RETARDASI MENTAL
ETIOLOGI 1. Faktor Prenatal, ex: kerusakan jaringan otak (infeksi interakranial atau zat toksis: paralitis epidemika, rubela,
lainnya (sinar X umur 2-3 minggu [mempengaruhi jaringan otak], usaha melakukan abortus); akibat gangguan metabolisme atau gizi (malnutrisi ibu hamil);
2. Faktor Natal, ex: asfiksia, anoksia, prematur, trauma lahir. 3. Faktor Post natal, ex: malnutrisi, infeksi otak, trauma otak,
75% faktor sosial-kultural-psikologis (rangsangan kurang dari pihak orangtua [kasih sayang, perhatian, komunikasi], keluarga tidak mampu memberi perlindungan terhadap stres yang terjadi, ibu yang tidak dapat berfungsi [psikosis] 4. Abnormal kromosom dan gen ex: Down Syndrome,
Sindroma Fragile X, Phenylketonuria (PKU) dll
1. Racun yang berasal dari lingkungan ex: Keracunan timbal, mercuri
2. Konsumsi Alkohol
3. Malnutrisi kehamilan atau saat bayi 4. Penyakit Infeksi
5. Trauma kepala saat bayi 6. Dan lain-lain
ANAMNESIS Karena keadaan sepanjang hidupnya, menghadapi lebih banyak resiko daripada orang normal. Diagnosa RM yang tepat memer-lukan informasi yang akurat berupa: anamnesa orangtua tentang riwayat kehamilan, riwayat persalinan, riwayat perkembangan anak; observasi psikiatrik.
PEMERIKSAAN FISIK DAN PSIKIATRI
Tanda fisik RM mongolisme, epikantus lebar, kepala lebar, mulut menganga, lidah tebal, telapak tangan kasar, dan jari-jari tangan pendek. Pada Pemeriksaan psikiatrik, bisa didapatkan dugaan taraf intelegensia dengan memeriksa fungsi kognitif, kadang-kadang bisa di jumpai gejala psikosis dan gangguan afektif
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Test psikologik untuk mendapat gambaran dari test IQ; labora-torium untuk mengetahui HL/DL (penyakit keton uria); evaluasi pendengaran dan bicara
KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria Diagnostik untuk retardasi mental menurut DSM-IV-TR (2004) adalah:
atau dibawah pada seorang individu melakukan tes IQ. 2. Kekurangan yang terjadi bersamaan atau hendaya yang
muncul pada fungsi adapatif (keefektifan seseorang dalam memenuhi standar yang diharapkan untuk usianya oleh kelompok masyarakat) dalam minimal dua dari bidang berikut: komunikasi, perawatan diri, pemenuhan kebutuhan hidup, kemampuan sosial/interpersonal, penggunaan sumber komunitas, kemandirian, kemampuan fungsi akademik, pekerjaan, waktu luang, kesehatan, keamanan.
3. Terjadi sebelum umur 18 tahun DIAGNOSIS KERJA 1. Retardasi Mental Ringan
2. Retardasi Mental Sedang 3. Retardasi Mental Berat
4. Retardasi Mental Sangat Berat DIAGNOSIS BANDING 1. Gangguan belajar
2. gangguan pendengaran 3. gangguan penglihatan 4. gangguan bicara 5. cerebral palsy 6. early infatil autisme 7. skizofrenia.
TERAPI Terapi yang terbaik untuk retardasi mental adalah pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Kaplan & Sadock, 2010).
• Pencegahan primer, ex: Pendidikan kesehatan pada masyarakat untuk hidup sehat gizi dan kebersihan, Perbaikan keadaan sosio ekonomi., Konseling genetik, Tindakan medis yang baik pada prenatal, natal, pasca natal ibu terhadap bayi
• Pencegahan sekunder . ex: Diagnosa dan pengobatan dini.
• Pencegahan tersier, ex: Rehabilitasi: pendidikan, latihan khusus (SLB), terapi perilaku, kognitif, dan psikodinamika, Pendidikan keluarga, Intervensi farmakologis
EDUKASI 1. Penjelasan mengenai penyakit pasien. 2. Rencana ,terapi.
LAMA PERAWATAN Rawat jalan
PROGNOSIS Quo ad Vitam : Dubia ad Bonam Quo ad Sanationam : Dubia ad Malam Quo ad Fungsionam : Dubia ad Bonam
DAFTAR PUSTAKA 1. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama.
2. Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa. 2012. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri.
3. Sadock BJ, Sadock VA. 2003. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. 10th ed. Philadelphia : Lippincont Williams & wilkins,
BAGIAN PSIKIATRI FK UNAND
MODUL 11
INSOMNIA
TOPIK: GANGGUAN TIDUR
PENGERTIAN Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu.
Dalam ICD 10, insomnia dibagi menjadi 2 yaitu: • Organik
• Non organik
Etiologi • Stres, ansietas, depresi
• Penggunaan obat-obatan seperti anti depresan, kortikosteroid, stimulan (ritalin), obat alergi, obat jantung dll
• Penggunaan nikotin, alkohol, kafein, psikostimulan • Kondisi medis umum: sering buang air kecil, nyeri
kronik, sulit bernafas
• Perubahan lingkungan, jadwal kerja, jetlag
ANAMNESIS • Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari • Sering terbangun pada malam hari
• Bangun tidur terlalu awal
• Kelelahan atau mengantuk pada siang hari • Iritabilitas, depresi atau kecemasan • Konsentrasi dan perhatian berkurang • Peningkatan kesalahan dan kecelakaan • Ketegangan dan sakit kepala
• Gejala gastrointestinal PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. Polisomnografi: alat yang pemantauan dan pencatatan selama tidur yang mencangkup gelombang otak, pernapasan, nadi, gerakan mata, dan gerakan tubuh. 2. Pemeriksaan darh rutin dan kimia darah untuk mengetahui
etiologi insomnia
KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ III
• Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:
• Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk
• Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan
• Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
• Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan
• Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan ansietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan.
• Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia” tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian (F43.2)
DIAGNOSIS KERJA Insomnia non organik
DIAGNOSIS BANDING • Gangguan anxietas menyeluruh • Gangguan afektif
• Gangguan stres akut • Gangguan penyesuaian • Dan lain-lain
TERAPI • Non farmakologi
• Menerapkan Sleep Hyegiene • Teknik Relaksasi
• Teknik kognitif • Farmakologi
• Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)
• Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital, ramelteon, zolpidem) §
EDUKASI 1. Penjelasan mengenai penyakit pasien. 2. Rencana perawatan dan terapi. PROGNOSIS Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Sanationam : Bonam Quo ad Fungsionam : Bonam
DAFTAR PUSTAKA • Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama.
• Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa. 2012. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa/Psikiatri.
• Sadock BJ, Sadock VA. 2003. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. 10th ed. Philadelphia : Lippincont Williams &
wilkins,
• American psychiatric association.. Diagnostic and statistical manual disorders text revision. 4th ed. Washington DC, 2000