• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang Melatarbelakangi Campur Kode

Dalam dokumen BAB II ANALISIS DATA (Halaman 46-54)

C. Faktor Yang Melatarbelakangi Alih Kode dan Campur Kode dalam Komunikasi Berbahasa Jawa di Asrama Mahasiswa

2. Faktor yang Melatarbelakangi Campur Kode

Berikut ini merupakan faktor yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan campur kode dalam komunikasi berbahasa Jawa di Asrama Mahasiswa UNS Surakarta, yaitu (1) identifikasi peran sosial penutur, (2) tidak

ada padanannya dalam bahasa yang digunakan, dan (3) keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan.

a. Identifikasi Peran Sosial Penutur

Data 35

P1 : Aku ki gumun ndhuk, saiki lo nak dilogika wonge wi gak duwe modal blas. Kok isa ya wong wedok-wedok do gelem diapusi ngasi dha rebutan sisan hemmm.

‘Aku tu heran dek, sekarang kalo dilogika orangnya itu tidak punya modal sama sekali. Kenapa bisa ya cewek-cewek mau dibohongi sampai pada berebut hemmm.’

P2 : Kuwi merga lambene lamis mbak.

‘Itu karena mulutnya penuh buaian mbak.’

Peristiwa tutur pada data (35) terjadi di ruang tunggu gedung D Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Peristiwa tutur terjadi pada hari Rabu 27 April 2016 pukul 15.17 WIB. Komunikasi dilakukan oleh P1 dan P2 yang sedang mengantri untuk membayar sewa kamar Asrama Mahasiswa UNS. Situasi percakapan yang terjadi yaitu serius. Topik tuturan pembicaraannya adalah bercerita tentang seseorang yang suka membohongi wanita.

Pada tuturan di atas terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan kata dari bahasa lain yang dilakukan oleh P1. Dalam tuturan tesebut tepatnya pada kalimat berbahasa Jawa ngoko yaitu, aku ki gumun nduk, saiki lo nak dilogika wonge wi gak duwe modal blas. Kok isa ya wong wedok-wedok dha gelem diapusi ngasi do rebutan sisan hemmm yang merupakan unsur atau ruas data, terdapat penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata dilogika. Campur kode ini disebut dengan campur kode intern.

Tujuan atau fungsi dari penggunaan campur kode dalam data (35) tersebut adalah memberikan penjelasan suatu maksud. Kata dilogika yang diucapkan P1

memberikan penjelasan tentang seseorang yang dibicarakan tidak mempunyai modal apapun tetapi dapat membohongi para wanita.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut adalah identifikasi peran sosial penutur. P1 merupakan seorang mahasiswi sehingga lazim menggunakan bahasa nasional atau bahasa Indonesia. Dalam tuturannya penutur (P1) menggunakan kata dari bahasa Indonesia yaitu dilogika ketika bercerita tentang seseorang yang dia kenal. Latar belakang campur kode ini disebut dengan faktor sosial, karena status sosial penutur sebagai mahasiswa.

Data 36

P1 : Buk sampun, nasi sayur setunggal, lawuhe sundukan setunggal, tempene kalih, es teh setunggal pinten?

‘Buk sudah, nasi sayur satu, lauknya sate satu, tempenya dua, es teh satu berapa?’

P2 : Pitu setengah mbak.

‘Tujuh ribu lima ratus mbak.’

Peristiwa tutur pada data (36) terjadi di kantin Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Peristiwa tutur terjadi pada hari Jumat 24 Juni 2016 pukul 15.17 WIB. Komunikasi dilakukan oleh P1 yaitu mahasiswi penghuni asrama UNS dan P2 yaitu penjual di kantin Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Situasi percakapan yang terjadi yaitu santai. Topik tuturan pembicaraannya adalah membayar makanan dan minuman yang telah dimakan oleh P1.

Pada tuturan di atas terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan frasa dari bahasa lain yang dilakukan oleh P1. Dalam tuturan tesebut tepatnya pada kalimat berbahasa Jawa krama yaitu, buk sampun, nasi sayur setunggal, lawuhe sundukan setunggal tempene kalih, es teh setunggal pinten? yang merupakan unsur atau ruas data, terdapat penggunaan frasa dari bahasa Indonesia yaitu kata nasi sayur. Campur kode ini disebut dengan campur kode intern.

Tujuan atau fungsi dari penggunaan campur kode dalam data (36) tersebut adalah agar bahasa yang digunakan lebih bervariasi. P1 merupakan seorang mahasiswi yang lazim dalam menguasai bahasa lain. Sehingga dalam menyampaikan makanan apa saja yang dipesannya P1 menggunakan frasa dari bahasa Indonesia agar lebih bervariasi.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut adalah identifikasi peran sosial penutur. P1 merupakan seorang mahasiswi sehingga lazim menggunakan bahasa nasional atau bahasa Indonesia. Dalam tuturannya penutur (P1) menggunakan frasa dari bahasa Indonesia yaitu nasi sayur karena pembeli khususnya pemuda lebih sering menggunakannya daripada frasa dalam bahasa Jawa yaitu sega jangan. Latar belakang campur kode ini disebut dengan faktor sosial, karena status sosial penutur sebagai mahasiswa.

b. Tidak Ada Padanannya dalam Bahasa yang Digunakan

Data 37

P1 : Wong gawa mobil kok yak-yakkan mangsane dalane mbahne yak.e! ‘Orang menyetir mobil seenaknya sendiri dia kira jalan neneknya kali!’

P2 : Gembosi wae ban e glelengmen. ‘Gembos saja bannya songong sekali.’

Peristiwa tutur pada data (37) terjadi di jalan masuk antara gedung A dan B Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Peristiwa tutur terjadi pada hari Sabtu 27 Februari 2016 pukul 13.55 WIB. Komunikasi dilakukan oleh P1 dan P2 yaitu mahasiswa penghuni asrama UNS Surakarta. Situasi percakapan yang terjadi yaitu serius. Topik tuturan pembicaraannya adalah membicarakan tentang seseorang yang mengemudi mobil dengan tidak aturan atau ngebut.

Pada tuturan di atas terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan kata dari bahasa lain yang dilakukan oleh P1. Dalam tuturan tesebut tepatnya pada kalimat berbahasa Jawa ngoko yaitu, wong gawa mobil kok yak-yakkan mangsane dalane mbahne yak.e! yang merupakan unsur atau ruas data, terdapat penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata mobil. Campur kode ini disebut dengan campur kode intern.

Tujuan atau fungsi dari penggunaan campur kode dalam data (36) tersebut adalah lebih mudah dipahami dan pas sehingga maksud penutur dapat tersampaikan kepada mitra tutur (P2) mengenai orang yang membawa mobil tidak aturan saat mengendarainya.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut adalah tidak adanya padanan yang sesuai dalam bahasa asli penutur yaitu bahasa Jawa. P1 menggunakan kata dari bahasa Indonesia yaitu mobil karena dalam bahasa Jawa tidak ada padanan yang sesuai sehingga kata tersebut digunakan penutur agar lebih mudah dalam menyampaikan maksud pembicaraannya. Latar belakang campur kode ini disebut dengan faktor lingual, karena tidak adanya kosa kata yang tepat dalam bahasa Jawa.

Data 38

P1 : Pak mriki ndandakke rice cooker ten pundi nggih? ‘Pak di sini perbaikan rice cooker dimana ya?’ P2 : Kene tak gawane wae, ponakanku isa ndandani.

‘Sini aku bawa saja, keponakanku bisa memperbaikinya.’ P1 : Oh nggih pak matur nuwun.

‘Oh iya pak terima kasih.’

Peristiwa tutur pada data (38) terjadi di pos satpam Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Peristiwa tutur terjadi pada hari Kamis 28 April 2016 pukul 11.55

WIB. Komunikasi dilakukan oleh P1 yaitu penghuni Asrama Mahasiswa UNS Surakarta dan P2 yaitu satpam Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Situasi percakapan yang terjadi yaitu penuh rasa hormat. Topik tuturan pembicaraannya adalah menanyakan servis rice cooker.

Pada tuturan di atas terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan frasa dari bahasa lain yang dilakukan oleh P1. Dalam tuturan tesebut tepatnya pada kalimat berbahasa Jawa krama yaitu, pak mriki ndandakke rice cooker ten pundi nggih? yang merupakan unsur atau ruas data, terdapat penggunaan frasa dari bahasa Inggris yaitu kata. Campur kode ini disebut dengan campur kode ekstern.

Tujuan atau fungsi dari penggunaan campur kode dalam data (38) tersebut adalah lebih mudah dipahami dan pas sehingga maksud penutur (P1) dapat tersampaikan kepada mitra tutur (P2) mengenai tempat servis mesin penanak nasi. Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut adalah tidak adanya padanan yang sesuai dalam bahasa asli penutur yaitu bahasa Jawa. P1 menggunakan kata dari bahasa Inggris yaitu rice cooker karena dalam bahasa Jawa tidak ada padanan yang sesuai sehingga kata tersebut digunakan penutur agar lebih mudah dalam menyampaikan maksud pembicaraannya. Latar belakang campur kode ini disebut dengan faktor lingual, karena tidak adanya kosa kata yang tepat dalam bahasa Jawa.

c. Keinginan Untuk Menjelaskan Atau Menafsirkan

Data 39

P1 : Nganyeli tenan mbakmu kae muka dua, omongono mbok kon nyopot siji raine. Senengane kog ning ngarep beda ning buri ya beda.

‘Menyebalkan sekali kakakmu itu muka dua, kamu bilang ke dia supaya melepaskan satu mukanya. Sukanya didepan beda di belakang juga beda.’

P2 : Iya ya akih tenan raine. ‘Ya banyak sekali mukanya.’

Peristiwa tutur pada data (39) terjadi di kantin Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Peristiwa tutur terjadi pada hari Minggu 22 Mei 2016 pukul 14.49 WIB. Komunikasi dilakukan oleh P1 dan P2 yaitu penghuni Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Situasi percakapan yang terjadi yaitu serius. Topik tuturan pembicaraannya adalah membicarakan seseorang yang mempunyai sikap berubah-ubah.

Pada tuturan di atas terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan frasa dari bahasa lain yang dilakukan oleh P1. Dalam tuturan tersebut tepatnya pada kalimat berbahasa Jawa ngoko yaitu, nganyeli tenan mbakmu kae muka dua oh, mbok kon nyopot siji raine. Senengane kog ning ngarep beda ning buri ya beda yang merupakan unsur atau ruas data, terdapat penggunaan frasa dari bahasa Indonesia yaitu kata muka dua. Campur kode ini disebut dengan campur kode intern.

Tujuan atau fungsi dari penggunaan campur kode dalam data (39) tersebut adalah memberikan penekanan suatu maksud. frasa muka dua memberikan penekanan bahwa orang tersebut yang dibicarakan memiliki sikap yang berbeda-beda atau baik didepan buruk di belakang.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut adalah keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. P1 merupakan seorang mahasiswi yang sedang bercerita kepada pembeli. Dalam tuturannya penutur (P1) menggunakan frasa dari bahasa Indonesia yaitu muka dua karena menunjukkan

sikap ingin menjelaskan kepada temannya mengenai seseorang yang memiliki sikap berbeda yakni baik didepan dan buruk di belakang. Latar belakang campur kode ini disebut dengan faktor praktikal, karena lebih umum dan praktis untuk diucapkan.

Data 40

P1 : Kowe meh ngampus apa ora? ‘Kamu mau ke kampus apa tidak?’

P2 : Ora beb, revisiku durung dadi, suk Senin paling ngampuse.

Tidak beb, revisiku belum jadi, paling besuk hari Senin ke kampusnya.’

P1 : Owalah yawis aku mangkat dhisik beb. ‘Owalah yasudah aku berangkat dulu beb.’ P2 : Iya ati-ati beb.

‘Ya hati-hati beb.’

Peristiwa tutur pada data (40) terjadi di parkiran gedung A Asrama Mahasiswa UNS Surakarta. Peristiwa tutur terjadi pada hari Jumat 27 Mei 2016 pukul 09.15 WIB. Komunikasi dilakukan oleh P1 yaitu penghuni kamar nomor 12 lantai 3 dan P2 yaitu penghuni kamar nomor 7 lantai 2. Keduanya merupakan teman satu jurusan. Situasi percakapan yang terjadi yaitu santai. Topik tuturan pembicaraannya adalah menanyakan ke kampus apa tidak.

Pada tuturan di atas terdapat peristiwa campur kode berupa penggunaan kata dari bahasa lain yang dilakukan oleh P2. Dalam tuturan tersebut tepatnya pada kalimat berbahasa Jawa ngoko yaitu, Ora beb, revisiku durung dadi, suk Senin paling ngampuse., yang merupakan unsur atau ruas data, terdapat penggunaan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata revisiku. Campur kode ini disebut dengan campur kode intern.

Tujuan atau fungsi dari penggunaan campur kode dalam data (40) tersebut adalah lebih mudah dipahami sehingga maksud dari P2 dimengerti oleh P1. Hal itu terlihat bahwa P1 memahami maksud dari tuturan P2 sehingga komunikasi yang terjadi menjadi lancar tanpa menjelaskan panjang lebar.

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya campur kode tersebut adalah keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. Dalam tuturannya P2 memasukkan kata dari bahasa Indonesia yaitu kata revisiku karena ingin menunjukkan sikap ingin menjelaskan kepada P1 bahwa alasan dia tidak berangkat ke kampus karena belum mengerjakan perbaikan tugas dari dosen dan dia akan ke kampus pada hari senin setelah revisiannya selesai. Latar belakang campur kode ini disebut dengan faktor praktikal, karena lebih umum dan praktis untuk diucapkan.

Dalam dokumen BAB II ANALISIS DATA (Halaman 46-54)

Dokumen terkait