• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV............................................................................................................................... 31

4.3 Nila-nilai Patriarki Dalam Kepemimpinan

4.3.1 Nilai-nilai Budaya Patriarki dalam Organisasi

55

Seiring perkembangan zaman, perlahan budaya patriarki dapat terkikis dengan hadirnya pendidikan. Pendidikan membuat masyarakat terutama kaum milenial sadar bahwa setiap pekerjaan, setiap posisi tidak selalu dan tidak harus mengutamakan laki-laki. Terutama dalam menduduki posisi dalam memimpin sebuah komunitas bahkan organisasi.

Seiring dengan berjalannya waktu, kaum milenial khususnya mahasiwa yang tergabung dalam organisasi dan komunitas dalam kampus sudah mulai dapat menilai bahwa perempuan itu mampu berdiri sebagai pemimpin. Alih-alih melihat hal tersebut dari jenis kelamin, mereka lebih memilih mengamati melalui kemampuan dan kompetensi yang dimiliki oleh setiap individu.

Perlahan para mahasiswa mulai dapat menerima perempuan sebagai pemimpin dalam organisasi dan budaya patriarki yang dominan perlahan mulai memudar.

SK adalah seorang ketua organisasi keagamaan rohani kristen dalam kampus. Mengingat bahwa keagamaan kristiani kebanyakan menganut budaya yang kental dengan budaya patriarki. SK bukanlah perempuan satu-satunya yang berhasil mengubah stigma dari budaya patriarki, sebelumnya dalam organisasi yang saat ini diikuti dua tahun kebelakang juga perempuan berdiri sebagai pemimpinnya.

Seperti yang dikatakan oleh SK :

“Budaya patriarki itu adalah budaya yang mendepankan laki-laki di lingkungan masyarakat, laki-laki-laki-laki yang menjadi pemimpin, laki-laki yang diprioritaskan dalam berbagai hal, jadi perempuan itu dianggap menjadi orang kedua dalam lingkungan. Tetapi dalam oraganisasi kami kalau budaya patriarki itu tidak terlalu terlihat ya, karena juga mahasiswa yang terlibat ya jadi semua menganggap teman tidak terlalu

56

membahas tentang hal-hal yang sensitif, kecuali senior yang udah tamat yah yang mungkin masih mantau.”

Pada awalnya juga tidak mudah berdiri sebagai pemimpin dalam lingkungan yang kebanyakan menganut budaya patriarki. Sebelum SK, tantangan yang berbau gender justru sering kali dibahas oleh para alumni yang sudah tidak terlalu fokus dalam mengurus organisasi. Untuk para anggotanya sendiri tidak terlalu memikirkan hal-hal yang berbau dengan gender.

Stigma yang saat ini banyak dipakai oleh masyarakat mengenai perlakuan negatif kepada perempuan justru sama sekali tidak dipakai dalam kehidupan berorganisasi dalam kampus. Hal tersebut membuktikan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam mengikis budaya-budaya yang tidak cocok dengan perkembangan saat ini.

Kontruksi yang menyatakan bahwa perempuan tidak layak berada pada ruang publik membuat perempuan jarang terlihat terlibat dalam kegiatan publik. Semua itu menjadi pembenaran perempuan tidak bisa berperan diruang publik, diharuskan tinggal dirumah demi kemanannya dan berkonsentrasi di wilayah domestik (Rahayu, Angger Wiji ; 2012). Namun di perkembangan zaman saat ini yang meninggikan peran emansipasi wanita dalam kehidupan publik membuat para perempuan memiliki kesempatan untuk dapat mengembangkan diri mereka sendiri. Hal tersebut terbukti pada beberapa organisasi di USU yang memiliki perempuan sebagai pemimpin dari organisasi, para mahasiswa tidak lagi memandang jenis kelamin untuk dijadikan sebagai pemimpin. Mahasiswa sudah bisa memberi posisi yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam ruang publik. Inilah alasan kenapa

57

para mahasiswa memberikan perempuan ruang dan posisi yang sama seperti laki-laki :

Tabel 4.2 Alasan memberikan perempuan ruang dan posisi yang sama dengan laki-laki

No. Nama Informan Alasan perempuan diposisikan sama seperti laki-laki

1. SN Saya setuju, karena kalau laki laki bisa kenapa perempuan tidak bisa. Tidak ada lagi alasan perempuan harus dibawah. Ini perspektif saya, karena saya tidak menganut budaya patriarki dan saya lebih ke feminism.

2. J Setuju, kalau untuk posisi sendiri seharusnya memposisikan sama antara laki laki dan perempuan, kalau membeda bedakan berdasarkan gender itu sangat tidak rasional menurut saya, karena semua orang itu harus diberikan kebebasan yang sama. Jadi ketika ingin memberikan posisi kerja atau apapun itu yang pertama kali dilihat adalah kemampuan dan integritas dari seseorang itu, bukan mengutamakan gender.

3. SK kalau dalam hal ini tu saya setuju diposisikan sama dalam mendapatkan hak, perempuan itu dapat memberikan pendapat, keputusan seperti halnya dengan laki-laki. Tapi kalau disamakan dalam segala hal ya saya juga kurang setuju, karena mau bagaimanapun kita harus tetap menghormati laki-laki sebagai kepala keluarga.

4. BF menurut saya hal tersebut tidak menjadi masalah, justru saya mendukung dan tidak membatasi hak hak perempuan. Dan saya termasuk memberi kesempatan terhadap kemajuan perempuan dalam segala hal, karena saya juga memiliki ibu dan adik yang hak hak nya tidak harus saya batasi.

58

5. NA kalau menurut saya itu sesua dengan

kapasitasnya, kalau hal tesrebut berhubungan dengan peran sosial itu saya sangat setuju sekali tanpa mengurangi rasa hormat perempuan terhadap laki laki. Jadi perempuan itu bisa mengambil peran dan posisi laki laki dan perempuan itu tidak harus terus berada dirumah, karena perempuan juga bisa mencari pekerjaan yang sama dengan laki laki. Tetapi dalam kondisi lain saya tidak setuju kalau diposisikan sama antara laki laki dan perempuan, seperti contoh kalau perempuan kan ga mungkin jadi imam. Jadi kalau menurut saya bisa diposisikan sama antara laki laki dan perempuan jika berada dalam lingkungan sosial.

6. EU kalau saya sih antara setuju dan tidak sih.

Kalau dibilang setuju, ada beberapa aspek yang harusnya laki laki dan perempuan itu bisa diposisikan sama, misalnya seperti menempuh penddikan yang sama, dalam organisasi dapat menduduki posisi yang sama. Tapi kalau dalam rumah tangga, tentunya laki laki yang harus memiliki kedudukan yang tinggi dan tidak bisa diposisikan sama dengan perempuan.

7. JF kalau dalam hal kepemimpinan hal ini gabisa dibatasi ya untuk perempuan. Sekarang pun laki-laki dan perempuan itu bisa maju tergantung skill yang dia punya. Jadi ya seharusnya juga bukan laki-laki yang selalu diunggulkan, bahwa perempuan juga bisa.

8. MY setuju, karena menurut saya itu ya laki laki dan perempuan itu sama aja ga ada yang membedakannya, ang membedakannya itu Cuma jenis kelaminnya aja. Karena sama aja sih kualitas dari perampuan dan laki laki, sama sama bisa memimpin, sama sama bisa mendapati pendidikan yang layak.

9. ZS sebenarnya kalau saya sendiri karena saya muslim hal tersebut ya masih ada perdebatan yang terjadi, antara perempuan dan laki laki itu bisa diposisikan sama. Kalau untuk dunia pekerjaan, pendidikan atau setiap kegiatan sosial di masyarakat, saya rasa bisa sama.

Tapi kalau dalam rumah tangga mengenai siapa yang memiliki peran paling banyak,

59

lebih bertanggung jawab itu ya laki laki.

Menurut saya agama itu cukup melindungi perempuan, dan saya percaya hal itu tidak bisa dikatakan sama.

10. YE kalau setuju ya pasti setuju, karena kalau kita lihat perjuangan para pahlawan perempuan pada era kartini dan lainnya, mereka memperjuangkan hak perempuan, ada yang memperjuangkan hak pendidikan dan ada juga yang memperjuangkan perempuan dalam hal politik. Jadi ya pasti setujulah kalau perempuan dapat diposisikan sama seperti laki-lak. Tetapi ada beberapa aspek yang tidak bisa untuk diposisikan sama, misalnya dalam hal keluarga, kan kalau dalam keluarga itu kepala keluarga adalah seorang laki-laki ga mungkin perempuan kan.

Dari hasil wawancara diatas terbukti bahwa pemikiran mahasiswa semakin terbuka atas stigma masyarakat yang menjebak bahwa perempuan hanya harus bekerja dalam lingkup domestik, seperti mengurus rumah, bekerja didapur, mengurus anak dan sebagainya. Pada kenyataannya perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Di ruang publik perempuan dapat menduduki posisi yang sama dengan laki-laki.

Posisi yang didapat oleh seorang perempuan tidak seharusnya dapat perbedaan dengan laki-laki. Perempuan juga ingin memiliki posisi yang diinginkan, bahkan juga menginginkan menduduki posisi laki-laki dalam ruang publik, seperti halnya berdiri sebagai seorang pemimpin. Jika hal tersebut tidak diberikan kepada perempuan, mahasiswa berpendapat samasaja dengan peminggiran hak-hak perempuan.

Beberapa organisasi yang fokus dalam pengembangan skill seperti USD, dapat dikatakan bahwa budaya patriarki sudah hampir tidak terlihat lagi.

60

Hal tersebut terbukti dengan pendapat salah satu anggota perempuan USD yang saat itu menduduki posisi kepala bidang archive :

“... Dan untuk USD sendiri budaya ini hampir tidak terlihat lagi sih, karena kalau lagi latihan debat gitukan sering bawa isu-isu gender, kayak budaya patriarki ini jadi kalau ada orang yang nganut budaya itu diawalnya join pasti lama-lama dia keluar, gatahan atau bisa dibilang ga siap mental ketika harus membahas hal seperti itu.”

Hal tersebut terbukti bahwa bagi beberapa individu yang memiliki budaya patriarki yang kental dan menjunjung stigma masyarakat yang menyatakan bahwa laki-laki yang berhak berkuasa tidak akan mampu bersaing dengan keadaan berorganisasi yang saat ini mahasiswa membebaskan siapapun berhak mendapatkan posisi yang layak sesuai dengan kemampuannya.

Dokumen terkait