• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

2.1.6. Faktor Penyebab Stres Kerja

Konsep stres di tempat kerja beserta faktor yang berpengaruh di dalamnya, secara komprehensif diuraikan oleh Cooper dan Davidson (1987). Menurutnya stres di tempat kerja dapat bersumber dari beberapa hal, yaitu :

1. Work area, yaitu suatu stressor yang bersumber dari situasi dan kondisi yang berhubungan dengan pekerjaan, misalnya beban kerja, jam kerja, jenis pekerjaan, hubungan interpersonal, dan lain – lain.

2. Home area, yaitu stressor yang bersumber dari kehidupan rumah, misalnya perubahan sosial atau teknologi, keluarga, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, keadaan tempat tinggal atau komunitas, dan lain – lain.

3. Sosial area, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat atau diluar rumah dan pekerjaan, misalnya lokasi kerja, sarana dan fasilitas kerja, lingkungan kerja.

4. Individual area, yaitu karakteristik yang melekat pada individu itu sendiri, misalnya umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, dan lain–lain.

Semua faktor tersebut saling terkait dan mempengaruhi sehingga menghasilkan suatu gejala – gejala dalam ruang lingkup manifestasi stres (manifestation area).

Model kejadian stres kerja menurut Cooper dan Davidson (1987) Number of working years, position, duty, assingment, supervisory responsibilities. Factors Interinsic to the Job :

Person/Envirentment fit and Job satisfaction, Equipment, Training, Shift work, Work over-load, Work underload, Physical danger, Work related self esteem.

Role in the organization :

Role ambiguity, Role conflict, Responsibility for people, organizational boundaries. Career development :

Over/under promption, lack of Job security, Job future ambiguity, Status congruency, Satisfaction with pay

Relationship/sosial support : Colleagues, supervisors, subordinates Organizational stucture and climate :

Politics, consultation/communication, Participation in decesing making, Restriction on behavior, Rigidity of departemental policis, Significan others.

The Individual Arena

Genetics traitss, history (demographigs e.g.: agem education, religion, nationality), Stress, Copping ability, Type A personality, Extraversion versus Introversion, Neuorosis, Life Events,

Significant others.

The Manifestation Arena : Stress Outcome

Job dissatisfaction, Work-related self esteem, Alcohol consumption, Cigarette smoking, Marital dissafaction, Divorce or separation, Drug use, Obesity or diet, Coronary heart disease, Hypertention, Migraine, Asthma, Mental illness, Total mental and physocal illness, Level of performance, Accidents, Physiological measures.

The Social Arena Allenation and anomy, Climate, diet etc, Frequent moving, Driving, |Urban versus rural living, Exercise, Sport, Hobbies, Social contact and activities. The Home Arena

Family dinamics, Marital relations, General social supports from

spouse/closest friend of opposite sex, Relations with children, Famili concern for safety, Living environment,

a. Karakteristik Individu

Setiap individu memiliki ambanag stres yang berbeda – beda. Karakteristik seseorang akan mempengaruhi kadar stres yang dialaminya. Menurut pandangan interaktif tentang stres, dikatakan bahwa stres itu sendiri dapat ditentukan oleh individunya sendiri, semua tergantung sejauh mana individu itu melihat situasi sebagai stres. Menurut Evayanti (2003) tidak semua orang yang menghadapi sumber stres yang sama akan mengalami stres kerja karena adanya perbedaan karakteristik individu.

Karakteristik individu yang merupakan faktor internal terdiri dari beberapa faktor, seperti usia, tingkat pendidikan, status pernikahan, masa kerja, dan lain – lain.

1) Usia

Peranan faktor usia pada individu dalam bereaksi dalam situasi yang potensial menimbulkan stres juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain. Individu yang telah berusia 50 tahun menurut Rustika (1997), akan mengalami kemunduran pada jaringan tubuh yang diantaranya jaringan otak menyusut karena atropi, jaringan paru menjadi kurang elastik, jantung mulai melemah, gerakan yang sering kuat dan kurang terkoordinasi. Levi (1984) mengatakan bahwa mereka yang berusia diatas 50 tahun telah mengalami penurunan kemampuan fisik sehingga tidak lagi dapat mengerjakan pekerjaan–pekerjaan dengan beban kerja yang lebih berat dan mereka sering merasakan gejala–gejala stres seperti badan letih dan lemah, serta merasa tidak bertenaga.

Hubungan antara usia dengan stres kerja memiliki kesamaan dengan hubungan antara masa kerja dengan stres kerja. Namun, tidak selamanya usia dengan stres kerja dapat dihubungkan dengan masa kerja. Ada beberapa jenis pekerjaan yang sangat berpengaruh dengan usia, terutama yang berhubungan dengan sistem indra dan kekuatan fisik. Namun dalam beberapa pekerjaan lain, faktor usia yang lebih tua biasanya memiliki pengalaman dan pemahanan bekerja yang lebih banyak, sehingga pada jenis pekerjaan tertentu usia dapat menjadi kendala dan dapat pula menjadi pemicu terjadinya stres kerja (Munandar, 2001).

Menurut European Commision for Employment and Social Affair (1999) dalam Hidayat (2012), pada usia 20 – 29 tahun individu berusaha untuk menempatkan diri pada lingkungan sosial yang berubah dengan cepat, adanya konflik, kebimbangan, dan nilai sosial, individu pada usia ini juga mulai memasuki masa bekerja secara formal dan tentulah mereka mempunyai harapan – harapan yang besar di dalam karirnya, namun apabila dirasakan ketidaksesuaiaan dengan kondisi pekerjaan yang dimilikinya saat ini, maka individu akan merasa tidak puas dan cenderung mengalami stres kerja.

Penelitian yang dilakukan oleh Sugijanto (1999) diketahui bahwa usia ≥40 tahun memiliki tingkat stres yang tinggi sebesar 55,2% dibandingkan dengan usia <40 tahun yang hanya 48,6%. Namun berdasarkan uji statistik tidak diketahui adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan stres kerja dengan p value 0,236. Menurut Desy (2002)

menyatakan bahwa pekerja yang telah berusia 35 tahun lebih kebanyakan telah mempunyai pengalaman kerja yang lama, sehingga dapat bertindak lebih bijaksana dan mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri yang lebih baik terhadap perubahan – perubahan di sekitar lingkungan kerjanya dan karena sudah bekerja lama, maka pekerja tersebut sudah lebih mengenal dan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerjanya.

Menurut Schultz (1998), pekerja muda dilaporkan mempunyai kepuasan dalam bekerja yang rendah, terutama sewatu mereka bekerja untuk pertama kali. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya pengalaman serta tanggung jawab terhadap pekerjaan serta ingin mencari pekerjaan yang lebih menantang. Sedangkan pekerja dewasa mempunyai pilihan yang lebih baik untuk mencari pemenuhan aktualisasi diri dalam pekerjaannya. Pada umumnya usia dan pengalaman bekerja lebih meningkatkan keyakinan, kemampuan, penghargaan, dan tanggung jawab bekerja.

Menurut penelitian Undari (2006) berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara usia dengan stres kerja dengan p value 0,001.

2) Pendidikan

Menurut Effendi dalam Jurnal Pendidikan dan Kebidayaan No. 043 (2003) yang dikutip oleh Adas (2006) baik disadari atau tidak pendidikan mempunyai pengaruh dalam stres kerja, hal ini disebabkan seseorang pekerja harus memiliki kualifikasi sebagai gambaran keserasian

seseorang dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, yang secara internal dipengaruhi oleh kemampuan, pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki. Pada umumnya pendidikan yang lebih tinggi menggambarkan tingkat profesional dan tanggung jawab yang lebih besar, serta kedudukan yang memerlukan otoritas yang “lebih” dibandingkan level pendidikan yang berada dibawahnya.

Sedangkan menurut Anderson dalam Suhartini (2004), karyawan baru dengan harapan tinggi dengan latar belakang pendidikan yang tidak menunjang pekerjaan akan sering mengalami stres kerja.

Berdasarkan hasil penelitian Lelyana (2003) diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan stres kerja dengan p value 0,002.Namun kondisi berbeda didapatkan dari hasil penelitian Utami (2009) yang diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kejadian stres kerja dengan p value 0,585.

3)Status pernikahan

Menurut European Commision for Employment and Social Affair (1999) mereka yang berstatus pernah menikah (duda), mereka yang menjadi orang tua tunggal (pernah menikah dan memiliki anak) merupakan kelompok yang lebih rentan mengalami stres sebab mereka dihadapkan pada masalah sosial dan emosional dari lingkungan dan anggota keluarga.

Evayanti (2003) mengatakan bahwa bagi pekerja yang berstatus menikah, keadaan keluarga bisa jadi penghambat, mempercepat atau menjadi penangkal pross terjadinya stres. Bila seseorang mempunyai masalah gawat di rumah kecenderungan untuk mendapatkan stres di tempat kerja akan lebih besar. Sebaliknya bila rumah tangga dirasakan aman, nyaman, dan menyenangkan maka masalah – masalah ditempat kerja dapat dihadapi dengan lebih baik.

Menurut Apelbaum (1981) menyatakan jika seorang pekerja mendapatkan dukungan dalam karir dari istri maka ia akan mendapatkan kepuasan kerja, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu hubungan pernikahan yang baik membantu pekerja untuk mencegah atau mengurangi stres kerja.

Seseorang yang belum menikah memiliki kebebasan yang lebih besar serta rasa tanggung jawab yang lebih ringan, namun dengan tidak adanya pendamping hidup maka membuat stressor sulit untuk dikendalikan. Jika seseorang telah menikah meski memiliki tanggung jawab yang besar namun karena adanya pendamping hal ini dimungkinkan akan membuat beban yang dirasakan menjadi lebih ringan karena adanya tempat berbagi dan dirasakan menjadi lebih dapat ditoleransi (Gita, 2009).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Utami (2009), menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna anatar status pernikahan dengan stres kerja deng p value 0,031. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Vierdelina (2008) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa

responden yang berstatus sudah menikah dan mengalami stres kerja sedang yaitu sebanyak 55,8%. Hal ini diduga karena tanggung jawab kelangsungan hidup keluarga yang dipikul oleh responden yang sudah menikah semakin berat, apalagi dengan meningkatnya harga kebutuhan yang tentu akan mempengaruhi meningkatnya pengeluaran keluarga, namun tidak didukung dengan peningkatan pendapatan responden.

4) Masa kerja

Masa kerja merupakan akumulasi waktu dimana pekerja telah menjalani pekerjaan tersebut. Semakin banyak informasi yang kita simpan, semakin banyak keterampilan yang kita pelajari, maka akan semakin banyak hal yang kita kerjakan (Malcom, 1998).

Menurut Munandar (2001), baik masa kerja yang sebentar maupun yang lama dapat memicu terjadinya stres dan diperberat dengan adanya beban kerja yang besar. Namun masa kerja yang lama mempengaruhi pekerja karena menimbulkan kebosanan, disertai dengan lingkungan kerja yang terbatas membuat pekerja menjadi jenuh. Pekerja yang telah bekerja diatas 5 tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan yang lebih tinggi daripada pekerja yang baru bekerja. Sehingga dengan adanya tingkat kejenuhan tersebut dapat menyebabkan stres dalam bekerja.

Hasil penelitian Gautama (2008) diketahui ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan stres kerja dengan p value 0,000. Namun tidak demikian dengan hasil penelitian Diah (2009), yang

menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan stres kerja dengan p value 0,795.

5)Kepribadian

Ketika berbicara tentang stres kerja pada pekerja, maka kita akan melihat bagaimana seseorang memandang stres sebagai suatu gangguan, sehingga stres sangat bergantung pada kepribadian individu yang terkena stres tersebut. Orang dengan tipe kepribadian A lebih mudah stres dibandingkan dengan tipe kepribadian B, orang dengan tipe kepribadian introvert lebih mudah stres daripada tipe kepribadian extrovert. Pengalaman hidup orang yang pernah mengalami kegagalan di masa lampau akan mudah membuatnya menilai kegagalan sebagai hal yang sudah biasa. Orang yang belum dewasa dalam menghadapi perkara akan mudah goyah dalam sikap, pendirian, dan arah hidupnya dibandingkan orang yang berkepribadian matang (Nasution, 2000).

Seyle (1983) mengemukakan bahwa individu tipe A identik dengan sangat kompetitif, brusaha keras untuk memperoleh penghargaan, agresif, tidak sabaran, tergesa- gesa, mudah gelisah, sangat waspada, suka berbicara meledak–ledak, dan berada pada suatu tekanan waktu. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang dengan tipe A lebih sering menaruh perhatian lebih pada pekerjaan, sedangkan aspek kehidupan lainnya sering diabaikan. Dalam hal ini, orang yang berkepribadian tipe A biasanya dapat diketahui/disembuhkan oleh orang yang ahli dalam bidangnya.

6)Nilai dan kebutuhan

Setiap organisasi dan perusahaan atau instansi memiliki budaya dan nilai masing–masing. Para tenaga kerja diharapkan dapat mengikuti nilai budaya yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Proses sosialisasi pekerja dalam mengikuti nilai dan budaya tidak sepenuhnya berhasil. Bagi pekerja yang gagal biasanya akan mengundurkan diri, dan bila ada yang tidak mengundurkan diri karena tidak adanya pekerjaan lain atau karena sebab lain maka tenaga kerja tersebut akan mengalami stres (Munandar, 2001).

7)Kecakapan

Kecakapan merupakan variabel yang ikut menentukan stres sesorang. Jika seorang pekerja mengalami masalah yang ia rasakan tak mampu ia pecahkan, maka ia akan mengalami stres dan menimbulkan ketidakberdayaan (disstress), sebaliknya jika ia merasa mampu maka ia merasa tertantang dan motivasinya meningkat (eustress). Ketidakmampuan individu menyelesaikan masalah sehingga menyebabkan terjadinya stres berkaitan dengan kecakapan dan kemampuan masing – masing individu (Munandar, 2001).

b. Kondisi Pekerjaan

Sebagian besar dari waktu manusia digunakan untuk bekerja, maka lingkungan pekerjaan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan seseorang yang bekerja (Munandar, 2001). Setiap pekerjaan mempunyai

faktor penyebab stres yang berbeda – beda, sesuai dengan kondisi pekerjaan dan lingkungan kerjanya.

1)Divisi

Divisi merupakan organ/lembaga/unit/ yang melaksanakan hukum dengan tujuan utamanya yaitu pencapaian sesuai dengan keahliannya (Koeswadji, 2002). Divisi pada suatu pekerjaan akan mengakibatkan perbedaan tingkat stres karena adanya perbedaan tanggung jawab dan beban kerja. Divisi pada suatu institusi pendidikan seperti fakultas dapat dikenal dengan istilah jururan/program studi. Jurusan dapat diartikan sebagai unit pelaksana akademik yang melaksanakan pendidikan dalam satu cabang ilmu pengetahuan. Masing – masing jurusan memiliki karakteristik yang berbeda – beda sesuai dengan bidang keilmuannya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nordin, dkk (2009) diketahui ada perbedaan yang signifikan antara kesehatan mental dengan jenis jurusan yang diambil oleh mahasiswa. Hal ini diperkirakan adanya perbedaan materi dan sifat pembelajaran pada tiap jurusan. Namun berdasarkan hasil penelitian Sayiner (2006) diketahui tidak adanya hubungan yang bermakna antara jenis jurusan dengan tingkat stres. 2) Beban kerja

Dengan melakukan aktivitas pekerjaan, tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain, bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi pekerjanya. Beban tersebut dapat berupa beban kerja fisik dan mental (Tarwaka, et al, 2004).

Menurut Schlutz (1998), beban kerja terbagi atas dua macam yaitu beban kerja yang berlebihan (over load) dan beban kerja yang kurang (under load). Pada beban kerja yang berlebihan dapat dilihat melalui kondisi dari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dengan waktu yang terbatas/ditentukan atau suatu pekerjaan yang sangat sulit untuk dikerjakan karena kurangnya kemampuan. Sedangkan beban kerja yang kurang (under load) diakibatkan adanya pekerjaan yang dilakukan secara rutinitas/monoton yang pada akhirnya mengakibatkan kebosanan pada pekerja. Everly dan Giordano (1980) dalam Munandar (2001) berpendapat bahwa faktor – faktor yang menjadi penyebab beban kerja berat atau tidak yaitu :

a) Tugas yang diemban terlalu besar sementara waktu terbatas. b) Rutinitas/pekerjaan monoton.

c) Adanya fluktuasi dalam beban kerja, seperti pada jangka waktu tertentu beban kerja ringan namun di lain waktu beban kerja berat. d) Tingginya kemajemukan pekerjaan sebagai dampak dari

peningkatan dari jumlah informasi yang harus digunakan dan sebagai alternatif dari perluasan metode pekerjaan.

e) Adanya over laping pekerjaan membuat beban kerja semakin besar dan menimbulkan stres pada pekerja.

Lebih lanjut menurut Munandar (2001) beban kerja dibedakan menjadi beban kerja kuantitatif dan beban kerja kualititif. Beban kerja

kuantitatif yaitu beban kerja yang timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang diberikan harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Sedangkan beban kerja kualitatif yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas atau tugas tidak menggunakan keterampilan atau potensi dari tenaga kerja. Beban kerja kuantitatif dan kualitatif yang berlebih dapat menimbulkan kebutuhan untuk bekerja selama jumlah jam yang sangat banyak, maka sumber terjadinya stres akan lebih banyak.

French dan Caplan (1973) yang dikutip oleh Pratiwi (2002), mengemukakan adanya perbedaan antara kelebihan secara kuantitatif dengan kualitatif. Kuantitatif berarti mempunyai „banyak hal yang dapat dilakukan‟, sedangkan kelebihan secara kualitatif yang melibatkan pekerjaan adalah „terlalu sulit‟. Orang yang menerima banyak telpon, menerima banyak tamu kantor, dan pertemuan setiap jam kerja ditemukan lebih banyak merokok daripada orang yang jarang mempunyai perjanjian. Pada penelitian 100 orang penderita jantung koroner, Russek dan Zohman (1958) menemukan bahwa 25% memiliki dua pekerjaan, dan 45% bekerja pada pekerjaan yang memerlukan (berkewajiban untuk bekerja overload) 60 jam atau lebih.

Jumlah dan tingkat kesulitan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan bisa menyebabkan orang menjadi stres. Bekerja dengan beban kerja secara kuantitatif yang berlebihan telah menjadi fokus banyak penelitian, karena dampak yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan fisiologis seseorang tetapi juga psikologinya. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa hipertensi tinggi atau tekanan darah tinggi terkait dengan beban kerja yang tinggi diikuti dengan tingginya kegelisahan dan frustasi. (Spector et al , 1988 dalam Anugrah, 2009). Jones et all (1988) dalam Anugrah (2009) menemukan bahwa pekerja yang dituntut bekerja cepat dan mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan (having too much work) mempunyai resiko mengalami tekanan kerja 4,5 kali lebih besar dibandingkan pekerja biasa. Penelitian yang dilakukan oleh ahli jantung Meyer Friedmen dan Ray Resenmen (1974) dalam Anugrah (2009) menunjukkan bahwa desakan waktu kronis tampaknya memberi pengaruh yang tidak baik terhadap sistem kardiovaskular, yang hasilnya secara khusus adalah serangan jantung prematur dan tekanan darah tinggi.

Beban kerja berlebih secara fisik maupun mental seperti harus melakukan banyak hal merupakan kemungkinan sumber stres pekerjaan. Banyak atau sedikitnya, berat atau ringannya beban kerja yang diterima seorang tenaga kerja dapat digunakan untuk menentukan berapa lama seseorang dapat melakukan aktivitas pekerjaannya sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kerja yang bersangkutan tanpa mengalami kelelahan. Dimana semakin berat beban kerja sehingga melampaui kapasitas kerja akan menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja bahkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan pekerja (Tarwaka et al, 2010).

Selain beban berlebih, yang menjadi stresor lain, salah satunya adalah desakan waktu yaitu setiap tugas diharapkan dapat diselesaikan secepat

mungkin secara tepat dan teratur. Pada saat-saat tertentu, deadline justru dapat meningkatkan motivasi dan menghasilkan prestasi kerja yang tinggi. Namun bila desakan waktu justru menyebabkan timbulnya banyak keasalahan atau menyebabakan kondisi kesehatan seseorang berkurang, maka hal ini cerminan adanya beban berlebihan kuantitatif (Anugrah, 2009).

Beban kerja dihitung dengan menggunakan rumus estimating metabolic heat production rates by task analysis, seperti yang tertera pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1 Penilaian Pekerjaan

A. Posisi dan Pergerakan Badan Kcal/min*

Sitting 0,3

Standing 0,6

Walking 2,0 – 3,0

Walking Uphill Add 0,8 for every meter (yard) rise

*For a “standart” worker of 70 kg body weight (154 lbs) and 1,8m2

body surface (19,4 ft2). Sumber : ACGIH, 1992 dalam Dowell, 2007

B. Type of Work Average Kcal/min Range Kcal/min

Hand Work

Light 0,4 0,2 – 1,2

Heavy 0,9

Work : One Arm

Light 1,0 0,7 – 2,5

Heavy 1,7

Work : Both Arm

Light 1,5 1,0 – 3,5

Heavy 2,5

Work : Whole Body

Light 3,5 2,5 – 15,0

Moderate 5,0

Heavy 7,0

Very Heavy 9,0

Adapun klasifikasi beban kerja berdasarkan jumlah kalori yang dikeluarkan dalam emalakukan pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2

Kategori beban kerja berdasarkan jumlah kalori yang dikeluarkan dalam melakukan pekerjaan

Kategori Kcal/jam

Pekerjaan Ringan Sampai dengan 200 Kcal/jam

Pekerjaan Sedang 200 – 350 Kcal/jam

Pekerjaan Berat >350 Kcal/jam

Sumber : ACGIH, 1992 dalam Dowell, 2007

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Siswanti (2004) mengatakan bahwa dari 170 responden yang diteliti, 75% diantaranya menyatakan bahwa beban kerja mereka sangat berat sehingga menyebabkan stres. Kemudian menurut Bida (1995) dari 56,3% yang diteliti menyatakan bahwa beban kerja mereka berat sehingga menyebabkan stres dan 38,1% mengalami stres walaupun beban kerja mereka cenderung normal. Hasil uji statistiknya menyatakan p value 0,01007 yang artinya ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja.

Namun hasil lain dari penelitian Desy (2002) diketahui bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat beban kerja dengan stres kerja. Begitu pula hasil penelitian Desy (2002) yang menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat beban kerja dengan stres kerja di PT. Unilever Indonesia dengan p value 0,125.

3) Waktu kerja

Waktu kerja menunjukkan efisiensi dan produktivitas seseorang.Umumnya seseorang dapat bekerja baik yaitu pada 6 – 8 jam

perhari atau 40 – 50 jam seminggu. Pekerjaan yang biasa tidak terlalu berat atau ringan, produktivitasnya akan mulai menurun setelah 4 jam bekerja. Keadaan ini sejalan dengan menurunnya kadar gula dalam darah. Sehingga perlu istirahat dan kesempatan untuk makan guna meningkatkan kembali kadar gula darah (Suma‟mur, 1997). Penambahan jam kerja diluar standar dapat meningkatkan usaha adaptasi pekerja, yang kemudian dapat meningkatkan ekskresi katoholamin yaitu hormon adrenalin dan non-adrenalin (Munandar, 2001).

Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering apalagi tanpa kontrol dan jumlah jam kerja yang berlebihan ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas hasil kerja akan tetapi juga seringkali meningkatkan kuantitas absen dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja (Chairin, 2006).

Menurut penelitian Noer (2004) diketahui bahwa 87,5% responden yang bekerja >12 jam menunjukkan gejala stres sedang. Hal ini diperkuat dengan hasil uji statistik yang menunjukkan p value sebesar 0,002 yang artinya ada kecenderungan hubungan yang bermakna anatar jam kerja dengan stres kerja.

Penelitian lain yang berhubungan dengan jam kerja berlebihan yang dilakukan oleh Margolis dkk yang dikuti oleh Suprapto (2008) pada penduduk Amerika secara nasional yang diwakili oleh 1.496 pekerja. Mereka menemukan bahwa kelebihan jam kerja secara signifikan berhubungan dengan beberapa gejala atau indikator stres kerja, seperti

minum minuman berakohol, ketidakhadiran dalam bekerja, motivasi yang rendah untuk bekerja, kepercayaan diri yang rendah untuk bekerja, kepercayaan diri yang rendah serta adanya saran untuk tidak masuk dalam berkerja.

Sedangkan menurut Desy (2002) hasil penelitiannya menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara waktu bekerja dengan stres