• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penghambat/Kendala

Dalam dokumen II. LANDASAN TEORI A. (Halaman 30-38)

Kata penghambat menurut kamus besar bahasa indonesia (2005), hambat merupakan kata dasar dari penghambat berarti membuat sesuatu menjadi lamabat atau tidak lancar. Penghambat berarti orang yang menghambat, alat yang digunakan untuk menghambat. Hambatan merupakan suatu keadaan yang mengganggu suatu pekerjaan. Faktor penghambat ialah faktor yang menjadi kendala dan menghambat dari suatu kegiatan partisipasi. Hambatan atau kendala dalam partisipasi tergantung pada situasi setempat, menurut Laporan Bappenas (2001) adalah:

a. Waktu, masyarakat akan meluangkan waktunya untuk proyek apabila mereka merasa bahwa proyek berguna.

b. Menyusun dan membuat pandangan mereka sendiri, partisipasi akan menjadi kendala apabila dalam forum‐forum masyarakat tidak mempunyai kekuatan untuk menyalurkan pandangan mereka.

c. Sikap profesional, sikap dari para pelaksana (pendamping dan aparat pemerintah) harus berpihak kepada masyarakat. Mereka harus percaya kepada kemampuan masyarakat dan dapat membagi pengetahuannya.

Sumarto (2002) menyebutkan bahwa hambatan dan tantangan pertama dari optimalisasi partisipasi masyarakat adalah resistensi birokrasi dan politisi, yang selama ini menganggap kapasitas masyarakat dan perangkat pemerintahan basis masih sangat terbatas baik teknis maupun sikap atau perilaku berdemokrasi. Beberapa hambatan lainnya yang menghambat partisipasi yang baik adalah:

a. Hambatan struktural yang membuat iklim atau lingkungan menjadi kurang kondusif untuk terjadinya partisipasi. Diantaranya adalah kurangnya kesadaran berbagai pihak akan pentingnya partisipasi serta kebijakan/aturan yang kurang mendukung partisipasi termasuk kebijakan desentralisasi fiskal.

b. Hambatan internal masyarakat sendiri, diantaranya kurang inisiatif, tidak terorganisir dan tidak memiliki kapasitas memadai untuk terlibat secara produktif dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini terjadi antara lain akibat kurangnya informasi.

c. Hambatan akibat kurang terkuasainya metode dan teknik-teknik partisipasi.

Slamet (1994) menyampaikan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan orang kurang berpartisipasi adalah mereka mengetahui bahwa keputusan akhir (final decision) bukan pada mereka tetapi ada pada orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan tidak adanya kepentingan khusus yang mempengaruhinya secara langsung. Produsen atau pelaku sistem produksi pertanian organik di Indonesia yang masih sangat terbatas, kendala yang dihadapi oleh produsen untuk mengembangkan pertanian organik antara lain adalah belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, masih perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia dan belum ada kepastian komoditas tersebut. Produk dari Indonesia belum banyak yang dapat bersaing di pasar global (BPTP, 2015).

Davis dalam Sastropoetro (1988) prasyarat untuk dapat melaksanakan partisipasi secara efektif adalah sebagai berikut

a. Adanya waktu

b. Kegiatan partisipasi memerlukan dana perangsang secara terbatas.

c. Subyek partisipasi hendaklah berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatu yang menjadi perhatiannya.

d. Partisipan harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam arti kata yang bersangkutan memiliki pemikiran dan pengalaman yang sepadan.

e. Kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik.

f. Bebas melaksanakan peran serta sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.

g. Adanya kebebasan dalam kelompok, tidak adanya pemaksaan atau penekanan.

Sastropoetro (1998) mengatakan bahwa ada 5 unsur yang dapat mendukung atau menghambat partisipasi terjadi, yaitu perubahan sikap, komunikasi, adanya kesadaran, adanya ketulusan dari hati nurani dan tanggungjawab bagi keperluan bersama. Angell (Ross, 1967) mengungkapkan bahwa partisipasi yang ada dalam diri masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor itu diantaranya:

a. Faktor kesadaran atau kemauan b. Jenis kelamin

c. Usia. Salah satu faktor yang mempengaruhi pola sikap masyarakat akan kegiatan yang ada.

d. Pekerjaan dan penghasilan.

e. Peralatan atau fasilitas dan

f. Adanya dukungan pemerintah. Pentingnya peran pemerintah sebagai yang terpilih oleh rakyat dalam mengemban amanah untuk membangun masyarakat perlu ditekankan lagi.

g. Lamanya tinggal

h. Pendidikan. Faktor yang diakui sebagai syarat utama dalam seseorang berpartisipasi dan dapat merubah pola pikir seseorang akan lingkungan sehingga dapat membantu masyarakat dalam peningkatan kehidupan seluruh masyarakat.

Orsini et al (2018) mengatakan penggunaan sistem organik memang dirasa rumit oleh petani sehingga beberapa petani enggan untuk melakukannya, meskipun biaya produksi relatif rendah bila dibandingkan secara konvensional dan memang dalam penggunaan tenaga kerja lebih berat di sistem organik. Pemulihan bagi lahan dan media tanam dari konvensional paling lama sekitar 8 tahun untuk dikatakan steril dan menguntungkan diawal. Namun, jika ditarik secara jangka panjang dari

sisi ekonomi, sistem organik lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional dikarenakan penggunaan yang semakin menurun setiap tahun dan berkebalikan dengan sistem konvensional. Setiap partisipasi petani yang berakhir dengan dapat memberikan informasi yang baik akan mendatangkan kebermanfaatan dalam keberlanjutan suatu program (Sujana, 2010).

Charina et al (2018) dalam hasil kajiannya mengatakan bahwa tepatnya di Bandung Selatan, beberapa hal yang menjadi kendala petani dalam menerapkan sistem pertanian organik terdiri dari minimnya tenaga penggerak yang bisa memberikan motivasi bagi petani dalam menerapkan pertanian organik, rendahnya kemampuan yang dimiliki, perasaan petani bahwa rumitnya penggunaan sistem organik sehingga sudah lebih nyaman menggunakan konvensional yang selama ini sudah mereka lakukan dan minimnya dukungan sarana dan prasarana sebagai penunjang pertanian organik dari pemerintah. Riyanda R (2017) mengatakan keterbatasan sarana dan prasarana juga sebagai faktor yang penting dalam penentuan kualitas pelayanan kegiatan publik yang mengakibatkan kurang maksimalnya dalam pemenuhan target dan misi yang akan dicapai.

Arsiyah (2009) mengatakan dalam penelitiannya terdapat hambatan dalam pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari hambatan eksternal dan internal. Hambatan eksternal terdiri dari kurang mampunya akses kelompok usaha bersama sebagai mitra pemerintah untuk menjembatani antara pemerintah dengan pengusaha yang kurang maksimal dans belum adanya peran swasta untuk dapat meminjamkan bantuan modal usaha pemberdayaan masyarakat. Hambatan internal yaitu terbatasnya sumber daya manusia, bahan bak, manajerial, tidak dapat memenuhi modal yang seharusnya dimiliki sebagai kelompok serta kekurangmampuan masyarakat dalam mengelola peluang pasar yang ada.

Mayrowani (2012) dalam penelitiannya mengatakan bahwa dalam pengembangan sistem organik kendala terbesar ada di kondisi cuaca dan terbatasnya segmen pemasaran meskipun tergolong menengah ke atas,

sudah mencapai global namun diperlukan sertifikasi dengan standarisasi sangat ketat di berbagai wilayah maupun negara berbeda. Kilcher (2007) juga menekankan minimnya pengetahuan, jaringan pemasaran, kebutuhan sertifikasi, input pertanian dan kondisi struktur organisasi menjadi kendala dalam penggunaan sistem pertanian organik. Kurniawan T (2006) mengatakan kemajuan akan akses informasi dapat melibatkan masyrakata secara langsung dalam kegiatan partisipatif dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kebijakan publik.

Dalam penelitian ini berdasarkan referensi-referensi diatas, peneliti mengambil faktor penghambat petani dalam partisipasi yaitu:

a. Akses informasi

Kementerian Komunikasi dan Informatika (2010) mengatakan bahwasanya akses informasi ialah suatu kemudahan dalam mendapatkan informasi dan sumber pengetahuan bagi seseorang. Ife (2008) mengatakan akses informasi salah satu faktor yang mewakili partisipasi dan sumber daya positif bagi masyarakat selain pengetahuan dan pemahaman, pelatihan dan kontrol yang ada dalam masyarakat lokal. Devitt (2016) mengatakan bahwa pengumpulan informasi salah satu hal yang penting dalam proses mendalami dan memahami penerapan sistem organik, terutama dalam menghilangkan pola pikir petani yang kolot terkait dengan pertanian organik dan penyediaan pengetahuan dasar bagi petani dalam praktek peningkatan sistem organik.

Dasar bagi partisipasi dan keadilan untuk menuntut pemenuhan akses informasi. Ritonga (2019) dalam penelitiannya petani bila sering mengakses informasi dari berbagai media, adapat menambah pengetahuan mengenai hal apa yang dibutuhkan petani. Mardikanto (2009) mengatakan bahwa dalam mencari informasi dan ide, orang yang lebih aktif biasanya lebih inovatif dibanding dengan orang-orang yang pasif. Kinanti et al (2017) mengatakan akses komunikasi digital dapat membantu peningkatan akses peluang pendidikan, meningkatkan

partisipasi secara langsung, memperbesar peluang pemasaran, perdagangan serta pemberdayaan petani melalui keberlanjutan usahatani. Peluang yang lebih besar dan membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi Para pelaku pembangunan pertanian, khususnya petani untuk mengakses informasi yang dibutuhkan memiliki kesempatan pada peluang yang lebih besar dan terbuka.

Surahmi A. (2017) mengatakan pemberi informasi bisa menjadi hal pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat mengenai hak, tanggung jawab dan berbagai pilihan. Namun, nyatanyanya yang terjadi lebih pada satu arah saja dari pemegang kuasa dalam pemberian informasi, sehingga kecil kemungkinan adanya respon balik.

b. Daya dukung pemerintah

Akmalia (2020) mengatakan kemampuan dalam memenuhi sarana prasarana kebutuhan pertanian organik ialah ketersediaan sarana produksi pertanian. Sarana prasarana terdiri dari ketersediaan benih, pupuk organik serta bahan pembuatan pupuk organik. Selain itu, mendukung berkegiatan bagi petani yaitu dalam kemudahan mengakses toko pertanian. Nasdian (2014) menyampaikan bahwa partisipasi ialah suatu proses yang aktif dan inisiatif yang diadopsi oleh warga komunitas sendiri, diatur dengan cara berpikir sendiri, menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) sehingga dapat mengendalikan kontrol. Iswari (2008) dalam penelitiannya mengatakan adanya ketersediaan alat dan sarana pertanian dengan mengakses masyarakat mempengarui partisipasi masyarakat dalam kegiatan pertanian.

Dadang (2010) juga mengatakan bahwa adanya sarana dan prasarana salah satu faktor yang mempengaruhi adanya partisipasi.

Apabila keminiman terjadi pada sarana dan prasarana yang ada mengakibatkan terhambatnya produktivitas yang tinggi. Sarana dan prasarana milik pemerintah adalah suatu alat yang dapat mendukung

terwujudnya tujuan yang dimiliki. Sebagai contoh apabila alat transportasi yang dimiliki minim, sehingga menghambat dalam penyaluran sumberdaya alam sebagai penunjang dalam partisipasi masyarakat dari masyarakat dalam hal pembangunan.

c. Kebijakan

Arifin Tahir (2011) menyampaikan kebijakan adalah suatu tindakan dalam lingkungan tertentu berhubungan dengan adanya hambatan, selagi mencari peluang dalam mencapai tujuan atau mewujudkan target yang diinginkan yang mengarah pada tujuan yang diajukan baik individu, kelompok atau pemerintah. Budiman Rusdi (2013) mengatakan kebijakan ialah suatu aktivitas yang dilakukan pemerintah dalam memecahkan masalah, baik dalam lingkup masyarakat secara langsung maupun melalui instansi Lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Kebijakan ada untuk dapat membimbing tatanan hidup masyarakat dalam pencapaian tujuan yang disepakati bersama. Aji M (2019) dalam penelitiannya mengatakan kebijakan adalah suatu keputusan atau tindakan yang disahkan pemerintah, yang dapat mempengaruhi masyarakatnya. Proses pembuatan kebijakan yang sebenarnya ialah suatu proses politik, dimana kebijakan mencaup bagian aturan yang ada dalam konteks publik.

d. Pemasaran

Chang et al (2011) dalam penelitiannya mengatakan hal yang perlu ditekankan antara lain pasokan, distribusi produk dan pemasaran yang membutuhkan kepercayaan dari semua pihak yang terlibat baik dari produsen, pengecer maupun konsumen sesuai visi dan manfaat yang diharapkan. Afifah (2013) menjelaskan marketing atau pemasaran produk yang didasari oleh kekurangtahuan akan manfaat menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat, mulai dari media pemasaran apa yang sesuai sehingga pemasaran sebagian besar hanya dilakukan dari mulut ke mulut ke sasaran konsumen.

Widnyana I (2011) mengatakan potensi pasar di dalam negeri masih dalam skala kecil untuk produk pertanian organik. Beberapa kendala yang menjadi hambatan yaitu belum sesuainya insentif harga yang diterima produsen pertanian organik, dalam pengembangan perlu investasi yang tidak sedikit karena harus memilih lahan yang benar-benar terbebas dari bahan agrokimia serta kepastian pasar yang belum stabil sehingga petani masih ragu untuk memproduksi komoditas tersebut. Aminah et al (2018) mengatakan bahwa petani juga seringkali cenderung mengabaikan memasarkan produk hasilnya ke lembaga yang telah disepakati bersama atau telah bermitra. Akibatnya, petani berusaha sendiri mencari saluran pemasaran lain yang mau memberikan harga sesuai yang diharapkan. Suwantoro (2008) mengatakan bahwa pertanian organik suatu sistem yang sulit, kurangnya ketrampilan yang dimiliki petani, pendapat terkait hasil produksi, belum terlindungi lahan organik, minimnya dukungan pemerintah dan ketidakmampuan petani dalam menjaga kepercayaan konsumen.

Kardiman (2014) mengatakan bahwa ada 3 cara pengakuan atau klaim organik dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Mengaku atau klaim sendiri

Pada klaim sendiri, ada rasa kepercayaan (trust) dan keyakinan dari konsumen sehingga dapat terjadi proses jual beli secara langsung (direct selling) dengan cara pembelian langsung dengan dating ke tempat petani atau dengan pengantaran ke rumah konsumen (door to door). Dalam kaitannya sertifikasi, tidak perlu dilakukan.

Sebagian besar petani organic kecil menggunakan skema ini, namun kelemahan ada pada penjualan produk dimana tidak bisa di tempat umum, misalnya supermarket, mall, dan sejenisnya dalam kemasan yang mengharuskan dengan klaim “organik”.

2. Klaim melalui pedagang, fasilitator atau pengumpul (provider) Selain diri sendiri, pengeklaiman produk dapat dilakukan oleh pedagang, fasilitator atau pengumpul organik. Biasanya klaim dilakukan dengan pernyataan bahwa produk ini dibawah bimbingan dan binaan pedagang atau pengumpul. Meski demikian, jika ingin mengakses dengan ke lahan petani masih diperlukan, agar masih adanya rasa kepercayaan satu sama lain. Hampir sama dengan klaim sendiri, namun pengakuan/klaim lebih dari konsumen dengan berlandaskan kepercayaan. Penjualan sama dengan klaim sendiri, produk dengan klaim ini tidak diperbolehkan dijual di tempat umum seperti mall, supermarket, dan lain-lain dalam kemasan yang mengklaim produknya organik.

3. Sertifikasi oleh pihak ketiga (LSO)

Penjaminan pihak ketiga, diperoleh ketika jarak yang memisahkan dari keduanya. Pihak ketiga dalam hal ini sertifikasi oleh LSO (Lembaga Sertifikasi Organik), sehingga konsumen merasa yakin dan terwakili oleh LSO. Besarnya biaya sertifikasi berbeda antara LSO , bergantung pada kebijakan internal LSO tersebut. Biaya bergantung pada luas lahan dan jarak yang bersertifikasi.

Berdasarkan data Statistik Pertanian Organik Indonesia (2014) mengatakan faktanya, di Indonesia masih berkategori tinggi jumlah petani yang tidak bersertifikasi.

Dalam dokumen II. LANDASAN TEORI A. (Halaman 30-38)

Dokumen terkait