BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Faktor Penyebab Terjadinya Kesalahan Konstruksi Sintaksis
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, rumusan masalah yang akan menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah kesalahan konstruksi sintaksis dalam karangan siswa kelas X di SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta?
2. Apakah faktor penyebab terjadinya kesalahan konstruksi sintaksis dalam karangan siswa kelas X di SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, mendeteksi dan mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan sintaksis yang dilakukan siswa yang meliputi.
1. Kesalahan konstruksi sintaksis dalam karangan siswa kelas X di SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta.
2. Faktor penyebab terjadinya kesalahan konstruksi sintaksis dalam karangan siswa kelas X di SMK Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat secara teoretis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
Deskripsi hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru bagi ilmu pengetahuan, khususnya bidang linguistik. Aspek kebahasaan,
dalam hal ini menulis karangan dengan memperhatikan unsur-unsur fungsional kalimat, yaitu sintaksis berdasarkan jenis kesalahan yang dilakukan siswa.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru dan Siswa
Penelitian Bagi guru maupun siswa, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan kebahasaan dalam aspek menulis khususnya tentang ketepatan dan ketidaktepatan penggunaan sintaksis sebagai unsur dalam kalimat. Bagi guru juga, penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau tolak ukur kemampuan tata bahasa tulis siswa sehingga selanjutnya, dapat memotivasi guru untuk menemukan metode atau cara agar meminimalisir kesalahan bahkan menghilangkannya. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat menghindari kesalahan sintaksis dalam menulis karangan.
b. Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan atau saran positif dalam upaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pembelajaran menulis karangan, sebagai bagian dari pelajaran bahasa Indonesia.
G. Batasan Istilah
Supaya tidak terjadi perbedaan persepsi terhadap istilah yang ada dalam penelitian ini, peneliti membatasi istilah-istilah tersebut.
1. Analisis kesalahan adalah penyelidikan terhadap suatu hal (karangan, peristiwa, dan sebagainya) sebagai teknik untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan menginterpretasikan secara urut dan sistematis
kesalahan kaidah yang telah ditentukan dalam tataran ilmu kebahasaan (linguistik).
2. Kesalahan sintaksis adalah kesalahan struktur yang berupa kesalahan struktur frasa dan kesalahan struktur kalimat karena frasa dan kalimat merupakan bagian dari sintaksis.
3. Kesalahan frasa adalah kesalahan penggunaan sintaksis pada struktur frasa. 4. Kesalahan kalimat adalah kesalahan penggunaan sintaksis pada struktur
Kalimat.
5. Karangan adalah hasil perwujudan ide, gagasan dan pikiran manusia yang tersusun dari rangkaian kata demi kata yang membentuk sebuah kalimat, paragraf dan wacana yang mempunyai tujuan tertentu sehingga dapat dibaca dan dipahami maksudnya oleh pembaca.
10 BAB II KAJIAN TEORI
A. Karangan
1. Pengertian Karangan
Dalam proses pembelajaran khususnya Bahasa Indonesia, Mengarang merupakan sebuah tindakan yang biasa dilakukan dengan tujuan menghasilkan sebuah karya, baik lisan maupun tulis. Umumnya hasil mengarang dalam bentuk tulisan disebut sebagai karangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 419) karangan merupakan hasil mengarang yang berupa: cerita, tulisan, artikel, dan puah pena. Selain pengertian itu, Keraf dalam Istinganah (2012: 17) mengatakan bahwa karangan adalah bahasa tulis yang merupakan rangkaian kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat, paragraf dan akhirnya menjadi sebuah wacana yang dapat dibaca dan dipahami. Oleh sebab itu, karangan merupakan sebuah tindakan menuangkan pikiran atau gagasan dalam bahasa tulis yang menghasilkan suatu karya dalam bentuk kata demi kata, sehingga menjadi kalimat, paragraf, dan akhirnya wacana.
2. Jenis Karangan
Berdasarkan jenis pendekatan berbasis teks atau genre yang berpijak pada fungsi sosial, dikenal empat jenis karangan, yaitu: naratif, deskritif, argumentatif, dan ekspositori (Zainurrahman, 2013: 37). Menurut Wong (2002: 107-139) karangan nonfiksi dibedakan menjadi lima jenis, yaitu: recounts, prcedural text, information report, explanation, exposition. Akan tetapi, menurut Sugono (ed)
(2005: 128) disebutkan bahwa karangan dibagi menjadi empat, yaitu: kisahan (narasi), bahasan (argumentasi), paparan (eksposisi), perian (deskripsi). Berikut penjelasan berbagai jenis karangan tersebut sebagai berikut.
a. Narasi
Narasi adalah tulisan yang menyajikan rincian peristiwa menurut urutan waktu, rincian tindakan, atau kegiatan. Narasi berkaitan dengan persepsi dan peristiwa pada latar tertentu mengenai objek tertentu. Narasi biasanya mendeskripsikan suatu tempat, waktu, dan manusia serta tindakannya sebagai poin penting. Dalam karangan narasi, penceritaan yang berdasarkan langkah demi langkah. Fungsi sosial karangan narasi adalah penulis bermaksud untuk berbagi cerita kepada masyarakat, menghibur pendengar, melaporkan sebuah peristiwa atau kejadian, memecahkan suatu misteri, dan sebagainya. Elemen wajib dalam naratif antara lain orientasi, komplikasi, evaluasi, dan resolusi. Contoh jenis karangan ini adalah biografi, kisah, roman, cerpen, dan novel.
b. Deskriptif
Deskriptif adalah penjabaran hasil pengamatan alat indera ke dalam rangkaian kata-kata untuk memberikan kesan indera juga kepada orang lain (Budiharso, 2009: 22). Bahasa deskriptif dapat bersifat subjektif atau objektif, hal ini dipengaruhi oleh besarnya keterlibatan penulis terhadap objek yang diamatinya. Karangan deskriptif digunakan penulis untuk menggambarkan sebuah keadaan atau situasi objek secara komprehensif dengan mengandalkan kemampuan kosakata. Fungsi sosial karangan deskriptif adalah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat pembaca seolah-olah mengalami, melihat,
dan merasakan apa yang sedang dideskripsikan. Contoh karangan deskripsi adalah penggambaran sebuah ruangan yang disertai dengan tata letak barang di dalam ruang, warna, keadaan, bentuk, dan struktur melalui pengamatan indera.
c. Argumentatif
Argumentatif adalah salah satu jenis esai yang bertujuan untuk mengubah pemikiran atau tindakan orang lain disertai dengan bukti-bukti yang dapat diterima akal. Fungsi sosial karangan argumentatif adalah sebagai sarana berargumen yang bertujuan untuk mengajak, membujuk, atau mendesak pembaca mengenai suatu isu dan menyuguhkan rasionalitas, pembantahan, dan penguatan beralasan terhadap pernyataan. Secara skematik karangan argumentatif terdiri atas tiga bagian, yaitu perkenalan isu, argumen, dan kesimpulan. Contoh argumentatif adalah debat, kampanye, dan lain sebagainya.
d. Eksposisi
Eksposisi adalah karangan yang menyatakan atau menjawab pertanyaan terkait dengan sesuatu. Eksposisi bertujuan untuk menjelaskan masalah ke dalam bahasa tulis. Eksposisi biasanya digunakan dalam menyampaikan uraian ilmiah populer. Contoh karangan jenis ini adalah buku pengetahuan, artikel-artikel dalam surat kabar, majalah, dan tulisan-tulisan ilmiah.
B.Analisis Kesalahan Berbahasa
1. Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa
Sebelum membahas tentang kesalahan sintaksis, terlebih dahulu akan membahas kesalahan berbahasa. Pranowo (2015: 118) menjelaskan bahwa
kesalahan berbahasa adalah penyimpangan kaidah dalam pemakaian bahasa. Oleh sebab itu, untuk membantu tercapainya tujuan belajar bahasa, pembelajar perlu untuk mengevaluasi sebab-akibat dan cara mengatasi kekeliruan-kekeliruan berbahasa yang dilakukan, salah satunya adalah analisis kesalahan berbahasa. Hastuti (1989: 73-74) menjelaskan bahwa analisis kesalahan ialah proses yang didasarkan pada menganalisis kesalahan orang yang sedang belajar sebuah objek yang sudah jelas atau sudah ditargetkan. Oleh sebab itu, apabila analisis kesalahan yang dimaksud adalah berbahasa, objek tersebut ialah bahasa. Bahasa yang dapat dianalisis adalah bahasa ibu, bahasa kebangsaannya, dan bahasa asing.
Analisis kesalahan berbahasa dikhususkan pada bahasa yang telah ditargetkan. Beberapa fungsi dari analisis kesalahan berbahasa adalah sebagai berikut. (1) sebagai alat pada awal dan selama program pengajaran bahasa dilakasanakan, (2) dapat membuka pikiran guru dalam mengatasi kesulitan bahasa yang dihadapi siswa, (3) membantu penemuan linguistik konstrastif, (4) membantu pengajar bahasa (guru) mengatur materi pengajaran dan melaksanakan pengajarannya sesuai dengan jenis kesalahan bahasa yang dihadapi, (5) sebagai skala penentu keberhasilan atau kegagalan program bahasa yang telah diterapkan sehingga, dapat menentukan evaluasi selanjutnya.
Hastuti (1989: 74-76) menjelaskan bahwa penyebutan “kesalahan” lebih dideskripsikan sebagai sebuah „gelincir‟, yaitu suatu tindakan yang disertai sikap kurang berhati-hati. Hal ini bisa disebabkan oleh sifat terburu-buru ingin cepat sampai tujuan. Kesalahan tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor ekstra linguistik, semacam kegagalan ingatan, emosi yang meningkat, kelelahan mental
atau fisik, serta mabuk. Karakteristik dari gelincir memungkinkan pemakai bahasa menyadari kegelincirannya, sehingga ia dapat mengoreksi diri tanpa bantuan eksternal.
Pada bahasa Indonesia ditemui beberapa kata yang artinya bernuansa dengan kesalahan. Di samping kesalahan terdapat pula penyimpangan, pelanggaran, dan kekhilafan. Keempat kata tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut.
a. Kesalahan
Kesalahan berasal dari kata „salah‟ yang dilawankan dengan „betul‟, memilki arti jika yang dilakukan tidak betul, tidak menurut norma, ataupun tidak menurut aturan yang ditentukan. Hal ini dapat disebabkan, penutur belum tahu, tidak tahu ada norma, atau khilaf. Apabila kesalahan ini dihubungkan dengan penggunaan kata, bisa jadi penutur tidak tahu kata apa yang tepat untuk dipakai. b. Penyimpangan
Kata penyimpangan memilki arti menyimpang dari norma yang telah ditetapkan. Hal ini bisa disebabkan tidak mau, enggan, atau malas mengikuti norma yang ada. Sikap berbahasa ini cenderung menuju ke pembentukan kata, istilah, slang, jargon, dan prokem.
c. Pelanggaran
Kata pelanggaran memberi kesan negatif karena pemakai bahasa dengan penuh kesadaran tidak mau mneuruti norma yang telah ditentukan, meskipun ia telah paham akan segala konsekuensinya.
d. Kekhilafan
Kata ini merupakan proses psikologis, dalam hal ini menandai seseorang khilaf dalam menerapkan teori atau norma bahasa yang telah diketahuinya. Kekhilafan dapat diartikan kekeliruan yang memungkinkan salah ucap dan salah susun karena kurang cermat.
2. Penyebab Kesalahan Berbahasa
Penyebab kesalahan berbahasa terdapat pada orang yang menggunakan bahasa bersangkutan bukan pada bahasa yang digunakannya. Menurut Setyawati (2010: 15) ada tiga kemungkinan seseorang dapat salah dalam berbahasa, sebagai berikut.
a. Penutur terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya. Hal ini dapat diartikan bahwa kesalahan berbahasa disebabkan oleh interferensi bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2) yang sedang dipelajari si pembelajar (siswa). Dengan kata lain sumber kesalahan terletak pada perbedaan sistem linguistik B1 dengan sistem linguistik B2.
b. Pemakai bahasa kurangpaham terhadap bahasa yang dipakainya. Kesalahan yang merefleksikan ciri-ciri umum kaidah bahasa yang dipelajari. Dengan kata lain, keliru menerapkan kaidah bahasa. Misalnya: kesalahan generalisasi, aplikasi kaidah bahasa yang tidak sempurna, dan kegagalan mempelajari kondisi penerapan kaidah bahasa. Kesalahan seperti ini sering disebut dengan istilah kesalahan intrabahasa (intralingual error). Kesalahan ini disebabkan oleh: (a) penyamarataan berlebihan, (b) ketidaktahuan pembatasan kaidah, (c)
penerapan kaidah yang tidak sempurna, dan (d) salah menghipotesiskan konsep.
c. Pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Hal ini berkaitan dengan bahan yang diajarkan atau dilatihkan dan cara pelaksanaan pengajaran. Bahan pengajaran menyangkut masalah sumber, pemilihan, penyusunan, pengurutan, dan penekanan. Cara pengajaran menyangkut masalah pemilihan teknik penyajian, langkah-langkah dan urutan penyajian, intensitas dan kesinambungan pengajaran, dan alat-alat bantu dalam pengajaran.
3. Klasifikasi Analisis Berbahasa
Menurut Tarigan (1997: 48-49), kesalahan berbahasa dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Berdasarkan tataran linguistik, kesalahan berbahasa dapat diklasifikasikan menjadi: kesalahan berbahasa di bidang fonologi, morfologi, sintaksis (frasa, klausa, kalimat), semantik, dan wacana.
b. Berdasarkan kegiatan berbahasa atau keterampilan berbahasa dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
c. Berdasarkan sarana atau jenis bahasa yang digunakan dapat berwujud kesalahan berbahasa secara lisan dan secara tertulis. Berdasarkan penyebab kesalahan tersebut terjadi dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa karena pengajaran dan kesalahan berbahasa karena interferensi.
d. Kesalahan berbahasa berdasarkan frekuensi terjadinya dapat diklasifikasikan atas kesalahan berbahasa yang paling sering, sering, sedang, kurang, dan jarang terjadi.
4. Konstruksi Sintaksis
Ilmu bahasa memiliki beberapa cabang yang mengkaji permasalahan yang terkait dengan unsur-unsur bahasa, salah satu cabang ilmu tersebut adalah sintaksis. Suhardi (2013: 15) menjelaskan bahwa sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang membahas seluk-beluk konstruksi sintaksis berupa frasa, klausa, dan kalimat. Selain itu, Verhaar (2012: 161) menyatakan bahwa sintaksis merupakan ilmu yang membahas hubungan antar-kata dalam tuturan. Oleh karena itu, unsur minimal dalam sebuah konstruksi sintaksis adalah kata atau bentuk bebas. Dengan kata lain, kata dapat dibedakan berdasarkan kategori sintaksisnya atau kelas kata. Dalam bahasa Indonesia memilki empat kategori utama, yaitu verba (kata kerja), nomina (kata benda), adjektiva (kata sifat), dan adverbia (kata keterangan) ada juga kata tugas (preposisi, konjungtor, dan partikel). Objek kajian konstruksi sintaksis adalah hal-hal terkait frasa, klausa, dan kalimat.
a. Frasa
Verhaar (2012: 291) menyatakan bahwa frasa merupakan kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih panjang. Sebagai contoh:
{Secara {lebih mendalam}} kita {akan membahas} {kemampuan {menilai {prestasi belajar}}} {untuk {kepentingan {pengajaran {yang lebih baik}}}.
Frasa-frasa yang terdapat dalam kalimat diapit antara kurung kurawal, akan tetapi terdapat juga “frasa terkandung”, yang artinya frasa di dalam frasa. Selain itu, Suhardi (2013: 34) menyatakan bahwa frasa merupakan salah satu bentuk konstruksi sintaksis yang beranggotakan dua kata atau lebih dan tidak bersifat predikatif. Oka dan Suparno dalam Suhardi (2013: 36) menyebutkan bahwa frasa-frasa yang berpotensi sebagai frasa endosentris adalah frasa nominal (frasa benda), frasa verbal (frasa kerja), frasa adjektival (frasa sifat), dan frasa numeralia (frasa bilangan). Selain itu, frasa-frasa yang berpotensi sebagai frasa eksosentrik adalah frasa preposisional (frasa depan) dan frasa artikel (frasa sandang). Alwi dkk (2003: 243) menyebutkan contoh-contoh frasa tersebut sebagai berikut:
1) Frasa Nominal (Frasa Benda) (1) baju merah
(2) dua baju
(3) rumah mewah saya (4) baju merah ini/itu 2) Frasa Verbal (Frasa Kerja)
(5) akan pergi Kelompok kata yang dapat berfungsi sebagai pewatas adalah
akan, harus, dapat / bisa, boleh, suka, ingin, mau, tidak,
dan belum. (6) berlatih setiap pagi 3) Frasa Adjektival (Frasa Sifat)
(8) Ia berhasil dengan baik. (9) sangat kuat
(10) paling besar
4) Frasa Numeralia (Frasa Bilangan) (11) dua ekor (kerbau)
(12) lima orang (penjahat) (13) tiga buah (rumah)
5) Frasa Preposisional (Frasa Depan)
(14) dari rumah kata dasar (di, ke, dari, pada) dan kata berafiks (selama, sepanjang, dan mengenai)
(15) menurut rencana menambah afiks pada bentuk dasar kelas kata verba, adjektiva, atau nomina.
(16) kepada guru
6) Frasa Artikel (Frasa Sandang)
Frasa artikel merupakan frasa yang bersifat gelar, mengacu pada makna kelompok, dan yang menominalkan (Alwi, 2003: 304-306).
(17) yang mencipta (18) sang juara (19) para guru (20) si pengirim
b. Klausa
Klausa menurut Alwi, dkk. (2003: 312) adalah satuan sintaksis yang terdiri dari dua kata atau lebih, yang mengandung unsur predikasi. Klausa merupakan bagian dari kalimat. Dilihat dari segi struktur internalnya, kalimat dan klausa keduanya terdiri dari unsur predikat dan subjek, dengan atau tanpa objek, pelengkap, atau keterangan. Contohnya :
(1) Dia pergi pukul 06.00, ketika saya sedang mandi
Klausa utama atau induk kalimat Dia pergi pukul 06.00
Klausa subordinatif atau anak kalimat ketika saya sedang mandi
Suhardi (2013: 42) menyatakan bahwa klausa adalah salah bentuk konstruksi sintaksis yang salah satu unsur pembentuknya berfungsi sebagai predikat (P). Predikat dalam konstruksi sintaksis merupakan sentral dari fungsi-fungsi sintaksis lain yang terkandung di dalamnya. Klausa diidentifikasikan berdasarkan kriteria tertentu, yaitu (1) kelengkapan unsur intinya, (2) struktur internalnya, (3) ada tidaknya unsur negasi pada unsur pengisi P, (4) kategori unsur yang menduduki fungsi P, dan (5) distribusi unsur-unsur pembentuknya.
Berikut penjelasan dari kriteria klausa, sebagai berikut. 1) Kelengkapan unsur intinya
Berdasarkan kelengkapan unsur ini terdapat dua jenis klausa yakni klausa lengkap dan klausa tidak lengkap. Contoh :
(2) Santi sedang memasak. Klausa Lengkap
(3) Lima ekor. (Sebagai jawaban atas pertanyaan “jumlah P sapimu berapa?”) Klausa tidak lengkap 2) Struktur internalnya
Berdasarkan unsur internalnya merujuk pada bentuk klausa lengkap, yakni klausa yang unsur-unsurnya minimal terdiri atas unsur yang berfungsi sebagai S dan P.
(3) adik saya / akan pergi berstruktur runtut S-P (4) akan pergi / adik saya berstruktur inversi P-S 3) Ada tidaknya unsur negasi pada unsur pengisi P
Berdasarkan ada tidaknya unsur negasi pada unsur pengisi P, yakni klasua positif dan klausa negatif. Kata negasi yang bisa digunakan, anatar lain tidak, tak, tiada, bukan, non, dan jangan. Contohnya :
(5) dia / akan bekerja (Klausa psitif) (6) dia tidak akan bekerja (Klausa negatif) 4) Unsur pengisi P
Berdasarkan unsur pengisi P, klausa dikelompokkan menjadi dua, yakni klausa kerja (verbal), dan klausa nonkerja (nonverbal). Contohnya :
(7) mereka akan berangkat besok klausa kerja/verbal
(8) ruangannya sangat kotor klausa nonverbal: sifat/adjektival 5) Distribusi unsur-unsur pembentuknya
Berdasarkan distribusi unsur-unsur pembentuknya, klausa dikelompokkan menjadi dua, yakni klausa bebas (klausa yang mampu berdiri sendiri sebagai
kalimat sempurna) dan klausa terikat (klausa tidak berdiri sebagai kalimat sempurna, terikat dari konstruksi lain). Contohnya :
(9) mereka akan bekerja (klausa bebas) (10) jika terlambat datang, ... (klausa terikat)
c. Kalimat
Kalimat sendiri menurut Chaer (2006: 327) merupakan satuan bahasa yang berisi suatu “pikiran” atau “amanat” yang lengkap (terdapat unsur atau bagian yang menjadi pokok pembicaraan Subjek, bagian yang menjadi “komentar” tentang subjek Predikat, bagian yang merupakan pelengkap dari predikat
Objek, dan bagian yang merupakan “penjelasan” terhadap predikat dan subjek
Keterangan). Alwi, dkk. (2003: 311) menyatakan bahwa kalimat merupakan satuan bahasa terkecil, yang berwujud lisan atau tulis dan mengungkapkan pikiran yang utuh. Selain itu, Badudu (1995: 185) menyatakan bahwa kalimat tersusun dari kata-kata, frasa, atau klausa. Kalimat tunggal merupakan kalimat yang terdiri atas satu klausa unsur kalimat, yaitu kata dan frasa.
Contoh : (1) Saya sakit. (dua kata)
(2) Saya sakit keras. (kata saya dan frasa sakit keras)
(3) Adik saya sakit keras. (dua frasa: adik saya dan sakit keras)
Kalimat memiliki unsur-unsur, yaitu predikat, subjek, objek, pelengkap, keterangan, dan interpretasi ganda (Alwi, dkk., 2003: 326-333). Berikut ini penjelasan masing-masing unsur kalimat, sebagai berikut:
1) Fungsi Predikat
Predikat sebuah kalimat biasanya berupa frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia, atau frasa preposisional. Berikut contohnya.
(4) Ayahnya guru Bahasa Inggris (P=FN) 2) Fungsi Subjek
Pada umumnya subjek berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Terdapat pada contoh berikut.
(5) Anak itu belum makan. frasa verbal 3) Fungsi Objek
Objek dituntut kehadirannya oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif. Letaknya setelah predikat. Verba transitif biasanya ditandai oleh kehadiran afiks tertentu. Contohnya sebagai berikut :
(6) Adi mengunjungi Pak Ali. (7) Adi mengunjunginya. (8) saya ingin menemui kamu.
4) Fungsi Pelengkap
Menurut Alwi (2003: 329) berikut ini perbedaan dan persamaan dari objek dan pelengkap.
Tabel 1: Perbedaan dan Persamaan Objek dan Pelengkap
Objek Pelengkap
Berwujud frasa nominal dan klausa Berwujud frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektifal, frasa preposisional, atau klausa
Berada langsung di belakang predikat
Berada langsung di belakang predikat jika tak ada objek dan di belakang objek kalau unsur ini hadir Menjadi subjek akibat pemasifan
kalimat
Tak dapat menjadi subjek dalam pemasifan kalimat
Dapat diganti dengan pronomina – nya
Tidak dapat diganti dengan –nya
kecuali dalam kombinasi preposisi selain di, ke, dari, dan akan.
Contoh :
(9) Dia mendagangkan barang-barang elektronik di Glodok. O
(10) Dia berdagang barang-barang elektronik di Glodok.
Pel
5) Fungsi Keterangan
Keterangan dapat berada di akhir, di awal, dan di tengah kalimat. Kosntituen keterangan biasanya berupa frasa nominal, frasa preposisional, frasa adverbial, atau klausa. Sebagai contoh.
(11) Dia memotong rambutnya dengan gunting.
(12) Dia memotong rambutnya sebelum dia mendapat peringatan dari sekolah.
Menurut Alwi dkk (2003: 331), berikut ini daftar beberapa jenis keterangan dalam tata bahasa, sebagai berikut.
Tabel 2: Jenis Keterangan
Jenis Keterangan Preposisi/penghubung Contoh 1. Tempat di ke dari (di) dalam Pada di kamar ke Medan dari Manado (di) dalam rumah pada saya 2. Waktu - pada dalam se- sebelum sesudah selama sepanjang kemarin, sekarang pada hari ini dalam minggu ini sepulang dari kantor sebelum pergi sesudah pukul 12.00 selama dua minggu sepanjang hari
3. Alat dengan dengan gunting
4. Tujuan
agar/supaya untuk bagi demi
agar/supaya kamu pintar untuk kebebasan
bagi masa depan demi sahabatnya 5. Cara dengan secara dengan cara dengan jalan dengan diam-diam secara hati-hati dengan cara damai dengan jalan berunding 6. Penyerta
dengan bersama beserta
dengan adiknya bersama orang tuanya beserta sahabatnya 7. Perbandingan/ Kemiripan Seperti bagaikan laksana seperti angin bagaikan puteri
laksana bintang di langit
8. Sebab Karena
sebab
karena perempuan itu sebab kekeliruannya
9. Kesalingan - saling (membenci), satu
sama lain 6) Interpretasi Ganda
Konstruksi kalimat dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi konstituen yang tafsirannya berbeda, yaitu kalimat yang predikatnya berupa frasa preposisional dan kalimat yang subjeknya berupa frasa verbal. Sebagai contoh frasa preposisional sebagai predikat.
(13)Ibu ke pasar. (14)Ibu pergi ke pasar.
Frasa Ke pasar pada kedua kalimat tersebut memilki kedudukan yang berbeda. Frasa pada kalimat pertama menduduki posisi predikat kalimat apabila
Ibu diperlakukan sebagai subjek kalimat. Frasa ke pasar kalimat kedua berfungsi sebagai katerangan. Sebagai contoh dari frasa verbal sebagai subjek, yaitu:
(15)Membangun gedung bertingkat mahal sekali. Subjek Predikat
(16)Biaya membangun gedung bertingkat mahal sekali.
Pel
Perbedaan kedua frasa yang berhuruf miring tersebut adalah pada kalimat (15) berfungsi sebagai subjek. Akan tetapi, pada kalimat (16) berfungsi sebagai pelengkap karena nomina /biaya/ yang mengalami pelesapan.
7) Jenis Kalimat
Jenis kalimat dapat ditinjau dari sudut (a) jumlah klausanya, (b) bentuk sintaksisnya, (c) kelengkapan unsurnya, dan (d) susunan subjek dan predikatnya (Alwi, dkk, 2003: 336-337). Berdaarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal sendiri dapat dibedakan lagi berdasarkan kategori predikatnya, menjadi (1) kalimat berpredikat verbal, (2) kalimat berpredikat adjektival, (3) kalimat berpredikat nominal (termasuk pronominal), (4) kalimat berpredikat numeral, dan (5) kalimat berpredikat frasa preposisional.
Kalimat verbal sendiri dapat dikelompokkan berdasarkan kemungkinan kehadiran nomina atau frasa nominal objeknya, yaitu (i) kalimat taktransitif, (ii) kalimat ekatransitif, dan (iii) kalimat dwitransitif. Kalimat majemuk dapat dibagi menjadi kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Berdasarkan bentuk atau kategori sintaksisnya, kalimat lazim dibagi menjadi kalimat deklaratif (kalimat berita), kalimat interogatif (kalimat tanya), kalimat imperatif (kalimat perintah), dan kalimat ekslamatif (kalimat seruan).
Dilihat dari segi kelengkapan unsurnya, kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat lengkap (major) dan kalimat taklengkap (minor). Selanjutnya, kalimat dari susunan unsur subjek dan predikatnya dapat dibedakan menjadi kalimat biasa dan kalimat inversi. Menurut Alwi dkk (2003: 337) berbagai jenis kalimat yang telah dijelaskan tersebut dapat dirangkum pada tabel 3 berikut.
Tabel 3: Jenis Kalimat
Kalim
at
Jumlah Klausa
Bentuk Predikat
Susun-an P-S Keleng-kapan Unsur Ver-bal Adjek-tival Nomi-nal Nume-ral Prepo-sisional Tung-gal Deklaratif Interogatif Imperatif Ekslamatif + + + - + + (+) + + + + - + + - (+) + + (+) - (+) (+) (+) ++ (+) (+) (+) (+) Ma jem