BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Peran Pemerintah Daerah Pada
Dalam pelaksanaan pembinaan keolahragaan di Kota Makassar khususnya olahraga sepakbola tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor pendukung dan penghambat peranan pemerintah dalam
pelaksanaan pembinaan olahraga sepakbola guna meningkatkan prestasi olahraga sepakbola di Kota Makassar.
1. Faktor Pendukung
Berikut wawancara dengan Kepala Seksi Olahraga Prestasi yang mengatakan bahwa :
“...Besarnya minat masayarakat Kota Makassar di cabang olahraga sepakbola tentunya akan menjadi modal yang besar kedepannya untuk mencari bibit-bibit atlet potensial yang kemudian akan dibina dan terus diasah kemampuannya supaya bisa menghasilkan prestasi yang akan mengharumkan nama daerah di kejuaraan-kejuaraan daerah maupun nasional”. (Hasil Wawancara dengan DM tanggal 29 Maret 2016).
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa besarnya minat masyarakat di cabang olahraga sepakbola akan menjadi peluang yang besar kedepannya untuk kemajuan olahraga sepakbola di Kota Makassar. tingginya minat masyarakat dicabang olahraga sepakbola pastinya akan memudahkan pemerintah dalam hal ini Dispora dalam mencari atlet-atlet daerah yang potensial.
Selanjutnya wawancara dengan Kepala Bidang Kelembagaan dan Sarana Olahraga yang mengatakan bahwa :
“...Rencana pembangunan sarana dan prasarana olahraga sepakbola di setiap Kecamatan berupa pembangunan lapangan sepakbola dan juga SPORTAIMENT di Kota Makassar menurut saya itu merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung terhadap peningkatan prestasi olahraga sepakbola, dukungan dan perhatian pemerintah yang sangat besar terhadap kemajuan sepakbola di Kota Makassar dapat mendorong tercapainya prestasi sepakbola yang maksimal”. (Hasil Wawancara dengan MT tanggal 23 Maret 2016).
Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa rencana pembangunan sarana dan prasarana olahraga sepakbola berupa pembangunan lapangan sepakbola di setiap Kecamatan di Kota Makassar dan juga rencana pembangunan
SPORTAIMENT merupakan suatu program pemerintah dalam mendorong tercapainya prestasi olahraga sepakbola yang maksimal. Program pemerintah tersebut dalam hal ini Dispora Kota Makassar merupakan suatu bentuk dukungan dan juga kepedulian pemerintah dalam memajukan olahraga sepakbola di Kota Makassar.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa faktor pendukung untuk meningkatkan prestasi olahraga sepakbola di Kota Makassar, yakni :
1. Besarnya minat masyarakat di cabang olahraga sepakbola.
2. Adanya program pemerintah dalam pengadaan fasilitas / sarana dan prasarana olahraga sepakbola yakni dengan pembangunan lapangan sepakbola di setiap Kecamatan dan juga rencana pembangunan SPORTAIMENT di Kota Makassar demi tercapainya peninngkatan prestasi olahraga sepakbola kedepannya.
2. Faktor Penghambat
Peran pemerintah daerah dalam meningkatkan prestasi olahraga sepakbola tidaklah mudah karena ada saja hambatan-hambatan yang sering di jumpai.
Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Kelembagaan dan Sarana Olahraga bahwa :
“...Minimnya lahan untuk pembangunan sarana dan Prasarana keolahragaan khusunya olahraga sepakbola sebenarnya menjadi salah satu faktor penghambat dalam mengoptimalkan pengadaan sarana dan prasarana karena dibutuhkan lahan yang memenuhi standar untuk pembangunan sebuah lapangan sepakbola, dan dibeberapa Kecamatan itu ada yang sangat padat bangunan-bangunan rumahnya dan banyak juga yang akan dibanguni perumahan’. (Hasil Wawancara dengan MT tanggal 23 Maret 2016).
Hal lain juga di utarakan oleh Pengurus Koni yang menangani cabang olahraga sepakbola yang mengatakan bahwa :
“...Pendanaan yang dialokasikan oleh pemerintah baru diberikan pada saat akan di adakan kejuaraan Porda, menurut saya jika dana dicairkan pada saat akan menjalani kejuaraan maka pembinaan akan kurang efektif karna untuk mencapai prestasi yang maksimal maka dibutuhkan waktu yang cukup lama, jadi harusnya dana pembinaan itu dicairkan jauh sebelumnya karna nantinya kita juga akan melakukan laga uji coba dan Pra-Porda dan itu semua tidak bisa dilaksanakan jika dana yang di alokasikan dicairkan pada saat akan menjelang pelaksanaan Porda”. (Hasil Wawancara dengan J tanggal 18 April 2016).
Kemudian ditambahkan oleh Pemerhati Sepakbola Kota Makassar yang mengatakan bahwa :
“...Kalau menurut perspektif saya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam hal pendanaan masih kurang karena jika terjalin kerja sama antara beberapa pihak-pihak swasta pasti akan sangat membantu dalam menguatkan pendanaan untuk pembinaan atlet yang akan bertanding di Porda nanti karna itu merupakan alternatif dalam hal penganggaran keolahragaan, jadi ini juga sebenarnya menjadi suatu hal yang bisa menghambat dalam mengoptimalkan pembinaan atlet sepakbola”. (Hasil Wawancara dengan AR tanggal 02 Mei 2016).
Dari beberapa hasil wawancara diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor penghambat untuk meningkatkan prestasi olahraga sepakbola di Kota Makassar yakni :
1. Minimnya lahan untuk membangun sarana dan prasarana olahraga sepakbola seperti pembangunan lapangan yang sesuai dengan standar.
2. Lambatnya pencairan dana pembinaan yang dilakukan Pemerintah.
3. Kurngnya kerja sama yang dilakukan Pemerintah dan pihak-pihak Swasta dalam membantu meningkatkan pendanaan pembinaan olahraga sepakbola.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Peran pemerintah daerah dalam meningkatkan prestasi olahraga sepakbola, yakni :
a. Pengorganisasian yakni pelaksanaan program Pemerintah dalam hal ini Dispora Kota Makassar bekerja sama dengan Koni berupa pembinaan anak usia dini dan juga peningkatan sarana dan prasarana olahraga sepakbola berupa pembangunan lapangan sepakbola di setiap Kecamatan agar nantinya prestasi olahraga sepakbola di berbagai kejuaraan dapat meningkat.
b. Pendanaan yakni pengalokasian dana hibah dari pusat kepada Dispora kemudian di salurkan lagi ke Koni untuk pelaksanaan pembinaan olahraga sepakbola untuk kejuaraan Porda dengan jumlah dana pembinaan yang disalurkan sebanyak Rp. 171.400.000. Namun dana yang dialokasikan tersebut masih dianggap kurang.
c. Sarana dan prasarana yakni rencana pembangunan sarana dan prasarana olahraga sepakbola berupa lapangan yang sesuai standar di setiap Kecamatan di Kota Makassar dan juga ketersediaan lapangan sepakbola mini untuk pembinaan anak usia dini, serta adanya anggaran dari Pusat untuk pembangunan SPORTAIMENT.
69
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam meningkatkan prestasi olahraga sepakbola.
a. Faktor pendukung yakni besarnya minat masyarakat dicabang olahraga sepakbola dan program Pemerintah dalam pengadaan sarana dan prasarana olahraga sepakbola di setiap Kecamatan serta rencana pembangunan SPORTAIMENT sebagai pusat gelanggang olahraga di Kota Makassar.
b. Faktor penghambat yakni minimnya lahan untuk pembangunan sarana dan prasarana sepakbola seperti pembangunan lapangan yang sesuai dengan standar, dan lambatnya pengalokasian dana pembinaan serta kurangnya kerja sama antara Pemerintah dan swasta dalam membantu meningkatkan pendanaan pembinaan olahraga sepakbola.
B. Saran
Memperhatikan kesimpulan tersebut diatas dan menganalisa pembahasan pada bab sebelumnya, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :
1. Perlu adanya sinergitas dan koordinasi yang kuat antara Pemerintah dan Koni dalam menjalankan program-program pembinaan keolahragaan utamanya olahraga sepakbola agar nantinya tujuan dari program tersebut bisa tercapai dengan maksimal.
2. Kerja sama antara Pemerintah dan swasta perlu ditingkatkan agar bisa membantu pendanaan agar nantinya anggaran pembinaan bisa memadai dan semua proses pelaksanaan pembinaan olahraga sepakbola bisa berjalan secara efektif.
3. Diperlukan penyediaan lahan yang strategis dan sesuai dengan standar untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga sepakbola.
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. 2005. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif: Dari Pengertian sampai Penulisan Laporan. Padang : Lab. Sosiologi FISIP UA.
Ahmad, Yani, 2002. Hubungan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Ali, Hasyimi. 2002. Keterpurukan Hukum Di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Bauer, Jeffrey C. (2003). Role Ambiguity and Role Clarity: A Comparison of Attitudes in Germany and the United States. Clermont: Dissertation, University of Cincinnati.
Dispora. 2010. Kliping Berita Olahraga Dispora Sulawesi-Selatan.
http://dispora.sulselprov.go.id/2010/06/klipping-berita-olahraga-dispora-sulsel.html?m=1 diakses pada tanggal 25 November 2015.
Handoko, Anung. 2008. Sepakbola Tanpa Batas. Yogyakarta: Kanisius
Harsuki. 2003. Pengantar Manajemen Olahraga. Jakarta: Raja Grafindo Persada Hasibuan M.S.P. 2005. Organisasi dan Motivasi (Dasar Peningkaatan
Produktivas). Jakarta: Bumi Aksara
Husdarta. 2011. Sejarah dan Filsafat Olahraga. Bandung: ALFABETA.
Kemenpora. 2010. Rencana Strategis Kementrian Pemuda dan Olahraga Tahun 2010-2014. Jakarta: Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Koni Pusat. 1998. Pemanduan dan Pembibitan Bakat Usia Dini. Jakarta: Garuda Emas Koni
Labolo, Muhadam. 2006. Memahami Ilmu Pemerintahan, Suatu Kajian, Teori, Konsep dan Pengembangannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Madani, Muhlis dkk. 2014. Pedoman Penulisan Proposal Penelitian dan Skripsi Fisipol Unismuh Makassar. Makassar.
72
Maleong, Lexy. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.
Permana, Abdi, 2012. Pemerintah Daerah. Manggala pada tanggal 28 Oktober 2012. http://abdipermanablogspot.com diakses Pada Tanggal 22
November 2015.
Poerwadarminto. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Rasyid M. Ryaas., dkk. 2002. Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sarundajang. 2012. Pemerintahan Daerah di Berbagai Negara Edisi Revisi.
Jakarta Selatan: Kata Hasta Pustaka.
Santoso, Slamet. 2010. Teori Psikologi Sosial. Bandung; Refika Adiatma.
Soekanto, S., 2009, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru. Jakarta: Rajawali Pers.
Soepartono. 2000. Sarana dan Prasarana Olahraga. Jakarta: Depdiknas.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta,CV
Thoha, Miftah. 2007. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Edisi 12. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2005. Tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 03 Tahun 2009 Tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pemuda dan Olahraga.
Kabupaten Takalar. Penulis adalah anak pertama yang lahir dari pasangan Nurhidayat dan Kartia. Penulis tamat sekolah dasar tahun 2004 di SD Inpres Bontokarampuang Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa. Kemudian untuk pendidikan sekolah menengah pertama penulis melanjutkan di SMP Negeri 4 Bajeng Kabupaten Gowa dan tamat tahun 2007. Setelah menempuh pendidikan ke sekolah menengah kejuruan di SMK Negeri 1 Limbung Kabupaten Gowa dan tamat tahun 2010, penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Pemerintahan dan tamat Tahun 2016.
Dengan ketekunan, motivasi tinggi untuk terus belajar dan berusaha, penulis akhirnya mampu menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Peran Pemerintah Daerah Pada Pembinaan Olahraga Di Kota Makassar (Studi Peningkatan Prestasi Olahraga Sepakbola)”.