• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : KEDUDUKAN PARA PIHAK DIDALAM AKTA PERJANJIAN JAMINAN

2. Faktor Penyebab Ketidak Seimbangan Kedudukan

Terjadinya suatu ketidak seimbangan didalam terbentuknya suatu perjanjian dapat terjadi akibat perilaku dari para pihak itu sendiri dan dari konsekuensi substansi (muatan isi) perjanjian. Jika mengacu pada asas asas pokok hukum perjanjian maupun asas keseimbangan, ketidak seimbangan yang dimaksud bukanlah ketidak seimbangan pada prestasi yang diperjanjikan melainkan pada keseimbangan kedudukan para pihak dalam perjanjianlah yang hendak di junjung tinggi.

Jika suatu perjanjian dilihat dari segi isi (subtansi) terdapat perbedaan muatan yang tidak seimbang, maka maksud dan tujuannya serta pelaksanaannya pun akan memunculkan kondisi yang tidak seimbang bagi para pihak. Sebuah perjanjian harus dilandasi dan diberikan muatan yang menjelaskan kondisi, keadaan, serta secara jelas mengakomodir kehendak para pihak agar tidak terjadi bentuk ketidakseimbangan yang mengakibatkan kerugian pada salah satu pihak yang ada didalamnya.

Terdapat tiga aspek yang saling berkaitan dari perjanjian yang dapat di munculkan sebagai faktor penguji daya kerja asas keseimbangan, diantaranya ; perbuatan para pihak, isi perjanjian, dan pelaksanaan perjanjian.233 Yang diuraikan sebagai berikut : a. Perbuatan Para Pihak.

Perbuatan yang dimaksudkan adalah sebagai kehendak yang diwujudkan dalam bentuk penawaran-penerimaan merujuk pada perbuatan individu baik secara lisan maupun tertulis sebagai akibat hukum. Agar perbuatan menimbulkan akibat hukum maka diperlukan pernyataan kehendak dan kewenangan bertindak dari para pihak untuk menciptakan, mengubah, atau membatalkan suatu hubungan hukum tertentu.

Demikian juga, suatu perbuatan hukum tidaklah dibenarkan mengeksploitasi ketidak sempurnaan jiwa seseorang seperti halnya ketidak cakapan seseorang untuk bertindak secara hukum (handeling onbekwaamheid), ataupun juga perbuatan lainnya yang dapat menyebabkan cacatnya “kehendak” dalam suatu perjanjian atau perikatan misalnya karena ancaman (bedreiging), penipuan (bedrog) atau “Penyalahgunaan Keadaan” (misbruik van omstandigheden).

Keadaan tidak seimbang ini dapat menghalangi atau menimbulkan kekeliruan dalam pengambilan suatu keputusan yang akan merugikan, atau sebaliknya dilain pihak justru akan membuat orang tergerak untuk memanfaatkan kedudukannya yang lebih kuat untuk mengendalikan pihak lain. Jika ternyata suatu keadaan atau situasi sudah tidak seimbang dan telah dikonstatasi, maka semua teori berkenaan dengan cacatnya kehendak dapat diterapkan untuk melakukan pembatalan perjanjian tersebut.

233. Ibid, hal.334-338.

b. Isi dari perjanjian.

Bahwa isi perjanjian ditentukan oleh para pihak berdasarkan apa yang disepakati baik secara tegas maupun secara diam-diam. Secara implementatif asas kebebasan berkontrak memberikan kebebasan kepada setiap orang menentukan sendiri isi dari perjanjian.

Tetapi meskipun kebebasan itu dapat diterima sebagai hak yang bersifat absolut, didalam pelaksanaannya kebebasan berkontrak, kebebasan itu dibatasi oleh undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. Sehingga apabila suatu perjanjian bertentangan dengan ketiga hal tersebut diatas menyebabkan perjanjian akan menjadi batal demi hukum (nietig).

c. Pelaksanaan Dari Perjanjian.

Dalam pelaksanaan perjanjian diperlukan adanya “itikad baik” (good faith) sebagai penguji keseimbangan dalam perjanjian dan sekaligus pembatas moralitas. Itikad baik dimaknai dengan keseluruhan proses perjanjian itu, artinya itikad baik sudah ada pada tahap pra perjanjian,(pra contractuale) pada tahap perjanjian (contractuale) dan pada tahap pelaksanaan perjanjian (post contractuale).234

Keseimbangan tidak mutlak harus dilandasi perhitungan untung rugi dalam artian materiil, atau perjanjian menjadi mengikat bukan hanya sekedar karena prestasi dan kontrapestasi yang kurang lebih seimbang, terkadang salah satu pihak juga ada yang lebih diuntungkan dalam sebuah perjanjian dibanding pihak lainnya.

234. Ningrum Natasya Sirait, “Hukum Perikatan” Medan 2015, Bahan Ajar Pasca Sarjana

Tetapi prinsip keseimbangan yang harus difahami adalah dalam arti luas yaitu tercapainya semua tujuan dari kontrak, khususnya “tercapainya eksistensi imateriil”(immateriele zijnsmogelijkheid), sehingga perjanjian itu dianggap adil bila akibat dari sebuah perjanjian/kontrak tersebut menyebabkan kedua belah pihak berada dalam keadaan yang lebih menguntungkan dibandingkan sebelum kontrak dibuat.

3. Hak dan Kewajiban Para Pihak didalam Jaminan Fidusia

Didalam Undang Undang Jaminan fidusia Nomor 42 tahun 1999 dan akta pemberian jaminan fidusia, juga memuat hak hak dan kewajiban para pihak selaku pemberi dan penerima fidusia yaitu :

a. Hak Debitur sebagai Pemberi fidusia

1) Pemberi fidusia mempunyai hak untuk tetap menguasai objek jaminan fidusia dibawah kekuasaannya (pasal 1 ayat 1 UUJF Nomor 42 tahun1999).

2) Pemberi fidusia dapat menggunakan, menggabungkan, mencampur atau mengalihkan benda atau hasil dari benda yang menjadi objek jaminan fidusia atau melakukan kompromi atas utang apabila penerima fidusia menyetujui.

(pasal 22 ayat 1 UUJF)

3) Pemberi fidusia wajib untuk memberikan kepada penerima fidusia atau kuasanya pada tiap-tiap 3 (tiga) bulan daftar tagihan objek jaminan fidusia oleh pemberi fidusia kepada penerima fidusia, dan wajib disebutkan jumlah dari objek jaminan fidusia tersebut yang dimiliki oleh pemberi fidusia terhadap pihak ketiga.

4) Pemberi fidusia tidak dapat mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan objek jaminan fidusia kepada pihak lain.

5) Pemberi fidusia dapat mengalihkan objek jaminan fidusia untuk jaminan berbentuk persediaan barang dagangan (pasal 21 ayat 1 UUJF).

6) Pemberi fidusia berhak atas sisa hasil penjualan objek jaminan.(pasal 34 ayat 1 UUJF).

b. Tanggung jawab debitur Pemberi fidusia

1) Pemberi fidusia tidak dapat melakukan fidusia ulang terhadap objek jaminan fidusia yang sudah terdaftar (pasal 17 UUJF).

2) Pemberi fidusia tidak dapat mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan objek jaminan fidusia kepada pihak lain. Pasal 22 ayat 2 UUJF).

3) Dalam rangka pengalihan objek jaminan fidusia berupa persediaaan sebagaimana dimaksud pasal 21 ayat 1 UUJF, pemberi fidusia wajib mengganti objek jaminan tersebut dengan benda yang setara (Pasal 21 ayat 3 UUJF).

4) Pemberi fidusia wajib menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi (pasal 30 UUJF).

5) Pemberi fidusia bertanggung jawab atas hutang yang belum terbayarkan (pasal 34 ayat 2 UUJF).

c. Hak Kreditur selaku penerima fidusia ;

1) Hak kepemilikan atas objek fidusia tersebut berada pada kreditur yang diperoleh melalui levering yang dilakukan secara constitutum posseserium.

(pasal 1 ayat 1 UUJF).

2) Dalam hal debitur wanprestasi, penerima fidusia berhak untuk menjual benda benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri, sesuai

kekuatan parate eksekusi yang dikandung titel eksekutorial sertifikat jaminan fidusia (pasal 15 ayat 3 UUJF).

3) Penerima fidusia mempunyai hak untuk didahulukan atas pelunasan piutangnya dibanding kreditur kreditur lainnya dari hasil penjualan objek jaminan fidusia tersebut (pasal 27 ayat 1 UUJF).

4) Penerima fidusia berhak mendapat penggantian yang setara atas objek jaminan fidusia yang telah dialihkan debitur dalam bentuk persediaan barang dagangan (inventory) pasal 21 ayat 3 UUJF.

5) Kreditur penerima fidusia berhak menagih atas kekurangan pembayaran hutang jika hasil eksekusi tidak mencukupi (pasal 34 ayat 2 UUJF).

d. Tanggung jawab kreditur selaku penerima fidusia

1) Kreditur penerima fidusia wajib mendaftarkan jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia (pasal 11 ayat 1 UUJF)

2) Penerima fidusia wajib mengajukan permohonan pendaftaran atas perubahan dalam sertifikat fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia (pasal 13 ayat 1 UUJF)

3) Penerima fidusia wajib mengembalikan kepada pemberi fidusia sisa hasil eksekusi setelah hutang keseluruhannya terbayar lunas (pasal 34 ayat 1 UUJF).

4) Penerima fidusia wajib memberitahukan kepada kantor pendaftaran fidusia mengenai hapusnya jaminan fidusia, pengecualian ; penerima fidusia tidak menanggung kewajiban atas tindakan atau kelalaian pemberi fifidusia baik yang timbul dari hubungan kontraktual atau yang timbul dari perbuatan

melanggar hukum sehubungan dengan penggunaan dan pengalihan benda yang menjadi objek jaminan fidusia.

B. Akta Jaminan Fidusia Tidak Memuat Keseimbangan Para Pihak : 1. Bentuk Ketidak seimbangan Para Pihak .

Dari berbagai penjelasan tersebut dan jika dikaitkan dengan praktek pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia itu dilapangan, pada kenyataannya masih belum mencerminkan konsep keseimbangan seperti yang telah disepakati oleh para pihak.

Statement ini didasarkan pada analisis terhadap beberapa contoh akta jaminan fidusia yang dikumpulkan dari beberapa Notaris diberbagai daerah atau wilayah kerja seperti Medan, Jakarta, Pekanbaru, Balikpapan dan Surabaya, dan hasil penelitian menunjukkan adanya ketidak seimbangan didalam akta jaminan fidusia ini, yang dapat di kategorikan menjadi 3 (tiga) bahagian ; yaitu :

a) Ketidak seimbangan kedudukan karena penyalahgunaan keadaan (Misbruik Van Omstadigheiden)

b) Ketidak seimbangan dalam subtansi (Unconscionability) ;

1) Didalam substansi Undang Undang Jaminan fidusia (UUJF) ; 2) Didalam substansi Akta Jaminan Fidusia Notaris.

c) Ketidak keseimbangan diluar subtansi Undang undang dan akta jaminan fidusia Notaris.

a) Ketidak Seimbangan Kedudukan karena Penyalahgunaan Keadaan/Pengaruh Tidak Pantas (Misbruik Van Omstadigheiden/Undue Influence).

Hubungan hukum antara kreditur dan debitur pada dasarnya adalah sebuah hubungan yang saling membutuhkan antara satu sama lain, boleh dikatakan bahwa

debitur sangat membutuhkan keberadaan kreditur (khususnya perbankan) untuk mendukung struktur permodalan usahanya, sebaliknya kreditur perbankan juga membutuhkan keberadaan debitur dalam melangsungkan kehidupan usahanya yang bergerak disektor keuangan.

Peran Notaris dalam hal ini berfungsi melayani kebutuhan kedua belah pihak dalam pembuatan akta perjanjian secara tertulis berdasarkan kewenangannya sesuai ketentuan pasal 1868 KUH Perdata dan UUJN Notaris Nomor 2 tahun 2014.

Dalam hal ini jelas terlihat bahwa eksistensi Notaris bukanlah bagian dari para pihak, tetapi berada ditengah sebagai intermediary yang dituntut netral dan tidak boleh memihak.

Tetapi hubungan tersebut menjadi tidak seimbang tatkala salah satu pihak merasa lebih dibutuhkan sehingga menimbulkan peran yang lebih dominan dan bertindak seolah olah menjadi penentu dalam hubungan tersebut (decission maker), atau bahkan bertindak seolah olah sebagai pembuat Undang Undang didalam suatu hubungan dan berorientasi mengendalikan pihak lainnya.

Kreditur sebagai pihak yang merasa lebih dominan telah bertindak menjadi legal drafter yang memformulasikan bentuk suatu perjanjian sesuai kehendak dan kepentingannya sendiri, sehingga posisi debitur dalam keadaan dilematis dan tertekan karena dihadapkan dalam dua pilihan yang sulit, yakni ; menolak menandatangani akta tersebut dengan konsekwensi pinjaman kredit akan batal, atau pasrah menerima akibat dorongan kebutuhannya meskipun dirasa sangat berat. Dalam hal ini debitur tidak memiliki kesempatan untuk dapat merubah atau merundingkan muatan perjanjian tersebut karena tidak memiliki posisi tawar (bargaining position) yang seimbang

sehingga disebut sebagai take it or leave it contract.

Boleh dikatakan didalam hubungan tersebut tidak mencerminkan adanya itikad baik (good faith) yang dimulai sejak fhase prakontraktual, karena sebenarnya didalam hubungan tersebut tidak terdapat adanya “pertemuan kehendak.” Kata sepakat yang dinyatakan didalam akta jaminan fidusia tersebut bukanlah kesepakatan yang lahir dari kehendak bebas para pihak (free will) melainkan bentuk kesepakatan yang terpaksa (contradiction in terminis) akibat kedudukan para pihak yang tidak seimbang.

Hal inilah menyebabkan Akta jaminan fidusia Notaris dapat dikatakan tidak memuat keseimbangan kedudukan para pihak yang disebabkan hubungan yang tidak seimbang, dan terhadap akta yang demikian dapat dimintakan pembatalannya berdasarkan doktrin penyalahgunaan keadaan (Misbruik van omstandigheiden/undue influence doctrin).

b. Ketidak Seimbangan didalam Substansi UUJF :

Penggunaan perjanjian baku pada dasarnya tidak dilarang oleh Undang Undang, karena hal ini merupakan perwujudan dari kebebasan berkontrak para pihak yang dikandung oleh pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata dan sesuai dengan sifat hukum perjanjian itu sendiri sebagai pelengkap (aanvullend recht-optional). Artinya, kepada para pihak diberi hak untuk bebas membuat sendiri bentuk perjanjian dan dengan siapa dia melakukan perjanjian tersebut asalkan tidak melanggar ketentuan perUndang undangan.

Demikian juga halnya penggunaan klausula baku didalam substansi perjanjian tidak dengan serta merta dapat dijustifikasi sebagai klausula yang terlarang. Jika ternyata penggunaan klausula baku itu ditujukan untuk membatasi hak hak kreditur

yang berlebihan, atau untuk menyeimbangkan hak dengan tanggung jawabnya serta untuk mensejajarkan dengan hak hak pihak lain, maka tentunya hal ini akan lebih baik lagi.

Tetapi, yang menjadi masalah adalah jika klausula baku itu berorientasi untuk melakukan penekanan melalui substansi isi akta itu sendiri untuk menghindari atau justru mengalihkan tanggung jawab yang semestinya dipikul oleh kreditur telah dialihkan menjadi tanggung jawab debitur, inilah yang disebut sebagai klausula aksonerasi (eksemsi) yang secara tegas dilarang oleh Undang undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Pasal 18 huruf (a) serta bertentangan dengan doktrin

“Ketidak adilan” (Unconsicionability doctrin) itu sendiri.

Dalam hal ini beberapa contoh penerapan klausula yang identik sebagai klausula Aksonerasi tersebut mengakibatkan terjadinya ketidak seimbangan sebagaimana diuraikan sebagai berikut :

1) Berkaitan dengan substansi Pasal 17 UUJF Nomor 42 tahun 1999 ;

“Pemberi fidusia dilarang melakukan fidusia ulang terhadap Benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang sudah didaftar.”

Ketentuan Pasal 17 UUJF ini tidak secara eksplisit mengatur apakah larangan fidusia ulang tersebut hanya berlaku bagi debitur atau berlaku juga bagi kreditur selaku penerima fidusia. Meskipun demikian maksud pembuat Undang Undang ini dapat dianalogikan bahwa ketentuan UUJF tersebut tentunya berlaku bagi semua pihak yang terlibat didalamnya, baik kapasitasnya sebagai pemberi fidusia, Penerima fidusia atau bahkan pihak ketiga yang terkait dengan objek jaminan fidusia itu sendiri.

Namun kenyataannya, pengimplementasian pasal ini hanya berlaku sepihak saja, dimana kreditur seperti halnya lembaga pembiayaan (Bank, Multifinance, koperasi, dsb) justru dapat mengabaikan ketentuan perUndang Undangan dengan melakukan

“fidusia ulang” atas objek jaminan milik end user kepada pihak Bank dalam fasilitas pembiayaan ulang (refinancing).

Fakta terjadinya praktek fidusia ulang ini dapat dilihat dalam penyaluran fasilitas kredit pola executing maupun chanelling oleh kalangan kreditur perbankan, dan untuk memahami praktek fidusia ulang ini, sebelumnya harus difahami dahulu bentuk dan proses penyaluran kredit chanelling ini, sebagaimana diuraikan sebagai berikut:

Secara garis besar pengertian kredit pola executing dan channeling ini adalah merupakan fasilitas kredit dengan plafond besar (large eksposure) yang diperuntukkan guna mendukung struktur modal kerja (working capital) bagi perusahaan perusahaan berskala besar khususnya yang bergerak disektor pembiayaan. biasanya pengguna fasilitas kredit jenis ini adalah perusahaan Multi finance, Koperasi, BPR, serta Bank yang berkonsentrasi di segment micro, yang dilakukan melalui mekanisme pembiayaan ulang (refinancing) atas kredit yang telah disalurkan multifinance kepada para konsumen (end user), dan sebagai jaminan atas fasilitas kredit (chanelling) ini adalah seluruh hak kebendaan milik end user (mis BPKB) yang dikuasai oleh multi finance difidusiakan kembali atau dengan kata lain dijaminkan kembali kepada Bank pembiaya.

Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan sebagai berikut :

Sebuah perusahaan Multifinance “A” mendapat persetujuan fasilitas kredit chanelling sebesar Rp. 50.000.000.000. Meski fasilitas tersebut telah disetujui namun belum dapat digunakan (posisi standby loan) karena harus menunggu penyerahan

agunan BPKB milik end user yang dibiayai oleh pihak multi finance sedang dalam proses pengurusan dikepolisian. Sebagai lampiran permohonan kredit multifinance tersebut sebelumnya telah dilampirkan beberapa daftar (tabel) yang memuat ; jenis, spesifikasi, harga, dan maksimum pembiayaanuntuk setiap unit kendaraan (on the road).

Ilustrasi ; Harga OTR sebuah Mobil Toyota Innova (brand new) sebesar Rp.300.000.000, self financing sebagai uang muka (D/P) 20 % atau sebesar Rp.60.000.000 disediakan pembeli, sisa pelunasan kepada dealer sebesar 80 % atau sekitar Rp. 240.000.000 akan dibiayai pihak Multifinance. Sehingga hutang end user kepada multi finance adalah Rp.240.000.000 berikut bunga pinjaman (interest rate), dan sebagai agunan kepada multi finance adalah BPKB kendaraan milik para end user yang diikat secara fidusia.

Ketika proses pengurusan BPKB telah selesai dikepolisian dan diserahkan oleh main dealer kepada pihak Multifinance, seluruh (kolektif) BPKB tersebut selanjutnya diserahkan lagi oleh pihak multifinance kepada pihak Bank guna mencairkan fasilitas kredit chanelling tersebut secara bertahap. Jika jumlah BPKB Toyota Innova yang diserahkan misalnya sebanyak 100 Unit, maka multi finance berhak mendapat pencairan fasilitas kredit chanelling sebesar :

Rp. 300.000.000 (harga OTR) x 80 % = Rp.240.000.000 X 100 Unit = Rp.

24.000.000.000.

Sehingga dengan demikian realisasi kredit yang di dropping ke rekening Multifinance adalah sebesar Rp.24.000.000.000., sedangkan sisa plafond sebesar Rp.26.000.000.000

lagi (unused facility) menunggu penyerahan BPKB berikutnya, demikian seterusnya hingga jumlah plafond tersebut terpakai keseluruhan.

Keuntungan bagi perusahaan multifinance yang menggunakan fasilitas ini adalah tidak perlu bersusah payah untuk menyediakan modal kerja (working capital) yang sangat besar karena didukung refinancing dari Bank, disamping keuntungan lainnya berupa spread rate antara pihak Bank kepada Multi finance, dan antara Multi finance dengan para end user dengan perhitungan sebagai berikut :

Suku bunga (interest rate) yang diterapkan bank kepada Multifinance sebesar 16

% (persen) sistim efektif rate, sedangkan antara multi finance dengan end user juga 16

% persen dengan sistim flat rate. Ternyata jika kedua metode perhitungan bunga ini dikonversi, (Flat rate menjadi efektif rate) meskipun variabel perhitungannya sama sama posisi 16 % (persen) tetapi hasil perhitungannya jauh berbeda. Sistim flat rate ini jauh lebih besar hampir mencapai 2 (dua) kali lipat dibanding sistim efektif rate.

Selisih perhitungan bunga (spread rate) inilah menjadi keuntungan bagi pihak multi finance selama kredit itu berlangsung dengan end user, dan sebagai payung hukum dalam hubungan kontraktual antara Bank dengan multi finance dilakukan perjanjian kerjasama dan didukung dengan company guarantee ataupun buy back guarantee.

Tetapi yang menjadi masalah disini bukanlah terletak pada pola perhitungan rate tersebut, karena hal itu merupakan strategi bisnis multifinance dalam menciptakan profitability, yang menjadi permasalahan adalah jaminan atas fasilitas kredit chanelling tersebut berupa BPKB milik para end user telah difidusiakan ulang atau dijaminkan kembali tanpa sepengetahuan para pemiliknya (end user). Tindakan tersebut

merupakan salah satu bentuk ketidak seimbangan para pihak yang muncul sebagai bias dari pasal 17 UUJF itu sendiri, yang seolah olah larangan fidusia ulang hanya berlaku sepihak kepada debitur saja.

Jika merujuk kembali esensialitas dari pemberian jaminan secara fidusia, bentuk penyerahan hak tersebut pada dasarnya dilandasi unsur kepercayaan (fiduciary) diantara para pihak, yaitu kepercayaan kreditur bahwa debitur dapat memenuhi prestasinya untuk pengembalian kreditnya, sebaliknya debitur percaya bahwa kreditur tidak akan menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan dalam konteks keselamatan hak kebendaannya, kepercayaan inilah yang memotivasi para end user atau debitur untuk bersedia bertransaksi dan meyerahkan hak kebendaannya sebagai jaminan.

Namun demikian perlu juga difahami, meskipun penyerahan hak (levering) atas objek jaminan fidusia tersebut dilakukan secara constitutum posseserium dan mendudukkan posisi penerima fidusia (multi finance) “seolah olah” atau “dianggap”

sebagai pemilik objek fidusia, dalam hal ini perlu digaris bawahi bahwa frasa “Seolah olah” atau “Dianggap” bukan berarti mutlak atau absolut. Artinya kreditur tersebut tidak mutlak menjadi pemilik atas objek jaminan tersebut sehingga bebas bertindak menjaminkan kembali hak kebendaan milik para end user kepada pihak lain. Jika memang itu menjadi tujuan awal, seyogiaya debitur (end user) mengetahui penjaminan ulang tersebut, atau selayaknya dilakukan melalui lembaga cessie235 ataupun melalui lembaga subrograsi.

Hal ini dikarenakan, hak kebendaan dalam jaminan fidusia sifatnya terbatas (Jura in re aliena) yang tidak memberikan hak kebendaan secara penuh kepada penerima

235. Pasal 613 KUHPerdata

Fidusia, tetapi hanya bertujuan untuk mengambil pelunasan atas piutangnya saja, atau bukan bermaksud untuk memiliki.236

Artinya, sepanjang hubungan pemenuhan prestasi itu masih berlangsung dengan baik, penerima fidusia tidak berhak melakukan tindakan dalam bentuk apapun terhadap objek jaminan fidusia tersebut, kecuali pemberi fidusia sudah dinyatakan wanprestasi barulah hak istimewa yang dimiliki kreditur dapat dijalankan termasuk melaksanakan titel eksekutorial dan penjualan objek jaminan berdasarkan parate eksekusi, dengan pembatasan hanya sebatas mengambil pelunasan atas piutangnya saja sedangkan kelebihan penjualannya wajib diserahkan kepada debitur.

Hal inilah yang sekaligus membuktikan bahwa kepemilikan penerima fidusia (kreditur) terhadap objek tersebut sifatnya terbatas (Jura inre aliena) atau tidak berlaku mutlak (absolut). Sehingga dengan demikian tindakan kreditur multifinance untuk menjaminkan ulang objek benda jaminan milik end user dapat didentifikasikan sebagai perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang memenuhi unsur tindak pidana penggelapan sesuai dengan ketentuan pasal 372 KUHPidana.

2) Fidusia ulang berkaitan dengan substansi pasal 9 ayat 1 dan 2 UUJF :

(1). “….Jaminan fidusia dapat diberikan terhadap satu atau lebih satuan atau jenis benda, termasuk piutang, baik yang telah ada pada saat jaminan diberikan maupun yang diperoleh kemudian.dst…”

(2). “….Pembebanan jaminan atas benda atau piutang yang diperoleh kemudian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak perlu dilakukan dengan perjanjian jaminan tersendiri.dst…”

236. Pasal 33 UUJF Nomor 42 Tahun 1999.

Setiap janji yang memberikan kewenangan kepada Penerima Fidusia untuk memiliki Benda

Pemahaman terhadap ketentuan pasal 9 ayat 1 dan 2 UUJF Nomor 42 tahun 1999 tentang jaminan fidusia atas piutang, haruslah diartikulasikan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan memiliki korelasi dengan pasal pasal 7 butir (a), (b) dan (c) serta ketentuan pasal 10 butir (a) dan (b) UUJF.

Pasal 7 butir (a), (b) dan (c) UUJF menegaskan bahwa utang yang dimaksud disini adalah piutang yang akan timbul dikemudian hari yang telah diperjanjian dalam jumlah tertentu,237 (misalnya bunga intracomptable, bunga extracomptable, denda) yang meskipun belum timbul tetapi jelas perhitungannya dan telah diperjanjikan sebelumnya.

Demikian juga berikut utang yang pada saat eksekusi dapat ditentukan jumlahnya yaitu jumlah hutang pokok,238 bunga, denda dan biaya biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan eksekusi objek jaminan fidusia (misalnya ; honorarium pengacara, biaya perawatan objek jaminan fidusia,dll) serta bentuk piutang baik yang telah ada pada saat jaminan diberikan maupun yang diperoleh kemudian, yang dapat diartikulasikan sebagai piutang yang berkaitan langsung dengan objek jaminan fidusia (seperti ; piutang dagang atas penjualan objek jaminan fidusia, atau hasil sewa objek jaminan fidusia).

Pasal 9 ayat (1) UUJF tersebut menjelaskan bahwa yang utama sebagai jaminan fidusia tersebut adalah “benda” sedangkan frasa “termasuk piutang” menunjukkan

237 . Pasal 7 butir b UUJF Nomor 42 tahun 1999.

Utang yang pelunasannya dijamin dengan fidusia dapat berupa:

b. utang yang akan timbul di kemudian hari yang telah diperjanjikan dalam jumlah tertentu;

atau

238 Pasal 7 butir c UUJF Nomor 42 Tahun 1999.

utang yang pada saat eksekusi dapat ditentukan jumlahnya berdasarkan perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban memenuhi suatu prestasi.

bahwa piutang itu merupakan ikutan dari benda tersebut, yang maksudnya apabila muncul piutang yang berasal dari hasil penguasaan objek jaminan fidusia tersebut menjadi turut sebagai jaminan fidusia (Misalnya; hasil sewa kendaraan bermotor yang kepada pihak ketiga atas objek yang diikat fidusia).

Hal inilah lebih lanjut ditegaskan oleh pasal 9 ayat (2) UUJF bahwa pembebanan

Hal inilah lebih lanjut ditegaskan oleh pasal 9 ayat (2) UUJF bahwa pembebanan