BAB III : KEDUDUKAN PARA PIHAK DIDALAM AKTA PERJANJIAN JAMINAN
B. Akta Jaminan Fidusia tidak Memuat Keseimbangan Para Pihak
2. Ketidak seimbangan diluar subtansi UUJF dan Akta jaminan
Ketidak seimbangan diluar substansi akta jaminan fidusia ini sudah menjadi fenomena yang umum terjadi didalam pelaksanaan pemberian kredit kepada debitur.
Meski tidak diatur didalam perjanjian kerjasama dengan Notaris, tetapi ketentuan ini termuat didalam SOP (standard procedure operating) perkreditan Bank itu sendiri seperti halnya PPPK (Pedoman Pelaksanaan Pemberian Kredit) pada Bank QNB Kesawan, KDPK (Ketentuan dan Prosedur Kredit) pada Bank BDNI, PPK Retail dan PPK Corporate (Pedoman Pemberian Kredit) pada Bank BRI dan BRI Agro, dll.
Statement ini didasarkan pada hasil penelitian terhadap 5 jenis Akta jaminan fidusia dari berbagai Notaris yang berada diwilayah berbeda (Seperti Medan, Pekanbaru Jakarta, Surabaya dan Balik Papan), dan menjadi fakta yang tidak terbantahkan hingga saat ini terjadi dilingkungan perbankan. Statement ini didukung pengalaman peneliti sendiri selama kurang lebih 25 tahun bekerja di berbagai industri perbankan yang berwenang menunjuk Notaris sebagai rekanan, dan juga sebagai orang yang turut melakoni fenomena fenomena tersebut.
a. Salinan (Dorslag/Afschrift) Tidak Pernah Diberikan Kepada Debitur
Sebagai bagian dari para pihak didalam pembuatan Akta Jaminan Fidusia, debitur tentunya berhak untuk mendapatkan salinan, meskipun bukan salinan asli tetapi setidaknya dalam bentuk dorslag (afschrift). Namun kenyataannya Notaris sangat jarang atau nyaris tidak pernah memberikan dorslag (afschrift) akta tersebut kepada debitur selaku pemberi fidusia. Jikalaupun ada beberapa yang terpaksa harus diberikan hanya secara kasuistik saja dan biasanya dikarenakan debitur tersebut memahami haknya seperti debitur corporate atau debitur perorangan yang mengerti hukum.
Meskipun tidak harus diminta semestinya Notaris wajib memberikan dorslag (afschrift) akta tersebut kepada pemberi fidusia selaku bagian dari para pihak. Hal ini juga secara tegas disampaikan didalam pasal 54 ayat (1) UUJN Nomor 2 tahun 2014.245 Namun kenyataannya hal ini jarang terjadi, Notaris justru mempunyai alasan tersendiri
245. Pasal 54 ayat 1 UUJN Nomor 2 tahun 2014.
Notaris hanya dapat memberikan, memperlihatkan, atau memberitahukan isi Akta, Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta, kepada orang yang berkepentingan langsung pada Akta, ahli waris, atau orang yang memperoleh hak, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
yang sangat tidak rasional meskipun tidak dinyatakan tetapi sudah menjadi rahasia umum yaitu :
1) Notaris dan kreditur khawatir jika terdapat kesalahan didalam minuta akta atau cacad materiil, dorslag tersebut menjadi alat bukti yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menggugat atau menyudutkan kreditur dan Notaris di Pengadilan.
2) Dengan tidak diberikannya dorslag tersebut, memberikan keleluasaan kepada Notaris melakukan perbaikan jika terdapat kesalahan didalam minuta akta serta mengeluarkan salinan baru yang sudah direvisi. Berbeda halnya jika dorslag (afschrift)sudah berada ditangan debitur, Jika perubahan minuta akta dilakukan persetujuan para pihak, sedangkan perbedaan antara minuta akta, salinan, dan dorslag tersebut dapat dibuktikan, maka tindakan Notaris tersebut akan dihadapkan dengan perbuatan pidana pasal 263 jo 264, dan 266 KUH Pidana.
Tindakan ini sangat berkaitan erat dengan perilaku Notaris yang terkesan over protektif dalam setiap proses penandatanganan minuta akta yang selalu mewajibkan para pihak membubuhkan paraf renvooi pada setiap lembar halaman minuta akta meskipun belum diketahui pada bagian mana dari akta itu nanti yang akan direnvooi.
Hal ini hanya bertujuan agar Notaris lebih leluasa melakukan perbaikan dikemudian hari.
Sebagai contoh kasus yang menyangkut dorslag (afschrift) ini adalah sebagai berikut.:
Sebuah Kendaraan sedan suzuki swift nomor plat B. xxxx PW dijadikan sebagai jaminan kredit yang diikat dengan akta jaminan fidusia pada salah satu Bank di Kota Medan. Mengingat debitur juga memahami hukum, debitur tidak lupa meminta dorslag akta jaminan fidusia tersebut kepada Notaris, dan oleh Notaris diarahkan harus mendapat persetujuan pihak Bank, dan akhirnya debitur pun memperoleh dorslag tersebut berikut salinan perjanjian lainnya seperti Perjanjian Kredit. .
Pada akhirnya kredit tersebut macet, dan kreditur merencanakan melakukan eksekusi atas objek jaminan fidusia, dengan terlbih dahulu melakukan review atas kelengkapan dokumen perkreditannya. Ketika itu barulah disadari bahwa objek yang tertera didalam akta jaminan fidusia tersebut bukan sedan suzuki swift, melainkan tertulis Minibus type jeep merek Nissan all new X trail dengan nomor polisi yang berbeda. Disinyalir hal ini ternyata akibat ketidak telitian pegawai kantor Notaris yang melakukan copy paste data dokumen fidusia dari file debitur lain.
Kesalahan ini segera di konfirmasi kepada Notaris, dan dilakukan perbaikan terhadap minuta akta serta mengeluarkan salinan akta yang baru sebagai pengganti. Ketika hendak dilakukan eksekusi debitur tersebut tidak melakukan perlawanan, tetapi justru menyiapkan pelunasan sisa outstanding kreditnya kepada Bank dan meminta agar pihak kreditur Bank segera mempersiapkan surat bukti pelunasan kredit tersebut dan pengembalian jaminan BPKB kendaraan berupa Nissan All new X trail sesuai yang tertera didalam dorslag akta perjanjian fidusia tersebut. Posisi kreditur menjadi lemah dan akhirnya pihak Bank meminta pertanggung jawaban Notaris untuk menyelesaikan pelunasan kredit debitur tersebut kepada Bank akibat kelalaiannya.
b. Penandatanganan Kwitansi Kosong
Dalam setiap penyerahan benda bergerak sebagai objek jaminan fidusia (khususnya kendaraan bermotor) sudah merupakan suatu keharus yang berlangsung hingga saat ini tanpa perlu dibuktikan lagi, bahwa penyerahan BPKB tersebut wajib melampirkan fotocopy identitas diri dan kwitansi kosong rangkap (3) tiga yang salah satunya dibubuhi meterai tempel. Pengertian kosong disini bahwa ketiga kwitansi tersebut tidak memuat redaksional apapun didalamnya kecuali hanya tandatangan dan identitas kendaraan tersebut.
Sebagaimana diketahui prinsip BPKB itu sendiri dapat dipersamakan sebagai sertifikat hak milik (certificate of ownership) yang mempunyai sifat atas unjuk (aan toonder) artinya siapa saja menguasai BPKB tersebut dianggap sebagai pemilik. Secara praktek hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dalam kehiduan sehari hari dalam transaksi
transaksi jual beli kendaraan meskipun BPKB tersebut bukan atas nama sipenjual tetapi dapat dilaksanakan.
Fungsi kwitansi kosong dalam hal ini, apabila debitur wanprestasi tidak sulit bagi kreditur untuk mengambil alih objek jaminan tersebut tanpa harus menggunakan kekuatan titel eksekutorial sertifikat jaminan fidusia. Kreditur cukup mengisi kwitansi jual beli kendaraan tersebut dan seolah olah telah terjadi transaksi peralihan hak melalui jual beli dengan penyerahan fisik menyusul.
Dengan demikian jual beli yang tidak disertai penyerahan fisik memenuhi unsur pidana pasal 378 dan 372 KUHPidana, Tindakan ini tentunya tidak wajar dan bernuansa intimidatif.
c. Pembuatan Akta Akta lainnya yang Menjadi Tumpang Tindih (Over Lapping);
Dalam hubungan antara kreditur dan debitur, terdapat tindakan Notaris yang cukup sulit dimengerti didalam hal pengikatan kredit. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya hubungan tersebut di implementasikan kedalam 2 (dua) bentuk jenis perjanjian yaitu Perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok (obligatoir) dan perjanjian fidusia sebagai perjanjian ikutan (accesoir).
Tetapi fakta menunjukkan bahwa praktek pengikatan kredit tersebut juga turut menyertakan bentuk bentuk akta lainnya yang tidak relevan, seperti halnya untuk jaminan kendaraan bermotor, selain perjanjian kredit dan akta jaminan fidusia juga disertakan Akta Pengakuan Hutang (APH), Kuasa Jual dll, yang justru saling tumpang tindih dan akhirnya melemahkan kreditur itu sendiri, karena Perjanjian kredit dan Pengakuan Hutang adalah sama sama perjanjian Obligatoir yang mempunyai
karakteristik yang berbeda, baik cara pelaksanaan eksekusinya, maupun cara penetapan jumlah hutangnya.
3. Ketidak Seimbangan Kedudukan Para Pihak didukung Sikap Pasif Notaris ; Praktek penggunaan akta perjanjian fidusia yang identik sebagai perjanjian baku tersebut diatas pelaksanaannya tidak terlepas dari sikap pasif Notaris itu sendiri.
Pemahaman sikap pasif dalam konteks ini bukan berarti karena Notaris tidak membacakan dan menerangkan isi akta tersebut, tetapi sikap pasif yang dimaksud adalah didalam membacakan akta tersebut Notaris tidak menjelaskan secara komprehensif hak hak dan kewajiban serta akibat hukum dari perikatan tersebut dikemudian hari, hal ini mengingat tidak semua pihak dapat memahami maksud dan tujuan dari setiap klausula yang tercantum didalam akta jaminan fidusia tersebut.
Sikap pasif ini bertendensi sebagai bentuk pembiaran ketidak seimbangan itu terjadi dihadapannya yang membuktikan adanya keberpihakan serta hilangnya netralitas Notaris akibat adanya ikatan hubungan kerjasama yang harus mendahulukan kepentingan kreditur.
Ketidaknetralan ini telah menyebabkan kedudukan para pihak menjadi tidak seimbang, dan menjadi fakta yang tidak terbantahkan karena tidak satupun Notaris rekanan yang mampu menolak intervensi pihak kreditur meskipun terkadang bertentangan dengan nuraninya.
Notaris bukanlah bahagian dari para pihak, meskipun Notaris merasa memiliki keterikatan didalam hubungan perjanjian kerjasama dengan kreditur layaknya hubungan antara atasan dengan bawahan, Notaris bukanlah pencari kerja atau
dipekerjakan,246 tetapi Notaris mempunyai sifat kemandirian dalam menjalankan tugasnya yang tidak dapat di intervensi oleh siapapun. Sehingga apabila terjadi keberpihakan justru menjadi penyebab batalnya akta yang dibuatnya karena kebebasan kreditur akan menjadi radikal.247
Namun terkadang, kedudukan kreditur yang lebih dominan mengendalikan debitur disertai keberpihakan Notaris kepada kreditur tidak selamanya menguntungkan pihak kreditur, justru keberpihakan Notaris tersebut yang diaplikasikan dalam bentuk pelayanan yang terkesan berlebihan (over service) terkadang menjadi bumerang bagi bagi kreditur maupun Notaris itu sendiri. Hal ini dapat diuraikan dalam tindakan sebagai berikut :
Notaris A melakukan pengikatan kredit terhadap seorang debitur kantor PT.Bank
“X” di Medan tanpa dihadiri oleh istri debitur tersebut dengan alasan sedang sakit dirumah (binjai). Setelah penandatangan akta tersebut selesai dikantor Bank, selanjutnya pegawai Notaris disertai debitur dan pihak Bank menuju rumah debitur untuk memperoleh tanda tangan persetujuan istri. Sesampai ditempat, debitur menawarkan agar pegawai Notaris (laki laki) masuk kemar tidur debitur untuk menemui istrinya yang sedang terbaring sakit. Pegawai Notaris tersebut menolak karena merasa segan, akhirnya debitur menawarkan diri agar dia sendiri yang meminta tanda tangan istrinya didalam kamar. Beberapa saat kemudian debitur keluar dan menyerahkan minuta akta yang sudah lengkap dengan tanda tangan istri.
Berselang beberapa waktu kemudian kredit tersebutpun akhirnya macet, dan dilakukan lelang agunan melalui balai lelang swasta. Pada akhirnya masalah ini masuk keranah hukum, dimana istri debitur tersebut menggugat pihak bank Bank, Notaris, serta balai lelang tersebut ke pengadilan, dengan alasan bahwa dia tidak pernah memberikan persetujuan kepada suaminya untuk meminjam kredit dan tandatangan persetujuan istri yang ada didalam akta tersebut bukanlah tandatangan penggugat. Kasus inipun bergulir mulai dari tingkat PN, PT dan
246. Syahril Sofian, “Peraturan Jabatan Notaris”, Medan 2015, Bahan ajar Magister Kenotariatan, Universitas Sumatera Utara, 2015.
247 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Bandung 2013, PT Refika Aditama, hal.86
akhirnya ke Mahkamah Agung. Singkatnya, sambil menunggu kasus ini selesai atas kesepakatan pihak kreditur dengan Notaris. Akibat Kelalaiannya yang mengakibatkan kedudukan kreditur menjadi lemah dan berpotensi kehilangan asset kreditnya yang cukup besar, dan untuk menghindari adanya tuntutan dari pihak kreditur kepada Notaris, telah disepakati Notaris tersebut diharuskan menyetorkan uang sebesar jumlah hutang debitur tersebut sebagai jaminan ganti rugi sementara kepada pihak bank dengan ketentuan, apabila dalam kasus ini pihak Bank gagal mengambil jaminan tersebut maka uang tersebut dianggap sebagai pelunasan hutang debitur. Tetapi jika jaminan tersebut sudah dapat dikuasai dan kasus di pengadilan tersebut dimenangkan pihak kreditur maka uang tersebut akan dikembalikan, akan tetapi segala bentuk kerugian kreditur yang timbul sehubungan dengan kasus ini diluar daripada jumlah hutang debitur menjadi beban dan tanggung jawab Notaris.248
BAB IV
AKIBAT PENERAPAN AKTA JAMINAN FIDUSIA INDENTIK SEBAGAI PERJANJIAN BAKU YANG MEMUAT KLAUSULA AKSONERASI
A. Pemahaman Umum Fungsi , Tugas dan Wewenang Notaris.
1. Fungsi Notaris ;
Notaris adalah pejabat umum yang keberadaannya dibutuhkan ditengah tengah masyarakat249 dan berfungsi sebagai pelayan terhadap pihak pihak yang membutuhkan jasa dalam hal membuat akta perjanjian didalam melakukan hubungan kontraktual baik dalam kegiatan usaha maupun dalam peralihan hak hak atas kebendaan ataupun hal lain yang berkaitan dengan bentuk perjanjian tertulis, karena keterangan-keterangannya dapat diandalkan, dapat dipercayai, dan memberi jaminan dan bukti kuat, sebagai seorang ahli yang tidak memihak (onkreukbaar atau unimpeachable).
Notaris disebut sebagai pejabat umum berdasarkan ketentuan pasal 1868 KUHPerdata,250 dengan sebutan Openbare Ambteneran, yang berwenang untuk membuat suatu akta otentik. Pasal tersebut tidak menguraikan secara jelas siapa yang dimaksud sebagai pejabat umum, tetapi jika melihat pengertian dari Openbare
249. Tan Thong Kie, Studi Notariat & Serba-Serbi Praktek Notaris, cet. I, Jakarta 2007, Ichtiar Baru Van Hoeve, hal. 449.
Keberadaan Notaris tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat yang membutuhkan seseorang (figure) yang keterangannya dapat diandalkan, dapat dipercaya, yang tanda tangannya serta segelnya (capnya) memberi jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang tidak memihak dan penasehat yang tidak ada cacatnya (onkreukbaar) atau (unimpeachable), yang tutup mulut dan membuat suatu perjanjian yang dapat melindungi di hari-hari akan datang. Kalau seorang advocate membela hak-hak seseorang ketika timbul suatu kesulitan, maka seorang Notaris harus berusaha mencegah terjadinya kesulitan itu.
250. Pasal 1868 KUHPerdata
“Eene authentieke acte is de zoodanige welke in de wettelijken vorn is verleden, door of ten overstaan van openbare ambtenaren die daartoe bevoegd zijn ter plaatse alwaar zuiks is geschied.”(Suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau di hadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat).
Ambtenaren diperoleh pemahaman bahwa pejabat yang diserahi tugas untuk membuat akta otentik adalah pejabat yang melayani kepentingan publik, sehingga kualifikasi seperti ini sangat tepat diberikan kepada Notaris.251 Selain menurut pasal 1868 KUHPerdata, pengertian Notaris sebagai pejabat umum ini lebih dipertegas lagi melalui pasal 1 ayat (2) UUJN Nomor 30 tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 tahun 2014.252
a. Tugas dan Wewenang Seorang Notaris :
1. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus (waarmerking).
2. Membuat kopi dari asli surat dibawa tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.
3. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya (legalisir).
4. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.
5. Membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan.
6. Membuat akta risalah lelang.
7. Membetulkan kesalahan tulis dan/atau kesalahan ketik yang terdapat pada minuta akta yang telah di tanda tangani, dengan membuat berita acara (BA) dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada minuta akta asli yang menyebutkan tanggal dan nomor BA pembetulan, dan salinan tersebut dikirimkan ke para pihak (pasal 51 UUJN).
251. Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia, Bandung 2009, CV. Mandar Maju, hal.16
252. Pasal 1 ayat (2) UUJN Nomor 30 tahun 2004 jo UUJN Nomor 2 tahun 2014
“Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang undang lainnya.
b. Tanggung Jawab Seorang Notaris :
Notaris sebagai pejabat umum (openbaar ambtenaar) yang berwenang membuat akta otentik dibebani tanggung jawab atas perbuatannya sehubungan dengan pekerjaannya dalam membuat akta tersebut. Ruang lingkup pertanggung jawaban notaris meliputi kebenaran materiil atas akta yang dibuatnya. Mengenai tanggung jawab notaris selaku pejabat umum yang berhubungan dengan kebenaran materiil dapat dibedakan menjadi empat poin yakni253 :
a. Tanggung jawab Notaris secara perdata terhadap kebenaran materiil terhadap akta yang dibuatnya;
b. Tanggung jawab notaris secara pidana terhadap kebenaran materiil dalam akta yang dibuatnya;
c. Tanggung jawab Notaris berdasarkan UUJN terhadap kebenaran materiil dalam akta yang dibuatnya;
d. Tanggung jawab Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan kode etik Notaris.
c. Perbedaan Notaris pada Negara Civil law dan Common law :
Selain di Indonesia, di Negara Negara lain jabatan Notaris ini juga dikenal, tetapi mempunyai perbedaan fungsi yang signifikan dan sama sekali tidak dapat dipersamakan atau dicampur adukkan.
Notaris Pada Negara Civil Law254
Di Negara yang menganut sistim hukum civil law Notaris hanya sebagai pihak yang menerapkan aturan. Pemerintah mengangkat Notaris sebagai orang- orang yang
253.Nico, Tanggung jawab Notaris Selaku Pejabat Umum, (Yogyakarta 2003, Center for Documentation and Studies of Business Law, hal. 21.
254. Ira Koesoemawati & Yunirman Rijan, Opcit., , hal. 24
menjadi "pelayan" masyarakat. Sebagai pihak yang diangkat oleh negara maka Notaris dapat dikategorikan sebagai perwakilan negara yang mendelegasikan kewenangannya kepada notaris untuk melakukan pencatatan dan penetapan serta penyadaran hukum kepada masyarakat, terutama menyangkut legalitas dokumen perjanjian atau perikatan, sehingga akta yang dibuat oleh seorang notaris dalam sistem civil law merupakan akta autentik yang sempurna sehingga dapat dijadikan alat bukti yang sah di Pengadilan.
Notaris di Negara Common Law ;
Posisi Notaris dinegara dengan sistim civil law dan common law sangat jauh berbeda. Jika di Negara civil law Notaris tersebut diangkat oleh Negara dan berperan sebagai legal drafting untuk memformulasikan kehendak para penghadap menjadi sebuah akta otentik yang memiliki kekuatan pembuktian, sedangkan di Negara comon law Notaris tidak diangkat oleh Negara atau pemerintah, mereka adalah Notaris partikelir yang bekerja tanpa ada ikatan dengan pemerintah. Demikian juga mengenai legal drafting akta dibuat oleh pengacara (lawyer) dengan para pihak tanpa melibatkan Notaris.
Fungsi Notaris disini hanya sebagai sebagai legalisator yang mengesahkan pencatatan dan membukukan akta perjanjian tersebut didalam buku registrasi, sehingga sifat dokumen tersebut tidak autentik yang tidak cukup kuat untuk dijadikan bukti di persidangan.255 Dengan demikian fungsi dan jabatan Notaris dinegara negara common law tidaklah terlalu penting256
255. Ibid
256. Tan Thong Kie, op. cit., hal. 224
“Our notary public is a person of very slight importance” (Bahwa jabatan Notaris di negara-negara yang menganut sistem hukum Common Law adalah jabatan biasa dan tidak begitu penting.
2. Pembatasan Wewenang Notaris Dalam Tugas dan Jabatannya .
a. Berdasarkan Undang Undang Jabatan Notaris (UUJN)Nomor 2 Tahun 2014;
Tugas dan pekerjaan seorang Notaris terkait erat dengan kepercayaan (trust) diantara para pihak, artinya Negara memberikan kepercayaan yang besar terhadap Notaris yang berarti bahwa Notaris itu mau tidak mau harus memikul tanggung jawab secara hukum maupun moral. Untuk itu perlu adanya suatu ketentuan yang mengatur dan mengawasi kinerja seorang Notaris agar tidak menyimpang dari aturan yang ada.
Salah satu pembatas kewenangan Notaris adalah Undang Undang Jabatan Notaris Nomor (UUJN) Nomor 30 tahun 2004 juncto UUJN Nomor 2 tahun 2014, sebagai pengganti dari Reglement op Het Ambt in Nederlands Indie (Stbl. 1860:3) yang merupakan suatu bentuk peraturan yang menetapkan bentuk tugas, fungsi, larangan serta wewenang maupun tanggung jawab seorang Notaris dalam menjalankan tugasnya, sehingga didalam setiap perbuatan Notaris tidak boleh menyimpang dari apa yang digariskan didalam ketentuan per‟Undang Undangan tersebut, tetapi harus berintikan kepada kebenaran dan keadilan untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum didalam pembuatan alat bukti tertulis otentik mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum yang dilaksanakan melalui jabatan tertentu, yaitu oleh Notaris sebagai pejabat umum.
b. Berdasarkan Kode Etik Notaris :
Selain ketentuan per‟Undang Undangan sebagaimana dijelaskan diatas, salah satu pembatas moralitas seorang Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya adalah Kode etik Notaris.
Untuk menegakkan etika profesi tentunya membutuhkan organisasi profesi yang kuat dan berwibawa. Penegakkan etika profesi ini dimaksudkan sebagai fungsi pengawasan (control) terhadap pelaksanaan nilai-nilai yang tertuang dalam kode etik yang merupakan kesepakatan para pelaku profesi itu sendiri dan sekaligus menerapkan sanksi terhadap setiap perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.257
Dalam menjalankan tugas dan jabatannya, Notaris diharuskan juga taat kepada Kode Etik Notaris,258 yang berfungsi sebagai "kaidah moral" dan berisi tentang hal yang baik dan buruk, bertujuan mengatur kewajiban, larangan, pengecualian serta sanksi terhadap Notaris jika ada dugaan melakukan pelanggaran.259 Penjatuhan sanksi dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengambilan keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan kode etik yang bersifat internal atau yang tidak mempunyai kaitan secara langsung dengan kepentingan masyarakat.
Kode etik Notaris berfungsi memperkuat kepercayaan masyarakat akan profesi Notaris, dengan maksud dan tujuan untuk menjaga kehormatan dan harkat martabat jabatan Notaris, karena “dengan adanya kode etik kepercayaan masyarakat akan suatu profesi dapat diperkuat, karena setiap klien mengharap kepastian bahwa kepentingannya akan terjamin.”260 Untuk berfungsi dengan baik, kode etik harus menjadi self-regulation dari profesi dan pelaksanaannya diawasi terus-menerus.
257. www.anggara.org
258. Berdasarkan ketentuan Kode Etik Notaris Bab I Pasal 1 Ketentuan Umum,:
Kode Etik adalah seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan I.N.I yang selanjutnya akan disebut "Perkumpulan" berdasar keputusan Kongres Perkumpulan dan/ atau yang ditentukan oleh dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris, termasuk di dalamnya para Pejabat Sementara Notaris, Notaris Pengganti, dan Notaris Pengganti.
259. Ira Koesoemawati & Yunirman Rijan, Opcit., hal. 58
260. K. Bertens, Etika, Cetakan Kesepuluh, Jakarta 2007, Gramedia Pustaka Utama, hal. 4
Penegakan kode etik adalah usaha melaksanakan kode etik sebagaimana mestinya, mengawasi pelaksanaannya supaya tidak terjadi pelanggaran; dan jika terjadi
Penegakan kode etik adalah usaha melaksanakan kode etik sebagaimana mestinya, mengawasi pelaksanaannya supaya tidak terjadi pelanggaran; dan jika terjadi