FAKTOR PENYEBAB TERBENTUKNYA ANAK JALANAN DI KOTA MEDAN
A.BENTUK-BENTUK KENAKALAN YANG DILAKUKAN ANAK
JALANAN DI KOTA MEDAN
Keberadaan anak jalanan di Kota Medan sudah menjadi perhatian yang sangat serius di kalangan masyarakat. Menurut PKPA (Pusat Kajian Dan Perlindungan Anak) anak jalanan adalah sebagai korban. Akan tetapi tindakan-tindakan kriminal yang mereka lakukan seperti perkelahian yang tidak diinginkan, yang melakukan pencopetan, mengganggu ketentraman pungguna jalan atau memaki, mencoret, atau merampas hak orang lain.30
Dalam hal ini Lembaga Dinas Sosial belum ada melakukan kerjasama atau memberikan perhatian dalam penanggulangan dan pencegahan kenakalan anak jalanan di Kota Medan. Adapun bentuk-bentuk kenakalan anak jalanan di Kota Medan adalah sebagai berikut:
1. Waldi Silalahi adalah anak berumur 17 tahun bertempat tinggal di
darah Amplas dan biasanya sering mangkal di terminal Amplas. Waldi ini seorang anak putus sekolah dikarenakan keluarga yang broken home, ayahnya dan ibunya menikah lagi dengan orang lain. Waldi ini anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, dan Waldi ini
30.
Hasil wawancara dengan Pusat Kajian Dan Perlindungan Anak di Kampung Susuk Ujung pada tanggal 7 mei 2012.
sudah terbiasa hidup di terminal Amplas sejak usia 12 tahun. Dengan kondisi keluarga yang broken home Waldi pun merasa tidak mempunyai harapan untuk bersekolah dan mencapai cita-citanya lagi
menjadi pemain sepak bola terkenal. Seiring waktu berjalan Waldi
pun stres terkadang dia melamun, dan merenung di suatu tempat dekat pohon yang ada batu-batuannya. Tiba-tiba kawannya datang dan mengajak dia pergi ke suatu tempat, awalnya dia ditawarkan untuk merokok, berlanjut keenakan mengisap sebatang rokok dan akhirnya ketagihan. Dengan rasa tidak puasnya lagi, awalnya mencoba dengan “nglem” lama kemudian akhirnya ketagihan dan hampir setiap harinya dia nglem, karena menurut Waldi, apabila dia nglem dapat menghilangkan stres dan semua beban pikiran yang di dalam benaknya hilang begitu aja. Menurut Waldi nglem ini sangat membantu daya tahan pikirannya menjadi berandai-andai seakan-akan dunia ini miliknya. Dan segala sesuatu apa yang dia perbuat dia sendiri.31
2. Rini Simanjuntak seorang anak perempuan berumur 11 tahun
bertempat tinggal di terminal Amplas, anak ketiga dari lima bersaudara. Rini terjun ke jalanan semenjak dia berumur 9 tahun,
31.
Hasil wawancara dengan Waldi salah seorang anak jalanan di sekitar Terminal Amplas pada tanggal 9 Mei 2012.
dimana dia terikut dengan kawan-kawannya yang hidup di jalanan. Rini mempunyai kedua orang tua yang masih ada, akan tetapi ayah rini seorang pekerja sorang supir angkot, sedangkan ibunya bekerja sebagai pedagang asongan di pinggiran terminal Amplas. Rini putus sekolah dikarenakan faktor ekonomi dari keluarga yang tidak mampu membiayai pendidikan sekolahnya. Bagi Rini makan sehari-hari sangat sulit apalagi untuk sekolah mendapatkan pendidikan sama seperti anak-anak lainnya yang bersekolah. Rini ingin sekali mendapatkan pendidikan sekolah, akan tetapi keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya yang tidak mampu memebrikan dia bersekolah akhirnya dia memutuskan untuk terjun dalam kehidupan di jalanan. Terkadang Rini tidak tau melakukan apa-apa, akan tetapi awalnya kawannya meengajak dia untuk ikut mngamen, lama kemudian Rini pun jadi terbiasa mengamen di pinggiran jalanan terutama di lampu merah simpang Amplas. Pada saat Rini mengamen terkadang orang pengguna jalan, terutama pengguna mobil seperti orang kaya, tidak mau memberikan uang dari hasil ngamennya. Orang kaya ini mau memarahi atau mengusir Rini ketika pada saat dia siap mengamen, bukan mendapatkan uang dari hasil ngamen akan tetapi dimarah-marahi oleh pengguna jalan tersebut. Bagi Rini orang pengguna mobil pribadi adalah orang yang sok dan sombong karena mereka tidak merasakan gimana hidup di jalanan. Terkadang Rini kesal dengan tindakan yang mereka perbuat tersebut, dengan rasa kesalnya
Rini pun membalas dengan memaki dan mencoret mobil pribadi tersebut.32
3. Podi Nainggolan bertempat tinggal di terminal Amplas berusia 11
tahun, anak kedua dari tiga bersaudara, dan dia hidup di jalanan sejak dia berumur 6 tahun. Kedua orang tua Podi masih hidup akan tetapi ayahnya tidak memperdulikannya lagi, sedangkanj ibunya menikah dengan orang lain. Podi adalah salah satu anak yang tidak bersekolah dikarnakan kedua orang tuanya tidak peduli dengan dia, dan karna faktor ekonomi yang tidak mampu. Podi adalah salah satu anak yang ingin sekali bersekolah, akan tetapi karena keterbatasan materi oarang tua yang tidak sanggup membiayai pendidikan sekolahnya, akhirnya Podi memutuskan hidup di jalanan semenjak dia masih kecil. Podi salah satu anak yang awalnya anak yang baik, walaupun terkadang orang tuanya tidak peduli dengan dia, dan tidak mendapat rasa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Karena terikut dengan kawan samp sekarang ini Podi melakukan tindakan “nglem”. Karena bagi Podi nglem itu sangat berguna dan menghilangkan rasa stresnya dan beban pikirangnnya pun hilang seketika itu, karena bagi Podi nglem itu enak dan nikmat, segala beban pikiran lepas dan bisa berandai-andai dan juga memiliki apa yang dia mau.33
32.
Hasil wawancara dengan Rini salah seorang anak jalanan di sekitar Terminal Amplas pada tanggal 9 Mei 2012.
33.
Hasil wawancara dengan Podi salah seorang anak jalanan di sekitar Terminal Amplas pada tanggal 9 Mei 2012.
4. Menurut Waldi: bentuk kenakalan yang lain yaitu penganiayaan. Contohnya, beberapa anak-anak SMP yang sekolahnya berada di sekitar Amplas, pulang dari sekolah tidak ada sebab tiba-tiba, salah seorang dari anak SMP tersebut memukuli temannya Waldi yang sesama anak jalanan. Mereka tidak terima karena mereka memukuli temannya ini tanpa sebab, apalagi yang mereka pukuli ini adalah seorang anak perempuan anak jalanan yang tidak tahu apa-apa. Waldi dngan teman-teman anak jalanan tidak terima dengan perbuatan penganiayaan yang dilakukan anak SMP tersebut, akhirnya mereka menyerang balik anak SMP tersebutdengan memukuli sama seperti apa yang mereka lakukan terhadap teman anak jalanan. Karena menurut Waldi tidak selamanya anak jalanan itu disalahkan, itu tergantung dari si anak jalanan tersebut.34
menurut penuturan bebaerapa anak jalanan di atas, adapun bentuk-bentuk kejahatan yang meraka lakukan adalah kebiasaan nglem, memaki-maki, mencoret mobil pengguna jalan dan mencopet. Dalam hal ini dapat meresahkan kehidupan di kalangan masyarakat. Salah satu sisi kebaikan yang dapat kita lihat dari anak jalanan ini adalah mereka saling memberi, menolong apabila salah satu teman mereka ada yang sakit atau tidak mepunyai untuk makan. Rasa persaudaraan itu pun selalu mereka junjung tinggi, walaupun mereka tidak ada yang mengarahkan atau membina mereka.
34.
B. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB MELATAR BELAKANGI TINDAKAN KEKERASAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK-ANAK JALANAN.
Faktor terjadinya kenakalan dikalangan anak jalanan di Amplas adalah lebih cenderung kepada ikut-ikutan dari teman-teman yang hidup di jalanan. Contoh: kebiasaan nglem. Untuk diusia Dodi yang diwawancarai oleh penulis dikarenakan dia ikut-ikutan dengan abang-abang yang sama seperti dia yang hidup di jalanan. Ada satu hal penuturan dari seorang anak jalanan yang sudah berumur 22 tahun, Rio Manurung yang sejak usia 11 tahun dan dari pengakuan Rio sudah hidup di jalanan dan mengaku seringkali tertangkap Satpol PP, dan dari pengakuan Rio mereka sering mendapatkan penyiksaan di kantor Satpol PP dan mereka dikurung ditahanan sel, akan tetapi mereka dibiarkan keluar dari tahanan sel apabila mereka membayar denda sebesar Rp. 10.000.
Tindakan Satpol PP yang demikian memicu perasaan marah dan dendam dari anak-anak jalanan yang tertangkap shingga ketika Satpol PP hendak menagkap, mereka cenderung menyerang balik dengan cara melawan, memaki-maki Satpol PP tersebut.
Faktor lainnya yang melatar belakangi dan mempengaruhi tindakan kehidupan yang dilakukan anak jalanan tinjau dari segi kepentingan, anak jalanan dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu:
a. Pertama, Anak yang berada di jalanan disebabkan karena mereka
tidak memiliki pilihan, karena tidak memiliki orang tua maupun keluarga asuh, sehingga mereka harus mempertahankan hidup dengan mencari nafkah di jalanan. Kelompok ini disebut Anak Tanpa Pilihan.
b. Kedua, anak berada di jalanan karena desakanekonomi keluarga, dimana anak harus ikut menopang ekonomi keluarga. Kelompok ini disebut Anak Penopang Keluarga.
c. Ketiga, anak berada di jalanan karena kondisi yang kurang
menguntungkan, antara lain, mendapat tekanan dari orang tua, dan saran kehidupan yang kurang memadai. Kelompok ini disebut, Kondisi Keadaan Anak.
d. Keempat, anak beradan di jalanan karena hobi dan senang mencari
uang serta sekedar ingin menyalurkan bakatnya. Kelompok ini disebut, Anak yang Iseng di Jalanan.
Masyarakat memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang kompleks bahkan membentuk sebuah lingkaran yang sulit dilihat ujung pangkalnya. Kalangan aparat hukum, misalnya polisi, memandang bahwa payung kebijakan yang dapat digunakan untuk menangani anak jalanan belum ada. Anak sulit untuk melakukan tindakan hukum berhubung tidak adanya undang-undang khusus mengenai anak jalanan seperti, misalnya: Perda, Perpu atau yang lainnya. Dirasa sulit untuk mengadakan pencegahan agar anak-anak tidak berada di jalan. Pemerintah sampai saat ini masih dianggap gagal dalam menghadapi anak jalanan. Semua itu lebih disebabkan karena faktor metode penanganan anak jalanan yang masih bersifat parsial dan instruksional.
Metode pemrintah selalu saja terbentur oleh berbagai bentuk perlawanan anak jalanan, karena kebijakan yang diambil seolah-olah menafikkan peran dan keberadaan anak. Penertiban terhadap anak jalanan yang dilakukan saat ini masih
banyak menggunakan cara-cara kekerasan atau pendekatan kriminal, misalnya dengan cara razia yaitu “digaruk” ditahan, bahkan ada yang melakukan razia dubur. Cara-cara seperti ini sungguh tidak etis dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Sebenarnya dalam “garukan” ini pun ada nilai positifnya. Pemerintah belum cukup jeli mengambil makna tindakan garukan tersebut. Garukan seolah-olah dijadikan justifikasi pemerintah untuk memberikan efek jera terhadap anak jalanan. Tanpa disadari justru kebijakan pemerintah ini dapat mengkriminalisasikan anak jalanan. Apabila ada razia anak jalanan, anak-anak tersebut hanya ditangkap, didata, lalu dilepas lagi, dan kembali menjadi anak jalanan. Model razia tersebut bukan solusi dan dengan melakukan razia tersebut merasa pemerintah dapat dikatakan sengaja menelantarkan anak jalanan dan justru menambah stigma yang buruk terhadap anak jalanan. Seperti dapat mendorong anak-anakk jalanan tersebut melakukan kejahatan, mereka akan cenderung menyimpang dari aturan-aturan yang berlaku.
Peneliti mengelompokkan anak jalanan di Kota Medan menjadi dua kelompok yaitu: anak jalanan yang hadir dari sebuah tuntutan hidup, dan anak jalanan hadir dari keinginan untuk kebebasan hidup.
1. Anak jalanan hadir dari sebuah tuntutan hidup35
Setiap orang pastinya menginginkan kehidupan yang layak, dan berkecukupan. Seorang anak mestinya mereka hidup dengan selayaknya, bermain, bersuka ria dan belajar tanpa harus memikirkan hal lain dari itu.
35.
Tetapi tidak semua anak mendapatkan semua itu. Faktor ekonomi keluarga yang kurang mampu dan berbagai alasan lain, terkadang anak harus bekerja dan memiliki penghasilan agar dapat melanjutkan hidupnya. Fenomenan anak jalanan di Kota Medan yang kita lihat merupakan dampak dari tuntutan hidup mereka yang pada akhirnya menjadikan mereka menjadi anak jalanan. Dengan hal demikian akibat mereka turun ke jalanan mereka dipaksa dan dituntut untuk bertahan hidup, dan mampu mengatasi pemasalahan mereka sendiri yang mereka alami dan yang mereka rasakan saat hidup di jalanan. Oleh sebab itu dalam menanggulangi atau mengupayakan agar anak jalanan tersebut mampu bertahan dan hidup di jalanan pun harus melakukan dengan cara kekerasan seperti memaki-maki, mencoret-coret mobil pengguna jalan, atau mencopet di jalanan. Dengan cara seperti inilah anak jalanan tersebut hadir demi sebuah tuntutan hidup, demi kelangsungan kehidupannya sebagai anak jalanan terus menerus tanpa ada bantuan dari orang lain, kecuali dirinya sendiri yang membantu dan memecahkan dan menjadikan hidupnya layak agar dapat bertahan hidup untuk kedepannya dan masa yang akan datang.
2. Anak jalanan hadir dari keinginan untuk kebebasan hidup
Alasan-alasan di atas ada sebuah temuan yang menarik yang didapat oleh peneliti, dimana keberadaan anak jalanan juga disebabkan karena keberadaan karena anak jalanan tersebut disebabkan oleh keinginannya untuk mendapatkan kebebasan dan menyalurkan bakat yang dimilikinya,
bukan karena tuntutan hidup, contohnya: pedagang koran dan sebagai pengamen. Data yang diperoleh dari pernyataan yang dikemukakan oleh salah seorang anak jalanan dan menjadi anak jalanan, karena kurangnya kebebasan yang didapat di dalam keluarga, hobi dan bakatnya tidak dapat disalurkan yang dimilikinya bukan karena tuntutan hidup dan ia memilih untk hidup menjadi anak jalanan, sehingga ia memiliki kebebasan dan dpat mengekpresikan dirinya. Begitu juga dengan seorang anak yang turun ka jalan setelah pergi dari rumahnya dan bergabung untuk turun ke jalanan dan tinggal di jalanan dikarenakan keinginannya atau permintaannya tidak dipenuhi oleh keluarga. Menjadi anak jalanan telah memebrikan kebebasan dalam hidupnya dan ia dapat menyalurkan hobi dan bakatnya tanpa ada tantangan dari orang lain atau anak jalanan ini ingin mendapatkan penghasilan sendiri dari hasil mengamen karena di dalam dirinya ia merasa memiliki kemampuan dan bakat dalam bernyanyi dan memetik gitar. Dengan cara seperti itulah anak jalanan tersbut menyalurkan dan mengekspresikan dirinya di jalanan. Terkadang ia mendapatkan hasilnya dan ada juga pada saat ia mengamen ia tidak mendapatkan apa-apa.36
Fenomena ini menjadi hal yang cukup menarik melihat bagaimana seorang anak berperan menjadi anak jalanan dalam usia yang seharusnya mengenyam semua pendidikan, tanpa ada satu hal yang dapat merusak
36.
konsentrasinya dalam belajar. Tetapi faktor ini merupakan salah satu hal yang harus dikaji lebih dalam karena mungkin bukan karena hobi atau untuk kebebasan hidup saja mereka menjadi anak jalanan dan hidup di jalanan. Beberapa temuan yang didapatkan di lapangan menyimpulkan anak ini betah dan di jalanan dengan orintasi jauh berbeda dari alasan awal mereka turun di jalan. Faktor hobi dan kebebasan hidup merusak pemikiran tentang perspektif masa depan yang lebih layak dari sekedar harus menjadi pengamen di jalanan. Pemikiran-pemikiran mereka seperti ini sangat sempit, karena yang mereka jalani saat ini, sudah sangat nyaman bagi mereka dan sudah menjadi kebiasaan rutin bagi mereka. Yang pada akhirnya tidak memberikan ruang lagi untuk berfikir dan ruang untuk memberikan dirinya bercermin dalam memikirkan tentang masa depannya nantinya.
C.FAKTOR PENYEBAB TERBENTUKNYA KENAKALAN ANAK
JALANAN DI KOTA MEDAN
Faktor penyebab terbentuknya kenakalan anak jalanan di Kota Medan, tidaklah jauh dengan kehidupan dengan anak-anak jalanan di Kota-kota besar lainnya. Kenakalan anak jalanan merupakan salah satu perbuatan yang mana, dia melakukan kenakalan tersebut dikarenakan kehidupannya di jalanan yang membuat hidupnya sepertinya tidak layak, dan merasa terasing apabila dibandingkan dengan kehidupan anak-anak lainnya.
Faktor-faktor penyebab kejahatan anak jalanan ditinjau dari lingkungan tempat anak jalanan itu tumbuh dan berkembang terdiri dari:
1. Lingkungan Keluarga
Keluarga menjadi tolak ukur menilai kepribadian dan keberadaan anak di luar lingkungan keluarga. Keluarga adalah satu-satunya tempat pendidikan awal sebelum berlangsung ke instansi lain di luar keluarga. Berbagai problem yang menyangkut kejahatan anak akhir-akhir ini tidak lepas dari keterkaitannya dengan lingkungan keluarga.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku remaja oleh keluarga:
a. Satatus ekonomi orang tua rendah, banyak penghuni/keluarga besar,
rumah tangga kotor, moralitasnya merupakan tanda tanya sehingga tidak mampu mengembangkan ketenangan emosional pada anak.
b. Anak kurang mendapat kasig sayang, kurangnya pngawasan secara
langsung dan tidak diasuh oleh orang tua kandung serta tidak ada persekutuan antara anggota keluarga.
c. Ada penolakan baik ibu maupun ayah atau broken home (karena kematian,
perceraian, hukuman dan lain-lain).
2. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan satu-satunya tempat anak mendapatkan pendidikan secara formal yang dengan kesungguhannya melaksanakan tugas untuk mewujudkan tujuan pendidikan.tujuan pendidikan yang diharapkan adalah membimbing anak didik menjadi warga negara pancasila yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, bermoral, berkesadaran masyarakat serta bertanggungjawab terhadap kesesjahteraan masyarakat. Tidak jarang sekolah menjadi tempat yang turut mempengaruhi pola kejahatan anak jalanan, diantaranya:
a. Sekolah yang selalu berusaha memanjakan anak-anak yang sebenarnya kurang mampu.
b. Guru bersifat menolak (reject)
c. Sekolah menerapkan disiplin secara kaku, tanpa menghiraukan perasaan
anak serta suasana sekolah yang buruk menimbulkan anak-anak yang suka membolos, malas belajar, melawan guru dan meninggalkan sekolah (droup out).
3. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat adalah kesluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifat dan tersusun dari berbagai sistem dan sub sistem salah satunya adalah keluarga. Dalam proses untuk mmbentuk seorang individu masyarakat mendapat peran penting terutama dalam membentuk mentalitas hidup seorang anak.
Ada beberapa hal yang terdapat dalam masyarakat kita yang mempengaruhi pola khidupan anak, anatara lain:
a. Sulit memperhatikan kepentingan anak dan melindungi hak anak
khususnya berhadapan dengan berbagai perilaku kekerasan terhadap anak yang marak terjadi belakangan ini.
b. Masyarakat kita sulit memberikan kesempatan bagi anak untuk
melaksanakan kehidupan sosial, dan tidak mampu menyalurkan emosi anak secara sehat.
c. Perilaku masyarakat yang suka memilah-milah atau mengkategorikan masyarakat berdasarkan umur. Hal ini menjadikan para remaja seolah-olah tersisih dari suatu
hubungan yang positif, bermakna, langgeng, dan mendalam dengan generasi yang lebih tua yang seharusnya bisa membentu mereka dalam pertumbuhannya.37
Banyak faktor penyebab remaja terjerumus ke dalam kawanan anak jalanan. Namun, salah satu penyebab utama mengapa remaja memilih bergabung dengan anak jalanan adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terlalu sibuknya kedua orang tua mereka dengan pekerjaan, sehingga perhatian dan kasih sayang kepada anaknya diekspresikan dalam bentuk materi saja. Padahal materi tidak dapat mengganti dahaga mereka akan kasih sayang dan perhatian orang tua.38
Disimpulkan latar belakang terjadinya tindak penganiayaan yang dilakukan oleh anak jalanan adalah, mencakup dua faktor utama. Faktor terseut adalah faktor internal sipelaku dan faktor eksternal dari si pelaku. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari individu, sedangkan faktor eksternal datang dari luar individu. Akan tetapi sangat mempengaruhi pola perilaku individu. Faktor yang termasuk internal adalah faktor dari dalam diri individu itu sendiri, seperti keyakinan agama, pengalaman individu, pengetahuan individu dan proses belajar. Keyakinan agama tentunya membentangi setiap manusia dalam melakukan
37.
http;//golingkara.blogspot.com/2012/5/ kenakalan anak jalanan.html.
38..
http;//bandungnews;worddpres.com/solusi-alternatif-menanganianak jalanan.html/diakses pada tanggal 08 Mei 2012, hal 1.
sesuatu yang buruk. Kemudian pengetahuan individu akan menuntun sseorang memilih suatu yang benar atau salah. Pengalaman dan proses blajar tentunya akan mngakibatkan individu melihat lebih jauh pilihan yang akan ditentukan. Fasktor internal tumbuh dari dalam diri pribadi setiap individu dimulai dengan suatu rangsangan. Rangsangan kemudian akan diteruskan hingga pada fase respon yang akan membawa individu kepada proses pengambilan sikap.
Sikap sangat mempengaruhi pola perilaku, karena setiap perilaku seseorang akan diwarnai atau dilatar belakangi. Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berprilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya. Kemudian faktor eksternal yaitu dari luar diri anak jalanan yang memepngaruhi anak jalanan tersebut melakukan tindak pidana penganiayaan. Seperti rasa ksetia kawanan, pesahabatan, saling menghargai, saling membantu, doktrin, lingkungan, pergaulan, dan cara pola pikir setiap anak jalanan.
Dari kualifikasi tersebut maka dapat digambarkan latar belakang terjadinya tindak pidana penganiayaan yang dilakukan anak jalanan adalah sebagai berikut:
1. Penganiayaan yang dilakukan oleh faktor internal dan faktor eksternal
2. Pengalaman doktin
3. Pengaruh lingkungan pergaulan
4. Pengaruh proses belajar yang negatif 5. Berbeda dengan anak jalanan lainnya
6. Berbeda dengan persepsi mengenai konsep penganiayaan 7. Berbeda dari latar belakang lingkup keluarga
8. Membuat sakit tubuh orang lain, suatu tindakan secara turun temurun, suatu tindakan turun temurun, suatu tindakan yang dibenarkan apabila ada pelecehan terhadap diri pribadi sesama anak jalanan suatu tindakan yang harus diberikan terhadap musuh dan suatu perbuatan