TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tidur
2.2.3 Faktor Penyebab Kecemasan
kehilangan objektifitas, takut kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual, takut cidera atau kematian.
d. Afektif
Responnya berupa mudah terganggu, tidak sabar, gelisah dan tegang, ketakutan, gugup, dan gangguan tidur.
2.2.3 Faktor Penyebab Kecemasan
a. Faktor Predisposisi
Berikut beberapa teori untuk menjelaskan asal ansietas menurut Stuard & Sudden(2006).
1) Teori Psikoanalitis
Dalam teori psikoanalitis, kecemasan merupakan konflik yang terjadi antara elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya.
2) Teori interpersonal
Teori interpersonal menjelaskan bahwa kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal, berhubungan dengan perkembangan trauma seperti perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan kerentanan terutama individu dengan harga diri rendah.
25
3) Teori Perilaku
Teori perilaku mengemukakan bahwa kecemasan merupakan hasil frustasi, yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
4) Teori Keluarga
Teori keluarga menjelaskan bahwa gangguan cemas biasanya terjadi dalam keluarga.
5) Teori Biologis
Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan dalam mekanisme biologi yang berhubungan dengan cemas.
b. Faktor Presipitasi
Stressor pencetus berasal dari sumber internal dan eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu ancaman terhadap integritas fisik dan terhadap sistem diri (Stuart, 2006).
1. Ancaman terhadap integritas fisik
Meliputi menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri
Seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi.
26 2.2.4 Tingkat Kecemasan
Rentang respon kecemasan (Stuart, 2006).
Berikut tingkat kecemasan menurut Stuart (2006). a. Kecemasan Ringan
Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya sehingga meningkatkan motivasi belajar dan kreativitas.
b. Kecemasan Sedang
Kecemasan sedang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, menyebabkan lapang persepsi individu menyempit.
c. Kecemasan Berat
Kecemasan berat sangat mengurangi lapang persepsi individu, cenderung berfokus pada hal yang rinci dan spesifik, serta tidak bisa berpikir tentang hal lain.
d. Kecemasan Panik
Kecemasan panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Individu mengalami kehilangan kendali.
27 2.2.5 Kecemasan Ibu Hamil
Menurut Prillia Detiana (2010), kecemasan selama kehamilan adalah: a. Trimester pertama
Trimester pertama ini sering dirujuk sebagai masa penentuan. Penegasan bahwa wanita tersebut sedang mengandung calon manusia. Perubahan dalam harapan-harapan seperti rancangan karier, kebebasan individu dan seorang ibu akan menghinggapi perasaan seseorang wanita saat hamil. Perubahan tersebut akan membuat wanita menjadi gusar, cemas, ketakutan hingga panic.
b. Trimester kedua
Trimester kedua sering dikatakan sebagai “periode pancaran kesehatan”. Ini disebabkan karena di trimester ini wanita umumnya
merasakan lebih baik dan terlepas dari ketidak nyamanan biasanya dialami selama kehamilan. Pada masa ini wanita cenderung untuk memikirkan kesehatan kandungannya, keadaan janin dan berfantasi angan-angan yang akan dicapainya pada kelahiran nanti.
c. Trimester ketiga
Trimester ketiga disebut “periode menunggu, penantian dan waspada”. Karena pada saat trimester ini ibu biasanya tidak sabar
menunggu kelahiran bayinya. Namun pada periode ini sebagian besar wanita hamil akan merasakan cemas karena sang ibu mengkhawatirkan proses persalinan dan bagaimana anak yang akan dilahirkannya nanti.
28 2.2.6 Pengukuran Tingkat Kecemasan
Max Hamilton pertama kali memperkenalkan skala pengukuran
kecemasan HARS yang telah digunakan secara luas dalam berbagai penelitian tentang kecemasan (Hamilton Anxiety Rating Scale) (Solehati & Kosasih, 2015), HRS-A terdiri dan masing-masing kelompok gejala diberikan nilai 0-4 dengan penilaian sebagai berikut:
a) Nilai 0 : tidak ada gejala atau keluhan
b) Nilai 1 : gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada). c) Nilai 2 : gejala sedang (separuh dari gejala yang ada).
d) Nilai 3 : gejala berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada). e) Nilai 4 : gejala berat sekali (semua gejala yang ada).
Nilai dari masing-masing gejala kecemasan tersebut kemudian dijumlahkan sehingga dapat diketahui derajat kecemasannya. Hasil penilaian total skor dikelompokkan menjadi lima yaitu sebagai berikut: a) Tidak ada kecemasan jika < 14
b) Kecemasan ringan jika skor 14-20 c) Kecemasan sedang jika skor 21-27 d) Kecemasan berat jika skor 28-41
e) Kecemasan berat sekali / panik jika skor 42-56
HRS-A terdiri dari 14 kelompok gejala dan masing-masing kelompok diantaranya:
1) Perasaan cemas : cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri dan mudah tersinggung.
29
2) Ketegangan : merasa tegang, lesu, tidak dapat beristirahat dengan tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar dan gelisah.
3) Ketakutan : pada gelap, pada orang asing, ditinggal sendiri, pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas dan pada kerumunan orang banyak. 4) Gangguan tidur : sukar untuk tidur, terbangun pada malam hari, tidur
tidak nyenyak, bangun dengan lesu, banyak mimpi, mimpi buruk dan mimpi yang menakutkan.
5) Gangguan kecerdasan : sukar berkonsentrasi, daya ingat menurun dan daya ingat buruk.
6) Perasaan depresi (murung) : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, terbangun pada saat dini hari dan perasaan berubah-ubah sepanjang hari
7) Gejala somatik/ fisik (otot) : sakit dan nyeri di otot, kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk dan suara tidak stabil.
8) Gejala somatik/ fisik (sensorik) : tinnitus (telinga berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa lemas dan perasaan ditusuk-tusuk.
9) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) : takikardi (denyut jantung cepat), berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/ lemas seperti mau pingsan dan detak jantung menghilang/ berhenti sekejap.
10) Gejala respiratori (pernafasan) : rasa tertekan atau sepit di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas dan nafas pendek/ sesak.
30
11) Gejala gastrointestinal (pencernaan) : sulit menelan, perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual, muntah, BAB konsistensinya lembek, sukar BAB (konstipasi) dan kehilangan berat badan.
12) Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) : sering buang air kecil, tidak dapat menahan BAK, tidak datang bulan (tidak dapat haid), darah haid berlebihan, darah haid sangat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid sangat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin (frigid, ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang dan impotensi. 13) Gejala autonom : mulut kering, muka merah, mudah berkeringat, kepala
pusing kepala terasa berat, kepala terasa sakit dan bulu-bulu berdiri. 14) Tingkah laku/ sikap : gelisah, tidak tenang, jari gemetar, kening/ dahi
berkerut, wajah tegang, otot tegang/ mengeras, nafas pendek dan cepar serta wajah merah.