5
II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Suryani et al. (2011) berjudul Partisipasi Petani dalam Penerapan Teknologi Pertanian Organik pada Tanaman Stroberi di Kabupaten Bantaeng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisisis partisipasi petani dalam penerapan teknologi pertanian organik tanaman stroberi dalam perencanaan, pelaksanaan, hasil manfaat evaluasi dan untuk mengetahui dan menganalisisis faktor internal eksternal yang berhubungan dengan tingkat partisipasi petani. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelitian adalah seluruh petani yang melaksanakan pengembangan tanaman stroberi sebagai lokasi penelitian.
Pemilihan sampel dilakukan secara acak sederhana (metode simple random sampling) sebanyak 30 responden. Penentuan sampel menggunakan metode analisis Chi-Square dan Coefficient Contingence (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat petani yang ditemukan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng yaitu sebagian besar petani tanaman organik stroberi tidak mau ikut berpartisipasi dalam program pemerintah untuk melakukan penanaman tanaman stroberi melalui partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, hasil manfaat dan evaluasi. Berdasarkan penelitian diatas, penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti saat ini untuk mengetahui dan menganalisis bentuk bentuk partisipasi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar. Mengetahui dan menganalisis faktor penghambat/kendala yang dihadapi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar.
Penelitian yang dilakukan oleh Elita Nurhayati (2012) berjudul Pertanian Padi Organik di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pelaksanaan Sistem
Pertanian Padi Organik (dari pengolahan lahan, pola tanam dan pengendalian hama) dan hambatan yang dialami petani dalam pelaksanaan sistem pertanian organik (dari ketersediaan saprodi, dukungan pemerintah dll). Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan populasi dalam penelitian ini adalah petani organik yang aktif dalam menerapkan Sistem Pertanian Padi Organik yang berjumlah 175 orang petani. Teknik sampling yang digunakan yaitu systematic sampling, yaitu suatu metode pengambilan sampel dimana hanya unsur pertama saja dari sampel yang dipilih secara acak, sedangkan unsur-unsur selanjutnya dipilih secara sistematis dengan interval tiga. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul dianalisa dengan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Sistem Pertanian Padi Organik, meliputi pengolahan lahan (mendaur ulang bahan organik dan unsur hara), pola tanam (rotasi tanaman dan tumpangsari), dan pengendalian hama penyakit (pengendalian hayati dan mekanik) serta penggunaan faktor produksi (bibit lokal, pupuk organik, pestisida hayati, tenaga kerja, dan ternak). Hambatan yang dihadapi sebagian besar petani padi organik yaitu jumlah persediaan atau produksi padi organik yang tidak mencukupi (60,00 persen) dari Desa Tirtosari, persediaan jumlah pupuk organik harus banyak (46,67%) dari Desa Mangunsari, jam kerja tinggi (26,67%) dari Desa Tirtosari, belum adanya dukungan dari pemerintah (30,00%) dari Desa Gondowangi, sistem pemasaran yang belum baik (30,00%) dari Desa Gondowangi, dan belum ada standar baku tentang sistem pertanian organik (20,00%) dari Desa Mangunsari dan Gondowangi.
Berdasarkan penelitian diatas, penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti saat ini untuk mengetahui dan menganalisis bentuk bentuk partisipasi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar. Mengetahui dan menganalisis faktor penghambat/kendala yang dihadapi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar.
Penelitian yang dilakukan oleh Afifah (2013) berjudul Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Masyarakat Desa Melalui Usaha Mikro Pengolahan Susu Kambing Etawa di Tlogoguwo, Kaligesing, Purorejo, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa melalui usaha mikro pengolahan susu kambing etawa, bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa melalui usaha mikro pengolahan susu kambing etawa, faktor-faktor yang mendukung dan menghambat partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa melalui usaha mikro pengolahan susu kambing etawa. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah pelaku usaha (sasaran pembangunan), karyawan, masyarakat sekitar, kepala desa dan sekretaris desa Tlogoguwo. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah interpretasi dengan tahapan reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa terbagi dalam empat jenis, yaitu partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan, partisipasi masyarakat dalam pengambilan manfaat, dan partisipasi masyarakat dalam evaluasi. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat diwujudkan dalam bentuk partisipasi fisik dan non fisik. Bentuk partisipasi fisik masyarakat yaitu berupa sumbangan tenaga, dana, fasilitas, dan jasa.
Bentuk partisipasi non fisik masyarakat yaitu berupa sumbangan ide pemikiran, baik berupa masukan, saran, kritik maupun penolakan terhadap keputusan program kegiatan. Faktor pendukung partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa adalah adanya peluang dan kesempatan untuk berpartisipasi, keterikatan dan keterkaitan antar warga, kesediaan memberikan waktu, tenaga dan dana, kesadaran masyarakat akan pentingnya partisipasi dan adanya dukungan dari pemerintah. Faktor penghambat partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa adalah kurangnya sosialisasi akan pentingnya partisipasi masyarakat, minimnya dana dari pemerintah dan
pendidikan masyarakat yang rendah. Berdasarkan penelitian diatas, penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti saat ini untuk mengetahui dan menganalisis bentuk bentuk partisipasi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar. Mengetahui dan menganalisis faktor penghambat/kendala yang dihadapi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar.
Penelitian yang dilakukan oleh Oktariana (2019) berjudul Partisipasi Kelompok Tani dalam Pemanfaatan Program Bantuan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di Desa Ulak Bandung Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bentuk partisipasi kelompok tani dalam memanfaatkan program bantuan asuransi usaha tani padi (AUTP) dan faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi petani dalam memanfaatkan program bantuan asuransi usaha tani padi (AUTP) di Desa Ulak Bandung Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim.. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini kelompok tani di Desa Ulak Bandung Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah interpretasi dengan tahapan kondensasi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi kelompok tani yaitu bentuk-bentuk partisipasi kelompok tani ada 4 yakni partisipasi dalam sosialisasi program AUTP, partisipasi dalam pengumpulan kendala dalam program AUTP serta partisipasi dalam pemanfaatan program AUTP. Faktor yang mempengaruhi partisipasi kelompok tani terdiri dari 4 faktor, yaitu kesempatan, kemauan, kendala dan keaktifan kelompok tani. Berdasarkan penelitian diatas, penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti saat ini untuk mengetahui dan menganalisis bentuk bentuk partisipasi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten
Karanganyar. Mengetahui dan menganalisis faktor penghambat/kendala yang dihadapi petani anggota kelompok tani Rukun Makaryo dalam budidaya padi organik di Desa Pereng Kecamatan Mojogedhang Kabupaten Karanganyar.
Tabel 2.1. Penelitian terdahulu terkait Partisipasi masyarakat/ petani
No Penelitian Aspek
Perbedaan
Hasil Penelitian Penelitian Dulu Penelitian
Ini 1. Suryani Samun, Didi
Rukmana dan Sylvia Syam (2011)
Partisipasi Petani dalam Penerapan Teknologi Pertanian Organik pada Tanaman Stroberi di Kabupaten Bantaeng.
Subjek Penelitian
Metode analisis data
Petani yang melaksanakan pengembangan tanaman stroberi di Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng
Metode simple random
sampling.
Analisis Chi- Square dan Coefficient Contingence (C)
Anggota
kelompok tani Rukun Makaryo
Metode penelitian Kualitatif, dengan pengambilan sampel snowball sampling dan triangulasi.
Partisipasi masyarakat petani yang ditemukan di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng yaitu sebagian besar petani tanaman organik stroberi tidak mau ikut berpartisipasi dalam program pemerintah untuk melakukan penanaman tanaman stroberi melalui partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, hasil manfaat dan evaluasi.
2. Elita Nurhayati (2016) Pertanian Padi Organik di Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang
Subjek Penelitian Petani organik yang aktif dalam menerapkan Sistem Pertanian
Anggota
kelompok tani Rukun Makaryo
Pelaksanaan Sistem Pertanian Padi Organik, meliputi pengolahan lahan (mendaur ulang bahan organik dan unsur hara), pola tanam (rotasi tanaman dan tumpangsari), dan
Provinsi Jawa Tengah.
Metode Analisis Data
Padi Organik
Teknik sampling yaitu systematic sampling.
Pengambilan sampel acak dan pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi.
Metode penelitian Kualitatif, dengan pengambilan sampel snowball sampling dan triangulasi.
pengendalian hama penyakit (pengendalian hayati dan mekanik) serta penggunaan faktor produksi (bibit lokal, pupuk organik, pestisida hayati, tenaga kerja, dan ternak). Hambatan yang dihadapi sebagian besar petani padi organik yaitu jumlah persediaan atau produksi padi organik yang tidak mencukupi (60,00 persen) dari Desa Tirtosari, persediaan jumlah pupuk organik harus banyak (46,67%) dari Desa Mangunsari, jam kerja tinggi (26,67%) dari Desa Tirtosari, belum adanya dukungan dari pemerintah (30,00%) dari Desa Gondowangi, sistem pemasaran yang belum baik (30,00%) dari Desa Gondowangi, dan belum ada standar baku tentang sistem pertanian organik (20,00%) dari Desa Mangunsari dan Gondowangi.
3. Afifah Dwi Astuti (2013) Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Masyarakat Desa Melalui Usaha Mikro Pengolahan Susu Kambing Etawa di Tlogoguwo, Kaligesing, Purorejo, Jawa Tengah.
Subjek Penelitian
Teknik dan metode analisis
Pelaku usaha (sasaran
pembangunan), karyawan, masyarakat sekitar, kepala
desa dan
sekretaris desa Tlogoguwo.
Teknik analisis interpretasi
Anggota
kelompok tani Rukun Makaryo
Metode penelitian
jenis partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa terbagi dalam empat jenis, yaitu partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan, partisipasi masyarakat dalam pengambilan manfaat, dan partisipasi masyarakat dalam evaluasi. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat diwujudkan dalam bentuk partisipasi fisik dan non fisik. Bentuk partisipasi fisik masyarakat yaitu berupa sumbangan tenaga, dana, fasilitas, dan jasa.
Bentuk partisipasi non fisik masyarakat yaitu berupa sumbangan ide pemikiran, baik berupa
dengan tahapan reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan.
Kualitatif, dengan pengambilan sampel snowball sampling dan triangulasi.
masukan, saran, kritik maupun penolakan terhadap keputusan program kegiatan. Faktor pendukung partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa adalah adanya peluang dan kesempatan untuk berpartisipasi, keterikatan dan keterkaitan antar warga, kesediaan memberikan waktu, tenaga dan dana, kesadaran masyarakat akan pentingnya partisipasi dan adanya dukungan dari pemerintah. Faktor penghambat partisipasi masyarakat dalam pembangunan masyarakat desa adalah kurangnya sosialisasi akan pentingnya partisipasi masyarakat, minimnya dana dari pemerintah dan pendidikan masyarakat yang rendah.
4. Oktariana (2019) Partisipasi Kelompok Tani dalam Pemanfaatan Program Bantuan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di Desa Ulak Bandung Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim.
Subjek Penelitian
Teknik dan metode analisis
Kelompok tani di Desa Ulak Bandung
Kecamatan Ujanmas Kabupaten Muara Enim.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.
Anggota
kelompok tani Rukun Makaryo
Metode penelitian Kualitatif, dengan pengambilan sampel snowball
Partisipasi kelompok tani yaitu bentuk-bentuk partisipasi kelompok tani ada 4 yakni partisipasi dalam sosialisasi program AUTP, partisipasi dalam pengumpulan kendala dalam program AUTP serta partisipasi dalam pemanfaatan program AUTP. Faktor yang mempengaruhi partisipasi kelompok tani terdiri dari 4 faktor, yaitu kesempatan, kemauan, kendala dan keaktifan kelompok tani.
Teknik analisis data interpretasi dengan tahapan kondensasi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan.
sampling dan triangulasi.
Sumber: Suryani (2011); Elita (2016); Afifah (2013); Oktariana (2019)
B. Tinjauan Pustaka
1. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi adalah suatu kondisi dimana masyarakat ikut serta dalam proses pengidentifikasian masalah dan bagaimana cara menanganinya, keputusan atau tindakan apa yang harus diambil untuk menghadapi masalah tersebut. Partisipasi merupakan keikutsertaan seseorang atau sekelompok anggota masyarakat dalam suatu kegiatan (Aprillia Theresia et al, 2014). Mikkelsen (2003) menyampaikan pembuatan daftar atau klasifikasi dari para praktisi pembangunan mengenai arti dari partisipasi, diantara lain:
a. Partisipasi diartikan sebagai pemekaan (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan. Pemaknaan seperti ini agaknya kurang tepat karena memaknai partisipasi hanya sekedar meminta dukungan masyarakat terhadap semua program yang telah disiapkan. Pertemuan (rapat) dengan dalih partisipasi (minta masukan dari warga masyarakat) yang dilaksanakan tidak lebih sebagai ajang formalitas untuk menjalankan sebuah kebijakan yang telah dibuat.
b. Partisipasi diartikan sebagai kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan.
Pemaknaan ini hampir sama dengan pemaknaan yang pertama, yang membedakan adalah kontribusi sukarela masyarakat kepada proyek.
Partsipasi diartikan sebagai besarnya dana yang dapat dihemat atau dana yang dapat disediakan sebagai sumbangan atau kontribusi masyarakat kepada proyek-proyek pemerintah.
c. Partisipasi adalah suatu proses keterlibatan secara aktif dalam pengambilan kepurusan bersama dengan pemerintah. Pemaknaan seperti partisipasi masyarakat dalam keterlibatan yang luas dalam tiap proses pembangunan yaitu mulai dari:
- Keterlibatan pada identifikasi masalah - Proses perencanaan,
- Pelaksanaan - Evaluasi
- Monitoring dan - Mitigasi
d. Partisipasi diartikan sebagai keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri. Inti dari partisipasi ini adalah sikap sukarela masyarakat untuk membantu keberhasilan program pembangunan yang telah ditentukan sendiri.
e. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan dan lingkungan mereka. Partisipasi dalam pengertian ini sesuai dengan konsep pemberdayaan masyarakat.
Sumaryadi (2005) mendefinisikan bahwa partisipasi memiliki arti yaitu sebuah peran serta yang dilakukan seseorang atau kelompok dalam masyarakat untuk proses pembangunan baik dalam bentuk pikiran, waktu, tenaga, modal, keahlian, atau harta serta ikut dalam pemanfaatan hasil pembangunan. Penyebab pentingnya masyarakat untuk ikut dalam berpartisipasi yaitu agar memahami akan permasalahan ataupun kebutuhan yang sebenarnya dari mereka serta dapat benar mengenal keadaan lingkungan, baik lingkungan sosial maupun ekonomi. Lebih lanjut, masyarakat dapat menganalisis penyebab ataupun akibat dengan merumuskan solusi dalam permasalahan dan kendala yang dihadapi.
Pemanfaatan sumber daya pembangunan yang dimiliki agar terlaksana peningkatan produksi dan produktifitas dalam pencapaian sarana pembangunan masyarakat.
Davis dalam Taliziduhu Ndraha (1984) mengungkapkan bahwa partisipasi merupakan keterlibatan baik dalam segi mental maupun emosi masyarakat atau sekelompok masyarakat dalam sebuah situasi yang memicu atas adanya kehendak dari diri sendiri/ bebas dalam usaha mencapai tujuan dan tanggung jawab yang ada. Mardikanto (1994) mengatakan partisipasi dalam kehidupan sehari-hari merupakan keikutsertaan dan keterlibatan seseorang baik secara individu maupun
masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu yang bersifat aktif ditunjukkan oleh yang bersangkutan.
Mardikanto (2013) menyampaikan bahwa partisipasi dibagi menjadi dalam empat tahap pengambilan perencanaan, partisipasi dalam pelaksanaan kagiatan, partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi, partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi merupakan sebuah proses dimana stakeholder-stakeholder mempengaruhi dan ambil bagian atas pengelolaan inisiatif dan keputusan-keputusan pembangunan dan sumber daya yang mempengaruhi. Uphoff (2009) mengungkapkan bahwa partisipasi dalam pembangunan dapat dilakukan melalui keikutsertaan masyarakat dalam memberikan kontribusi guna menunjang pelaksanaan pembangunan yang berwujud tenaga, uang, barang, material ataupun ide- ide, informasi yang berguna untuk pelaksanaan pembangunan.
Keberhasilan suatu program pembangunan bukan hanya berdasar pada kemampuan pemerintah, tetapi juga berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam menjalankan program pembangunan.
Davis dalam jurnal yang ditulis oleh Anthonius Ibori (2013) berpendapat bahwa partisipasi masyarakat dibagi kedalam beberapa bentuk, yaitu :
1. Partisipasi dalam bentuk pikiran, ide atau gagasan.
2. Partisipasi dalam bentuk tenaga
3. Partisipasi dalam bentuk pikiran dan juga tenaga.
4. Partisipasi dalam bentuk keahlian.
5. Partisipasi dalam bentuk barang.
6. Partisipasi dalam bentuk uang.
Sutami (2009) mengemukakan bahwa jenis-jenis partisipasi meliputi tenaga, pikiran, pikiran dan tenaga, keahlian, barang dan uang. Dari jenis- jenis partisipasi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Pikiran: merupakan jenis partisipasi pada level pertama dimana partisipasi tersebut merupakan partisipasi dengan menggunakan
pikiran seseorang atau kelompok yang bertujuan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
b. Tenaga: merupakan jenis partisipasi pada level kedua dimana partisipasi tersebut dengan mendayagunakan seluruh tenaga yang dimiliki secara kelompok maupun individu untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
c. Pikiran dan Tenaga: merupakan jenis partisipasi pada level ketiga dimana tingkat partisipasi tersebut dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dalam mencapai tujuan yang sama.
d. Keahlian: merupakan jenis partisipasi pada level keempat dimana dalam hal tersebut keahlian menjadi unsur yang paling diinginkan untuk menentukan suatu keinginan.
e. Barang: merupakan jenis partisipasi pada level kelima dimana partisipasi dilakukan dengan sebuah barang untuk membantu guna mencapai hasil yang diinginkan.
f. Uang: merupakan jenis partisipasi pada level keenam dimana partisipasi tersebut menggunakan uang sebagai alat guna mencapai sesuatu yang diinginkan. Biasanya tingkat partisipasi tersebut dilakukan oleh orang-orang kalangan atas.
Pasaribu dan Simanjuntak (1986) dalam Fahrudin (2011) mendefinisikan bentuk sumbangan partisipasi terbagi dalam beberapa bentuk, yaitu:
a. Partisipasi buah pikiran
Ialah bentuk partisipasi yang dilakukan dalam bentuk sumbangan buah pikiran ataupun gagasan melalui kegiatan pertemuan, rapat, berkunjung dan menyampaikan pendapat.
b. Partisipasi tenaga
Ialah bentuk partisipasi yang dilakukan melalui kegiatan yang membutuhkan tenaga/ fisik seperti halnya gotong royong, tolong menolong dalam suatu aktivitas dan sebagainya.
c. Partisipasi harta benda
Ialah bentuk partisipasi yang dilakukan melalui bentuk uang maupun barang untuk tujuan kegiatan bersama.
d. Partisipasi keterampilan dan kemahiran
Ialah bentuk partisipasi yang dilakukan melalui keahlian atau keterampilan untuk memperbaiki dan menjalankan kegiatan.
e. Partisipasi sosial
Ialah bentuk partipasi yang dilakukan dalam kegiatan yang lebih ke arah sosial dan masyarakat sepeti halnya koperasi, arisan, hajatan dan sebagainya.
Fasli Djalal dan Dedi Supriadi (2001) mengatakan bahwa partisipasi diartikan sebagai pengambil keputusan dalam memberikan saran agar anggota atau kelompok dapat ikut terlibat di kegiatan dalam bentuk pendapat, ketrampilan, barang, fasilitas dan bahan. Partisipasi sebagai pengenalan akan suatu masalah, mengkaji dan memecahkan suatu permasalahan bersama. Partisipasi masyarakat adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka (Soemarto, 2009 dalam Satries, 2010). Bentuk-bentuk partisipasi menurut Holil (dalam Deviyanti, 2013) berupa buah pikiran/ ide, tenaga, uang dan harta benda. Erma (2013) juga mengatakan bahwa bentuk partisipasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu bentuk partisipasi yang diberikan dalam bentuk nyata yang berarti memiliki bentuk atau wujud dan juga dalam bentuk yang tidak nyata atau tidak berwujud dan abstrak/
tersirat. Contoh bentuk partisipasi dalam kategori yang nyata yaitu uang, tenaga, harta dan keterampilan sedangkan bentuk partisipasi dalam kategori yang tidak nyata yaitu pikiran, partisipasi sosial, pengambilan keputusan dan partisipasi representatif.
Safi’I (2008) menyampaikan bahwa keterkaitan partisipasi dalam pembangunan memiliki 2 makna, yaitu partisipasi ialah suatu keterlibatan
masyarakat dalam kegiatan-kegiatan tertentu dan sebagai individu pula di luar wilayah pembangunan. Jadi, secara garis besar pengertian partisipasi ialah sebuah tindakan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok untuk melibatkan diri dalam suatu pencapaian misi yaitu sebuah kesempatan unuk berpartisipasi, baik dalam bentuk fisik maupun non fisik yang muncul dari atas kemauan diri sendiri bukan kehendak/ paksaan dari orang lain. Teori oleh Basrowi dalam Siti Irene (2011) juga menyebutkan bahwa bentuk partisipasi masyarakat dapat dibedakan menjadi partisipasi fisik dan partisipasi nonfisik. Partisipasi fisik ialah suatu bentuk keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengembangan budidaya padi organik yang diwujudkan dalam kegiatan atau aktivitas masyarakat yang terlihat dan diamati, sedangkan partisipasi nonfisik adalah bentuk partisipasi masyarakat yang tidak terlihat atau secara tersirat. Wibowo, A.
et al (2021) mengatakan bahwa dalam kegiatan kemasyarakatan juga memiliki bentuk partisipasi yang tercermin dalam diri seseorang secara produktif dan reproduktif. Bentuk partisipasi secara produktif yaitu kegiatan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun keluarga, sedangkan bentuk partisipasi secara reproduktif yaitu kegiatan yang sifatnya berwujud keikutsertaan mengikuti suatu kegiatan bersama dari garis keturunan keluarga.
Keith Davis dalam Sastropoetro (1998) menyampaikan dalam penjabarannya bahwa partisipasi memiliki bentuk-bentuk meliputi pemikiran, tenaga, ketrampilan, barang dan uang. Kartasapoetra (2002) menyampaikan bahwa partisipasi dalam pembangunan pertanian berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara praktek yang dijalankan oleh petani dengan pengetahuan dan teknologi petani yang selalu berkembang menjadi kebutuhan para petani tersebut agar petani dapat melakukan praktek-praktek yang mendukung usaha tani maka petani membutuhkan informasi inovasi dibidang pertanian. Petani adalah seorang manusia dan menjadi anggota dari kelompok masyarakat dan keluarga.
Petani-petani berperan sebagai perorangan memiliki 4 kapasitas penting
untuk pembangunan pertanian yaitu bekerja, belajar, berpikir kreatif dan bercita-cita (Mosher, 1991).
Berdasarkan teori yang telah dipaparkan diatas, partisipasi melalui 4 tahapan. Tahapan tersebut mulai dari tahapan pengambilan keputusan, tahapan pelaksanaan, tahapan evaluasi dan tahapan pengambilan manfaat.
Dari tahapan tersebut, bentuk kontribusi yang dilakukan individu berupa fisik (sumbangan tenaga, uang dan fasilitas) dan non fisik (ide/gagasan).
2. Pembangunan Pertanian
Rahayu et al (2016) dan Abdurakhman et al (2018) menyebutkan bahwa salah satu kebijakan utama dalam pembangunan pertanian dan dipastikan dapat meningkatkan produksi beras dan pendapatan petani ialah kebijakan swasembada pangan. Repelita IV (1 April 1984 - 31 Maret 1989) adalah awal dimulainya upaya swasembada beras dan Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan setelah berjuang selama beberapa waktu hingga mampu mencukupi kebutuhan pangan di dalam negeri melalui swasembada beras yang dilakukan pada tahun 1984.
Suryana dan Swastika (1997) menyampaikan bahwa revolusi hijau yang dimulai di Indonesia pada akhir tahun 1960-an melatarbelakangi keberhasilan swasembada beras dengan diluncurkannya program Bimas (1968-1970), Bimas yang disempurnakan (1971-1977), Intensifikasi Khusus (Insus) pada tahun 1979, dan Supra Insus pada tahun 1987, dengan tujuan meningkatkan produksi pangan terutama beras. Rinardi et al (2019) menyebutkan bahwa revolusi hijau memiliki tujuan dalam meningkatkan produksi pangan untuk mengatasi kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan pangan yang besar. revolusi hijau mengutamakan varietas unggul berdaya tanggap besar terhadap masukan berupa pupuk berbahan kimia, hama serta penyakit utama dikendalikan secara kimiawi atau dengan ketahanan varietas, lalu ditanam secara monokultur, ada insentif menarik berupa subsidi dan daya dukung sistem irigasi yang baik.
Revolusi hijau merupakan diperkenalkan sebagai sistem budidaya baru yaitu modernisasi pertanian dengan berbagai pupuk buatan, pestisida
kimia antihama, sistem benih unggul dan perkreditan bagi para petani.
Revolusi Hijau mengakibatkan peningkatan produktivitas pangan termasuk komoditas beras dari produksi sebelumnya rata-rata sebesar 4,34%/tahun. Arndt (1994) menyampaikan kemunculan revolusi hijau memang menguntungkan bagi petani besar dan kaya bersamaan dengan penerapan teknologi pertaniannya. Kehadiran teknologi modern dinilai lebih efisien dan mengurangi sistem padat karya, sehingga menguntungkan bagi petani yang memiliki lahan sawah yang luas dan produktif.
Dharmawan (2006) menyampaikan bahwa prinsip revolusi hijau yaitu mempercepat peningkatkan produksi beras, melalui padi varietas unggul, monokultur, teknologi berbasis agrokimia, mekanisasi pertanian, irigasi teknis dan intensifikasi masal. Hal ini mengharuskan semua petani wajib melaksanakan dan diawasi secara langsung oleh aparat pemerintah desa (Pranadji et al., 2005). Dampak yang terjadi adanya pengaruh pola pikir dan perilaku petani yang memang secara tidak sadar terbentuk oleh tekanan keadaan yang terjadi dilingkungan. Pranadji et al (2005) menyimpulkan bahwa pola pikir dan perilaku petani langsung berubah secara sadar dari tradisional menjadi berbasis kimia.
Palebangan (2006) mengatakan bahwa dengan terlaksananya revolusi hijau sayangnya telah mengubah petani dengan perilaku yang cenderung merugikan untuk kelestarian lahan. Berbagai cara yang digunakan petani tanpa memikirkan dampak atau efek yang ada agar terwujud peningkatan produksi beras. Petani menjadi berorientasi kepada asupan kimia dan bibit unggul. Akibat yang terjadi pada petani, menjadi ketergantungan dan tidak mandiri (Rahman, 2009). Pranadji (2005) menyampaikan bahwa petani hanya dijadikan sebagai alat produksi saja, harus melakukan apa saja yang diperintahkan tanpa diberikan penjelasan dan alasannya.
3. Pertanian Organik
Metode baru dalam memenuhi kebutuhan pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan sistem pertanian organik. Pertanian
organik bertujuan untuk menghasilkan bahan dengan kualitas baik, mendorong terjadinya daur biologis secara alami, yaitu dengan cara memanfaatkan sumber daya pertanian yang terbarukan dan menerapkan kegiatan pertanian yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Pertanian organik merupakan alternatif pilihan yang patut untuk dipertimbangkan karena dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan tingkat produksi dan kesuburan lahan sehingga ekonomi petani lebih stabil (Sumarno, 2006).
Nusril (2001) menyampaikan bahwa pertanian organik adalah sistem pertanian yang tidak menggunakan input sintetik (pupuk dan pestisida) dalam proses produksinya, sehingga produk yang dihasilkan terbebas dari residu kimia yang dapat menbahayakan tubuh manusia yang mengkonsumsi suatu produk. Pertanian organik yang semakin berkembang belakangan ini menunjukkan adanya kesadaran petani dan perlawanan berbagai pihak dalam sektor pertanian akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Tandisau dan Herniwati (2009 dan 2011) bahwa pertanian organik merupakan cara yang tepat dalam rangka mengatasi dampak negatif teknologi modern, sehingga pembangunan pertanian dapat terus berjalan secara berkelanjutan, masyarakat aman, damai dan sejahtera.
IFOAM (2005) menyebutkan bahwa pertanian organik didasarkan pada prinsip prinsip sebagai berikut:
a. Prinsip kesehatan
Pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan.
b. Prinsip ekologi
Pertanian organik harus didasarkan pada sistem sekaligus siklus ekologi kehidupan yaitu bekerja, berusaha dan memelihara segala yang ada didalamnya.
c. Prinsip keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama. Keadilan dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam hubungannya dengan makhluk hidup yang lain.
d. Prinsip perlindungan
Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup. Pertanian organik merupakan suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi yang bersifat internal maupun eksternal.
Tujuan penggunaan sistem pertanian organik menurut IFOAM antara lain:
a. Mendorong dan meningkatkan daur ulang dalam sistem usaha tani dengan mengaktifkan kehidupan jasad renik, flora dan fauna, tanah, tanaman serta hewan
b. Memberikan jaminan yang semakin baik bagi para produsen pertanian (terutama petani) dengan kehidupan yang lebih sesuai dengan hak asasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar serta memperoleh enghasilan dan kepuasan kerja, termasuk lingkungan kerja yang aman dan sehat, dan
c. Memelihara serta meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Produk pertanian dikatakan organik jika produk tersebut berasal dari sistem pertanian organik yang menerapkan praktik manajemen yang berupaya untuk memelihara ekosistem melalui beberapa cara, seperti pendaurulangan residu tanaman dan hewan, rotasi dan seleksi pertanaman, serta manajemen air dan pengolahan tanah (Sriyanto, 2010).
Selain prinsip, dalam sistem pertanian organik terdapat konsep, antara lain :
a. Pengolahan tanah
Tanah merupakan medium alami pertumbuhan tanaman. Tanah menyediakan sumber organik sebagai nutrisi tanaman. Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung faktor pembentuk tanah yaitu bahan induk, iklim, dan organisme tanah. Kesuburan tanah juga dipengaruhi oleh sistem pengelolaan tanah (Rao, N. S. Subba, 1994).
Tanah pertanian telah berabad-abad dieksploitasi bagi kepentingan umat manusia, sehingga secara bertahap dan pasti, bahan organik dalam tanah semakin berkurang. Sementara batas minimum bahan organik dalam tanah yang dianggap masih layak adalah antara 18 4 % - 5%. Berkurangnya bahan organik dalam tanah disebabkan karena terjadinya perubahan sifat fisik dan kimia tanah, serta penurunan aktifitas mikrobiologi tanah. Pemakaian pupuk buatan secara terus – menerus dapat mempercepat kerusakan tanah, sehingga tanah akan bergumpal, liat dan menjadi berlempung (Soedjiono Djojosuwito, 2000).
Pengelolaan tanah secara organik banyak dikembangkan oleh masyarakat sehubungan dengan penggunanan pupuk kimia.
Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dapat menyebabkan perubahan struktur tanah dan kekurangan hara. Pengelolaan tanah organik lebih menekankan pada penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan dan dapat memperbaiki struktur tanah (Sukamto Hadisuwito, 2007).
Pencapaian kesuburan lahan merupakan konsep dasar dengan menggunakan berbagai biomasa (Rigby et al., 2002). Sutanto (2002) menyampaikan bahwa sistem pertanian organik memiliki kelebihan, antara lain:
a. Pelestarian keanekaragaman hayati tanah serta fungsinya, b. Peningkatan kualitas fisik, kimia dan biologi tanah
c. Pengurangan pencemaran atas residu kimia, d. Peningatan kesehatan masyarakat
e. Pengurangan biaya produksi serta ketergantungan terhadap penggunaan masukan kimia.
Selain kelebihan, jika bahan organik belum memiliki kematangan yang cukup akan bersifat toksit dan dapat menjadi inang hama dan penyakit. Kelemahan lain antara lain diperlukan jumlah yang banyak dan bersifat ruah yang dapat menimbulkan kekahatan unsur hara. Oleh karenanya, diharuskan adanya sosialisasi bagi petani dalam pengoptimalan fungsi bahan orgaik (Hanafiah et al., 2005).
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibagi menjadi 2, yaitu pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Pupuk organik padat antara lain:
a. Pupuk kandang
Pupuk kandang merupakan pupuk organik dari hasil fermentasi kotoran padat dan urin hewan ternak yang umumnya berupa mamalia dan unggas. Pupuk organik (pupuk kandang) mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Di samping mengandung unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), pupuk kandang mengandung unsur mikro seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S).
b. Pupuk kompos
Kompos merupakan jenis pupuk yang berasal dari hasil akhir penguraian sisa-sisa hewan maupun tumbuhan yang berfungsi sebagai penyuplai unsur hara tanah sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki tanah secara fisik, kimiawi, maupun biologis (Sutanto, 2002). Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa bahan organik tanaman maupun hewan. Pupuk kompos merupakan hasil dekomposisi dari kotoran dan urin hewan serta beberapa tanaman di antaranya adalah jerami, sekam padi, pelepah pisang dan lain- lainnya (Hadisuwito, 2007).
c. Pola Tanam
Pola tanam dalam pertanian organik merupakan pola tanam yang beragam (multikultur) dalam satu hamparan dan pola tanam bergilir atau rotasi tanaman (crop rotation) dalam satu lahan serta pola tanam tumpang sari (multiple croping).
d. Pengendalian hama, penyakit dan gulma
Pengendalian hama dan penyakit merupakan rangkaian kegiatan untuk menegndalikan hama/penyakit tanaman dengan satu atau lebih teknik pengendalian agar tanaman tumbuh optimal, produksi tinggi, dan mutu buah yang baik. Pengendalian hama dan penyakit ini bertujuan untuk mengindari kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk. Selain itu juga bertujuan untuk menjaga kesehatan tanaman dan kelestarian lingkungan hidup. Usaha petani organik dalam mengontrol hama, penyakit, gulma dapat dilakukan beberapa upaya, diantaranya menjaga kesehatan tanaman agar dapat melawan penyakit dan serangga tanaman, mengandalkan keanekaragaman populasi organisme tanah, burung, serangga, dan organisme yang lain untuk mengatasi masalah hama. Selain itu, penggunaan botanical atau pestisida yang tidak mengandung racun, dan rumput liar yang harus dikontrol terus untuk ditingkatkan pengolahannya seperti cover crops, mulsa, penyiangan, rotasi tanaman dan metode manajemen yang serupa.
Kesimpulannya, dalam pengetahuan konsep sistem pertanian organik, yaitu upaya pengendalian hama dan penyakit lebih mengutamakan cara mekanik dan penggunaan pestisida biologis atau pestisida hayati dari penggunaan pestisida kimia.
4. Budidaya Padi Organik
Padi merupakan salah satu tanaman yang dapat dibudidayakan secara organik. Padi organik adalah padi yang disahkan oleh sebuah badan independen, untuk ditanam dan diolah menurut standar organik yang
ditetapkan. Walau tidak ada satu definisi pun untuk organik, kebanyakan definisi memiliki elemen umum. Misalnya, organik sebagaimana digunakan pada kebanyakan tanaman sawah yang umumnya berarti bahwa:
a. Tidak ada pestisida dan pupuk dari bahan kimia sintetis atau buatan yang telah digunakan,
b. Kesuburan tanah dipelihara melalui proses alami seperti penanaman tumbuhan penutup atau penggunaan pupuk kandang yang di kompos dan limbah tumbuhan,
c. Tanaman dirotasikan di sawah untuk menghindari penanaman tanaman yang sama dari tahun ke tahun di sawah yang sama,
d. Pergantian bentuk-bentuk bukan kimia dari pengendalian hama.
(Bawolye dan Syam, 2006).
Badan Standardisasi Nasiona (BSN) 2015 mengungkapkan bahwa perbedaan usahatani padi organik dan anorganik yaitu pada kegiatan budidaya, jika organik maka mulai dari pengolahan tanah, pemupukan dan pengendalian hama sama sekali tidak menggunakan unsur kimia, sedangkan anorganik masih menggunakan unsur kimia. Padi organik aman dari penggunaan zat kimia, sehingga relatif aman untuk dikonsumsi manusia karena seluruh proses produksinya ramah lingkungan dan meminimalkan input eksternal sintetik. Sutanto (2002) menyebutkan bahwa nilai ekonomis beras organik menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan beras yang ditanam secara konvensional. Rasa nasi yang dihasilkan dari beras organik lebih empuk, pulen dan daya simpannya lebih lama serta apabila sudah dimasak warnanya terlihat lebih putih.
International Rice Research Institute (2007) menyebutkan bahwa padi organik adalah padi yang disahkan oleh suatu badan independen, ditanam dan diolah menurut standar yang telah ditetapkan. Departemen Pertanian telah menyusun standar pertanian organik di Indonesia, tertuang dalam SNI 01-6729-2002 dan telah direvisi menjadi SNI Sistem Pangan Organik SNI 6729-2010. Sistem pertanian organik menganut paham Organik
Proses, artinya semua proses sistem pertanian organik dimulai dari penyiapan lahan hingga pasca panen memenuhi standar budidaya organik, bukan dilihat dari produk organik yang dihasilkan (Nurhidayati et al., 2008).
Indonesia punya potensi besar dalam pengembangan pertanian organik. Walaupun secara ekonomi, kontribusi nilai komoditas pertanian organik relatif masih kecil dibanding nilai komoditas non organik, namun trend perkembangan pasarnya meningkat signifikan. Pada tahun 2005 produksi dan kebutuhan pasar beras organik seimbang, namun pada tahun- tahun berikutnya permintaan terhadap beras organik terus bertambah melebihi produksi bahkan di tahun 2009 permintaan beras organik dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan produksi yang dihasilkan. Dari data tersebut terlihat bahwa konsumsi beras organik semakin diminati oleh masyarakat. Bertanam padi secara organik tidak berbeda dengan bertanam padi pada pelaksanaan intensifikasi. Perbedaan yang ada terlihat pada pemilihan varietas, pemupukan dan pemberian pestisida. Budidaya padi organik biasanya diawali dengan pemilihan benih tanaman non-hibrida.
Hal itu dilakukan dalam mempertahankan keanekaragaman hayati dimana bibit non-hibrida sendiri secara teknis memang memungkinkan untuk ditanam secara organik (BPTP, 2015).
Varietas padi yang cocok ditanam secara organik adalah varietas alami yang mempunyai ketahanan yang baik terhadap hama dan penyakit. Padi yang dapat ditanami antara lain adalah Rojolele, Mentik, Pandan dan Lestari. Pemupukan organik dapat dilakukan dengan pupuk berasal dari pupuk kandang ayam, jerami padi, azolla, daun lamtoro, sekam padi, belotong, limbah agroindustri (seperti limbah pengolahan minyak sawit).
Berdasarkan peranannya dalam menyediakan nutrisi dan memperbaiki sifat tanah maka penggunaan pupuk organik diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen, kinerja fisiologi dan hasil tanaman padi sawah (Iqbal, 2008).
5. Kelompok Tani
Winardi (2004) menyebutkan bahwa kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang memiliki kepentingan bersama atau sebuah unit yang tersusun dari dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain dan menyelesaikan suatu permasalahan secara bersama sama demi mencapai tujuan ideal. Definisi ini menekankan bahwa kelompok tumbuh karena adanya kesamaan motivasi untuk mencapai maksud tertentu yang menimbulkan kontak-kontak antar mereka sehingga terbentuklah kelompok. Kelompok juga terbentuk atas rasa kebutuhan dan prinsip serta usaha untuk mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan.
Kelompok tani merupakan kumpulan petani yang tumbuh berdasarkan keakraban dan keserasian, serta kesamaan kepentingan yang memanfaatkan sumber daya pertanian untuk bekerja sama meningkatkan produktivitas usaha tani dan kesejahteraan anggotanya. Kartasapoetra (1991) mengemukakan bahwa kelompok tani merupakan sekumpulan petani yang mempunyai kepentingan bersama dalam usahatani, bersifat nonformal dan dilandasi oleh kesadaran bersama dan berdasar atas asas kekeluargaan. Namun, seiring perkembangannya kelompok tani tidak lagi merupakan kelompok petani yang terikat secara nonformal, karena pembentukannya diatur oleh Surat Edaran Menteri Pertanian tahun 1979, sehingga lebih tepat jika kelompok tani dinyatakan sebagai suatu kelompok formal (Mardikanto, 1996).
Ramadoan et al (2013) mengatakan keberadaan dan dukungan kelompok tani sebagai usaha dalam memperlancar penerapan teknologi pertanian padi organik yaitu dalam beberapa hal diantaranya saling berbagi dalam informasi dan pengetahuan baru, mengusahakan dan mengajak saling belajar, menerapkan teknologi budidaya organik, menyalurkan saprotan, menyelenggarakan pelatihan bagi petani dalam pembuatan pupuk maupun pestisida nabati. Bagi pemerintah, kelompok tani berperan sebagai analisator, stimulator, fasilitator bagi petani melaksanakan kegiatan, pemberian informasi dalam membantu keberhasilan
pembangunan. Kelompok tani merupakan sebuah lembaga yang menyatukan para petani secara horizontal dan dapat dibentuk beberapa unit dalam satu desa, bisa berdasarkan komoditas, areal tanam pertanian dan gender (Syahyuti, 2007). Departemen Pertanian RI (1980) memberi batasan bahwa kelompok tani adalah sekumpulan orang-orang tani atau petani, yang terdiri atas petani dewasa pria atau wanita maupun petani taruna atau pemuda tani yang terikat secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani. Kelompok tani terdiri dari beberapa orang petani atau peternak yang menghimpun diri dalam suatu kelompok karena memiliki kesamaan dalam tujuan, motif, dan minat serta yang secara sah terdapat proses berita acara pembentukannya yang diketahui oleh Kepala desa dan PPL, serta masuk dalam sebuah sistem.
Kelompok tani pada hakikatnya adalah untuk menggerakkan sumber daya manusia petani. Pembinaan kelompok tani berperan dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani (Thomas, 2008). Kelompok tani akan membantu petani yang tergabung dalam keanggotaan untuk memfasilitasi segala kebutuhan mulai dari pembelian sarana produksi sampai penanganan pascapanen dan pemasarannya (Hariadi, 2011).
Kelompok ini merupakan wadah kerjasama antar kelompok tani untuk meningkatkan usaha ke arah yang lebih besar dan bersifat komersial.
Turindra (2009) mengatakan bahwa terdapat lima ciri kelompok tani efektif yaitu:
a. Merupakan kelompok yang efektif yang terdiri dari kurang lebih 10 orang untuk bekerjasama dalam hal belajar teknologi, pengambilan keputusan, produksi, dan lainnya,
b. Anggota para petani berada dalam pengaruh kontak tani,
c. Para aggota kelompok tani memiliki tujuan yang sama, UT yang sejenis,
d. Para anggota memilki kegemaran sejenis, tradisi, bahasa, domisili, lokasi UT, status ekonomi, pendidikan dan usia,
e. Bersifat Informal dimana terbentuk atas dasar keinginan dan pemufakatan pra anggota, memilki aturan, waktu tidak tertulis, adanya pembagian kerja dan tanggung jawab bukan pengurus, hubungan antar anggota luwes, solider dan percaya
Kelima ciri kelompok tani tersebut merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kelompok tani. Kelompok tani juga menjadi titik penting untuk menjalankan dan menterjemahkan konsep hak petani ke dalam kebijakan, strategi, dan program yang layak dalam satu kesatuan utuh dan pengembangan ke dalam langkah operasional (Djiwandi, 1994). Sumber daya manusia dalam kelompok tani akan terorganisir menjadi pengurus dan anggota dalam satu manajemen untuk mengelola sarana produksi pertanian, alat mesin pertanian, dan input usaha tani lain, termasuk jenis teknologi yang akan digunakan untuk berusaha tani dan panen serta pemasaran.
Pertemuan kelompok tani biasanya diadakan ketika akan melakukan kegiatan dan setelah panen untuk bahan evaluasi kegiatan kedepannya agar lebih baik (Mandasari, 2014). Penguatan kelembagaan kelompok tani juga dilakukan melalui kegiatan pendampingan dan pertemuan atau musyawarah petani dengan dihadiri tokoh masyarakat, penyuluh pertanian dan instansi terkait sehingga kelompok tani yang terbentuk makin terikat oleh kepentingan dan tujuan bersama dalam meningkatkan produksi dan pendapatan dari usahataninya (Nuryanti dan Swastika, 2011).
Aktivitas dalam menjalankan sebuah kelompok tani ataupun ternak perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak, baik dari pihak luar terutama anggota kelompok. Bentuk motivasi serta keaktifan yang dimiliki anggota perlu ditingkatkan karena berpengaruh kepada kemajuan suatu kelompok.
Segala informasi atau wawasan untuk pencapaian tujuan kelompok bersama bisa selaras. Beberapa sebab, penting adanya suatu kelompok tani dalam pedesaan ialah dapat dikembangkan sebagai sarana media, alat baik bagi pemerintah maupun instansi/ lembaga lainnya dan dapat dimanfaatkan secara maksimal segala potensi yang dimiliki sehingga
mampun menjadi wadah belajar efektif. Menurut Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) 273/Kpts/OT.160/4/2007, fungsi kelompok tani antara lain:
a. Kelas belajar: Kelompok tani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap (PKS) serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani, sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera.
b. Wahana kerjasama: Kelompok tani merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani serta dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan usaha taninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan
c. Unit Produksi: Usahatani yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelompok tani, secara keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.
Nasrul (2012) menyampaikan bahwa dalam peningkatan atau penguatan suatu kelompok tani terhadap pembangunan pertanian diperlukan kelembagaan yang mampu memberikan kekuatan terhadap petani. Permasalahan yang masih melekat kepada sosok petani dan kelembagaan petani di Indonesia antara lain ada 3 hal menurut Dimyati (2012) yaitu:
a. Masih minimnya wawasan dan pengetahuan petani terhadap masalah manajemen produksi maupun jaringan pemasaran.
b. Belum terlibatnya secara utuh petani dalam kegiatan agribisnis dan hanya terfokus pada on farm (produksi).
c. Peran dan fungsi kelembagaan petani sebagai wadah organisasi petani belum berjalan secara optimal.
Pembinaan terhadap kelompok tani juga terus dilakukan melalui berbagai upaya. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor. 33/Permentan/SM.230/7/2016 Tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Pelatihan Pertanian Swadaya. Isi yang terkandung dalam permentan ini menyatakan kebijakan dimana sudah saatnya petani belajar dari petani melalui model permagangan yang didalamnya terdapat sarana dan prasarana pelatihan, sehingga mampu menjadi mitra kerja pemerintah baik pusat maupun daerah dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian. Penyuluh Pertanian Swadaya adalah pelaku utama yang meliputi petani, peternak maupun pekebun berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh (Permentan no 61 tahun 2008).
Kegiatan belajar mengajar terhadap sesama petani selama ini merupakan contoh nyata adanya keterlibatan petani dalam mengembangkan sumber daya manusia pertanian. Konsep petani belajar dari petani, merupakan praktek pembelajaran yang nyata terjadi di lingkungan masyarakat tani yang telah berlangsung lama dan berkembang secara alami. Keberadaan model pembelajaran itu, diyakini dapat memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalam pencapaian hasil belajarnya.
Keuntungan atau kelebihannya karena didukung dengan tersedianya beberapa kondisi diantaranya, petani lebih mudah belajar karena pengetahuan dan pengalaman disampaikan menggunakan Bahasa sesama petani, keterampilan yang diperoleh oleh petani dapat dipelajari secara langsung dan dipraktekkan sehingga lebih dipercaya petani yang sedang dalam proses pembelajaran. Dalam meningkatkan keterampilan petani selaku pelaku utama sektor pertanian, telah dikembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). P4S merupakan lembaga yang secara langsung dimiliki oleh petani secara perorangan maupun kelompok dan secara aktif berperan dalam pembangunan pertanian di bidang
pengembangan sumber daya manusia pertanian dalam bentuk pelatihan, penyuluhan dan pendidikan (Renstra Kementan, 2015).
6. Faktor Penghambat/Kendala
Kata penghambat menurut kamus besar bahasa indonesia (2005), hambat merupakan kata dasar dari penghambat berarti membuat sesuatu menjadi lamabat atau tidak lancar. Penghambat berarti orang yang menghambat, alat yang digunakan untuk menghambat. Hambatan merupakan suatu keadaan yang mengganggu suatu pekerjaan. Faktor penghambat ialah faktor yang menjadi kendala dan menghambat dari suatu kegiatan partisipasi. Hambatan atau kendala dalam partisipasi tergantung pada situasi setempat, menurut Laporan Bappenas (2001) adalah:
a. Waktu, masyarakat akan meluangkan waktunya untuk proyek apabila mereka merasa bahwa proyek berguna.
b. Menyusun dan membuat pandangan mereka sendiri, partisipasi akan menjadi kendala apabila dalam forum‐forum masyarakat tidak mempunyai kekuatan untuk menyalurkan pandangan mereka.
c. Sikap profesional, sikap dari para pelaksana (pendamping dan aparat pemerintah) harus berpihak kepada masyarakat. Mereka harus percaya kepada kemampuan masyarakat dan dapat membagi pengetahuannya.
Sumarto (2002) menyebutkan bahwa hambatan dan tantangan pertama dari optimalisasi partisipasi masyarakat adalah resistensi birokrasi dan politisi, yang selama ini menganggap kapasitas masyarakat dan perangkat pemerintahan basis masih sangat terbatas baik teknis maupun sikap atau perilaku berdemokrasi. Beberapa hambatan lainnya yang menghambat partisipasi yang baik adalah:
a. Hambatan struktural yang membuat iklim atau lingkungan menjadi kurang kondusif untuk terjadinya partisipasi. Diantaranya adalah kurangnya kesadaran berbagai pihak akan pentingnya partisipasi serta kebijakan/aturan yang kurang mendukung partisipasi termasuk kebijakan desentralisasi fiskal.
b. Hambatan internal masyarakat sendiri, diantaranya kurang inisiatif, tidak terorganisir dan tidak memiliki kapasitas memadai untuk terlibat secara produktif dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini terjadi antara lain akibat kurangnya informasi.
c. Hambatan akibat kurang terkuasainya metode dan teknik-teknik partisipasi.
Slamet (1994) menyampaikan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan orang kurang berpartisipasi adalah mereka mengetahui bahwa keputusan akhir (final decision) bukan pada mereka tetapi ada pada orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan tidak adanya kepentingan khusus yang mempengaruhinya secara langsung. Produsen atau pelaku sistem produksi pertanian organik di Indonesia yang masih sangat terbatas, kendala yang dihadapi oleh produsen untuk mengembangkan pertanian organik antara lain adalah belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, masih perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia dan belum ada kepastian komoditas tersebut. Produk dari Indonesia belum banyak yang dapat bersaing di pasar global (BPTP, 2015).
Davis dalam Sastropoetro (1988) prasyarat untuk dapat melaksanakan partisipasi secara efektif adalah sebagai berikut
a. Adanya waktu
b. Kegiatan partisipasi memerlukan dana perangsang secara terbatas.
c. Subyek partisipasi hendaklah berkaitan dengan organisasi dimana individu yang bersangkutan itu tergabung atau sesuatu yang menjadi perhatiannya.
d. Partisipan harus memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam arti kata yang bersangkutan memiliki pemikiran dan pengalaman yang sepadan.
e. Kemampuan untuk melakukan komunikasi timbal balik.
f. Bebas melaksanakan peran serta sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.
g. Adanya kebebasan dalam kelompok, tidak adanya pemaksaan atau penekanan.
Sastropoetro (1998) mengatakan bahwa ada 5 unsur yang dapat mendukung atau menghambat partisipasi terjadi, yaitu perubahan sikap, komunikasi, adanya kesadaran, adanya ketulusan dari hati nurani dan tanggungjawab bagi keperluan bersama. Angell (Ross, 1967) mengungkapkan bahwa partisipasi yang ada dalam diri masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor itu diantaranya:
a. Faktor kesadaran atau kemauan b. Jenis kelamin
c. Usia. Salah satu faktor yang mempengaruhi pola sikap masyarakat akan kegiatan yang ada.
d. Pekerjaan dan penghasilan.
e. Peralatan atau fasilitas dan
f. Adanya dukungan pemerintah. Pentingnya peran pemerintah sebagai yang terpilih oleh rakyat dalam mengemban amanah untuk membangun masyarakat perlu ditekankan lagi.
g. Lamanya tinggal
h. Pendidikan. Faktor yang diakui sebagai syarat utama dalam seseorang berpartisipasi dan dapat merubah pola pikir seseorang akan lingkungan sehingga dapat membantu masyarakat dalam peningkatan kehidupan seluruh masyarakat.
Orsini et al (2018) mengatakan penggunaan sistem organik memang dirasa rumit oleh petani sehingga beberapa petani enggan untuk melakukannya, meskipun biaya produksi relatif rendah bila dibandingkan secara konvensional dan memang dalam penggunaan tenaga kerja lebih berat di sistem organik. Pemulihan bagi lahan dan media tanam dari konvensional paling lama sekitar 8 tahun untuk dikatakan steril dan menguntungkan diawal. Namun, jika ditarik secara jangka panjang dari
sisi ekonomi, sistem organik lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional dikarenakan penggunaan yang semakin menurun setiap tahun dan berkebalikan dengan sistem konvensional. Setiap partisipasi petani yang berakhir dengan dapat memberikan informasi yang baik akan mendatangkan kebermanfaatan dalam keberlanjutan suatu program (Sujana, 2010).
Charina et al (2018) dalam hasil kajiannya mengatakan bahwa tepatnya di Bandung Selatan, beberapa hal yang menjadi kendala petani dalam menerapkan sistem pertanian organik terdiri dari minimnya tenaga penggerak yang bisa memberikan motivasi bagi petani dalam menerapkan pertanian organik, rendahnya kemampuan yang dimiliki, perasaan petani bahwa rumitnya penggunaan sistem organik sehingga sudah lebih nyaman menggunakan konvensional yang selama ini sudah mereka lakukan dan minimnya dukungan sarana dan prasarana sebagai penunjang pertanian organik dari pemerintah. Riyanda R (2017) mengatakan keterbatasan sarana dan prasarana juga sebagai faktor yang penting dalam penentuan kualitas pelayanan kegiatan publik yang mengakibatkan kurang maksimalnya dalam pemenuhan target dan misi yang akan dicapai.
Arsiyah (2009) mengatakan dalam penelitiannya terdapat hambatan dalam pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari hambatan eksternal dan internal. Hambatan eksternal terdiri dari kurang mampunya akses kelompok usaha bersama sebagai mitra pemerintah untuk menjembatani antara pemerintah dengan pengusaha yang kurang maksimal dans belum adanya peran swasta untuk dapat meminjamkan bantuan modal usaha pemberdayaan masyarakat. Hambatan internal yaitu terbatasnya sumber daya manusia, bahan bak, manajerial, tidak dapat memenuhi modal yang seharusnya dimiliki sebagai kelompok serta kekurangmampuan masyarakat dalam mengelola peluang pasar yang ada.
Mayrowani (2012) dalam penelitiannya mengatakan bahwa dalam pengembangan sistem organik kendala terbesar ada di kondisi cuaca dan terbatasnya segmen pemasaran meskipun tergolong menengah ke atas,
sudah mencapai global namun diperlukan sertifikasi dengan standarisasi sangat ketat di berbagai wilayah maupun negara berbeda. Kilcher (2007) juga menekankan minimnya pengetahuan, jaringan pemasaran, kebutuhan sertifikasi, input pertanian dan kondisi struktur organisasi menjadi kendala dalam penggunaan sistem pertanian organik. Kurniawan T (2006) mengatakan kemajuan akan akses informasi dapat melibatkan masyrakata secara langsung dalam kegiatan partisipatif dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kebijakan publik.
Dalam penelitian ini berdasarkan referensi-referensi diatas, peneliti mengambil faktor penghambat petani dalam partisipasi yaitu:
a. Akses informasi
Kementerian Komunikasi dan Informatika (2010) mengatakan bahwasanya akses informasi ialah suatu kemudahan dalam mendapatkan informasi dan sumber pengetahuan bagi seseorang. Ife (2008) mengatakan akses informasi salah satu faktor yang mewakili partisipasi dan sumber daya positif bagi masyarakat selain pengetahuan dan pemahaman, pelatihan dan kontrol yang ada dalam masyarakat lokal. Devitt (2016) mengatakan bahwa pengumpulan informasi salah satu hal yang penting dalam proses mendalami dan memahami penerapan sistem organik, terutama dalam menghilangkan pola pikir petani yang kolot terkait dengan pertanian organik dan penyediaan pengetahuan dasar bagi petani dalam praktek peningkatan sistem organik.
Dasar bagi partisipasi dan keadilan untuk menuntut pemenuhan akses informasi. Ritonga (2019) dalam penelitiannya petani bila sering mengakses informasi dari berbagai media, adapat menambah pengetahuan mengenai hal apa yang dibutuhkan petani. Mardikanto (2009) mengatakan bahwa dalam mencari informasi dan ide, orang yang lebih aktif biasanya lebih inovatif dibanding dengan orang-orang yang pasif. Kinanti et al (2017) mengatakan akses komunikasi digital dapat membantu peningkatan akses peluang pendidikan, meningkatkan
partisipasi secara langsung, memperbesar peluang pemasaran, perdagangan serta pemberdayaan petani melalui keberlanjutan usahatani. Peluang yang lebih besar dan membuka selebar-lebarnya kesempatan bagi Para pelaku pembangunan pertanian, khususnya petani untuk mengakses informasi yang dibutuhkan memiliki kesempatan pada peluang yang lebih besar dan terbuka.
Surahmi A. (2017) mengatakan pemberi informasi bisa menjadi hal pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan partisipasi masyarakat mengenai hak, tanggung jawab dan berbagai pilihan. Namun, nyatanyanya yang terjadi lebih pada satu arah saja dari pemegang kuasa dalam pemberian informasi, sehingga kecil kemungkinan adanya respon balik.
b. Daya dukung pemerintah
Akmalia (2020) mengatakan kemampuan dalam memenuhi sarana prasarana kebutuhan pertanian organik ialah ketersediaan sarana produksi pertanian. Sarana prasarana terdiri dari ketersediaan benih, pupuk organik serta bahan pembuatan pupuk organik. Selain itu, mendukung berkegiatan bagi petani yaitu dalam kemudahan mengakses toko pertanian. Nasdian (2014) menyampaikan bahwa partisipasi ialah suatu proses yang aktif dan inisiatif yang diadopsi oleh warga komunitas sendiri, diatur dengan cara berpikir sendiri, menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme) sehingga dapat mengendalikan kontrol. Iswari (2008) dalam penelitiannya mengatakan adanya ketersediaan alat dan sarana pertanian dengan mengakses masyarakat mempengarui partisipasi masyarakat dalam kegiatan pertanian.
Dadang (2010) juga mengatakan bahwa adanya sarana dan prasarana salah satu faktor yang mempengaruhi adanya partisipasi.
Apabila keminiman terjadi pada sarana dan prasarana yang ada mengakibatkan terhambatnya produktivitas yang tinggi. Sarana dan prasarana milik pemerintah adalah suatu alat yang dapat mendukung