• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung

Faktor penghambat adalah kendala-kendala yang terjadi sehingga dapat menghambat penerapan gaya kepemimpinan transformasional di kantor kecamatan bulukumpa kabupaten bulukumba. adapun yang menjadi faktor penghambat yaitu: sikap pegawai yang kadang-kadang cuek dengan apa yang disampaikan oleh pimpinannya dan juga yang menjadi faktor penghambat dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional adalah sistem kekeluargaan yang masih sering kali berlaku melihat bahwa pegawai yang ada di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba sebagaian besar merupakan keturunan bangsawan sehingga dalam bekerja seringkali lebih mementingkan keluarga dibandingkan yang lain dan hal tersebut sudah menjadi budaya.

Bedasarkan hal tersebut di atas, maka penulis melakukan wawancara mengenai apa yang menjadi penghambat terhadap penerapan gaya kepemimpinan transformasional?

a. Sikap

Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku. Dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional sikap para pegawai sangatlah penting karena sikap cuek dan tidak peduli pegawai dapat menjadi penghambat penerapan gaya kepemimpinan transformasional di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis melakukan wawancara dengan MAP selaku sekretaris camat kecamatan bulukumpa, saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Penulis menanyakan mengenai apa yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional dan bagaimana pemimpin mengatasi hambatan tersebut? Berikut pernyataan dari MAP:

“...adapun yang menjadi hambatannya adalah sikap pegawai yang kadang-kadang cuek terhadap apa yang disampaiakan oleh pemimpin dalam hal ini pak camat tidak mendengarkan sepenuhnya apa yang disampaikan oleh pimpinan. Terkait cara mengatasi masalah tersebut pak camat selalu memberikan teguran kepada pegawai tersebut.”(wawancara, kamis 23 april 2015).

Berdasarkan pernyataan diatas dapat dipahami bahwa salah satu yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional adalah sikap atau attitudepegawai. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AY selaku seksi Kesra saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AY:

“...menurut saya yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan tersebut adalah sikap pegawai yang terkadang acuh terhadap apa yang disampaikan oleh pimpinan dan mengenai cara yang dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut adalah pimpinan memberikan teguran dan bisanya juga diberikan sanksi.”(wawancara, kamis 23 april 2015).

Berdasarkan pernyataan diatas dapat dipahami bahwa yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional adalah sikap pegawai dan kemudian dalam mengatasi masalah tersebut pimpinan seringkali memberikan teguran dan biasanya juga diberikan sanksi.

Selanjutnya pernyataan yang dilontarkan oleh HA selaku kepala sub bagian

perencanaan dan evaluasi saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya.

Berikut pernyataan dari HA:

“...menurut saya dalam melaksanakan sesuatu pasti ada hambatan yang dihadapi. Namun, hambatan itu dapat diatasi ketika pemimpin memberikan teguran kepada pegawai dan memberikan pemahaman yang mendalam mengenai apa yang seharusnya pegawai kerjakan agar tujuan organisasi dapat terwujud.”(wawancara, jumat 24 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas dapat dipahami bahwa dalam melaksanakan sesuatu hal pasti ada hambatan yang dihadapi tapi hambatan itu dapat diatasi dengan baik. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh HD selaku kepala seksi tata pemerintahan saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari HD:

“....menurut apa yang menjadi hambatan yaitu sikap dari beberapa pegawai yang terkadang menganggap sesuatu hal penting biasa-biasa saja dan terkadang apa yang disampaikan pimpinan tidak diterapkan dalam bekerja. Sehingga pimpinan harus lebih tegas dalam mengarahkan dan

memberikan pemehaman kepada pegawai yang

bersangkutan.”(wawancara, jumat 24 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa apa yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional adalah sikap dari beberapa pegawai yang terkadang acuh, cuek dengan apa yang disampaikan oleh pimpinannya dalam hal ini pak camat.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AT selaku kepala seksi keamanan dan ketertiban saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya berikut pernyataan dari AT:

“...menurut saya salah satu hambatan atau kendala-kendala yang terjadi adalah sikap beberapa pegawai yang cuek, kerana begini sikap pegawai kan berbeda-beda ada yang ketikan diarahkan dan diberikan pemahaman sungguh-sungguh mendengarkan dengan baik dan juga pegawai yang

tidak memperhatikan pengarahan dan pemahaman yang diberikan.”(wawancara, senin 27 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sikap dan pembawaan pegawai berbeda-beda ada yang sungguh-sungguh ada juga yang tidak memperhatikan pengarahan yang diberikan. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh NM selaku kepala sub bagian keuangan saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya dengan pernyataan yang sama. Berikut pernyataan dari NM:

“....menurut saya salah satu hambatan yang terjadi adalah kepedulian beberapa pegawai terhadap apa yang harus dikerjakan dan ketika diberikan pengarahan terkadang mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkannya. Sehingga apa yang dilakukan oleh pak camat terkesan sia-sia dan hal itu dapat menghambat penerapan gaya transformasional.”(wawancara, senin 27 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, sikap adalah salah satu yang menjadi hambatan tidak berjalannya dengan baik kepemimpinan yang dijalankan.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AZ selaku kepala seksi PMD saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AZ:

“...menurut saya apapun yang dilakukan oleh pak camat ketika sebagaian dari pegawai tidak memperhatikan dengan baik apa yang disampaikan oleh pak camat dan apa yang dilakukan oleh pak camat saya itu terkesan tidak berarti apa-apa. Maka dari itu pak camat selalu tegas dengan apa yang disampaikan.”(wawancara, selasa 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa pak camat harus selalu tegas dalam mengarahkan bawahannya agar tidak ada lagi sikap cuek pegawai. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AA selaku kepala seksi Ekbang saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AA:

“...menurut saya sikap dan pembawaan pegawai yang berbeda-beda merupakan salah satu faktor yang mengambat terciptanya kepemimpinan yang efektif.”(wawancara, selasa 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sikap dan pembawaan pegawai yang berbeda-beda dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat terciptanya kepemimpinan yang efektif. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AA selaku kepala sub bagian umum dan kepegawaian saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AA:

“....menurut saya apa yang menjadi hambatan pak camat dalam kepemimpinannya adalah sikap beberapa pegawai yang kadang cuek dan kadang tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh pak camat.”(wawancara, rabu 29 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sikap beberapa pegawai yang acuh merupakan hambatan terhadap kepemimpinan pak camat.

Berdasarkan hasil wawancara dari seluruh informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pak camat dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional menemukan kendala atau hambatan dan salah satu hambatan tersebut adalah sikap beberapa pegawai yang terkadang cuek, acuh dan terkadang tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh pak camat.

Namun kendala tersebut dapat diatasi dengan cara pak camat memberikan pemahaman yang lebih mendalam, memberikan teguran dan terkadang pak camat juga memberikan sanksi dengan tujuan agar pegawai atau bawahannya bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya.

b. Budaya

Budaya adalah pola fikir dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki bersama sebuah kelompok. Melihat bahwa sistem kekeluargaan

yang masih sering kali berlaku melihat bahwa pegawai yang ada di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba sebagaian besar merupakan keturunan bangsawan sehingga dalam bekerja seringkali lebih mementingkan keluarga dibandingkan yang lain dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan bahkan sudah menjadi budaya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis melakukan wawancara dengan MAP selaku sekretaris camat kecamatan bulukumpa, saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Penulis menanyakan mengenai apa yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional dan bagaimana pemimpin mengatasi hambatan tersebut? Berikut pernyataan dari MAP:

“...saya selaku sekretaris camat melihat bahwa selain dari pada sikap yang kemudian yang menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan tersebut adalah masih adanya sistem kekeluargaan dalam pelayanan yang kemudian kebiasaan tersebut sudah menjadi budaya.”(wawancara, kamis 23 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa budaya sangat berpengaruh terhadap penerapan gaya kepemimpinan transformasional di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AY selaku kepala seksi kesra saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AY:

“...menurut saya kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik yang sering dilakukan oleh beberapa pegawai itu sangat berpengaruh seperti contohnya dalam pelayanan seringkali lebih mendahulukan keluarga dan hal itu sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun.”(wawancara, kamis 23 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sistem kekeluargaan yang masih ada di Kantor Kecamatan Bulukumpa yang kemudian sudah menjadi budaya sangat berpengaruh terhadap penerapan gaya kepemimpinan transformasional.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh HA selaku kepala sub bagian perencanaan evaluasi dan pelaporan saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari HA:

“....menurut saya selain daripada sikap hal lain yang menjadi hambatan dalam penerapan gaya kepemimpinan transformasional adalah masih adanya sistem kekeluargaan yang diterapkan.”(wawancara, jumat 24 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sistem kekeluargaan yang masih berlaku dan masih diterapkan merupakan hambatan dalam penerapan gaya kepemimpinan transformasional. Pernyataan selanjutnya dilontarkan HD selaku seksi tata pemerintahan saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari HD:

“....pola pikir dan pola perilaku yang dimilki yang kemudian menjadi kebiasaan dan bahkan sudah menjadi budaya dan hal itu sangat sulit untuk dihilangkan yang kemudian menjadi hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional.”(wawancara, jumat 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa pola pikir dan pola perilaku yang sudah menjadi kebiasaan bagkan sudah membudaya sangat berpengaruh. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AT selaku kepala seksi keamanan dan ketertiban saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AT:

“....menurut saya apa yang menjadi hambatan dalam penerapan gaya kepemimpinan tersebut adalah selain dari pada sikap adalah budaya.”(wawancara, senin 27 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sikap dan budaya adalah hambatan dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh NM selaku kepala sub bagian keuangan saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya berikut pernyataan dari NM:

“....salah satu kebiasaan yang kemudian menjadi budaya yang sering dilakukan adalah sistem kekeluargaan yang masih kuat dan kebiasaan-kebiasaan tersebut harus dihilangkan agar tidak lagi menjadi budaya.”(wawancara, senin 27 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa kebiasaan-kebiasaan yang kemudian menjadi budaya harus dihilangkan agra dapat mencapai kepemimpinan yang efektif. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AZ selaku seksi PMD saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya berikut pernyataan dari AZ:

“....menurut saya budaya merupakan salah satu hal dapat menghambat kepemimpinan yang efektif karena dengan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik yang kemudian menjadi dapat menghambat kepemimpinan yang efektif.”(wawancara, selasa 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa kepemimpinan efektif dapat terhambat dengan kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang kemudian menjadi budaya.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AA selaku kepala seksi Ekbang saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AA:

“...sistem kekeluargaan yang kuat di kantor ini merupakan hal yang tidak biasa lagi karena dari dulu sampai sekarang sistem kekeluargaan ini

tidak dapat dihilangkan dan saya rasa ini sudah menjadi budaya.”(wawancara, selasa 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa sistem kekeluargaan yang kuat yang sejak dari dulu sudah ada sudah menjadi budaya di Kantor Kecamatan Bulukumpa. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AA selaku kepala sub bagian umum dan kepegawaian saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AA:

“....seperti yang saya lihat bahwa budaya merupakan salah satu hal yang dapat menghambat penerapan gaya kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan camat yang efektif.”(wawancara, rabu 29 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa budaya adalah hal yang dapat menghambat kepemimpinan camat yang efektif.

Berdasarkan pernyataan dari seluruh informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem kekeluargaan yang masih sering kali berlaku melihat bahwa pegawai yang ada di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba sebagaian besar merupakan keturunan bangsawan sehingga dalam bekerja seringkali lebih mementingkan keluarga dibandingkan yang lain dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan bahkan sudah menjadi budaya. Sehingga dapat menghambat penerapan gaya kepemimpinan transformasional.

2. Faktor Pendukung

Faktor pendukung adalah hal-hal yang dapat mendukung penerapan gaya kepemimpinan transformasional di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. Adapun faktor pendukung penerapan gaya kepemimpinan transformasional adalah selalu tercipta rasa kekeluargaan dalam menjalankan

tugas keseharian dan selalu membangun rasa kerja sama yang baik agar dapat tercipta kepemimpinan camat yang efektif.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis melakukan wawancara dengan MAP selaku sekretaris camat kecamatan bulukumpa, saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Penulis menanyakan mengenai apa yang menjadi pendukung dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional dan bagaimana pemimpin mengatasi hambatan tersebut? Berikut pernyataan dari MAP:

“....dengan terciptanya rasa kekeluargaan diantara kami dan kerja sama yang baik maka kedua hal tersebut dapat mendukung terciptanya kepemimpinan yang efektif.”(wawancara, kamis 23 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa rasa kekeluargaan yang terjalin dan kerja sama yang diantara pegawai dapat mendukung kepemimpinan yang efektif. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AY selaku kepala seksi kesra saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya berikut pernyataan dari AY:

“....diantara semua pegawai hal yang terpenting adalah terciptanya rasa kekeluargaan diantara kami dalam bekerja agar tercipta kenyamanan dalam bekerja.”(wawancara, kamis 23 april 2015).

Berdasarkan pernyataan diatas, dapat dipahami bahwa terciptanya rasa kekeluargaan diantara pegawai dapat menciptakan kenyamanan dalam bekerja. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh HA selaku kepala sub bagian perencanaan evaluasi dan pelaporan. Berikut pernyataan dari HA:

“...menurut saya salah satu faktor yang mendukung dalam menerapkan gaya kepemimpinan tersebut adalah selalu tercipta rasa kekeluargaan dalam menjalankan tugas keseharian kami.”(wawancara, jumat 24 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa salah satu yang menjadi faktor pendukung adalah selalu tercipta rasa kekeluargaan dalam menjalankan tugas kseseharian. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh HD selaku kepala seksi tata pemerintahan. Berikut pernyataan dari HD:

“....menurut saya rasa kekeluargaan dan kerja sama merupakan faktor yang sangat mendukung, karena dengan adanya rasa kekeluargaan kami merasa bahwa tercipta keharmonisan diantara kami dan dengan kerja sama maka akan mepermudah pekerjaan yang kami kerjakan.”(wawancara, jumat 24 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa terciptanya rasa kekeluargaan dan kerja sama merupakan dua hal yang sangat mendukung.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AT selaku kepala seksi keamanan dan ketertiban saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AT:

“....kerja sama yang selalu tercipta diantara kami baik antara bawahan dengan bawahan maupun atasan dengan bawahan merupakan faktor yang sangat mendukung menurut saya.”(wawancara, senin 27 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa kerja sama yang selalu tercipta antara bawahan dengan bawahan maupun antara atasan dengan bawahan merupakan faktor yang sangat mendukung. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh NM selaku kepala sub bagian keuangan. Berikut pernyataan dari NM:

“...menurut saya ada dua hal yang sangat mendukung yaitu rasa kekeluargaan yang selalu terjalin diantara kami dan kemudian kerja sama yang selalu kami lakukan untuk mencapai tujuan organisasi.”(wawancara, senin 27 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat dipahami bahwa dua hal yang sangat mendukung yaitu rasa kekeluargaan yang selalu terjalin dan kerja sama yang selalu dilakukan. Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AZ selaku kepala seksi PMD saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya.

Berikut pernyataan dari AZ:

“...menurut saya terciptanya rasa kekeluargaan diantara kami dan kerja sama yang selalu kami bangun merupakan hal sangat mendukung terhadap penerapan gaya kepemimpinan transformasional dan tercapainya kepemimpinan camat yang efektif.”(wawancara, selasa 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, maka dapat dipahami bahwa dengan terciptanya rasa kekeluargaan diantara pegawai maupun antara atasan dan pegawai dan kerja sama yang selalu dibangun merupakan hal yang sangat mendukung tercapainya kepemimpinan camat yang efektif.”(wawancara, selasa 28 april 2015). Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AA selaku kepala seksi Ekbang saat dilakukan wawancara di ruang kerjanya. Berikut pernyataan dari AA:

“...menurut saya kerja sama yang senantiasa dibangun dan dipelihara diantara kami merupakan hal yang sangat mendukung dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional.”(wawancara, selasa 28 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa salah satu faktor yang sangat mendukung dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional adalah kerja sama yang senantiasa dibangun dan dipelihara.

Pernyataan selanjutnya dilontarkan oleh AA selaku kepala sub bagian umum dan kepegawaian. Berikut pernyataan dari AA:

“....dalam menerapkan gaya kepemimpinan transformasional menurut saya ada dua hal yang sangat mendukung yaitu rasa kekeluargaan yang selalu terjalin diantara kami dan kerja sama yang senantiasa kami bangun dan kami pelihara.”(wawancara, rabu 29 april 2015).

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat di pahami bahwa ada dua hal yang sangat mendukung yaitu rasa kekeluargaan yang selalu terjalin dan kerja sama yang senantia dibangun dan dipelihara.

Berdasarkan pernyataan dari seluruh informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Adapun faktor pendukung penerapan gaya kepemimpinan transformasional adalah selalu tercipta rasa kekeluargaan dalam menjalankan tugas keseharian dan selalu membangun rasa kerja sama yang baik agar dapat tercipta kepemimpinan camat yang efektif.

BAB V

PENUTUP A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan BAB IV yang mengungkap tentang

“penerapan gaya kepimimpinan transformasional di kantor kecamatan bulukumpa kabupaten bulukumba”.Maka dari hasil pengelolaan data yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pemimpin dalam hal ini camat bulukumpa telah memberdayakan bawahan atau pegawai dan adapun bentuk upaya pemberdayaan yang dilakukan adalah mendukung sepenuhnya seluruh pegawai atau bawahan untuk mengikuti diklat-diklat, termasuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, mengadakan pertemuan kepada pegawai atau bawahan untuk membahas tugas pokok, fungsi serta tanggung jawabnya dalam bekerja dan memberikan pemahaman dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas keseharian.

Pemimpin dalam hal ini camat merupakan seorang pemimpin yang diteladani, dilihat dari watak, karakter, ketegasan dan pak camat juga senantiasa memberikan contoh yang baik memperlihatkan tingkah laku yang baik dan kemudian apa yang dilakukan pak camat dapat diikuti oleh seluruh pegawai atau bawahan.

Pemimpin dalam hal ini camat senantiasa membangun kerja sama dengan seluruh pegawai atau bawahan salah satu bentuk kerja sama yang dilakukan adalah melalui forum musyawarah.

84

Visi yang telah di emban adalah “mewujudkan kecamatan bulukumpa sebagai sentra pengembangan pertanian dan perkebunan di kabupaten bulukumba dengan mengandalkan potensi wilayah dan pelestarian lingkungan yang bernafaskan keagamaan. Dan visi ini telah terlaksana.

2. Faktor penghambat terhadap penerapan gaya kepemimpinan transformasional adalahsistem kekeluargaan yang masih sering kali berlaku melihat bahwa pegawai yang ada di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba sebagaian besar merupakan keturunan bangsawan sehingga dalam bekerja seringkali lebih mementingkan keluarga dibandingkan yang lain dan hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan bahkan sudah menjadi budaya. Sehingga dapat menghambat penerapan gaya kepemimpinan transformasional. Dan adapun yang menjadi faktor pendukung adalah selalu tercipta rasa kekeluargaan dan kebersamaan dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

Berdasarkan beberapa pernyataan diatas, dapat dikatakan bahwa pak camat adalah seorang pemimpin yang efektif. Sebagaimana yang dikatakan oleh northouse bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik.

B. SARAN

Hasil dari penelitian dilapangan dapat diketahui berbagai permasalahan yang terjadi. Dari permasalahan tersebut sehingga penulis termotivasi untuk memberikan saran dalam rangka Penerapan Gaya Kepemimpinan

Transformasional Di Kantor Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba, yaitu: pemimpin dalam hal ini camat harus lebih meningkatkan pemberdayaan kepada bawahan atau pegawai, kerja sama dan visi yang telah ditetapkan kerja sama dengan semua instansi dalam hal ini desa/kelurahan lebih ditingkatkan lagi agar visi tersebut dapat diwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Maulana. 2013. Kepemimpinan Integratif Dalam Konteks Good Governance.

Jakarta: PT. Multicerdas Publishing.

Ali, Maulana. 2012. Kepemimpinan Transformational Dalam Birokrasi Pemerintahan. Jakarta: PT. Multicerdas Publishing.

Effendy. 2007. Kepemimpinan Dan Komunikasi. Jakarta: Gunung Agung.

Fahmi, Irham. 2012. Manajemen Teori, Kasus, Dan Solusi. Bandung: Alfabeta Handoko. T . Hani 2009. Manajemen edisi 2. Yogyakarta: BPFE.

Hughest, R. L., Ginnet, R. C., and Curphy, G. J. Leadership:

MemperkayaPelajaran Dari Pengalaman, Edisi Ketujuh, Jakarta:Salemba Humanika.

Kartini, Kartono. 2008. Pemimpin Dan Kepemimpinan (apakah kepemimpinanabnormal itu?). Jakarta: Bumi Aksara.

Komariah dan Triatna. 2008. Visionary leadership menuju sekolah efektif. Jakarta:

PT Bumi Aksara.

Luthans, F. 2006. Perilaku Organiasi, Edisi Sepuluh, yogyakarta: penerbit Andi.

Nawawi, hadari dan M. Martini Hadari. 2006. Kepemimpinan yang efektif.

Nawawi, hadari dan M. Martini Hadari. 2006. Kepemimpinan yang efektif.