HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Data
4.2.3 Faktor penyebab terjadinya campur kode dalam opini Tapaleuk
Data faktor penyebab campur kode dibedakan menjadi dua, yaitu faktor penutur dan faktor kebahasaan. Faktor penutur terdiri dari faktor latar belakang bahasa daerah dan faktor tingkat pendidikan seseorang. Faktor kebahasaan digolongkan menjadi 13, yaitu faktor keterbatasan penggunaan kode, penggunaan istilah yang lebih populer, pembicara dan pribadi pembicara, mitra bicara, tempat tinggal dan waku pembicaraan berlangsung, modus pembicaraan, topik, fungsi
dan tujuan, ragam dan tingkat tutur bahasa, hadirnya penutur ketiga, pokok pembicaraan, untuk meningkatkan rasa humor, dan untuk sekadar bergengsi. Dalam penelitian ini, peneliti hanya menemukan satu faktor penutur dana enam faktor kebahasaan dalam opini Tapaleuk pada surat kabar pos Kupang edisi Juli 2016-Mei 2017. Teknik analisis yang digunakan peneliti untuk menganalisis bentuk campur kode adalah teknik markah. Langkah yang dilalui, yaitu (1) mentukan data yang teridentifikasi campur kode, (2) mengklasifikasikan data, (3) memberikan tanda pada data, dan (4) memberikan kode. Berikut ini adalah data mengenai faktor penyebab campur kode yang peneliti temukan beserta analisisnya.
4.2.3.1 Faktor latar belakang bahasa daerah
Berdasarkan data yang telah diolah. Peneliti menyajikan beberapa contoh analisis data. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab campur kode berupa latar belakang bahasa daerah, yaitu
(11) Ama Tobo baru pulang bajalan (O1/P1/K1/26716). Konteks:
Penulis menggambarkan situasi dalam kalimat tersebut berada di jalan ujung jalan gang terdapat dua partisipan, yaitu Ama Tobo dan Baitua yang baru pulang dari jalan-jalan, dan pergi ke warung untuk membeli lilin karena listrik padam.
O1: Penulis (Sipri Seko)
Penulis mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Masyarakat Kupang
Masyarakat Kupang mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang Data (11) dapat dianalisis menggunakan teknik baca markah melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah Ama dan bajalan. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor penyebab campur kode.
Peneliti menentukan bahwa ama dan bajalan disebabkan adanya faktor latar belakang bahasa daerah, karena penulis dan pembaca mempunyai latar belakang bahasa Kupang sehingga penulis dan pembaca mempuntai pemahaman yang sama. Ketiga, peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiiama dan iiibajalan. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O1/P1/K1/26716) berarti data didapat dari opini pertama, paragraf pertama, kalimat pertama pada tanggal 26 Juli 2016.
4.2.3.2 Faktor keterbatasan penggunaan kode
Berdasarkan data yang telah diolah. Peneliti menyajikan beberapa contoh
analisis data. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab campur kode berupa keterbatasan penggunaan kode, yaitu
(12) Baitua putar pi ke keos. (O1/P1/K3/26716). Konteks:
Penulis menggambarkan situasi dalam kalimat tersebut berada di jalan ujung jalan gang terdapat dua partisipan, yaitu Ama Tobo dan Baitua yang baru pulang dari jalan-jalan, dan pergi ke warung untuk membeli lilin karena listrik padam.
O1: Penulis (Sipri Seko)
Penulis mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Masyarakat Kupang
Masyarakat Kupang mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang Data (12) dapat dianalisis menggunakan teknik baca markah melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah keos. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor penyebab campur kode. Peneliti menentukan bahwa kata keos disebabkan adanya faktor keterbatasan penggunaan
kode karena kata keos tidak mempunyai padanan kata lain, sehingga penulis menggunakan kata keos. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti kios. Ketiga, peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiikeos. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O1/P1/K3/26716) berarti data didapat dari opini pertama, paragraf pertama, kalimat ketiga pada tanggal 26 Juli 2016.
4.2.3.3 Faktor penggunaan istilah yang lebih popular
Berdasarkan data yang telah diolah. Peneliti menyajikan beberapa contoh
analisis data. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab berupa penggunaan istilah yang lebih popular, yaitu
(13) Ina Feok diam sa. (O1/P6/K1/26716). Konteks:
Penulis menggambarkan suasana serius, yaitu Ina Feok yang marah karena listrik lebih banyak padam dari pada menyala.
O1: Penulis (Sipri Seko)
Penulis mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Masyarakat Kupang
Masyarakat Kupang mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang Data (13) dapat dianalisis menggunakan teknik baca markah melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah ina. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor penyebab campur kode. Peneliti menentukan bahwa ina disebabkan adanya faktor penggunaan istilah yang lebih popular karena ina mempunyai padanan kata lain yaitu ade, tetapi kata ina lebih sering muncul dalam penelitian ini sehingga menurut peneliti kata ina lebih
popular dibandingkkan kata ade. Ketiga, peneliti peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiiina. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O1/P6/K1/26716) berarti data didapat dari opini pertama, paragraf keenam, kalimat pertama pada tanggal 26 Juli 2016.
4.2.3.4 Faktor pembicara dan pribadi pembicara
Berdasarkan data yang telah diolah. Peneliti menyajikan beberapa contoh
analisis data. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab campur kode berupa pembicara dan pribadi pembicara, yaitu
(14) “Ama Tobo minta lilin yang paling besar su.” (O1/P2/K1/26716). Konteks:
Situasi dalam kalimat tersebut berada di kios, suasana santai terdapat percakapan nonformal antara paman dan Ama Tobo. Menggambarkan Ama Tobo yang bermaksud membeli lilin tetapi lilin sudah habis.
O1: Ama Tobo
Ama Tobo mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Paman/penjual
Paman/penjual mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang
Data (14) dapat dianalisis menggunakan teknik bagi baca markah melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah ama dan su. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor penyebab campur kode. Peneliti menentukan bahwa data tersebut disebabkan adanya faktor pembicara dan pribadi pembicara karena disesuaikan konteksnya, yaitu ama Tobo dan penjual mempunyai hubungan yang dekat sehingga terdapat percakapan
nonformal yang menyebabkan suasana santai dan antara penjual dan pembeli yaitu, paman dan iiiama Tobo. penggambaran keakraban kedua partisipan karna adanya percakapan nonformal antara paman dan ama Tobo. Ketiga, peneliti peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiiama dan iiisu. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O1/P2/K1/26716) berarti data didapat dari opini pertama, paragraf kedua, kalimat pertama pada tanggal 26 Juli 2016.
4.2.3.5 Faktor mitra bicara
Berdasarkan data yang telah diolah. Peneliti menyajikan beberapa contoh
analisis data. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab campur kode berupa mitra bicara, yaitu
(15) Dunia su tabalek ko apa ini. (O4/P6/K3/23/1016). Konteks:
Suasana dalam kalimat tersebut santai, terdapat percakapan nonformal antara bapak dan anak, yaitu Baitua dan Ama Tobo yang sedang membahas mengenai kesalahpahaman yang mengakibatkan seseorang dituduh berselingkuh.
O1: Penulis (Sipri Seko)
Penulis mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Masyarakat Kupang
Masyarakat mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang
Data (15) dapat dianalisis menggunakan teknik baca markah melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah su, tabalek, dan ko. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor penyebab campur kode. Peneliti menentukan bahwa data tersebut disebabkan
adanya faktor mitra bicara karena disesuaikan konteksnya yang menggambarkan suasana santai dan terdapat percakapan nonformal antara bapak dan anak, yaitu baitua dan ama Tobo yang sedang membahas mengenai kesalahpahaman yang mengakibatkan seseorang dituduh berselingkuh. Kedua partisipan tersebut mempunyai latar belakang bahasa daerah yang sama yaitu bahasa Kupang. Ketiga, peneliti peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiisu, iiitabalek, dan iiiko. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O4/P6/K3/231016) berarti data didapat dari opini keempat, paragraf keenam, kalimat ketiga pada tanggal 23 Oktober 2016.
4.2.3.6 Faktor tempat tinggal dan waktu pembicaraan berlangsung
Berdasarkan data yang telah diolah. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab campur kode berupa tempat dan waktu pembicaraan berlangsung, yaitu
(16) Ama Tobo pung lingkungan su siap-siap sambut natal. (O5/P1/K1/191116). Konteks:
Situasi kalimat tersebut santai, bertempat di lapangan bola untuk mempersiapkan hari raya Natal.
O1: Pemulis (Sipri Seko)
Penulis mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Masyarakat Kupang
Masyarakat mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang
Data (16) dapat dianalisis menggunakan teknik baca markah melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah ama, pung, dan su. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor
penyebab campur kode. Peneliti menentukan bahwa data tersebut disebabkan adanya faktor tempat tinggal dan waktu pembicaraan berlangsung karena disesuaikan konteksnya, yaitu bertempat di lapangan bola menggambarkan persiapan hari raya natal. Ketiga, peneliti peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiiama, iiipung, dan iiisu. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O5/P1/K1/191116) berarti data didapat dari opini kelima, paragraf pertama, kalimat pertama pada tanggal 19 November 2016.
4.2.3.7 Faktor ragam dan tingkat tutur bahasa
Berdasarkan data yang telah diolah. Peneliti menyajikan beberapa contoh
analisis data. Berikut adalah sebagian contoh analisis data faktor penyebab campur kode berupa ragam dan tingkat tutur bahasa, yaitu
(17) Bai Ndu senyum tipis. (O9/P4/K1/19317). Konteks:
Situasi pada kalimat tersebut santai. Terdapat percakapan non formal antar teman yaitu Baitua dan Bai Ndu, membahas tentang Baitua yang ketahuan mabuk
O1: Penulis (Sipri Seko)
Penulis mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang O2: Masyarakat Kupang
Masyarakat mempunyai latar belakang bahasa ibu bahasa Kupang
Data (17) dapat dianalisis menggunakan teknik bagi unsur langsung melalui empat langkah. Pertama, peneliti menentukan kata, frasa, atau klausa yang teridentifikasi campur kode. Unsur yang termasuk campur kode adalah bai. Kedua, peneliti mengklasifikasikan data tersebut ke dalam faktor penyebab campur kode. Peneliti menentukan bahwa data tersebut disebabkan adanya faktor
ragam dan tingkat tutur bahasa karena dalam kamus pengantar bahasa Kupang terdapat kata lain yang lebih popular yaitu baitua, tetapi penulis menggunakan ragam kata lain yaitu, kata bai agar terlihat adanya keakraban. Ketiga, peneliti memberi tanda pada data. Data faktor penyebab ditandai dengan (iii) sehingga menjadi iiibai. Keempat, peneliti memberikan kode pada data yang sudah diklasifikasikan. Pengodean data disesuaikan dengan opini, paragraf, kalimat dan periodisasi dalam opini Tapaleuk di surat kabar Pos Kupang yang diteliti. Kode (O9/P4/K1/19317) berarti data didapat dari opini kesembilan, paragraf keempat, kalimat pertama pada tanggal 09 Maret 2017.
4.3 Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, macam, dan faktor campur
kode dalam opini Tapaleuk di surat kabar pos Kupang edisi Juli 2016-Mei 2017. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan beberapa bentuk dan macam yang digunakan serta beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode dalam opini Tapaleuk di surat kabar pos Kupang. Secara keseluruhan bentuk macam campur kode yang ditemuakan berjumlah 3 bentukk campu kode, yaitu campur kode berupa kata, frasa, dan klausa. macam campur kode yang ditemukan ada 2 yaitu macam campur kode ke dalam dan campur kode campuran. gaya bahasa yang ditemukan dalam penelitian ini berjumlah 13 gaya bahasa. Rincian jenis gaya bahasa tersebut sebagai berikut. Gaya bahasa ironi 4 buah, inuendo 16 faktor yang menyebabkan campur kode, yaitu faktor pentur/ sikap dan faktor kebahasaan.
Teori yang digunakan peneliti untuk menganalisis bentuk campur kode dan faktor campur kode adalah teori dari Jendra (dalam Suandi, 2014), sedangkan dalam menganalisis macam campur kode peneliti menganalisis menggunakan teori dari Suandi (2014). Penelitian terdahulu yang relavan yang digunakan peneliti adalah penemuan dari Natalia Kristanti (2014) yang berjudul Campur kode pada iklan dalam Surat Kabar Kompas Edisi Desember 2012 dan penemuan dari Yuli Widiastuti (2012) yang berjudul Analisis Campur Kode dalam Surat Kabar Batam Pos Rubrik Opini Edisi 11 Januari-11 Maret 2013.