KAJIAN PUSTAKA
A. Belajar dan Pembelajaran
3. Faktor Pendekatan Belajar
(Approach to Learning ), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Sedangkan menurut Noehl Nasution dalam Djamarah (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar meliputi :
a. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Selama hidup anak didik tidak bisa menghindarkan diri dari lingkungan alami dan lingkungan
xxxvii
sosial budaya. Keduanya mempunyai pengaruh cukup signifikan terhadap belajar anak didik di sekolah.
b. Faktor Instrumental, meliputi : 1.) Kurikulum
Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak didik. Untuk mencapai target penguasaan kurikulum oleh anak didik terkadang dirasakan begitu sukar. Faktor sejarah pendidikan masa lalu yang menjadi akar permasalahannya.
2.) Program
Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan disekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Program pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, finansial, dan sarana pra sarana.
3.) Sarana dan Fasilitas
Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Salah satu persyaratan untuk membuat suatu sekolah adalah pemilikan gedung sekolah yang di dalamnya ada ruang kelas,
xxxviii
ruang kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang perpustakaan, ruang BP, ruang tata usaha, auditorium, dan halaman sekolah yang memadai. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik.
Selain masalah sarana, fasilitas juga kelengkapan sekolah yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Lengkap tidaknya buku-buku diperpustakaan ikut menentukan kualitas suatu sekolah.
4.) Guru
Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan. Kehadiran guru mutlak diperlukan. Persoalan guru menyangkut dimensi yang luas, tidak hanya bersentuhan dengan masalah di luar dirinya seperti mampu berhubungan dengan baik dengan warga masyarakat di luar sekolah dan berhubungan dengan baik dengan anak didik kapan dan dimana pun dia berada, tetapi juga masalah yang berkaitan dengan diri pribadinya.
c. Kondisi Fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan
xxxix
gizi, mereka lekas lelah, mudah ngantuk, dan sukar menerima pelajaran.
d. Kondisi Psikologis
Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Faktor psikologis meliputi, yaitu :
1.) Minat
Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai atau memperoleh tujuan yang diminati itu. Timbulnya minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk menaikkan martabat atau memperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. (Dalyono, 1997 dalam Djamarah, 2003 : 157).
2.) Kecerdasan
Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang erat antara IQ dengan hasil belajar disekolah. Sekitar 25% hasil belajar di sekolah dapat dijelaskan dari IQ, yaitu kecerdasan yang diukur oleh test intelegensi. Jadi kecerdasan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar disekolah.
xl 3.) Bakat
Bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Belajar pada bidang yang sesuai dengan bakat memperbesar kemungkinan berhasilnya usaha itu.
4.) Motivasi
Motivasi adalah kondisi psikologi yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Noehi Nasution dalam Djamarah, 2002). Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar pada umumnya meningkat jika motivasi untuk belajar bertambah.
5.) Kemampuan Kognitif
Ada tiga kemampuan yang harus dikuasai sebagai jembatan untuk sampai pada penguasaan kemampuan kognitif, yaitu persepsi, mengingat, dan berpikir. Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Mengingat adalah suatu aktifitas kognitif, dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh dimasa lampau. Berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan yang disertai dengan sikap positif dari subyek yang berpikir (Abror dalam Djamarah, 2002 ).
xli B. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian
Agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntutan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang jujur adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun
xlii
sosial. Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, taqwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban bangsa yang bermartabat. (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar : 2).
Dalam buku Kapita Selekta karya Arifin mengungkapkan pengertian Pendidikan Agama Islam sebagai berikut : ”Islamic education in true sense of the term is a
system of education which enables a man to lead this life according to the Islamic ideology, so that the may castly mauld
his life n accor dance with tenents os Islamic “ (Muhammad S.A Ibrahim dalam Chasanah, 2010 : 17). Maksudnya, pendidikan agama islam adalah pandangan yang sebenarnya dalam suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam sehingga degan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.
Jadi pendidikan agama islam adalah bagian dari pendidikan islam yang tujuannya agar mampu mengamalkan secara benar sesuai dengan ajaran islam.
2. Ruang Lingkup Pembelajaran PAI
Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar disebutkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
a. Al-quran dan Hadits b. Aqidah
c. Akhlak d. Fiqih
xliii
Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara :
a. Hubungan manusia dengan Allah Swt. b. Hubungan manusia dengan sesame manusia. c. Hubungan manusia dengan diri sendiri. d. Hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Sedangkan Zuhairini dalam Chasanah (2010, 19) mengemukakan bahwa materi PAI diklasifikasikan kedalam tiga hal, yaitu :
a. Masalah Keimanan
Aqidah (kepercayaan) adalah bidang teori yang perlu dipercayai dahulu sebelum yang lain.
b. Masalah Syariah
Syariah adalah peraturan-peraturan yang diciptakan Allah atau yang di ciptakan pokok-pokoknya saja agar manusia berpegang kepada-Nya dan dalam melakukan hubungannya dengan Tuhan, mengatur hubungannya dengan alam dan kehidupan.
c. Masalah Insan (akhlak)
Kata akhlak adalah merupakan bentuk jama’ dari kata “khulk”
yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Akhlak adalah suatu amalan yang bersifat pelengkap, penyempurna bagi kedua amal di atas dan mengajarkan tentang tata cara pergaulan hidup manusia.
xliv 3. Tujuan Pembelajaran PAI
Pendidikan Agama Islam di SD bertujuan untuk :
a. Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.
b. Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya islam dalam komunitas sekolah.
4. Kurikulum PAI
Kurikulum adalah seperangkat rencana pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada didaerah (Diknas, 2007 : 3 ).
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan atau kelompok mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar
xlv
kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok / pembelajran, kegiatan pembelajaran indikator, penilaian, alokasi waktu, sumber/ bahan/ alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok / pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian (Diknas, 2007 : 5).
Dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar kelas III semester 2 disebutkan bahwa Standar Kompetensi adalah ibadah, melakukan shalat dengan tertib. Sedangkan kompetensi dasarnya adalah : a.) Menyebutkan shalat fardhu, b.) Memperagakan shalat secara tertib, c.) Mempraktikkan shalat secara benar.
C. Shalat Fardhu