BAB III PEMBAHASAN
3.2 Faktor Penghambat Keberhasilan Pelatihan Interpretasi
Setiap penyelenggaraan suatu program akan selalu ada faktor yang dapat menghambat keberhasilan pencapaian target program tersebut. Begitu pula dengan penyelenggaraan Program Pelatihan Interpretasi oleh Balai Taman Nasional Karimunjawa. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Kristiawan selaku Ketua Panitia penyelenggara Program Pelatihan Interpretasi dan tiga orang narasumber dari peserta pelatihan, terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat keberhasilan pencapaian target atau tujuan dari penyelenggaraan Program Pelatihan Interpretasi yaitu sebagai berikut.
1. Metode Pelatihan Kurang Efektif
Kurang efektifnya metode dalam menyampaikan materi kepada peserta pelatihan sehingga dapat menyebabkan peserta pelatihan merasa bosan sehingga kurang memperhatikan proses pembelajaran. Metode pelatihan yang digunakan pada saat kegiatan pelatihan yaitu metode klasikal atau metode ruang kelas dengan cara memberikan kuliah atau presentasi tentang suatu hal yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Memberikan materi suatu hal yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat untuk menjadi tema dalam proses pembelajaran atau pelatihan merupakan hal yang bagus dan dapat memberikan poin plus untuk penyelenggaraan kegiatan pembelajaran atau pelatihan tersebut, meski begitu dalam penyelenggaraan program pelatihan seharusnya tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan secara teoritis tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta pelatihan untuk melakukan eksekusi dalam
bentuk pelatihan sehingga ketika peserta pelatihan akan melaksanakannya pada saat bekerja, peserta tidak akan merasa kesulitan. Adapun salah satu narasumber peserta pelatihan yaitu narasumber 3 mengatakan bahwa metode yang digunakan terlalu monoton sehingga peserta pelatihan juga dapat merasa bosan dan mengantuk sehingga kurang fokus pada pelatihan dan terlihat kurang berantusias.
2. Komunikasi Pengisi Materi Kurang Maksimal
Komunikasi pengisi materi yang masih terlihat satu arah hingga terkesan tidak ada timbal balik dari peserta pelatihan. Pada saat suatu Lembaga menyelenggarakan suatu program pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan, maka persiapan narasumber yang akan berperan sebagai pengisi materi pada saat kegiatan pelatihan berlangsung merupakan hal yang penting untuk mencapai tujuan dari penyelenggaraan program. Begitu pula dengan pentingnya komunikasi pengisi materi terhadap peserta pelatihan, selain mendatangkan pengisi materi yang berkompeten akan lebih baik jika pengisi materi di briefing terlabih dahulu terkait penyampaian materi agar dapat disampaikan dengan lebih menarik kepada para peserta, sehingga peserta pelatihan dapat lebih berantusias ketika mengikuti kegiatan pelatihan. Komunikasi yang seharusnya terjalin antar pengisi materi dan peserta pelatihan yaitu komunikasi yang bersifat dua arah. Komunikasi dua arah merupakan komunikasi yang tidak hanya melibatkan pembicara sebagai narasumber, melainkan juga melibatkan
peserta pelatihan untuk menyampaikan opini dan tanggapannya terkait isu yang sedang menjadi tema pada saat kegiatan pelatihan berlangsung.
Terdapat dua narasumber pelatihan yang mengatakan komunikasi pengisi materi masih kurang maksimal, yaitu narasumber 2 dan narasumber 3. Adapun narasumber 3 mengatakan bahwa komunikasi pengisi materi pada saat Pelatihan Interpretasi berlangsung masih kurang melibatkan peserta pelatihan untuk berdiskusi. Komunikasi pengisi materi masih kurang terlihat dua arah. Narasumber 3 juga memberikan tanggapan tambahan bahwa pada saat pelatihan berlangsung terdapat pengisi materi yang masih menggunakan kata ilmiah yang awam saat menyampaikan materi.
3. Lama Waktu Pelatihan Kurang Efektif
Lama waktu pelatihan yang kurang efektif sehingga menyebabkan peserta pelatihan tidak terlalu fokus untuk menerima materi yang disampaikan oleh pengisi materi. Program Pelatihan Interpretasi dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 4 Oktober 2018 mulai pukul 07.30-16.15. Peserta pelatihan menerima sejumlah materi dalam waktu kurang lebih selama delapan jam. Selama pelatihan pun penyampaian materi hanya berupa teoritis. Berdasarkan wawancara mendalam dengan tiga orang narasumber selaku peserta pelatihan bahwa waktu yang disediakan untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut kurang efektif. Kurang efektif menurut peserta pelatihan yaitu karena waktu delapan jam itu terhitung cukup lama jika hanya untuk mendengarkan pengisi materi
menyampaikan materinya tanpa melibatkan seluruh peserta dalam kegiatan di lapangan. Hal tersebut dapat menyebabkan peserta pelatihan merasa bosan dan kurang fokus pada saat kegiatan pelatihan berlangsung. Pelaksanaan kegiatan pelatihan yang efektif dapat dengan menyelenggarakan pelatihan selama beberapa hari seperti dua atau tiga hari dengan menyiapkan susunan acara yang jelas dan rinci antara kegiatan penyampaian materi di kelas dengan kegiatan di lapangan, sehingga peserta pelatihan tidak merasa jenuh dan bosan yang dapat menyebabkan tidak terserapnya materi yang sudah disampaikan oleh pengisi materi.
Lama waktu pelatihan ini juga menjadi pembicaraan oleh salah satu narasumber yaitu narasumber 2 yang mengatakan bahwa kegiatan pelatihan seperti Pelatihan Interpretasi dapat ditingkatkan agar lebih baik lagi untuk kegiatan selanjutnya apabila pelatihan dilaksanakan lebih dari sehari dengan adanya hari dimana peserta pelatihan belajar di lapangan, karena jika penyelenggaraan pelatihan hanya dilaksanakan satu hari dengan tanpa ada kegiatan di lapangan kegiatan pelatihan tersebut terkesan hanya formalitas saja. Berbeda jika kegiatan pelatihan diadakan lebih dari satu hari dengan adanya kegiatan praktik di lapangan maka penyelenggara juga dapat melakukan controlling pada peserta pelatihan, sehingga dapat melihat perkembangan kemampuan peserta pelatihan, selain itu peserta juga dapat menerima ilmu pengetahuan dan wawasan dengan perlahan.
4. Tidak Ada Kegiatan Praktik
Penyampaian materi hanya dilakukan secara teoritis. Tidak adanya kegiatan pelatihan secara praktis di lapangan sehingga peserta pelatihan merasa kurang maksimal dalam upaya meningkatkan kemampuannya. Hampir sama dengan poin nomor satu bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan akan lebih maksimal apabila penyampaian materi juga dapat dengan melibatkan peserta untuk terjun di lapangan. Khususnya pada materi yang bertema “Peran Sumber Daya Manusia dalam Pariwisata” yang mana pengisi materi lebih menekankan pada materi mengenai selam. Teori mengenai selam berbeda dengan teori terkait ekosistem laut. Teori mengenai ekosistem laut dapat disampaikan secara teoritis dengan mendengarkan juga membaca sejumlah modul pembelajaran dengan materi terkait. Berbeda dengan teori mengenai selam yang mana akan lebih baik jika penyampaian teori atau materinya disampaikan juga dengan praktik langsung di lapangan, sehingga peserta tidak hanya memahami secara teoritis akan tetapi juga paham ketika melakukan eksekusi saat bekerja dilapangan nanti. Apabila hal tersebut diterapkan pada saat pelatihan tentu akan dapat memberikan hasil yang jauh lebih maksimal.
Faktor penghambat tersebut disampaikan oleh ketiga narasumber peserta pelatihan. Adapun narasumber 2 menyampaikan bahwa kegiatan Pelatihan Interpretasi tersebut hanya meningkatkan kemampuan dan pengetahuan pelaku wisata secara teoritis saja sehingga dampak yang dirasakan oleh pelaku wisata di Karimunjawa setelah mengikuti kegiatan
pelatihan juga tidak begitu besar. Narasumber 2 menjelaskan bahwa sebenarnya yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat khususnya yang bekerja sebagai pelaku wisata yaitu kegiatan pelatihan yang tidak hanya bersifat teoritis melaikan juga bersifat praktisi, karena pada saat bekerja, pelaku wisata tidak hanya harus paham mengenai ilmu teoritis saja terkait pariwisata, taman nasional, ekosistem laut, dan menyelam melainkan juga paham bagaimana mengaplikasikannya pada saat bekerja. Khususnya pelaku wisata yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Pemandu wisata tidak hanya perlu paham teori bagaimana menyelam yang baik melaikan juga harus paham bagaimana eksekusi melakukan snorkeling dan diving yang baik dan benar.
5. Tidak Ada Keberlanjutan Pelatihan
Tidak adanya keberlanjutan atau pengamatan lanjutan terkait peningkatan kapasitas dari pelaku wisata yang mengikuti Program Pelatihan Interpretasi, sehingga sulit untuk mengukur peningkatan kemampuan yang dialami oleh peserta setelah mengikuti kegiatan pelatihan. Dalam pelaksanaan suatu program pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan, akan lebih baik apabila adanya tindakan keberlanjutan seperti melakukan pengamatan dan controlling kepada peserta pelatihan. Hal tersebut dilakukan agar dapat mempermudah penyelenggara program dalam mengukur tingkat perkembangan pengetahuan dan kemampuan dari peserta pelatihan itu sendiri sehingga dapat juga memudahkan penyelenggara Program Pelatihan Interpretasi untuk melakukan evaluasi
dan perbaikan untuk program pemberdayaan masyarakat selanjutnya. Seperti yang dikatakan oleh salah satu narasumber yaitu narasumber 3 bahwasannya jika pelaksanaan Program Pelatihan Interpretasi disiapkan dengan persiapan yang lebih baik yaitu dengan memperhatikan aspek- aspek pelatihan seperti adanya pengamatan dan pengendalian (controlling) setelah pemberian materi maka dapat dipastikan tujuan dari penyelenggaraan pelatihan tentu akan tercapai.
6. Tidak Ada Aplikasi Praktis
Tidak menyediakan aplikasi praktis untuk menunjang proses pembelajaran pada saat kegiatan pelatihan berlangsung. Aplikasi praktis merupakan suatu alat atau media yang dapat menunjang proses pembelajaran. Penyediaan aplikasi praktis dapat membantu pengisi materi juga peserta pelatihan dalam memaksimalkan proses belajar sehingga dapat memberikan hasil yang lebih maksimal. Aplikasi praktis merupakan salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan dan kefektivitasan suatu pelatihan menurut teori dari Ghosh et al (2011) dan Bangun (2012). Berdasarkan teori tersebut, menunjukkan bahwa pentingnya penyediaan aplikasi praktis dalam suatu pelatihan, agar peserta pelatihan dapat melakukan pembelajaran dengan baik dan maksimal.
7. Tidak Ada Pemberian Modul Berupa Hardfile
Pemberian modul pembelajaran atau referensi belajar setelah selesai kegiatan pelatihan hanya berupa softfile. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan tiga orang narasumber terkait pemberian modul
pembelajaran, diketahui bahwa penyelenggara menyediakan modul pembelajaran berupa softfile yang bisa didapatkan oleh peserta pelatihan setelah kegiatan pelatihan berakhir. Adapun hanya beberapa peserta yang meminta softfile tersebut agar dapat memperdalam materi pelatihan sendiri dengan mempelajari dengan mandiri dari modul tersebut, akan tetapi karena modul pembelajaran yang diberikan berupa softfile dan peserta pelatihan yang menginginkan modul tersebut harus membawa flashdisk, maka tidak banyak pula peserta yang meminta modul dan referensi belajar tersebut. Adapun salah satu narasumber yaitu narasumber 1 menyampaikan sarannya bahwa akan lebih baik apabila peserta pelatihan juga diberikan modul pembelajaran berupa hardfile, karena menurut narasumber 1 belajar menggunakan softfile itu kurang nyaman karena menggunakan gadget untuk membuka dan membacanya.
3.3 Dampak Penyelenggaraan Pelatihan Interpretasi bagi Pelaku Wisata di