6
BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Mangrove
Mangrove secara umum dapat didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh di wilayah pasang surut air laut. Selain itu, menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004, mangrove merupakan sekumpulan tumbuh-tumbuhan Dicotyledoneae dan atau Monocotyledoneae terdiri atas jenis tumbuhan yang mempunyai hubungan taksonomi sampai pada taksa kelas, tetapi mempunyai persamaan adaptasi morfologi dan fisiologi terhadap habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut (Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2004).
Selanjutnya, ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (tumbuhan maupun hewan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove (Onrizal, 2010).
Hutan mangrove merupakan hutan tumbuhan tingkat tinggi yang beradaptasi dengan baik di wilayah intertidal maupun pada wilayah dengan tinggi permukaan pasang-surut rata-rata sampai pada wilayah dengan pasang tertinggi (Alongi, 2009).
Selain itu, menurut Nybakken (1988) menjelaskan bahwa hutan mangrove adalah komunitas pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Hutan mangrove merupakan tipe hutan tropika yang khas tumbuh disepanjang pantai dan muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Kordi, 2012).
2. Fungsi Hutan Mangrove
Sebagai tumbuhan tingkat tinggi, mangrove diketahui memiliki fungsi dan manfaat yang banyak, meliputi fungsi fisik, fungsi biologi, fungsi ekonomi dan berbagai jenis fungsi dan manfaat lainnya. Selain itu, mangrove merupakan tumbuhan yang produktif. Kayu bakar, bahan bangunan, habitat biota, tempat pemijahan ikan, pelindung pantai dan perangkap sedimen merupakan bagian dari manfaat mangrove.
Adapun menurut Anwar et al. (1984), fungsi dan manfaat hutan mangrove dibagi menjadi tiga golongan besar. (1) secara fisik dapat menjaga kestabilan garis pantai, mempercepat perluasan lahan, melindungi pantai dari tebing sungai. (2) secara biologis merupakan tempat pemijahan dan pembesaran benih-benih tempat bersarangcommit to user commit to user
dan mencari makan burung-burung, serta habitat alami bagi banyak biota. (3) secara ekonomi merupakan salah satu daerah pesisir yang cocok untuk tambak, tempat pembuatan garam, rekreasi, dan produksi kayu. Sementara Sumana (1985) membagi fungsi dan manfaat hutan mangrove sebagai berikut. (1) secara fisik ekologi, hutan mangrove merupakan pelindung hutan daratan yang banyak dihuni oleh berbagai jenis biota perairan serta berbagai jenis satwa. Zona pesisir bervegetasi hutan mangrove bagi daratan merupakan filter intrusi air laut dan polusi industri yang mengeluarkan limbah logam berat yang dapat mengganggu kehidupan hewan dan manusia. Vegetasi mangrove dengan tajuk dan perakarannya yang khas, secara fisik dapat menahan dan melindungi daratan daripengaruh gelombang, arus air, dan angin yang dapat menyebabkan topan, banjir dan erosi daratan. (2) secara biologis dalam sistem rantai makanan, hutan mangrove merupakan produsen primer. Mangrove menyediakan energi hidup melalui serasah yang dihasilkannya. Serasah mangrove yang telah mengalami dekomposisi oleh sejumlah mikroorganisme akan menghasilkan detritus dan berbagai jenis fitoplankton. Detritus dan fitiplankton akan dimangsa oleh konsumen primer yang terdiri dari zooplankton, ikan dan krustasea (udang, kepiting, kerang-kerangan) selanjutnya manusia sebagai konsumen utama. (3) secara sosial ekonomi, hasil hutan mangrove berupa kayu digunakan untuk keperluan industri chips, pull, kertas, penyamak kulit, bahan bangunan, dan arang.
3. Struktur Komunitas Vegetasi Mangrove
Struktur komunitas adalah sebaran, susunan, dan komposisi suatu komunitas kehidupan dari berbagai pupulasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang kompleks bila dibandingkan dengna individu dan pupulasi.
Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut (Ewuise, 1990). Selanjutnya, menurut Indriyanto (2012) menjelaskan bahwa komunitas merupakan semua populasi dan berbagai spesies yang menempati suatu daerah tertentu.
Fachrul (2007) menjelaskan bahwa vegetasi adalah masyarakat tumbuhan yang terbentuk oleh berbagai populasi jenis tumbuhan yang terdapat di dalam suatu wilayah atau ekosistem serta mempunyai variasi pada setiap kondisi tertentu. Tumbuhan mangrove meliputi pepohonan dan semak dengan 12 genus tumbuhan berbunga dari 8 commit to user commit to user
famili yang berbeda yaitu, genus Avicennia, Snaeda, Laguncularia, Lumnitzera, Conocarpus, Xylocarpus, Aegiceras, Aegialitis, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops dan Sonneratia. Genus penting atau dominan adalah Rhizophora, Avicennia, Bruguiera, dan Sonneratia. Mangrove mempunya sejumlah bentuk khusus yang memungkinkannya hidup di perairan lautan yang dangkal yaitu berakar pendek, menyebar luas dengan akar penyangga atau tudung akarnya yang khas tumbuh dari batang atau daun (Nybakken, 1988).
Menurut Noor et al. (2012) Avicennia marina dapat ditemukan dengan ketinggian 1-2 meter pada pantai yang tergenang air laut. Tegakan campuran Bruguiea-Rhizophora-Ceriops dapat ditemukan dengan ketinggian lebih dari 30 meter (misalnya, Sulawesi Selatan). Didaerah pantai terbuka, dapat ditemukan Sonneratia alba dan Avicennia alba. Sedangkan disepanjang sungai yang memiliki kadar salinitas lebih rendah umumnya ditemukan Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris.
Selain itu, deskripsi tentang struktur komunitas vegetasi dapat secara kualitatif dengan parameter kualitatif atau dengan cara kuntitatif dengan parameter kuantitatif.
Adapun beberapa parameter kualitatif komunitas veegetasi, antara lain fisiognomi, fenologi, periodisitas, stratifikasi, kelimpahan, penyebaran, daya hidup, dan bentuk pertumbuhan. Sedangkan parameter kuantitatif komunitas vegetasi, antara lain densitas, frekuensi, dominansi, indeks nilai penting, dan indeks keanekaragaman (Indriyanto, 2012).
4. Faktor Fisika dan Kimia Lingkungan Mangrove
Secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi kehidupan mangrove yaitu faktor fisika dan kimia, dimana pada faktor fisika terdapat suhu, kekeruhan dan substrat (tekstur tanah) sedangkan faktor kimia meliputi pH, dan salinitas.
a. Suhu
Suhu merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam mengatur kehidupan dan penyebaran organisme (Nybakken, 1988). Suhu dapat mempengaruhi proses seperti fotosintesis dan respirasi (Petra et al., 2012). Suhu yang baik untuk mangrove tidak kurang dari 20oC (Kolehmainen et al. 1974). pada umumnya suhu permukaan perairan berkisar antara 28-31oC (Nontji, 2005). Suhu suatu perairan akan mempengaruhi metabolisme sehingga menentukan pertumbuhan dan reproduksi organisme akuatik (Hasudungan, 2008) commit to user commit to user
b. pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Menurut Haryanto (2013), pH merupakan faktor yang berperan penting sebagai penentu dalam pertumbuhan dan perkembangan serta komposisi mangrove. Setiap spesies memiliki toleransi yang berbeda terhadap pH. Nilai pH optimal bagi organisme akuatik berkisar antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme dan respirasi (Kristanto, 2002).
c. Salinitas
Menurut Haryanto (2013) salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat menentukan perkembangan, pertumbuhan, dan komposisi mangrove.
Dimana, salinitas perairan merupakan salah satu faktor yang membatasi atau mendukung keberadaan organisme akuatik karena setiap organisme memiliki daya tahan yang berbeda-beda pada kisaran salinitas tertentu (Hasudungan, 2008).
d. Struktur Tanah (Substrat)
Jenis struktur tanah berkaitan dengan kandungan oksigen dan ketersediaan nutrien dalam sedimen. Menurut Bengen (2001), pada substrat berpasir kandungan oksigen relatif lebih besar dibandingkan dengan susbtrat yang halus, karena pada substrat berpasir terdapat pori udara yang memungkinkan terjadinya pencampuran yang intensif dengan air diatasnya. namun demikian, nutrien tidak banyak terdapat pada substrat berpasir. Sebaliknya pada substrat yang halus, oksigen tidak begitu banyak tetapi nutrien tersedia dalam jumlah yang cukup besar.
5. Siklus Karbon, Biomassa, dan Mangrove Sebagai Penyimpan Karbon a. Siklus Karbon
Karbon merupakan salah satu unsur alam yang memiliki lambang “C”
dengan nilai atom sebesar 12. Karbon juga merupakan salah satu unsur utama pembentuk bahan organik termasuk makhluk hidup. Hampir setengah dari organisme hidup merupakan karbon. Karenanya secara alami karbon banyak tersimpan di bumi (darat dan laut) dari pada di atmosfir. Karbon tersimpan dalam daratan bumi dalam bentuk makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan organik commit to user commit to user
mati ataupun sediment seperti fosil tumbuhan dan hewan (Manuri et al,. 2011).
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).
Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Resevoir-reservoir tersebut adalah a). atmosfer, b). biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah, c). lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan d). sedimen (termasuk bahan bakar fosil).
b. Biomassa
IPCC (2006) menjelaskan bahwa sumber karbon (Carbon Pool) dikelompokkan menjadi 3 kategori utama, yaitu biomasa hidup, bahan organik mati dan karbon tanah dimana, biomassa adalah jumlah total bahan organik hidup di atas tanah pada pohon baik itu daun, ranting, cabang, batang utama dan kulit yang dinyatakan dalam berat kering oven ton per unit area.
Komponen yang diukur untuk pendugaan biomassa biasanya berada di atas tanah karena merupakan bagian yang besar dari berat jumlah keseluruhan biomassa. Kandungan karbon utamanya di hutan terdiri dari biomassa bahan hidup, biomassa bahan mati, tanah, dan produk kayu. Umumnya karbon menyusun 45-50% bahan kering dari tanaman (Brown, 1997). Biomassa merupakan tempat penyimpanan karbon atau dalam kata lain dinamakan sebagai rosot karbon (carbon sink). Sebagian besar biomassa terdiri dari karbon (C). Bagian tanaman yang hidup atau mati yang jatuh keatas tanah disebut biomassa. Salah satu penyimpan karbon (rosot karbon) yang paling penting adalah hutan (Soemarwoto, 1998).
Heriyanto dan Subiandono (2012) menjelaskan bahwa biomassa dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu biomassa di atas tanah dan biomassa di dalam tanah.
Biomassa di atas tanah terdiri dari batang, cabang, ranting, daun, bunga dan buah, sedangkan biomassa di dalam tanah adalah akar. Kusumana et al,. (1992) menyatakan bahwa, besarnya biomassa ditentukan oleh diameter, tinggi tanaman, kerapatan kayu dan kesuburan tanah. Klasifikasi biomassa berdasarkan tipe hutan commit to user commit to user
dan kondisi hutan dimana aktivitasnya pengelolaan berlangsung dipandang cukup dapat mengurangi keragaman dan ketidakpastian dalam pendugaan tersebut.
Potensi kelas biomassa ditentukan berdasarkan tipe dan kondisi hutan, meliputi hutan alam (hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder) serta hutan tanaman. Kategori hutan tersebut sesuai dengan klasifikasi lahan hutan yang terdapat dalam peta tutupan lahan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Kandungan karbon pada tanaman menggambarkan berapa besar tanaman tersebut dapat mengikat CO2 dari udara. Sebagian karbon akan menjadi energi untuk proses fisiologi tanaman dan sebagian masuk ke dalam stuktur tumbuhan dan menjadi bagian dari tumbuhan, misalnya selulosa yang tersimpan pada batang, akar, ranting dan daun (Heriyanto dan Subiandono, 2012).
Karbon adalah salah satu yang utama dalam pembentukan bahan organik termasuk makhluk hidup. Hampir sebagian dari organisme hidup merupakan karbon, karena secara alami karbon banyak tersimpan di bumi (darat dan laut) dari pada di atmosfer. Karbon merupakan salah satu unsur alam yang memiliki lambang “C” dengan nilai atom sebesar 12 (Manuri et al., 2011).
Karbon yang terdapat di daratan bumi tersimpan dalam bentuk makhluk hidup (tumbuhan dan hewan), bahan organik mati ataupun sedimen seperti fosil tumbuhan dan hewan. Hutan merupakan bagian yang sangat besar sebagai penghasil karbon dari mahluk hidup. Kerusakan hutan yang terjadi saat ini mengakibatkan pelepasan karbon dioksida (CO2) ke atmosfer dalam jumlah yang banyak, setingkat dengan kerusakan hutan yang terjadi (Manuri et al., 2011).
c. Mangrove Sebagai Menyimpan Karbon
Penyerap karbon adalah sesuatu yang menyerap lebih banyak karbon yang rilis, sementara sumber karbon adalah sesuatu yang melepaskan lebih banyak karbon daripada menyerap. Hutan, tanah, lautan dan suasana semua menyimpan karbon dan karbon ini bergerak di antara mereka dalam siklus yang terus menerus. Gerakan konstan ini berarti karbon hutan bertindak sebagai sumber atau tenggelam pada waktu yang berbeda. Aktivitas utama yang harus dijalankan pada banyak negara untuk meningkatkan penyerap karbon adalah commit to user commit to user
penanam pohon, agroforestry, dan memperkaya hutan buatan dan hutan kota (MoE, 2001).
Hutan mangrvoe merupakan salah satu kawasan penyerap gas rumah kaca terutama CO2 hingga mencapai tingkat keseimbangan. Emisi gas rumah kaca (GRK) yang utama dari sektor kehutanan terjadi selama proses perubahan penggunaan lahan. Dua proses sebagai akibat dari deforestasi ialah pembakaran biomassa dan pembusukan. Sebagai tambahan, kebakaran hutan juga memberikan kontribusi yang relatif tinggi dalam menghasilkan emisi rumah kaca. Dari hasil analisis yang pernah dilakukan, penyerap kayu hutan milik dan hutan rakyat (MoE, 1999).
Pada awalnya kandungan CO2 dalam atmosfer bumi dalam keadaan tinggi, intensitas emisi rumah kaca (ERK) pun tinggi sehingga mengakibatkan suhu bumi menjadi tinggi. Dengan adanya rosot karbon, kandungan CO2 yang terdapat di atmosfer akan menurun dan mengakibatkan penurunan intensitas emisi rumah kaca. Hutan mangrove adalah penyimpan (rosot) karbon yang sangat penting, karena hutan mangrove merupakan salah satu kawasan yang dapat mengatur emisi rumah kaca. Dengan adanya penurunan luas hutan mangrove akan mengakibatkan daya simpan karbon pun menurun. Penebangan hutan akan mengakibatkan karbon yang terkait dalam biomassa terlepas dari rosot karbon dalam bentuk CO2 dan masuk ke dalam atmosfer sehingga kadar CO2 dalam atmosfer menjadi naik (Soemarwoto, 1998).
6. Partisipasi Masyarakat
a. Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Partisipasi menurut Chusnah (2008), dibagi atas dua bagian yaitu berdasarkan jenis dan bentuknya. Partisipasi berdasarkan jenis dibagi atas lima bagian yaitu: (1) Pikiran, (2) Tenaga, (3) Pikiran dan Tenaga, (4) Keahlian, (5) Barang dan Uang.
Selain itu, bentuk partisipasi masyarakat adalah berupa (a) konsultasi, biasanya dalam bentuk jasa, (b) sumbangan spontan dalam bentuk uang atau barang, (c) mendirikan proyek yang sifatnta berdikari dan donornya berasal dari sumbangan individu atau instansi yang berada diluar lingkungan tertentu (pihak ketiga), (d) mendirikan proyek yang sifatnya berdikari dan dibiayai sepenuhnya oleh masyarakat, (e) sumbangan dalam bentuk kerja, (f) aksi masa, (g) mengadakan commit to user commit to user
pembangunan dikalangan desa mandiri dan, (h) membangun proyek komuniti yang bersifat otonom (Chusnah, 2008).
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Menurut Pramudita (2006) menyebutkan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengelolaan lingkungann hidup yaitu: (1) Sikap terhadap lahan: adalah usaha dalam menentukan pengelolaan lahan sehingga memiliki tujuan ingin dibawa kemana pengembangan lahan tersebut. (2) Sikap terhadap pelaksanaan peraturan: adalah sikap taat terhadap ketentuan-ketentuan yang telah dibuat dan telah disepakati oleh pemerintah dan masyarakat yang dalam hal ini adalah tentang pengelolaan lingkungan. (3) Sikap terhadap pelestarian lingkungan:
adalah sikap mau memelihara dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar dari pengaruh global atau teknologi.
c. Variabel-Variabel Partisipasi Masyarakat
Menurut Keith Davis et al,. (1985) dikemukakan bahwa bentuk-bentuk dari partisipasi masyarakat adalah berupa:
1) Pikiran, merupakan jenis partisipasi dimana partisipasi tersebut merupakan partisipasi dengan menggunakan pikiran seseorang atau kelompok yang bertujuan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
2) Tenaga, merupakan jenis partisipasi dimana partisipasi tersebut dengan mendayagunakan seluruh tenaga yang dimiliki secara kelompok maupun individu yang bertujuan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
3) Pikiran dan tenaga merupakan jenis partisipasi dimana tingkat partisipasi tersebut dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dalam mencapai tujuan yang sama.
4) Keahlian, merupakan jenis partisipasi dimana dalam hal tersebut keahlian menjadi unsur yang paling diinginkan untuk menentukan suatu keinginan.
5) Barang, merupakan jenis partisipasi dimana partsipasi dilakukan dengan sebuah barang untuk membantu guna mencapai hasil yang diinginkan.
6) Uang, merupakan jenis partisipasi dimana partisipasi tersebut menggunakan uang sebagai alat guna mencapai sesuatu yang diinginkan. Biasanya tingkat partisipasi tersebut dilakukan oleh orang-orang kalangan atas.
commit to user commit to user
Adisasmita (2006) menjelaskan bahwa keterlibatan anggota masyarakat dalam segala jenis aktivitas pelaksanaan perencanaan pembangunan dikerjakan dalam masyarakat lokal. Selain itu, upaya pengelolaan khususnya pemulihan hutan mangrove dengan pendekatan top-down seharusnya adalah atas biaya pemerintah, sedangkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keberhasilan dan pemanfaatan secara berkelanjutan semuanya dipercayakan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut juga dapat melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bersama perangkat desa, pemimpin ummat dan lain lain. (Rahmawaty, 2006), artinya partisipasi atau peran masyarakat dalam pembangunan merupakan aktualisasi, kesediaan dan kemampuan anggota masyarakat untuk berkorban dan berkontribusi dalam program yang dilaksanakan. Bentuk partisipasi yang nyata yaitu:
a) Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usaha-usaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan.
b) Partisipasi harta benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas.
c) Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program.
d) Partisipasi keterampilan, yaitu memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkan.
e) Partisipasi buah pikiran lebih merupakan partisipasi berupa sumbangan ide, pendapat atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun unuk memperlancar pelaksanaan pogram dan juga untuk mewujudkan dengan memberikan pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya.
Dari definisi konseptual tersebut diperoleh 3 (tiga) dimensi kajian yaitu dimensi kontribusi masyarakat, dimensi pengorganisasian masyarakat, dan dimensi pemberdayaan masyarakat.
1) Dimensi kontribusi: masyarakat dijabarkan menjadi indikator-indikator: (1) kontribusi pemikiran, (2) kontribusi dana, (3) kontribusi tenaga, dan (4) kontribusi sarana.
commit to user commit to user
2) Dimensi Pengorganisasian: masyarakat dijabarkan menjadi indikator-indikator (5) model pengorganisasian, (6) struktur pengorganisasian, (7) unsur-unsur pengorganisasian, dan (8) fungsi pengorganisasian
3) Dimensi Pemberdayaan: masyarakat dijabarkan menjadi indikator-indikator:
(9) Peran masyarakat, (10) aksi masyarakat, (11) motivasi masyarakat, dan (12) tanggung jawab masyarakat.
7. Analisis SWOT
Analisis SWOT Adalah suatu cara untuk mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis dalam rangka merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunities) namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 1998 dalam Marimin, 2004).
Analisis swot mempertimbangkan faktor lingkungan internal strength dan weaknesses serta lingkungan eksternal opportunities dan threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis swot membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan sehingga dari analisis tersebut dapat diambil suatu keputusan strategi suatu perusahanaan (Marimin, 2004). Dalam analisis swot didahului dengan identifikasi posisi perusahaan/institusi melalui evaluasi nilai faktor internal dan evaluasi faktor eksternal.
a. Identifikasi Posisi Perusahaan/Institusi
Marimin (2004) menjelaskan bahwa membuat keputusan untuk memilih alternatif strategi sebaiknya dilakukan setelah perusahaan/institusi mengetahui terlebih dahulu posisi perusahaan. Posisi perusahaan/isntitusi dapat dikelompokkan dalam 4 kuadran yaitu kuadran I, II, III, IV. Pada kuadran I strategi yang sesuai adalah strategi agresif, kuadran II strategi diversifikasi, kuadran III strategi turn around dan kuadran IV strategi defensif. Dengan mengetahui posisi perusahaan pada kuadran yang tepat maka perusahaan dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat, yaitu:
1. Jika posisi perusahaan pada kuadran I maka menandakan bahwa situasi ini sangat menguntungkan, perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan
commit to user commit to user
untuk perusahaan yang berada pada kuadran I ini adalah mendukung kebijakan pertumbuhan agresif.
2. Perusahaan yang berada pada kuadran II berarti perusahaan menghadapi berbagai ancaman, perusahaan masihh memiliki kekuatan internal. Strategi yang harus dilakukan adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi.
3. Perusahaan yang berada pada kuadran III menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai peluang yang sangat besar, tetapi dilain pihak perusahaan memiliki kelemahan internal. Fokus yang harus diambil perusahaan adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik.
4. Posisi perusahaan pada kuadran IV menunjukkan perusahaan menghadapi situasi yang tidak menguntungkan, dimana selain perusahaan menghadapi berbagai ancaman juga menghadapi kelemahan internal.
Gambar 1. Posisi Perusahaan pada berbagai kondisi b. Tahapan Analisa SWOT
Proses yang harus dilakukan dalam pembuatan analisis swot agar keputusan yang diperoleh lebih tepat perlu melalui berbagai tahapan berikut:
1. Tahap pengambilan data yaitu evaluasi faktor eksternal dan internal
2. Tahap analisis yaitu pembuatan matriks internal ekternal dan matriks SWOT Berbagai Peluang
Berbagai Ancaman
Kekuatan Internal Kelemahan
Internal
Kuadran III (Mendukung Strategi
Turn-Around)
Kuadran I (Mendukung Strategi
Agresif)
Kuadran II (Mendukung Strategi
diversifikasi) Kuadran IV
(Mendukung Strategi Defensif)
commit to user commit to user
3. Tahap pegambilan keputusan
Tahap pengambilan data ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan,kelemahan, peluang dan ancaman bagi perusahaan yang dapat dilakukan dengan wawancara terhadap ahli perusahaan yang bersangkutan ataupun dianalisis secara kuantitatif. Setelah mengetahui berbagai faktor tersebut maka tahap selanjutnya adalah membuat matriks internal eksternal (Marimin, 2004).
Matriks swot menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Dari matrik ini akan terbentuk empat strategi kemungkinan alternatif strategi (Marimin, 2004).
IFA/EFA Strength (S) Weaknesses (W)
Opportunities (O)
Strategi SO
Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Digunakan jika perusahaan berada pada kuadran 1
Strategi WO
Menciptakan strategi yang meminimalkan
keleamahan untuk memanfaatkan peluang.
Digunakan jika perusahaan berada pada kuadran III Threaths (T) Strategi ST
Menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman.
Digunakan jika perusahaan berada pada kuadran II
Strategi WT
Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman.
Digunakan jika perusahaan berada pada kuadran IV.
Gambar 2. Matrik SWOT dan kemungkinan strategi yang sesuai.
8. Asas Lingkungan
Adapun beberapa asas lingkungan yang mendasari dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Asas 3 (sumber daya alam), dimana pada penelitian ini implikasi dari asas 3 dapat dilihat pada biodiversitas hutan mangrove dan perannya dalam penyimpanan karbon dapat dijadikan sebagai bentuk implikasi dari asas 3 (sumber daya alam) b. Asas 6 dan asas 9 (keanekaragaman), dimana pada penelitian ini implikasi dari
asas 6 dapat dilihat pada serapan dan penyimpanan karbon, dimana berdasarkan keanekaragaman dari spesies tumbuhan hutan di hutan mangrove yang beranekaragam maka dapat disimpulkan memiliki manfaat yang sangat potensial
commit to user commit to user
dalam fungsinya sebagai jasa lingkungan untuk menyerap dan menyimpan karbon.
B. Penelitian Relevan
Penelitian sejenis telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, namun terdapat perbedaan pada berbagai aspek seperti lokasi penelitian, daerah, tujuan, data dan metode yang digunakan, dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1. Penelitian Relevan Nama Peneliti/
Tahun Judul
Penelitian Lokasi Metode Hasil Ditha
Rachmawat, Isdradjad Setyobudiandi dan Endang Hilmi (2014)
Potensi estimasi karbon tersimpan pada vegetasi mangrove di wilayah pesisir muara gembong kabupaten bekasi
kawasan pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Jawa Barat
Pendugaan karbon mangrove menggunak- an persamaan nilai
biomassa dengan diameter dan persamaan allometrik
Potensi karbon tersimpan pada tegakan mangrove di Muara Gembong yaitu 55,35 ton/ha, dengan karbon tersimpan tertinggi pada jenis angrove R. mucronata yaitu 17,60 ton/ha.
Restu Nur Afi Ati, Agustin Rustam,
Terry L.
Kepel, Nasir Sudirman, Mariska Astrid, August
Daulat, Peter Mangindaan, Hadiwijaya L. Salim, dan Andreas A.
Hutahaean (2014)
Stok Karbon dan Struktur Komunitas Mangrove Sebagai Blue Carbon di Tanjung Lesung, Banten
Teluk Miskam Banten
Mengambil data
mangrove dengan menarik garis
transek dan kuadrat.
Biomassa mangrove melalui (DBH) dan persamaan allometrik
Simpanan karbon pada mangrove di Teluk Miskan adalah sebesar 49.44-55,33 MgCha-1untuk jenis vicennia marina dan 2,50 MgCha- 1untuk jenis Bruguiera gymnorhiza
Diarto, Boedi Hendrarto, Sri Suryoko (2012)
Partisipasi Mayarakat Dalam Pengelolaan Lingkungan Kawasan
Kelurahan Tugurejo, Kota Semarang
Observasi, Dokumentasi, Wawancara, Dan
Triangulasi Dari
Bentuk partisipasi masyarakat adalah sukarela, yaitu dengan kegiatan rutin mereka, seperti melakukan perbaikan tambak. Dengan adanya kepedulian commit to user
commit to user
Nama Peneliti/
Tahun
Judul
Penelitian Lokasi Metode Hasil Hutan
Mangrove Tugurejo Di Kota
Semarang
Beberapa Objek Penelitian
lingkungan masyarakat setempat terhadap KHMT, maka dapat dikatakan bahwa bentuk partisipasi masyarakat adalah manajemen sendiri (self management), karena terbentuk dengansendirinya atas kesadaran lingkungan masyarakat setempat
Ahmad Mughofar, Prabang Setyono, M.
Masykuri (2017)
Simpanan Karbon Serta Peran Masyarakat Dalam Konservasi Hutan Mangrove Karanggan- du
Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek
Karanggan -du Kecamat- an
Watulimo Kabupaten Trenggal- ek
Jenis Penelitian deskriptif kualitatif dan survey
lapangan dengan eksploratif.
Identifikasi mangrove pada 3 zonasi vegetasi yaitu zonasi
terbuka, zonasi tengah, dan zonasi daratan.
Pendugaan Karbon Mangrove dengan persamaan allometrik dan aspek sosial menggunak- an kuesioner, dan
wawancara
Ditemukan 12 jenis spesies mangrove Simpanan karbon pada batang hutan mangrove sebesar (630,29 tonC/ha), untuk zonasi I (103,51 ton C/ha), zonasi II (336,33 ton C/ha), dan zonasi III (190,45 ton C/ha). Tingkat peran
Masyarakat dalam
pengelolaan masih kurang dibandingkan dengan emanfaatan. Kelompok masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Kejung Samudra dan masyarakat lebih memanfaatkan ke bidang kowisata dan buah dijadikan sirup.
C. Kerangka Berpikir
Kawasan Teluk Jor Lombok Timur banyak ditumbuhi mangrove. Mangrove memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah penyerap dan penyimpan karbon.
Manfaat langsung dari mangrove sebagai penyerap dan penyimpan karbon perlu commit to user commit to user
dilestarikan. Vegetasi mangrove beserta tingkat kerusakan-kerusakan yang ada perlu di identifikasi sebagai langkah awal menentukan strategi pengelolaan yang sesuai untuk meminimalisir faktor kelemahan dan ancaman dalam upaya pengelolaan mangrove Teluk Jor Lombok Timur.
Gambar 3. Kerangka Berpikir Hutan Mangrove Teluk Jor,
Lombok Timur
Aspek Biotik (Mangrove)
Aspek Abiotik Meliputi: Suhu, Salinitas, pH, Kadar Air, dan kandungan bahan organik, Jenis
Substrat.
Aspek Abiotik, Biotik.
Kondisi Vegetasi Mangrove Aspek Sosial:
Tingkat Partisipasi Masyarakat.
Indeks Nilai Penting, Indeks Keanekaragaman, Dominansi dan
DBH SWOT
Stok Karbon Hutan Mangrove Teluk Jor Lombok Timur
Strategi pengelolaan hutan mangrove Teluk Jor Lombok Timur dalam menjaga kelestarian
serta fungsi serapan dan simpanan karbon
commit to user commit to user