BAB IV: PEMBAHASAN
B. Faktor Pendukung
Faktor pendukung pembelajaran antara lain adalah sarana/fasilitas, anak didik, guru dan keluarga.
1. Sarana dan Fasilitas
Syaiful berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar guru yang harus dimiliki sekolah.
TPQ Al Ghozali sudah memiliki gedung yang cukup untuk melakukan pembelajaran dengan baik, tetapi pada faktanya sarana dan fasilitas yang ada
belum begitu memadai untuk melaksanakan pembelajaran al-Qur‟an
menggunakan metode-metode yang telah disebutkan nara sumber.
2. Guru
Rusyan berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori Guru adalah seseorang yang ditugasi mengajar sepenuhnya tanpa campur tangan orang lain. Setiap guru harus memahami fungsinya karena sangat besar pengaruhnya terhadap cara bertindak dan berbuat dalam menunaikan pekerjaan sehari-hari di kelas dan di masyarakat. Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik profesional, selalu terdorong untuk tumbuh dan berkembang sebagai perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidikan. Program di TPQ Al ghozali tidak akan berarti
bilamana tidak diwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan ustadz/ustadzah sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan diantara santri-santri dalam suatu kelas.
3. Anak Didik
Syaiful berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori anak didik merupakan subjek utama dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif. Anak didik adalah anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang, dan secara psikologis dalam rangka mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan formal, khususnya berupa sekolah. Santri di TPQ Al Ghozali sebagai unsur kelas memiliki perasaan kebersamaan yang sangat penting artinya bagi terciptanya situasi kelas yang dinamis. Setiap Santri memiliki perasaan diterima terhadap kelasnya agar mampu ikut serta dalam kegiatan kelas. Perasaan diterima itu akan menentukan sikap bertanggung jawab terhadap kelas yang secara langsung berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangannya masing-masing.
4. Keluarga
Mulyono berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori peran orang tua terhadap prestasi anak pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Peran serta adalah ikut berupayanya orang tua terhadap kemajuan pendidikan anak-anaknya, ini dilakukan agar prestasi dan semangat belajar anak-anaknya meningkat. Dalam
peningkatan prestasi belajar anak saat ini orang tua banyak melakukan terobosan-terobosan, antara lain dengan menyekolahkan anak ke sekolah- sekolah favorit, memasukan anak ke lembaga-lembaga kursus, serta memberikan les tambahan kepada anak. Santri TPQ Al Ghozali yang tidak berprestasi bukan berarti anak kelas bawah dikarenakan karena mereka bodoh, tetapi lebih cenderung dipengaruhi oleh kurangnya dorongan orang tua terhadap kemauan belajar santri. Bentuk peran serta orang tua terhadap perkembangan prestasi anak antara lain memberikan semangat terhadap diri anak akan pentingnya suatu pendidikan untuk masa depan santri, sebagai fasilitator terhadap segala kegiatan anak didik, menjadi sumber ilmu dan pengetahuan dalam keluarga, memberikan motivasi kepada anak untuk selalu meningkatkan prestasi belajar mereka, sebagai tempat bertanya dan mengadu terhadap hal-hal yang menjadi permasalahan anak, memberikan arahan yang jelas untuk masa depan anak-anaknya. Dengan peran serta orang tua tersebut maka kemajuan dan peningkatan prestasi belajar anak di TPQ Al Ghozali maupun sekolah dapat terus meningkat, seiring dengan bertambahnya usia dan daya nalar anak.
C. Faktor Penghambat
Nawawi berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori faktor penghambat itu bisa datang dari guru sendiri, dari peserta didik, lingkungan keluarga ataupun karena faktor fasilitas.
Faktor penghambat tersebut adalah guru, peserta didik, dan keluarga. Guru juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tipe kepemimpinan guru, gaya guru yang monoton, kepribadian guru, pengetahuan guru dan terbatasnya waktu mengajar.
1. Guru
Guru sebagai seorang pendidik, tentunya ia juga mempunyai banyak
kekurangan. Kekurangan-kekurangan itu bisa menjadi penyebab
terhambatnya kreatifitas pada diri guru tersebut. Diantaranya ialah:
a. Tipe Kepemimpinan Guru
Ahmadi berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori tipe kepemimpinan guru dalam proses belajar mengajar yang otoriter dan kurang demokratis akan menimbulkan sikap pasif peserta didik. Sikap peserta didik ini merupakan sumber masalah pengelolaan kelas.
Siswa hanya duduk rapi mendengarkan dan berusaha memahami kaidah-kaidah pelajaran yang diberikan guru tanpa diberikan kesempatan untuk berinisiatif dan mengembangkan kreativitas dan daya nalarnya.
Ustadz/ustadzah harus memiliki cara untuk menghidupkan suasana pembelajaran yang baik dan menyenangkan agar santri tidak merasa bosan. Ustadz/ustadzah di TPQ Al Ghozali ada yang bersikap monoton ada juga yang menyenangkan, santri lebih senang dan bisa menerima pembelajaran ustadz/ustdzahnya bisa bercengkrama dan mengajak ngobrol
santri dari pada dengan ustadz/ustadzah yang tidak mau mnegjak mereka berinteraksi. Santri TPQ Al Ghozali tidak berangkat TPQ karena mereka mengetahhui ustadz/ustadzah yang berangkat adalah yang galak/otoriter.
b. Gaya guru yang monoton
Gaya guru yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi peserta didik, baik berupa ucapan ketika menerangkan pelajaran ataupun tindakan. Ucapan guru dapat mempengaruhi motivasi siswa.
c. Kepribadian guru
Seorang guru yang berhasil, dituntut untuk bersifat hangat, adil, obyektif dan bersifat fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Artinya guru menciptakan suasana akrab dengan anak didik dengan selalu menunjukan antusias pada tugas serta pada kreativitas semua anak didik tanpa pandang bulu.
d. Pengetahuan guru
Wijaya berpendapat pada landasan teori bahwa terbatasnya pengetahuan guru terutama masalah pengelolaan dan pendekatan pengelolaan, baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis, sudah barang tentu akan menghambat perwujudan pengelolaan kelas
dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pengetahuan ustadz/usyadzah TPQ Al Ghozali tentang pengelolaan kelas sangat diperlukan.
e. Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik
dan latar belakangnya
Wijaya berdapat seperti yang telah di jelaskan pada landasan teori bahwa terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk dengan sengaja memahami peserta didik dan latar belakangnya.
Terbatasnya waktu mengajar di TPQ Al Ghozali yang menyebabkan ustadz/ustadzah tidak bisa memahami perbedaan santri satu denga yang lainnya. Pengelolaan TPQ Al Ghozali harus disesuaikan dengan minat, perhatian dan bakat para santri, maka santri yang memahami pelajaran secara cepat, rata-rata dan lamban memerlukan pengelolaan secara khusus menurut kemampuannya.
2. Peserta didik
Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Peserta didik harus tahu hak-haknya sebagai peserta didik harus punya kesadaran yang tinggi dari akan hak serta kewajibannya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Banyak peserta didik yang tidak mengikuti pembelajaran sebagaimana mestinya.
Peserta didik juga banyak yang sering membolos dan memengtingkan bermain daripada harus pergi ke majid untuk mengaji dan mengikuti pembelajaran, perilaku tersebut dapat mengehambat kegiatan belajar mengajar yang telah direncanakan oleh ustadz/ustadzah di TPQ Al Ghozali.
3. Keluarga
Abdullah berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori tingkah laku peserta didik didalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter dari orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif dan apatis. Problem klasik yang dihadapi guru memang banyak yang berasal dari lingkungan keluarga. TPQ Al Ghozali memiliki banyak santri yang memiliki kebiasaan yang kurang baik dari lingkungan keluarga seperti tidak tertib, tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau terlampau terkekang itu merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik melanggar di kelas. Kurangnya perhatian orang tua dapat menjadikan anak sebagai jiwa atau pribadi yang merasa tidak diabaikan, merasa tidak berguna dan bahkan cenderung untuk menyalahkan orang lain dalam tindakannya di masyarakat. Mereka yang kurang mendapat dukungan dari orang tua menganggap bahwa orang tua mereka tidak peduli terhadap mereka dan cenderungmemberi jarak antara mereka dengna orang tua mereka. Perilaku orang tua yang cuek terhadap anaknya dapat menjadi penghambat pembelajaran di TPQ Al Ghozali.
4. Fasilitas
Rohani dan Ahmadi berpendapat sebagaimana dikutip pada landasan teori fasilitas yang ada merupakan faktor penting upaya guru memaksimalkan programnya, fasilitas yang kurang lengkap akan menjadi kendala yang berarti bagi seorang guru dalam beraktifitas. Kendala di TPQ Al Ghozali tersebut ialah jumlah peserta didik didalam kelas yang sangat banyak, besar atau kecilnya suatu ruangan kelas yang tidak sebanding dengan jumlah siwa, keterbatasan alat penunjang mata pelajaran seperti al-Qur‟an yang terbatas. Terbatasnya fasilitas yang ada ini dapat menghambat pembelajaran di TPQ Al Ghozali.
D. Upaya Mengatasi Hambatan
Hambatan yang mengganggu antara lain guru, peserta didik, keluarga dan fasiltas. Untuk mengatasi hamabatan antara lain:
1. Ustadz/ustadzah hendaknya juga turut memperhatikan kurikulum TPQ yang sudah dibuat dan memberikan yang terbaik untuk para santri dan TPQ Al Ghozali;
2. Membantu pengembangan sifat-sifat positif pada diri santri seperti rasa percaya diri, saling menghormati dan rasa butuh akan pembelajaran al-
Qur‟an;
3. Orang tua hendaknya ikut serta mendukung dan member pengarahan kepada
4. Lembaga Al Ghozali hendaknya memperbaiki kondisi sarana prasarana dan terus menerus memberikan motivasi pada santri.
Ustadz/ustadzah TPQ Al Ghozali hendaknya dapat memilih dan menerapkan saran dan solusi sesuai dengan kebutuhan dan keperluan. Solusi yang dipilih hendaknya mampu secara efektif mengatasi hambatan kemampuan siswa sehingga tidak menjadi sebuah masalah yang dialami santri dalam belajar membaca al-Qur‟an atau menulis huruf al-Qur‟an. Cara yang dipilih sebagai solusi mengatasi kemampuan membaca dan menulis santri dalam belajar harus
mampu meningkatkan kemampuan membaca al-Qur‟an santri dalam belajar
mengaji sehingga santri TPQ Al Ghozali dapat membaca dengan cepat. Akan lebih baik lagi jika dapat meningkatkan kemampuan membaca al-Qur‟an santri secara keseluruhan sehingga tidak ada santri yang tertinggal dari santri lainnya dalam hal memahami materi pembelajaran.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Metode yang diterapkan di TPQ Al Ghozali Noborejo Salatiga, menggunakan
5 metode yang saling berpadu antara satu metode dengan metode yang lain. Metode-metode tersebut yaitu metode Al Baghdadi, iqro‟, qiroati, at tartil, dan tilawati. Kelima metode tersebut digunakan secara bervariasi dalam
pembelajaran al-Qur‟an untuk mempermudah santri dalam mepelajari cara membaca al-Qur‟an di TPQ Al Ghozali.
2. Faktor yang mendukung pebelajaran di TPQ Al Ghozali antara lain kuikulum,
ustadz/ustadzah, orangtua dan sarana dan prasarana. Pertama, kurikulum TPQ yang sudah dirancangkan sebagai pengalaman edukatif yang menjadi tanggung jawab TPQ AL Ghozali dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik, dan terarah serta terorganisir. Kedua, ustadz/ustadzah harus senantiasa terus belajar dan mengikuti pelatihan-pelatihan dengan baik agar tidak menjadi pendidik yang tidak tahu akan perkembangan dunia pendidikan. Ketiga, orang tua harus memberikan dorongan keada anaknya agar anakanya mau belajar di TPQ Al Ghozali. Keempat, waktu sarana pra sarana yang ada belum maksimal, sehingga ustadz/ustadzah harus memaksimalkan waktu dan sarana prasarana yang ada di TPQ.
3. Faktor penghambat pembelajaran di TPQ Al Ghozali antara lain santri, ustadz/ustadzah, orang tua, sarana dan prasara. Pertama, santri tidak disiplin terhadap waktu. Santri tidak datang tepat waktu dan tidak rutin berangkat ke TPQ al-Ghozali. Hal ini menyebabkan itu dapat mengganggu rencana pembelajaran yang telah dibuat ustadz/ustadzah. Kedua, Ustadz/ustadzah terbatasnya waktu mengajar di TPQ Al Ghozali. Halini dapat menyebabkan ustadz/ustadzah tidak bisa memahami perbedaan antara santri yang satu
dengan santri yang lainnya. Ketiga, orang tua kurang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan agama dalam belajar al-Quran. Orang tua tidak mempedulikan berangkat dan tidaknya anak untuk ke TPQ Al-Ghozali.
Keempat, sarana dan prasarana kurang memadai kebutuhan proses
pembelajaran di TPQ Al Ghozali. Keterbatasan sarana dan prasarana ini dapat mengurangi kualitas proses pembelajaran.
4. Solusi yang dilakukan pengelola lembaga Al Ghozali pada keempat hambatan
itu pada unsur santri, ustadz/ustadzah, orang tua, sarana dan prasarana.
Pertama, siswa tidak disiplin terhadap waktu membuat tata tertib tentang
disiplin belajar di TPQ Al Ghozali bagi dan sosialisasi tata tertib kepada orang tua santri serta himbauan untuk memantau kedisiplinan putra-putrinya. Kedua, Ustadz/ustadzah terbatasnya waktu mengajar di TPQ Al Ghozali disarankan untuk menyusun jadwal ulang kesanggupan mengajar di TPQ Al Ghozali dan atau mengganti ustadz/ustadzah yang tidak memiliki waktu yang cukup untuk TPQ Al Ghozali. Ketiga, orang tua kurang memiliki kesadaran akan
pentingnya pendidikan agama dalam belajar al-Qur‟an dengan cara
memberikan pembelajaran tentang parenting kepada semua orang tua santri.
Keempat, sarana dan prasarana kurang memadai kebutuhan proses
pembelajaran di TPQ Al Ghozali dengan cara pengadaan barang-barang yang dibutuhkan pada proses pembelajaran di TPQ Al Ghozali dengan melalui infaq dan shodaqoh.
B. SARAN
1. Bagi Pengelola lembaga TPQ Al Ghozali
Pengelola Lembaga TPQ Al Ghozali diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan lembaga dalam rangka mengembangkan proses pembelajaran al-
Qur‟an.
2. Bagi Ustadz Ustadzah
Ustadz ustadzah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
diharapkan dapat meningkatkan fungsi perencanaan, pelaksanaan,
pengorganisasian, dan pengawasan dalam manajemen pembelajaran al-Qur‟an
melalui metode yang ada. Ustadz/ustadzah juga harus mempelajari kurikulum TPQ yang ada dan harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan proses belajar mengajar. Ustadz/ustadzah diharapkan lebih kreatif,
inovatif dalam menerapkan metode pembelajaran al-Qur‟an pada pemanfaatan
media, sumber dan alat pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan melalui merode-metode yang digunakan.
3. Bagi Orang Tua
Orang tua diharapkan memberi motivasi kepada anaknya agar secara serius dan bertanggung jawab dalam mengikuti pembelajaran di TPQ Al Ghozali. Orang tua secara ikhlas memberikan infaq dan shodaqoh untuk pengembangan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh TPQ Al Ghozali.
4. Bagi Santri
Santri diharapkan dapat menghargai ustadz/uztadzah dan menaati peraturan yang ada di TPQ Al Ghozali. Santri juga harus berangkat tepat waktu untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran al-Quran di TPQ Al Ghozali.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, Dwi. 2005. Pendidikan Agama Integratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Cet. Ke- 12. Jakarta: Rineka Cipta.
Arya. Wisnu. 2004. Al Qur‟an dan Energi Nuklir. Cet ke- 1. Jogjakarta: Pustaka Pelajar
Ash shabuni, Muhammad ali.1999. Studi ilmu al-Qur‟an. Bandung: CV Pustaka setia Basyiruddin, Usman. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat
pers
Chumaii dkk. 2011. Pedoman Pendirian dan Penyelenggaraan Taman Pendidikan Al-Qur‟an. Semarang: Badan Koordinasi Taman Pendidikan Al-Qur‟an Provinsi Jawa Tengah
Djamarah, Syaiful Bahri. Psikologi Belajar. Ed, rev., Cet. Ke-3. Jakarta: Rineka Cipta
Kencana Syafiie, Inu. 1996. Al Qur‟an dan Ilmu Politik. Jakarta: PT Rineka Cipta Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Cet. Ke- 3. Bandung: PT. Rosdakarya.
Marzuki, Muharam. 2008. Pedoman Penyelenggaraan TKQ/TPQ. Jakarta:
Departemen Agama
Muhammad. 1983. Ilmu Ilmu Al Qur‟an. Jakarta: CV Pustaka Setia
Moleong, Lexy. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mustamir. 2007. Sembuh dan Sehat dengan Mukjizat Al-Qur‟an. Yogyakarta: Penerbit Lingkaran
Noer Ali, Herry. 1988. Azas-azas Pendidikan Islam. Bandung: CV Diponegoro
Rosihon. 1999. Mutiara ilmu-ilmu al-Qur‟an. Bandung : Pustaka Setia
Supriyono. Erwan. 2007. Sembuh dan Sehat dengan Mukjizat al-Qur‟an. Yogyakarta: Lingkaran
Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rinek Cipta.
Syafiie, Inu kencana.1996. Al-Qur‟an dan ilmu Politik. Jakarta: PT Rineka Cipta Syah. Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Syaifudin Ahmad. 2004. Mendidik anak membaca, menulis, dan mencintai al-
Qur‟an. Jakarta: Gema Insan
Ungguh Muliawan, Jasa. 2005. Pendidikan Islam Integratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Zuhairini, Abdul Ghofir, Slamet. 1983. Methodik Khusus Pendidikan
Agama.Surabaya: Usaha Nasional
http://priyandra.blogspot.co.id/2013/05/layanan-pendukung-pembelajaran.html:
Layanan Pendukung Pembelajaran, diakses 8 Agustus 2015, pukul 18.09 WIB
http://bdkjakarta.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=854: Problematika
Pembelajaran PAI, Sebuah Tinjauan Epistemologis, diakses 8 Agustus 2015
20.00 WIB
https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=5RcFVo7OBY7_ugTXrom4DA#q=upa ya-mengatasi-hambatan-pembelajaran.html: Upaya Mengatasi Hambatan
Hasil wawancara
1. Teknik pembelajaran
a. Pengenalan Huruf
Metode al Baghdadi dengan dieja sedangkan iqro‟ langsung di baca perhuruf.
b. Tanda baca
Metode al Baghdadi pengenalan tanda baca sesuai dengan bacaan baru
diterangkan sedangkan iqro‟ dengan cara step by step bersamaan dengan
pengenalan huruf. c. Pengenalan tajwid
Metode al Baghdadi menggunakan cara ditulis dipapan tulis kemudian
di jelaskan oleh guru tentang macam-macam bacaan sedangkan metode iqro‟
pengenalan il mu tajwid apabila santri sudah memasuki jenjang iqro‟ yang
lebih tinggi.
d. Berapa lama kelancaran membaca santri
Metode al Baghdadi santri dapat terbantu dalam membaca al-Qur‟an dengan cepat tapi waktu yang digunakan untuk membaca dengan lanca itu tergantung pada santri masing-masing, sedangkan metode iqro‟ santri bisa
e. Menulis huruf hijaiyah
Metode al Baghdadi dan metode iqro‟ cara mengajarkan sama yaitu
dengan menulis huruf hijaiyah dengan benar dipapan tulis kemudian diikuti para santri.
f. Menyambung huruf
Metode al Baghdadi dan metode iqro‟ cara mengajarkan sama yaitu
dengan menulis huruf hijaiyah dengan benar dipapan tulis kemudian diikuti para santri.
2. Faktor penunjang
a. Sumber daya manusia
Untuk metode al Baghdadi dan metode iqro‟ sumber daya manusia
yang berbeda beda membuat santri yang penangkapan materinya bagus bisa cepat lancar dalam membaca dan menulis al-Qur‟an dengan baik.
b. Teknik
Metode al Baghdadi teknik yang digunakan adalah ustadz/ustadzah membaca dulu kemudian diikuti oleh santri, ustadz/ustadzah harus sabar dalam menghadapi santri yang daya tangkapnya lama. Sedangkan metode
iqro‟ teknik yang digunakan adalah santri langsung membca huruf demi huruf bila ada yang salah kemudian ustadz/ustadzah membenarkan.
c. Sarpras
Sarana prasarana yang digunakan pada metode al Baghdadi hanya alat
tulis dan turutan sedangkan metode iqro‟ sama hanya alat tulis dan iqro‟
masing-masing santri.
d. Waktu
Metode al Baghdadi menggunakan waktu yang cukup lama sedangkan
iqro‟ lebih cepat dari al Baghdadi.
3. Faktor penghambat
a. Sumber daya manusia
Metode al Baghdadi dan iqro‟ sama dalam hal sumber daya manusia
yang lambat membuat lama bisa membaca al-Qur‟an dengan lancar.
b. Teknik
Pada metode al Baghdadi menggunakan banyak waktu atau beberapa
kali pertemuan sedangkan untuk metode iqro‟ tidakmemerlukan banyak waktu
untuk cepat bisa membaca al-Qur‟an.
c. Sarpras
Metode al Baghdadi dan iqro‟ perlu menggunakan sarpras yang
menarik tidak hanya sarana seadanya sehingga kurang menarik minat santri dalam belajar al-Qur‟an.
Metode al Baghdadi dan metode iqro‟ hanya menggunakan waktu
TPQ yang hanaya 1 jam sedangkan mengajar 1 anak memerlukan waktu 5-10 menit.
4. Upaya mengatasi hambatan metode al Baghdadi dengan meningkatkan kreatifitas
guru agar saat mengajari membaca al-Qur‟an menarik minat anak dan metode
iqro‟ dengan meningkatkan sarana yang ada. Menambah jumlah ustadz dan
Pedoman wawancara
no Teori ruang lingkup
Metode pembelajaran al-Qur’an Al baghdadi Qiro’ati Iqro’ At– Tartil Tilawati 1. Teknik pembelajaran a. Pengenalan huruf b. Tanda baca c. Tajwid d. Kelancaran e. Menulis huruf hijaiyah f. Menyambung huruf 2. Faktor penunjang a. Sumber daya manusia b. Teknik c. Sarpras d. Waktu 3. Faktor penghambat a. Sumber daya manusia b. Teknik c. Sarpras d. waktu 4. Upaya mengatasi hambatan
VERBATIM WAWANCARA
Nama TPQ : TPQ Al - Ghozali
Alamat : Noborejo, Argomulyo Kota Salatiga
Responden : M. Yunus, Indah Fitryani S.Pdi, Nurunniyah S.Pdi
Tujuan : Untuk mengetahui bagaimana cara pengenalan huruf,faktor penunjang serta faktor penghambat dalam
penggunaan metode Al Baghdadi dan metode Iqro‟
NO PEDOMAN PERTANYAAN Indah Fitryani S.Pdi Nurunniyah S.Pdi M. Yunus
1. Pengenalan
Huruf
a. Bagaimana ustadzah
memberikan teknik
pembelajaran al-
Qur‟an dengan metode
al-Baghdadi?
“metode pembelajaran al-
Qur‟an yang diajarkan dengan
cara ini yaitu dengan di eja perhurufnya mbak, jadi anak lebih mudah menirukannya”
“Salah satu metode pembelajaran
alquran yang
bersifat aplikatif