• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada akhirnya manusialah yang menentukan apakah tanah yang diusahakannya akan rusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. Banyak faktor yang menentukan apakah manusia akan mem-perlakukan dan merawat serta mengusahakan tanahnya secara bijaksana sehingga menjadi lebih baik dan dapat memberikan pendapatan yang cukup untuk jangka waktu yang tidak terbatas, antara lain dengan (a) luas tanah pertanian yang diusahakan, (b) tingkat pengetahuan dan penguasaan teknologi, (e) harga hasil usaha tani, (f) perpajakan, (g) ikatan hutang, (h) pasar dan sumber keperluan usahatani, dan (i) infrastruktur dan fasilitas kesejahteraan (Arsyad, 2000).

Rencana konservasi tanah harus mempertimbangkan keterbatasan atau hambatan dalam pemanfaatan tanah disamping faktor-faktor yang bersifatmendukung program konservasi. Faktor penting yang harus dilakukan dalam usaha konservasi tanah,yaitu teknik inventarisasi dan klasifikasi bahaya erosi dengan tekanan daerah hulu (upstream area). Untuk menentukan tingkat bahaya erosi suatu bentang lahan diperlukan kajian terhadap empat faktor, yaitu jumlah, macam dan waktu berlangsungnya hujan serta faktor-faktor yang berkaitan dengan iklim, jumlah dan macam tumbuhan penutup tanah, tingkat erodibilitas didaerah kajian, dan keadaan kemiringan lereng (Asdak, 1995)

Pengolahan tanah meliputi pemeliharaan kandungan bahan organik tanah, praktek pembajakan, dan penstabilan tanah. Penambahan bahan organik ke dalam tanah berfungsi tidak saja untuk mempertahankan kesuburan tanah, tetapi juga dapat meningkatkan kapasitas tanahuntuk meretensi air, dan menstabilkan agregat tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik kurang dari 2 persen biasanya paling peka terhadap erosi. Karena itu perlu penambahan bahan organik hingga angka tersebut. Penambahan bahan organik ke tanah perlu memperhatikan jenis tanah, karena hal itu berhubungan dengan faktor isohumikjumlah humus yang dihasilkan persatuan bahan organik ( Rahim, 2003).

Pada pengolahan lahan menurut kontur, pembajakan dilakukan menurut kontur atau memotong lereng, sehingga terbentuk jalur-jalur tumpukan tanah dan alur menurut kontur. Pengolahan lahan menurut kontur akan lebih efektif apabila diikuti dengan penanaman menurut kontur pula, yaitu larikan tanaman dibuat sejajar dengan kontur.

Efek utama pengelolaan menurut kontur adalah terbentuknya penghambat aliran permukaan yang memungkinkan penyerapan air dan menghindarkan pengangkutan tanah. Oleh karena itu, didaerah kering, pengolahan menurut kontur sangatsangat efektif dalam pengawetan air.

Teras adalah suatu bangunan pengawetan tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek lereng dan atau memperkecil kemiringan, dan merupakan suatu metode pengendalian erosidengan membangun semacam saluran lebar melintang lereng tanah. Pengelolaan lahan dengan kontur tanah pertanian selalu dikombinasikan dengan teras. Karena perterasan memerrlukan investasi tambahan dan menyebabkan perubahan dalam prosedurbertani maka tindakan penterasan hanya dipertimbangkan di mana tindakan pertanaman atau pengelolaan tanah lainnya, sendiri-sendiri atau bersama, tidak memberikan pengendalian yang cukup.

Fungsi teras adalah mengurangi panjang lereng, karena itu mengurangi sheet dan riil, mencegah terbentuknya gully, dan menahan aliran permukaan di daerah kurang hujan. Disebagian besar daerah, graded teras lebih efektif dalam mengurangi erosi daripada aliran permukaan (runoff), sedangkan level teras lebih efektif dalam mengurangi runoff disamping mengendalikan erosi.

Di dalam perencanaan teras, diperlukan berbagai pertimbangan khusus, antara lain keadaan tata guna lahan pada daerah yang bersangkutan, pembuatan sluran pembuangan (outlet), penentuan tata letak teras (terrace lay-out) dan rencana pertanian yang diusahakan.

Berdasarkan fungsinya, teras dibedakan kedalam dua jenis, yaitu : teras intersepsi (interseption terrace), dan teras diversi (diversion terrace). Pada teras

intersepsi, aliran permukaan ditahan oleh saluran yang memotong lereng, sedangkan pada teras disversi berfungsi untuk mengubah arah aliran sehingga tersebar kesaluran lahan dan tidak terkonsentrasi kesuatu tempat. Menurut bentuknya teras dibedakan ke dalam beberapa bentuk, yaitu teras kredit, teras guludan, teras datar, teras bangku, teras kebun dan teras individu

(Hardjoamidjojo dan Sukandi, 2008)

Tingkat Bahaya Erosi (TBE)

Asdak, 1995 menyatakan bahwa keberhasilan pelaksanaan program konservasi tanah salah satu informasi penting yang harus diketahui adalah tingkat bahaya erosi (TBE) dalam suatu DAS atau sub-DAS yang menjadi kajian. Dengan mengetahui TBE suatu DAS atau masing-masing sub-DAS, prioritas rehabilitasi tanah dapat ditentukan.

Tingkat bahaya erosi pada dasarnya dapat ditentukan dari perhitungan nisbah antara laju erosi tanah (A) dengan laju erosi erosi yang masih ditoleransikan.

Batas Toleransi Erosi adalah batas maksimal besarnya erosi yang masih diperkenankan terjadi pada suatu lahan. Besarnya batas toleransi erosi dipengaruhi oleh kedalaman tanah, batuan asal pembentuk tanah, iklim, dan permeabilitas tanah. Evaluasi bahaya erosi merupakan penilaian atau prediksi terhadap besarnya erosi tanah dan potensi bahayanya terhadap sebidang tanah. Evaluasi bahaya erosi ini didasarkan dari hasil evaluasi lahan dan sesuai dengan tingkatannya. Menurut Arsyad (2000) evaluasi bahaya erosi atau disebut juga tingkat bahaya erosi ditentukan berdasarkan perbandingan antara besarnya erosi tanah aktual dengan erosi tanah yang dapat ditoleransikan (tolerable soil loss). Untuk mengetahui

kejadian erosi pada tingkat membahayakan atau suatu ancaman degradasi lahan atau tidak, dapat diketahui dari tingkat bahaya erosi dari lahan tersebut.

Tingkat Bahaya Erosi dikategorikan ke dalam sangat ringan hingga sangat berat. Pada tanah dengan solum dalam (kedalaman >90 cm) seperti pada wilayah kajian, tingkat bahaya erosi dikatakan Sangat Ringan (SR) bila jumlah erosi < 15 ton/(ha.thn), Ringan (R) bila jumlah erosi antara 15-60 ton/(ha.thn), Sedang (S) bila jumlah erosi 60-180 ton/(ha.thn), Berat (B) bila jumlah erosi 180-480

ton/(ha.thn) dan Sangat Berat (SB) bila erosinya > 480 ton/(ha.thn) (Saptarini, dkk, 2007).

Lahan Tanaman Industri di Daerah Aliran Sungai

Perkebunan dapat diartikan berdasarkan fungsi, pengelolaan, jenis tanaman dan produk yang dihasilkan. Perkebunan berdasarkan fungsinya dapat diartikan sebagai usaha untuk menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan devisa negara, dan pemeliharaan kelestarian sumber daya alam.

Berdasarkan pengelolaannya, perkebunan dapat dibagi menjadi (1) Perkebunan Rakyat, yaitu suatu usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh rakyat yang hasilnya sebagian besar untuk dijual, dengan areal pengusahaannya dalam skala yang terbatas luasnya; (2) Perkebunan Besar, yaitu suatu usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Swasta yang hasilnya seluruhnya untuk dijual dengan areal pengusahaannya sangat luas; (3) Perkebunan Perusahaan Inti Rakyat (PIR), yaitu suatu usaha budidaya tanaman, di mana perusahaan besar (pemerintah atau swasta) bertindak sebagai inti sedangkan rakyat merupakan plasma; (4) Perkebunan Unit Pelaksana

Proyek (Perkebunan Pola UPP) yaitu perkebunan yang dalam pembinaannya dilakukan oleh pemerintah, sedangkan pengusahaannya tetap dilakukan oleh rakyat.

Sedangkan perkebunan berdasarkan jenis tanamannya dapat diartikan sebagai usaha budidaya tanaman yang dilakukan oleh rakyat, pemerintah, maupun swasta selain tanaman pangan dan hortikultura. Demikian pula perkebunan berdasarkan produknya dapat diartikan sebagai usaha budidaya tanaman yang ditujukan untuk menghasilkan bahan industri (misalnya karet, tembakau, cengkeh, kapas, rosela, dan serai wangi), bahan industri makanan (misalnya kelapa, kelapa sawit, dan kakao), dan makanan (misalnya tebu, teh, kopi, dan kayu manis) (Syamsulbahri, 1996).

Hutan memegang peranan yang sangat penting sebagai tata guna yang produktif dan berkelanjutan secara lokal maupun global. Seperti efek rumah kaca, kenaikan air laut, dan degradasi tanah dan air disebabkan oleh terjadinya penebangan hutan yang tidak memperhitungkan kelestariannya. Umumnya, penebangan hutan di konversi sebagai perladangan dan pemanenan kayu perdagangan, bukan sebagai pemenuhan keperluan yang mendesak dari penduduk sekitar hutan. Penebangan hutan untuk kayu bakar dan orang termasuk penyebab menciutnya penutupan pohon. Hilangnya hutan basah setiap tahun diperkirakan 25.000 km2 sebagai pasokan kayu bakar keperluan penduduk sekitar hutan

(Arief, 2001).

Tanaman keras perkebunan berfungsi sama atau hampir sama dengan tanaman hutan. Karena di bawah tegakan terdapat tanaman penutup tanah yang mampu menahan pukulan air hujan. Air yang jatuh ke tanah akan meresap ke

dalam tanah. Demikian pula aliran permukaan dihambat oleh tanaman penutup, sisanya masuk ke sungai. Volume run-off dihambat oleh tegakan tanaman perkebunan, demikian pula sedimennya (Siswomartono, 2008).

Dokumen terkait