BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
C. Faktor Pendidikan
Menurut Ki Hajar Dewantoro ada tiga lingkungan pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.90
1. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.
Pendidikan keluarga berfungsi:
a. Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak b. Menjamin kehidupan emosional anak
c. Menanamkan dasar pendidikan moral d. Memberikan dasar pendidikan sosial.
e. Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak. 2. Sekolah
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
90
Frans Cory Melando Ginting : Perkembangan H ukum W aris Adat Pada Mas yarak at Adat Batak Karo (Studi
a. Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
b. Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
c. Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
d. Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.
3. Masyarakat
Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.91
Semakin tinggi pendidikan dalam lingkungan sekolah maka akan mempengaruhi lingkungan masyarakatnya. Dengan arti lain, semakin tinggi
Frans Cory Melando Ginting : Perkembangan H ukum W aris Adat Pada Mas yarak at Adat Batak Karo (Studi
pendidikan pada lingkungan sekolah maka siswa/siswi (mahasiswa/ mahasiswi dalam perguruan tinggi) akan lebih banyak bermasyarakat pada teman sekolahnya atau teman kampusnya. Hal ini akan berdampak pada sikap siswa/siswi (mahasiswa/ mahasiswi dalam perguruan tinggi) yang akan melupakan adat atau tradisi yang dimiliki nenek moyangnya.
Pada masa-masa proses industrialisasi dan modernisasi pendidikan telah mengajarkan nilai-nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru, di mana nilai-nilai tersebut semuanya sangat diperlukan bagi pembangunan ekonomi sosial suatu bangsa. Usaha-usaha sekolah untuk mengajarkan sistem nilai dan perspektif ilmiah dan rasional sebagai lawan dan nilai-nilai dan pandangan hidup lama, pasrah dan menyerah pada nasib, ketiadaan keberanian menanggung resiko, semua itu telah diajarkan oleh sekolah sekolah sejak proses modernisasi dari perubahan sosial. Dengan menggunakan cara-cara berpikir ilmiah, cara-cara analisis dan pertimbangan-pertimbangan rasional serta kemampuan evaluasi yang kritis orang akan cenderung berpikir objektif dan lebih berhasil dalam menguasai alam sekitarnya.
Lembaga-lembaga pendidikan disamping berfungsi sebagai penghasil nilai-nilai budaya baru juga berfungsi sebagai difusi budaya (cultural diffission). Kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial yang kemudian diambil tentu berdasarkan pada hasil budaya dan difusi budaya. Sekolah-sekolah tersebut bukan hanya menyebarkan penemuan-penemuan dan informasi-informasi baru tetapi juga menanamkan
sikap-Frans Cory Melando Ginting : Perkembangan H ukum W aris Adat Pada Mas yarak at Adat Batak Karo (Studi
sikap, nilai-nilai dan pandangan hidup baru yang semuanya itu dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memberikan dorongan bagi terjadinya perubahan sosial yang berkelanjutan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan di lingkungan sekolah adalah salah satu sarana yang dimiliki pemerintah untuk mencapai cita-cita bangsa. Salah satu cita-cita bangsa itu di antaranya adalah pembentukan hukum nasional yang menuju kearah unifikasi hukum, yang akan merubah dan menghilangkan hukum waris adat Batak Karo.
Contoh kasus : A beru Ginting
Menurut penuturan responden, Keluarga responden terdiri dari seorang ayah, seorang ibu, seorang anak laki-laki, dan dua orang anak perempuan. Keluarga responden adalah keluarga yang mengutamakan pendidikan. Menurut cerita responden, mulai ayah, ibu, dan anak-anaknya adalah semua tamatan sarjana.
Pembahagian harta warisan dilakukan ketika ke dua orang tua (ayah dan ibu) responden masih hidup. Pembahagian ini dilakukan karena mengingat semua anak-anak si pewaris sudah menikah dan untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak-anak-anak sipewaris agar bisa hidup mandiri bersama keluarganya, yang bertujuan untuk menghindari dari pertikaian pembahagian harta warisan dikemudian hari.
Menurut cerita responden, pembahagian harta warisan yang dilakukan ayah responden adalah pembahagian yang sama rata bahagian antara anak laki-laki dan bahagian anak perempuan. Menurut cerita responden, memang ada sebahagian harta
Frans Cory Melando Ginting : Perkembangan H ukum W aris Adat Pada Mas yarak at Adat Batak Karo (Studi
yang belum dibagi tapi harta itu ditujukan untuk hari tua ke dua orang tua responden yang kelak apabila masih ada, menurut ayah responden akan menjadi bahagian anak laki-laki.
Responden juga menambahkan bahwa sekarang ayah telah lama meninggal dunia, tetapi tidak ada tuntutan dari anak laki-laki terhadap pembahagian harta warisan yang telah dilakukan.
Dari cerita responden dapatlah disimpulkan bahwa cara berfikir ayah responden lebih maju dan penerimaan yang dilakukan anak laki-laki terhadap pembahagian harta warisan tanpa ada tuntutan harus diakui bahwa pemikiran anak laki-laki tersebut sudah maju.
Menurut saya, salah satu faktor yang menyebabkan cara berfikir orang lebih maju adalah pendidikan, hal ini secara tidak disadari akan membawa pengaruh terhadap pembahagian harta warisan pada hukum waris adat Batak Karo.