi. Chapman (1976) mengemukakan bahwa Rhizophora mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, dan B. parviflora merupakan golongan halophytes obligat dan jenis Xylocarpus granatum dan Nypa fructicans merupakan golongan halophytes fakultatif.
2. Pasang surut
Faktor fisik yang sangat berpengaruh pada hutan mangrove salah satunya adalah pasang-surut. Pasang-surut adalah naik dan turunnya permukaan air laut secara periodik selama interval waktu tertentu (Nybakken, 1988)
Perbedaan jumlah pasang (air naik) dan surut (air turun) per hari dan ketinggiannya pada berbagai belahan bumi tidak sama. Pasang-surut yang terdiri atas satu pasang dan satu surut per hari disebut pasang -surut diurnal. Pasang- surut yang mempunyai dua pasang dan dua surut per hari disebut pasang- surut semidiurnal. Jika ada percampuran antara diurnal dan semi-diurnal disebut pasang-surut campuran. Ketinggian air pasang dan surut bervariasi dari hari ke hari (Nybakken 1988).
Adanya pasang-surut ini menyebabkan mangrove secara periodik mengalami periode penggenangan (innudation). Watson (1928) membagi daerah genangan air pasang di semenanjung Malaya, menjadi 5 kelas, yaitu:
a. Tempat yang digenangi oleh air pasang 56- 62 kali per bulan (all higt tides). Di tempat seperti ini jarang suatu jenis dapat hidup, kecuali Rhizophora mucronata yang tumbuh di tepi sungai.
b. Tempat yang digenangi oleh air pasang 45-56 kali per bulan (medium higt tides). Di tempat ini tumbuh spesies Sonneratia dan Avicennia. Berbatasan dengan sungai R. mucronata merajai.
c. Tempat yang digenangi oleh air pasang 20- 45 kali per bulan (normal higt tides). Tempat ini mencakup sebagian besar hutan mangrove yang ditumbuhi R. mucronata, R. apiculata, Ceriops tagal, dan Bruguiera parviflora.
d. Tempat yang digenangi oleh air pasang 2-20 kali per bulan (spring tides). Di sini Rhizophora diganti oleh Bruguiera. Pada tempat berlumpur keras Bruguiera cylindrica membentuk tegakan murni dan di tempat yang
drainasenya lebih baik tumbuh Bruguiera parviflora kadang-kadang
Bruguiera sexangula.
e. Tempat yang digenangi oleh air pasang 2 kali per bulan (exeptional higt tides). Disini Bruguiera gymnorrhiza berkembang dengan baik sering
bersama- sama dengan tumbuhan paku dan kadang-kadang R. apiculata. Ke
arah darat sering ditumbuhi oleh tegakan Oncosperma tigillaria.
De Haan diacu dalam Chapman (1976) yang melakukan kajian di hutan mangrove Cilacap (Jawa Tengah), membagi kelas genangan menjadi 4 kelas, yaitu:
a. Salinitas 10 - 30%o, tanah digenangi 1-2 kali sehari, atau sekurang-kurangnya
20 hari per bulan. Spesies Avicennia atau Sonneratia pada tanah baru yang lunak atau Rhizophora pada tanah yang agak lebih keras membentuk mintakat luar.
b. Salinitas 10-30%o, tanah digenangi 10-9 hari per bulan. Bruguiera gymnorrhiza
mintakat ke tiga.
d. Salinitas 10 - 30%o, tanah digenangi hanya beberapa hari saja per bulan. Spesies
Bruguiera, Soyphyphora dan Lumnitzera berkembang baik dan membentuk mintakat dalam.
3. Substrat
Substrat mangrove sangat dipengaruhi oleh pasang-surut. Substrat yang berdekatan dengan pantai, umumnya berpasir. Bagian tepi sungai dan bagian arah menuju darat umumnya merupakan tanah lempung (clay). Menurut Nybakken (1988), aggregasi butiran tanah pada hutan mangrove mudah terurai atau terdispersi oleh air dan menyebabkan tanah berlumpur. Konstribusi lumpur kurang baik, sehingga sering dijumpai tanah mangrove mengalami kondisi anoksik.
4. Oksigen Tanah
Kandungan oksigen dalam mangrove hanya sedikit. Untuk mencukupi kebutuhan oksigen tersebut, umumnya mangrove mempunyai akar napas (aerial root) yang disebut pneumatophores. Selain adanya bentuk akar yang khas tersebut, kekurangan oksigen juga dapat dipengaruhi dengan adanya lubang- lubang dalam tanah yang dibuat oleh hewan-hewan, misalnya kepiting (Soeroyo 1993). Pada anggota Rhizophora ditunjang oleh akar udara (prop atau akar jangkar) yang melengkung dari batang pokok dan juga berasal dari cabang bawah.
Pada marga Bruguiera dan Ceriops mempunyai perakaran samping yang menuju
(muncul) ke atas permukaan tanah dan kembali lagi ke dalam tanah, yang disebut
akar lutut. Sedangkan pada Sonneratia dan Avicennia mempunyai sistem
perakaran yang meluas dari akar-akar samping yang dangkal. Akar-akar udara (pneumatophora) ini berbentuk kerucut dan muncul ke permukaan tanah. Pada Heritiera littoralis dan Xylocarpus granatum mempunyai sistem perakaran penyokong yang berbelok-belok (akar papan).