• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ANAK SEBAGAI

B. Faktor Ekstern

4. Faktor Perkembangan Teknologi

Dalam masyarakat yang modern timbul bermacam-macam kejahatan, faktor kejahatan sendiri merupakan bentuk gejala-gejala sosial yang tidak berdiri sendir, melainkan ada hubunganya dengan perkembangan teknologi, sarana-sarana seperti gadget, sosial media dan

lain-lain terkadang secara tidak langsung menayangkan hal-hal yang sehrusnya tidak dilihat oleh anak dibawah umur.

Seperti halnya sinetron banyak sinetron yang menayangkan bagaimana anak-anak sma suudah merokok bahkan sampai memakai narkotika hal itu sendiri dapat menimbulkan rasa kagum bagi anak ketika melihat artis idolanya melakukan peran tersebut, sehingga rasa ingin mencoba itu muncul.

Jika perkembangan teknologi dikaitkan dengan penyalahgunaan narkotika para pengedar narkotika, mengedarkan atau menawarkan narkotikanya melalui sarana-sarana teknologi seperti halnya sosial media seperti whatsap, line dan lain-lain.

BAB IV

UPAYA PENANGGULANGAN ANAK SEBAGAI KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA

Anak adalah anugrah dari tuhan yang maha es. Maka dari itu anak harus dilindungi agar jauh dari hal-hal yang tidak baik. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengatakan, saat ini masyarakat yang masuk dalam fase ketergantungan narkoba hampir mencapai 6 juta orang.

Angka ini belum termasuk pengguna ganda baik pengedar maupun masyarakat yang masih coba-coba.43

A. Upaya Penal.

Hal ini tentu menjadi hal yang sangat diresahkan bagi bangsa ini. Mengigat anak adalah penerus generasi bangsa indonesia disuatu hari kelak. Upaya-upaya penanggulangan kejahatan ini dapat dilakukan melalui upaya penal dan upaya non penal yang dianggap dapat menanggulangi penyalahgunaan narkotika terhadap anak.

Dalam hal penanggulangan penyalahgunaan narkotika ini penulis akan mengkaji dari segi upaya penal (hukum pidana) dan upaya non penal (diluar hukum pidana) yaitu sebagai berikut:

Upaya penal adalah penanngulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana (criminal law application), upaya kebijakan tersebut digunakan dengan cara menerapkan hukum pidana, yaitu hukum materil, hukum formil. Dan hukum panitensier dalam masyarakat. Dalam kongres PBB ke4 di kyoto disepakati bahwa usaha pencegahan kejahatan, termasuk penegakan hukum pidana merupakan bagian internal dari rencana pembangunan nasional.44

Berbicara mengenai politik hukum pidana, maka tidak terlepas dari pembicaraan politik hukum secara keseluruhan karena hukum pidana adalah salah satu bagian dari ilmu

43 https://news.okezone.com/read/2017/07/20/337/1740788/indonesia-darurat-narkoba-6-juta-orang-jadi-pecandu di akses pada tanggal 11 08 2017 pukul 23.40 WIB

44Widodo, Aspek Hukum Pidana Kejahatan Mayantara, Aswaja Pressindo, Yogyakarta, 2013,

hukum. Soedarto mengatakan politik hukum adalah usaha untuk mewujudkan peraturan-peraturan baik dengan situasi dan kondisi tertentu.45

1. Fungsi sekunder yaitu menindak para pelaku kejahatan;

Persoalan sentral dalam kebijakan penal adalah penentuan apa perbuatan yang seharusnya dijadikan tindak pidana (kriminalisasi) dan apa sangsi yang sebaliknya diancam terhadap sipelanggar. Operasional kebijakan penal meliputi kriminalisasi, deskriminalisasi, penalisasi, dan depenalisasi.

Berhubungan dengan penerapan hukum pidana dalam criminal policy. Bambang Purnomo berpendapat bahwa tujuan penal (hukum pidana) adalah agar masyarakat dan setiap anggota masyarakat terlindungi oleh hukum sehingga dapat mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Tujuan ini tidak lepas dari 2 fungsi hukum pidana yaitu:

2. Fungsi primer yaitu sebagai saran untuk mencegah kejahatan.

Fungsi sekunder akan diterpkan jika fungsi primer tidak dapat dilaksanakan. Hukum pidana hanya lah salah satu upaya penanggulangan kejahatan. Kebijakan untuk melakukan pencegahan atau penanggulangan tindak pidana termasuk kedalam bidang kebijakan Kriminal (criminal policy). Kebijakan criminal ini pun tidak terlepas dari kebijakan atau upaya untuk kesejahteraan sosial (sosial policy) yang terdiri dari kebijakan atau upaya-upaya untuk kesejahteraan sosial dan kebijakan atau upaya-upaya-upaya-upaya untuk perlindungan masyarakat.46

Barda nawawi juga mengatakan kebijakan untuk membuat peraturan perundang-undangn yang baik dapat dipisahkan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Sudarto mengatakan dalam menghadapi kriminalisasi, harus diperhatikan hal-hal yang pada intinya sebagai berikut:

45Mahmud, Mulyadi, Criminal Policy Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy Dalam Penanggulangan Kejahatab Kekerasan, Bangsa Press, Medan, 2008, Halaman 66.

46Barda Nawawi Arief, Masalah Penegekan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, Halaman 32.

1. Penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materil spiritual berdasarkan pancasila sehubungan dengan ini maka hukum pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan dan mengadakan peneguran terhadap tindakan penanngulangan itu sendiri demi kesejahteraan dan pengayoman masyarakat.

2. Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki, yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian atas warga masyarakat.

3. Penggunaan hukum pidana harus pula menghitungkan prinsip biaya dan hasil

4. Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari bahan-bahan penegakan hukum, yaitu jangan sampai ada kelampauan beban tugas.

Kebijakan penal ini pada dasarnya harus menitik beratkan kepada tindakan represif.

Hukuman yang pantas diterima oleh anak pelaku tindak pidana narkotika, juga menjadikan upaya penanggulangan bagi orang lain yang mungkin sudah atau ingin mencoba-coba narkotika agar mengurungkan niatnya dikarenakan melihat orang yang telah dihukum melalui kebijakan hukum pidana ini.

Upaya penal harus mempunyai pengaruh efektif untuk mencegah sebelum terjadinya kejahatan narkotika ini. Jika dikaitkan dengan tujuan dari pemidanaan dapat dijelaskan berdasarkan tujuan detterence, retributive, treatment dan sosial defence, adapun penjelasan dari tujuan adalah:

1. Teori deterence

Teori detterence ini bertujuan dimana ancaman pemidanaan dapat membuat sesseorang merasa takut dan menahan diri untuk melakukan kejahatan. Tujuan pemidanaan sebagai deterence effect sebenarnya telah menjadi sarana yang cukup lama dalam kebijakan

penanggulangan kejahatan karena tujuan deterence ini berakar pada aliran klasik tentang pemidanaan.

Tujuan pemidanaan untuk prevensi umum diharapkan memberikan peringatan kepada masyarakat supaya tidak melakukan kejahatan. Tujuan pemidanaan sebagai deterence effect dibagi menjadi pencegahan umum dan pencegahan khusus. Prevensi umum menurut van veen mempunyai 3 fungsi yaitu menegakkan wibawa pemerintah, menegakkan norma, dan membentuk norma. Prvensi khusus bahwa dengan pidana yang dijatuhkan, memberikan detterence effect kepada sipelaku sehingga tidak menggulangi perbuatannya. Sedangkan

fungsinya perlindungan kepada masyarakat memungkinkan bahwa dengan pidana pencabutan kebebasan selama beberapa waktu, maka masyarakat akan terhindar dari kejahatan yang munkindilakukan oleh pelaku.47

2. Teori Retributif.

Teori ini melitigimasi pemidanaan sebagai sarana pembalasan atas kejahatan yan telah dilakukan oleh seseorang, kejahatan dipandang sebagai perbuatan yang amoral dan asusila didalam masyarakat, oleh karena itu pelaku kejahatan harus dibalas dengan menjatuhkan hukuman pidana. Tujuan pemidanaan dilepaskan dari tujuan apapun sehingga pemidanaan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu pembalasan.48

a. Dijatuhkan pidana akan memuaskan perasaan balas dendam dari si korban, baik perasaan adil bagi dirinya, temanya, maupun keluarganya. Perasaan ini tidak dapat dihindari dan tidak dapat dijadikan alasan untuk menuduh tidak menghargai hukum.

Tipe aliran retributive ini disebut vindicative;

Romli Atmasasmita mempunyai pandangan pembenaran penjatuhan pidana terhadap pelaku kejahatan dalam teori retributif ini sebagai berikut:

47Mahmud Mulyadi, Op Citt, Halaman 74.

48Ibid, Halaman 68.

b. Penjatuhan pidana dimaksudkan sebagai peringatan kepada pelaku kejahatan dan anggota masyarakat yang lainya bahwa setiap perbuatan yang merugikan orang lain atau memperoleh keuntungan dari orang lain secara tidak wajar, maka akan menerima ganjaranya, tipe aliran retributive ini disebut fairmess;

c. Pidana dimaksudkan untuk menunjukan adanya kesebandingan antara beratnya suatu pelanggaran dengan pidana yang dijatuhkan. Tipe aliran ini disebut proportionality

3. Teori Treatment.

Treatment sebagai tujuan pemidanaan dikemukakan oleh aliran positif yang berpendapat bahwa pemidanaan sangat pantas diarahkan kepada pelaku kejahatan, bukan pada perbuatanya, namun pemidanaan yang dimaksud olehaliran ini adalah untuk memberikan tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitasi) kepada pelaku kejahatan sebagai pengganti dari penghukuman

Paham rehabilitasi sebagai tujuan pemidanaan dalam perjalanan tidak semulus yang diperkirakan karena paham ini juga banyak menuai kritikan. Dalam hal anak sebagai korban penyalahgunaan narkotika teori sangat lah ampuh bagi sianak untuk di rawat (treatment) dan perbaikan (rehabilitasi) setelah sianak dihukum dan menuju kepada perbaikan dirinya. Paham rehabilitasi adalah pendekatan yang mengundang tirani individu dan penolakan hak asasi manusia. Seperti dalam hal rehabilitasi tidak ada seorang yang dapat memprediksi berapa lama akan berlangsung ketika seorang tahanan segera diserahkan dokter untuk disembuhkan atau diobati sebelum anak itu dibebaskan.49

4. Teori Sosial Deference.

Sosial deference adalah aliran pemidanaan yang berkembang setelah PD II dengan tokoh terkenalnya adalah Filipo Gramatice yang pada tahum 1945 mendirikan pusat studi

perlindungan masyarakat. Seiring perkembangany teori ini pecah menjadi 2 aliran yakni aliran yang radikal (ekstrim) dan aliran yang moderat (reformis).

Gramatica berpendapat bahwa hukum perlindungan sosial adalah mengintegrasikan individu kedalam tertib sosial bukan pemidanaa terhadap perbuatanya. Peranan yang besar dari hukum pidana merupakan kebutuan yang tidak dapat diletakkan bagi suatu system hukum. Adapun konsep pandangan moderat adalah:

a. Pandangan moderat bertujuan mengitegrasikan ide-ide atau konsepsi-konsepsi perlindungan masyarakat kedalam konsepsi baru hukum pidana.

b. Perlindungan individu dan masyarakat tergantung pada perumusan yang tepat mengenai hukum pidana dan ini tidak kurang pentingnya dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

c. Dalam menggunakan system hukum pidana aliran ini menolak penggunaan fiksi-fiksi dan teknis-teknis yuridis yang terlepas dari kenyataan sosial. Ini merupakan reaksi terhadap legisme dari aliran klasik.Aliran moderat ini juga lahir sebagai jawaban terhadap kegagalan aliran positif dengan paham rehabilisionisnya.50

1. Putusan Pengadilan Negeri No. 2/Pid.Sus.Anak/2015/PN.Tjb a. Posisi kasus

Bermula pada hari Selasa tanggal 10 Februari 2015sekira pukul 08.00 WIB Terdakwa Zulkifli Als Izulbersama Saksi Andi (Terdakwa dalam berkas perkara terpisah) sedang duduk-duduk di rumah, lalu Terdakwa berkata “Pak,CK mau pak” lalu Saksi Andi bertanya “CK apa” laluTerdakwa berkata “beli ganja”sambil mengeluarkan uangsebesar Rp.30.000,- (tigapuluh ribu rupiah) dari kantong celana dan setelah itu Saksi Andi juga mengeluarkan uang sebesar Rp.50.000,00 (lima puluh ribu rupiah), sehingga uang yang terkumpul sebesar Rp.80.000,00 (delapan puluh ribu rupiah).

50Ibid. Halaman 89.

Kemudian setelah itu Terdakwa pergi kepangkalan betor yang berjarak sekitar 300 (tiga ratus) meter,lalu Terdakwa bertemu dengan Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek (Terdakwa dalam berkas perkara terpisah), lalu Terdakwa berkata “bang, ayo ke Kampung Baru” lalu Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek bertanya “ngapain”

laluTerdakwa berkata “membeli ganja” lalu Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek menjawab “ayolah”. Selanjutnya Terdakwa naik ke atas betoryang dikendarai oleh Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek, lalu Terdakwa bersama Saksi Junaidi Abdullah Als Dedekmendatangi Saksi Andi, lalu Saksi Andi naik ke atas betordan setelah itu Terdakwa bersama Saksi Andi dan Saksi Junaidi Abdullah Als Dedekpergi ke Kampung Baru dan setelah sampai di Jalan DamaiUjung, selanjutnya betor yang dikemudikan oleh Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek berhenti, lalu Terdakwa bersama Saksi Andi turun, sedangkan Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek menunggu di pinggir jalan, lalu Terdakwa bersama Saksi Andi pergi ke rumah Saksi Budi Sirait Als Komplek (Terdakwa dalam berkas perkara terpisah) dan setelah bertemu selanjutnya Saksi Andi berkata “ganja abang ada” lalu Saksi Budi Sirait Als Komplek menjawab

“ada” lalu Saksi Budi Sirait Als Komplek bertanya “mau beli banyak” lalu Saksi Andi berkata “tidak bang” sambil menyerahkan uang sebesar Rp.80.000,00 (delapan puluh ribu rupiah) kepada Saksi Budi Sirait als Komplek dan setelah itu Saksi Budi Sirait Als Komplek menerima uang tersebut dan langsung masuk ke dalam rumahnya sedangkan Terdakwa bersamaSaksi Andi menunggu di depan rumahnya. Kemudian tidak berapa lama Saksi Budi Sirait Als Komplek keluar dari rumahnya lalu menyerahkan 1(satu) bungkus kertas koran diduga berisi narkotika jenis ganja kepada Saksi Andi, lalu Terdakwa bersama Saksi Andipergi mendatangi Saksi JunaidiAbdullah Als Dedek dan setelah itu Terdakwa bersamaSaksi Andi kembali ke rumah di Jalan Alpokat dengan mengendarai betor yang dikemudikan oleh Saksi

Junaidi Abdullah Als Dedek. Kemudiansekira pukul 11.00 WIB, pada saat Terdakwa bersama Saksi Andi dan Saksi Junaidi Abdullah Als Dedek melintas di Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Gading Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai tiba-tiba Petugas Kepolisian datang melakukan penangkapan setelah mendapat informasi dari masyarakat dan menemukan barang bukti berupa 1 (satu) bungkus kertas koran diduga berisi narkotika jenis ganja dari selipan celana bagian belakang yang dipakai oleh Saksi Andi dan setelah itu Petugas Kepolisian melakukan pengembangan dan berhasil menangkap Saksi Budi Sirait Als Komplek di rumahnya. Selanjutnya Petugas Kepolisian membawa Terdakwa serta barang bukti berupa 1 (satu) bungkus kertas koran diduga berisi narkotika jenis ganja dengan berat kotor 41,77 (empat puluh satu koma tujuh puluh tujuh) gram dan 1 (satu) unit betor merk Suzuki Thunder warna biru tanpa nomor plat polisi ke Kantor Polres Tanjungbalai untuk dapat diproses sesuai hukum yang berlaku oleh karena Terdakwa tidak memiliki ijin untuk permufakatan jahat menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli atau menyerahkan Narkotika Golongan I.

Berdasarkan Berita Acara Analisis Laboratorium Barang Bukti Narkotika Puslabfor Bareskrim Polri Cabang Medan No. Lab. 1327/NNF/2015 tertanggal 13 Februari 2015 yang dibuat dan ditandatangani oleh Zulni Erma dan Deliana Naiborhu, S,Si, Apt telah melakukan pemeriksaan dengan mengingat sumpah jabatannya serta diketahui dan ditandatangani oleh Dra. Melta Tarigan, M.Si Waka Laboratorium Forensik Cabang Medan (terlampir dalam berkas perkara) dengan hasil pemeriksaan Bahwa Barang Bukti yang dianalisis milik Terdakwa Zulkifli Als Izul dan Andi adalah positif ganja dan terdaftar dalam Golongan I (satu) nomor urut 8 Lampiran Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

b. Dakwaan

Dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum berbentuk Dakwaan Alternatif, Dakwaan jaksa penuntut umum kepada terdakwa yaitu:

PERTAMA Pasal 114 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo Lampiran I Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

ATAU

KEDUA Pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo Lampiran I Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

c. Tuntutan

1) Menyatakan Terdakwa ZULKIFLI Alias ZUL telah terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “permufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo UU RI No. 11 tahun 2009 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

2) Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa ZULKIFLI Alias ZUL dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun penjara, denda Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) Subsider 6 (enam) bulan pelatihan kerja, dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan.

3) Menyatakan barang bukti berupa:

a. 1 (satu) bungkus kertas koran berisi narkotika jenis ganja dengan berat kotor 41,77 (empat puluh satu koma tujuh puluh tujuh) gram,

b. 1 (satu) unit becak motor merk SUZUKI THUNDER tanpa Nomor Polisi atau BK, dipergunakan dalam perkara lain;

4) Menetapkan agar Terdakwa, membayar biaya perkara sebesarRp2.000,00 (dua ribu rupiah);

d. Fakta Hukum

1) Bahwa pada hari Selasa tanggal 10 Februari 2015 sekitar jam 11.00 WIB di Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Gading Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai, Terdakwa Zulkifli Als Zul telah ditangkap oleh pihak kepolisian Indra H. Ritonga dan Firman Siagian karena telah memiliki narkotika jenis ganja;

2) Bahwa kronologis penangkapan terhadap Terdakwa bermula pihak kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat yang mengatakan ada 2 (dua) orang laki-laki menumpang 1 (satu) unit sepeda motor merk Thunder Tanpa Nomor Polisi akan melintas dari arah Tanjungbalai Utara menuju Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Gading Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai, dimana kedua laki-laki tersebut membawa ganja;

3) Bahwa setelah mendapat informasi tersebut, Saksi Indra H. Ritonga dan temannya Firman Siagian langsung menuju ke tempat yang diinformasikan tersebut, tidak beberapa lama, kemudian mereka melihat 1 (satu) unit becak motor merk Thunder tanpa Nomor Polisi yang ditumpangi 2 (dua) orang laki-laki yaitu Terdakwa dan Sdr.

Andi (Terdakwa dalam berkas terpisah), kemudian Saksi Indra H. Ritonga dan Firman Siagian melakukan pengejaran dan berhasil menghentikan becak motor tersebut dan kemudian melakukan penggeledahan dan menemukan 1 (satu) bungkus kertas Koran yang diselipkan di celana bagian belakang Sdr. Andi yang ternyata ganja, selanjutnya

Terdakwa dengan Andi dan Junaidi Abdullah yang merupakan penarik becak motor dibawa ke Polres Tanjungbalai untuk pemeriksaan selanjutnya;

4) Bahwa Terdakwa dan Sdr. Andi ditangkap sepulangnya dari membeli narkotika jenis ganja di Kampung Baru kepada Budi Sirait Alias Komplek;

5) Bahwa selain menyita 1 (satu) bungkus kertas Koran narkotika jenis ganja dengan berat kotor 41,77 (empat puluh satu koma tujuh puluh tujuh) gram, juga turut disita 1 (satu) unit becak motor merk Suzuki Thunder tanpa Nomor Polisi atau BK;

6) Bahwa berdasarkan keterangan Terdakwa dan Andi, narkotika jenis ganja tersebut adalah milik mereka berdua yang dibeli secara patungan/kongsi, dimana uang Terdakwa sebesar Rp30.000,00 (tiga puluh ribu rupiah) dan uang Sdr. Andi sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah);

7) Bahwa Terdakwa tidak ada ijin dari pejabat yang berwenang untuk memiliki narkotika jenis ganja tersebut;

e. Diktum

Memperhatikan, Pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RINomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika Jo UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dan Undang-undang Nomor 8 Tahun1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan lainyang bersangkutan;

1) Menyatakan Terdakwa ZULKIFLI ALS ZUL tersebut diatas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Pemufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum memilikiNarkotika golongan I dalam bentuk tanaman” sebagaimana dalam dakwaan Alternatif Kedua;

MENGADILI:

2) Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun dan denda sejumlah Rp1.000.000.000,00(satu milyar rupiah) dengan

ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pelatihan kerja selama 4 (empat) bulan;

3) Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

4) Menetapkan Terdakwa tetap ditahan;

5) Menetapkan barang bukti berupa:

a. 1 (satu) bungkus kertas koran berisi narkotika jenis ganja dengan berat kotor 41,77 (empat puluh satu koma tujuh puluh tujuh) gram,

b. 1 (satu) unit becak motor merk SUZUKI THUNDER tanpa Nomor Polisi atau BK, dipergunakan dalam perkara lain;

6) Membebankan Terdakwa membayar biaya perkara sejumlah Rp2.000,00 (dua ribu rupiah);

f. Analisis Hukum Pidana Penulis Terhadap Putusan

Berdasarkan kasus diatas terdakwa zulkifli alias zul didakwa dengan dakwaan yang berbentuk alterntif yaitu :

PERTAMA Pasal 114 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No.

35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo Lampiran I Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

ATAU

KEDUA Pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo Lampiran I Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo UU RI No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Tuntutan dari jaksa penuntut umum menuntut terdakwa dengan tuntutan Menyatakan Terdakwa ZULKIFLI Alias ZUL telah terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “permufakatan jahat tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo UU RI No. 11 tahun 2009 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Yang mana unsur dari pasal ini yakni:

1) Setiap orang;

2) Percobaan atau Permufakatan Jahat

3) Tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara memiliki, menyimpan menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I (ganja) dalam bentuk tanaman.

Jaksa juga menuntut terdakwa agar terdakwa dijatuhkan pidana terhadap Terdakwa ZULKIFLI Alias ZUL dengan pidana penjara selama 5 (lima) tahun penjara, denda Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) Subsider 6 (enam) bulan pelatihan kerja, dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan.

Majelis hakim sebelum menjatuhkan putusanya, maka majelis hakim mempertimbangkan semuanya sebelum menjatuhkan putusanya, majelis mempertimbangkan tuntutan dari majelis hakim yakni pasal yang dituntut oleh jaksa penuntut umum yakni Pasal 111 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo UU RI No. 11 tahun 2009 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dengan menguraikan beberapa unsur dan penjelasanya. Adapun unsur dari pasal ini yakni:

1) Setiap orang;

2) Percobaan atau Permufakatan Jahat

3) Tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara memiliki, menyimpan menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I (ganja) dalam bentuk tanaman.

Ad.1. setiap orang.

bahwa yang menjadi subjek tindak pidana adalah subjek hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum yang terdiri dari orang dan badan hukum yang dapat diminta pertanggungjawaban secara hukum;

bahwa di persidangan Penuntut Umum telah menghadapkan orang yang didakwa telah melakukan perbuatan pidana yang bernama ZULKIFLI ALS ZUL, ternyata Terdakwa mengakui identitas Terdakwa yang dicantumkan dalam surat dakwaan sebagai identitas dirinya dan para saksi mengenalinya;

bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut, telah terbukti bahwa orang yang dihadapkan ke muka persidangan adalah benar Terdakwa yang dimaksud oleh Penuntut Umum, bukan orang lain atau dengan kata lain tidak ada kesalahan orang yang diajukan sebagai Terdakwa dalam perkara ini;

bahwa menurut pengamatan Majelis Hakim, selama pemeriksaan di persidangan Terdakwa sehat jasmani dan rohani, tidak sedang dibawah pengampuan, mampu merespon jalannya persidangan dengan baik, sehingga dengan demikian Terdakwa terbukti sebagai subjek hukum yang sempurna. Dengan pertimbangan tersebut di atas maka unsur “setiap orang” telah terpenuhi;

Ad.2. Percobaan atau Pemufakatan jahat

Ad.2. Percobaan atau Pemufakatan jahat

Dokumen terkait