HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Kejadian Kebakaran Hutan
5.1.2. Faktor Penyebab Kebakaran Hutan di KPH Cepu
Pada musim kemarau yang cukup panjang gangguan kebakaran hutan yang disebabkan karena aktivitas manusia merupakan masalah yang tidak mudah dipecahkan. Di KPH Cepu diketahui bahwa penyebab dari kebakaran hutan yaitu aktivitas manusia baik yang disengaja untuk mengalihkan perhatian petugas pada waktu mencuri kayu, penyiapan lahan pertanian pada kawasan hutan, pengembalaan liar atau ketidak sengajaan orang yang masuk hutan dan menyalakan api kemudian ditinggalkan. Selain adanya sumber api yang berasal dari aktivitas manusia kebakaran hutan ini juga didukung oleh beberapa faktor seperti kondisi iklim dan ketersediaan bahan bakar.
Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson KPH Cepu termasuk ke dalam tipe iklim C dan D yaitu daerah kering dengan temperatur rata-rata yaitu 26ºC. Curah hujan rata-rata-rata-rata berkisar sekitar 1.551 mm/tahun. Kejadian kebakaran hutan di KPH Cepu ini biasa terjadi pada bulan Juni hingga September, bulan-bulan ini merupakan bulan kering dengan rata-rata curah hujan sebesar
27 mm/bulan. Rata-rata curah hujan tertinggi jatuh antara bulan Desember sampai awal April rata-rata sebesar 219 mm/bulan, bulan ini tergolong bulan basah.
Adapun data distribusi curah hujan dan hari hujan kecamatan Cabak (KPH Cepu) tahun 2003-2007 dapat dilihat pada Gambar 8.
111 74 234 149 89 11 7 16 206 223 259 173 8 6 10 4 1 1 0 4 6 11 13 14 0 50 100 150 200 250 300
Jan Feb Mart Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Bulan Ra ta -r a ta Cu ra h Hu ja n 0 2 4 6 8 10 12 14 16 R a ta -r a ta H a ri Hu ja n CH HH
Gambar 8 Curah hujan rata-rata Kecamatan Cabak Kabupaten Blora periode 2003-2007
Faktor cuaca merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya kebakaran hutan baik langsung maupun tidak langsung ditinjau dari aspek temperatur dan kelembaban udara, serta arah dan kecepatan tiupan angin. Menurut Chandler et al. (1983), faktor cuaca dan iklim yang mempengaruhi kebakaran hutan yaitu masa dan gelombang udara, temperatur udara, kelembaban atmosfer, awan dan hujan, angin, petir dan stabilitas atmosfer.
Besar kecilnya curah hujan di suatu lingkungan akan mempengaruhi kadar air bahan bakar. Curah hujan yang tinggi mengkondisikan lingkungan menjadi lembab. Sebaliknya curah hujan yang rendah akan menyebabkan udara kering dan menyerap uap air dari bahan bakar, yang pada akhirnya menentukan mudah tidaknya bahan bakar tersebut untuk terbakar. Apabila kadar air bahan bakar rendah maka akan berpotensi besar untuk terjadi kebakaran, karena pada bahan bakar yang kering api mudah menyala.
Bahan bakar di tegakan Jati KPH Cepu pada musim kemarau seperti serasah dedaunan, tumbuhan bawah dan ranting-ranting yang kering sangat melimpah jumlahnya, dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Serasah dan tumbuhan bawah
Didukung dengan temperatur udara yang panas dan hembusan angin di musim kemarau maka bahan bakar tersebut akan berpotensi tinggi untuk terbakar apabila ada aktivitas penyulutan api. Meskipun areal topografi KPH Cepu relatif datar tetapi kebakaran sulit dikendalikan seperti pada peristiwa kebakaran tahun 1997 yang mencapai luas 1.158,52 Ha, hal ini karena bahan bakar pada lantai hutan tersedia cukup melimpah dan sangat mudah terbakar.
Kebakaran hutan selain dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas bahan bakar, juga sangat ditentukan oleh keadaan iklim hutan setempat. Iklim mikro dalam hutan dipengaruhi oleh kerapatan, jenis dan tinggi pohon. Iklim mikro akan berpengaruh terhadap kerawanan kebakaran di suatu daerah, sebab iklim mikro yang meliputi angin, suhu, kelembaban udara akan menentukan mudah tidaknya kejadian kebakaran hutan (Yunus, 2005).
KPH Cepu merupakan areal hutan tanaman yang bersifat homogen, kerapatan tanaman diatur sedemikian rupa supaya menghasilkan kualitas kayu yang lebih baik dan sejumlah jenis tumbuhan bawah tertentu yang dapat tumbuh sesuai dengan keadaan lingkungan, berbeda dengan kondisi hutan alam yang memiliki karagaman jenis tanaman lebih banyak dan tumbuh secara bebas, sehingga kerapatan dan jumlah jenis lebih tinggi. Kondisi seperti ini akan mempengaruhi iklim mikro suatu areal hutan, diantaranya suhu lingkungan lebih tinggi dan kelembaban udara lebih rendah pada hutan tanaman dibanding dengan areal hutan alam. Dengan demikian kejadian kebakaran hutan lebih sering terjadi pada hutan tanaman dibandingkan pada hutan alam serta didukung juga oleh aksesibilitas yang lebih tinggi pada hutan tanaman dibanding hutan alam.
Berdasarkan pengamatan di lapangan tipe kebakaran yang sering terjadi di hutan Jati KPH Cepu tergolong Surface Fire (kebakaran permukaan) yang ditandai dengan terbakarnya serasah dan tumbuhan bawah pada lantai hutan, abu yang dihasilkan berwarna hitam, tinggi hangus pada batang pohon Jati berkisar antara 0,5-3 meter, dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Pohon Jati (Tectona grandis) terbakar KU I dan KU V
Brown dan Davis (1973), menyatakan bahwa kebakaran permukaan yaitu sumber api yang membakar serasah permukaan, daun dan ranting jatuh, dan bahan bakar lain di permukaan hutan serta vegetasi rendah lainnya. Proses pembakaran permukaan ini umumnya merupakan awal terjadinya kebakaran yang lebih luas, baik kebakaran bawah maupun kebakaran tajuk.
Demikian juga kebakaran yang terjadi di KPH Cepu pada musim kemarau bisa terjadi lebih hebat apabila tidak segera dilakukan penanganan. Adanya sekat bakar yang berupa tanaman pagar seperti Secang (Caesalpinia sappan), Kesambi dan jalur antar petak kurang begitu berpengaruh. Karena ketersediaan bahan bakar sangat melimpah yang hampir menutupi lantai hutan, adanya aktivitas penyulutan api secara bebas serta kondisi iklim musim kemarau yang sangat mendukung.
5.2. Dampak Kebakaran Hutan terhadap Vegetasi
Pengaruh api terhadap pohon menurut Davis (1959) bahwa kebakaran hutan yang berlangsung lama dan intensif dapat mengakibatkan kematian bagi pohon-pohon hutan. Pengetahuan tentang perbedaan sifat antara berbagai jenis
pohon terutama tingkat kepekaannya terhadap api adalah penting sehubungan dengan kegiatan-kegiatan pembakaran yang kini banyak dilakukan.
Dampak kebakaran hutan lainnya yaitu kerusakan atau kematian anakan pohon dan semai yang ada di hutan karena suhu yang tinggi serta penurunan produktivitas hutan yang disebabkan banyaknya kayu yang terbakar sehingga secara ekonomis nilainya menurun.
Selain dampak kebakaran yang merusak ada juga jenis-jenis tertentu yang dapat bertahan keberadaannya bergantung terhadap kejadian kebakaran. Hal ini ditunjukkan oleh adanya sifat adaptasi vegetasi terhadap api seperti, ketebalan kulit kayu, tunas yang terlindung, pertunasan yang distimulan api, penyebaran biji oleh api dan perkecambahan biji yang dibantu oleh api.
Menurut Kerbert dalam Rachmatsjah, (1984) bahwa kebakaran yang berlangsung berabad-abad dan kontinu di hutan jati ada manfaatnya yaitu karena bersifat selektif, hanya pohon-pohon yang tahan api saja antara lain tanaman jati yang dapat hidup terus. Pembakaran di hutan jati dianjurkan, karena dapat memupuk tanah, membantu pertumbuhan biji jati, mempermudah pengumpulan biji jati pada areal kebun benih serta memudahkan penyaradan kayu Jati saat pemenenan.
Sedangkan pengaruh kebakaran hutan jati di Indonesia menurut Cordes dalam Rachmatsjah, (1984) bahwa kebakaran permukaan tidak akan merusak pohon-pohon jati, hanya pada pohon yang sudah tua dan berlubang serta pada tanaman jati muda kerusakan dapat terjadi.
Tanaman Jati memiliki lapisan kulit cukup tebal (1-2 cm), serta struktur kayu yang padat maka pada tanaman kelas umur tua (KU V ke atas) kebakaran hutan yang terjadi tidak begitu berpengaruh. Tetapi berbeda dengan kelas umur muda (KU I) akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya bahkan sampai terjadi kematian anakkan, hal ini akan sangat merugikan bagi pihak pengelola hutan. Kondisi demikian menyebabkan kurangnya penanganan apabila terjadi kebakaran hutan pada KU tua tetapi lebih mengutamakan penanganan pada KU muda, karena kerusakan yang terjadi dianggap tidak berpengaruh besar. Dari hasil pengamatan kerusakan yang terjadi pada areal bekas kebakaran tahun 2005 dan 2006 pun relatif ringan karena hanya terdapat kerusakan hangus dan luka pada
bagian kuli luar, serta akar sehinga tidak menyebabkan kematian pada pohon. Tetapi untuk hutan tanaman yang tujuannya produksi hal ini akan menyebabkan penurunan kualitas kayu dan mengalami kerugian secara ekonomi.
Begitu pula dengan biji jati, memiliki lapisan kulit luar yang keras sehingga apabila semaikan secara buatan sebelumnya harus diberi perlakuan seperti di panaskan sampai kulitnya pecah atau direndam menggunakan larutan tertentu yang akan menstimulan perkecambahan. Oleh karena itu sebagian orang menganggap dengan cara pembakaran merupakan solusi yang murah dan singkat untuk menumbuhkan permudaan baru, tanpa mempertimbangkan kerugian lain.
Untuk mengetahui nilai besar atau kecilnya kerusakan akibat kebakaran hutan terhadap vegetasi diperlukan indikator dan parameter yang menggambarkan kondisi kerusakan. Nilai kerusakan ini merupakan informasi penting untuk menggambarkan kondisi kesehatan hutan yang akan menentukan kebijakan pengelolaan hutan selanjutnya supaya kelestarian tercapai.
Kriteria kondisi vegetasi memiliki tiga indikator, yaitu kerusakan pohon, tingkat keparahan vegetasi, dan keanekaragaman vegetasi (Syaufina et al., 2006). Indikator kerusakan pohon terdiri dari beberapa parameter, yaitu kematian pohon, kerusakan batang, kerusakan tajuk, kerusakan cabang, kerusakan daun dan kerusakan akar.
Dari parameter tersebut untuk menilai kondisi vegetasi tegakan Jati akibat kebakaran hutan di KPH Cepu hanya menggunakan sebagian parameter diantaranya, kematian pohon, kerusakan batang dan kerusakan akar. Hal ini disebabkan karena sifat morfologi tanaman Jati yang menggugurkan daunnya di saat musim kemarau sehingga parameter lain seperti kondisi tajuk dan kerusakan cabang serta ranting tidak dapat menggambarkan kerusakan akibat kejadian kebakaran hutan.
Adapun hasil pengamatan kerusakan pohon di areal bekas kebakaran hutan tahun 2005 dan 2006 RPH Pasarsore dan RPH Cabak, KPH Cepu tegakan Jati kelas umur muda (KU I) dan kelas umur tua (KU V) dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Kerusakan pohon jati pada areal bekas terbakar tahun 2005 dan 2006
Jumlah Pohon Rusak
KU Tipe Kerusakan Tahun
2005
Tahun 2006
1. Kerusakan batang
a. Bagian terbakar
*Batang bagian bawah dan bagian atas terbakar 6 107 *Batang bagian bawah terbakar 78 45 *Batang tidak terbakar 424 122 b. Jenis kerusakan
*Hangus dan luka 82 147
*Hangus terbakar 4 5
*Luka *Tidak hangus dan tidak luka 422 122
2. Kerusakan akar :
*Mengalami luka dan terbakar 51 77
*Terbakar 4 3
*Luka
I
*Tidak luka dan tidak terbakar 453 194
Jumlah 141 208
2. Kerusakan batang
a. Bagian terbakar
*Batang bagian bawah dan bagian atas terbakar 49 26 *Batang bagian bawah terbakar 1 5 *Batang tidak terbakar 4 8 b. Jenis kerusakan
*Hangus dan luka 50 30
*Hangus terbakar 1
*Luka *Tidak hangus dan tidak luka 4 8
1. Kerusakan akar :
*Mengalami luka dan terbakar 43 17
*Terbakar 2
*Luka
V
*Tidak luka dan tidak terbakar 11 20
Jumlah 54 39
Dari data di atas terlihat bahwa jumlah pohon yang rusak pada KU I akibat kebakaran hutan tahun 2005 sebanyak 141 pohon, pada areal bekas kebakaran tahun 2006 sebanyak 208 pohon. Jumlah pohon yang rusak pada KU V akibat kebakaran tahun 2005 sebanyak 54 pohon serta pada areal bekas kebakaran tahun 2006 sebanyak 39 pohon.
Berdasarkan lokasi kerusakan, jumlah pohon yang rusak dapat dilihat pada Gambar 11. 6 78 43 107 45 19 0 20 40 60 80 100 120 Batan g bag ian ba wah & atas Batan g bag ian ba wah kerus akan akar Lokasi kerusakan J u m la h po hon Tahun 2005 Tahun 2006
Gambar 11 Kerusakan pohon berdasarkan lokasi kerusakan
Gambar menunjukan kerusakan banyak terjadi pada bagian batang bawah dan atas, batang bagian atas ini hanya sebagian tidak sampai pada cabang utama.. Pada areal terbakar tahun 2005 pohon yang mengalami kerusakan paling banyak yaitu pada batang bagian bawah sebanyak 78 pohon dan pada tahun 2006 yaitu pada batang bagian bawah dan atas sebanyak 107 pohon. Kondisi ini menunjukan kebakaran yang terjadi merupakan kebakaran permukaan dan pada rentang 2 tahun dari kejadian kebakaran (2005) terlihat telah ada pemulihan kerusakan pada batang yang hangus dan luka karena terbakar.
Selain pada lokasi kerusakan penilaian juga dilakukan pada tipe/jenis kerusakan, berdasarkan tipe/jenisnya jumlah pohon yang mengalami kerusakan dapat dilihat pada Gambar 12.
82 4 51 4 147 5 77 3 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Batan g Han gus d an lu ka Batan g Han gus t erbak ar Batan g Luk a Akar luka d an te rbaka r Akar Terba kar Luka Tipe/Jenis Kerusakan J u m la h poh on Tahun 2005 Tahun 2006
Gambar 12 Kerusakan pohon berdasarkan tipe kerusakan
Dilihat dari gambar tipe kerusakan yang paling umum terjadi yaitu batang hangus dan luka serta akar luka dan terbakar. Kerusakan yang paling sedikit yaitu akar terbakar, khususnya akar yang nampak pada permukaan tanah.
Kebakaran hutan dapat menyebabkan kerusakan pada vegetasi secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung kebakaran hutan dapat menyebabkan kematian, dan luka pada vegetasi, secara tidak langsung yaitu vegetasi yang rusak akan mudah terserang hama penyakit dalam jangka waktu tertentu.
Pengukuran dampak kebakaran hutan pada vegetasi di hutan tanaman tidak hanya dilakukan pada tanaman inti, dilakukan juga penilaian pada tumbuhan bawah. Analisis pada tumbuhan bawah dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis, kekayaan jenis dan kemerataan jenis tumbuh setelah terjadi kebakaran hutan tahun 2005 dan 2006. Dari hasil analisis tumbuhan bawah yang ditemukan di tegakan Jati KPH Cepu setelah kebakaran tahun 2005 dan 2006 dapat dilihat pada Tabel 9.
Dari hasil analisis tumbuhan bawah di tegakan Jati klaster bekas terbakar tahun 2005 (KU I dan KU V) ditemukan 11 jenis, dan pada klaster bekas kebakaran tahun 2006 (KU I dan KU V) ditemukan 10 jenis. Jenis paling dominan pada masing-masing klaster yaitu Rumput lorotan (Centotheca
lappacea) sebanyak 122 individu (klaster 2005) dan Kirinyuh (Chromolaena odorata) 65 individu (klaster 2006).
Dari perhitungan Indeks Kekayaan Jenis, klaster bekas terbakar tahun 2005 (KU I dan KU V) memiliki nilai sebesar 1,098 dan 1,52 klaster bekas kebakaran tahun 2006 (KU I dan KU V) memiliki nilai sebesar 1,344 dan 1,410. Untuk Indeks Keranekaragaman Jenis, klaster bekas terbakar tahun 2005 (KU I dan KU V) masing-masing sebesar 1,104 dan 1,132 klaster terbakar tahun 2006 (KU I dan KU V) masing-masing sebesar 1,344 dan 1,410. Indeks Kemerataan Jenis, klaster bekas terbakar tahun 2005 (KU I dan KU V) masing-masing sebesar 0,567 dan 0,544. klaster terbakar tahun 2006 (KU I dan KU V) masing-masing sebesar 0,47 dan 0,48.