BAB IV............................................................................................................................... 31
4.5 Faktor Penghambat Perempuan dalam Memimpin
Berbicara mengenai penghambat bagi perempuan untuk dapat maju sebagai pemimpin dalam sebuah kelompok khususnya dalam organisasi kampus, tidak terlepas dari kemampuan yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Mahasiswa saat ini tidak lagi berfokus pada laki-laki ataupun perempuan untuk dapat dijadikan sebagai seorang pemimpin, tetapi lebih fokus kepada kompetensi yang dimiliki oleh individu tersebut.
Dari beberapa hasil wawancara yang didapat menunjukkan bahwa kebanyakan penghambat bagi perempuan yang utama adalah diri sendiri, rasa yakin dan percaya diri sulit untuk hadir dalam diri perempuan, apalagi ditambah dengan stigma lingkungan yang hadir dapat membuat diri perempuan merasa bahwa dirinya tidak layak. Berbeda dengan lingkungan kampus yang saat ini sudah memiliki perkembangan dalam memahami pandangan gender terhadap lingkungan yang membuat para perempuan mampu dan percaya bahwa perempuan dapat menjadi seorang pemimpin. Seperti pendapat BF :
“Kalau internalnya dari diri sendiri dia kalau sudah yakin dan percaya diri otomatis dia bisa mencapai itu. tapi kadang inilah yang kurang dari perempuan, rasa percaya diri itu apalagi
80
untuk menjadi pemimpin kan. Kalau eksternalnya bisa dari dukungan sekitar, kalau lingkungan sekitar mendukung perempuan maju otomatis jalan perempuan untuk menjadi pemimpin tidak terhambat lagi. Kebetulan organisasi kami juga tidak terlalu menghambat kepemimpinan perempuan, kembali lagi selama dia mampu dan berkompeten kalau mau maju ya disilahkan.”
Dari pernyataan diatas, bahwa lingkungan organisasi juga memiliki peran penting dalam memberikan unsur-unsur positif bagi perempuan untuk dapat menimbulkan rasa yakin dan percaya diri dalam diri seorang perempuan. Lingkungan kampus saat ini sudah berkembang dengan sangat baik dalam pergerakan organisasi, sebab sudah memberikan ruang terbuka bagi perempuan untuk dapat berpartisipasi besar dalam pergerakan organisasi. Hal tersebut ditambah dengan kemampuan perempuan yang tidak dimiliki laki-laki seperti cara mengamati situasi.
Terbukti bahwa faktor terbesar yang dapat menghmabat perempuan untuk bisa menjadi pemimpin adalah stigma masyarakat yang masih banyak memandang perempuan dengan sebalah mata, ditambah lagi dengan ajaran patriarki yang tidak memberikan peluang kepada perempuan untuk berkembang. Namun di perkembangan saat ini masyarakat khususnya mahasiswa yang berperan dalam organisasi tidak mengedepankan stigma budaya terhadap pergerakan organisasi mereka.
Lingkungan yang egaliter dan peka gender memiliki peran besar untuk dapat memberikan kesempatan bagi perempuan untuk dapat berkembang. Dapat dikatakan bahwa lingkungan yang seperti inilah yang diidamkan bagi zaman milenial saat ini.
Dengan begitu laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk dapat berkembang sesuai kemampuan dan keinginannya. Tidak ada pembatasan dan pengekangan hak, terlebih lagi pada perempuan.
81
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Keberadaan perempuan dalam ruang publik khusuusnya dalam organisasi sudah banyak mendapatkan perhatian bagi para mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Hal tersebut terbukti bahwa adanya perempuan yang berdiri sebagai pemimpin dalam organisasi yang dipertimbangkan dengan kemampuan dan kompetensi yang ada dalam diri perempuan.
Dari keseluruhan data dan pembahasan maka didapatkanlah kesimpulan dari peneliti sebagai berikut :
1. Budaya patriarki dalam lingkungan kampus maupun organisasi perlahan sudah mulai terkikis dengan perkembangan dan pendidikan yang saat ini diterima oleh para mahasiswa.
2. Kepemimpinan dalam organisasi diunjuk berdasarkan kemampuan dan kompetensi yang ada dalam diri calon pemimpinn organisasi, bukan lagi mengedepankan budaya patriarki.
3. Bahkan dalam organisasi kerohanian khususnya kerohanian Kristen yang rata-rata menganut budaya patriarki, sejauh ini sudah memiliki 4 pemimpin perempuan yang sampai saat ini masih memimpin pergerakan organisasi.
4. Berbagai pendapat dari informan laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki khas dan gaya sendiri dibanding laki-laki. Dimana perempuan dapat mengkombain antara feminis dan maskulinitas dalam kempemimpinannya.
82
5. Peran gender perempuan seperti tekun, cerewet, memiliki sikap keibuan dianggap menjadi point utama bagi perempuan dalam memimpin. Hal tersebut dapat menjalin keakraban pemimpin dengan para anggotanya dengan baik.
Adapun saran-saran yang dapat diberikan sebagai berikut :
1. Laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama penting dalam melakukan pergerakan dan perkembangan organisasi menuju arah yang lebih baik. sebisa mungkin jangan timbul stigma bahwa saat ini perempuan mendominasi laki-laki pada saat berdiri sebagai pemimpin.
2. Perempuan diharap lebih memiliki sikap percaya diri yang tinggi agar kedepannya tidak ada lagi perempuan yang dianggap lemah dan tidak mampu berdiri sebagai seorang pemimpin.
3. Kedepannya laki-laki dan perempuan dapat bekerja sama dengan baik dalam memajukan organisasi untuk dapat bersaing dengan baik pada organisasi lain.
4. Pergeseran terhadap budaya patriarki dilingkungan kampus diharapkan dapat memberikan sosialiasi pada masyarakat agar stigma negatif pada perempuan perlahan terkikis.
83
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2011. “Penelitian Kualitatif Edisi Kedua (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya).” Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Gitosudarmo, Indriyo, da I Nyoman Sudita. 2010. “Perilaku Keorganisasian”. Cetakan Ketiga. Yogyakarta : BPFE.
Kartini, Kartini. 2003. “Pemimpin dan Kepemimpinan (Apakah Kepemimpinan Abnormal Itu). P.T Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Manulang. 2009. “Dasar dasar Manajemen.” Yogyakarta : Gajah Mada Iniversity Press Gitosudarmo, Indriyo, da I Nyoman Sudita. 2010. “Perilaku Keorganisasian”. Cetakan
Ketiga. Yogyakarta : BPFE.
Samsudin, Sadili 2009. ‘Manajemen Sumber Daya Manusia.” Bandung : Pustaka Setia Sondang P, Siagian. 2008. “Manajemen Sumber Daya Manusia.”Jakarta : Bumi Aksara Suyanto, Sutinah. (2005). “Metode Penelitian Sosial Sebagai Alternatif Pendekatan”.
Yogyaarta : Pustaka.
Umam, Khaerul. 2010. “Perilaku Organisasi.” Cetakan Pertama. CV. Pustaka Setia.
Bandung.
Sumber lain :
Daulay, Harmona. T. Ilham Saladin. 2017. “Pemimpin Perempuan Dalam Masyarakat Patriarki Lokal Di Daerah Sekitar Perkebunan (Studi Kasus Di Desa Karang Baru, Kecamatan Talawi, Kabupaten BatuBara, Sumatera Utara)”. USU
Dewi, Rizki Arum. 2017. “Kepemimpinan Perempuan dalam Kemajuan Desa Totokarto Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu.”. Institut Agama Islam Raden Intan.
Lampung.
Fitriani, Annisa. 2015. “Gaya Kepemimpinan Perempuan’. Vol. 11 No. 2. Jurnal TAPIs Habibah, St. 2015. “Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Gender”. Vol. 1 No. 1.
Sosioreligius
Hidayat, Taufik. 2015. “Faktor faktor Yan Mempengaruhi Keikutsertaan Berorganisasi Mahasiswa Fikes UMP”. Bachelor Thesis. Repository UMP.
Kollo, Fredik Lambertus. 2017. “Budaya Patriarki dan Partisipasi perempuan dalam bidang Politik”. Universitas Ahmad Dahlan. Yogyakarta
Miftahuddin. 2013. “Mahasiswa Ideal : Berprestasi, Berorganisasi dan Berbudi Pekerti . Sakina, Ade Irma dan Dessy Hasanah. 2017. “Menyoroti Budaya Patriarki Di Indonesia”.
Vol. 7 No. 1. Social Work Jurnal
84
Simatupang, Lenny I. F.W. 2009. “Kepemimpinan Perempuan Dalam Birokrasi”. Repository USU. Medan
Susanto, Nanang Hasan. 2015. “Tantangan Mewujudkan Kesetaraan Gender Dalam Budaya Patriarki”. Vol. 7 No. 2 Desember 2015. STAIN Pekalongan
Yolanda, Shela. 2017. “Isu Patriarki dan Isu Gender Pada Perempuan Dalam Birokrasi Lokal”. Repository USU. Medan
Yordani, Gabriel Lamhot. 2015. “Kemampuan Adaptasi Perempuan yang Mengalami Kekerasan dalam Pacaran”. Repository USU. Medan
2
3
4
5
6
7
8
9
10