• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Motif “balancing” Vietnam terhadap RRT 4.2 Pengamanan aset nasional Vietnam di LCS

4.3 Dukungan negara-negara ASEAN terhadap kehadiran AS di LCS

BAB V Penutup

BAB II

ANCAMAN KEAMANAN TERHADAP VIETNAM

DI LAUT CINA SELATAN

Bab ini membahas tentang letak geografis Vietnam di Laut Cina Selatan (LCS) yang diikuti klaim Vietnam di wilayah tersebut. Ini kemudian disusul dengan berkembangnya sengketa antara negara-negara di wilayah tersebut, sehingga menghadirkan ancaman nyata bagi keamanan territorial Vietnam. Untuk itu, struktur pembahasan dalam bab ini terbagi kedalam 3 bagian. Bagian pertama akan menjelaskan letak geografis perairan Vietnam serta posisi Vietnam di LCS. Bagian kedua akan menjelaskan klaim Vietnam di kawasan perairan tersebut, termasuk klaim Vietnam di kepulauan Spratly dan Paracel. Sedangkan bagian terakhir akan menjelaskan sengketa di LCS yang menyebabkan ancaman bagi kedaulatan Vietnam, yaitu sengketa wilayah perairan, sengketa Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel, serta sengketa batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dengan RRT.

2.1 Posisi Vietnam di LCS

Vietnam merupakan salah satu Negara Indocina yang secara geografis mempunyai wilayah darat dan laut. Negara ini berbatasan darat dengan Kamboja sepanjang 1,228 km; Laos (2,130 km); RRT (1,281 km). Vietnam juga mempunyai garis pantai sepanjang 3,444 kilometer (Womack, 2006: 57), terhadap perairan yang termasuk ke dalam wilayah LCS. Wilayah tersebut terletak di sebelah timur lepas pantai Vietnam. Di kawasan ini, luas wilayah laut teritorial

Vietnam ditentukan berdasarkan deklarasi pernyataan wilayah Laut Vietnam pada tanggal 12 mei 1977. Deklarasi tersebut dilakukan dalam Konferensi Ketiga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Hukum Laut. Ini dilegitimasi dalam penandatanganan United Nations Convention Law of Sea (UNCLOS) pada tahun

1982. (United States Department of State Bureau of Intelligence and Research, 1983: 3).

Berdasarkan UNCLOS, Vietnam memiliki luas wilayah laut teritorial sejauh 12 mil dari pulau-pulau terluar Vietnam. Pulau-pulau terluar tersebut membentuk garis dasar “baseline” yang menjadi tolak ukur pengukuran luas wilayah laut teritorial Vietnam (United States Department of State Bureau of Intelligence and Research, 1983: 3-4). Pulau-pulau terluar Vietnam di antaranya dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel 2.1: Pulau-pulau terluar Vietnam

No Nama Pulau Lintang dan Bujur

1 Pulau Hon Nhan, kepulauan Tho Chu, provinsi Kien Giang 9°15.0’ 103°27.0’ 2 Pulau Hon Da, provinsi Minh Hai 8°22.8’ 104°52.4’ 3 Tai Lon Islet, Con Dao Islet, di Con Dao-Vung Toa 8°37.8’ 106°37.5’ 4 Bong Lai Islet, Con Dao Islet 8°38.9' 106°40.3’ 5 Bay Canh Islet, Con Dao Islet 8°39.7’ 106°42.1’ 6 Hon Hai Islet, provinsi Thuan Hai 9°58.0’ 109°5.0’ 7 Hon Doi Islet, provinsi Thuan Hai 12°39.0’ 109°28.0’ 8 Dai Lanh point, provinsi Phu Khanh 12°53.8’ 109°27.2’ 9 Ong Can Islet, provinsi Phu Khanh 13°54.0’ 109°21.0’ 10 Ly Son Islet, provinsi Nghia Binh 15°23.1' 109°9.0' 11 Pulau Con Co, provinsi Binh Tri Thien 17°10.0' 107°20.6'

Sumber: United States Department of State, Bureau of Intelligence and Research, dalam Limits in the Seas No. 99 Straight Baselines hal: 7

Pulau-pulau terluar di atas membentuk garis dasar “baseline”. Garis tersebut tidak hanya menentukan luas wilayah laut territorial, namun berpengaruh pada pengukuran Zona tambahan “The contiguous zone” dan ZEE. Zona tambahan Vietnam memiliki luas 12 mil dari laut teritorial. Sedangkan, ZEE terhitung 200 mil dari laut teritorialnya tersebut (United States Department of State Bureau of Intelligence and Research, 1983: 3-4). Ini sesuai dengan Hukum Laut (UNCLOS) pada tahun 1982 yang mulai berlaku sejak 16 November 1994, bahwa setiap negara hanya berhak untuk memasukkan wilayah hingga 12 mil laut sebagai dari kedaulatannya dan 200 mil laut untuk ZEE (Ali, 2012). Berdasarkan hukum tersebut dapat dilihat luas wilyah ZEE Vietnam dalam peta berikut ini:

Gambar 2.1: Zona Ekonomi Eksklusif Vietnam terhitung 200 mil dari garis dasar “base line”

Sumber:200 mile boundaries without consideration of the Spratlys or Paracels, oleh Cire Sare, pada http://www.southchinasea.org/category/mpas/territorial-claims/page/2/

Peta di atas menunjukan ZEE Vietnam dan lima negara lainnya di wilayah LCS. Namun, setelah kesepakatan UNCLOS 1982, negara-negara di kawasan ini saling mengklaim wilayah kedaulatannya di luar ZEE yang telah disepakati dalam UNCLOS. Vietnam menjadi salah satu yang mengklaim wilayah dan terlibat dalam sengketa dengan negara lainnya di kawasan tersebut.

2.2 Klaim Vietnam di Laut Cina Selatan

Berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), negara-negara yang mempunyai wilayah perairan dapat mengklaim ZEE yang meliputi 200 mil dari garis pantai pulau terluar (Kim, 2012: 28). Di LCS, tidak dapat ditentukan pulau-pulau terluar yang dimiliki dan menjadi kedaulatan suatu negara. Ini dikarenakan, kawasan ini memiliki banyak pulau yang kepemilikannya masih diperebutkan oleh negara-negara di perairan ini,1 sehingga menimbulkan berbagai sengketa. Dengan adanya berbagai sengketa, batas-batas ZEE di LCS sulit untuk ditentukan.

Vietnam tercatat memiliki sengketa dengan lima negara di LCS. Sengketa-sengketa tersebut antara lain: Teluk Tonkin dekat pulau Hainan dengan RRT;

kepulauan Paracel dengan RRT dan Taiwan; kepulauan Spratly dengan RRT, Malaysia, Filipina, Brunei dan Taiwan. Pada kepulauan Spratly, Vietnam berebut klaim atas wilayah perairan sebelah barat kepulauan ini dengan RRT dan Taiwan.

1

Negara-negara yang pemperebutkan klaim kedaulatannya di LCS yaitu: Brunei, Filipina, Malaysia, Taiwan, RRT dan Vietnam (Heijmans, 2004).

Sementara pada bagian lainnya, tumpang tindih klaim terjadi antara Vietnam dengan Brunei, Malaysia, dan Filipina (Ahira, 2011).

Di antara kasus-kasus tersebut, dua klaim yang mengundang perhatian utama Vietnam adalah kepulauan Spratly dan Paracel. Selain karena posisinya yang strategis, juga karena adanya potensi sumberdaya minyak dan gas. RRT memperkirakan potensi minyak di kepulauan Spratly dan Paracel Islands bisa mencapai 105 miliar barel, sementara keseluruhan potensi minyak di LCS mencapai 213 miliar barel. Sedangkan potensi gas yang terdapat di Kepulauan Spratly hampir mencapai 900 Tcf. Ini diperkirakan akan dapat memproduksi sumberdaya gas hampir mencapai 1,8 Tcf setiap tahunnya (global security.org, 2011).

Mengenai Spratly dan Paracel, Vietnam sendiri belum menetapkan dua kepulauan tersebut sebagai pulau-pulau terluar yang membentuk garis dasar

“baseline” Vietnam dalam penandatanganan UNCLOS pada tahun 1982. Namun,

setelah ratifikasi UNCLOS pada tahun 1994, Vietnam mengadakan Resolusi Majelis Nasional Kesembilan yang mulai merumuskan kembali wilayah kedaulatan laut pada kepulauan Paracel dan Spratly pada tahun 1994. Ini menjelaskan bahwa Vietnam belum menentukan lingkup zona maritim di sekitar pulau. Baseline dan zona maritim di seluruh pulau-pulau akan didefinisikan dalam

peraturan perundang-undangan di masa depan, seperti undang-undang yang membahas Zona Maritim Vietnam, dengan melalui perjanjian batas negara dengan negara lain (Nguyen, 2012: 196-197).

Pada tahun 2003, Majelis Nasional Vietnam membuat Undang-Undang tentang batas Nasional. Pada pasal 1, ditegaskan kembali klaim kedaulatan Vietnam atas Kepulauan Paracel (Hoang Sa) dan Kepulauan Spratly (Truong Sa) (Biendong.net, 2012). Dalam Undang-undang ini juga menjelaskan landas kontinen negara diperpanjang hingga 350 mil laut sesuai dengan kondisi dan prosedur Konvensi PBB tentang Hukum Laut pada tahun 1982. Ini merupakan kelanjutan klaim sejak bersatunya Vietnam paska Perang Dingin pada tahun 1975. Sebagaimana ditegaskan dalam Vietnam White Paper oleh Ministry of Foreign

Affairs, bahwaKepulauan Paracel (Hoang Sa) dan Kepulauan Spratly (Truong Sa)

merupakan bagian dari kedaulatan negara (Vietnam White Paper oleh Ministry of Foreign Affairs, 1975: 1).

Pada tahun 2009, pemerintah Vietnam mengirim laporan bahwa batas landas kontinen Vietnam diperpanjang dalam dua daerah untuk dipertimbangkan oleh Komisi Batas Landas Kontinen (Hanh, 2012). Upaya perluasan klaim ini mengakibatkan perubahan batas-batas kedaulatan wilayah Vietnam yang pada awalnya ditentukan oleh garis dasar “baseline” dalam Deklarasi Pernyataan Wilayah Laut Vietnam, pada tanggal 12 Mei 1977. Berikut ini merupakan peta wilayah kedaulatan Vietnam setelah klaim kedaulatan diperluas yang mencakupi kepulauan Paracel (Hoang Sa) dan kepulauan Spratly (Truong Sa):

Gambar 2.2 : Klaim wilayah Vietnam setelah memasukan kepulauan Paracel dan Spratly

Sumber: Bellacqua. “The China Factor in U.S.-Vietnam RelationsNgan M. Kim dalamU.S. –Vietnam Military Relations: Game Theory Perspective

Peta di atas menunjukan perluasan klaim Vietnam yang mencakupi kepulauan Paracel dan kepulauan Spratly. Vietnam memasukan klaim kedua kepulauan tersebut berdasarkan data historis. Keduanya dianggap termasuk ke dalam wilayah Vietnam, sejak masa pemerintahan Raja Le Thanh Tong (1460-1497). Vietnam menyatakan bahwa pihaknya telah memiliki dokumen dan peta dari abad ke-17, 18, dan 19 (Kim, 2012: 30). Klaim Vietnam tersebut berujung pada sengketa dan konflik antara Vietnam dengan negara yang juga telah mengklaim kedaulatannya atas perairan di LCS serta kepulauan Paracel dan kepulauan Spratly.

2.3 Sengketa terhadap Vietnam di Laut Cina Selatan

Terdapat setidaknya lima negara yang merupakan pesaing klaim territorial Vietnam di LCS. Pertama, klaim Brunei yang merujuk pada prinsip kawasan ZEE dengan memasukan satu karang paling selatan di Kepulauan Spratly dalam peta teritorialnya. Kedua, RRT yang mengklaim hampir semua dari kawasan LCS berdasarkan ZEE dan prinsip landas kontinental serta catatan sejarah dinasti Han (110 \M) dan Ming (1403 – 1433M). Ketiga, klaim Malaysia di LCS atas 3 pulau di Spratly berdasarkan ZEE dan batas landas kontinen. Keempat, Filipina mengklaim 8 pulau di Kepulauan Spratly. Ini didasari oleh ZEE dan batas landas kontinental serta sebuah ekspedisi penjelajah Filipina pada tahun 1956. Kelima, Taiwan yang mengklaim hampir semua kawasan di LCS, dengan mengklaim semua pulau di Kepulauan Spratly dan Paracel dengan dasar yang sama seperti klaim yang dibuat oleh RRT (Veronika, 2012: 45). Bagian berikutnya akan mengidentifikasi konflik dan tensi keamanan yang terjadi akibat sengketa teritorial di kedua kepulauan tersebut.

2.3.1 Sengketa Kepulauan Paracel

Kepulauan Paracel menjadi wilayah sengketa yang di perebutkan beberapa negara, salah satunya adalah Vietnam yang memiliki sengketa dengan RRT dan Taiwan (Ahira, 2011). Sengketa ini menyebabkan konflik antara Vietnam dengan RRT, yang terjadi sejak sebelum bersatunya Vietnam Utara dengan Vietnam Selatan pada tahun 1975. RRT mengklaim kedaulatan Vietnam yang berujung konflik pada tahun 1974 di Kepulauan Paracel. Dalam bentrokan yang dikenal sebagai pertempuran Kepulauan Paracel, RRT mengambil kendali Kepulauan

Paracel dari Vietnam Selatan. Pertempuran itu mengakibatkan 36 militer dari kedua belah pihak tewas (Garver, 1992: 999-1028). Pertempuran ini juga berujung pada pengusiran orang-orang Vietnam dari kepulauan Paracel dan pendudukan kepulauan tersebut oleh RRT (Heijmans, 2004: 506).

Awalnya, RRT menduduki bagian barat kelompok pulau Crescent di kepulauan Paracel. Ini kemudian meluas ke seluruh wilayah Paracel. RRT bahkan membangun pelabuhan besar di Pulau Triton pada tahun 1982, yang terutama diperuntukan untuk kepentingan militer (Lo, 1989: 118). Kemudian pada tahun 1994, RRT membangun landasan udara baru di kepulauan Paracel (Heijmans, 2004: 509).

Selain itu, RRT membangun pangkalan lainnya di pulau Hainan yang terletak di sebelah utara kepulauan Paracel. Pulau ini merupakan pusat operasi pesawat-pesawat tempur baru berdaya jelajah jauh Su-27 Flanker yang dikirim dari pangkalan udara ketiga terbesar the People’s Liberation Army (PLA) di Zhanjiang, yang juga sebagai markas besar armada Laut Cina Selatan. Kapal terbang tanker yang baru dioperasikan di Pulau Hainan akan mempermudah pesawat-pesawat tempur RRT beroperasi pada jarak yang lebih jauh, pada jalur-jalur laut dan ladang-ladang minyak lepas pantai strategis di LCS. Di sana, RRT memiliki armada militer untuk memperjuangkan klaim teritorialnya yang merentang seribu mil ke arah selatan dari pantai RRT, hampir mendekati wilayah pantai Malaysia dan Indonesia (Calder, 1996:191).

Pada awal tahun 1996, Beijing secara sepihak menyatakan baseline di

yang sama untuk wilayah lain di kemudian hari (Heijmans, 2004: 510). Pada tahun 2006, RRT memasang penanda baru di kawasan Paracel sehingga menyebabkan kemarahan Vietnam dan dianggap sebagai tindakan “invalid”. (Veronika, 2012: 53).

2.3.2 Sengketa Kepulauan Spratly

Selain Kepulauan Paracel, Vietnam memiliki sengketa di Kepulauan Spratly. Vietnam bersengketa dengan RRT, Malaysia, Filipina, Brunei dan Taiwan. Vietnam berebut klaim atas wilayah perairan sebelah barat Kepulauan Spratly dengan RRT dan Taiwan. Sementara pada bagian lainnya, terjadi tumpang tindih klaim terjadi antara Vietnam dengan Brunei, Malaysia, dan Filipina (Ahira, 2011).

Sengketa ini juga menyebabkan konflik antara Vietnam dengan RRT. Ini terjadi setelah bersatunya kembali Vietnam pada tahun 1975, yaitu pada tahun 1988. Pasukan Vietnam dan RRT terlibat pada bentrokan atas Kepulauan Spratly yang menewaskan 74 pelaut Vietnam (Miks, 2010). Bentrokan ini menghasilkan penguasaan enam pulau di kepulauan Spratly oleh pihak RRT. Sebelum bentrokan itu, RRT telah berhasil dalam pembangunan secara fisik di Kepulauan Spratly. Setelah bentrokan itu, yaitu pada tahun 1989, tiga pulau karang di Kepulauan Spratly yang diduki oleh Vietnam telah disewakan oleh RRT kepada Crestone

Energy Corporation. Pulau-pulau tersebut yaitu; Vanguard Bank (Bai Tu Chinh),

Prince Consort Bank (Bai Phuc Nguyen), dan Bank Grainger (Bai Que Duong) (Kang, 2000: 12-18).

Pada tahun 1992, Vietnam menegaskan kembali klaimnya, tidak hanya terhadap RRT, tetapi juga terhadap klaim negara lainnya di kepulauan Spartly, yaitu Malaysia, Filipina, dan Brunei. Laporan pada tahun 1992 menyatakan bahwa tingkat personel Vietnam di kepulauan ini mencapai sekitar 1.000 orang, meliputi tentara, pelaut dan beberapa pekerja konstruksi. Ini tersebar di 21 pulau di kepulauan Spratly. Di Pulau Sin Cowe, Vietnam menempatkan artileri dan senjata anti-pesawat, serta memiliki lapangan terbang kecil (Kang, 2000: 18).

Meskipun memiliki fasilitas militer, Vietnam tetap tidak dapat menghindarkan ancaman di Kepulauan Spratly. Pada tahun 1995, artileri Taiwan menembaki kapal barang Vietnam yang mendekati sebuah pulau yang dikuasai Taiwan di Kepulauan Spratly (Deutsche Presse-Agentur, 1995). Ini mendorong Vietnam untuk lebih agresif dalam menjaga klaim teritorialnya di wilayah tersebut.

Pada tahun 1998, Vietnam telah mempertahankan wilayah sengketa pada setidaknya lima kepulauan, yaitu kepulauan Spratly, Amboyna Cay, Sin Cowe, Namyit, and Southwest Cay, dengan menghadirkan sekitar 350 tentara (Kang, 2000: 19). Atas dasar mempertahanankan wilayah tersebut, tentara Vietnam menembaki sebuah kapal nelayan berbendera Filipina yang melukai seorang nelayan Filipina pada tahun 1998 (Deutsche Presse-Agentur, 1998). Tindakan tersebut juga terjadi pada tahun 1999, ketika tentara Vietnam menembaki pesawat pengintai Filipina di dekat Kepulauan Spratly (Klare, 2002:124).

Sengketa batas wilayah Vietnam dengan RRT berawal pada tahun 1947, ketika RRT menerbitkan sebuah peta yang merinci klaim wilayahnya di sebagian besar kawasan LCS (Sihombing, 2012). Pada tahun 1992, badan legislatif tertinggi RRT, Committee of the National People’s Congress, secara resmi mengesahkan undang-undang tentang Perairan Teritorial. Undang-undang ini secara resmi mengakui “the nine-dashed line” yang berbentuk U, dan juga dikenal dengan "lidah sapi" sebagai perairan territorial RRT. Pemerintah RRT juga memberdayakan militernya, the People’s Liberation Army (PLA) untuk menggunakan kekuatan jika perlu dalam membela serta melawan pendudukan atau serangan asing diwilayah tersebut (Kim, 2012: 30). “The nine-dashed line” disampaikan kepada komisi PBB dengan menunjukan peta klaim wilayah RRT, pada bulan Mei 2009 (Cordero, 2012). Berikut ini merupakan peta wilayah di dalam “the nine-dashed line” ataupun 9 garis putus-putus yang merupakan klaim RRT di LCS:

Gambar 2.3: Peta klaim RRT di wilayah Laut Cina Selatan

Sumber: Eurasia Review, September 10, 2012 dikutip dari O'Rourke pada; http://www.fas.org/sgp/crs/row/R42784.pdf

Peta tersebut disambut dengan protes resmi dari Vietnam, karena sebagian wilayah Vietnam termasuk ke dalam peta RRT yang disampaikan kepada Komisi PBB (Cordero, 2012). Wilayah Kepulauan Spratly dan Paracel yang diklaim oleh Vietnam masuk juga kedalam peta wilayah yang disampaikan oleh RRT. Tepatnya sebagian wilayah yang diklaim oleh RRT merupakan wilayah ZEE Vietnam.

Hal di atas menimbulkan suatu ancaman pada lalu lintas nelayan dan perdagangan laut Vietnam, berupa penangkapan kapal-kapal nelayan dan kapal barang Vietnam oleh patroli RRT. Ini setidaknya terjadi sejak tahun 1992, ketika RRT merebut sekitar 20 kapal kargo Vietnam yang mengangkut barang dari Hong Kong (Klare, 2002:124). Pada periode 2005-2012, Vietnam mengatakan telah terjadi penangkapan dan penyitaan terhadap 63 kapal nelayan dengan 725 awak, oleh RRT sejak tahun 2005 di LCS. Vietnam lalu diminta membayar denda untuk pembebasan mereka. Hal serupa sempat disoroti publik internasional kembali pada tahun 2010, ketika patroli RRT melakukan penangkapan dan penyitaan sebuah kapal nelayan Vietnam dengan 12 awak, di sekitar Paracel (Buszynski, 2012:143).

Selain penangkapan dan penyitaan terhadap kapal nelayan dan kapal barang Vietnam, RRT juga telah memberlakukan larangan memancing tahunan di LCS. RRT pertama menyatakan larangan tersebut pada tahun 1999. Ini dilakukan pada bulan Juni sampai Juli setiap tahunnya. Pada tahun 2009, periode larangan diperpanjang dari tanggal 16 Mei hingga 1 Agustus setiap tahun. Luasnya wilayah

yang diberlakukan peraturan larangan memancing tersebut tidak begitu jelas, walaupun pada dasarnya meliputi area sekitar Paracel (Buszynski, 2012: 143). Berikut merupakan peta wilayah larangan memancing tahunan yang diberlakukan oleh RRT:

Gambar 2.4: Wilayah larangan memancing (fishing ban)

Sumber: A Bilateral Network of Marine Protected Areas between Vietnam and China: An Alternative to the Chinese Unilateral Fishing Ban in the South China Sea? oleh Hai-Dang Vu, pada http://nghiencuubiendong.vn/en/conferences-and-seminars-/the-third- international-workshop-on-south-china-sea/668-a-bilateral-network-of-marine-protected- areas-between-vietnam-and-china-an-alternative-to-the-chinese-unilateral-fishing-ban-in-the-south-china-sea-by-hai-dang-vu

Di wilayah pada peta di atas, RRT telah mengirimkan kapal patroli perikanan, yang dilaksanakan oleh angkatan kapal laut RRT. Ini untuk menegakkan larangan memancing bagi Vietnam dan melindungi kapal-kapal nelayan RRT. RRT juga telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan kekuatan maritimnya yaitu penambahan 16 pesawat dan 350 kapal pada tahun 2015, yang akan digunakan untuk memonitor pengiriman, melakukan survei,

melindungi keamanan maritim, dan memeriksa kapal-kapal asing yang beroperasi di perairan RRT (Buszynski, 2012: 143-144).

Selain menghadirkan ketegangan-ketegangan antara Vietnam dengan RRT, sengketa batas wilayah ini juga telah menghadirkan upaya diplomasi dari kedua belah pihak. Pada tahun 1991 hingga September 2008, Menteri Pertahanan Vietnam telah melakukan enam kali kunjungan ke Beijing, sementara Menteri Pertahanan RRT mengunjungi Hanoi sebanyak tiga kali. Pada tahun 2006, Hanoi menerima Menteri Pertahanan RRT, Cao Gangchuan, dalam rangka kerjasama patroli bersama di LCS (Thayer, 2008: 5). Sejak itu, telah dilakukan operasi penghapusan ranjau dan patroli angkatan laut bersama pertama di Teluk Tonkin pada tanggal 27 April 2006 (Kim, 2012: 21-22). Selain itu, pada tahun 2006, Vietnam dan RRT sepakat untuk melakukan eksploitasi minyak dan gas di wilayah laut Teluk Tokin dalam garis demarkasi kedua negara. Setelah minyak dan gas yang terdeteksi, kedua belah pihak akan bekerjasama dalam eksploitasi bersama (Vietnamnet, 2013).

Kerjasama dalam eksploitasi bersama di kawasan LCS antara Vietnam dengan RRT tidak mengurangi tensi keamanan bagi Vietnam. Pada 9 Juni 2011, terjadi penyerangan atas kapal Vietnam oleh kapal RRT. RRT melakukan pemotongan kabel eksplorasi yang dipasang oleh kapal survey yang digunakan oleh perusahaan minyak Vietnam (PetroVietnam) dan RRT menuntut Vietnam menghentikan kegiatan eksplorasi dikawasan tersebut (Hoang, 2011).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat digambarkan terjadinya tensi keamanan diakibatkan dari tumpang tindih klaim di LCS. Ini mengancam klaim

wilayah kedaulatan Vietnam, terutama di kepulauan Paracel dan Spratly. Selain itu, sengketa batas ZEE dengan RRT juga mengakibatkan ancaman bagi lalu lintas nelayan dan perdagangan Vietnam, serta menghalangi eksplorasi sumber daya alam di kawasan tersebut. Dengan berbagai tantangan keamanan yang ada, Vietnam memutuskan untuk bekerjasama dengan AS pada tahun 2011. Ini akan dijelaskan pada bab berikutnya.

BAB III

KERJASAMA MILITER VIETNAM DENGAN AMERIKA

SERIKAT DALAM MENGELOLA ANCAMAN KEAMANAN

LAUT CINA SELATAN PADA TAHUN 2011

Setelah melihat posisi dan klaim Vietnam di Laut Cina Selatan serta ancaman keamanan di kawasan ini, maka bab ini akan membahas tentang upaya Vietnam dalam mengelola ancaman keamanan tersebut melalui kerjasama militer dengan AS. Ini diawali penjelasan rintisan awal kerjasama militer Vietnam dengan AS, hingga hubungan srategis dalam mengelola ancaman keamanan LCS, yang salah satunya melalui penandatanganan MoU tahun 2011. Dalam bab ini, MoU akan dipaparkan melalui penjelasan tensi keamanan di LCS menjelang penandatanganannya, serta peranan MoU itu sendiri dalam pengelolaan ancaman keamanan di LCS.

3.1 Rintisan awal kerjasama militer Vietnam dengan AS

Kerjasama antara Vietnam dengan AS diawali dengan membaiknya hubungan bilateral kedua negara pada tahun 1987, dengan adanya sebuah kerjasama yang terkait dengan isu POW/MIA. Kerjasama ini berupa pencarian pasukan AS yang hilang pada Perang Vietnam. Untuk kerjasama ini, Jenderal Vessey dan Presiden Reagan melakukan suatu kunjungan khusus ke Vietnam (Manyin, 2012:4).

Pada tahun 1995, normalisasi hubungan diplomatik secara resmi terjalin di antara Vietnam dengan AS (Manyin, 2012:4). Kedua negara mulai menggagas beragam kerjasama di bidang ekonomi, perdagangan, konsuler, dan normalisasi

diplomatik. Namun, pemerintah Vietnam menunjukan keengganan untuk melakukan hubungan kerjasama dengan AS di dalam sektor pertahanan (Jordan, Stern, and Lohman, 2012: 3).

Pada tahun 1996 dan 1997, AS menawarkan Kementrian Pertahanan Vietnam berbagai titik awal untuk kerjasama militer, dan mengemukakan serangkaian kegiatan dalam kerjasama pertahanan. Ini dilakukan dengan tetap memprioritaskan masalah POW/MIA (Jordan, Stern, and Lohman, 2012: 3). Prosesnya dimulai pada bulan Juli 1996, ketika The U.S. National Security

Advisor, Anthony Lake, mengunjungi Vietnam untuk mulai membentuk hubungan

militer antara Vietnam dan AS. Pada bulan Oktober di tahun yang sama, asisten Menteri Pertahanan, Kurt Campbell, memimpin delegasi yang terdiri dari Departemen Pertahanan, Departemen Luar Negeri, Dewan Keamanan Nasional,

Dokumen terkait