BAB III ‘ AISYIYAH DAN PEMBERDAYAAN POLITIK
2. Perkembangan Struktur Organisasi ‘Aisyiyah
Setelah nama ‘Aisyiyah diresmikan sebagai wadah perjuangan
perempuan-perempuan Muhammadiyah dalam berbakti kepada masyarakat sehingga terlaksananya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya seperti yang
4
Junus Salam, KH Ahmad Dahlan, Amal dan Perjuangannya, (Jakarta: Al-Wasrat
Publishing House, 2009), h 73
5
M. Yunan Yusuf dkk, ed, Ensiklopedia Muhammadiyah, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2005), h 13
6
Mahasri Shobahiya dkk, Studi Kemuhammadiyahan, 7th ed, (Surakarta: LPID- UMS, 2008), h. 118
tertuang dalam AD/ART ‘Aisyiyah. Saat itu pula disusun kepengurusan ‘Aisyiyah
sebagai berikut: Siti Bariyah (Ketua), Siti Badilah (Penulis), Siti Aminah Harowi (Bendahara), Ny. H. Abdullah, Ny. Fatimah Wasol, Siti Wadingah, Siti Dalalah, Siti Dawimah, Siti Busyro (Pembantu-pembantu). Seperti yang dikutip oleh Haedar Nashir, menurut Junus Anis peran Nyai Ahmad Dahlan sejak berdirinya
‘Aisyiyah sebagai pemuka sekaligus mubhaligat ‘Aisyiyah7. Istri KH Ahmad
Dahlan ini juga selalu menjadi pemegang palu persidangan dalam setiap
penyelenggaraan Kongres ‘Aisyiyah dan terakhir pada Kongres/Muktamar
Muhammadiyah ke-23 tahun 1934 di Yogyakarta.8
Kalangan feminisme kontemporer menganggap kelahiran ‘Aisyiyah dari rahim Muhammadiyah tidak progresif karena masih menjadi bagian Muhammadiyah.9 Namun bila dikaitkan dengan kondisi sosial pada waktu itu yang masih menganggap perempuan tidak pantas untuk keluar rumah, walaupun untuk sekedar menimba ilmu. Hal ini kiranya merupakan suatu gerakan yang progresif, gerakan pembaharuan perempuan muslim di tanah air dalam berkiprah di ruang publik, menggerakkan masyarakat dan dirinya. Sejalan dengan pesatnya
perkembangan ‘Aisyiyah, maka status ‘Aisyiyah dalam tubuh organisasi
Muhammadiyah sebagai organisasi induknya turut pula berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman. Berikut di bawah ini perjalanan posisi dan
struktur organisasi ‘Aisyiyah:
7
Haedar Nashir, Muhammadiyah GerakanPembaruan, (Jakarta: Suara Muhammadiyah,
2010), h. 354
8
Ibid. , h. 355
9
‘Aisyiyah dikembangkan statusnya menjadi bagian Muhammadiyah pada
tahun 1923.10
Pada tahun 1927 ‘Aisyiyah berubah menjadi Majelis ‘Aisyiyah, hal ini
dikarenakan semakin meluas urusan-urusan pimpinan cabang-cabang serta ranting-rantingnya di seluruh Indonesia. Sejak ini pula ‘Aisyiyah telah bisa menjalankan Kongres sendiri walaupun penyelenggaraannya masih mengikuti Kongres/Muktamar Muhammadiyah.11
Sesuai dengan amanat Muktamar Muhammadiyah ke-32 tahun 1953 di
Purwokerto, ‘Aisyiyah menjadi bagian Muhammadiyah yang
berkedudukan otonom. Seperti yang tercantum dalam Anggaran Pokok
‘Aisyiyah tahun 1956 pasal 1 bahwa “‘Aisyiyah adalah bahagian istimewa
Muhammadiyah yang berkedudukan otonom. ‘Aisyiyah dibentuk oleh
Muhammadiyah”. Bila dicermati betapa penting posisi dan peran
‘Aisyiyah, walaupun masih menjadi bagian Muhammadiyah.12
Pada tahun 1961 sesuai dengan Kongres ke-24 di Banjarmasin
memantapkan istilah Majelis dalam struktur organisasi ‘Aisyiyah. Pada
tingkatan Pimpinan Pusat disebut Pimpinan Pusat Majelis ‘Aisyiyah.13
Posisi organisasi ‘Aisyiyah yang sebelumnya menjadi organisasi bagian
istimewa Muhammadiyah yang berkedudukan otonom, hal ini sesuai dengan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-32 tahun 1953. Pada
tahun 1966 status organisasi ‘Aisyiyah ditingkatan lagi menjadi Organisasi
Otonom yang struktur organisasinya berjenjang dari Pusat (setingkat
10 Ibid., h. 354 11 Ibid., h. 354 12 Ibid., h. 355 13 Ibid., h. 356
nasional), Wilayah (setingkat propinsi), Daerah (setingkat kabupaten/kota), Cabang (setingkat kecamatan), dan Ranting (setingkat desa/kelurahan).14
Pada tahun 1968 dalam Muktamar Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta
status ‘Aisyiyah didewasakan menjadi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dan sampai saat ini. Sejak berstatus PIMPINAN PUSAT ‘Aisyiyah berkantor
di Yogyakarta dan diketuai oleh Prof. Dra. Hj.Baroroh Baried.15
Pada Muktamar Muhammadiyah tahun 2000 di Jakarta, kemudian dimantapkan lagi pada Muktamar Muhammadiyah ke-45 tahun 2005 di
Malang. Posisi ‘Aisyiyah ditingkatkan lagi menjadi Organisasi Otonom
Khusus yang berarti organisasi ini diberikan keluesan dalam mengelola amal usaha tertentu seperti yang telah dikembangkan oleh Muhammadiyah.16
Demikian dinamika perjalanan perkembangan posisi dan struktur
‘Aisyiyah yang awal mulanya hanya sekedar bagian dari Muhammadiyah namun
dalam perkembangan selanjutnya organisasi ini merupakan organisasi otonom dan setelah itu menjadi organisasi otonom khusus Muhammadiyah. Sebagai organisasi yang memiliki posisi berbeda dengan organisasi otonom Muhammadiyah lainnnya seperti Nasiyatul Muhammadiyah (NA), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammdiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah, dsb.
Haedar Nashir mengungkapkan bahwa keotonoman tidak lantas menghilangkan relasi-relasi struktural yang fungsional yakni saling terkait dalam
14
Ibid., h. 357 15
Mahasri Shobahiya dkk, Studi Kemuhammadiyahan, h. 119
16
menjalankan fungsinya masing-masing. Walaupun ‘Aisyiyah sebagai organisai otonom khusus, berbeda dengan organisasi otonom lainnya dalam Muhammadiyah namun harus tetap berada dalam koridor sistem Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya17.
3. Kiprah dan Perjuangan ‘Aisyiyah
Pemerintah Republik Indonesia mengangkat KH Ahmad Dahlan menjadi Pahlawan Nasional merupakan hal yang tidak berlebihan. Kyai Dahlan mampu menjawab tantangan zaman dan pembaharu bagi pergerakan Islam di tanah air. Di saat masyarakat kita masih menganggap perempuan tempatnya di dapur dan bukan di luar (baca: masyarakat), dengan keberanian dan wawasan luas yang dimilikinya, Kyai Dahlan mendirikan ‘Aisyiyah yang semula merupakan kelompok pengajian putri. Kyai Dahlan mengajarkan mereka ilmu agama dan umum. Selain itu, disaat perempuan-perempuan tidak bisa keluar untuk bersekolah seperti yang dialami oleh Kartini namun Kyai Dahlan mendirikan sekolah dan asrama putri, hal ini tentu merupakan hal yang sangat langka dan
nyeleneh pada zamannya namun sangat progresif. Kartini berontak karena tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena tidak diijinkan untuk keluar rumah, namun Kyai Dahlan mendirikan asrama putri, jadi perempuan-perempuan tidak hanya keluar dari rumahnya namun sudah hidup di luar rumah untuk menimba ilmu.
Sejak ‘Aisyiyah didirikan oleh Kyai Dahlan sebagai pembaharuan gerakan
perempuan di ruang publik, telah terbukti banyak mengukir prestasi dan keberhasilan dalam meningkatkan peran perempuan di ruang publik. Dalam kurun
waktu dua tahun saja (1917) ‘Aisyiyah telah mampu mendirikan Taman Kanak-
17
Kanak pertama di Indonesia bernama Frobel dan sekarang menjadi Taman Kanak-
Kanak ‘Aisyiyah Busthanul Atfhal. Tahun 1923 organisasi ini melakukan gerakan
pemberantasan buta huruf Arab dan Latin, yang kemudian dikembangkan menjadi Sekolah Maghribi atau Maghribis Scholl (AMS).18
Gerakan ‘Aisyiyah tidak hanya di bidang pendidikan saja namun juga mencakup bidang-bidang yang lain. Organisasi ‘Aisyiyah berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Namun agar tidak kehilangan informasi dalam isu-isu nasional dan strategis. sebagai bentuk responsivitas, salah satunya isu politik perempuan, seperti yang dibahas dalam tulisan ini. Hal ini dikarenakan ‘Aisyiyah adalah organisasi masyarakat yang tidak berkonsentrasi dalam kegiatan politik, sama seperti induknya, Muhammadiyah.
Maka tujuan ‘Aisyiyah sama dengan tujuan Muhammadiyah, yaitu ”Tegaknya
agama Islam dan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”19
Adapun dalam mencapai tujuannya tersebut, ‘Aisyiyah menyusun
beberapa program antara lain: (1) Pembinaan Keluarga Sakinah, menyampaikan dakwah yang ditekankan pada konsep keluarga sejahtera berdasarkan Islam (2)
Qoryah Thoyyibah, yakni suatu model pengembangan masyarakat dengan pendekatan mengerahkan seluruh sumber daya fisik dan insani dari desa yang diberdayakan, (3) Pembinaan Muallaf dan Dhuafa, yakni pembinaan pada orang- orang atau masyarakat yang lemah iman dan lemah ekonomi, (4) Kesejahteraan Sosial, pembinaan dengan cara memberikan santunan kepada anak-anak yatim, pembinaan anak asuh, pemberian bantuan pendidikan dsb, (5) Bimbingan Calon Haji, yakni memberikan bimbingan pada umat Islam yang akan menunaikan
18
Haedar Nashir, Muhammadiyah GerakanPembaruan, h. 357
19
Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga ‘Aisyiyah
ibadah haji, (6) Mendirikan Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Busthanul Atfhal, saat
ini ‘Aisyiyah telah memiliki 3350 sekolah yang tersebar di seluruh pelosok tanah
air, (7) Mendirikan Badan Kesehatan, seperti mendirikan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dan Sekolah Bidan atau Akademi Keperawatan untuk mencukupi tenaga kesehatannya, (8) Peningkatan taraf hidup dan pendapatan keluarga,
dalam kegiatan ini ‘Aisyiyah mendirikan Badan Usaha Ekonomi Keluarga atau
biasa disebut BUEKA, (9) Pengkaderan¸ seperti umumnya setiap organisasi
diperlukan generasi penerus dalam melanjutkan perjuangannya. ‘Aisyiyah menggantung kaderisasi organisasinya dengan munculnya kader dari Nasyi’atul
‘Aisyiyah dan Mu’allimat Muhammadiyah. 20
Demikian beberapa tujuan ‘Aisyiyah yang teraplikasikan dalam beberapa
kegiatannya. Selain itu, ‘Aisyiyah juga memiliki tugas dan peran sebagai berikut:21
1. Membimbing dan menyadarkan perempuan dalam beragama dan berorganisasi.
2. Menghimpun perempuan-perempuan Muhammadiyah untuk turut serta menyalurkan dan menggembirakan amalan-amalannya.
Eksistensi ‘Aisyiyah yang terus melaju dan berkembang hingga saat ini,
merupakan buah prestasi yang perlu mendapatkan acungan jempol. Sejak pertama didirikan, pada masa penjajahan dan masih tetap eksis pada masa kemerdekaan
saat ini. ‘Aisyiyah pun telah memiliki modal besar dalam mengantisipasi
perubahan sosial, ekonomi dan politik di era globalisasi saat ini antara lain: (1)
Usia ‘Aisyiyah yang telah menjelang satu abad, mampu melewati fase penjajahan,
20
M. Yunan Yusuf dkk, ed, Ensiklopedia Muhammadiyah, h. 15
21
kemerdekaan, pembangunan dan reformasi, (2) Gerakan ‘Aisyiyah yang telah
menjangkau ke pelosok tanah air, (3) Amal usaha ‘Aisyiyah yang hampir meliputi segala bidang kehidupan (pendidikan, ekonomi, kesehatan), (4) ‘Aisyiyah
memiliki sumber daya manusia yang banyak dan berkualitas. 22
Kelahiran ‘Aisyiyah dalam mengangkat kehidupan perempuan agar keluar
dari domestifikasi yang telah dibuat oleh budaya dan lingkungan masyarakat telah berhasil. Amal usaha dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya menjadi salah satu ukuran dari keberhasilan tersebut. Perkataan KH Ahmad Dahlan kepada murid- muridnya bahwa urusan dapur bukan faktor penghambat bagi perempuan dalam menghadapi masyarakat telah terbukti, bahwa perempuan juga bisa berbakti kepada masyarakat, bahwa perempuan juga memiliki peranan sosial.
B. Pandangan ‘Aisyiyah Tentang Politik Perempuan
Usia ‘Aisyiyah yang saat ini sudah menjelang satu abad yang lahir
sebelum republik ini berdiri telah memiliki banyak pengalaman dalam mengabdi
kepada masyarakat. Organisasi ‘Aisyiyah telah berhasil melewati fase-fase
perkembangan dan sejarah Indonesia, sejak masa penjajahan oleh Belanda,
Jepang, kemudian era orde baru dan reformasi saat ini. Kelahiran ‘Aisyiyah tidak
bisa dilepaskan dari harapan dan tujuan agar kaum perempuan dapat berkiprah di ruang publik, namun bukan berarti harus mengabaikan wilayah domestik (kerumahtanggaan).
‘Aisyiyah sebagai organisasi kemasyarakatan yang bernaung dengan
organisasi induknya Muhammadiyah tentu tidak terlibat lebih jauh dalam
22
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan politik praktis.23 Program-program yang
nyata di masyarakat mengenai peran ‘Aisyiyah sejak berdirinya hingga saat ini
diantaranya di bidang keagamaan, sosial, pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
‘Aisyiyah juga turut serta mengajarkan kesadaran perempuan dalam politik
sebagai responsivitas perubahan dan isu zaman.
Sejak pemilu umum pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955,
‘Aisyiyah telah terlibat aktif dalam kegiatan pemberdayaan politik perempuan.
Kegiatan ‘Aisyiyah memberikan penerangan tentang pemilihan umum kepada
masyarakat baik secara lisan lewat pengajian-pengajian, rapat-rapat yang
diselenggarakan oleh ‘Aisyiyah, atau secara personal.24 Majalah Suara ‘Aisyiyah
April 1954 memuat artikel pemilihan umum dan pelaksanaannya. Majalah tersebut memuat artikel tentang pemilihan umum dan pelaksanaanya, pengertian Konstituante, dan Dewan Perwakilan Rakyat menjelaskan bahwa keduanya masih sementara, selain daripada itu dijelaskan pula tujuan dilaksanakannya pemilihan umum yaitu membentuk Badan Konstituante untuk membuat UUD dan DPR pusat untuk menggantikan parlemen sementara. Tahapan-tahapan dan jadwal pelaksanaan pemilihan umum diuraikan pula dalam majalah tersebut.25
Mencermati kegiatan ‘Aisyiyah dalam politik adalah dalam rangka memberikan pendidikan politik kepada masyarakat luas yakni agar masyarakat, khususnya kaum perempuan agar lebih berpikir kritis dan terbuka terhadap
23
Wawancara Pribadi dengan Dra. Hj. Siti Aisyah, M.Ag, Yogyakarta, 07 April 2010
24
Kegiatan pemberdayaan politik perempuan yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah pada era orde hanya dilakukan melalui pengajian-pengajian di tingkat grass root, sedangkan di era reformasi lebih terbuka melalui seminar-seminar, workshop dan sebagainya.Wawancara Pribadi dengan Dra. Tri Hastuti Nur Rochima, M.Si, 07 April 2010
25Suara ‘Aisyiyah,
No 4, Th XIX, April 1954, h. 77-82 dalam A. Adaby Darban (ed),
‘Aisyiyah dan Sejarah Pergerakan Perempuan Indonesia: Sebuah Tinjaun Awal, (Yogyakarta: Jurusan Sejarah UGM, 2010), h. 119-120
politik. Jadi tidak bertujuan politik praktis dikarenakan ‘Aisyiyah didirikan sebagai organisasi perempuan non-politik sama seperti induknya, Muhammadiyah.
Fenomena kehadiran perempuan di ruang publik masih menjadi kritikan oleh sebagian kalangan masyarakat. Wilayah perempuan yang hanya boleh di dapur (baca: domestik) masih menghantui pola pikir sebagian masyarakat kita yang masih patriarkal. Padahal mencermati lebih jauh sejauhmana hasil pembangunan saat ini yang masih kurang berpihak pada kaum perempuan yang justru membutuhkan suara perempuan itu sendiri dalam proses pengambil kebijakan dalam struktur kekuasaan baik di level mikro maupun makro. Sedangkan tanpa kita sadari perempuan telah berkontribusi besar pada anggaran pemerintahan seperti retribusi pasar, puskesmas, dsb yang kebanyakan pelaku dalam sektor tersebut adalah perempuan. seperti yang diungkapkan oleh Bu Tri
“lihat saja di pasar-pasar, puskesmas, kebanyakan kan perempuan yang
berada di sana, Jadi perempuan telah berkontribusi besar bagi pemasukan anggaran pemerintah.”26
Pandangan ‘Aisyiyah tentang peran politik perempuan dapat dicermarti
berdasarkan keputusan yang telah dibuat oleh Muhammadiyah melalui lembaga yang berkenaan dengan itu dalam hal ini Majlis Tarjih dan Tajdid. Ketika pandangan patriarki masih sangat kental dalam kultur masyarakat Indonesia dan diskursus-diskursus jender belum mengemuka saat ini. Pada tahun 1976 Muhammadiyah melalui lembaga Majlis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan keputusan tentang kedudukan perempuan dalam politik atau lebih tepatnya kedudukan perempuan Muslim dalam politik yang terhimpun dalam Adabul
26
Mar’ah fil Islam. Berlandaskan firman Allah dalam Surat At-Taubah ayat 71 yang berbunyi:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh akan kebajikan dan melarang dari kejahatan; mereka mendirikan shalat, mereka mengeluarkan zakat. Dan mereka taat/patuh kepada Al-quran dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, karena sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
Pengertian mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar, memerintahkan kebajikan dan mencegah kejahatan yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup dalam segala hal termasuk soal politik dan ketatanegaraan, karena bisa saja suatu waktu kaum perempuan diperlukan untuk turut serta memecahkan persoalan- persoalan bangsa dalam ketatanegaraan.27 Sedangkan kata “ba’dhuhum auliyaa uba’din” menjelaskan bahwa bukan saja laki-laki yang memimpin perempuan, namun perempuan juga memimpin laki-laki.28 Baik perempuan maupun laki-laki memiliki tugas dan kewajibannya yang sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan sebagai warga negara memiliki kewajiban untuk turut serta membantu mensejahteraan masyarakat, baik jalur lembaga politik formal atau konsep Qoryah Thoyyibahseperti yang telah dilakukan oleh ‘Aisyiyah selama ini.
27
Majlis Tarjih dan Tajdid, Adabul Mar’ah fil Islam, (Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2010), h.71
28 Dalam wawancara dengan Ibu Aisyah, kata “penolong” diartikan “pemimpin” oleh
‘Aisyiyah. Lihat pula Maftuchah Yusuf, Perempuan Agama dan Pembangunan, Wacana Kritik
Adapun hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, Tidak akan menang kaum perempuan yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan. Menurut Din Syamsudin pandangan ini karena dipengaruhi budaya arab yang didominasi laki-laki, sehingga mempengaruhi negara-negara muslim untuk menolak kehadiran atau tampilnya perempuan dalam wilayah kehidupan politik.29 Hadits di atas yang terkesan menyudutkan kaum perempuan untuk menjadi pemimpin menurutnya haruslah dipahami secara jernih dan lebih mendalam dengan melihat latar belakang (Asbabul Wurud) dari hadits tersebut. Dikeluarkannya hadits tersebut merupakan repon nabi Muhammad terhadap Raja Persia yang akan mengangkat puterinya sebagai pengganti atau penerus kepemimpinan ayahnya (Raja Persia) tersebut.30 Pernyataan Nabi tersebut karena berdasarkan pengetahuan beliau tentang ketidakmampuan Sang Puteri dalam mengurusi urusan kenegaraan yang kompleks dan berat.
Keputusan Majelis Tarjih yang terhimpun dalam Adabul Mar’ah fil Islam
tersebut memberikan apresiasi dan afirmasi bahwasannya perempuan boleh menjadi pemimpin. Perempuan boleh menjadi hakim, direktur sekolah, direktur perusahaan, camat lurah, menteri, walikota dan sebagainya.31 Lantas bolehkan perempuan menjadi kepala negara? Menurut Syamsul Anwar walaupun dalam keputusan tersebut tidak secara jelas tegas menyebutkan kebolehan perempuan menjadi kepala negara semangat dari seluruh keputusan tersebut tidak melarang perempuan menjadi kepala negara.
29
Din Syamsudin dalam Wawan Gunawan dan Evie Shofia Inayati (ed), Wacana Fiqh Perempuan dalam Persfektif Muhammadiyah, (Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 2005), h. 44
30
Wawan Gunawan dan Evie Shofia Inayati (ed), h. 44
31
Menurut Syamsul Anwar peran politik perempuan yang dirumuskan dalam Adabul Mar’ah fil Islam, dalam menilai peranan wanita dalam politik dapat dibagi menjadi dua bagian yakni:
1. Peranan yang langsung terjun dalam politik praktis dalam lembaga-lembaga politik formal, mulai dari tingkatan legislatif yakni DPR dari pusat sampai daerah.
2. Peranan tidak langsung, yaitu kegiatan yang disalurkan dari rumah tangga dengan turut berperan aktif dalam mengisi kesempatan-kesempatan bermanfaat di dalam masyarakat. 32
Seperti yang dituturkan oleh Bu Aisyah, selaku Ketua Bidang
Pengkaderan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, bahwa definisi politik dalam pandangan
‘Aisyiyah tidak diartikan secara sempit yakni kekuasaan semata dalam struktur
pemerintahan atau lembaga politik.33 Pendapat senada pun diungkapkan oleh Ibu Hastuti Nur Rochima, selaku Ketua Lembaga Pengembangan dan Penelitian,
bahwa ‘Aisyiyah membolehkan peran perempuan dalam bidang politik. Namun
tidak harus dalam lembaga politik formal (baca: DPR) dalam cakupan yang lebih luasnya kaum perempuan dapat berperan aktif di masyarakat, misal tampil dalam rapat-rapat yang berkaitan dengan pengambilan keputusan demi keberlangsungan kehidupan masyarakat. Seperti Ibu Uji (panggilan akrabnya) yang juga Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kendal terlibat dalam Musrenbangdes (musyawarah perencanaan pembangunan desa).34
“Kondisi wanita di Indonesia sebagian besar belum mendukung peran sertanya dalam pembangunan. Masih jutaan yang buta atau setengah
32
Syamsul Anwar dalam Wawan Gunawan dan Evie Shofia Inayati (ed), Wacana Fiqh
Perempuan dalam Persfektif Muhammadiyah, (Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 2005),, h.49
33
Wawancara Pribadi dengan Dra. Hj. Siti Aisyah, M.Ag
34
buta huruf, sebagian dari tenaga kerja wanita adalah buruh rendah. Kesiapan fisik, mental, perlengkapan keterampilannya masih jauh dari standar yang diminta. Kelompok wanita yang duduk sebagai penentu kebijaksanaan masih sangat kecil’’.35
Kutipan di atas merupakan salah satu gambaran kondisi perempuan saat ini. Berangkat dari kondisi ketimpangan-ketimpangan dalam pembangunan saat ini, maka wacana dan gerakan untuk meningkatkan partisipasi perempuan di bidang politik banyak bermunculan. Dalam menyikapi perkembangan ini,
‘Aisyiyah pun sejalan bahwa peranan perempuan dalam politik sangat diperlukan
agar perempuan dapat terlibat lebih jauh dalam pengambilan kebijakan. Perempuan yang menjadi kepala daerah (baca: walikota, bupati, gubernur) tidak menjadi suatu hal yang harus dipersoalkan terlebih-lebih dilarang, namun bukan berarti asal perempuan artinya dilihat dari jenis kelaminnya saja. Perempuan yang duduk dalam lembaga politik, baik sebagai kepala daerah atau anggota dewan adalah mereka yang benar-benar memiliki kompetensi dan sense of gender akan kebutuhan masyarakat serta bukan karena suaminya.36
Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan di atas pandangan
‘Aisyiyah tentang politik perempuan terdapat beberapa kesimpulan diantaranya
bahwasannya tidak ada larangan perempuan untuk berperan di ruang publik, termasuk dalam bidang politik. Pandangan ini berdasarkan keputusan Majlis
Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah karena ‘Aisyiyah memiliki keterkaitan dengan
Muhammadiyah, merupakan organisasi otonom khusus Muhammadiyah serta
35
Maftuchah Yusuf, Perempuan Agama dan Pembangunan, Wacana Kritik atas Peran
dan Kepemimpinan Wanita, (Yogyakarta: Lembaga Studi dan Inovasi, 2000), h. 21
36
-Wawancara Pribadi dengan Dra. Hj. Siti Aisyah, M.Ag.
-Di iklim demokrasi saat ini tidak sedikit para istri mantan kepala daerah turut mencalonkan diri sebagai bupati, walikota atau gubernur mengikuti jejak suaminya, bahkan diantaranya berhasil memenangkan pilkada contohnya, Anna Sopana sebagai Bupati Indramayu dan Haryanti Sutrisno sebagai Bupati Kediri.
memiliki cita-cita dan tujuan yang sama demi menegakkan ajaran Islam yang sebenar-benarnya. Ibu Aisyah juga menuturkan bahwa “…secara budaya pun tidak ada larangan perempuan untuk menjadi pemimpin, sejak dahulu sudah banyak perempuan-perempuan yang menjadi pemimpin di dalam kerajaan, namun faktor agama sehingga mereka tidak bisa lagi menjadi pemimpin…”37
Pandangan peran politik perempuan yang dimaksud oleh ‘Aisyiyah bukan
sekedar kekuasaan semata, dalam cakupan yang lebih luas yakni perempuan- perempuan menjadi local leader sehingga dapat tampil di daerahnya dalam kesempatan rapat-rapat yang berkaitan dengan pengambilan keputusan masyarakat. Pendapat ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Prof. Miriam Budiarjo bahwasannya politik merupakan kegiatan yang berkaitan dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan, pembagian atau alokasi nilai-nilai dalam masyarakat.38
Seperti yang telah ditegaskan oleh KH Ahmad Dahlan bahwasannya urusan dapur jangan dijadikan penghalang untuk berkiprah di ruang publik bagi
perempuan. ‘Aisyiyah berpandangan bahwa ajaran Islam tidak melarang bagi
perempuan untuk menjadi pemimpin dan mengenai urusan rumahtangga bukan tanggungjawab seorang istri saja namun tanggungjawab bersama (suami dan istri). Kiprah perempuan di ruang publik bukan berarti akan mengurangi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, seorang istri kepada suaminya.39 Menurut Ibu Ais (sapaan akrabnya) menyatakan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya atau