• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Kecelakaan Kerja

2.3.2. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Menurut Suma’mur dalam Yustini (2009) menyatakan bahwakecelakaan kerja

yang terjadi dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu :

a. Faktor manusia meliputi aturan kerja, kemampuan pekerja (usia, masa kerja /

pengalaman, kurangnya kecakapan dan lambatnya mengambil keputusan), disiplin

kerja, perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kecelakaan, ketidakcocokan fisik

dan mental. Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena sikap

yang tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak mengindahkan instruksi,

kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar. Kekurangan

kecakapan untuk mengerjakan sesuatu karena tidak mendapat pelajaran mengenai

pekerjaan. Kurang sehat fisik dan mental seperti adanya cacat, kelelahan dan

penyakit.

b. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan

alatpelindung, alat pelindung tidak pakai, alat-alat kerja yang telah rusak.

Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja. Faktor-faktorkeadaan

lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan kerja terdiri dari pemeliharaan

rumah tangga (house keeping), kesalahan disini terletak pada rencana tempat kerja,

cara menyimpan bahan baku dan alat kerja tidak pada tempatnya, lantai yang kotor

dan licin. Ventilasi yang tidak sempurnasehingga ruangan kerja terdapat debu,

yang tidak sempurna misalnya ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada

pencahayaan setempat.

Menurut Benny dan Achmadi dalam Yustini (2009) penyebab kecelakaan

kerja dikelompokkan sebagai berikut :

1. Faktor Lingkungan Kerja (Work Environment)

a. Faktor Kimia

Disebabkan oleh bahan baku produksi, proses produksi dan hasil produksi suatu

kegiatan usaha. Untuk golongan kimia dapat digolongkan kepada benda-benda

mudah terbakar, mudah meledak dan lainnya.

b. Faktor Fisik

Misalnya penerangan yang cukup baik di luar ruangan maupun di dalam

ruangan, panas kebisingan dan lainnya.

c. Faktor Biologi

Dapat berupa bakteri, jamur, mikro-organisme lain yang dihasilkan dari bahan

baku proses produksi dan proses penyimpanan produksi, dapat juga berupa

binatang-binatang pengganggu lainnya pada saat berada di lapangan atau

kebun.

d. Faktor Ergonomi

Pemakaian atau penyediaan alat-alat kerja, apakah sudah sesuai dengan

keselamatan kerja sehingga pekerja dapat merasakan kenyamanan saat bekerja.

Ergonomi terutama dikhususkan sebagai perencanaan dari cara kerja yang baik

e. Faktor Psikologi

Perlunya dibina hubungan yang baik antara sesama pekerja dalam lingkungan

kerja, misalnya antara pimpinan dan bawahan.

2. Faktor Pekerjaan

a. Jam Kerja

Yang dimaksud jam kerja adalah jam waktu bekerja termasuk waktu istirahat

dan lamanya bekerja sehingga dengan adanya waktu istirahat ini dapat

mengurangi kecelakaan kerja. Menurut Undang-undang RI Nomor 13 Tahun

2003 tentang Ketenagakerjaan pada pasal 77 ayat 2 (dua) huruf a dan b tentang

waktu kerja , menyebutkan :

a. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6

(enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau

b. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu

untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

b. Pergeseran Waktu

Pergeseran waktu dari pagi, siang dan malam dapat mempengaruhi terjadinya

peningkatan kecelakaan akibat kerja.

3. Faktor Manusia (Human Factor)

a. Umur Pekerja

Penelitian dalam test refleks memberikan kesimpulan bahwa umur mempunyai

pengaruh penting dalam menimbulkan kecelakaan akibat kerja. Ternyata

golongan umur muda mempunyai kecenderungan untuk mendapatkan

reaksi lebih tinggi. Akan tetapi untuk jenis pekerjaan tertentu sering merupakan

golongan pekerja dengan kasus kecelakaan kerja tinggi, mungkin hal ini

disebabkan oleh karena kecerobohan atau kelalaian mereka terhadap pekerjaan

yang dihadapinya.

b. Pengalaman Bekerja

Pengalaman bekerja sangat ditentukan oleh lamanya seseorang bekerja.

Semakin lama dia bekerja maka semakin banyak pengalaman dalam bekerja.

Pengalaman kerja juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Pengalaman

kerja yang sedikit terutama di perusahaan yang mempunyai resiko tinggi

terhadap terjadinya kecelakaan kerja akan mengakibatkan besarnya

kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

c. Tingkat Pendidikan dan Keterampilan

Pendidikan seseorang mempengaruhi cara berpikir dalam menghadapi

pekerjaan, demikian juga dalam menerima latihan kerja baik praktek maupun

teori termasuk diantaranya cara pencegahan ataupun cara menghindari

terjadinya kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja dapat juga disebabkan perilaku pekerja dalam melaksanakan

aktivitasnya. Menurut Notoadmodjo (2007), perilaku seseorang terdiri dari

pengetahuan, sikap dan tindakan.

1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran dengan melibatkan indra

penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecap. Pengetahuan akan memberikan

berperilaku. Perilaku yang baru diadopsi oleh individu akan bisa bertahan lama dan

langgeng jika individu menerima perilaku tersebut dengan penuh kesadaran, didasari

atas pengetahuan yang jelas dan keyakinan (Setiawati dan Dermawan, 2008).

2. Sikap

Menurut Azwar (2007), sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau

kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau

secara sederhana, sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah

terkondisikan.

Menurut Allport dalam Notoatmodjo (2007), sikap itu terdiri dari 3 komponen

pokok, yaitu :

a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek, artinya bagaimana

keyakinan dan pendapat seseorang terhadap objek.

b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya bagaimana

penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.

c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave), artinya sikap merupakan

komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka.

Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh

(total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,

keyakinan, dan emosi memegang peranan penting dalam melaksanakan suatu

aktiviatas (pekerjaan).

3. Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour).

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas

(Notoatmodjo, 2007). Mengingat sikap itu belum berupa tindakan, maka untuk dapat

mewujudkan sikap menjadi tindakan dibutuhkan tingkatan-tingkatan tindakan, yaitu :

1. Persepsi

Individu mulai membentuk persepsi dalam proses pikirnya tentang suatu tindakan

yang akan diambil.

2. Terpimpin

Persepsi yang sudah ada pada seseorang akan ditindaklanjuti dengan kegiatan

secara berurutan.

3. Mekanisme

Kegiatan atau tindakan yang sudah dilakukan secara benar dengan tepat dan cepat,

akan dilakukan kembali tanpa harus diperintah atau ditunggui.

4. Adopsi

Kegiatan yang sudah dilakukan secara otomatis selanjutnya individu akan

mengembangkan kegiatan tersebut dengan tidak mengurangi makna dan tujuan

dari kegiatan tersebut (Setiawati dan Dermawan, 2008).

Standard operasional prosedur (SOP) adalah panduan hasil kerja yang diinginkan

serta proses kerja yang harus dilkasanakan. SOP dibuat dan didokumentasikan

dengan baik oleh pekerja. Alat pelindung diri (APD) adalah kelengkapan yang

wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga

keselamatan pekerja itu sendiri dan orang disekitarnya. Pengarahan adalah suatu

proses pembimbingan, pemberian petunjuk, dan intruksi kerja kepada bawahan

kerja adalah tempat dimana karyawan melakukan aktivitas setiap harinya.

Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan

karyawan untuk dapat bekerja optimal. (Subroto 2005)

Dokumen terkait