• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.2 Kondisi yang Mempengaruhi Perluasan Akses Pendidikan

2.2.4 Faktor Motivasi Masyarakat Terhadap Pendidikan

Motif pada hakekatnya merupakan daya dorong diri utama yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau berperilaku (Mintorogo, 1997:50).

Motif sama dengan kebutuhan dan dapat diketahui karena kebutuhan seseorang tersebut sehingga tercapai pula tujuannya.

Karena pada suatu saat seseorang memiliki motif yang berbeda dengan kadar yang berbeda-beda pula yaitu ada yang kuat, ada pula yang lemah, serta ada yang paling kuat. Yang paling kuat pada saat itu akan menimbulkan perilaku karena begitu kuatnya barangkali semangatnya dan berperilaku untuk mencapai tujuan sehingga dapat dikatakan timbul motivasinya .

Lebih lanjut, pengertian motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan (teori terjemahan Winardi dalam Mintorogo, 1997:55).

Pengertian motivasi dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001 adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang/kelompok orang tertentu tergerak

Motif/Kebutuhan Tujuan

Perilaku

Motif 1 Motif 2 Motif 3

lemah agak kuat yang paling kuat

Perilaku

liii

melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapatkan kepuasan dengan perbuatannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, motif dan motivasi tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Motif yang kuat akan menimbulkan perilaku, dan karena motif yang begitu kuat maka individu timbul semangat dalam berperilaku dalam mencapai tujuan dengan kata lain motivasinya sangat kuat.

Mintorogo (1997) juga berpendapat bahwa timbulnya motivasi apabila ada harapan untuk terpenuhinya suatu kebutuhan, tanpa adanya harapan seseorang tidak akan termotivasi. Harapan berhasil bila persepsi seseorang tentang kemungkinan apabila seseorang berbuat sesuatu maka akan tercapai suatu hasil tertentu.

Persepsi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001) adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal dengan pancainderanya. Penginderaan adalah proses diterimanya stimulus melalui media alat indera.

Menurut Davidaff dalam Walgito (2000) bahwa pada umumnya stimulus diteruskan ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi sesuatu yang di indera tersebut menjadi sesuatu yang berarti setelah diorganisasikan dan diinterpretasikan.

Terdapat 2 faktor yang berpengaruh pada persepsi (Ardianto, 2006), yaitu faktor internal: perasaan, pengalamaan, kemampuan berpikir, motivasi dan kerangka acuan. Sedangkan faktor eksternal adalah: stimulus itu sendiri dan keadaan lingkungan dimana persepsi itu berlangsung.

liv

Perihal definisi masyarakat, dalam Kamus Bahasa Inggris masyarakat disebut society dengan asal kata socius yang berarti kawan. Menurut J.L.Gillin dalam Mussadun, 2000 bahwa masyarakat adalah kumpulan individu yang saling bergaul, berinteraksi karena mempunyai nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama berbagai sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu identitas bersama.

Pengertian pendidikan berasal dari “didik”, lalu kata ini mendapat awalan me, sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam bahasa inggris pendidikan sama dengan education. Menurut Mcleod dalam Syah (1995:10), pendidikan adalah perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan.

Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasanya belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001 adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Kemudian, definisi menurut Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2000, bahwa pendidikan adalah segala sesuatu untuk membina kepribadian,

lv

mengembangkan kemampuan jasmaniah dan rohaniah agar mampu melaksanakan tugas.

Jadi motivasi masyarakat terhadap pendidikan adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang/kelompok orang tertentu saling berinteraksi untuk membina kepribadian, mengembangkan kemampuan jasmaniah dan rohaniah agar mampu melaksanakan tugas.

2.2.4.1 Teori-teori Motivasi

Berikut ini disajikan teori-teori motivasi dari berbagai sumber dalam bentuk tabel, yaitu:

Tabel II.2

TEORI-TEORI MOTIVASI

No. Sumber Nama Teori Substansi

1. Maslow (dalam Handoko, 1991:256) Teori Hirarki Kebutuhan

Terdapat 2 Prinsip seseorang berperilaku sesuai dengan motivasinya, yaitu:

- Prinsip kesatu adalah bahwa kebutuhan-kebutuhan seseorang tersusun atas suatu hirarki dari kebutuhan paling rendah menuju kebutuhan yang tertinggi.

- Prinsip kedua adalah kebutuhan yang telah terpuaskan berhenti menjadi motivator utama dalam berperilaku.

lvi

No. Sumber Nama Teori Substansi

2. Herzberg (dalam Handoko, 1991:260) Teori pemeliharaan/ teori 2 faktor

Dalam teori ini terdapat 2 faktor, yaitu faktor yang berhubungan dengan faktor pemuas yang terdiri dari prestasi, penghargaan, pekerjaan kreatif dan menantang, tanggung jawab, keinginan dan peningkatan yang separalel dengan faktor pemeliharaannya, yaitu: kebijaksanaan dan administrasi perusahaan, indentitas pengendalian teknik, kondisi kerja, status pekerjaan, keamanan kerja, kehidupan pribadi dan penggajian.

3. Macgregor (dalam Mintorogo, 1997:89)

Teori X dan Y Asumsi hakekat manusia: - Teori X :

Manusia pada umumnya tidak suka bekerja, kalau mau bekerja selalu minta imbalan materi, tidak mempunyai ambisi, tidak mau bertanggung jawab dan lebih suka diarahkan, tidak mempunyai inisiatif dan tidak kreatif, sehingga tidak dapat memecahkan masalahnya sendiri, hanya dapat dimotivasi dengan kebutuhan fisiologis dan kemauan serta rasa aman, perlu diawasi dengan ketat, diberi ancaman dengan sanksi dan kalau perlu dihukum agar bekerja untuk mencapai tujuan organisasi.

- Teori Y :

Manusia pada umumnya suka bekerja dan beranggapan bahwa bekerja tidak berbeda dengan bermain, selama pekerjaan itu menyenangkan, mempunyai rasa tanggung jawab dan dapat mengendalikan diri sendiri dan tidak suka diarahkan, kreatif dan dapat memecahkan masalahnya sendiri, timbul motivasinya pada strata kebutuhan sosial, harga diri, dan aktualisasi diri, tidak suka diawasi dan dapat menyerahkan diri sendiri, apabila dimotivasi dengan pendekatan yang tepat.

lvii

Dokumen terkait