BAB II BENTUK PERDAGANGAN ANAK DI WILAYAH SUMATERA
C. Faktor Penyebab Perdagangan Anak Terjadi di Indonesia
Kejahatan di seluruh dunia selalu mengalami perkembangan yang sangat cepat sejalan dengan cepatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan mengenai masalah-masalah kejahatan, baik dilihat secara kuantitatif maupun kualitatif tetap memerlukan suatu pembahasan dan mengamatan sesuai dengan aktivitas permasalahannya.94 Tanpa mempelajari sebab-sebab terjadinya kejahatan sangat sulit untuk dimengerti alasan kejahatan itu. Faktor-faktor penyebab terjadinya perdagangan anak sebagai berikut:95
93 Syamsuddin, “Bentuk-bentuk Perdagangan Manusia dan Masalah Psikososial Korban Forms of Human Trafficking and Psychosocial Problems of Victim” Sosio Informa Vol. 6 No.
01, Januari-April, Tahun 2020, hal. 24.
94 Francis T. Miko, Perdagangan Wanita dan Anak-anak, (Jakarta: Progressia, 2001), hal.
3-12.
95 Ibid.
46
1. Faktor Individual
Seseorang yang tingkah lakunya baik akan mengakibatkan orang tersebut mendapat penghargaan dari masyarakat, akan tetapi sebaliknya jika seseorang bertingkah laku tidak baik maka orang itu akan menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Dalam perdagangan orang untuk tujuan prostitusi atau pelacuran, terjerumusnya anak dalam pentas pelacuran ini bukan merupakan pilihan anak semata, oleh karena anak tidak dalam kapasitas yang kuat untuk memberikan persetujuan untuk menjadikan dirinya sebagai pelacur. Meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran ini, cenderung anak tidak menggunakan nalarnya dalam mengambil keputusan, mereka lebih menggunakan emosinya sehingga anak-anak ini terjebak dalam lingkaran prostitusi atau pelacuran.
Disamping kurang menggunakan akal pikirannya, karena disebabkan adanya keinginan pada diri anak-anak itu sendiri untuk memperoleh atau mendapatkan uang yang cukup besar sehingga mereka kurang hati-hati didalam menerima tawaran pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi.96 Hal ini yang pada akhirnya membawa anak tersebut ke dalam kehancuran masa depan, oleh karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki anak yang menjadi korban perdagangan ini sehingga anak dengan mudah berada dibawah ancaman ataupun paksaan, baik dari kerabat terdekatnya untuk dijerumuskan ke dalam dunia prostitusi atau pelacuran. Hal ini sangat menyakitkan bagi anak itu sendiri untuk terbebas dari jaringan prostitusi atau pelacuran apabila anak itu telah berada didalamnya. Di
96 Ibid.
samping itu diperlukan pula waktu yang cukup lama untuk membebaskan anak itu dari trauma yang dirasakannya. 97
Dengan demikian faktor ketidakmampuan menggunakan akal pikir (nalar) dan adanya hasrat atau keinginan untuk memperoleh uang yang banyak sehingga terpengaruh dengan janji-janji yang ditawarkan, yang merupakan salah satu faktor pendorong anak dengan mudah menjadi korban perdagangan untuk tujuan prostitusi atau pelacuran tersebut.98
2. Faktor Ekonomi
Kemiskinan yang dihadapi sebuah keluarga sering kali membawa keluarga tersebut pada situasi kekecewaan yang pada gilirannya menimbulkan kekerasan.
Hal ini biasanya terjadi pada keluarga dengan anggota yang sangat besar.99 Problematika finansial keluarga yang memprihatinkan berbagai macam masalah baik dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari, pendidikan, kesehatan, pembelian pakaian, pembayaran sewa rumah yang kesemuanya secara relatif dapat memengaruhi jiwa dan tekanan yang sering kali akhirnya dilampiaskan terhadap anak-anak.100
3. Faktor Keluarga
Upaya membesarkan, mengarahkan, dan mendidik anak ternyata bukan perkerjaan yang gampang, bukan pula perkara yang sepele. Jika kita kaitkan dengan besarnya harapan dan cita-cita orang tua yang menginginkan anaknya taat dengan ajaran agama, setia kawan dalam berteman, akrab terhadap sesama
97 Ibid.
98 Ibid.
99 Bagong Suyanto, Masalah Sosial Anak, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 26.
100 Ibid, hal. 33.
48
kerabat, sukses dan berprestasi dalam belajar dan berkerja. Karena begitu menggebu-gebunya hasrat orang tua terhadap keberhasilan anaknya, terkadang tanpa disadari ia lebih berlebihan dalam mencintai dan memperlakukan anak itu.101 Sehingga kecintaan itu bukan saja tidak memberikan motivasi atau dorongan kepada anak untuk meraih apa yang diidam-idamkannya, tetapi malah menjadi racun dan bumerang bagi perkembangan kejiwaan kepribadian anak itu sendiri.102
Sehingga peran keluarga mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan pola tingkah laku anak sekaligus bagi perkembangan anak, Tidak seorang pun anak dilahirkan langsung mempunyai sifat jahat, tetapi keluargalah yang mempunyai sumber pertama yang memengaruhi perkembangan anak.
Perilaku orang tua merupakan contoh nyata bagi anak-anaknya.103
Dalam keluarga pembinaan terhadap anak haruslah sebaik mungkin dilakukan. Akibat kurangnya pemahaman keluarga terhadap anak sehingga anak tersebut mudah terpengaruh pada lingkungan di sekelilingnya, tanpa menggunakan nalarnya secara baik. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua membuat anak melarikan diri dari keluarga dan mencari pelampiasan kepada teman-temannya merupakan faktor yang sangat penting bagi kejiwaan anak.104
101 Deden Saeful Ridhwan, Konsep Dasar Pendidikan Islam (Sebuah Analisis Metode Qur’ani dalam Mendidik Manusia), (Depok: Rajawali Pers, 2020), hal. 8
102 M. Sahlan Syafei, Bagaimana Anda Mendidik Anak, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2006), hal. 92.
103 Gatot Supramono, Segi-segi Hukum Hubungan Luar Nikah, (Jakarta:
Djambatan,1998), hal. 131.
104 Suliadi RS, “Apa Kewajiban Orang tua Terhadap Anak”, www.com.http://berkarya.U m.ac.id/?p=5512, diakses pada tanggal 24 April 2020, pukul 01.00 WIB.
Faktor lain didalam keluarga yang dapat mendorong anak menjadi korban perdagangan untuk prostitusi atau pelacuran adalah penetapan disiplin didalam keluarga itu sendiri. kurangnya kedisiplinan dalam keluarga di sebabkan oleh:105
a. Perbedaan antara orang tua dengan anak dalam hal kedisiplinan;
b. Kelemahan moral, fisik dan kecerdasan orang tua yang membuat lemahnya disiplin;
c. Kurangnya disiplin karena tidak adanya orang tua;
d. Perbedaan pendapat tentang pengawasan terhadap anak-anaknya;
e. Karena penerapan kedisiplinan yang kurang ketat;
f. Orang tua dalam membagi cinta dan kasih sayang terhadap anak kurang merata atau pilih kasih dalam penerapan kedisiplinan didalam rumah tangga.
Kepatuhan pada orang tua juga merupakan hal yang sangat penting untuk dicermati.106 Adanya ketidak patuhan terhadap orang tua membuat anak tidak lagi memperhatikan nasihat ataupun bimbingan dari orang tuanya, sehingga anak itu bertindak dan berperilaku hanya berdasarkan emosionalnya semata. Dengan demikian betapa besar pengaruh faktor keluarga atas diri anak dalam perkembangan mental dan tingkah laku anak itu sendiri.107 Hal ini lah yang seharusnya di perhatikan oleh orang tua didalam memberikan pengawasan agar anak tidak menjadi korban perdagangan untuk tujuan prostitusi atau pelacuran.
4. Faktor Pendidikan
Salah satu penyebab terjadinya perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran adalah faktor pendidikan dari korban ataupun pelaku itu sendiri.
Peranan pendidikan dari korban ataupun pelaku akan sangat berpengaruh menumbuhkan perilaku yang rasional dan menurunkan atau mengurangi bertindak
105 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum terhadap Anak dan Perempuan, (Medan: refika Aditama, 2012), hal. 42-43.
106 Ibid.hal. 44-46.
107 Ibid.
50
secara irrasional.108 Salah satu faktor yang menyebabkan anak menjadi korban perdagangan untuk tujuan prostitusi atau pelacuran pada umumnya pendidikan anak tersebut sangat kurang, baik pendidikan formal maupun pendidikan informal.
Kebanyakan orang tua menyerahkan pendidikan anak mutlak kepada sekolah tanpa memberi perhatian yang cukup terhadap kepentingan pendidikan anak, sedangkan kemampuan pendidikan di sekolah terbatas.109 Kurangnya pendidikan formal berupa pendidikan agama juga merupakan faktor penyebab meningkatnya perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran. Hal ini mungkin disebabkan keterbatasan pengetahuan tentang keagamaan ataupun kurangnya rasa keimanan pada diri anak tersebut dalam mengendalikan dirinya dan lebih memudahkan pelaku (trafficker) untuk merekrut anak-anak itu untuk dijadikan pelacur.110
5. Faktor Lingkungan
Suatu kejahatan manusia didalam hidupnya akan selalu berdampingan dengan masyarakat sekitar.111 Tidak ada manusia yang hidup tidak bergantung atau membutuhkan orang lain, semua orang untuk memenuhi segala keperluannya harus selalu membutuhkan orang lain. Didalam masyarakat, seorang itu harus mentaati segala peraturan yang hidup didalam masyarakat termasuk juga norma hukum yang berlaku, ditengah masyarakat itu pula terdapat orang-orang yang menghormati dan mentaati hukum dan juga di kelilingi oleh mereka yang tidak
108 Ibid.
109 Ibid.
110 Francis T. Miko, Op.Cit, hal. 8
111 Maidin Gultom II., Op.Cit, hal. 45
menaati hukum.112 Bahwa salah satu penyebab anak menjadi korban perdagangan untuk tujuan prostitusi atau pelacuran adalah sangat berpengaruh pada keadaan lingkungan anak itu berada. Anak sebagai korban perdagangan ini tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga miskin tapi juga yang berasal dari lingkungan keluarga kaya.113
Anak menjadi korban perdagangan ini, karena terpengaruh oleh lingkungan yang bersifat materialism maupun konsumtif.114 Anak untuk memenuhi kebutuhannya maka anak tersebut akan menggapi bahkan menerima suatu pekerjaan yang dijanjikan dengan gaji yang tinggi sehingga anak itu akan menerima tanpa memikirkan akibatnya.115 Anak-anak tersebut pada umumnya tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan cara dari traffickeruntuk merekrut korbannya.116 Faktor lingkungan atau pergaulan anak tersebut dengan masyarakat sekitarnya dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya perdagangan yang korbannya anak-anak.117 Kejahatan perdagangan ini merupakan gejala sosial yang tidak berdiri sendiri melainkan adanya kondisi atau hubungan dengan berbagai perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, hukum maupun adanya teknologi serta perkembangan yang lain akibat sampingan yang negatif dari setiap kemajuan dan perubahan sosial masyarakat.118 Dalam hal ini orang tua harus memberikan pengalamannya dalam membina dan membentuk kepribadian anak, sehingga tidak
112 Ibid.
113 Ibid.
114 Ibid., hal. 46.
115 Ibid.
116 Ibid.
117 Ibid.
118 Ibid.
52
terjerumus dalam lingkungan prostitusi atau pelacuran sebagaimana yang sering terjadi.119
6. Faktor Budaya
Human Trafficking tidak terlepas dari budaya setiap daerah yang ada yang terwujud dalam beberapa hal. Misalnya peran perempuan dalam keluarga, kekuasaan, hierarki dan nilai sosial, serta peran anak dan tanggung jawabnya.
Budaya ini memiliki kekuatan yang nantinya akan berpengaruh pada terjadinya trafficking.120 Misalnya, anak-anak rentan ketika menghadapi permintaan dan tuntutan dari mereka yang lebih tua, terutama orang tua. Adanya keyakinan bahwa anak-anak tidak di perbolehkan bertanya macam-macam kepada orang tuanya.
Kemudian, untuk perempuan biasanya rentan menghadapi trafficking karena tuntutan sosial yang mengharuskan mereka mengurus dan memelihara anak-anak mereka, membantu menambah penghasilan dan kedudukan sebagai warga negara kelas dua.121 Orang miskin laki-laki ataupun perempuan rentan mengalami trafficking dan kekerasan, selain karena keterbatasan pendidikan juga tidak memiliki kekuatan sosial dan tidak memiliki penghasilan yang banyak, mereka pun biasanya merasa tidak berdaya menghadapi kekuatan sosial yang lebih besar, dalam hal ini kontrak kerja dan kondisi kerja.122
119 Ibid.
120 Rika Saraswati, Hukum Perlindungan Anak di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2015), hal. 81.
121 Ibid., hal. 82
122 Ibid.
7. Faktor Lemahnya Penegakan Hukum
Kasus-kasus perdagangan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran sekarang ini sudah pada tahap tingkatan yang mengkhawatirkan.123 Akan tetapi pemerintah dan masyarakat pada umumnya masih banyak yang mengganggap persoalan perdagangan anak untuk prostitusi atau pelacuran merupakan masalah pelacuran biasa, bukan merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap manusia.124
Hal ini disebabkan karena pemahaman terhadap masalah perdagangan anak sangat kurang didalam masyarakat. Kurangnya pemahaman ini juga terjadi pada tingkat penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan), disamping lemahnya pemahaman tentang perdagangan anak ini, produk yang ada juga masih sangat minim dalam memberikan perhatian terhadap perdagangan anak ini untuk dilakukan. Perangkat hukum di Indonesia masih terlalu lemah dalam memberikan perhatian terhadap masalah perdagangan anak dan aparat penegak hukum yang mempunyai peranan idealnya masing-masing yang dirumuskan didalam peraturan perundang-undangan. Tetapi faktanya, peran yang dijalankan para penegak hukum seringkali berbanding terbalik dari yang ideal tersebut.125
Sehingga tidak menyentuh segmen perdagangan perempuan dan anak untuk tujuan prostitusi atau pelacuran (trafficking on women and children), dan tidak adanya keterbukaan antara pelaku perdagangan orang dengan pemerintah dan aparat terkait seperti pejabat Dinas Ketenagakerjaan di Kabupaten dan
123 Harry A. G. Tendean,“ Eksploitasi Anak Sebagai Kejahatan Perdagangan Manusia Perspektif Hukum Hak Asasi Manusia”, Lex Privatum Vol. IV/No. 8/Okt-Nov/2016, hal. 38.
124 Ibid.
125 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, (Jakarta:
Cetakan 14, Rajawali Pers, 2016), hal. 30.
54
Provinsi, Kementrian Ketenagakerjaan dan aparat penegak hukum seperti Polri.126 Hal tersebut membuat semakin banyak kasus tidak terselesaikan secara hukum dan adanya ketidak mampuan aparat hukum untuk membongkar dan memutuskan mata rantai perdagangan anak.127
8. Media Massa
Media masih belum memberikan perhatian yang penuh terhadap berita dan informasi yang lengkap tentang trafficking dan belum memberikan kontribusi yang optimal dalam upaya pencegahan maupun penghapusannya. Bahkan tidak sedikit justru memberikan hal kurang mendidik dan bersifat pornografi yang mendorong menguatnya kegiatan trafficking dan kejahatan susila lainnya. Seperti terpengaruhnya dengan janji-janji manis lewat iklan media massa.128
Banyak faktor yang mendorong orang terlibat dalam perdagangan manusia yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu supply dan demand. Dari sisi supply antara lain:129
a. Perdagangan manusia merupakan bisnis yang menguntungkan, dari industri seks saja di perkirakan US $ 1,2-2,3 milyar per tahun untuk Indonesia. Hal ini menyebabkan kejahatan internasional terorganisir menjadi prostitusi internasional dan jaringan perdagangan manusia sebagai fokus utama kegiatannya.
b. Kemiskinan telah mendorong anak-anak tidak sekolah sehingga kesempatan untuk memiliki keterampilan kejurusan serta kesempatan kerja menyusut. Seks komersial kemudian menjadi sumber nafkah yang mudah untuk mengatasi masalah pembiayaan hidup, kemiskinan pula yang mendorong kepergian anak terlantar tanpa perlindungan sehingga berisiko menjadi korban.
126 S. Edi Hardum, Perdagangan Manusia Berkedok Pengiriman TKI, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2016), hal. 128.
127 Ibid.
128 Mulyanto, Melacur demi hidup: fenomena perdagangan anak perempuan di Palembang Masalah 130 dari Seri laporan, ( Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2004), hal. 7.
129 Fiska Angelia Sumangkut, “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Perdagangan Menurut Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak”, Lex Crimen Vol. IV/No. 7/ Sep 2015, hal. 98.
c. Keinginan untuk hidup lebih layak, tetapi dengan kemampuan yang minim dan kurang mengetahui informasi pasar kerja, menyebabkan mereka terjebak dalam lilitan hutang para penyalur tenaga kerja dan mendorong mereka masuk dalam dunia prostitusi.
d. Konsumerisme merupakan faktor yang menjerat gaya hidup anak remaja, sehingga mendorong mereka memasuki dunia pelacuran secara dini. Akibat konsumerisme, berkembanglah kebutuhan untuk mencari yang banyak dengan cara mudah.
e. Pengaruh sosial budaya seperti pernikahan di usia muda yang rentan perceraian, yang mendorong anak memasuki eksploitasi seksual komersial.
Adanya kepercayaan bahwa hubungan seks dengan anak-anak secara homoseksual ataupun heteroseksual akan meningkatkan kekuatan magis seseorang atau membuat awet muda, telah membuat masyarakat melegitimasi kekerasan seksual dan bahkan memperkuatnya.
f. Kebutuhan para majikan akan pekerja yang murah, penurut, mudah diatur, dan mudah ditakut-takuti telah mendorong naiknya demand terhadap pekerja anak.
Sering kali anak-anak bekerja dalam situasi yang rawan kecelakaandan berbahaya.
g. Perubahan struktur sosial yang diiringi oleh cepatnya industrialisasi atau komersialisasi, telah meningkatkan jumlah keluarga menengah, sehingga meningkatkan kebutuhan akan perempuan dan anak untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Dalam kondisi yang tertutup dari luar, anak-anak itu rawan terhadap penganiayaan baik fisik maupun seksual. Selain dipaksa bekerja berat tanpa istirahat, mereka diperlakukan kasar jika mengeluh.
h. Kemajuan bisnis pariwisata di seluruh dunia yang juga menawarkan pariwisata seks, termasuk yang mendorong tingginya permintaan akan perempuan dan anak-anak untuk bisnis tersebut. Ketakutan para pelanggan terinfeksi virus HIV/AIDS menyebabkan banyak perawan muda di rekrut untuk tujuan itu.
Pulau Batam telah menarik orang asing tidak saja untuk membuka usaha, tetapi juga untuk pelayan seksual yang mudah di dapat dan murah. Gadis-gadis belia dari Jawa dan Sumatera dengan gencar direkrut untuk memenuhi kebutuhan para pengusaha yang kebanyakan berasal dari Korea dan Singapura. Bali sebagai daerah wisata, banyak merekrut gadis-gadis lokal dan juga dari tempat-tempat lain di Indonesia untuk eksploitasi secara seksual, biasanya oleh turis-turis asing. Indonesia dan Taiwan adalah tujuan kedua wisatawan seks dari Australia. Dengan maraknya AIDS, anak-anak menjadi semakin laku, harga anak perawan sangat mahal, dan dengan adanya resesi, membuat anak perawan keluarga miskin menjadi sangat potensial untuk di jual.130
9. Faktor Gaya Hidup Hajatan.
Sekalipun umumnya miskin, tetapi masyarakat setempat mempunyai gaya hidup hajatan yang biasanya harus dilengkapi dengan hiburan, kecuali warga yang
130 Chairul Bariah Mozasa, Aturan-Aturan Trafficking, USU Press, 2005, hal. 3-14.
56
sangat miskin.131 Acara ini biasanya terjadi pada musim panenan ketika mereka memperoleh pendapatan lumayan dan sekaligus merupakan acara syukuran.
Setiap acara hajatan, seperti perkawinan, sunatan ataupun rasulan (sunatan bagi anak perempuan), hiburan harus selalu ada.132 Jenis hiburan menunjukkan tingkat status sosial ekonomi orang tua.
10. Faktor Perkawinan di Usia Muda
Salah satu faktor pendorong yang membuat anak perempuan berhenti sekolah adalah adanya kepercayaan bahwa anak perempuan sebaiknya menikah pada usia muda. Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) mengalami perubahan pada UU No. 16 Tahun 2019 sebagai berikut:133
1. Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.
2. Dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), orang tua pihak pria dan/atau orang tua pihak wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.
3. Pemberian dispensasi oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mendengarkan pendapat kedua belah calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan.
4. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan seorang atau kedua orang tua calon mempelai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga ketentuan mengenai permintaan dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).
131 M. Taqyuddin Akbar, “Perlindungan Hukum Terhadap Korban Perdagangan Anak Berdasarkan Pasal 68 Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak”, DIH, Jurnal Ilmu Hukum Agustus 2012, Vol. 8, No. 16, Agustus 2012, hal. 71.
132 Ibid.
133 Lembaran Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Nomor 16 Tahun 2019, pasal 1.
Dalam pertimbangan yang sama juga disebutkan Pengaturan batas usia minimal perkawinan yang berbeda antara pria dan wanita tidak saja menimbulkan diskriminasi dalam konteks pelaksanaan hak untuk membentuk keluarga sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (1) UUD 1945, melainkan juga telah menimbulkan diskriminasi terhadap pelindungan dan pemenuhan hak anak sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945. Dalam hal ini, ketika usia minimal perkawinan bagi wanita lebih rendah dibandingkan pria, maka secara hukum wanita dapat lebih cepat untuk membentuk keluarga.134
Perubahan norma dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini menjangkau batas usia untuk melakukan perkawinan, perbaikan norma menjangkau dengan menaikkan batas minimal umur perkawinan bagi wanita. Batas minimal umur perkawinan bagi wanita dipersamakan dengan batas minimal umur perkawinan bagi pria, yaitu 19 (sembilan belas) tahun. Batas usia dimaksud dinilai telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang sehat dan berkualitas.135
11. Faktor Konflik Sosial dan Perang
Dewasa ini Indonesia berada dalam masa transisi politik yang pernah bergejolak dari pemerintahan yang lebih terbuka dan demokratis. Ditambah lagi dengan konflik sosial politik di berbagai daerah sehingga banyak orang terusir dari rumah mereka sendiri dan banyak anak-anak yang menderita akibat konflik
134 Jogloabang, “UU no 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas UU no 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”, www.jogloabang.com/pustaka/uu-16-2019-perubahan-uu-1-1974perkawina n/, diakses pada tanggal 26 April 2021, pukul 03.16 WIB
135 Ibid.
58
ini, karena anak-anak yang terjebak dalam situasi konflik niscaya mereka akan tumbuh dengan jiwa yang terluka. Anak yang seharusnya hidup tentram dan memperoleh belaian kasih sayang tapi harus melakukan pengungsian akibat faktor ini.