TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Pendonor Darah Sukarela
2.3.3. Faktor Predisposisi ( predisposing factors ) 1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Menurut Tim Kerja WHO (1980), pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Karena perilaku yang didasari oeh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Menurut Notoatmodjo (2007), perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan pengetahuan dibagi atas 6 tingkatan :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya dan merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini artinya dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintensis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek.
Dari segi pengetahuan, sebuah perbedaan diambil dari faktual antara pengetahuan dan evaluasi pengetahuan individu. Faktual adalah pengetahuan dinilai terhadap pilihan ganda. Evaluasi pengetahuan mungkin dinilai untuk memberikan keyakinan (Ferguson. 2001). Mempertimbangkan risiko dan pengetahuan merupakan hubungan yang lebih luas untuk kepercayaan sumber informasi tentang pendonor darah (Frewer dkk., 1996; Jungermann dkk., 1996).
2. Sikap
Menurut tim kerja WHO (1980), sikap mengambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat.
Sikap adalah suatu keteraturan perasaan dan pikiran dan kecenderungan bertindak terhadap aspek lingkungannya. Sikap seseorang tercermin dari kecendrungan perilakunya dalam menghadapi suatu situasi lingkungan yang berhubungan dengannya. Adapun yang menjadi komponen sikap yaitu kognitif, afektif dan perilaku. Kompenen kognitif adalah segmen pendapat atau keyakinan dari sikap. Kompenen afektif adalah komponen emosional atau perasaan seseorang. Komponen afektif dipelajari dari orang tua, teman, guru. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sedangkan komponen perilaku sikap adalah maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu (Notoatmodjo, 2007).
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Allport (dalam Notoatmodjo, 2003) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok :
1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek 2. Kehidupan emosional atau evaluasi tehadap suatu objek
3. Kecendrungan untuk bertindak (tend to behave)
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total atitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Menurut Notoatmodjo (2003) sikap dibedakan atas beberapa tingkatan :
1. Menerima (Receiving )
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulasi yang diberikan (objek).
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang tinggi.
Pengetahuan dan sikap adalah merupakan respons seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung dan disebut covert behaviour.
3. Kepercayaan
Kosa dan Robertson (dalam Notoadmodjo, 2003) mengatakan bahwa perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi oleh kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan dan kurang berdasarkan pada pengetahuan biologi. Memang kenyataannya demikian, tiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mengambil tindakan penyembuhan atau
pencegahan yang berbeda meskipun gangguan kesehatannya sama. Pada umumnya tindakan yang diambil berdasarkan penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain terhadap gangguan tersebut. Penilaian semacam ini menunjukkan bahwa gangguan yang dirasakan individu menstimulasikan dimulainya suatu proses sosial psikologis.
Sedangkan menurut Becker (1979), Health Belief Model ditentukan oleh : 1. Percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan
2. Menganggap serius masalah
3. Yakin terhadap efektivitas pengobatan 4. Tidak mahal
5. Menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan
Diagram di bawah ini menunjukkan Health Belief Model yang dipresentasikan oleh Sheeran dan Abraham (1995).
Gambar.2.3 Health Belief Model yang dipresentasikan oleh Sheeran dan Abraham (1995)
Berdasarkan versi ini, tindakan dalam Health Belief Model dipandu melalui: 1. Kepercayaan mengenai dampak penyakit dan konsekuensinya (ancaman persepsi)
yang tergantung pada:
a. Persepsi kerentanan atau kepercayaan mengenai bagaimana seseorang yang mudah diserang penyakit menganggap adanya hubungan antara dirinya dengan penyakit tertentu atau dengan permasalahan kesehatan.
b. Persepsi beratnya sakit penyakit atau permasalahan kesehatan dan konsekuensinya;
2. Motivasi kesehatan atau kesiapan untuk memfokuskan pada masalah kesehatan.
3. Kepercayaan mengenai konsekuensi praktik kesehatan dan mengenai kemungkinan serta usaha untuk melakukannya dalam sebuah praktik kesehatan. Evaluasi perilaku tergantung pada:
a. Persepsi keuntungan dari praktik pencegahan atau pengobatan kesehatan; b. Persepsi pembatasan, antara material dan psikologikal (contoh: kekuatan
keinginan) dengan memperhatikan praktik kesehatan yang sebenarnya. 4. Alasan untuk bertindak yang meliputi perbedaan faktor internal dan eksternal
yang memengaruhi tindakan tersebut. Sebagai contoh, alam dan intensitas (organik dan simbol) gejala penyakit, penyuluhan media massa, masukan dari pihak-pihak lain (keluarga, kerabat, petugas kesehatan,dll).
Menurut Redding (2000), berdasarkan Health Belief Model, kemungkinan bahwa seseorang akan melakukan sebuah tindakan untuk mencegah penyakit tergantung pada persepsi masing-masing individu, yakni:
a. Secara individu mereka ada dalam kondisi yang mudah terserang penyakit; b. Konsekuensi dari kondisi tersebut akan semakin serius;
c. Perilaku pencegahan penyakit akan mencegah kondisi ini secara efektif;
d. Keuntungan dari pengurangan ancaman kondisi ini melampaui biaya suatu tindakan yang diambil.