BAB III ‘ AISYIYAH DAN PEMBERDAYAAN POLITIK
D. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pemberdayaan
buku-buku yang terkait dengan perempuan dan politik dan sebagainya.
D. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pemberdayaan Politik Perempuan
1. Faktor-faktor Pendukung
Selain faktor-faktor penghambat seperti yang telah dijelaskan di atas tadi tentu ada pula faktor-faktor pendukung dalam kegiatan yang selama ini dijalankan
oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Berikut di bawah ini faktor-faktor pendudukung
tersebut:
a) Struktural, yang dimaksud struktural ini adalah undang-undang. Tanpa disertai dukungan dari pemerintah yakni peraturan tentang kuota perempuan yang tertuang dalam UU Pemilu dan Partai Politik tentu kegiatan yang selama ini telah dijalankan akan menjadi sia-sia karena tidak dapat diaplikatifkan sehingga animo perempuan untuk menjadi peserta dalam kegiatan ini juga rendah.88
b) Kepercayaan, tanpa adanya kepercayaan tidak akan ada pemberian bantuan finansial dari pihak pendonor kepada Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah
88
dalam bekerjasama menyelenggarakan serangkaian kegiatan pemberdayaan politik perempuan.89
c) Jaringan, organisasi Aisyiyah yang telah tersebar kepelosok tanah air
menjadi bagian yang mendukung Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam
menyelenggarakan serangkaian program. Kepengurusan ‘Aisyiyah mulai
dari tingkatan provinsi (Pimpinan Wilayah), kabupaten atau kota (Pimpinan Daerah), Desa/Kelurahan (Pimpinan Ranting) menjadi kekuatan basis pergerakkan dalam menyukseskan program.90
d) Sumber Daya Manusia, ketersediaan para tokoh di internal (‘Aisyiyah dan Muhammadiyah) sebagai pembicara untuk mengisi kegiatan-kegiatan.
Menghadirkan tokoh ‘Asiyiyah dan Muhammadiyah merupakan strategi
yang cerdas untuk memberikan motivasi kepada peserta pelatihan.91
2. Faktor-faktor Penghambat
Perjalanan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam memberdayakan kaum perempuan untuk berkiprah di ruang publik bukan berarti tanpa hambatan- hambatan. Peran sosial perempuan dalam ruang publik dan politik adalah salah satu diantaranya bukan persoalan yang mudah untuk dijalankan. Berikut faktor- faktor penghambat dalam pemberdayaan politik perempuan yang ditemukan
dalam pelaksanaannya oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah:
1) Domestik (rumahtangga), menjadi faktor pertama yang masih dialami perempuan. Mendapatkan izin suami, mengasuh anak, menjadi persoalan utama yang terlebih dahulu diselesaikan dalam menjalankan perannya sebagai
89
Laporan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2000-2005, disampaikan pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-45 di Malang dan Laporan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2005-2010, disampaikan pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-46 di Yogyakarta
90
Wawancara Pribadi dengan Dra Latifah Iskandar.
91
ibu. Sehingga tidak bisa hadir dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.92
2) Waktu, ketersediaan waktu yang dimiliki panitia dan pengurus sangat sedikit sehingga berimbas pada jadwal kegiatan. Salah satunya, Program Baitul Arqam yang berlangsung sekitar 1-3 hari. Menurut Ibu Aisyah dan Widia, waktu ini dirasa kurang intensif agar materi yang disampaikan dapat lebih mendalam agar lebih dipahami oleh peserta.93
3) Rangkap jabatan, Pengurus Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah banyak yang
beraktivitas sebagai dosen, guru, anggota dewan dan sebagainya. Tidak sedikit pengurus Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang rangkap jabatan dan beraktivitas di organisasi luar. Hal ini menjadi persoalan yang klasik dan serius untuk dicari jalan keluarnya mengenai pengurus yang rangkap jabatan. Sehingga tidak berlebihan bila ini pernah dibahas dalam Muktamar ‘Aisyiyah ke-44 tahun 2005 yang lalu di Jakarta.94
4) Minat perempuan, karakter dunia politik yang selama ini identik dengan dengan maskulinitas. Maka hal ini menjadikan kurangnya minat perempuan terhadap politik.95
92
Wawancara Pribadi dengan Dra. Tri Hastuti Nur Rochima, M.Si.
93
Wawancara Pribadi dengan Dra. Hj. Siti Aisyah, M.Ag.
94Laporan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2000
-2005, disampaikan pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-45 di Malang
95
69
“Aisyiyah seperti negara di atas negara karena mengurusi semua kehidupan masyarakat (Latifah Iskandar)” A. Kesimpulan
Kelahiran ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muslim
merupakan suatu bentuk pembaharuan Islam dalam merubah paradigma perempuan yang harus di dapur saja. KH Ahmad Dahlan mendirikan
‘Aisyiyah menilai bahwa perempuan juga mempunyai kesempatan yang
sama dengan laki-laki untuk menegakkan amal ma’ruf nahi munkar. Dalam tesis Rita Pranawati yang berjudul The Idea of Female Leadership Among Muhammadiyah Elite Members After The 45th National Conference (2005),
Muhammadiyah cukup responsif terhadap kemajuan perempuan dan penerimaan keberadaan perempuan untuk menjadi pemimpin dalam kultur Muhammadiyah. Hasil temuan dalam skripsi menambahkan pula bahwa keberadaan pemimpin perempuan tidak hanya dalam tubuh organisasi Muhammadiyah, namun di luar itu Muhammadiyah dan juga ‘Aisyiyah berpandangan bahwa tidak ada larangan dalam ajaran Islam bagi perempuan untuk menjadi anggota dewan, kepala daerah bahkan kepala negara sekalipun.
Kiprah perempuan yang berperan di ruang publik bagi ‘Aisyiyah
perempuan tersebut harus tetap dapat membagi perannya di ruang domestik. Peran perempuan sebagai ibu dan istri yang baik haruslah dijaga agar tidak
terjadi konflik peran diantara keduanya (publik dan domestik). Maka dari itu
‘Aisyiyah membuat program pendidikan keluarga sakinah salah satunya
sebagai bentuk tindakan preventif dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Dalam tesis Siti Syamsiyatun, Muslim Women’s Politics in Advancing Their Gender Interests: A Case-Study of Nasyiatul ‘Aisyiyah in Indonesian New Order Era dimana pada masa orde baru, pergerakan organisasi perempuan selalu dibayang-bayangi oleh pemerintahan yang militeristik. Maka pemerintah membentuk Dharma Wanita dan PKK sehingga mudah dikontrol. Begitu juga ‘Aisyiyah kegiatan pemberdayaan politik perempuan hanya bisa dilakukan di dalam kegiatan pengajian- pengajian di pelosok sebagai sebuah startegi pergerakan di masa itu. Pada era reformasi serangkaian program dan kegiatan diselenggarakan oleh
‘Aisyiyah bisa lebih terbuka dan leluasa karena tidak ada lagi hambatan,
baik secara struktural (UU) dan kultural (kebebasan berpendapat). Adapun kegiatan pemberdayaan politik perempuan yang diselenggarakan oleh
Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang terbaru di era reformasi saat ini seminar,
workshop, kajian-kajian, penerbitan buku, kampanye, terangkum dalam bentuk pendidikan politik perempuan. Tidak hanya itu pelatihan kepemimpinan dan pendidikan kelurga sakinah yang sudah ada sejah dahulu masih tetap berlangsung bertujuan memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada perempuan akan perlunya peran perempuan di masyarakat.
Besarnya amal usaha yang dikelola oleh organisasi ‘Aisyiyah secara
terkadang menjadi bumerang karena tidak sedikit pengurus ‘Aisyiyah yang
merangkap jabatan. Sebagian pengurus Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah ada pula
yang rangkap jabatan di amal usaha, sebagai dosen, pengajar dan sebagainya. Intensifitas pembagian waktu menjadi persoalan yang dilematis karena dapat menghambat kinerja roda organisasi.
Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah telah memiliki amal usaha sendiri,
walaupun begitu belum dirasa cukup dalam membiayai roda organisasi. Hal ini masih terus menjadi permasalahan klasik, selalu masuk dalam pembahasan muktamar. Hambatan-hamabatan pasti selalu ada sebagai bentuk ujian agar tetap istiqomah dalam berdakwah amal ma’ruf nahi
munkar. Eksistensi ‘Aisyiyah yang menjelang satu abad telah menjadi bukti bahwa hambatan-hambatan tersebut bukan menjadi batu sandungan yang berarti.
B. Rekomendasi
Dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada pengurus
Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang bila dianalogikan seperti seorang anak
kepada ibunya. Rekomendasi yang penulis sampaikan tidak sekedar yang berkaitan dengan pembahasan skripsi ini, namun tidak menutup kemungkinan hal-hal lain yang terkait selama penelitian berlangsung. Berikut beberapa hal yang penulis rekomendasikan kepada Pimpinan Pusat
‘Aisyiyah:
1. Kaderisasi.
Permasalahan kaderisasi dalam suatu organisasi merupakan persoalan yang klasik, tidak sedikit organisasi-organisasi yang lambat laun
menghilang karena tidak adanya regenerasi kepemimpinan, tidak
terkecuali ‘Aisyiyah. Kelunakan ‘Aisyiyah kepada para pengurus yang
telah menjadi duduk di lembaga politik (parpol dan anggota dewan) tetap menjadi dibolehkan menjadi pengurus persyarikatan. Walaupun dengan catatan yang sebelumnya menjadi ketua harus turun menjadi ketua. Kebijakan ini muncul karena sulitnya mencari kader atau orang-orang yang berkomitmen kepada persyarikatan. Penulis merasa perlu menjadi suatu kehati-hatian bagi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah agar jangan sampai kehilangan kepercayaan di mata masyarakat atas dedikasi yang sudah dibangun saat ini. Benturan konflik kepentingan bersama (baca: masyarakat) dengan kepentingan pribadi perlu diwaspasdai untuk menghindari individu-individu yang akan bersosialisasi atau kampanye di
dalam program dan kegiatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sehingga
kemurnian ikhlas dalam berdakwah amal ma’ruf nahi munkar tidak lagi terjaga.
2. Kegiatan dan Program.
Sebelum reformasi bergulir pergerakan ‘Aisyiyah dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum perempuan telah berhasil melahirkan local leader dengan pendekatan pendidikan kultural, yakni pengajian- pengajian kepada kaum perempuan. Kegiatan Seminar, workshop, dan
event-event sesaat tersebut lebih dikurangi selain untuk menghemat biaya, melalui pengajian tingkatan grass root masyarakat awam lebih memahami dan intensitas waktunya lebih efektif dan atraktif melalui tatap muka.
3. Penyediaan Sumber Informasi.
Berdasarkan pengalaman pribadi penulis pada penulisan skripsi ini dari sejak awal sampai akhir. Animo kalangan akademisi untuk meneliti
organisasi ‘Aisyiyah dalam karya ilmiah cukup besar, maka penyediaan
sumber informasi tentang Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dan keseluruhan
tingkatan se-nasional lebih ditingkatkan. Karya ilmiah yang dibuat oleh akademisi dapat menjadi masukan bagi peran dan perkembangan
‘Asiyiyah di tanah air.
Demikian beberapa rekomendasi yang penulis sampaikan yang bertujuan peran ‘Aisyiyah kepada masyarakat terutama kaum perempuan di Indonesia lebih konstruktif dalam rangka menyambut satu abad ‘Aisyiyah.
Selain kepada Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah penulis juga ingin menyampaikan
rekomendasi kepada kalangan akademis baik mahasiswa dan dosen tentang penelitian politik perempuan ini. Penulis sadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penelitian ilmiah ini, jadi penulis harapkan agar ada penelitian lanjutan di masa yang akan datang.
74
Adam, Asvi Warman. Membongkar Manipulasi Sejarah, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009.
Agrustino, Leo, Perihal Ilmu Politik: Sebuah Bahasan Mengenai Ilmu Politik, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.
Alfian, Transformasi Sosial Budaya dalam Pembangunan, Jakarta: UI- Press, 1986.
Anwar, Manajemen Pemberdayaan Perempuan, Bandung: Alfabeta: 2007. Bashin, Kamila. Memahami Gender, Jakarta: Teplok Press, 2003.
Budiarjo, Miriam, Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Cora Vreede-De Stures, Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian. Penerjemah Elvira Rosa dkk, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.
Darban, A. Adaby (ed), ‘Aisyiyah dan Sejarah Pergerakan Perempuan
Indonesia: Sebuah Tinjaun Awal, Yogyakarta: Jurusan Sejarah UGM, 2010.
Fakih, Mansoer, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Firdaus, Endis, Imam Perempuan Dekonstruktif Perspektif Gender: Keniscayaan Kontektualisasi Politis Ajaran Islam di Indonesia,
Jakarta: Pustaka Ceria, 2008
Gunawan, Wawan dan Evie Shofia Inayati (ed), Wacana Fiqh Perempuan dalam Persfektif Muhammadiyah, Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 2005
Hidayat, Muhammad Rahz, ed., Perempuan Yang Menuntun: Sebuah Perjalanan Ispirasi dan Kreasi, Bandung: Ashoka Indonesia, 2000
Lastariyah, Siti. “Manajemen Pendidikan dan Latihan Pimpinan Pusat
‘Aisyiyah dalam Pemberdayaan Kaum Perempuan di Jakarta”
Skripsi S1 Fakultas Dakwah dan Komunikasi, 2007.
Majlis Tarjih, Adabul Mar’ah fil Islam, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2010
Mudzhar, H.M. Atho dkk, ed. Wanita Dalam Masyarakat Indonesia, Akses Pemberdayaan dan Kesempatan, 1st ed. Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press, 2001.
Mulia, Siti Musdah dan Anik Farida. Perempuan dan Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Nashir, Haedar, Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Jakarta: Suara Muhammadiyah, 2010
75
Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga ‘Aisyiyah,
Yogyakarta: PP ‘Aisyiyah, 2002
Rosa, Elvira dkk, penj. Sejarah Perempuan Indonesia, Gerakan dan Pencapaian, 1st ed. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.
Sadli, Saparinah, Berbeda Tetapi Setara: Pemikiran Tentang Kajian Perempuan, Jakarta: Kompas, 2010
Salam, Junus, KH Ahmad Dahlan, Amal dan Perjuangannya, Jakarta: Al- Wasrat Publishing House, 2009
Shobahiya, Mahasri dkk, Studi Kemuhammadiyahan, 7th ed. Surakarta: LPID-UMS, 2008
Suharto, Edi, Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat, Bandung: PT Refika Aditama, 2005
Suryochondro, Sukanti. Potret Pergerakan Wanita di Indonesia, Jakarta: CV Rajawali, 1984
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 3rd. Jakarta: Balai Pustaka, 2007
Yusuf, Maftuchah, Perempuan Agama dan Pembangunan, Wacana Kritik atas Peran dan Kepemimpinan Wanita, Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi, 2000
Yusuf, Muhammad Yunan dkk, ed, Ensiklopedia Muhammadiyah, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2005
Widya Sucipto, Ani. Politik Perempuan Bukan Gerhana, Jakarta: Kompas, 2005
Wulansari, Lisa, ed, Buku Referensi Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Lingkungan Peradilan Umum, Komnas Perempuan, 2009
Zakiyah, Kiki. “Peran Organisasi ‘Aisyiyah dalam Perubahan Sosial (Studi
Kasus: ‘Aisyiyah Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh,
Tanggerang).” Skripsi S1 Fakultas Ushuludin dan Filsafat, UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006
Ilyas, Yunahar “Problematika Kepemimpinan Perempuan dalam Islam”, Jurnal Tarjih Edisi ke-3 Januari 2002
Musdah Mulia, ”Nusyuz Pembangkangan Terhadap Perintah Tuhan, Bukan
terhadap Perintah Suami.” Artikel ini diakses pada 13 April 2011
dari http://majalahtantri.wordpress.com/2009/01/21/nusyuz pembangkangan-terhadap-perintah-tuhan-bukan-terhadap-perinta suami/
76
penelitian-kualitatif.html
Wawancara Pribadi dengan Dra. Hj. Siti Aisyah, M.Ag. Yogyakarta, 07 April 2010
Wawancara Pribadi dengan Dra. Tri Hastuti Nur Rochima, M.Si. Yogyakarta, 07 April 2010
Wawancara Pribadi dengan Dra Latifah Iskandar. Yogyakarta, 14 April 2011
Nama : Dra. Tri Hastuti Nur Rochima, M.Si
Jabatan : Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2010-2015
1. Apa pandangan Aisyiyah mengenai peran sosial perempuan di ruang publik saat ini?
Jawaban: Setiap individu wajib berbakti kepada masyarakat untuk memecahkan persoalan yang ada di masyarakat. Maka perlunya organisisi agar lebih tercapai.
Kontribusi perempuan membantu memecahkan problem masyarakat cukup besar.
Indikatornya lahirnya Undang-undang Traffiking dan KDRT.
2. Apa pendapat Aisyiyah mengenai peran perempuan dalam politik ditinjau dari ajaran Islam dan budaya masyarakat Indonesia? misal perempuan menjadi kepala daerah dan anggota parlemen?
Jawaban: ‘Aisyiyah menilai boleh perempuan ke politik tapi tidak harus di
lembaga politik praktis. Kegiatan rapat Musrenbangdes juga merupakan kegiatan
politik.
3. Menurut Aisyiyah, perlukah peranan perempuan dalam politik?
Jawaban: Perlu, untuk menghilangkan ketertindasan secara struktural dan kultural.
4. Bagaimana pandangan Aisyiyah dalam menilai peran politik perempuan di era reformasi saat ini?
Jawaban: Ada progress, perempuan dilibatkan dalam pengawasan pemilu. lahirnya undang-undang sensitif gender.
5. Apa saja kegiatan atau program PP Aisyiyah dalam meningkatkan kesadaran dan kemampuan politik kaum perempuan? sebutkan
6. Dan bagaimana hasilnya dari kegiatan tersebut?
Jawaban: Terjadi perubahan pola pikir kaum perempuan dari kesadaran magis menjadi kesadaran naïf dan kritis
7. Apa saja faktor-faktor pendukung dalam kegiatan tersebut sehingga dapat terlaksana dengan baik?
Jawaban: Faktor pendukung terselenggaranya kegiatan kami dalam pemberdayaan perempuan salah satunya ya UU mengenai kuota 30 % perempuan
dalam parlemen.
8. Selain itu, apa saja faktor-faktor yang menghambat dalam kegiatan tersebut? sebutkan
Jawaban: Secara struktural sudah tidak ada hambatan tapi dalam wilayah domestik masih ada, sehingga partisipasi perempuan dalam kegiatan masih
rendah.
9. Bagaimana partisipasi pengurus Aisyiyah dalam lembaga politik? misal anggota legislatif, eksekutif dan partai politik
Jawaban: Pengurus ‘Aisyiyah yang masuk ke dalam partai politik dan terpilih
sebagai anggota dewan juga ada tapi mengenai inventarisir jumlahnya kami tidak
ada datanya.
10.Bagaimana peran Organisasi Aisyiyah dengan keberadaan mereka di sana dan peran selanjutnya setelah terpilih menjadi anggota legislatif atau lembaga politik lainnya?
Nama : Dra Latifah Iskandar
Jabatan : Mantan Anggota DPR RI 2004-2009 dan Ketua Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Periode 2010-2015
1. Apa pandangan Aisyiyah mengenai peran sosial perempuan di ruang publik saat ini?
Jawaban: -
2. Apa pendapat Aisyiyah mengenai peran perempuan dalam politik ditinjau dari ajaran Islam dan budaya masyarakat Indonesia? misal perempuan menjadi kepala daerah dan anggota parlemen?
Jawaban: -
3. Menurut Aisyiyah, perlukah peranan perempuan dalam politik? Jawaban: -
4. Bagaimana pandangan Aisyiyah dalam menilai peran politik perempuan di era reformasi saat ini?
Jawaban: Sekarang gerakan Affirmative action telah teraplikasi dalam undang- undang pemilu dan daftar caleg, yang bunyinya seperti ini diantara tiga nama
caleg satu perempuan.
5. Apa saja kegiatan atau program PP Aisyiyah dalam meningkatkan kesadaran dan kemampuan politik kaum perempuan? sebutkan
Jawaban: Melakukan pendidikan politik sampai ke daerah-daerah. workhsop, seminar, kampanye ada poster, spanduk-spanduk. pilih yang bersih, jangan pilih
yang korupsi, pilih perempuan misalnya.
7. Apa saja faktor-faktor pendukung dalam kegiatan tersebut sehingga dapat terlaksana dengan baik?
Jawaban: Suasana politik di tingkat nasional cukup mudah dipahami oleh pimpinan di ‘Aisyiyah untuk memperjuangkan partisipasi politik perempuan. 8. Selain itu, apa saja faktor-faktor yang menghambat dalam kegiatan tersebut?
sebutkan
Jawaban: Rendahnya minat perempuan terhadap politik, terus waktu juga
9. Bagaimana partisipasi pengurus Aisyiyah dalam lembaga politik? misal anggota legislatif, eksekutif dan partai politik
Jawaban: Mengenai datanya, berapa jumlahnya saya tidak tahu. yah sekitar 5-10 persen kira-kira.
10.Bagaimana peran Organisasi Aisyiyah dengan keberadaan mereka di sana dan peran selanjutnya setelah terpilih menjadi anggota legislatif atau lembaga politik lainnya?
Jawaban: Waktu saya masih di DPR, kita saling bekerja sama. Misalnya dalam membuat undang-undang, ‘Aisyiyah ingin memberikan masukan apa? karena ‘Aisyiyah kan stake holder
Nama : Dr. Hj. Siti Aisyah, M.Ag Jabatan : Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah
1. Apa pandangan Aisyiyah mengenai peran sosial perempuan di ruang publik saat ini?
Jawaban: Dalam memecahkan persoalan di masyarakat, memerlukan penguatan peran perempuan di ruang publik.Landasannya adalah Surat At-Taubah Ayat 71,
ayat norma tentag perempuan dalam ruang publik.
2. Apa pendapat Aisyiyah mengenai peran perempuan dalam politik ditinjau dari ajaran Islam dan budaya masyarakat Indonesia? misal perempuan menjadi kepala daerah dan anggota parlemen?
Jawaban: Tidak ada masalah perempuan menjadi kepala daerah tapi yang benar-benar berkompetensi bukan karena suaminya, bukan vote geter. Tidak ada
larangan pula dalam budaya Indonesia mengenai kepemimpinan perempuan.
Sejak dulu memang sudah ada perempuan memimpian kerajaan-kerajaan di
Indonesia, namun setelah datang ajaran Islam baru dari Arab Saudi , terdapat
larangan mengenai itu.
3. Menurut Aisyiyah, perlukah peranan perempuan dalam politik?
Jawaban: Sangat perlu, untuk mengambil kebijakan yang sadar gender akan kebutuhan masyarakat.Berdasarkan kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis,
kepemimpinan perempuan adalah untuk kesejahteraan masyarakat.
4. Bagaimana pandangan Aisyiyah dalam menilai peran politik perempuan di era reformasi saat ini?
Jawaban: Pelatihan kepemimpinan pada masyarakat luas, Manajemen Ruhani
‘Aisyiyah (kalau untuk masyarakat umum dinamakan Manajemen Ruhani Islam)
6. Dan bagaimana hasilnya dari kegiatan tersebut?
Jawaban: Para peserta menjadi sadar kemampuan dirinya
7. Apa saja faktor-faktor pendukung dalam kegiatan tersebut sehingga dapat terlaksana dengan baik?
Jawaban: Banyaknya tokoh-tokoh ‘Aisyiyah, Muhammadiyah dan Amal Usaha menjadi salah satu faktor pendukung. Mereka dilibatkan sebagai pembicara untuk
mengisi kegiatan-kegiatan seperti talkshow dsb
8. Selain itu, apa saja faktor-faktor yang menghambat dalam kegiatan tersebut? sebutkan
Jawaban: Waktu yang kurang. Seperti kegiatan Baitul Arqam, yang hanya diselenggarakan 1-3 hari, biasanya mulai hari jum’at sampai mingu. Waktu tiga hari ini masih kurang.
9. Bagaimana partisipasi pengurus Aisyiyah dalam lembaga politik? misal anggota legislatif, eksekutif dan partai politik
Jawaban: Cukup banyak. mengenai jumlahnya nanti silahkan tanya ke LPPA
10.Bagaimana peran Organisasi Aisyiyah dengan keberadaan mereka di sana dan peran selanjutnya setelah terpilih menjadi anggota legislatif atau lembaga politik lainnya?
Jawaban: Sempat dari Dewan Faqarah untuk membentuk lembaga yang mewadahi anggota ‘Aisyiyah yang berperan di lembaga luar namun belum juga terbentuk.
No. 03/INS/I.0/A/2008 Tentang:
MENJAGA KEMURNIAN DAN KEUTUHAN MUHAMMADIYAH MENGHADAPI PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009
Bismillahirrahmanirrahim
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sesuai dengan prinsip-prinsip khittah dan kebijakan-kebijakan yang selama ini berlaku tentang politik menyampaikan Instruksi dalam menghadapi Pemilihan Umum tahun 2009 sebagai berikut:
1. Menegaskan bahwa sebagai organisasi/gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
yang bergerak dalam lapangan keagamaan dan kemasyarakatan maka sesuai dengan khittah, Muhammadiyah tidak bergerak dalam lapangan dan kegiatan politik, tetapi tetap berada dalam posisi independen, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan tidak merupakan afiliasi dari suatu organisasi politik apapun.
2. Melarang Pimpinan Persyarikatan beserta Majelis, Lembaga, Ortom, Amal Usaha, dan institusi-institusi lainnya yang berada dalam lingkungan Persyarikatan melibatkan
organisasi/Persyarikatan untuk kepentingan mendukung atau menolak partai politik dan/atau calon-calon anggota legislatif dari partai politik tertentu baik secara langsung maupun melalui kerjasama dengan partai politik dan/atau tim sukses partai politik/calon anggota legislatif dari partai politik tertentu.
3. Kepada Pimpinan Persyarikatan, Majelis, Lembaga, Ortom, Amal Usaha, dan institusi-institusi lainnya yang berada dalam lingkungan Persyarikatan jika ada anggota pimpinan/fungsionaris yang menjadi anggota Tim Sukses partai politik dan/atau calon-calon anggota legislatif dari partai politik tertentu maka yang bersangkutan harus dinonaktifkan dari jabatannya sampai selesainya kegiatan Pemilu.
4. Melarang penyelenggaraan kegiatan-kegiatan Persyarikatan termasuk di lingkungan Majelis, Lembaga, Ortom, Amal Usaha, dan institusi-institusi lainnya yang dimanfaatkan untuk
kampanye partai politik dan/atau calon-calon anggota legislatif dalam bentuk apapun. 5. Melarang penggunaan lambang/simbol, dana, sarana, prasarana, dan fasilitas milik Persyarikatan seperti gedung sekolah/kampus, rumah sakit/poliklinik/balai pengobatan,