• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMELIHARAAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN

3.7 Faktor Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka di Perpustakaan

3.7.3 Faktor Penggunaan dan Penanganan yang salah

Manusia baik sebagai petugas maupun sebagai pemakai perpustakaan mempunyai peranan yang penting dalam menggunakan bahan pustaka. Manusia bisa dikatakan sebagai perusak bahan pustaka bila salah dalam mengurus dan menangani bahan pustaka tersebut

Menangani buku atau bahan pustaka tampaknya suatu hal yang sederhana, tetapi bila dikaitkan dengan manusia sebagai salah satu faktor penyebab kerusakan bahan pustaka maka pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang sederhana. Petugas perpustakaan dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari sering kali menggunakan

cara-cara yang tidak benar, baik di lakukan dengan sengaja atau tanpa disadari, begitu pula halnya dengan masyarakat umum sebagai pengguna bahan pustaka. Misalnya mengambil buku dari rak sering sekali menggunakan cara-cara yang salah, begitu juga penempatan buku di rak dan yang paling merugikan adalah kebiasaan pemakai perpustakaan misalnya menyobek halaman buku yang dianggap penting, mencoret-coret buku dan sebagainya. Dengan demikian kerusakan buku tidak dapat dihindari dan hal tersebut menyebabkan kerugian yang tidak sedikit terutama bila terjadi pada buku-buku berharga atau langka. Kebiasaan membaca dengan cara melipat buku juga termasuk kendala kategori ini. Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan kerusakan oleh faktor manusia ini merupakan yang paling dominan.

3.8. Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

3.8.1. Menciptakan lingkungan penyimpanan

Yang dimaksud dengan lingkungan penyimpanan bahan pustaka adalah gedung, ruangan, dan peralatan yang ada dalam suatu ruangan perpustakaan.

Pemeliharaan dan penjagaan bahan pustaka, melainkan menyangkut gedung perpustakaan, ruang baca, ruang penyimpanan dan peralatan yang ada di dalamnya.

Pemeliharaan lingkungan yang disebut juga dengan konservasi preventif adalah usaha untuk menciptakan kondisi lingkungan yang baik (ideal) bagi bahan pustaka agar tidak terjadi kerusakan pada bahan pustaka tersebut. Konservasi preventif ini harus sudah dimulai sejak pembangunan suatu gedung perpustakaan masih dalam perencanaan, antara lain dalam memilih lokasi, pemilihan bahan bangunan, pemasangan alat pendinginan dan mengatur pencahayaan.

Idealnya lokasi suatu perpustakaan tidak boleh berada di daerah kawasan industri atau daerah yang padat kendaraan yang bermotor, karena industri dan kendaraan bermotor tersebut akan mengeluarkan gas-gas pencemar seperti gas SO dan NO yang berbahaya bagi bahan pustaka. Namun demikian, karena perpustakaan

juga harus terletak di daerah yang mudah dijangkau oleh masyarakat pemakai jasa perpustakaan maka pada umumnya perpustakaan berada di pusat kota.

Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan termasuk berada di kawasan yang banyak dilalui kendaraan umum. Jarak antara jalan raya dengan lokasi gedung berjarak kurang lebih 30 meter dan berada di dalam gedung di lantai dua sehingga menurut penulis polusi udara tidak sampai mengganggu bahan pustaka.

3.8.2.Memilih material yang dipakai dalam ruang Penyimpanan

Setiap bahan pustaka harus disimpan dalam suatu tempat seperti rak, lemari yang sesuai. Setiap rak/laci harus sedikit lebih besar daripada bahan-bahan yang akan disimpan dengan sedikit menyisihkan ruang untuk sirkulasi udara, dan dirancang sedemikian rupa sehingga diperkirakan tidak menyebabkan kerusakan pada jilidan atau lembaran-lembaran bahan pustaka.

Mengenai bahan-bahan tempat penyimpanan bahan pustaka ini. Rak-rak buku sebaiknya terbuat dari logam. Juga harus menghindari penggunaan kayu (kecuali kayu jati), karena kayu tersebut mengundang serangga dan mengeluarkan asam organik yang berbahaya bagi bahan pustaka.

Dalam hal ini Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan telah melaksanakannya dengan baik. Rak dan lemari buku telah disesuaikan dengan ukuran bahan pustaka yang disimpan. Peta-peta dihamparkan dalam rak yang sesuai dengan ukurannya. Dan pemilihan materi tempat penyimpanan bahan pustaka Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan masih menggunakan rak yang terbuat dari kayu jati.

3.8.3.Mencegah kerusakan karena pengaruh cahaya

Cahaya matahari masuk ke dalam ruangan, baik langsung maupun pantulan harus dihalangi dengan gorden atau disaring dengan filter untuk mengurangi radiasi ultraviolet. Untuk mencegah kerusakan karena cahaya lampu listrik adalah dengan memperkecil intensitas cahaya, memperpendek waktu pencahayaan dan

menghilangkan radiasi ultraviolet dari lampu tersebut dengan memasang filter pada lampu TL.

Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan untuk menghindari faktor cahaya ini belum memakai penyaring/filter seperti yang disebutkan di atas.

Akan tetapi hanya dengan jalan meletakkan rak-rak buku tidak terlalu dekat dengan jendela dan memakai gorden dapat menghambat sedikit cahaya yang masuk ke dalam ruangan perpustakaan.

Menurut penulis tindakan yang di lakukan oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan dalam mencegah kerusakan karena pengaruh cahaya ini kurang tepat. Karena cahaya dari sinar matahari baik langsung maupun pantulan dapat merusak bahan pustaka. Begitu juga halnya dengan cahaya dari lampu listrik.

Seharusnya Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan perlu memakai filter/penyaring sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh cahaya tersebut, yakni dengan plexy glass atau filtering polyster film, yang biasa ditempelkan pada kaca jendela atau di langit-langit ruangan.

3.8.4.Mencegah kerusakan karena pengaruh suhu dan kelembaban udara

Untuk mencegah kerusakan bahan pustaka dari pengaruh temperatur dan kelembaban udara adalah dengan membuat ventilasi yang sempurna. Jika terjadi kelembaban udara yang tinggi, dapat diturunkan dengan dehumidifier atau silica gel.

Dehumidifier digunakan untuk menurunkan kelembaban udara dalam ruangan tertutup, sedangkan silica gel untuk menurunkan kelembaban udara dalam lemari.

Untuk mengukur temperatur kelembaban udara dapat di lakukan dengan alat thermohygrometer, thermohygrograph, dan psychometer.

Sampai pada penulis membuat tulisan ini, alat-alat tersebut di atas belum dimiliki oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan. Mengingat betapa pentingnya alat tersebut untuk mencegah kerusakan oleh faktor suhu dan kelembaban udara maka Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan perlu memiliki alat-alat tersebut.

3.8.5.Mencegah kerusakan karena pengaruh biotis

Tindakan preventif untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya jamur dan serangga adalah dengan memeriksa bahan pustaka secara berkala, membersihkan tempat penyimpanan, menurunkan kelembaban udara dan buku-buku tidak boleh disusun terlalu rapat karena dapat mengurangi sirkulasi udara Untuk mencegah tumbuhnya jamur, pada sela-sela kertas diselipkan kertas tissue yang sebelumnya sudah dicelupkan dalam larutan fungisida seperti laindane atau thymol. Tindakan ini biasanya di lakukan pada musim hujan, karena kelembaban udaranya relatif lebih tinggi. Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan untuk mengusir serangga ini biasanya di lakukan dengan meletakkan bahan-bahan berbau pengusir serangga seperti kanfer, naftalen dan kapur barus. Namun dalam penyusunanbuku di rak banyak di lakukan terlalu rapat sehingga sirkulasi udaranya tidak sempurna dan hal ini dapat menimbulkan tumbuhnya jamur atau dapat menjadi tempat yang nyaman bagi serangga sebagai perusak bahan pustaka. Menurut penulis usaha yang di lakukan dalam rangka kerusakan karena faktor biotis ini masih sangat minim. Tetapi hal ini telah memadai.

3.9. Perbaikan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

Seperti yang telah disebutkan pada uraian sebelumnya bahwa gigitan serangga, frekuensi pemakaian yang tinggi, salah penanganan menyebabkan sebagian kertas dari halaman sebuah buku akan hilang, terkikis, tercabik, berlubang atau sobek. Sedangkan kerapuhan kertas menyebabkan kertas mudah sobek atau patah.

Untuk mencegah agar bagian yang sobek atau berlubang tidak semakin lebar serta untuk memulihkan bentuk dan kekuatan kertas, perlu diupayakan perbaikan, disesuaikan dengan kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka. Untuk kertas berlubang atau sobek dengan keadaan kertas masih baik dan kuat cukup ditambal atau disambung.

3.9.1.Menambal

Menambal atau menutup bagian bahan pustaka yang berlubang dapat di lakukan dengan kertas yang lebih tebal, dan perekat kanji. Juga dapat di lakukan dengan bubur kertas (pulp), atau menggunakan kertas tissue yang berperekat. Dalam penambalan bahan pustaka ini pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan masih sering menggunakan sellotape. Penggunaan sellotape walaupun mudah penggunaannya sebenarnya kurang baik hasilnya. Karena kertas akan berubah warnanya menjadi kuning kecoklatan pada bagian yang ditempel sellotape ini.

Untuk mencabut kembali sellotape bukanlah pekerjaan yang mudah, karena dapat merusak tulisannya. Menurut penulis cara yang tepat untuk melakukan penambalan ini adalah menyediakan dan memilih kertas yang sesuai untuk menambal, yang mempunyai berat dan warna yang sama dengan kertas yang ditambal.

3.9.2. Menyambung

Menyambung di lakukan untuk merekatkan bagian yang sobek atau lemah karena lipatan, biasanya diperkuat dengan potongan kertas dari jenis tertentu, agar bagian yang sobek tidak bertambah lebar. Cara yang tepat untuk menyambung bahan pustaka yang sobek adalah sebagai berikut :

1. Pilih kertas yang akan dipergunakan untuk memperkuat sambungan.

2. Meletakkan penggaris logam di atas kertas penyambung dengan arah panjang sesuai arah serat kertas.

3. Menarik garis sepanjang tepi penggaris dengan menggunakan trekpen yang telah dicelupkan dengan air.

4. Kertas dilipat ke atas dengan menggunakan tulang pelipat.

5. Kertas ditarik dengan hati-hati menurut garis yang basah.

6. Merapatkan bagian kertas yang sobek dengan hati-hati.

7. Mengoleskan perekat di atas kertas penyambung kemudian letakkan di atas bagian yang sobek dan tekan dengan hati-hati.

8. Letakkan kertas di antara dua lembar kertas penyerap, dan kemudian meletakkan di bawah pemberat (dipress), setelah kering potong bagian yang berlebih/sisa.

Seperti halnya dengan menambal, pekerjaan menyambung ini pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan sering menggunakan sellotape. Maka cara ini seperti yang telah disebutkan di atas mempunyai dampak yang kurang baik. Menurut penulis pekerjaan menyambung seperti yang di lakukan Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan kurang baik. Hal ini tampak kelemahannya bila penyambungan dengan sellotape akan mengganggu lembaran lain (lengket) apabila sudah lama.

3.9.3.Penjilidan

Bahan pustaka yang rusak seperti isi buku, lem atau jahitannya terlepas, lembar pelindung, sampul mengalami kerusakan umpamanya terlepas dari kerusakan lainnya masih bisa diatasi. Salah satu tindakan adalah dengan mereparasi atau memperbaiki dan menjilid kembali untuk dapat mempertahankan fisik buku tersebut, sekaligus mempertahankan kandungan informasi di dalamnya.

Pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan , perbaikan dengan cara penjilidan kembali merupakan cara yang paling banyak ditempuh. Untuk jenis perbaikan yang biasanya di lakukan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan adalah sebagai berikut :

- Memperbaiki punggung buku yang longgar - Mengganti lembar pelindung buku yang sobek

- Menempel linen baru pada punggung sampul buku asli

Selain menjilid atau mereparasi kembali buku-buku yang rusak, Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen juga melaksanakan penjilidan atau pembundelan terhadap terbitan berseri seperti majalah. Fungsi dari pembundelan ini adalah selain bahan pustaka tersebut menjadi rapi dan menarik juga akan memudahkan dalam mencari informasi yang ingin dicari.

Dalam penjilidan kembali bahan pustaka atau buku pada Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen di lakukan dengan menggunakan lem. Penjilidan dengan menggunakan paku dan hekter tidak di lakukan karena menurut petugas preservasi dapat menimbulkan karat yang merusak lembaran bahan pustaka.

Menurut pendapat penulis cara/teknik penjilidan sudah di lakukan dengan baik. Yang perlu diperhatikan adalah penambahan tenaga kerja di bagian penjilidan, karena dengan tenaga kerja yang ada sekarang masih kurang.

3.9.4.Penyiangan

Kemampuan ruangan atau gedung untuk menampung koleksi selalu terbatas, sedangkan bahan pustaka selalu bertambah akibat kemajuan ilmu pengetahuan.

Informasi yang diperoleh penulis dari pustakwan di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan mengenai kriteria penyiangan pasda Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen adalah sebagai berikut :

1.Bahan pustakanya yang sudah usang dan tidak pernah dibaca lagi oleh pengguna.

2.Bahan pustaka yang sudah lama dan jumlah eksemplarnya sudah terlalu banyak.

3.Bahan pustaka yang isinya sudah tidak lengkap lagi dan telah dapat diusahakan penggantinya.

4.Bahan pustaka yang mengalami kerusakan berat yang sulit untuk diperbaiki lagi.

3.9.5.Kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan

Kendala yang dihadapi oleh Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen dalam melaksanakan kegiatan konservasi dan preservasi bahan pustaka adalah sebagai berikut :

1. Dana yang terbatas.

2. Kurangnya tenaga ahli.

3. Mutu kertas tidak memenuhi syarat.

4. Sedikitnya referensi untuk pemeliharaan bahan pustaka.

5. Salah penanganan terhadap bahan pustaka.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan pemeliharaan bahan pustaka yang sering diartikan sebagai kegiatan pelestarian bahan pustaka sangat diperlukan untuk menunjang fungsi perpustakaan dalam melaksanakan jasa perpustakaan dengan jalan mengusahakan agar kondisi bahan pustaka terpelihara sebaik mungkin dan siap digunakan.

2. Kerusakan bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan banyak diakibatkan oleh salah penanganan terhadap bahan pustaka, baik oleh petugas maupun oleh pemakai jasa perpustakaan. Hal ini disebabkan belum adanya kesadaran yang tinggi tentang pentingnya perawatan bahan pustaka dan kurangnya bimbingan atau penyuluhan yang diberikan oleh pustakawan kepada pengguna perpustakaan tentang tatacara penanganan maupun penggunaan terhadap bahan pustaka.

3. Banyaknya faktor kerusakan bahan pustaka di HKBP Nommensen Medan akibat dari faktor alam, manusia dan binatang, tetapi yang lebih dominan yang merusak bahan pustaka adalah faktor manusia.

4. Pelaksanaan pemeliharaan bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan masih di lakukan dengan cara yang tradisional, baik dari segi peralatan yang digunakan maupun dari segi tenaga teknis yang masih kurang.

5. Untuk pencegahan dari faktor biotis, faktor fisika belum memakai sistem fumigasi yang modern maupun penggunaan alat pengatur suhu dan kelembaban udara dan lain-lain. Tetapi hanya di lakukan dengan menjaga kebersihan dan penggunaan bahan-bahan pengusir serangga seperti kapur barus, kanfer, naftalen dan pengusir serangga lainnya

6. Kurangnya tenaga dan peralatan pemeliharaan bahan pustakadi Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen mengakibatkan sering terjadi keterlambatan dalam proses perbaikan bahan pustaka seperti pekerjaan penjilidan kembali dan pembundelan majalah.

4.1.2. Saran

1. Dalam pelaksanaan pemeliharaan bahan pustaka di Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan ada baiknya melakukan pemeliharaan sejak dari awal, yaitu sejak di lakukannya pemilihan bahan pustaka, yakni memilih bahan pustaka disamping sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan juga diperhitungkan fisik bahan pustaka tersebut, seperti bahan/jenis kertas, teknik penjilidan, bahan cover dan lain-lain.

2. Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan sangat perlu memodernisasi sistem pelaksanaan pemeliharaan bahan pustakanya seperti ruangan fumigasi dan alat-alat pengatur suhu dan kelembaban udara seperti thermohygrometer, thermohygrograph dan lain-lain.

3. Perlunya diberikan bimbingan mengenai cara penanganan dan penggunaan bahan pustaka yang benar kepada staff dan pengguna jasa perpustakaan baik berupa penyuluhan maupun dengan poster-poster yang ditempelkan di tempat yang mudah dilihat oleh pengunjung, melalui brosur-brosur, buku petunjuk dan aturan tertulis lainnya.

4. Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen Medan perlu membuat ruangan khusus dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan bahan pustaka sebab perpustakaan ini sudah memiliki banyak koleksi dan yang pasti pelaksaan pemeliharaan bahan pustaka harus dilakukan oleh pustakawan yang ahli.

5. Bagi pustakawan yang bertanggung jawab kepada pemeliharaan bahan pustaka harus mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kursus atau penataran terlebih dahulu, sebelum melaksanakan tugasnya. Hal ini

penting sekali agar yang bersangkutan tidak banyak melakukan kesalahan di dalam pekerjaannya. Dan bagi pustakawan yang sudah mengikuti kursus agar terus meningkatkan pengetahuannya dan menularkan pengetahuan dan pengalamannya kepada yang belum mendapatkan kursus.

DAFTAR PUSTAKA .

Departemen Pendidikan Nasional RI, 2006. Pedoman Umum Perpustakaan Perguruan Tinggi Buku Pedoman Edisi Ketiga. Jakarta: Depertemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

Indonesia. Republik Indonesia (2007). Undang-undang No.43 Tahun 2007 bab 1 pasal 1 tentang perpustakaan. Jakarta: Dewan Perwakilan Rakyat RI, 2007

Martoatmodjo, Karmidi. Pelestarian Bahan Pustaka. 1993.Jakarta. Universitas Terbuka.

Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman.1994. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas

Rachman, Yeni Budi. 2016,Dasar-dasar pelestarian.Depok: Universitas Indonesia.

Razak, Muhammadin. 1992. Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip. Jakarta : Program Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip.

Sulistyo-Basuki.1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sutarno, N. S. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

.

Dokumen terkait